Senin, 04 Agustus 2008

Buku Harian

Laili Rahmawati*

Seorang pemuda tampan sedang duduk memandang indahnya dedaunan. Ketika itu beberapa bidadari cantik melintas di hadapannya dan mata pemuda itu langsung tertuju pada salah satu dari mereka yang berkerudung merah. Namanya Shofi. Dia ternyata satu sekolah dengan Fahrudin, nama pemuda itu. Setiap hari mereka selalu bertemu dan setiap kali bertemu Fahrudin selalu mengamati peri kecil itu dan mencoba menggapai sayapnya untuk ditempatkan dalam hatinya sebagai seorang pecinta. Seiring bejalannya waktu ia pun jatuh cinta pada Shofi. Rasa itu semakin menggebu dan ia tidak sanggup lagi memendam isi hatinya. Akhirnya, dengan bantuan teman-temannya ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.

* * *
Pagi itu Fahrudin akan pergi menghadiri undangan perayaan ulang tahun temannya. Sebelumnya dia minta izin kepada teman-temannya yang memang sudah merencanakan semuanya untuk mengajak Shofi menikmati pemandangan laut dengan matahari yang mulai berjalan setapak demi setapak. Mereka berdua meniti butiran pasir disaksikan keong-keong dan ombak yang menari-nari sambil menggelitik kaki mereka.

"Shof, kamu suka ngga' tempat ini?" tanya Fahrudin dengan senyum manis.
Shofi hanya menganggukkan kepala dengan senyum menghias bibirnya.
"Di sini tempat favoritku dan teman-temanku. Di sini pula aku biasa melampiaskan semua amarahku, kesalku, sukaku….. juga cintaku padamu."

"Maksud kamu?!!!" tanya Shofi dengan wajah penuh tanda tanya.
"Shof…. pertama kali bertemu denganmu aku merasakan ada sesuatu di hatiku. Kemudian sesuatu itu berubah menjadi rasa cinta yang tidak dapat kutolak kehadirannya. Pada saat virus cinta menghampiriku, kulihat peri kecil yang menari membangunkanku dari mimpi buruk dan menempatkanku pada taman surga duniaku," ucap Fahrudin dengan penuh perasaan. Dia berhenti sebentar untuk menghela nafas dan melanjutkannya kembali, "Aku ingin memupuk dan membangun rasa cinta ini denganmu dan melewati hari-hari bersamamu seperti bulan dan bintang yang menyinari kegelapan malam."

Peri kecil yang cantik itu terdiam seraya memandangi pasir yang menempel di kakinya.
"Shof, gimana?" tanya Fahrudin penuh harapan.
Peri kecil itu menarik nafas perlahan, "Aku peri kecil dan kau adalah sayap cintaku. Akulah peri kecil yang akan menghuni sangkar emas hatimu."
Fahrudin sangat senang dan bahagia, seakan-akan ia terbang bersama burung-burung dan awan.
* * *

Seperti biasa ayah dan ibu Shofi duduk di ruang tengah.
"Shof, sini nak!" panggil ayahnya. Tidak lama kemudian Shofi sudah duduk di antara kedua orang tuanya. Ayahnya segera memberitahu, "Shof, ayah akan dipindahkan ke Bandung. Kita semua harus pindah dan kamu meneruskan sekolah di sana. Mulai sekarang kamu harus mempersiapkan segalanya."

Shofi tak berkata apapun, sebagaimana selama ini dia tidak pernah membantah apa kata ayahnya. Ia segera pamit dan beranjak ke kamar untuk menumpahkan isi perasaannya.
"Ya Allah apakah ini yang terbaik? Inikah jalan hidupku? Aku tidak bisa membantah perkataan ayah, tapi aku juga tidak bisa hidup tanpa Fahrudin. Bisakah dia mengerti bahwa aku benar-benar mencintainya."

Gadis kecil itu menangis terisak sambil menggenggam selembar foto mereka berdua. Dia meratapi betapa besar cobaan yang menghalangi cinta mereka yang baru dirajut belum setahun.
* * *

Malam bertaburan bintang terang dengan rembulan yang tersenyum menyinari rumput-rumput bergoyang dihembus angin. Fahrudin sedang sendirian di rumahnya.
"Assalamu’alaikum," ucap peri kecil itu di depan pintu rumah kekasihnya.
"Wa’alaikum salam," jawab Fahrudin dengan wajah ceria menyambut kedatangan kekasihnya. "Tumben, Shof, kamu datang. Ayo silakan masuk."

Shofi masuk ke dalam. Mereka saling bicara tentang sekolah dan teman-temannya. Setelah agak lama Shofi berkata, "Din….sebenarnya aku sayang sekali sama kamu. Aku juga sayang pada orang tuaku. Tetapi, aku harus memilih di antara kamu atau orang tuaku. Aku tidak bisa hidup jauh darimu begitu pula aku tidak mungkin berpisah dengan orang tuaku."

Rasanya berat sekali Shofi mengemukakan isi hatinya, namun bagaimanapun dia harus menyatakannya, "Din, orang tuaku akan pindah ke Bandung dan aku harus ikut."
"Ke Bandung?" tanya Fahrudin tidak percaya. "Terus bagaimana denganku?"
"Aku tidak tahu, Din. Dalam hatiku aku tidak bisa jauh dari orang tuaku dan aku harus ikut."

"Iya, aku mengerti. Tapi bagaimana dengan hubungan kita? Apa kita harus mengakhirinya?" terdengar nada yang perih dari ucapan Fahrudin. "Tidak, Shof. Aku tidak sanggup menjalani hidup sendirian tanpamu."
"Din," jawab Shofi. "Aku akan selalu mencintaimu walaupun kita berjauhan. Percayalah aku tidak akan mengkhianatimu, karena cintaku hanya untukmu. Bukankah kita masih dapat berhubungan melalui handphone?"

Air mata Shofi terus bergulir di pipinya meskipun dia berkali-kali mengusapnya. Mata yang indah itu berkaca-kaca.
"Pergilah, Shof!" kata Fahrudin tegar. "Jika memang ini yang terbaik untuk kita, aku rela melepasmu hingga nanti dan aku akan setia menantimu. Mudah-mudahan cinta berpihak kepadaku dan kelak kau pun menjadi milikku. Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik."

"Din, aku berjanji di malam perpisaan kelas tiga nanti aku akan datang untuk menemuimu. Percayalah, cintaku hanya untukmu. Jaga dirimu baik-baik. Belajar yang rajin agar kamu besok lulus dengan membanggakan."
Kalimat-kalimat tegar itu seperti menguras air mata Shofi. Malam pun terhanyut dalam duka. Angin yang berhembus begitu sahdu mengiringi deraian air mata. Sayup-sayup suara burung hantu terdengar di kejauhan yang membuat hati Fahrudin semakin tak karuan.
* * *

Waktu pun cepat berlalu hingga malam perpisahan tiba. Fahrudin makin berbunga-bunga, karena penantian kedatangan peri kecilnya sebentar lagi akan tiba.

Semua siswa-siswi dengan khidmat mengikuti prosesi wisuda. Wajah mereka berbinar-binar. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan dunia remaja dan menuju kedewasaan seiring pelepasan mereka dari bangku SLTA. Akan tetapi, tidak dengan Fahrudin. Sejak pagi hari hati dan pikirannya tertuju pada Shofi. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan pujaannya. Satu demi satu acara terlewati hingga selesai kemudian dilanjutkan acara non-formal yang lebih meriah. Tanpa terasa jam dinding menunjukkan pukul 24.00. Satu per satu siswa-siswi meninggalkan tempat untuk beristirahat di ruangan lain yang sudah dipersiapkan. Peri kecil pujaan hati Fahrudin belum juga menampakkan wajah manisnya. Namun, Fahrudin tetap setia menunggu seperti selama ini. Sampai jam dinding menunjukkan pukul 01.00 belum ada tanda-tanda kekasihnya dating. Tiba-tiba ada seseorang menghampirinya dan memberikan sepucuk surat tanpa berkata apa-apa. Fahrudin membaca namanya dalam amplop dan dia pun membukanya.

Rabu, 24 Juni
Teruntuk kekasihku tercinta
Assalammu’alaikum
Malam ini bintang bersinar terang. Dengung kumbang di pucuk kelapa menambah romantisnya. Aku kirimkan sepucuk surat untukmu agar kautahu apa yang terjadi selama ini padaku.
Malam ini aku ditemani tarian pena dan deraian air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipiku. Satu pintaku, MAAFKAN AKU, karena telah mengkhianatimu. Aku telah menjadi penghianat cinta kita. Tapi itulah kenyataan. Takdir telah mempermainkan kita. Dan cinta kita mampu dikalahkan oleh harta.
Din…. Malam ini kebahagiaanku telah sirna. Ayahku telah menentukan hidupku. Aku dinikahkan dengan pemuda pilihan ayah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali sabar dan tawakkal menerimanya; dengan sadar dan tanggung jawab; dengan do’a dan pasrah.
Jalan masih panjang. Raihlah apa yang kau cita-citakan. Aku hanya bisa berharap agar kau tabah menjalani cobaan ini.
Hidup adalah misteri. Apa yang terjadi pada diri kita tak ada seorang pun yang tahu. Sementara apa yang kita hadapi di depan, tak dapat kita raba dan bayangkan sebelumnya. Rencana hanya sebuah rencana. Tapi sutradara alam yang menentukan semuanya. Aku hanya bisa berharap agar suatu saat nanti, kita bisa bersatu di waktu dan tempat yang sama di mana sang pencipta telah mengubah tulisannya dalam buku hariaannya.
wassalam
kekasihmu tercinta


Fahrudin hanya diam serasa tak percaya dengan kenyataan pahit ini. Surat itu seperti petir yang meremukkan hati sang pecinta.
Gelap malam menambah luka Fahrudin yang tetap terdiam. Pertemuan yang dinanti-nantikan selama delapan bulan hanya khayalan dan harapan kosong.
"Shof, salahkah aku terlanjur mengenalmu? Salahkah aku bila kemudian mencintaimu? Pertemuan yang tak pernah kurencanakan yang mengantarkanku pada cinta dan menjadi kekasihmu yang tak pernah kumimpikan. Tetapi, semua telah terjadi. Tuhan telah menulis sebuah cerita tentang kita dalam buku harian-Nya. Cerita tentang itu-itu saja dan sekarang aku harus mengalaminya sendiri. Cerita tentang cinta yang direnggut keserakahan ayahnya."
Malam itu menjadi saksi bagi penantian yang tertunda.

Lamongan, 2007

* Penulis adalah Pelajar MA. Matholi’ul Anwar
Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati