Fahrudin Nasrulloh
Judith, adik Shakespeare itu, siapa yang kuasa menakar gairah dan bara hati perempuan yang terperangkap dalam tubuh penyair? Ia bunuh diri pada suatu malam kelam nan pucat di musim dingin dan dikubur di persimpangan jalan tempat bis-bis berhenti menurunkan penumpangnya. (Virginia Woolf, 1882-1941).
Demikian yang pernah dibayangkan Virginia Woolf andai Shakespeare punya adik perempuan yang memiliki bakat yang sama. Bisa saja Judith, sebagaimana yang Woolf bayangkan, tidak akan menciptakan apa pun yang berarti dalam hidupnya. Ia akan tinggal di rumah, belajar memasak dan menjahit, kawin, melahirkan dan mengasuh anak; tidak terpikirkan sama sekali bahwa ia akan mendapatkan pendidikan sebagaimana yang diperoleh Shakespeare, bahwa ia akan menjadi penulis handal(andal), ia tidak akan seperti kakaknya itu, tidak akan menjadi siapa pun.
Kegelisahan Woolf ini termaktub dalam risalahnya A Room of One’s Own (1929), menukil Simone de Beauvoir, dengan sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa, di bidang sastra, karya perempuan Inggris begitu jarang, dan pada umumnya berkualitas rendah? Tak pelak, khayalan Woolf memang mewakili kondisi perempuan pengarang saat itu. Tapi, saat ini, bisa jadi Woolf keliru, setidaknya khayalannya terpecahkan, sebab sekarang telah banyak perempuan yang menekuni dunia kepengarangan. Memang, kadang ada yang tak sia-sia dari secebis khayalan. Dan Woolf, dalam hal ini, tak lebih sekadar membayangkannya.
Khayalan Woolf itu seolah mencecar lungsuran histeris ihwal perempuan sebagai pengarang, bak isyarat bahwa perempuan tidak mengadakan dirinya, ia mengada dalam kesadaran yang lain. Perempuan dan karyanya, bagai secawan anggur dan belati, yang bisa memabukkan, juga mematikan. Nyatanya, sejak dulukala hingga kini, perempuan selalu dianggap ketinggalan dalam segala hal di wilayah kehidupan nyata. Adakah sesuatu ihwal perempuan sekadar ditakdirkan Tuhan menjadi manusia biasa-biasa saja? Semacam pelipur dan pelengkap bagi laki-laki di saat apa saja. “Bagaimana aku menulis puisi, sementara aku harus menyusui bayi,” demikian lenguh Abidah El-Khaliqiy suatu hari. Dalam keadaan serupa itu, gairah menulis bagi perempuan, jika tidak dibilang mustahil, minimal merupakan jalan hidup yang teramat sulit. Dari kubur sunyi ini, seolah bangkit kabar buruk bahwa perempuan menulis untuk alasan yang sama dengan perempuan yang merajut pakaian, memasak atau mengasuh anak; semata demi membunuh waktu senggang. Lebih ironi lagi, ungkap Stendhal, seorang feminis besar, bahwa setiap genius yang dilahirkan sebagai perempuan, ia akan hilang demi umat manusia.
Perang
Dalam konteks yang sama, ketika Kafka dikelimun tanya soal perempuan pengarang, ia hanya bergumam, “Perang dengan perempuan hanya berakhir di atas ranjang.” Bagi Kafka, dalam riuh-senyap misteri batinnya, mungkin perempuan tak lebih dari seonggok daging dengan separuh akal. Demikian pula, secara sarkastis dan agak narsis, G.M. Hopkins berseloroh, “Pena sang penyair dalam arti tertentu adalah penis.” Ya, “penis metaforis,” imbuhnya; ibarat menetakkan bius takwil tak berbayang. Juga sumbar Auguste Renoir, “Aku... tidak bersyair... kalau bukan atas nama zakarku,” yang memaklumatkan estetika kepenyairan pada aras seksual laki-laki. Pun pekik lain (tentu dengan alasan beragam) yang tidak kalah genitnya semisal, “Hidup perempuan hanyalah dari ranjang ke ranjang” (Helen Cixous), “Perempuan adalah penidur, ia hidup dari mimpi ke mimpi” (Keirkegaard), “Adakah ‘benda’ semacam perempuan? Apakah mereka pernah ada? (Sandra M. Gilbert), “Seorang perempuan tidak dapat mengatakan apa yang diinginkannya”(Lacan), “Hai, apa yang dikehendaki kaum perempuan?”(Freud), “Apa yang dapat diinginkan perempuan yang tidak menginginkan apa-apa?” (Susan Gubar). Memang, sejarah sastra Barat, bagi Harold Bloom, adalah riwayat sastra patriarkal, kendati sebagian sejarawan sastra menyangkalnya. Namun, perempuan pengarang, dalam relung batin tersunyi, bisa saja balik berkoar, “Takdir karyaku adalah teluh klitoris yang menggasak birahi kehidupan.”
Sekarang apa yang tersisa dari gerundelan sengkarut tanya di atas? Barangkali saja, ada yang luput dari tangkapan nalar dan sejarah. Tapi kini, dalam konteks kepengarangan di Indonesia, telah muncul sebetik anggapan, dan konon jadi kontroversial, dari Prof Dr Sapardi Djoko Damono bahwa masa depan kepengarangan Indonesia saat ini berada di tangan perempuan. Gosip ini pun kian menjalar, mungkin mewabah, saat digelar seminar nasional Di Gedung Pascasarjana Undip tanggal 1 Maret 2006 lalu, berjudul “Heboh Sastra Perempuan; Laki-laki Pengarang telah Mati?” dengan mendatangkan pembicara seperti Tamara Geraldine, Saut Situmorang, Sitok Srengenge, Hendrarti juga Prof Dr Sapardi Djoko Damono (Baca wawancara Triyanto Triwikromo dengan Prof Dr Sapardi Djoko Damono di Suara Merdeka, 26 Februari 2006 dan 5 Maret 2006).
Ada sejumlah analisa hipotetik yang dikemukakan oleh Sapardi tentang masa depan sastra perempuan itu: (pertama), jumlah perempuan pengarang jauh lebih banyak daripada laki-laki pengarang. (Kedua), tidak ada novel yang ditulis oleh laki-laki yang dicetak ulang melebihi karya-karya para perempuan. (Ketiga), lebih banyak pembaca perempuan ketimbang laki-laki. (Keempat), perempuan pengarang telah menemukan kesadaran akan dunia keperempuanan mereka. (Kelima), perempuan pengarang di berbagai belahan dunia kini memang tampak menonjol.
Pembuktian
Tentu, hipotesa macam ini tidaklah cukup dan, membutuhkan penelitian yang lebih serius lagi. Meski di Indonesia memang, para perempuan pengarang kini telah menjamur, mulai dari Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Dewi Lestari, Herlinatiens, Reike Diah Pitaloka, Dina Oktaviani, dan lain-lain.
Jika dicermati secara umum, adakah sastrawan kita beranggapan bahwa daya hidup pengarang, dengan aneka proses kretifnya, semata cukup ditakrifkan dengan persepsi dan hipotesis temporal? Bukan pada otentisitas bakat dan kreatifitas itu sendiri. Apalagi jika benar bahwa, bakat hanya 1 %, dalih William Faulkner, dan 99 % sisanya adalah kerja keras. Lantas, bagaimana kita mengukur takdir perempuan pengarang di Indonesia? Perempuan pengarang, pasti bakal bertarung dengan dirinya sendiri, mengembara dalam teka-teki bayangannya, mencoba mengongkosi deraan batinnya, dihantui kabut kata dan makna di gurun dunia, sangsi di pedalaman imajinasi, melebur ke kehampaan waktu dan ruang, menembus jasad dan kecamuk pikiran, menumpasi diri dalam ceruk jiwa yang gelisah, bersabung dengan sengkarut ingatan dan keterlemparannya menafsiri tubuh dan dunia sosio-domestiknya.
Tampaknya, pertanyaan krusial yang layak diwedar adalah sejauh mana bakat dan proses kreatif seorang pengarang, dalam hal ini perempuan, menjadi ukuran untuk menentukan masa depan kepengarangan di Indonesia? Jika benar; hakikat kreatifitas adalah menanggulangi kecemasan, maka kecemasan dalam proses kretif, dengan sendirinya, akan selalu menghantui setiap pengarang. Pengarang yang sesungguhnya, bagi Rollo May, tidak membutuhkan ilham atau wangsit. Tindakan kreatif tidak pernah muncul sebagai keberuntungan belaka, atau deus ex machina; semacam berkah Tuhan. Jadi, pengarang, bukan melibatkan diri tanpa keraguan, melainkan tetap melibatkan diri walau dirubung keraguan. Tindakan kreatif adalah kehendak bebas untuk mematri diri pada sepercik tujuan yang belum pasti. Keputusan untuk tetap melangkah di dalam keraguan serupa itu tentu membutuhkan keberanian. Keberanian ini, bahkan jauh sebelum Cervantes (1547-1616), telah ditunjukkan oleh Murasaki Shikibu (978-1026), dalam sebuah novelnya Genji Monogatari (The Tale of Genji). Ialah perempuan Jepang yang dianggap sebagai pengarang novel pertama di dunia. Kendati Cervanteslah, yang diakui, di kemudian waktu, sebagai pengilham karya-karya besar dunia.
Lalu bagaimana dengan soal proses kreatif laki-laki pengarang? Sudah khatamkah dari pembicaraan kritikus sastra? Adakah yang lebih abadi dari gagasan ihwal tubuh laki-laki dan perempuan, selain ingatan yang rawan? Dan jangan bergelak tawa atawa marah, jika ada orang bilang; perempuan adalah manusia terakhir yang tertawa? Menelusuri dua jenis daging ini bagai menghitung butiran debu dalam labirin pikiran tak berujung.
Perempuan, siapa pun ia, yang mulai bahkan sedang menggeluti dunia kepengarangan, boleh jadi bakal merasakan imsomnia di sepanjang hidupnya, menyusuri padang tubuhnya yang terus menggila. Ah, mengapa kita terus berdebat kalut tentang tubuh, jenis kelamin, lekuk dada, emosi, dan kebisuan lain yang bangkit dari pikiran yang terus menguap. Lantas seharkat apakah tubuh?
Ungkapan Foucoult dan Arnauld di atas seperti mengisyaratkan bahwa gagasan tentang pengarang, sejatinya, tak relevan lagi bila dikaitkan dengan tubuh. Tapi pertanyaan yang mungkin tepat; adakah spirit berkarya yang senantiasa membara yang bersemayam dalam tubuh. Dan karya yang unggul tak memiliki tubuh, namun bisa membangkitkan tubuh. Keabadian sebuah karya, menurut Robert Frost, bukanlah karena ia menorehkan luka yang abadi, melainkan lantaran ia mempunyai sebuah kamar rahasia; tempat sumber tenaga dan segala inspirasi yang seakan tiada habisnya. Ah, perempuan pengarang saat ini memang lagi merayakan tubuh dan kata-kata. Akhirnya, bagi mereka yang masih hidup, perempuan atau laki-laki, kuucapkan: Selamat merayakan dunia kepengarangan!
Suara Merdeka, 14 Mei 2006.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar