Nur Hayati
“Nek, kenapa Nenek dulu menamaiku dengan nama Diana Putri Felicity? Padahal kata Nenek, kakek dulu hanya memberiku nama Diana saja.”
‘Sayang, memang kakekmu dulu hanya memberikan nama Diana saja. Tapi Nenek ingin kau seperti putri kita semua. Putri Diana. Dia seorang putri namun dia tak sombong dan begitu ramah terhadap rakyat seperti kita. Hampir pada masa pemerintahannya, kondisi negara berjalan dengan baik. Dan ketika dia meninggal, lihat saja semua orang turut berduka dan berdoa untuk keselamatanya. Sama denganmu, Nenek ingin kau seperti dirinya. Seperti putri yang baik hati itu. Dan kau tau, Felicity itu artinya kebahagiaan. Nenek ingin kebahagiaan slalu menemani cucu Nenek ini.” sambil mencubit pipi cucunya itu.
“Ah nenek.” ungkap malu cucunya.
Nenek itu meneruskan kembali kata-katanya.”Dan kau jangan pernah mengeluh dengan apa yang saat ini kau derita. Kau cacat bukan karena Tuhan membencimu. Bahkan mungkin dia sangat sayang kepadamu. Dan dia tak ingin melihat kau melangkahkan kakimu untuk hal-hal yg tidak baik. Kau mengerti?”
Felicity tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “ya Nek”. Nenek Grace tersenyum kemudian memeluk Felicity dengan hangat. Dan Felicity pun merasakan pelukan itu.
“Tet ..tet…tet…” bunyi bel pintu itu membuat pelukan Nenek Grace dengan Felicity terlepas. Seperti biasa, Nenek selalu membukakan pintu. Dan seperti biasa pula, seorang lelaki berparas tampan telah berdiri di depan pintu.
“Hai Nek, aku sayang sekali sama Nenek. Ummua...” sebuah ciuman mendarat di pipi Nenek Grace.tapi Nenek Grace tak menghiraukannya. Dia tertawa lalu pergi.
”Iya, Nenek tau kau kangen kan sama cucu Nenek?” Nenek berjalan ke dapur mungkin membuatkan minum. Sedang Chris tertawa kemudian mendekati Felicity yang semenjak tadi tertawa menyaksikan pacarnya menggoda neneknya. Dia mendekat ke belakang Felicity dan membisikkan sesuatu ke telinganya, “Aku merindukanmu”.
Felicity tak langsung menjawab bisikan Chris. Dia tertawa lalu menggerakkan kursi rodanya untuk menjauh. Tapi Chris cepat-cepat menariknya dan memeluk Felicity dari belakang. Felicity pun memegang tangan Chris dan ikut merasakan pelukannya. Tapi ada Nenek Grace datang membawakan the hangat. dia melihatnya kemudian mendeheminya.dan chris merasa malu.dia melepaskan pelukan mereka. Dan membalikkan badan.
“Oh my god”. Nenek Grace tertawa sendirian. Felicity kemudian membantu Nenek meletakkan minuman. Dan Nenek Grace tersenyum sambil meletakkan teh hangat di atas meja.
“Bilangnya kangen sama Nenek, kok yang dipeluk cucu Nenek?” sindir Nenek Grace pelan.
Chris tertawa hebat karena sindiran itu. Dia berjalan cepat ke arah Nenek. Dan astaga, dia memeluk Nenek dengan sangat erat. Nenek tertawa sambil mengelus-elus pipi Chris.
“Aku sayang sekali sama cucu nenek.tapi aku lebih saaayang sama nenek” rayu Chris. Felicity menggelengkan kepala ke arah Chris yang begitu hebat mengambil hati neneknya.
”Sudah-sudah, Nenek ke dapur dulu. Kalau kalian mau jalan-jalan, Nenek izinkan. Tapi jangan sampai malam.”
Chris jalan-jalan dengan Felicity. Dia berada di belakang Felicity sambil mendorong kursi rodanya. Dia berjalan ke bukit yang tak terlalu tinggi dan jalanya juga enak. Lagi pula bukit itu tak terlalu jauh dari rumah Felicity. Dia menghentikan jalannya dan mengunci kursi roda Felicity agar tak bergerak. Dia melihat bunga lalu memetiknya. Entah bunga apa itu? Aku tak tahu! Hanya saja bunga itu cuma tumbuh di daerah bukit. Bunganya sangat bagus. Warnanya putih dan mahkotanya berwarna merah. Juga dengan putik dan beberapa benang sari dengan warna ungu dan hijau. Indah sekali. Dia memasangkan bunga itu ke telinga Felicity.
“Seorang gadis akan lebih cantik bila seorang kekasih memberikan perhatian kepadanya. Karena wajahnya memerah.”
Felicity tertawa mendengar Chris bicara seperti itu. Dia memang selalu tertawa di dekat Chris.
“Dan seorang gadis akan jauh lebih cantik bila memberikan senyumannya kepada kekasihnya. Karna dua lesung pipitnya jadi semakin kelihatan.” rayu Chris sekali lagi. Felicity tak henti-hentinya tertawa.
“Tuh kan, jadi semakin cantik.” Chris terus menggoda Felicity. Dia memang senang sekali melihat pacarnya itu tersenyum. Karena lesung pipitnya jadi semakin kelihatan. Dan wajahnya pun jadi memerah. Sebenarnya sih bukan memerah tapi…
Felicity memandang Chris yang tengah tertawa terbahak-bahak.seketika itu wajahnya berubah masam. Dia memanggil Chris berulang kali. Namun Chris tak mendengarnya. Baru dalam panggilan yang ke sekian kali, Chris menoleh.
“Yah kau memanggilku?” Chris mendekat dan memegang tangan Felicity.
“Chris boleh aku bertanya?” Chris memperhatikan Felicity dengan wajah yang berbeda karna pertanyaan itu di sertai dengan muka yang sedikit berbeda.
“Ya!” jawab Chris dengan sungguh-sungguh.
“Chris, terkadang aku merasa kau tak mencintaiku.” Felicity manghentikan pembicaraanya dan melepaskan tanganya yang terpegang oleh tangan Chris. Ia kemudian melepaskan kursi rodanya. Lalu perlahan-lahan menggerakkannya.
“Aku merasa kau hanya kasihan padaku. Kau anak orang berada. Sedang aku anak dari orang yang sederhana, yang tempat tinggalku pun jauh dari tempat tinggalmu. Dan di sana pasti banyak gadis yang jauh lebih cantik dari aku. Gadis yang jauh lebih sempurna dan seantar dengan derajatmu.” Keluh Felicity memburu. Sejenak kemudian, ia berhenti menjalankan kursi rodanya. Membalikkan badannya ke arah Chris.
“Ini tak masuk akal Chris!” ujarnya lebih lanjut. Chris hanya mengangguk-anggukkan kepala dan berjalan menjauh dari Felicity. Chris tau kalau Felicity benar-benar butuh jawaban darinya. Jawaban yang lebih dari segala jawaban. Chris memang pintar. Jika Felicity sedih atau marah, dengannya, dia tak menghiburnya dengan mengelus-elus rambutnya. Dengan merayu dan menggombal. Bukan itu yang dia lakukan. Dia akan pergi untuk menjauh.
“Kalau kau berfikir seperti itu, berarti kau pun sama dengan apa yang kau pikirkan kepadaku. Kau hanya kasihan hingga kau mau mengikat hati denganku.” jawab Chris balik menyudutkan Felicity.
Felicity bingung dengan ucapan Chris. Dia menggeleng-gelengkan kepala, “Maksudmu?”
“Yah, kau hanya kasihan kepadaku karna aku anak terhormat sekaligus terlantarkan?”
Felicity kaget dengan ucapan Chris yang menyatakan kalau dia anak terlantar. “Apa, terlantar?”
“Yah, kau bisa menuduhku setega itu. Aku pun bisa menuduhmu sekeji ini.” Felicity dan Chris sama-sama terdiam. Dan Felicity wajahnya berubah memelas. Emosi yang tadi hingap kini berubah dengan seketika. Dia mengusap wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan mendekati Chris.
“Chris!” ungkapnya datar. Chris masih tetap berdiri membelakangi Felicity. “Bisakah kita melupakan pertengkaran ini Chris?” ungkap Felicity melanjutkan. Tapi apa boleh di kata, kemarahan Chris belum hilang. Dan seketika itu juga, dia membalikkan badanya.
“Kenapa? Kau tak mau mendengarnya? Kau tak mau mendengar kalau aku anak terlantar? Iya?” bentak Chris.
Felicity menangis kemudian menutup telinganya rapat-rapat. ”Cukup Chris. Cukup!”
“Kenapa? Bukankah jawaban itu yang kau inginkan?” bentak Chris menegaskan. Felicity masih terus menangis. Tapi kemudian, “Cukup Chris!” satu bentakan yang membuat Chris berdebar.
“Kamu jahat Chris. Kamu jahat.” desisnya melemah. “Kamu jahat.” Felicity mengusap air matanya kemudian dia pergi meninggalkan Chris. Sepeninggal Felicity, dia tak setegar tadi. Dia duduk di pinggir bukit kemudian menangis.
“Maafkan aku Fel. Aku emosi.” dia memegang erat kepalanya dan manjambaknya erat-erat. “Seharusnya aku tak boleh marah-marah. Bodoh… Aku memang bodoh.” Sementara itu, Felicity pulang dan langsung ke kamarnya. Dia menguncinya rapat-rapat.
“Felicity, Felicity, buka pintunya. Nenek ingin bicara.”
“Aku ingin sendiri Nek. Jangan ganggu aku.”
Nenek Grace pergi meninggalkan Felicity padahal dia ingin menghiburnya. “Pasti dia bertengkar lagi dengan Chris dan pasti karena masalah yang sama. Cucuku, kenapa kamu selalu mengulangi kesalahanmu.” Nenek Grace menghela nafas panjang lalu pergi. Sementara Felicity masih terus menangis.
“Bodoh, kenapa aku merusak semuanya. Seharusnya tadi adalah hari bahagiaku dengannya. Tuhan apa yang telah kulakukan? Maafkan aku Chris. Maafkan aku. Seharusnya tadi aku tak berkata macam-macam kepadamu.” sesal Felicity akan sikapnya terhadap Chris.
***
Dua hari berlalu begitu cepatnya. Tapi sudah dua hari juga Chris tak pernah ke rumahnya. Berbagai pertanyaan melintas di kepala Felicity. “Apakah dia marah kepadaku? Dan apakah dia tak ingin menemuiku lagi?” ungkap terbata Felicity sambil menahan isak tangisnya rapat-rapat.
Nenek Grace ketika mendengarnya sangat sedih. Sudah dua hari ini dia selalu menunggu di teras rumahnya. Menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, tapi tak ada yang datang menemuinya. Entah apa yang terjadi dengan Chris. Apakah dia marah? Ataukah dia sudah tak ingin bertemu dengannya. Aku juga tak tahu. Kasihan Felicity. Sebenarnya dia juga tak ingin seperti ini. Dia juga kerap kali menyesali kesalahannya.
“Seandainya waktu bisa di putar kebelakang, aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama.” begitulah pikirnya. Tapi apa boleh dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Dan bubur tak dapat di olah kembali menjadi nasi.
“Chris maafkan aku.” dengan berat hati dia masuk kembali ke dalam rumahnya.
Pagi yang cerah. Semua orang kembali menjalankan aktifitasnya. Apalagi di Inggris. Tentu semua orang sangat sibuk. Baik di desa maupun di kota. Di desa, mereka menanam umbi-umbian dan segala macamnya. Artinya bekerja di pertanian dan perkebunan.seperti Nenek Felicity. Nenek Grace juga sebenarnya kaya kalau hidup di Indonesia. Karena mereka hidup di Inggris jadi mereka di anggap sederhana. Mengingat orang-orang Inggris yang rata-rata hidup serba mewah di daerah perkotaan. Tapi petani di sana tidak seperti di Indonesia. Di sana mereka di hargai sesuai jerih payah mereka. Bahkan lebih. Yah itulah salah satu cara mempertahankan kualitas petani di Inggris agar mereka juga hidup sejahtera layaknya masyarakat perkotaan. Dan pagi itu Felicity tengah duduk di teras rumahnya sambil menghirup udara pedesaan yang rindang. Dia mengembangkan senyumnya juga meneteskan air mata ketika sebuah mobil melintas di depanya. Dia tahu kalau itu Chris. Dia segera menggerakkan kursi rodanya dan menyambut Chris. Saat itu Chris langsung memeluk Felicity.
“Aku minta maaf. Aku emosi waktu itu. For give me please!.” pelukan itu membuat Felicity menangis di pundak Chris. Dan Nenek Grace melihat semua itu dari dalam rumah. Dia menangis lalu sesekali tersenyum. Dia masuk kembali ke dalam.
“Aku juga minta maaf. Aku janji tak akan mengungkit masalah itu lagi. Aku janji. Im so sorry.” begitulah ucap Felicity yang membuat Chris melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Felicity. Lalu mereka berdua pun sama-sama tersenyum dan saling menggoda. Tapi Felicity memperhatikan cara berpakaian Chris yang berbeda dari biasanya.
“Hai, kenapa kau berpakaian seperti ini?”
Chris cukup gugup mendengar ucapan Felicity. Tapi mau tak mau dia harus bilang kepadanya. “Fel, ayahku sedang sakit. Dan karena aku anak tertua, dia menyuruhku menggantikan tugasnya.”
“Apa? Jadi kau akan pergi?” seketika senyum yang beberapa detik lalu melintas kini menghilang. Tapi Chris langsung membantahnya.
“no…no…no” dia meletakkan telunjuknnya di bibir Felicity. “Aku tak akan lama. Nanti setelah musim dingin tiba, aku akan kembali. Aku janji.” tegas Chris menjelaskan. Tapi tak ada yang bisa membendung air mata jika seorang kekasih pergi untuk waktu yang tak sebentar. Dan tak ada kekasih yang rela membiarkan kekasihnya menangis. Seperti itu pula Chris juga tak rela. Dia langsung memeluk Felicity erat-erat.
“Jangan menangis, aku hanya sebentar di sana.”
“Kau marah? Kalau kau marah aku minta maaf. Tapi jangan pergi. Aku tak punya siapa-siapa.” Felicity mencoba menghentikan kepergian Chris. Tapi semuanya itu sia-sia. “Hei, jangan bicara seperti itu. Aku tak pernah marah. Justru aku yang harus minta maaf.” mereka berdua menangis. Dan pasti semua orang pun akan menangis jika perpisahan menjadi jalan. Chris juga tak bisa membatalkannya. Dia tak akan berani menolak perintah ayahnya. Apalagi dia anak tertua di keluarganya. Chris melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
“Nenek di rumah?” Felicity mengangguk mengiyakannya. Dia tetap di luar dan membiarkan Chris masuk sendirian. Tapi setelah Chris masuk, dia melihat Nenek Grace berdiri sambil menangis.
“Nek!” Chris menangis dan berjalan memeluk Nenek Grace. “Nenek sudah seperti nenekku sendiri. Izinkan aku pergi Nek!” Nenek Grace memeluknya erat-erat lalu perlahan melepaskannya.
“Kau sudah seperti cucuku sendiri.” Nenek Grace mengelus pipi Chris. Dan Chris pun menikmatinya.
“Sebelum kau pergi, minumlah teh hangat itu. Nenek sudah membuatkannya untukmu.” sekali lagi Chris memeluk Nenek Grace seakan tak mau melepaskannya. Felicity menangis terisak-isak menyaksikan mereka. Sebelum pergi, Chris menghabiskan teh yang telah di buatkan Nenek Grace. Dan dia juga memeluk Felicity untuk yang terakhir kalinya.
***
Waktu berlalu dan berganti sangat lambat. Detik demi detik bagai waktu membosankan. Setiap hari, setiap waktu, dia selalu mengharapkan bahwa urusan Chris akan cepat selesai.sehingga ia bisa ke sini lagi untuk menjenguknya. Tapi selalu juga sama. Waktu ke waktu tak ada yang kunjung menemuinya. Dan hampir saja dia berfikir bahwa Chris tak akan pernah kembali ke tempatnya. Tapi perasaan itu segera di tepisnya. Dia yakin bahwa Chris akan kembali. Chris pemuda yang baik. Dia akan menepati janjinya. Begitulah pikirnya.
***
Dua bulan kemudian. Malam yang terang itu tiba-tiba satu, dua, tiga salju turun perlahan-lahan. Indah sekali. Dan cahaya bulan menyinarinya. Salju pun seperti christal. Dia berkerlip. Dan indah sekali. Seperti jatuhnya sebuah kristal bercahaya dari surga. Sayang di Indonesia tak ada.
“Felicity, keluarlah. Musim salju telah tiba.”
“Apa!” Felicity yang baru masuk ke kamarnya itu langsung membuka jendelanya. Dia tersenyum dan menengadahkan tangannya ke luar.
“Musim dingin. Chris, kau akan segera kembali.” dia langsung menggerakkan kursi rodanya keluar. Dan memeluk neneknya. “Nek, Chris akan segera kembali. Dia janji akan kembali setelah musim dingin tiba.”
Beberapa hari telah berlalu. Tapi tak ada tanda-tanda bahwa Chris akan pulang. Felicity terus menunggu di depan rumahnya. “Chris, kau bilang kau akan kembali setelah musim dingin tiba. Tapi kenapa sampai saat ini kau belum juga kembali? Apa kau tak akan kembali Chris?”
Nenek Grace yang saat itu melihat cucunya menangis, langsung menghiburnya. “Sayang, Chris pemuda yang baik. Dia sudah janji pada Nenek bahwa dia akan kembali. Dan Nenek percaya itu. Mungkin urusannya belum selesai, jadi dia belum kembali.”
Seketika itu juga, Felicity terhibur. Hati yang semula gundah kini jadi lebih tenang.
“Nenek, Nenek kenapa?” Felicity kaget ketika neneknya batuk-batuk. Dan batuknya kencang sekali.
“Nggak, Nenek cuma keletihan.”
“Ya udah, aku antar Nenek ke kamar yah.” Felicity mengantar neneknya tidur lalu menyelimutinya. Sebelum dia pergi, dia mencium Nenek Grace.
“Have a nice sleep.”
Pagi yang cerah, salju pun senantiasa menemani. Sampai tugasnya selesai di penghujung musim. Felicity sudah menikmati panorama pagi. Tapi neneknya belum juga bangun. “Tumben, Nenek belum bangun. Padahal kan Nenek yang biasanya bangunin aku. Aku bangunin ah Nenek.”
Dia bersemangat sekali membangunkan neneknya. “Nek, ayo bangun. Sudah pagi.” dia memperhatikan neneknya tak seperti orang tidur. Seperti…. “Tidak! Nek, bangun Nek!” dia mengoyak-goyakkan neneknya. Tapi tak ada gerakan. “Nek bangun Nek! Nenek nggak boleh tinggalin aku. Aku sama siapa nanti Nek? Aku nggak punya siapa-siapa. Nek, bangun!” ungkap Felicity gugup dan penuh kecemasan.
Nenek Grace ternyata telah meninggal dunia. Di pagi itu pula Nenek Grace di makamkan. Felicity beserta tetangga-tetangganya turut mengiringi. Seorang pendeta telah membacakan doa untuknya.
“Agama apa yang di anut oleh nenekmu?” begitu tanya pendeta pada Felicity. Sebenarnya pendeta itu sudah tau karna mayoritas agama di Inggris adalah Gereja Anglikan. Tapi pertanyaan itu untuk memastikan agar tak terjadi penyesalan di kemudian hari. “Gereja Anglikan.” begitulah jawab Felicity singkat.
Pendeta itu langsung membacakan doa kedua setelah Felicity memberitahukan agama neneknya. “Nek, semoga Nenek bahagia di alam sana. Aku sayang sama Nenek!” begitulah kata hati Felicity yang tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata. Bibirnya seakan tertutup rapat. Hanya air mata yang senantiasa mengalir.
Sepulang dari pemakaman itu, beberapa tetangga menawari Felicity untuk tinggal bersamanya. Tapi Felicity tak bisa begitu saja bilang iya. Dia menolaknya dengan bahasa yang lembut. Sehingga para tetangga tak sakit hati dengan penolakan Felicity.
“Chris, di mana kau saat ini?” gumam hati Felicity sambil memegangi foto Chris yang ada di ruang tamu dan memandanginya. “Nenek telah tiada Chris. Dia sudah pergi. Chris, cepat kembali. Aku tak punya siapa-siapa Chris.” Felicity meletakkan foto Chris di dadanya dan memeluknya erat-erat.
Beberapa hari berlalu setelah kepergian neneknya.bahkan tak ada waktu terbuang selain menangis dan menangis sampai matanya sembab. Di pagi itu dia membuka jendelanya dan menyaksikan keabadian cinta itu.
“Nenek!” Felicity memanggil neneknya dengan pelan. Entah apa yang ada dalam benaknya. “Chris, di mana kau saat ini? Nenek kita telah meningal!” lirih katanya melanjutkan.
seketika itu, Felicity menolehkan kepalanya dengan cepat ketika terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. “Chris.” desisnya melemah dan berharap bahwa itu adalah Chris. Felicity langsung menggerakkan kursi rodanya perlahan-lahan. Suara sepatu yang kencang dan pintu rumah yang terdengar membuka membuat jantung Felicity bergetar tak menentu. Dan ketika mata itu saling bertemu, Felicity terus memandangnya dan menjatuhkan air matanya. Kedua kaki itu saling melangkah ke arah yang sama. Dan tangis yang semula tenang kini terdengar memekik. Saat itu juga Chris langsung memeluk Felicity.
“Ada apa? Kenapa kau menangis? Aku sudah kembali dan aku tak akan pergi lagi.”
Felicity mengangguk dan menghapus air matanya. Chris berdiri dan menolehkan kepalanya “Nenek mana? Biasanya jam segini dia masih di rumah!”
Tiba-tiba dengan cepat dia menoleh ke arah Felicity. Dia melihat Felicity menangis hebat dengan isakan yang tak tertahankan lagi. ”Ada apa? Kenapa kau menangis?”
“Nenek sudah meninggal Chris!”
“Apa? Nggak, nggak mungkin.”
“ Chris, nenek sudah meningal.”
“Maafkan aku?” Chris langsung memeluk Felicity erat-erat. Dan menangis di pundaknya.
“Di mana kau! Di saat aku sedang butuh seseorang. Di saat detik demi detik pemakaman nenek, kau tak ada Chris. Kau tak ada.”
“Maafkan aku? Im so sorry, Im late. Sungguh aku minta maaf?”
Mereka berdua berpelukan. Dan dalam pelukan itu ada kerinduan yang mencair. Mereka mengunjungi makam neneknya. Dan Chris berjanji di depan Nenek Grace bahwa dia akan selalu menjaga Felicity. “Aku sayang sama nenek.” ungkap Chris berat.
***
Beberapa waktu kemudian Chris datang di malam yang terang itu. Dia mengajak Felicity ke luar rumah. Dan dia meletakkan sebuah cincin di jari manis Felicity.
“Aku berjanji demi kristal yang dijatuhkan Tuhan kepada kita; aku akan selalu menjagamu. Cukup satu kesalahan yang kuperbuat. Dan aku tak akan mengulangnya lagi.”
“Crhis…” Felicity mendesis lemah. Dan memandang Crhis dengan senyum yang mengembang.
“Aku mencintaimu.” ungkap Chris penuh haru.
Chris mengangkat Felicity ke atas tubuhnya. Dan membiarkan Felicity merentangkan tangannya. Dia menengadahkan wajahnya ke atas yang kemudian basah oleh gerimis keabadian cinta.
“Terima kasih Tuhan atas limpahan rahmat dan cinta-MU.” **
Lamongan, 2008
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar