Laili Rahmawati*
Seorang pemuda tampan sedang duduk memandang indahnya dedaunan. Ketika itu beberapa bidadari cantik melintas di hadapannya dan mata pemuda itu langsung tertuju pada salah satu dari mereka yang berkerudung merah. Namanya Shofi. Dia ternyata satu sekolah dengan Fahrudin, nama pemuda itu. Setiap hari mereka selalu bertemu dan setiap kali bertemu Fahrudin selalu mengamati peri kecil itu dan mencoba menggapai sayapnya untuk ditempatkan dalam hatinya sebagai seorang pecinta. Seiring bejalannya waktu ia pun jatuh cinta pada Shofi. Rasa itu semakin menggebu dan ia tidak sanggup lagi memendam isi hatinya. Akhirnya, dengan bantuan teman-temannya ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.
* * *
Pagi itu Fahrudin akan pergi menghadiri undangan perayaan ulang tahun temannya. Sebelumnya dia minta izin kepada teman-temannya yang memang sudah merencanakan semuanya untuk mengajak Shofi menikmati pemandangan laut dengan matahari yang mulai berjalan setapak demi setapak. Mereka berdua meniti butiran pasir disaksikan keong-keong dan ombak yang menari-nari sambil menggelitik kaki mereka.
"Shof, kamu suka ngga' tempat ini?" tanya Fahrudin dengan senyum manis.
Shofi hanya menganggukkan kepala dengan senyum menghias bibirnya.
"Di sini tempat favoritku dan teman-temanku. Di sini pula aku biasa melampiaskan semua amarahku, kesalku, sukaku….. juga cintaku padamu."
"Maksud kamu?!!!" tanya Shofi dengan wajah penuh tanda tanya.
"Shof…. pertama kali bertemu denganmu aku merasakan ada sesuatu di hatiku. Kemudian sesuatu itu berubah menjadi rasa cinta yang tidak dapat kutolak kehadirannya. Pada saat virus cinta menghampiriku, kulihat peri kecil yang menari membangunkanku dari mimpi buruk dan menempatkanku pada taman surga duniaku," ucap Fahrudin dengan penuh perasaan. Dia berhenti sebentar untuk menghela nafas dan melanjutkannya kembali, "Aku ingin memupuk dan membangun rasa cinta ini denganmu dan melewati hari-hari bersamamu seperti bulan dan bintang yang menyinari kegelapan malam."
Peri kecil yang cantik itu terdiam seraya memandangi pasir yang menempel di kakinya.
"Shof, gimana?" tanya Fahrudin penuh harapan.
Peri kecil itu menarik nafas perlahan, "Aku peri kecil dan kau adalah sayap cintaku. Akulah peri kecil yang akan menghuni sangkar emas hatimu."
Fahrudin sangat senang dan bahagia, seakan-akan ia terbang bersama burung-burung dan awan.
* * *
Seperti biasa ayah dan ibu Shofi duduk di ruang tengah.
"Shof, sini nak!" panggil ayahnya. Tidak lama kemudian Shofi sudah duduk di antara kedua orang tuanya. Ayahnya segera memberitahu, "Shof, ayah akan dipindahkan ke Bandung. Kita semua harus pindah dan kamu meneruskan sekolah di sana. Mulai sekarang kamu harus mempersiapkan segalanya."
Shofi tak berkata apapun, sebagaimana selama ini dia tidak pernah membantah apa kata ayahnya. Ia segera pamit dan beranjak ke kamar untuk menumpahkan isi perasaannya.
"Ya Allah apakah ini yang terbaik? Inikah jalan hidupku? Aku tidak bisa membantah perkataan ayah, tapi aku juga tidak bisa hidup tanpa Fahrudin. Bisakah dia mengerti bahwa aku benar-benar mencintainya."
Gadis kecil itu menangis terisak sambil menggenggam selembar foto mereka berdua. Dia meratapi betapa besar cobaan yang menghalangi cinta mereka yang baru dirajut belum setahun.
* * *
Malam bertaburan bintang terang dengan rembulan yang tersenyum menyinari rumput-rumput bergoyang dihembus angin. Fahrudin sedang sendirian di rumahnya.
"Assalamu’alaikum," ucap peri kecil itu di depan pintu rumah kekasihnya.
"Wa’alaikum salam," jawab Fahrudin dengan wajah ceria menyambut kedatangan kekasihnya. "Tumben, Shof, kamu datang. Ayo silakan masuk."
Shofi masuk ke dalam. Mereka saling bicara tentang sekolah dan teman-temannya. Setelah agak lama Shofi berkata, "Din….sebenarnya aku sayang sekali sama kamu. Aku juga sayang pada orang tuaku. Tetapi, aku harus memilih di antara kamu atau orang tuaku. Aku tidak bisa hidup jauh darimu begitu pula aku tidak mungkin berpisah dengan orang tuaku."
Rasanya berat sekali Shofi mengemukakan isi hatinya, namun bagaimanapun dia harus menyatakannya, "Din, orang tuaku akan pindah ke Bandung dan aku harus ikut."
"Ke Bandung?" tanya Fahrudin tidak percaya. "Terus bagaimana denganku?"
"Aku tidak tahu, Din. Dalam hatiku aku tidak bisa jauh dari orang tuaku dan aku harus ikut."
"Iya, aku mengerti. Tapi bagaimana dengan hubungan kita? Apa kita harus mengakhirinya?" terdengar nada yang perih dari ucapan Fahrudin. "Tidak, Shof. Aku tidak sanggup menjalani hidup sendirian tanpamu."
"Din," jawab Shofi. "Aku akan selalu mencintaimu walaupun kita berjauhan. Percayalah aku tidak akan mengkhianatimu, karena cintaku hanya untukmu. Bukankah kita masih dapat berhubungan melalui handphone?"
Air mata Shofi terus bergulir di pipinya meskipun dia berkali-kali mengusapnya. Mata yang indah itu berkaca-kaca.
"Pergilah, Shof!" kata Fahrudin tegar. "Jika memang ini yang terbaik untuk kita, aku rela melepasmu hingga nanti dan aku akan setia menantimu. Mudah-mudahan cinta berpihak kepadaku dan kelak kau pun menjadi milikku. Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik."
"Din, aku berjanji di malam perpisaan kelas tiga nanti aku akan datang untuk menemuimu. Percayalah, cintaku hanya untukmu. Jaga dirimu baik-baik. Belajar yang rajin agar kamu besok lulus dengan membanggakan."
Kalimat-kalimat tegar itu seperti menguras air mata Shofi. Malam pun terhanyut dalam duka. Angin yang berhembus begitu sahdu mengiringi deraian air mata. Sayup-sayup suara burung hantu terdengar di kejauhan yang membuat hati Fahrudin semakin tak karuan.
* * *
Waktu pun cepat berlalu hingga malam perpisahan tiba. Fahrudin makin berbunga-bunga, karena penantian kedatangan peri kecilnya sebentar lagi akan tiba.
Semua siswa-siswi dengan khidmat mengikuti prosesi wisuda. Wajah mereka berbinar-binar. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan dunia remaja dan menuju kedewasaan seiring pelepasan mereka dari bangku SLTA. Akan tetapi, tidak dengan Fahrudin. Sejak pagi hari hati dan pikirannya tertuju pada Shofi. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan pujaannya. Satu demi satu acara terlewati hingga selesai kemudian dilanjutkan acara non-formal yang lebih meriah. Tanpa terasa jam dinding menunjukkan pukul 24.00. Satu per satu siswa-siswi meninggalkan tempat untuk beristirahat di ruangan lain yang sudah dipersiapkan. Peri kecil pujaan hati Fahrudin belum juga menampakkan wajah manisnya. Namun, Fahrudin tetap setia menunggu seperti selama ini. Sampai jam dinding menunjukkan pukul 01.00 belum ada tanda-tanda kekasihnya dating. Tiba-tiba ada seseorang menghampirinya dan memberikan sepucuk surat tanpa berkata apa-apa. Fahrudin membaca namanya dalam amplop dan dia pun membukanya.
Rabu, 24 Juni
Teruntuk kekasihku tercinta
Assalammu’alaikum
Malam ini bintang bersinar terang. Dengung kumbang di pucuk kelapa menambah romantisnya. Aku kirimkan sepucuk surat untukmu agar kautahu apa yang terjadi selama ini padaku.
Malam ini aku ditemani tarian pena dan deraian air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipiku. Satu pintaku, MAAFKAN AKU, karena telah mengkhianatimu. Aku telah menjadi penghianat cinta kita. Tapi itulah kenyataan. Takdir telah mempermainkan kita. Dan cinta kita mampu dikalahkan oleh harta.
Din…. Malam ini kebahagiaanku telah sirna. Ayahku telah menentukan hidupku. Aku dinikahkan dengan pemuda pilihan ayah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali sabar dan tawakkal menerimanya; dengan sadar dan tanggung jawab; dengan do’a dan pasrah.
Jalan masih panjang. Raihlah apa yang kau cita-citakan. Aku hanya bisa berharap agar kau tabah menjalani cobaan ini.
Hidup adalah misteri. Apa yang terjadi pada diri kita tak ada seorang pun yang tahu. Sementara apa yang kita hadapi di depan, tak dapat kita raba dan bayangkan sebelumnya. Rencana hanya sebuah rencana. Tapi sutradara alam yang menentukan semuanya. Aku hanya bisa berharap agar suatu saat nanti, kita bisa bersatu di waktu dan tempat yang sama di mana sang pencipta telah mengubah tulisannya dalam buku hariaannya.
wassalam
kekasihmu tercinta
Fahrudin hanya diam serasa tak percaya dengan kenyataan pahit ini. Surat itu seperti petir yang meremukkan hati sang pecinta.
Gelap malam menambah luka Fahrudin yang tetap terdiam. Pertemuan yang dinanti-nantikan selama delapan bulan hanya khayalan dan harapan kosong.
"Shof, salahkah aku terlanjur mengenalmu? Salahkah aku bila kemudian mencintaimu? Pertemuan yang tak pernah kurencanakan yang mengantarkanku pada cinta dan menjadi kekasihmu yang tak pernah kumimpikan. Tetapi, semua telah terjadi. Tuhan telah menulis sebuah cerita tentang kita dalam buku harian-Nya. Cerita tentang itu-itu saja dan sekarang aku harus mengalaminya sendiri. Cerita tentang cinta yang direnggut keserakahan ayahnya."
Malam itu menjadi saksi bagi penantian yang tertunda.
Lamongan, 2007
* Penulis adalah Pelajar MA. Matholi’ul Anwar
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Senin, 04 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar