Mala M.S
Bisa dibilang aku berasal dari keluarga yang cukup kaya. Dan aku memiliki segalanya. Namun ada satu yang tidak aku miliki. Yaitu kasih sayang dari orang tua. Ortuku lebih mementingkan pekerjaannya dari pada aku anak semata wayangnya. Sejak kecil aku diasuh oleh babysitter. Kini aku tumbuh menjadi seorang cowok yang tampan, keren dan aku menjadi a perfect boy. Akan tetapi aku menjadi seorang cowok yang bandel dan urak-urakan. Itu semua aku lakukan sebagai wujud kebencianku terhadap ortuku. Meskipun begitu, aku menjadi idola para cewek. Namun belum ada satupun cewek yang bisa mengambil hatiku.
Di sekolahku akan diadakan kontes putri sekolah. Dan aku menjadi salah satu dari panitia dalam lomba itu. Malam pun tiba. Lomba di mulai. Karena terburu-buru, aku berlari tergesa-gesa dan tanpa sengaja aku menabrak seorang cewek. aku dan cewek itu terjatuh. Seketika pandanganku tertuju pada cewek itu. Cewek itu meringis kesakitan. Akupun berdiri dan minta maaf.
“Kamu nggak pa pa ?” tanyaku.
“Enggak kok Kak, aku nggak pa pa” cewek itu berdiri.
“Kalau gitu aku duluan. Sorry ya….”
Aku kemudian pergi meninggalkannya. Sedangkan cewek itu hanya mengangguk dan tersenyum manis.
“Aduh, aku lupa lagi. Nggak nanya namanya. Tapi kayaknya ga’ begitu penting deh.” Ucapku dalam hati.
Acara demi acarpun terlewat. Hanya tinggal satu acara lagi yaitu acara penentuan juara.
“Oke, yang jadi putri sekolah tahun ini adalah?!... Susan Amelia !” Suara MC di atas panggung disusul dengan tepuk tangan para penonton.
“Itu kan cewek yang tabrakan sama aku tadi. Ooo… jadi namanya Susan Amelia.” Ucapku masih dalam hati.
Acarapun usai. Aku kemudian mencari cewek itu. Kulihat dia sedang duduk sendirian. Aku kemudian menghampirinya.
“Selamat ya… oh ya, namaku Fariz” ucapku sambil mengulurkan tanganku.
“Makasih ya Kak, aku Susan” sambil membalas jabat tanganku.
“Ya udah. Kalu gitu aku duluan. Dah ditunggu ama temen-temen.” Ucapku meninggalkan cewek itu dan berlalu begitu saja.
“Tunggu! memangnya Kakak mau ke mana?”
Aku kemudian berhenti dan menoleh.
“Aku mau balap sepeda” jawabku
“Tapi ini kan udah tengah malem. Emang Kakak nggak capek?” tanyanya sambil menghampiriku.
“Enggak. Aku udah biasa kok kayak gini.” Ucapku meyakinkannya.
“Kalau gitu, good luck ya Kak !” ucapnya sambil tersenyum manis.
Akupun kemudian pergi meninggalkannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sering melamun. Aku selalu terbayang wajah Susan. Bahkan saat tidur aku selalu memimpikannya.
“Dor!” suara Diny mengagetkanku. Seketika lamunanku tentang susan hilang. Diny adalah sepupuku. Namu aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Kami juga tinggal serumah.
“Apaan sih Din?! kamu tuh ngagetin kakak Tau!” gerutuku.
“Habisnya Kakak sih, siang-siang bolong gini ngelamun melulu.” Katanya sambil duduk di sampingku. “Emang ngelamunin apaan sih Kak? jangan jangan kakak lagi fall in love ya….? Wah beritanya bisa heboh ni Kak! Semua majalah pasti akan memuat berita ini.” kata Diny mengejekku.
“Emang apa hubungannya dengan majalah?”
“Ya ada lah Kak. Kakak kan jadi idola para cewek. Tapi Kakak dingin banget sama mereka. Trus tiba-tiba kakak jatuh cinta. Ya pasti heboh banget lah. Diny jadi pengen tau nich siapa cewek yang sudah mengambil hati Kakakku yang keren ini?” Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Diny.
***
Sinar mentari telah menghilang di ufuk barat, hanya seberkas bianglala menggurat atas langit pertanda malam akan tiba. Hampir tiap malam aku pergi ke nightclub. Karena hanya di tempat inilah aku dan teman-temanku biasa nongkrong untuk menikmati malam.
***
Pagi ini di kantin sekolah, kulihat Susan sedang berkumpul bersama teman-temannya. Aku kemudian duduk di belakang mereka dan mendengar obrolan mereka.
“San, waktu selesai acara pemilihan putri sekolah, gue ngelihat kamu bicara ma cowok. Cowok itu siapa sih? Apa dia pacar kamu?”
“Ngaco kamu, kamu kan tau sendiri kalau aku nggak punya cowok. Lagian cowok yang bicara sama aku tuh kakak kelas kita namanya Fariz.” Jawab susan.
“Fariz? Idola para cewek itu? Kamu kok bisa sih, bicara sama dia? Padahal dia kan dingin banget sama cewek?” Tanya teman susan heran.
Susan pun menceritakan kejadian pada malam itu apa adanya. Namun teman-teman susan masih belum percaya.
***
Sepulang sekolah aku dan kedua temanku pergi main bilyard. “Hi brow!” sapa Rio. Namun aku masih berada dalam dunia lamunanku. “Woee!!” ucap Rio lagi. Tentunya dengan suara yang lebih keras. Akupun tersadar karena kaget. “Loe kenapa sih Riz bengong melulu?” Tanya Rio
“Iya, loe kenapa sih? Akhir akhir ini loe tuh sering ngelamun” Sahut Dimaz.
“Gue nggak pa pa kok” Ucapku mengelak. “Kita pulang ke rumahku yuk !” Ajakku.
“Sekarang?”
“Enggak, tahun depan. Ya sekarang lah” jawabku sewot.
“Tapi kan kita baru setengah jalan di sini?” ucap Rio.
“Udahlah… ayo!” Sambil menarik salah satu tangan dari mereka.
Kamipun tiba di rumahku. Kulihat Diny sedang nonton tv.
“Din, Bibi mana?” Tanyaku.
“Bibi lagi keluar Kak. Kakak kok tumben jam segini udah pulang?”
“Iya nih, Kakak lagi malas keluar. Kalau gitu kamu aja yang buatin minum buat Rio dan Dimaz. Mereka ada di halaman belakang.”
“Tapi nanti malem Kakak ajak Diny jalan-jalan ya?!”
“Iya, kakak pasti ngajak kamu jalan-jalan kok. Kalau gitu Kakak mandi dulu ya.” Aku pun pergi meninggalkan Diny.
Malampun tiba. Aku dan Diny jalan-jalan ke sebuah restaurant terdekat. Seperti biasa aku dan Diny memesan semangkok soto; makanan khas Lamongan dan es jeruk. Sambil menunggu pesanan kita ngobrol ngalor ngidol ga’ jelas. Diny memulai percakapan.
“Selama ini kakak ngelamunin Susan kan?” pertanyaan yang tak pernah aku duga akan keluar dari mulut Diny.
“Susan. Kamu tau dari mana?” tanyaku kaget.
“Waktu aku bersihin kamar kakak, aku nggak sengaja nemuin foto cewek di meja belajar Kakak. Dan di situ tertera nama Susan Amelia. Jangan-jangan Kakak jatuh cinta sama Susan ya?” aku hanya menggelengkan kepalaku sedikit menjaga gengsi.
“Kakak memang bisa bohongin Diny tapi mata kakak nggak akan bisa bohongin Diny. Kenapa Kakak nggak ngungkapin aja perasaan Kakak ke Susan?”
“Kakak nggak punya keberanian untuk itu. Karena selama ini Kakak belum pernah nembak cewek dan kakak takut kalau Susan akan nolak kakak karena kepribadian kita berbeda.”
“Tapi kan kakak belum mencoba.” Diny membangkitkan keberanianku.
***
Seminggu kemudian, aku memberikan secarik surat untuk Susan.
Dear Susan,
Ku tunggu kau di Restaurant Sista jam 19.00.
Di meja yang letaknya paling ujung.
Dari: Fariz
Malampun tiba. Aku menunggu Susan di meja no. 1 yang letaknya paling ujung dan paling mudah untuk ditemukan semua pengunjung. Beberapa menit kemudian Susan pun datang menghampiri aku tepat jam yang aku cantumkan di suratku, aku sengaja 10 menit lebih dulu tiba di restaurat itu. Aku pun persilahkan Susan duduk tepat di depanku.
"San, aku pengen ngomong sama kamu" Itulah kata-kata yang aku ucapkan berulang kali. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. "San, selama ini aku belum pernah merasakan cinta. Dan setelah aku ketemu sama kamu, aku baru merasakannya. San, aku sayang sama kamu. Meskipun aku tau kalau kepribadian kita berbeda. Kau gadis yang baik. Sedangkan aku, aku…." Seketika ucapanku terhenti, ketika Susan menaruh jari telunjuknya di bibirku. Pertanda dia menyuruhku untuk tidak meneruskan kata-kataku.
"Kak, aku sudah tau semuanya. Diny yang telah menceritakan semuanya padaku termasuk sifat dan perasaan Kakak padaku. Bagiku, semua perbedaan itu nggak masalah. Karena menurutku dangan perbedaan yang kita miliki, kita akan bisa saling melengkapi"
"Jadi, kamu bersedia jadi kekasihku?" Susan hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Makasih ya San, aku nggak akan pernah ngelupain malam ini. Karena malam ini adalah malam terindah buatku."
“Tapi dengan satu syarat”
“Syarat apa?”
“Kakak harus berusaha merubah sikap dan kebiasaan Kakak yang kurang baik dan cenderung merugkan diri sendiri bahkan orang lain.”
“Siap!” Kontan aku berdiri reflek seperti mau upacara. Sementara Susan tertawa geli melihat tingkahku.
***
"Tut... tut… tut…" Suara ponselku berbunyi. Aku lalu mengangkatnya.
"Ada apa brow?" Ucapku.
"Riz, loe cepet ke sini dong!"
"Iya, ini juga gue masih di jalan." Tidak lama kemudian, aku sudah sampai di nightclub. aku lihat Rio dan Dimaz lagi asyik-asyikan.
"Hai brow!" Ucapku seraya menepuk pundak Dimaz.
"Hai Riz, kemana aja loe? Loe sadar nggak sih, loe tuh udah tiga minggu nggak ke sini."
"Habis gimana ya, gue kan sekarang udah punya Susan. Ya elo-elo tau sendiri kan?"
"Dasar lo Riz!"
"Tapi besok kita ke sini ya!" Ajak Rio.
"Besok? Sorry, gue ngga bisa soalnya besok gue ada janji."
"Janji, sama siapa?" tanya Dimaz.
"Ya sama Susan lah. Masak sama nenek loe?!" Ucapku sekenanya.
Semenjak aku jadian sama Susan, aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama Susan. Karena aku ingin selalu bersamanya dan itu yang menyebabkan aku tahu semua kegiatan Susan. Meski demikian aku tetap meluangkan waktu untuk Diny dan teman-teamanku.
***
"Ting tung… .ting tung…."
Suara bel rumahku berbunyi. Aku kemudian bergegas untuk membukakan pintu. Ku lihat Rio dan Dimas berdiri di depan pintu.
"Oh… kalian.masuk yuk!" ajakku. "Ada apa? Tumben ke sini. Biasanya aja kalian kalau nggak aku paksa ke sini nggak mau datang."
"Jadi, kita nggak boleh kesini?" Sungut Dimaz.
"Ya boleh lah!"
"Riz, entar kamu ikut kita ke nightclub yuk!" Ajak Rio.
"Iya Riz, kalau nggak ada kamu nggak seru.” Sahut Dimaz.
"Sorry brow, gue nggak akan pergi ke nightclub lagi."
"Emangnya kenapa?"
"Aku tidak ingin ngecewain Susan."
"Susan! Apa dia telah melarangmu? Bener-bener sialan tuh cewek." Ucap Rio dengan nada kesal.
"Tidak, Susan nggak pernah melarang gue. Malah dia senang dengan perbedaan kepribadian yang kita miliki."
"Terus, kenapa dong?" Sahut Dimaz
"Sejak gue jadian sama Susan, gue sering bersamanya dan gue jadi tau semua kegiatannya. Gue tuh, bangga banget sama Susan. Meskipun dia masih muda, dia tuh lebih suka memakai uangnya untuk hal-hal yang berguna. Nggak kayak kita, kita selalu hura-hura, menghambur-hamburkan uang. Dan hampir tiap malam kita mabuk-mabukan. Gue akui, gue seperti ini karena sebagai wujud kebencian gue pada bonyok gue. Tapi gue sadar, semua yang gue lakukan ini nggak ada gunanya justru mala buat gue ancur, dan lagi sebenci-benci gue pada bonyok gue, toh mereka tetap bonyok gue."
"Omong kosong lo Riz!" serkah Dimaz, lantas mereka berdua berlalu meninggalkanku tanpa pamit.
"Rio-Dimaz, tunggu!" Teriakku namun mereka tak menghiraukanku.
Sejak saat itu, aku putus kontak dengan mereka berdua. Dua hari setelah kejadian itu, aku mengajak Susan ke supermarket. Tiba tiba dari belakang terdengar suara orang memanggilku.
"Riz?!" Akupun menoleh. Betapa terkejutnya aku ternyata mereka berdua adalah sahabatku.
"Rio-Dimas!" Ucapku kaget
"Riz, kita berdua minta maaf. Diny telah menjelaskan semuanya pada kita berdua dan kami juga ngerti perasaan loe."
"Tanpa kalian minta maaf, aku juga sudah maafin kalian." Sambil jabat tangan dengan mereka
"Kak" Terdengar suara yang nggak asing di telingaku.
"Diny" Ucapku kaget kemudian aku menghampirinya
"Makasih ya, atas semuanya" Ucapku seraya memeluk Diny.
"Sama-sama Kak. Diny juga bahagia karena kakak nggak seperti dulu sekarang Kakak sudah berubah."
Sementara itu Susan hanya tersenyum manis. Sedangkan ortuku, mereka sudah mulai memperhatikanku. Aku sungguh amat bahagia. Terima kasih Ya Allah.**
Lamongan, 2008
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar