Rabu, 06 Agustus 2008

Membaca Takdir Perempuan Pengarang

Fahrudin Nasrulloh

Judith, adik Shakespeare itu, siapa yang kuasa menakar gairah dan bara hati perempuan yang terperangkap dalam tubuh penyair? Ia bunuh diri pada suatu malam kelam nan pucat di musim dingin dan dikubur di persimpangan jalan tempat bis-bis berhenti menurunkan penumpangnya. (Virginia Woolf, 1882-1941).

Demikian yang pernah dibayangkan Virginia Woolf andai Shakespeare punya adik perempuan yang memiliki bakat yang sama. Bisa saja Judith, sebagaimana yang Woolf bayangkan, tidak akan menciptakan apa pun yang berarti dalam hidupnya. Ia akan tinggal di rumah, belajar memasak dan menjahit, kawin, melahirkan dan mengasuh anak; tidak terpikirkan sama sekali bahwa ia akan mendapatkan pendidikan sebagaimana yang diperoleh Shakespeare, bahwa ia akan menjadi penulis handal(andal), ia tidak akan seperti kakaknya itu, tidak akan menjadi siapa pun.

Kegelisahan Woolf ini termaktub dalam risalahnya A Room of One’s Own (1929), menukil Simone de Beauvoir, dengan sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa, di bidang sastra, karya perempuan Inggris begitu jarang, dan pada umumnya berkualitas rendah? Tak pelak, khayalan Woolf memang mewakili kondisi perempuan pengarang saat itu. Tapi, saat ini, bisa jadi Woolf keliru, setidaknya khayalannya terpecahkan, sebab sekarang telah banyak perempuan yang menekuni dunia kepengarangan. Memang, kadang ada yang tak sia-sia dari secebis khayalan. Dan Woolf, dalam hal ini, tak lebih sekadar membayangkannya.

Khayalan Woolf itu seolah mencecar lungsuran histeris ihwal perempuan sebagai pengarang, bak isyarat bahwa perempuan tidak mengadakan dirinya, ia mengada dalam kesadaran yang lain. Perempuan dan karyanya, bagai secawan anggur dan belati, yang bisa memabukkan, juga mematikan. Nyatanya, sejak dulukala hingga kini, perempuan selalu dianggap ketinggalan dalam segala hal di wilayah kehidupan nyata. Adakah sesuatu ihwal perempuan sekadar ditakdirkan Tuhan menjadi manusia biasa-biasa saja? Semacam pelipur dan pelengkap bagi laki-laki di saat apa saja. “Bagaimana aku menulis puisi, sementara aku harus menyusui bayi,” demikian lenguh Abidah El-Khaliqiy suatu hari. Dalam keadaan serupa itu, gairah menulis bagi perempuan, jika tidak dibilang mustahil, minimal merupakan jalan hidup yang teramat sulit. Dari kubur sunyi ini, seolah bangkit kabar buruk bahwa perempuan menulis untuk alasan yang sama dengan perempuan yang merajut pakaian, memasak atau mengasuh anak; semata demi membunuh waktu senggang. Lebih ironi lagi, ungkap Stendhal, seorang feminis besar, bahwa setiap genius yang dilahirkan sebagai perempuan, ia akan hilang demi umat manusia.

Perang
Dalam konteks yang sama, ketika Kafka dikelimun tanya soal perempuan pengarang, ia hanya bergumam, “Perang dengan perempuan hanya berakhir di atas ranjang.” Bagi Kafka, dalam riuh-senyap misteri batinnya, mungkin perempuan tak lebih dari seonggok daging dengan separuh akal. Demikian pula, secara sarkastis dan agak narsis, G.M. Hopkins berseloroh, “Pena sang penyair dalam arti tertentu adalah penis.” Ya, “penis metaforis,” imbuhnya; ibarat menetakkan bius takwil tak berbayang. Juga sumbar Auguste Renoir, “Aku... tidak bersyair... kalau bukan atas nama zakarku,” yang memaklumatkan estetika kepenyairan pada aras seksual laki-laki. Pun pekik lain (tentu dengan alasan beragam) yang tidak kalah genitnya semisal, “Hidup perempuan hanyalah dari ranjang ke ranjang” (Helen Cixous), “Perempuan adalah penidur, ia hidup dari mimpi ke mimpi” (Keirkegaard), “Adakah ‘benda’ semacam perempuan? Apakah mereka pernah ada? (Sandra M. Gilbert), “Seorang perempuan tidak dapat mengatakan apa yang diinginkannya”(Lacan), “Hai, apa yang dikehendaki kaum perempuan?”(Freud), “Apa yang dapat diinginkan perempuan yang tidak menginginkan apa-apa?” (Susan Gubar). Memang, sejarah sastra Barat, bagi Harold Bloom, adalah riwayat sastra patriarkal, kendati sebagian sejarawan sastra menyangkalnya. Namun, perempuan pengarang, dalam relung batin tersunyi, bisa saja balik berkoar, “Takdir karyaku adalah teluh klitoris yang menggasak birahi kehidupan.”

Sekarang apa yang tersisa dari gerundelan sengkarut tanya di atas? Barangkali saja, ada yang luput dari tangkapan nalar dan sejarah. Tapi kini, dalam konteks kepengarangan di Indonesia, telah muncul sebetik anggapan, dan konon jadi kontroversial, dari Prof Dr Sapardi Djoko Damono bahwa masa depan kepengarangan Indonesia saat ini berada di tangan perempuan. Gosip ini pun kian menjalar, mungkin mewabah, saat digelar seminar nasional Di Gedung Pascasarjana Undip tanggal 1 Maret 2006 lalu, berjudul “Heboh Sastra Perempuan; Laki-laki Pengarang telah Mati?” dengan mendatangkan pembicara seperti Tamara Geraldine, Saut Situmorang, Sitok Srengenge, Hendrarti juga Prof Dr Sapardi Djoko Damono (Baca wawancara Triyanto Triwikromo dengan Prof Dr Sapardi Djoko Damono di Suara Merdeka, 26 Februari 2006 dan 5 Maret 2006).

Ada sejumlah analisa hipotetik yang dikemukakan oleh Sapardi tentang masa depan sastra perempuan itu: (pertama), jumlah perempuan pengarang jauh lebih banyak daripada laki-laki pengarang. (Kedua), tidak ada novel yang ditulis oleh laki-laki yang dicetak ulang melebihi karya-karya para perempuan. (Ketiga), lebih banyak pembaca perempuan ketimbang laki-laki. (Keempat), perempuan pengarang telah menemukan kesadaran akan dunia keperempuanan mereka. (Kelima), perempuan pengarang di berbagai belahan dunia kini memang tampak menonjol.

Pembuktian
Tentu, hipotesa macam ini tidaklah cukup dan, membutuhkan penelitian yang lebih serius lagi. Meski di Indonesia memang, para perempuan pengarang kini telah menjamur, mulai dari Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Dewi Lestari, Herlinatiens, Reike Diah Pitaloka, Dina Oktaviani, dan lain-lain.

Jika dicermati secara umum, adakah sastrawan kita beranggapan bahwa daya hidup pengarang, dengan aneka proses kretifnya, semata cukup ditakrifkan dengan persepsi dan hipotesis temporal? Bukan pada otentisitas bakat dan kreatifitas itu sendiri. Apalagi jika benar bahwa, bakat hanya 1 %, dalih William Faulkner, dan 99 % sisanya adalah kerja keras. Lantas, bagaimana kita mengukur takdir perempuan pengarang di Indonesia? Perempuan pengarang, pasti bakal bertarung dengan dirinya sendiri, mengembara dalam teka-teki bayangannya, mencoba mengongkosi deraan batinnya, dihantui kabut kata dan makna di gurun dunia, sangsi di pedalaman imajinasi, melebur ke kehampaan waktu dan ruang, menembus jasad dan kecamuk pikiran, menumpasi diri dalam ceruk jiwa yang gelisah, bersabung dengan sengkarut ingatan dan keterlemparannya menafsiri tubuh dan dunia sosio-domestiknya.

Tampaknya, pertanyaan krusial yang layak diwedar adalah sejauh mana bakat dan proses kreatif seorang pengarang, dalam hal ini perempuan, menjadi ukuran untuk menentukan masa depan kepengarangan di Indonesia? Jika benar; hakikat kreatifitas adalah menanggulangi kecemasan, maka kecemasan dalam proses kretif, dengan sendirinya, akan selalu menghantui setiap pengarang. Pengarang yang sesungguhnya, bagi Rollo May, tidak membutuhkan ilham atau wangsit. Tindakan kreatif tidak pernah muncul sebagai keberuntungan belaka, atau deus ex machina; semacam berkah Tuhan. Jadi, pengarang, bukan melibatkan diri tanpa keraguan, melainkan tetap melibatkan diri walau dirubung keraguan. Tindakan kreatif adalah kehendak bebas untuk mematri diri pada sepercik tujuan yang belum pasti. Keputusan untuk tetap melangkah di dalam keraguan serupa itu tentu membutuhkan keberanian. Keberanian ini, bahkan jauh sebelum Cervantes (1547-1616), telah ditunjukkan oleh Murasaki Shikibu (978-1026), dalam sebuah novelnya Genji Monogatari (The Tale of Genji). Ialah perempuan Jepang yang dianggap sebagai pengarang novel pertama di dunia. Kendati Cervanteslah, yang diakui, di kemudian waktu, sebagai pengilham karya-karya besar dunia.

Lalu bagaimana dengan soal proses kreatif laki-laki pengarang? Sudah khatamkah dari pembicaraan kritikus sastra? Adakah yang lebih abadi dari gagasan ihwal tubuh laki-laki dan perempuan, selain ingatan yang rawan? Dan jangan bergelak tawa atawa marah, jika ada orang bilang; perempuan adalah manusia terakhir yang tertawa? Menelusuri dua jenis daging ini bagai menghitung butiran debu dalam labirin pikiran tak berujung.

Perempuan, siapa pun ia, yang mulai bahkan sedang menggeluti dunia kepengarangan, boleh jadi bakal merasakan imsomnia di sepanjang hidupnya, menyusuri padang tubuhnya yang terus menggila. Ah, mengapa kita terus berdebat kalut tentang tubuh, jenis kelamin, lekuk dada, emosi, dan kebisuan lain yang bangkit dari pikiran yang terus menguap. Lantas seharkat apakah tubuh?

Ungkapan Foucoult dan Arnauld di atas seperti mengisyaratkan bahwa gagasan tentang pengarang, sejatinya, tak relevan lagi bila dikaitkan dengan tubuh. Tapi pertanyaan yang mungkin tepat; adakah spirit berkarya yang senantiasa membara yang bersemayam dalam tubuh. Dan karya yang unggul tak memiliki tubuh, namun bisa membangkitkan tubuh. Keabadian sebuah karya, menurut Robert Frost, bukanlah karena ia menorehkan luka yang abadi, melainkan lantaran ia mempunyai sebuah kamar rahasia; tempat sumber tenaga dan segala inspirasi yang seakan tiada habisnya. Ah, perempuan pengarang saat ini memang lagi merayakan tubuh dan kata-kata. Akhirnya, bagi mereka yang masih hidup, perempuan atau laki-laki, kuucapkan: Selamat merayakan dunia kepengarangan!

Suara Merdeka, 14 Mei 2006.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati