Rabu, 06 Agustus 2008

THE POWER OF LOVE

Mala M.S

Bisa dibilang aku berasal dari keluarga yang cukup kaya. Dan aku memiliki segalanya. Namun ada satu yang tidak aku miliki. Yaitu kasih sayang dari orang tua. Ortuku lebih mementingkan pekerjaannya dari pada aku anak semata wayangnya. Sejak kecil aku diasuh oleh babysitter. Kini aku tumbuh menjadi seorang cowok yang tampan, keren dan aku menjadi a perfect boy. Akan tetapi aku menjadi seorang cowok yang bandel dan urak-urakan. Itu semua aku lakukan sebagai wujud kebencianku terhadap ortuku. Meskipun begitu, aku menjadi idola para cewek. Namun belum ada satupun cewek yang bisa mengambil hatiku.

Di sekolahku akan diadakan kontes putri sekolah. Dan aku menjadi salah satu dari panitia dalam lomba itu. Malam pun tiba. Lomba di mulai. Karena terburu-buru, aku berlari tergesa-gesa dan tanpa sengaja aku menabrak seorang cewek. aku dan cewek itu terjatuh. Seketika pandanganku tertuju pada cewek itu. Cewek itu meringis kesakitan. Akupun berdiri dan minta maaf.

“Kamu nggak pa pa ?” tanyaku.
“Enggak kok Kak, aku nggak pa pa” cewek itu berdiri.
“Kalau gitu aku duluan. Sorry ya….”
Aku kemudian pergi meninggalkannya. Sedangkan cewek itu hanya mengangguk dan tersenyum manis.
“Aduh, aku lupa lagi. Nggak nanya namanya. Tapi kayaknya ga’ begitu penting deh.” Ucapku dalam hati.

Acara demi acarpun terlewat. Hanya tinggal satu acara lagi yaitu acara penentuan juara.
“Oke, yang jadi putri sekolah tahun ini adalah?!... Susan Amelia !” Suara MC di atas panggung disusul dengan tepuk tangan para penonton.
“Itu kan cewek yang tabrakan sama aku tadi. Ooo… jadi namanya Susan Amelia.” Ucapku masih dalam hati.
Acarapun usai. Aku kemudian mencari cewek itu. Kulihat dia sedang duduk sendirian. Aku kemudian menghampirinya.

“Selamat ya… oh ya, namaku Fariz” ucapku sambil mengulurkan tanganku.
“Makasih ya Kak, aku Susan” sambil membalas jabat tanganku.
“Ya udah. Kalu gitu aku duluan. Dah ditunggu ama temen-temen.” Ucapku meninggalkan cewek itu dan berlalu begitu saja.

“Tunggu! memangnya Kakak mau ke mana?”
Aku kemudian berhenti dan menoleh.
“Aku mau balap sepeda” jawabku
“Tapi ini kan udah tengah malem. Emang Kakak nggak capek?” tanyanya sambil menghampiriku.

“Enggak. Aku udah biasa kok kayak gini.” Ucapku meyakinkannya.
“Kalau gitu, good luck ya Kak !” ucapnya sambil tersenyum manis.
Akupun kemudian pergi meninggalkannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sering melamun. Aku selalu terbayang wajah Susan. Bahkan saat tidur aku selalu memimpikannya.

“Dor!” suara Diny mengagetkanku. Seketika lamunanku tentang susan hilang. Diny adalah sepupuku. Namu aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Kami juga tinggal serumah.

“Apaan sih Din?! kamu tuh ngagetin kakak Tau!” gerutuku.
“Habisnya Kakak sih, siang-siang bolong gini ngelamun melulu.” Katanya sambil duduk di sampingku. “Emang ngelamunin apaan sih Kak? jangan jangan kakak lagi fall in love ya….? Wah beritanya bisa heboh ni Kak! Semua majalah pasti akan memuat berita ini.” kata Diny mengejekku.

“Emang apa hubungannya dengan majalah?”
“Ya ada lah Kak. Kakak kan jadi idola para cewek. Tapi Kakak dingin banget sama mereka. Trus tiba-tiba kakak jatuh cinta. Ya pasti heboh banget lah. Diny jadi pengen tau nich siapa cewek yang sudah mengambil hati Kakakku yang keren ini?” Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Diny.
***

Sinar mentari telah menghilang di ufuk barat, hanya seberkas bianglala menggurat atas langit pertanda malam akan tiba. Hampir tiap malam aku pergi ke nightclub. Karena hanya di tempat inilah aku dan teman-temanku biasa nongkrong untuk menikmati malam.
***

Pagi ini di kantin sekolah, kulihat Susan sedang berkumpul bersama teman-temannya. Aku kemudian duduk di belakang mereka dan mendengar obrolan mereka.
“San, waktu selesai acara pemilihan putri sekolah, gue ngelihat kamu bicara ma cowok. Cowok itu siapa sih? Apa dia pacar kamu?”

“Ngaco kamu, kamu kan tau sendiri kalau aku nggak punya cowok. Lagian cowok yang bicara sama aku tuh kakak kelas kita namanya Fariz.” Jawab susan.
“Fariz? Idola para cewek itu? Kamu kok bisa sih, bicara sama dia? Padahal dia kan dingin banget sama cewek?” Tanya teman susan heran.
Susan pun menceritakan kejadian pada malam itu apa adanya. Namun teman-teman susan masih belum percaya.
***

Sepulang sekolah aku dan kedua temanku pergi main bilyard. “Hi brow!” sapa Rio. Namun aku masih berada dalam dunia lamunanku. “Woee!!” ucap Rio lagi. Tentunya dengan suara yang lebih keras. Akupun tersadar karena kaget. “Loe kenapa sih Riz bengong melulu?” Tanya Rio

“Iya, loe kenapa sih? Akhir akhir ini loe tuh sering ngelamun” Sahut Dimaz.
“Gue nggak pa pa kok” Ucapku mengelak. “Kita pulang ke rumahku yuk !” Ajakku.
“Sekarang?”
“Enggak, tahun depan. Ya sekarang lah” jawabku sewot.
“Tapi kan kita baru setengah jalan di sini?” ucap Rio.
“Udahlah… ayo!” Sambil menarik salah satu tangan dari mereka.

Kamipun tiba di rumahku. Kulihat Diny sedang nonton tv.
“Din, Bibi mana?” Tanyaku.
“Bibi lagi keluar Kak. Kakak kok tumben jam segini udah pulang?”
“Iya nih, Kakak lagi malas keluar. Kalau gitu kamu aja yang buatin minum buat Rio dan Dimaz. Mereka ada di halaman belakang.”

“Tapi nanti malem Kakak ajak Diny jalan-jalan ya?!”
“Iya, kakak pasti ngajak kamu jalan-jalan kok. Kalau gitu Kakak mandi dulu ya.” Aku pun pergi meninggalkan Diny.
Malampun tiba. Aku dan Diny jalan-jalan ke sebuah restaurant terdekat. Seperti biasa aku dan Diny memesan semangkok soto; makanan khas Lamongan dan es jeruk. Sambil menunggu pesanan kita ngobrol ngalor ngidol ga’ jelas. Diny memulai percakapan.

“Selama ini kakak ngelamunin Susan kan?” pertanyaan yang tak pernah aku duga akan keluar dari mulut Diny.
“Susan. Kamu tau dari mana?” tanyaku kaget.
“Waktu aku bersihin kamar kakak, aku nggak sengaja nemuin foto cewek di meja belajar Kakak. Dan di situ tertera nama Susan Amelia. Jangan-jangan Kakak jatuh cinta sama Susan ya?” aku hanya menggelengkan kepalaku sedikit menjaga gengsi.

“Kakak memang bisa bohongin Diny tapi mata kakak nggak akan bisa bohongin Diny. Kenapa Kakak nggak ngungkapin aja perasaan Kakak ke Susan?”
“Kakak nggak punya keberanian untuk itu. Karena selama ini Kakak belum pernah nembak cewek dan kakak takut kalau Susan akan nolak kakak karena kepribadian kita berbeda.”
“Tapi kan kakak belum mencoba.” Diny membangkitkan keberanianku.
***

Seminggu kemudian, aku memberikan secarik surat untuk Susan.

Dear Susan,
Ku tunggu kau di Restaurant Sista jam 19.00.
Di meja yang letaknya paling ujung.

Dari: Fariz

Malampun tiba. Aku menunggu Susan di meja no. 1 yang letaknya paling ujung dan paling mudah untuk ditemukan semua pengunjung. Beberapa menit kemudian Susan pun datang menghampiri aku tepat jam yang aku cantumkan di suratku, aku sengaja 10 menit lebih dulu tiba di restaurat itu. Aku pun persilahkan Susan duduk tepat di depanku.

"San, aku pengen ngomong sama kamu" Itulah kata-kata yang aku ucapkan berulang kali. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. "San, selama ini aku belum pernah merasakan cinta. Dan setelah aku ketemu sama kamu, aku baru merasakannya. San, aku sayang sama kamu. Meskipun aku tau kalau kepribadian kita berbeda. Kau gadis yang baik. Sedangkan aku, aku…." Seketika ucapanku terhenti, ketika Susan menaruh jari telunjuknya di bibirku. Pertanda dia menyuruhku untuk tidak meneruskan kata-kataku.

"Kak, aku sudah tau semuanya. Diny yang telah menceritakan semuanya padaku termasuk sifat dan perasaan Kakak padaku. Bagiku, semua perbedaan itu nggak masalah. Karena menurutku dangan perbedaan yang kita miliki, kita akan bisa saling melengkapi"

"Jadi, kamu bersedia jadi kekasihku?" Susan hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Makasih ya San, aku nggak akan pernah ngelupain malam ini. Karena malam ini adalah malam terindah buatku."
“Tapi dengan satu syarat”
“Syarat apa?”
“Kakak harus berusaha merubah sikap dan kebiasaan Kakak yang kurang baik dan cenderung merugkan diri sendiri bahkan orang lain.”
“Siap!” Kontan aku berdiri reflek seperti mau upacara. Sementara Susan tertawa geli melihat tingkahku.
***

"Tut... tut… tut…" Suara ponselku berbunyi. Aku lalu mengangkatnya.
"Ada apa brow?" Ucapku.
"Riz, loe cepet ke sini dong!"
"Iya, ini juga gue masih di jalan." Tidak lama kemudian, aku sudah sampai di nightclub. aku lihat Rio dan Dimaz lagi asyik-asyikan.

"Hai brow!" Ucapku seraya menepuk pundak Dimaz.
"Hai Riz, kemana aja loe? Loe sadar nggak sih, loe tuh udah tiga minggu nggak ke sini."
"Habis gimana ya, gue kan sekarang udah punya Susan. Ya elo-elo tau sendiri kan?"
"Dasar lo Riz!"
"Tapi besok kita ke sini ya!" Ajak Rio.
"Besok? Sorry, gue ngga bisa soalnya besok gue ada janji."
"Janji, sama siapa?" tanya Dimaz.
"Ya sama Susan lah. Masak sama nenek loe?!" Ucapku sekenanya.

Semenjak aku jadian sama Susan, aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama Susan. Karena aku ingin selalu bersamanya dan itu yang menyebabkan aku tahu semua kegiatan Susan. Meski demikian aku tetap meluangkan waktu untuk Diny dan teman-teamanku.
***

"Ting tung… .ting tung…."
Suara bel rumahku berbunyi. Aku kemudian bergegas untuk membukakan pintu. Ku lihat Rio dan Dimas berdiri di depan pintu.
"Oh… kalian.masuk yuk!" ajakku. "Ada apa? Tumben ke sini. Biasanya aja kalian kalau nggak aku paksa ke sini nggak mau datang."
"Jadi, kita nggak boleh kesini?" Sungut Dimaz.
"Ya boleh lah!"
"Riz, entar kamu ikut kita ke nightclub yuk!" Ajak Rio.
"Iya Riz, kalau nggak ada kamu nggak seru.” Sahut Dimaz.
"Sorry brow, gue nggak akan pergi ke nightclub lagi."
"Emangnya kenapa?"
"Aku tidak ingin ngecewain Susan."
"Susan! Apa dia telah melarangmu? Bener-bener sialan tuh cewek." Ucap Rio dengan nada kesal.

"Tidak, Susan nggak pernah melarang gue. Malah dia senang dengan perbedaan kepribadian yang kita miliki."
"Terus, kenapa dong?" Sahut Dimaz
"Sejak gue jadian sama Susan, gue sering bersamanya dan gue jadi tau semua kegiatannya. Gue tuh, bangga banget sama Susan. Meskipun dia masih muda, dia tuh lebih suka memakai uangnya untuk hal-hal yang berguna. Nggak kayak kita, kita selalu hura-hura, menghambur-hamburkan uang. Dan hampir tiap malam kita mabuk-mabukan. Gue akui, gue seperti ini karena sebagai wujud kebencian gue pada bonyok gue. Tapi gue sadar, semua yang gue lakukan ini nggak ada gunanya justru mala buat gue ancur, dan lagi sebenci-benci gue pada bonyok gue, toh mereka tetap bonyok gue."
"Omong kosong lo Riz!" serkah Dimaz, lantas mereka berdua berlalu meninggalkanku tanpa pamit.
"Rio-Dimaz, tunggu!" Teriakku namun mereka tak menghiraukanku.

Sejak saat itu, aku putus kontak dengan mereka berdua. Dua hari setelah kejadian itu, aku mengajak Susan ke supermarket. Tiba tiba dari belakang terdengar suara orang memanggilku.

"Riz?!" Akupun menoleh. Betapa terkejutnya aku ternyata mereka berdua adalah sahabatku.
"Rio-Dimas!" Ucapku kaget
"Riz, kita berdua minta maaf. Diny telah menjelaskan semuanya pada kita berdua dan kami juga ngerti perasaan loe."
"Tanpa kalian minta maaf, aku juga sudah maafin kalian." Sambil jabat tangan dengan mereka

"Kak" Terdengar suara yang nggak asing di telingaku.
"Diny" Ucapku kaget kemudian aku menghampirinya
"Makasih ya, atas semuanya" Ucapku seraya memeluk Diny.
"Sama-sama Kak. Diny juga bahagia karena kakak nggak seperti dulu sekarang Kakak sudah berubah."
Sementara itu Susan hanya tersenyum manis. Sedangkan ortuku, mereka sudah mulai memperhatikanku. Aku sungguh amat bahagia. Terima kasih Ya Allah.**

Lamongan, 2008

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati