Rabu, 06 Agustus 2008

SINGGASANA CINTA

Aini Aviena Violeta

Arya menghela nafas panjang. Ia merenungi nasibnya. Ia baru saja mendapat predikat jomblo. Sudah biasa Arya mengalami hal seperti ini. Cintanya dengan Nadia kandas di tengah jalan. Lima kali Arya mencoba merangkai cinta. Dan lima kali pula cinta itu hilang. Sungguh tak berarti rasanya hidup tanpa cinta. Bagi Arya cinta bagaikan kuntum keindahan dalam jiwa.

Arya melangkah gontai menuju taman yang sedang mengenakan pakaian terindahnya. Ia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu.
“Hai, kok sendirian?” Suara wanita mengagetkan Arya yang sedang tenggelam dalam lamunannya. Wanita itu tersenyum lebar. Arya menatap gadis itu tajam tajam. Bayangannya melayang jauh kembali ke masa lalunya. Wanita cantik berambut ikal yang tergerai lepas di terpa angin itu mengingatkannya pada sahabat kecilnya yang sudah lama ia cintai.
“Kamu siapa ya?” Sejuta tanya memenuhi pikiran Arya.
“Masa’ lupa sih? Gue Vadish teman kecilmu.”

Arya tersentak kaget. Ya! itu Vadish. Sahabat yang selalu bersamanya sejak kecil. Namun pada saat Vadish menginjak usia 11 tahun ayah Vadish dipindahtugaskan ke Bandung dan Vadish pun harus ikut serta. Taman inilah tempat yang selalu mereka gunakan untuk menghilangkan kenestapaan dan juga sebagai singgasana cinta yang mempertemukan dua hati.

“Udah sore nich! Gue mau pulang dulu yach! Besok kita ketemu di sini jam 08.30." Kata itu mengahiri pertemuannya.
Arya berjanji dalam hati, suatu saat nanti ia akan mengutarakan isi hatinya kepada Vadish. Apapun yang terjadi ia akan memperjuangkan cintanya.
***

Pagi kembali datang. Sementara Arya duduk sendiri di bawah rerindangan pohon beringin menunggu Vadish yang berjanji akan datang hari ini. Sekuntum bunga mawar nan cantik tergenggam di tangan Arya.

"Hai, udah lama nunggunya?" Vadish menepuk bahu Arya dari belakang. Arya pun berdiri dan segera memberikan sekuntum mawar itu kepada Vadish.
"Ini mawar untuk ku?" Vadish menatap Arya. Matanya menerawang jauh menerobos pintu-pintu pelupuk matanya.

"Vadish, a…ku aku… cinta kamu. Ka… kamu mau kan, terima cintaku?" gadis manis yang periang itu terlihat gemetar dan gugup.
"Dish, mungkin aku lancang, tapi ini dari lubuk hatiku yang terdalam" Arya mengungkapkan isi hatinya.

"Sorry, gue ngak bisa jawab sekarang. Gue butuh waktu." Jawab Vadish yang kemudian berlari meninggalkan Arya. Vadish pun menghilang diantara keheningan yang maha panjang.

Sebenarnya Vadish menyimpan rahasia yang sangat berat dan tak diketahui oleh siapa pun tak terkecuali Ibunya. Beberpa waktu lalu karena demam yang berkepanjangan dan kepalanya yang sering terasa pusing, Vadish diam-diam kontrol kesehatan ke RS setempat, tanpa terduka dari hasil pemeriksaan dokter ternyata Vadish mengidap tumor ganas di kepalanya, dan tak seorang pun yang boleh tahu tentang keadaannya itu. Dia tidak ingin membuat orang lain sedih karenanya Kata salah seorang dokter secara medis Vadish usianya tidak lebih dari tiga bulan lagi.

Sebenarnya hal inilah yang membuat Vadish bingung untuk menerima Arya sebagai kekasihnya meskipun ia begitu mencintainya.

Arya menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar bingung dengan sikap Vadish. Sementara Vadish berlari segesit menjangan luka menerobos jalanan mencoba menjauh dari Arya tanpa alasan yang jelas.
***

Tidak lama berselang, tiba-tiba Arya dikejutkan dengan nada ponselnya yang berdering panjang, diangkatnya ponsel dengan malas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Arya!”
“Ya”
“Kamu bisa nggak, ke rumah sakit dr. Soegiri Lamongan sekarang?"
“Ada apa ya?”
“Vadish kecelakaan, keadaannya kritis dan sekarang dalam perawatan dokter.” Arya tak kuasa lagi menjawab. Bibirnya bergetar dan pipinya terasa basah. Ponsel di tangannya jatuh. Arya segera berlari secepat mungkin menuju rumah sakit yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari singgasananya.
***

Di Rumah Sakit
Arya berhenti tepat di kamar ICU tempat Vadish terbaring lemah.
"Arya!" Arya mendengar suara yang tidak begitu asing di telinganya, ia menoleh kebelakang. Ternyata benar dugaannya. Ibu Vadish dengan langkah gontai menghampirinya dengan isakan dan linangan air mata yang tak kunjung usai.

"Syukurlah kamu bisa datang. Sekarang Vadish….." Ibu Vadish tidak meneruskan pembicaraannya. Hanya bibir bergetar seolah tak bisa berucap. Arya tidak menghiraukan Ibu Vadish. Tanpa permisi, ia membuka pintu kamar ICU. Tiba-tiba saja Arya tertunduk lesu, senyum yang selalu temani hari-harinya kini tak sanggup terukir lagi. Arya memandangi wajah Vadish, ia menyaksikan setangkup kesedihan yang dalam. Arya duduk di samping Vadish. Dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.

"Arya…" Vadish mencoba bertahan meski tubuhnya semakin melemah.
"Vadish, kamu sudah sadar?"
"Arya, aku… mau ngu… capin se…su…atu yang harus ka… mu tau. Sebenarnya sejak lama a… ku juga men cin…tai mu. Dan a… pa yang kucin… tai a… kan se… lalu kucintai hingga… a… jal men… jem… put… ku." Kata-kata itu membuat degup jantung Arya menjadi bertambah kencang. Deraian air mata tak henti-henti membasahi pipi Arya.
"Aku juga cinta kamu, Dish. Kamu sembuh ya!" Terlihat Vadish tersenyum kecil. Senyum yang terasa pahit sekali.

"Arya, a…ku mau cinta ki…ta tetap me…nyatu. Meskipun sang ma…ut me…mang…gilku untuk… merasakan belaian Tuhan. Cin…ta ki…ta akan selalu a…da di da…lam istana… hatiku. Arya, bila a…ku sudah ti…ada taruhlah ma…war ini, di… atas pusaraku." Vadish memberikan setangkai mawar kepada Arya yang tak lain adalah mawar yang beberapa waktu diberikannya kepada Vadish sebagai perlambang cintanya.

Seketika langit gelap. Ruangan itu pun tiba-tiba hampa dan tangis pun meledak dalam dada. Bisikkan kata selamat tinggal terdengar lewat semilir angin. Mata Vadish terpejam untuk selama-lamanya bersama rahasia yang selama ini ia pendam.
***

Tujuh hari setelah sepeninggal Vadish, Arya ziarah ke makam cintanya. Ia menaruh sehelai mawar di samping batu nisan dan menaburkan bunga-bunga yang ia petik sendiri dari singgasana cintanya. Dalam doa, Arya menitikkan air mata duka, lantas memandang langit luas dalam harap. “Dish, semoga engkau tenang di sisi Allah. Lelaplah dalam keabadian cintaku.” kalimat itu terdengar sangat lirih menghunjam jiwa.**

Lamongan, 2008

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati