Senin, 04 Agustus 2008

Dunia Batin Sang Penyair

Fahrudin Nasrulloh

... And what are poet for in a destitute time?
(Friedrich Hölderlin, dalam “Bread and Wine”)

Seorang penyair, suatu hari, dalam senyap perenungan di ambang lengang, bertahan diamuk khayalan tak terbayangkan, diombang-ambingkan waham tentang kefanaan dirinya dan keabadian puisi-puisinya, tentang kenyataan bagaimana dirinya punah dalam rengkuhan peristiwa dan sosokan laksa kata. Betapa ia gelisah diseret bimbang. Sebaris puisi Hölderlin itu demikian mengusik hatinya. Ia menggeram sendiri, boleh jadi penyair hanya melakukan satu hal: merengkuh segala yang ada dan tiada. Saat itu, ia duduk seorang diri di atas kursi di teras rumahnya. Pandangannya kosong, gentar, kalut dalam diam, tersedak desir abu senja. Ia terus mencoba mengheningkan degup kata dan tilas makna yang kerap hadir dan lenyap begitu saja. Mungkin kata tidak memutuskan apapun. Atau sesuatu mengada ketika tidak ada kata, saat kata gagal dan lumat dalam segala hal.

Ia membayangkan semacam dunia batin para penyair yang mati muda dan, mungkin, sia-sia: Chairil Anwar, Frederico Garcia Lorca, Jim Morrison, Sylvia Plath, Sandor Petofi, Mennoster Braak, Forough Farakhzad dan Alejandra Pizarnik. Adakah para penyair ini mati dini demi suatu keyakinan? Atau sekadar membius diri dalam menjelajahi kegaiban hidup? Tampaknya segala tindakan dalam hidup tidaklah mesti membutuhkan alasan. Sepotong puisi, dari sekian puisi yang pernah ia baca (dan ia tulis), ternyata menyimpan anggur Iblis dan serigala bermata juling di dalamnya. Kendati jasad para penyair itu tak bersisa lagi jadi santapan belatung dan rayap, dengan segala kejahatan dan kebaikannya, namun puisi mereka terus bertualang, lebih hidup dari kematian dalam hidup itu sendiri, menjerat napas, mengekalkan hasrat, menyurup dan memburu apa saja dari kerawanan daya hidup manusia.

Sekilas lepas ia sadar, dirinya telah telanjur tandas menenggak candu puisi. Dan memang puisi tak harus menjadi obat kehidupan atau jampi atau khotbah bijak. Ia mungkin saja hanya ampas batin yang diterangi kemurnian panca indra atau yang meruah dari labirin kenikmatan yang melelahkan dan melongsorkan jiwa lalu disawurkan ke mata orang lain dengan setakik nubuat: inilah percik teka-teki mayapada yang tak bakal rampung ditafsirkan manusia. Dan sampai kapan pun, sebelum manusia terakhir musnah, penyair akan tetap ada dengan gelontoran sihir puisinya.

Tetapi siapakah yang membutuhkan penyair? Apakah mereka sosok suci atau pendosa yang kehilangan kesadaran murninya? Betapa, sebagai penyair, dirinya seakan berakhir sendiri, terlempar ke ranah entah.

Sejenak matanya berkilatan saat seekor gagak berkelebat menukik di tubir senja, semerta dua bulir air matanya menetes. Angin berembus malas, dan senja melambat menyambar jelang malam yang pucat. Barangkali ia terpesona diguyah gelisah khayalan dan kegamangan yang menyusup ke raganya. Namun ia kukuh bersetia mengendusi geriap puisi yang terus mengusik, di dasar karang kawah mahabahaya, meregang sendiri, hingga kematian yang menghitam tak kuasa mengheningkan nyanyian sang makhluk dalam gelapnya waktu, seperti getar demam tubuh Bertolt Brecht: “In the darkness, will there also be singing? Yes, there will be singing, about darktimes.”

Setelah itu ia terdiam, melayangkan kesadaran, mengurai sengkarut pikirannya, lalu beralih duduk di bibir jendela, tergerus selaksa bimbang dan resah, mendengarkan dengung gaib batinnya. Dan lamat-lamat, terbersit rasa sepi, secabik cermin dunia tiba-tiba menghampa, dengan seabrek ingatan, dan seleret takwil menyarang dalam benaknya: daya sihir puisi barangkali tercipta justru ketika penyair sekarat diamuk kata-kata, ketika ia bersitatap sekaligus dengan kenyataan dan mimpi, dalam guliran keajaiban peristiwa dan benda-benda.

Peristiwa dan benda-benda, dua hal yang ia tahu tak bakal kekal, dalam ingatan dan dalam ruang. Lantas, apakah dengan begitu puisi hanya memaknai ihwal yang sia-sia? Sekadar menyematkan makna pada segala omong kosong? Tetapi para penyair tetap membikin puisi, terus dan terus, dengan sekian alasan. Jadi, gerangan roh apa yang menitis dalam puisi? Sebuah puisi murni, kuasa bertenang diri, tidak menyepi atau menghambur ke keramaian dunia, tiada berhenti atau desiran maknanya jadi beku dalam kata dan waktu. Karena makna dan kata selalu bertukar tangkap dengan lepas, tak pernah terbuhul dalam satu jeratan pengertian yang mutlak. Meski hanya sementara, deburan makna hadir bak denyar yang meradangkan sekaligus menguatkan jiwa, tak merangsek menghimpit mengepung dengan limburan misteri di dalam atau di luar dirinya.

Ia merasa, mungkin dalam puisi tak ada apa-apa. Yang ada sekadar amuk gentar kepada semesta. Semesta ada, dan manusia tersesap karena membayangkan ihwalnya. Dan penyair tak lebih sekadar menorehkan jejak. Lalu lenyap. Jadi, apa yang dipertarungkan penyair hingga mati-matian melahirkan puisi? Siapa yang peduli kepadanya? Memburu apa, diburu siapa? Penyair hanya merayakan dunia dalam kata-kata dan ketidakpastian tak berhingga.

Kemudian ia beranjak menuju kursi panjang di sebelah kiri kamarnya. Dalam jeda waktu sekian lama, ia menyambar sebuah risalah sastra karya seorang kritikus. Baginya, kritikus sastra adalah sosok kanak-kanak, pesolek genit, atau badut lugu yang menari sedih di atas bangkai pikirannya sendiri, membayangkan dirinya menjadi dewa; penentu dan pewedar kerumun sabda naif terhadap mati-hidupnya puisi. Seraya berusaha meredakan kecamuk batinnya, ia mengkhayalkan unggunan gagasan yang mengamuk hebat dalam benak kritikus sastra itu. Seolah sang kritikus sastra mengomel sendiri di medan puisi yang sedang ia simak, “Wahai lidah halilintar, sambar dan lenyapkan kemabukan para penyair untuk selamanya. Sebab, sumsum kehidupan telah mereka hisap habis ke jurang maya. Mereka hidup bergelandangan di padang gurun mahaluas di mana Iblis dan malaikat bersabung mati memperebutkan takhta akhirat. Wahai kekuatan mahakala, kuburkan para penyair dalam gua lahat berkabut tanpa terang dan gelap. Aku tidak peduli lagi akan puisi mereka, dan di mataku tak ada yang lebih buruk dari itu.”

Baginya, kritikus sastra adalah penyebar wabah berjubah putih dengan segala kelancungan pikiran, melahirkan persepsi, onggokan gagasan, dan sengkarut tafsir yang meruyak lantas didesakkan menjadi kebenaran tunggal. Baik dan buruk. Mulia dan hina. Apakah mereka berpikir tentang puisi dengan cara yang sama sebagaimana orang berpikir tentang Al-Quran, Alkitab, epik akbar, atau karya-karya besar peradaban dunia (tragedi Yunani, Dante, Fariduddin Attar, Jalaluddin Rumi, Li Tai Po, Goethe, Shakespeare, William Blake, dan lain-lain)? Tetapi, tak seorang pun di dunia ini kuasa bersumpah bagi dirinya sendiri bahwa dirinya abadi dalam kebenaran yang hakiki. Tak ada kebenaran. Yang ada hanyalah kilasan perenungan yang segera pudar. Ah, biarkan saja kritikus sastra bersinting ria dalam khayalan terkutuk mereka. Tercekat pekat dalam dering keheningan.

Namun kini, dunia masih saja berdenyut. Kehidupan tetap berjalan apa adanya. Dan para penyair yang masih hidup senantiasa melahirkan dan menghidupi karya-karyanya. Menziarahi cahaya batin masing-masing, menajamkan kekuatan imajinasi dan daya baca, merawat puisi dengan segenap cinta, dengan segala yang telah hilang, dengan semua kepedihan dan kebahagiaan yang tak mungkin direngkuh kembali. Di akhir perenungannya yang terdalam, sang penyair itu bergumam lirih, “Tanpa puisi dalam pikiranku, selamanya aku tak ingin hidup di antara kumpulan manusia yang menyedihkan ini.” Pandangan matanya tampak berbinar, tetapi masih saja ada keraguan yang mengganjal di benaknya. Kemudian ia membatin, ”Sebenarnya, sesuatu yang tak kuasa kupuisikan, lebih baik kujaga dalam diam.”

Suara Merdeka, 28 Agustus 2005.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati