Sabtu, 09 Agustus 2008

Demokratisasi dan Problem Kompleks Kuratorial

Satmoko Budi Santoso

EKSISTENSI kurator dalam khazanah dunia seni rupa kini dipertanyakan. Hal itu mencuat dalam diskusi yang tergolong fenomenal pada pertengahan bulan Mei 2008 lalu di Bentara Budaya Yogyakarta. Diskusi yang diprakarsai Makna sebagai media yang mengkhususkan diri mengulas persoalan seni rupa tersebut mengambil tema “Kurator di Mata Perupa”. Bagi saya yang sama sekali tidak berkecimpung di dalam praktek ilmu seni rupa kecuali hanya mengikuti perkembangan wacana dan menikmati karya-karya seni rupa yang saat ini sedang booming, momen diskusi tersebut sangatlah mengejutkan. Secara tegas forum tersebut mempertanyakan peran signifikan dalam proses kuratorial: apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh para kurator dan output-nya seberapa jauh?

Jelas, adanya momentum diskusi itu seperti sidang pengadilan bagi para kurator di Yogya khususnya yang memang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah perupanya. Oleh karena itu, pro dan kontra pun bermunculan. Sejumlah pembicara yang ditampilkan dengan maksud mewakili komponen seni rupa, misalnya Suwarno Wisetrotomo (kurator/kritikus seni), Wahyudin (kurator), Mikke Susanto (kurator), Ali Umar (pematung), Eko Nugroho (perupa), dan Yuswantoro Adi (perupa) berhasil merangsang diskusi dalam telikung dan kompleks persoalan yang sungguh problematis.

Suwarno Wisetrotomo, misalnya, melihat peran kurator salah satunya sebagai pemicu produksi wacana di seputar seni rupa, Wahyudin tak begitu jauh berbeda dengan Suwarno, Mikke Susanto memaparkan argumentasi tentang proporsionalitas sinergi antara perupa dan kurator sehingga semestinya tetap mendudukkan kurator sebagai obyek yang sama dengan perupa terutama dalam konteks kesebadanan perspektif ilmu, dan selebihnya tentu saja Ali Umar, Eko Nugroho, serta Yuswantoro Adi berkehendak mengritisi (sekaligus menggugat) peran kurator berdasarkan kinerja dan signifikansinya.

Jika di dalam analisis sepak terjang partai politik yang belakangan ini memanas, adanya forum tersebut mungkin saja bisa ditafsirkan secara ekstrem sebagai media pengganyangan peran kurator. Tidak perlu lagi adanya kurator karena keberadaan kurator mungkin saja diam-diam dianggap tidak kapabel, meragukan, ndompleng eksis, makelar lukisan, dan sebagainya, dan sebagainya. Terus terang, saya sendiri melihatnya dengan sudut pandang kenapa tiba-tiba saja terjadi seperti itu? Kenapa Eko Nugroho memaparkan argumennya bahwa dalam dua atau tiga tahun terakhir ini peran kurator kurang bisa menghasilkan isu atau wacana yang menarik dan seabrek argumentasi lain yang sifatnya menihilkan peran kurator? Apakah ketika dunia seni rupa sekarang sedang berjaya (banyak jenis lukisan laku keras dan para perupa mulai dari yang muda sampai senior panen habis-habisan) lantas peran kurator yang barangkali memang sepele haruslah diabaikan bahkan didepak?

Saya tidak sedang berposisi membela kurator ataukah tidak jika kemudian menuliskan opini ini, tetapi bagi saya letak persoalannya adalah bagaimana pola komunikasi yang telah terbangun selama ini? Apakah kondusif? Tentu saja, dalam perspektif sederhana saja pada awalnya pasti ada deal-deal antara kurator dan perupa: kamu ngapain, gue ngapain. Deal ini tentu saja tidak selalu secara eksplisit, memang. Jadi, saya kira bagaimana mengomunikasikannya. Sinergi seperti apa yang diidealisasikan jika memang ada maksud di luar deal-deal tertentu yang sudah menjadi kesepakatan tersirat maupun tersurat di antara kurator dan perupa. Jadi, konsep islah atau rekonsiliasi dengan perspektif sederhana (tanpa politisasi apalagi gerakan “grudak-gruduk”) masih mungkin dikondisikan. Jika memang dianggap salah satu pihak seperti kurator atau perupa dianggap bodoh ya mbok belajar lagi. Kan gitu, misalnya.

Tapi, mungkin memang persoalan yang sebenarnya tidak sesederhana itu. Oleh karena itu, ruang dialog pada rubrik ini toh masih memungkinkan juga. Hanya saja, dalam konteks ini saya hanya ingin memberikan paparan ringan, soal urun rembug sepele yang barangkali membantu menjernihkan persoalan tersebut.

Sebagaimana diungkapkan Wahyudin bahwa dunia seni rupa toh juga merupakan dunia yang demokratis dengan muatan liberalisasi pikiran yang konstruktif. Dalam pandangan saya, sebenarnya memang perlu dipatenkan peran sosial dan kultural kuratorial semacam ini. Suwarno sudah menyebut di dalam konteks dokter ada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sehingga jika ada pelanggaran etika ada sangsi yang jelas dari pihak organisasi. Sebagaimana yang juga pernah diungkapkan kritikus seni rupa kondang Jim Supangkat dalam Majalah Gong Edisi April 2008 bahwa sudah selayaknya ada Undang-undang Kebudayaan yang mengatur peran sosial dan kultural kerja kuratorial sehingga hak-hak serta kewajiban kurator pun terlindungi undang-undang.

Jika hak milik kekayaan intelektual saja digembar-gemborkan kenapa hak peran sosial dan kultural kurator menjadi terabaikan? Oleh karena itu, forum semacam itu selayaknya bisa saja menjadi ajang penjernihan persoalan yang ke depannya sebagai semacam rekomendasi bagi penguatan hak-hak kurator sekaligus perupa dalam peran proporsionalnya. Jim Supangkat memang berpendapat bahwa menjadi kurator dituntut adanya kualifikasi tertentu seperti pemahaman ilmu kurasi yang di dalamnya meliputi profesionalisme penguasaan database karya seni rupa dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, forum itu sebenarnya bisa menjadi langkah konkret untuk mempertegas tuntutan peran sosial dan kultural yang selayaknya menjadi tanggung jawab kurator maupun perupa. Jadi, gimana selanjutnya, bukan malah dibubarkan begitu saja. Selain itu, bisa juga dipikirkan bagaimana caranya agar institusi pendidikan seperti Institut Seni Indonesia Yogyakarta mau membuka program studi dengan minat utama kuratorial. Sehingga problem semacam ini sungguh bisa terpecahkan dalam koridor ilmiah, tentu saja sebagai konsekuensi cara berpikir intelektual, bukan malah cenderung nirlogika. Toh kita tahu, bidang studi perihal kuratorial juga merupakan bagian dari ilmu yang bisa digeneralisasi berdasarkan metodologi konsep pembelajaran tertentu.

Wah, saya sendiri hanya bisa termangu, ini adalah persoalan paradoksal tetapi saya kira analoginya bisa sama dengan kenapa jalan yang dilewati Sophan Sophiaan di daerah Ngawi Jawa Timur kemudian diperbaiki setelah ada yang benar-benar tewas yakni si Sophan Sophiaan yang kebetulan seorang tokoh publik? Kenapa Galeri Nasional di Jakarta yang notabene milik pemerintah tetap membutuhkan kurator independen dari pihak luar yang bukan pegawai negeri? Kenapa kita terlalu mudah menggusur peran-peran yang sekecil apa pun telah/pernah dilakukan komponen pendukung keberadaan subyek budaya massa tertentu?

Memang, buruh sering tidak memberikan kontribusi konkret pada majikannya karena sesuatu hal, tetapi buruh mungkin akan menyelamatkan majikannya di saat-saat yang justru hanya dengan penggunaan peran-peran kecil namun toh tetap substansial saja adanya. Barangkali saja begitu, bukan? ***

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati