Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2008

KRITIK “SAKIT” SASTRA INDONESIA

Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008
Liza Wahyuninto

Pada tahun 1950, beberapa ahli sastra beranggapan bahwa kesusastraan mengalami kemunduran. Salah satu tokoh yang berpandangan bahwa kesusastraan Indonesia mengalami kemunduran adalah Sujadmoko. Dalam esainya yang berjudul Mengapa Konfrontasi, Sujadmoko melihat adanya krisis sastra akibat adanya krisis kepemimpinan politik. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sastra Indonesia mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpen-cerpen kecil yang menceritakan psikologisme semata-mata.

Ulasan Sudjadmoko tersebut mendapat reaksi keras terutama dari para sastrawan. Para sastrawan tersebut antara lain, Nugroho Notosusanto, S.M. Ardan, dan Boejoeng Saleh. Mereka mengatakan bahwa kesusastraan Indonesia tumbuh subur. H.B. Jassin dalam simposium sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1954 mengemukakan bahwa kesusastraan Indonesia modern tidak mengalami krisis. Dia mengemukannya dengan bukti-bukti dan …

Mengintip Dunia di dalam Dunia

Judul buku: Dunia Kecil; Panggung &Omong Kosong
Pengarang : A. Syauqi Sumbawi
Jenis buku: Novel
Epilog : Nurel Javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga, Sastra Nesia, Lamongan 2007
Tebal Buku: iv+220hal,12x19cm.
Peresensi : Imamuddin SA.

Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong merupakan karya yang imajinatif. Karya yang penuh dengan perjalanan yang diliputi dengan perjuangan untuk mengungkap misteri. Misteri dalam realitas cerita itu sendiri.

Sebagaimana judul yang dipakai, Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong, novel ini mengisahkan tiga dunia sekaligus dalam rentang waktu yang bersamaan. Dunia tersebut adalah dunia nyata yang diwakili oleh omong kosong yang dilakukan antara dua orang tokoh yaitu sutradara pementasan dan salah seorang penonton pertunjukan. Ah tidak, bukan seorang penonton. Bisa jadi kita sendiri selaku penbacanya. Yang kedua adalah dunia panggung atau dunia pertunjukan drama dengan tokoh utamanya, Yangrana. Dunia yang ketiga adalah kisah perjalanan Yangrana dalam …

Puisi-puisi Bambang Kempling

...Menisik Luka

jarum jam menisik luka
:menyebalkan
kaukah yang terjebak dalam tanda
diantara dera cuaca dan guyur hujan?

ada yang tersimpan
dalam genangan air di jalan
:sesosok jiwa
mengerdil
ia menari bersama pelor-pelor hujan
untuk sebuah lagu yang hampir usai
lalu terdengar dentang di pembatas waktu
menuju senja.

sesosok kunang-kunang
mengejanya ketika hujan telah reda
malam terdiam
takjub pada cahanya

13 April 2007



Hari Ini Kau Terjaga

hari ini kau terjaga: di sudut peron stasion
ruang menjalamu
rel kereta memanjang dalam gaib
balok-balok yang abadi itu
masih begitu setia
menghitung angka-angka

sampai hari ini: saat kau terjaga
dengan kerdip mata
yang begitu lelah
deru kereta hanya sayup terdengar

terkadang kau pun sangsi
pada persetubuhan yang harus kau lakukan
saat perjalanan belumlah sampai.

April 2007

Sajak-sajak Ridwan Rachid

Kota Kata

Sejumlah kata lama telah binasa
Temui ajal di tengah gelombang peradaban
Terkubur dalam pesatnya populasi bahasa

Tapi bukan kata jika menjadi lemah
Ambisinya melahirkan juta kata baru
Lantas menyatu

Barisan kata menjelma senjata
Menindas kepala etika
Menghancurkan sejumlah asa
Koalisi kata beranjak tertawa
Kata seolah berkuasa

Sedang sesungguhnya
Kata masih terlelap pada batas realitas
Dibuai mimpi yang tak kunjung selesai
Hanya berputar dibalik pintu-pintu makna;
--dan manusia belum temui jengah—
Walau lelah

Jogja, Februari 2008



Nominal

Menempa taramat lama
Setajam runcing baja
Cukup nyaman guna sembunyi
Dalam selimut dua warna
Terkatup di lubang tikus
Sarang siasat paling rakus

Bisa saja dipastikan
Neraca punya kelemahan
Begitu genit nominal
Jadinya enggan rasional
Nafsu tersenyum angkuh
Mencerca logika dungu
Mustahil jeruji tersentuh

Jogja, februari 2008




Serabut Mesra

Penat kembali merajut kusut
Membelit sulit terurai
Kupilah sehelai risau
Meski terkait simpul gelisah
Tergontai aku jemu
Yang semakin mengulur ka…

SORE INI SEPEDAKU MENABRAK DINDING

Mardi Luhung
diambil dari Jawa Pos, Maret 2008

sehabis bercinta januari 2008

Sore ini sepedaku menabrak dinding. Tapi tak terguling. Terus menembus dan menggelinding. Menuju ke kedalaman laut. Di kedalaman itu sepedaku terus aku kayuh. Melewati koral, terumbu dan karang. Sekian duyung yang montok melambai. Dan sekian mambang yang melayang. Melayang dengan siripnya. Pun menggerakkan cahayanya. Cahaya yang warna-warni. Seperti warna-warninya pelangi yang pernah aku kirimkan ke lembah-lembah tempat kau berada. Mungkin kata mereka: “Pengelana itu telah sampai kemari. Lihatlah gayanya. Lihatlah lagaknya. Adakah yang menyamainya dalam lekuk?”

Dan perkataan mereka ini masuk ke kupingku. Seperti masuknya sepur kelinci. Sepur kelinci di taman kampung. Sepur kelinci yang panjang dan berkelokan. Yang bunyinya tut-tut-tut. Dan sekian kanak yang menumpangnya pun melambai-lambaikan tangannya. Melambai pada siapa? Pada awan. Pada jalan. Atau pada yang tak tampak oleh pandanganku. Tapi begitu nyata o…

H.B. Jassin tanpa Wahyu

[ Minggu, 20 Juli 2008 ] Jawa Pos
M. Fadjroel Rachman
Penulis dan Peminat Karya Sastra

Membaca Hudan Hidayat, membaca Nabi Tanpa Wahyu (2008), adalah membaca sastra Indonesia muda yang jatuh bangun merintis jejak di dunia baru dalam aras nasional, regional, dan global. Hudan Hidayat (HH) tak lelah-lelah mencari jejak penulis baru, menciumi aroma pembeda, menelisik simpangan subtil, mencari kaitan pergaulan sastra Indonesia baru dan globalisasi dunia baru. Merumuskan benang merah sastra dan kebudayaan baru Indonesia, dalam taman sastra dan kebudayaan dunia, dengan iman yang teguh terhadap kebebasan, kehidupan, dan kemanusiaan. Sebab, kata HH, ia sama yakinnya dengan Octavio Paz (hlm. 55) yang berkata, ''Sastra modern lahir dari kritik terhadap zaman, kritik terhadap kebenaran tunggal.''

Dua jiwa dunia
Bila HH memeriksa karya penulis baru Indonesia, tanpa ragu HH langsung terjun dalam samudera pertempuran jiwa sang penulis. Pertempuran berdarah rasio dan nurani dalam menghada…

Buku Puisi dan Buku Cerpen

Fahrudin Nasrulloh*

Pada awalnya sejarah sastra kita adalah puisi. Dimulai dari pantun hingga puisi lama yang dapat disusuri lewat puisi-puisi Amir Hamzah. Selanjutnya berkembang di masa Chairil Anwar pada era 45. Kemudian gebrakan Sutardji Calzoum Bachri dengan membebaskan makna dari beban kata pada 1970-an dan Afrizal Malna pada 80-an dengan “puisi gelap”nya. Namun kini tampaknya belum ada gebrakan yang cukup mengejutkan dari perkembangan puisi terbaru kita. Meski gebyar kegiatan perpuisian terus digelar, semisal yang teranyar diselenggarakan di Kediri (26 Juni - 2 Juli 2008) dengan bendera: Pesta Penyair Nusantara 2008, yang menghadirkan D. Zawawi Imron, Ahmadun Y. Herfanda, Dato’ Kemala (Malaysia), Diah Hadaning, Kuspriyanto Namma, dan lain-lain. Hajatan akbar semacam ini kerap memancing polemik dan kasak-kusuk, seperti pada Anugerah Pena Kencana yang menggunakan polling sms bagi para penyair dan cerpenis yang kelak dinobatkan menjadi juara pada penganugerahan tersebut.

Di sisi lain…

Puisi-puisi Budhi Setyawan

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008

ODE PENYAIR LUKA

akulah
penyair luka
terlahir dari darah nanah

kutawarkan rintih duka kepada samudera
untuk kutukar dengan: ombak ganas

kutawarkan bosan nuansa kepada ladang
untuk kutukar dengan: gesit musang

kutawarkan hambar jiwa kepada sabana
untuk kutukar dengan: taring singa

kutawarkan keluh sengsara kepada belantara
untuk kutukar dengan: aum harimau

kutawarkan beku cinta kepada gunung
untuk kutukar dengan: gelegak lava

masih ku duduk di kepak kata
menunggu jawabnya,
sambil menghitung sisa usia

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007


SAJAK PENYAIR LUPA

bukan ini yang kumau
mengapa puisi begini menjadi
ini hanyalah najis dalam bangunan kata-kata manis

“duhai kata pujaan
bermalam-malam
berbulan-bulan
bertahun-tahun
kau benamkan aku dalam perahu renjana
melintasi taman teduh sekujur pembuluh
setia meski di ruang keruh
bahkan banyak yang ingin membunuh
tiada keluh mengaduh
sampai engkau kurengkuh, sungguh”

“engkau terus membelit menggodaku
namun kau tak pernah hadir di bait-bait sajakku
men…

“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”

Hudan Hidayat

“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.

Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai menuliskan bukunya Second Sex, bukanlah “politik tubuh” tapi “politik tekstual tubuh”.

Upayanya membongkar konstruksi budaya patriarkal yang bukan dalam arti gerakan, adalah investigasi sejarah yang mengikutkan ceruk-meruk pikiran, tentang hakekat tubuh perempuan dan tubuh lelaki.

“Politik tekstual tubuh” ini baru menjadi “politik tubuh”, saat seorang Gadis Arivia di Indonesia mendirikan Jurnal Perempuan.

Mengapa “politik tubuh” dengan prinsip kebenaran diperlukan?

Karena hampir mustahil mengantarkan “politik tekstual tubuh” kehadapan publik tanpa medium institusi. Dan …

SAAT PERTUNJUKAN DI CANDI BAJANGRATU ITU BERLANGSUNG, MENETESLAH AIR MATAKU

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
Hardjono WS

Pagi itu aku akan melihat sebuah tontonan di Bajangratu, candi yang berdiri megah ini menjadi saksi bahwa negeri ini pernah menjadi negeri besar dan ternama.

Ratusan tahun candi ini berdiri dan telah mengalami perbaikan supaya tidak roboh. Berdiri di atas pelataran yang ditata rapi, menyapa pengunjung dengan kesepiannya sendiri dan tidak bisa berkata apa-apa meski mampu menjadi saksi bisu tentang sejarah negeri ini.

Aneh, pagi itu menjadi lain. Umbul-umbul sebagai kebesaran negeri ini masa lampau berkelebatan ditiup angin. Mobat-mabit amat anggunnya. Berwarna-warni merah, kuning, hitam dan putih sebagai lambang hidup diri manusia. Warnapun bagi nenek moyang kita dulu amat berarti untuk mawas diri.

Pemain musik telah menempati tempatnya masing masing, dan amat sederhana. Tidak seperti pementasan pementasan yang harus diiringi gamelan. Gender, gong dan kendang mulai terdengar pelan. Makin lama makin keras dan tiba-tiba berhenti ketika kendan…

PERNIKAHAN UNGU

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo

Orang tuanya memang sudah sepakat untuk menjodohkan mereka, agar tali persaudaraan kedua keluarga itu tidak bertiup lembut, dan cairan ombak yang menghempas disana-sini memberikan irama gelisah, pada alam seputar yang telanjang.

“tentu, tentu saja, dik. Setiap makhluk punya orang tua masing-masing; begitu pula halnya dengan burung-burung walet itu. Namun mereka berasal dari berbagai keluarga, dari banyak bapak dan emak. Di laut dan gua-gua itu mereka berkumpul untuk mencari makan dan bermain.”

Sang adik manggut-manggut meskipun belum sepenuh-nya memahami arti perkataan Prabawa itu. Dari senyumnya yang kebocahan, terlihat betapa ia ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia burung-burung yang dekat dengan perkampungan mereka.

Di ufuk sebelah barat nyata gulungan awan kemerahan, sedangkan langit yang semula berwarna biru bertambah tua dan purba, hingga warnanya menjelma sulak kehitaman.

Ah sebentar lagi malam tiba. Batu-…

Sastra-Indonesia.com