Fahrudin Nasrulloh
Perdebatan perihal hidup-matinya sastra Yogya beberapa waktu yang lalu cukup menggerahkan adrenalin para sastrawan dan pemerhati sastra Yogya. Sekilas tampak kondisi ini sekadar semacam in memoriam untuk membangkitkan sastra Yogya lampau yang telah melahirkan para sastrawan semisal Kirjomulyo, Kontowijoyo, Umar Kayam, Y.B. Mangunwijaya, Emha Ainun Najib, Bakdi Sumanto, Linus Suryadi, Ragil Suwarno Pragolapati, Iman Budi Santosa dan lain-lain. Memang disinyalir kegairahan aktivitas generasi sastrawan Yogya sekarang ini tak mampu (apalagi untuk melampau) mengimbangi semangat yang dikobarkan para pendahulunya itu. Tentu kegelisahan semacam ini hanya melahirkan kesia-siaan. Tapi itu sah-sah saja, dan wajar pula, sebab toh kita juga perlu memaknai kesia-siaan itu untuk kebaikan di masa mendatang.
Berawal dari tulisan Sunardian Wirodono berjudul “Membangkitkan Kembali Sastra Jogya” (Minggu Pagi, 11/07/2006) yang ternyata melahirkan analisis temporal, terkesan gegabah, dari Yusrianto Elga dengan upaya menggagas atau memetakan sastra Yogya dengan tulisannya Masa Depan Sastra Yogya pada Tiga Pendekar Muda itu. Sontak saja, tulisan ini memantik tanggapan lantang secara beruntun mulai dari Abdul Aziz Sukarno (Meramal Masa Depan? Memangnya Dukun!), Sri Wintala Achmad (Sastra Yogya Tidak Pernah Mati!), Marwanto (Mari Kita ‘Sangga’ Bersama) dan yang terakhir dari Raudal Tanjung Banua (Antara Mitos dan Demokratisasi).
Membaca Antara Mitos dan Demokatisasi-nya Raudal seperti kita dihadirkan pada semacam lanskap Babad Sastra Yogya yang problematik, penuh ironi, krisis kepengarangan yang tiada henti, dan beragam komunitas yang muncul-lenyap tanpa terduga. Maka dari itu tulisan ini akan mencoba merunut sejumlah indikasi yang mungkin bisa dijadikan catatan mengapa sastra Yogya mengalami semacam krisis yang mengkhawatirkan tersebut.
Pertama, bila menyimak proses batin kreatifitas pengarang Yogya, seakan kita mendapati sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana yang kita bayangkan. Tatkala kita bercermin pada PSK-nya Umbu Cs, memang seolah tergambar perjalanan sastra Yogya terus bergerak, berubah, penuh dinamika, tapi sepertinya belum tampak kualitas karya yang menjanjikan untuk dijadikan perbincangan.
Kedua, Munculnya indikasi bahwa perkembangan kesusastraan juga ditentukan oleh redaktur koran (atau majalah sastra). Kondisi ini tanpa sadar memaksa kreator sastra untuk menyesuikan karyanya dengan tema, gaya, dan jumlah halaman, agar sesuai dengan karakter koran atau majalah. Dengan begitu, kreatifitas mereka nyaris mati dipolakan oleh barometer media yang bersangkutan. Sehingga tidak ada kebaruan dari segi mutu karya, alias biasa-biasa saja. Bahkan bisa jadi mereka hanya mereproduksi karya secara berulang-ulang, sekadar target asal dimuat, dapat honor dan terkenal. Habis itu apa lagi yang bisa diunggulkan dari mentalitas kondisi demikian? (baca: Abdul Wachid BS, “Hidup Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur”, Minggu Pagi, Juli 2003)
Ketiga, munculnya indikasi komunitas penggiat sastra yang begitu banyak, juga upaya mempertahankan ikon ‘sastrawan Yogya yang disegani’, pun kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kegiatan sastra seperti yang digelisahkan Darmanto Yatman dan Raudal Tanjung Banua agaknya memang perlu dipertimbangkan dengan serius sisi manivestasinya. Melihat kondisi sastra Yogya yang darurat itu siapa lagi yang mau ngopeni dan nguri-nguri masa depan sastra Yogya? Sebagaimana yang dikeluhkan oleh Zainal Arifin Toha.
Maka dari itu kita perlu menyambut gagasan yang pernah dimunculkan oleh Darmanto Yatman akan adanya Museum Sastra Yogya yang di dalamnya, barangkali, berisi semacam Laboratorium Sastra Yogya di mana segala hal yang mencakup hazanah perkembangan sastra Indonesia, khususnya sastra Yogya, dapat diakses oleh siapa pun sebagaimana yang terjadi pada perpustakaan Baitul Hikmah di zaman Abbasiyah dahulu. Di sini semua orang, lebih-lebih sastrawan, bisa melakukan riset dengan penuh-seluruh sebagai ajang studi eksploratif yang representatif. Bahwa tradisi membaca yang kuat adalah suatu keniscayaan bagi setiap pengarang. Sebab semua pengarang itu sebelumnya, menurut Ahmad Tohari, haruslah menjadi pembaca yang rakus, jika tidak, ia akan jadi pengarang yang mudah sekali kehabisan bahan dan stamina. Dan menjadi keniscayaan bagi pengarang untuk keras kepala dalam membaca dan menulis, sebagaimana yang dilakoni oleh Joege Luis Borges. Karena mengarang merupakan tugas kemanusiaan yang tak dibayar oleh pemerintah, bahkan hakikat mengarang itu sendiri secara ekstrim, kata orang, adalah sebuah kutukan.
Namun pandangan ‘iman’ kepengarangan setiap pengarang tentunya berbeda-beda, meski spirit ini juga penting untuk dipatrikan sebagai landasan dalam berproses kreatif. Jika memang ada kenyataan sejumlah kreator sastra Yogya yang tidak sabaran dalam berproses kreatif, maka hal adalah suatu masalah akut yang kelak hanya menghasilkan karya yang remeh-temeh, sekadar selingan dan hiburan. Inginnya banyak menulis, bisa dimuat di media mana saja, dapat uang banyak, sementara hasil karyanya nol.
Barangkali para pengarang sekarang kurang bisa menghayati dan meneladani kepribadian para pengarang sebelumnya. Di mana mereka dengan konsisten memegang dengan kokoh ‘iman’ kepengarangan. Semisal pada diri Julio Cortazar yang berkeyakinan bahwa menulis itu untuk hidup bukan hidup untuk menulis. Baginya, menulis merupakan bagian dari kehidupan, bahkan yang terpenting, namun tidak menyita seluruh kehidupan. Inilah yang terjadi pada Balzac juga mungkin Vargas Llosa. Untuk hidup, Llosa hanya memerlukan sebuah ruangan, meja, mesin tik dan ia akan merasa tenang dengan tumpukan kertas. Di sinilah pertarungan hidup-mati pengarang, jika tidak, karyanya hanya akan sampah dan dilupakan orang.
Paulo Coelho menulis The Alchemist selama 39 tahun plus 15 hari. Ia mengalami masa tersulit saat menuliskannya, namun menurutnya, ketika proses penulisan novel itu ia merasa jagad raya bersekutu membantunya. Demikian pula dalam proses kreatif Chairil Anwar. Ia berburu kata secara tepat-cermat untuk sajak-sajaknya, hingga berhari-hari dan berminggu-minggu. Baginya, bukan kata-kata yang memburu penyair, tapi penyairlah yang harus terus menemukan kata dengan selaksa gagasan yang telah diendapkannya. Menurut W.S. Rendra, proses kreatif adalah manjing ing kahanan nggayuh ngarsaning Hyang Widi (melebur dalam dunia nyata dan merengkuh dunia keilahian). Pengarang harus memahami sekaligus menghayati proses kreatifnya sebagai bentuk yogabasa: sujud karya. Bahwa setiap karya harus menjadi roh ibadah; bahwa prinsip berkarya adalah untuk mewujudkan kebebasan, kejujuran dan keindahan.
Tampaknya mentalitas kepengarangan pengarang Yogya perlu untuk diruwat. Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa Pengarang yang baik tidak akan pernah berkata, “Bah! Aku akan beruntung jika punya tiga ribu pembaca.” Namun agaknya ia akan bilang, “Apa yang akan terjadi jika setiap orang akan membaca apa yang aku tulis?” Sebab menulis adalah tindakan penyingkapan. Maka wajar untuk dipertaykan pada setiap pengarang, “Aspek dunia apa yang ingin Anda singkapkan? Perubahan apa yang ingin Anda bawa ke dunia dengan penyingkapan ini?” Saat itu pengarang baru sadar bahwa, kata-kata itu bertindak.
Dengan melihat contoh spirit proses kreatif dari sejumlah pengarang di atas, maka atmosfir batin pengarang yang bagaimana yang hendak diusung untuk membangkitkan Sastra Yogya? Semata bernostalgia dan mengelap-ngelap generasi pendahulunya? Mengais-ngais riwayat sastra Yogya dengan gerundelan dan sekadar berbusa-busa kata belaka? Perlulah kiranya suara para suhu sastra Yogya agar ikut angkat bicara jika polemik tentang Masa Depan Sastra Yogya, sekali lagi, dianggap berarti. Jika tidak, ya dipungkasi saja polemik ini untuk selamanya.
Minggu Pagi, IV, Desember 2006.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar