Minggu, 10 Agustus 2008

Catatan Suram untuk Kiai Ceret

Fahrudin Nasrulloh

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Itu pesan pendek Ali bin Abi Thalib. Wejangan ini sekarang nyata-nyata telah dibuktikan Agus Shohib Khaironi El Jawy yang menganggit kitab sharaf Audhlahul Manahij. Jabaran tulisan Em Syuhada (“Secercah Sinar dari Lirboyo”, JP, 20/04/2008) ini sebenarnya, dalam perspektif dilema ketokohan pesantren, tanpa terasa menggiring kita pada stigma “kiai ceret” (kiai teko): yang cuma bersibuk diri mengucurkan ayat-ayat Tuhan dengan berceramah. Atau getol membikin pesantrennya lebih mentereng bak hotel mewah, hingga lalai sama sekali untuk berkarya. Pesantren memang “raksasa yang sedang tidur”, tapi tidak semua kiai dan santri “mbangkongan” (jago tidur). Tapi ingat, si penidur dan pemalas akan menjadi bantalnya setan.

Dan apa sesungguhnya yang terjadi kini di dunia pesantren? Apa motivasi kiai-kiai yang centang-perenang terjun berpolitik? Sejauh mana mereka bersetia mendidik dan menempa kepribadian santrinya hingga dapat mewarisi spirit keilmuan ulama silam semisal K.H. Hasyim Asy’ari atau Kiai Ihsan Jampes? Tampaknya sekarang banyak kiai yang berjibaku di dunia partai, untuk tidak mengatakan semuanya. Apa yang bakal terjadi di dunia pesantren 15 sampai 20 tahun mendatang jika kenyataan ini terus menggila dan tradisi menulis di pesantren yang adiluhung semakin tenggelam?

Setidaknya ada beberapa catatan untuk menelisik sejauh mana kesadaran kiai dalam memahami kronik tarikh keulamaan lampau dalam kontekstualisasi tradisi menulis kiai zaman ini. Pertama, munculnya kesan selintas-lepas akan adanya perbedaan semangat zaman dan alur cakrawala keilmuan. Senyatanya bukan pada kadar semangat zaman dan cakrawala keilmuan. Ukuran ini tak bisa ditimbang secara bijak. Tapi jika api semangat zaman tak kuasa dipertahankan atau lebih digelorakan, maka identitas sebagai “the others”, seperti yang ditudingkan kaum orientalis, bakal lebih memurukkan jagat pesantren dalam jerat labirin “leviathan” globlalisasi. Bukan perkara berat-ringannya dimensi waktu yang niscaya ditanggung manusia di setiap zamannya, tapi seberapa kadar “api tajdid” untuk dikobarkan dalam segala bidang.

Kedua, adanya pandangan tentang perbedaan motivasi menulis. Bahwa ketulusan menulis, atau sederhananya, “greget” menulis yang selama ini ada mungkin cuma berlandas pada tameng naif kesarjanaan, royalti dan hak cipta. Terkadang tiga hal ini menjadi ajang polemis di dunia kepenulisan bagi siapapun. Apapun motivasi psikologis yang bersarang di relung batin kiai, jika tanpa niat tulus demi umat; upaya itu hanya akan jadi omong kosong. Tanpa adanya keikhlasan menulis, tentu ulama dulu tak ambil pusing untuk berkarya demi merespon dunia krusial sosial-politik di zamannya. Tentu ketulusan tersebut musti bertumpu pada “ghirah menulis” seperti yang diinspirasikan Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, adanya angapan bahwa mushannif dahulu hanya mengenal barokah dan taklim. Alangkah kelewat menyimpang bila watak ulama lampau dipicikkan dengan paparan tendensi barokah dan taklim semata serta mengabaikan dunia politik praktis. Justru konteks “doeloe” para ulama diperhadapkan pada spirit jihad melawan dinasti kafir dan selanjutnya imperialisme di awal abad ke-17. Mereka tak membutakan diri akan dunia intelektualisme dan dimensi sosial lainnya. Namun kini semacam ormas keagamaan, atau lembaga Islam, bahkan pesantren, dengan tantangan yang sebenarnya lebih dahsyat; hanya bersikat-sengkarut demi kepentingan pribadi dan akses politik yang berujung pada kemapanan duniawi semata. Ironik!

Keempat, ulama dahulu tidak disibukkan memikirkan dunia politik praktis semata. Dan kendati saat ini banyak juga ulama yang bisa menulis dalam bahasa Indonesia, dan jarang ada yang menulis dalam bahasa Arab, meski mereka juga cakap dan “jaduk” berbahasa Arab. tidaklah jadi perkara kiai menulis dalam bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Karena itu bisa berarti menafikan dunia modern yang serba akomodatif. Namun sejauh mana mutu karyanya bisa memberikan angin segar dan pembaruan di jagat pesantren. Para ulama tidak sekadar “memamah biak” unggunan kitab kuning yang seakan-akan “given” itu dengan sekadar membikin syarah dan hasyiyah sebagaimana yang disitir Syafi’i Ma’arif di era 90-an. Lantas siknifikansi apa yang ditetaskan dari tradisi bahstul masya’il selama ini? Apa yang sudah dilakukan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI)? Apa saja yang dirembukkan kiai-kiai se-Indonesia di sana? Yang pasti hingga sekarang, gagasan berharga dari Muhammad Mahmod Thahan dari Sudan dalam bukunya Al-Tajdid fi Islam belum sepenuhnya memantik respon manivestatif di kalangan kiai. Miris pol! Kebekuan akut ini harus segera dipecahkan dalam tindakan nyata.

Kelima, karena itu, di sisi lain, daya pikat dunia politik kian mencacah-koyak kemurnian pandangan hidup kiai hingga mustahil mereka melakoni sepak terjang figur kiai “tempo doeloe” semisal pada Jalaluddin As-Suyuthi yang menganggit sekitar 600-an karya itu. Ah, mustahil bin mustahal!

Semua paparan di atas tidaklah mengenyampingkan kontribusi para ulama dan peneliti di era 60-an hingga sekarang yang juga konsern memikirkan dunia intelektualisme Islam dan khasanah pesantren yang meruah itu. Orang-orang seperti Saifuddin Zuhri, Bisri Mustofa, Zamakhsyari Dhofier, Ali Yafie, Sahal Mahfudz, Gus Dur, Masdar F. Mas’udi, Ahmad Baso dan lain-lain terus berikhtiar secara energik, sinergis, dan progresif ihwal seberapa akurat kajian banding “pengajaran kitab kuning” dahulu dalam membentuk watak intelektualisme generasi muda di dunia pesantren sekarang ini. Kemerosotan watak dan matinya idealisme menulis dari kiai yang berpolitik saat ini adalah bayangan kelam akan sirnanya intelektualisme di pesantren di masa mendatang. Mereka tanpa sadar telah meninabobokkan fakta empiris ini yang sebenarnya mendesak untuk dipecahkan dengan seabrek alibi politis yang tidak menggugah kesadaran kontemplatif-aplikatif demi kemajuan umat Islam secara luas.

Sudah saatnya para kiai merenungkan kembali jati diri keulamaan mereka, sembari berwaspada bahwa proses kehancuran suatu umat dipantik dari isyarat kebangkrutan ulama yang tak lagi meneruskan teladan para nabi dan auliya. Sebab kebinasaan suatu peradaban, bagi Al-Biruni dalam kitabnya Al-Asarul Baqiyah ‘anil Qurunil khaliyah, ada pada tiga hal: akibat perang, lenyapnya warisan kitab, dan rusaknya para ulama. Akankah suramnya intelektualisme pesantren saat ini sekadar gerundelan belaka? Jangan sampai pesantren hanya menjadi sarang kerumunan “kiai ceret”. Dan kepada Gus Shohib, salam tabik!

Jawa Pos, 27 April 2008.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati