Rabu, 06 Agustus 2008

Tentang Kebangkitan Sastra Yogya

Fahrudin Nasrulloh

Perdebatan perihal hidup-matinya sastra Yogya beberapa waktu yang lalu cukup menggerahkan adrenalin para sastrawan dan pemerhati sastra Yogya. Sekilas tampak kondisi ini sekadar semacam in memoriam untuk membangkitkan sastra Yogya lampau yang telah melahirkan para sastrawan semisal Kirjomulyo, Kontowijoyo, Umar Kayam, Y.B. Mangunwijaya, Emha Ainun Najib, Bakdi Sumanto, Linus Suryadi, Ragil Suwarno Pragolapati, Iman Budi Santosa dan lain-lain. Memang disinyalir kegairahan aktivitas generasi sastrawan Yogya sekarang ini tak mampu (apalagi untuk melampau) mengimbangi semangat yang dikobarkan para pendahulunya itu. Tentu kegelisahan semacam ini hanya melahirkan kesia-siaan. Tapi itu sah-sah saja, dan wajar pula, sebab toh kita juga perlu memaknai kesia-siaan itu untuk kebaikan di masa mendatang.

Berawal dari tulisan Sunardian Wirodono berjudul “Membangkitkan Kembali Sastra Jogya” (Minggu Pagi, 11/07/2006) yang ternyata melahirkan analisis temporal, terkesan gegabah, dari Yusrianto Elga dengan upaya menggagas atau memetakan sastra Yogya dengan tulisannya Masa Depan Sastra Yogya pada Tiga Pendekar Muda itu. Sontak saja, tulisan ini memantik tanggapan lantang secara beruntun mulai dari Abdul Aziz Sukarno (Meramal Masa Depan? Memangnya Dukun!), Sri Wintala Achmad (Sastra Yogya Tidak Pernah Mati!), Marwanto (Mari Kita ‘Sangga’ Bersama) dan yang terakhir dari Raudal Tanjung Banua (Antara Mitos dan Demokratisasi).

Membaca Antara Mitos dan Demokatisasi-nya Raudal seperti kita dihadirkan pada semacam lanskap Babad Sastra Yogya yang problematik, penuh ironi, krisis kepengarangan yang tiada henti, dan beragam komunitas yang muncul-lenyap tanpa terduga. Maka dari itu tulisan ini akan mencoba merunut sejumlah indikasi yang mungkin bisa dijadikan catatan mengapa sastra Yogya mengalami semacam krisis yang mengkhawatirkan tersebut.

Pertama, bila menyimak proses batin kreatifitas pengarang Yogya, seakan kita mendapati sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana yang kita bayangkan. Tatkala kita bercermin pada PSK-nya Umbu Cs, memang seolah tergambar perjalanan sastra Yogya terus bergerak, berubah, penuh dinamika, tapi sepertinya belum tampak kualitas karya yang menjanjikan untuk dijadikan perbincangan.

Kedua, Munculnya indikasi bahwa perkembangan kesusastraan juga ditentukan oleh redaktur koran (atau majalah sastra). Kondisi ini tanpa sadar memaksa kreator sastra untuk menyesuikan karyanya dengan tema, gaya, dan jumlah halaman, agar sesuai dengan karakter koran atau majalah. Dengan begitu, kreatifitas mereka nyaris mati dipolakan oleh barometer media yang bersangkutan. Sehingga tidak ada kebaruan dari segi mutu karya, alias biasa-biasa saja. Bahkan bisa jadi mereka hanya mereproduksi karya secara berulang-ulang, sekadar target asal dimuat, dapat honor dan terkenal. Habis itu apa lagi yang bisa diunggulkan dari mentalitas kondisi demikian? (baca: Abdul Wachid BS, “Hidup Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur”, Minggu Pagi, Juli 2003)

Ketiga, munculnya indikasi komunitas penggiat sastra yang begitu banyak, juga upaya mempertahankan ikon ‘sastrawan Yogya yang disegani’, pun kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kegiatan sastra seperti yang digelisahkan Darmanto Yatman dan Raudal Tanjung Banua agaknya memang perlu dipertimbangkan dengan serius sisi manivestasinya. Melihat kondisi sastra Yogya yang darurat itu siapa lagi yang mau ngopeni dan nguri-nguri masa depan sastra Yogya? Sebagaimana yang dikeluhkan oleh Zainal Arifin Toha.

Maka dari itu kita perlu menyambut gagasan yang pernah dimunculkan oleh Darmanto Yatman akan adanya Museum Sastra Yogya yang di dalamnya, barangkali, berisi semacam Laboratorium Sastra Yogya di mana segala hal yang mencakup hazanah perkembangan sastra Indonesia, khususnya sastra Yogya, dapat diakses oleh siapa pun sebagaimana yang terjadi pada perpustakaan Baitul Hikmah di zaman Abbasiyah dahulu. Di sini semua orang, lebih-lebih sastrawan, bisa melakukan riset dengan penuh-seluruh sebagai ajang studi eksploratif yang representatif. Bahwa tradisi membaca yang kuat adalah suatu keniscayaan bagi setiap pengarang. Sebab semua pengarang itu sebelumnya, menurut Ahmad Tohari, haruslah menjadi pembaca yang rakus, jika tidak, ia akan jadi pengarang yang mudah sekali kehabisan bahan dan stamina. Dan menjadi keniscayaan bagi pengarang untuk keras kepala dalam membaca dan menulis, sebagaimana yang dilakoni oleh Joege Luis Borges. Karena mengarang merupakan tugas kemanusiaan yang tak dibayar oleh pemerintah, bahkan hakikat mengarang itu sendiri secara ekstrim, kata orang, adalah sebuah kutukan.

Namun pandangan ‘iman’ kepengarangan setiap pengarang tentunya berbeda-beda, meski spirit ini juga penting untuk dipatrikan sebagai landasan dalam berproses kreatif. Jika memang ada kenyataan sejumlah kreator sastra Yogya yang tidak sabaran dalam berproses kreatif, maka hal adalah suatu masalah akut yang kelak hanya menghasilkan karya yang remeh-temeh, sekadar selingan dan hiburan. Inginnya banyak menulis, bisa dimuat di media mana saja, dapat uang banyak, sementara hasil karyanya nol.

Barangkali para pengarang sekarang kurang bisa menghayati dan meneladani kepribadian para pengarang sebelumnya. Di mana mereka dengan konsisten memegang dengan kokoh ‘iman’ kepengarangan. Semisal pada diri Julio Cortazar yang berkeyakinan bahwa menulis itu untuk hidup bukan hidup untuk menulis. Baginya, menulis merupakan bagian dari kehidupan, bahkan yang terpenting, namun tidak menyita seluruh kehidupan. Inilah yang terjadi pada Balzac juga mungkin Vargas Llosa. Untuk hidup, Llosa hanya memerlukan sebuah ruangan, meja, mesin tik dan ia akan merasa tenang dengan tumpukan kertas. Di sinilah pertarungan hidup-mati pengarang, jika tidak, karyanya hanya akan sampah dan dilupakan orang.

Paulo Coelho menulis The Alchemist selama 39 tahun plus 15 hari. Ia mengalami masa tersulit saat menuliskannya, namun menurutnya, ketika proses penulisan novel itu ia merasa jagad raya bersekutu membantunya. Demikian pula dalam proses kreatif Chairil Anwar. Ia berburu kata secara tepat-cermat untuk sajak-sajaknya, hingga berhari-hari dan berminggu-minggu. Baginya, bukan kata-kata yang memburu penyair, tapi penyairlah yang harus terus menemukan kata dengan selaksa gagasan yang telah diendapkannya. Menurut W.S. Rendra, proses kreatif adalah manjing ing kahanan nggayuh ngarsaning Hyang Widi (melebur dalam dunia nyata dan merengkuh dunia keilahian). Pengarang harus memahami sekaligus menghayati proses kreatifnya sebagai bentuk yogabasa: sujud karya. Bahwa setiap karya harus menjadi roh ibadah; bahwa prinsip berkarya adalah untuk mewujudkan kebebasan, kejujuran dan keindahan.

Tampaknya mentalitas kepengarangan pengarang Yogya perlu untuk diruwat. Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa Pengarang yang baik tidak akan pernah berkata, “Bah! Aku akan beruntung jika punya tiga ribu pembaca.” Namun agaknya ia akan bilang, “Apa yang akan terjadi jika setiap orang akan membaca apa yang aku tulis?” Sebab menulis adalah tindakan penyingkapan. Maka wajar untuk dipertaykan pada setiap pengarang, “Aspek dunia apa yang ingin Anda singkapkan? Perubahan apa yang ingin Anda bawa ke dunia dengan penyingkapan ini?” Saat itu pengarang baru sadar bahwa, kata-kata itu bertindak.

Dengan melihat contoh spirit proses kreatif dari sejumlah pengarang di atas, maka atmosfir batin pengarang yang bagaimana yang hendak diusung untuk membangkitkan Sastra Yogya? Semata bernostalgia dan mengelap-ngelap generasi pendahulunya? Mengais-ngais riwayat sastra Yogya dengan gerundelan dan sekadar berbusa-busa kata belaka? Perlulah kiranya suara para suhu sastra Yogya agar ikut angkat bicara jika polemik tentang Masa Depan Sastra Yogya, sekali lagi, dianggap berarti. Jika tidak, ya dipungkasi saja polemik ini untuk selamanya.

Minggu Pagi, IV, Desember 2006.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati