Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I - LXXVII

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=223

Udara wengi mekar perlahan, membawakan berita dari dasar keheningan,
merasakan sayap keagungan kedaton, yang digerakkan ruh suci kehidupan (VI: I).

Langkah kata-kata mengikuti kehendak hembusan semerbak bayu mesrah,
waktu-waktu memijarkan benang cahayanya dalam degupan cinta sesama (VI: II).

Merambah kurun masa, menjamah kulit getara, serupa jarak keganjilan akan
takdir dipersaksikan sukma, menjadikan purnanya pribadi-pribadi utama (VI: III).

Sehempasan nafas nan temaram, selembut lelembaran kabut bertaburan
atas gubahan kidung, dalam perjamuan malam-malam (VI: IV).

Di mana bergerak lalu berdetak, tetabuhan bertalu-talu di lumbung padi,
mengisahkan dewi sri menari-nari bersampurkan cahaya pagi dengan ruh lestari,
memakmurkan jiwa-jiwa, dan tiada diketemukan wajah-wajah murung petani (VI: V).

Dekatkan senyummu, di sisi benderang bulan menggendong keriangan,
pedut membumbung mengabadikan masa, atas menterjamah peristiwa (VI: VI).

Tiada perlu dipert…

Menulis Puisi Itu Sangat Mahal

Koran Tempo, 27 Januari 2008

Acep Zamzam Noor pantas berbahagia. Penyair kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, ini dinobatkan sebagai peraih Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk kategori puisi pada 18 Januari lalu. Acep meraih penghargaan itu melalui buku kumpulan puisi Menjadi Penyair Lagi (2007).

Ini penghargaan kedua dalam karier kepenyairan lelaki yang bulan depan berusia 48 tahun ini. Pada 2005 penyair yang tumbuh di lingkungan pesantren di kota kelahirannya ini menerima South East Asian Write Award dari Kerajaan Thailand.

Kemenangan di Khatulistiwa Literary Award membuat kantongnya kian tebal. Ia berhak atas hadiah uang Rp 100 juta. "Lumayan, uang ini menjadi honor setelah 20 tahun menjadi penyair," ucapnya di atas panggung ketika menerima penghargaan itu di Atrium Plaza Senayan, Jakarta.

Acep adalah salah satu penyair Indonesia yang bertahan cukup lama mencurahkan dedikasinya pada perpuisian Indonesia. Menulis puisi sejak sekolah menengah pertama, hingga saat ini ia telah …

Ketupat

Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Arie MP Tamba

Ketupat

akan berdosa membelah ketupat ini
beras-beras kasih, beras-beras rindu
telah bersetubuh dalam rimba sanubari
hingga alir sungai dari bukit azali
akan sampai ke muara

ketupat ini akan bisa dibelah
tapi tak dengan pisau dunia

(Zawawi Imron, Bulan Tertusuk Lalang, Balai Pustaka, 1982)

Dalam minggu ini, pemaknaan dari puisi Ketupat di atas boleh jadi akan lebih mudah dicerna. Lebaran tiba, ketupat di rumah-rumah. Ketupat adalah bahan makanan berbahan beras yang sengaja dibentuk setengah bujursangkar, dan kemudian dimasak hingga lunak. Untuk menikmatinya, ketupat dibelah-belah, dan daun-daun pembungkusnya disingkirkan. Lalu, belahan-belahan ketupat tersebut ditaruh di piring, disiram dengan kuah gulai daging atau ayam. Ketupat pun siap dimakan dengan rasa nikmat.

Di Indonesia, secara khusus, ketupat adalah makanan khas yang jadi perlambang tibanya hari besar Lebaran umat Islam. Bagi suku-suku yang mempunyai tradisi kuliner cukup kaya, seperti Minang, …

Penyair Kampung yang Memikat

Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Theresia Purbandini

Tak banyak penyair Indonesia seperti Zawawi Imron, tetap memilih untuk berdomisili di desa kelahiran. Dalam hal ini, desa dengan alam yang kaya, jadi lebih penting lagi bagi Zawawi.

Zawawi Imron yang lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura pada 1945. Sejak 1970-an, di tengah riuhnya panorama perkotaan memasuki puisi-puisi para penyair 1980-an, Zawawi muncul dengan kedesaannya.

Menurut Raudal T Banua, masa produktif Zawawi, 1970-an -- 1980-an, menyangkut kekuatan real yang disebabkan adanya kekuasaan pemerintahan yang massive, dan coba didobrak oleh persoalan sufistik dan idiom-idiom realistik Maduranya yang kental.

Mengurai tema ketuhanan, kemanusiaan hingga persoalan sosial politik yang kompleks, menjadi eksistensi Zawawi yang tidak stagnan. “Karya Zawawi dalam Bulan Tertusuk Lalang jadi bukti pencarian pergulatan Aku dengan bahasa yang transenden, melalui pendekatan sehari-hari; bagaimana orang membicarakan Tuhan tidak dengan idiom-idom da…

CINTA, MERAMBAH TUBUH DI KEDALAMAN JIWA

Nurel Javissyarqi*

Inikah kerjanya cinta? Dalam tubuh di kedalaman jiwa. Semacam sugesti suci, atau uap yang didatangkan dari pegunungan paling tinggi. Inikah bayu yang berasal dari dataran Himalaya? Yang mengaduk-aduk relung terdalam, mencipta rindu dan rindu. Bagaimana dirinya bisa masuk? Melewati keraguankah? Kecurigaankah? Atau melalui lorong keimanan?

Ilmu pengetahuan pun berasal dari sumbernya. Ia sumber segala sumber, inspirasi murni lagi tak terabai. Bagaimana kerjanya cinta sanggup menembus batas estetik? Intelektual serta spiritual? Maka perlu diselidik ke dalam intinya, bahwa segalanya dihasilkan dari terompetnya.

Cinta menggetarkan dunia, cinta pulalah yang mensejajarkan sesama. Ia berada di luar batas serta di kedalamannya, namun bukan batasannnya. Ia isi memaknai segala sesuatu, tetapi bukan isinya. Ia adalah ruh senyawa. Siapa yang sanggup menangkapnya? Ia bukan perwujudan, muka hanyalah topeng-bopeng. Ia yang menjalankan setiap rencana dan barisan kelicikan juga.

Saudara p…

PENOLAKAN SAUT SITUMORANG ATAS KHATULISTIWA LITERARY AWARD

During times of universal deceit,
telling the truth becomes a revolutionary act
-George Orwell

Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008 yang memasukkan buku saya "otobiografi" ([sic] Yogyakarta, November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun alasan saya adalah sebagai berikut :

Sejak awal saya menganggap keberadaan KLA tidak layak dan tidak representatif bagi kesusasteraan Indonesia karena dasar dan sistem penilaian karya tidak pernah jelas, inkonsisten, improvisasi, dan tidak profesional.

Beberapa cacat fatal dapat disebutkan:

a. Panitia maupun juri melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Contoh: Menangnya buku puisi Goenawan Mohamad, "Sajak-sajak Lengkap", pada KLA perdana, merupakan pelanggaran terang-terangan atas aturan yang sudah diumumkan panitia sebelumnya bahwa karya kompilasi (yang sudah pernah diterbitkan terdahulu) tidak bisa diikutkan dal…

Sebuah Musim yang Buruk

Riau Pos, 7 Agus 2005
Marhalim Zaini

Seratus meter dari arah selatan pelabuhan Internasional Bandar Sri Laksemana, sebuah taman yang buruk sedang berselimut dalam musim yang buruk. Hujan dan panas, saling bergantian tak beraturan, bahkan tak jarang datang bersamaan. Musim serupa ini, adalah ketidakmenentuan. Bagi para penyadap karet, hujan selalu tak diharapkan. Tapi kemarau juga membuat orang-orang di kampung kesulitan air. Jika biasanya mereka bisa menampung air hujan yang turun dari langit untuk keperluan sehari-hari, kini mereka harus menguras dan menggali sumur dengan air yang berwarna merah kecoklatan. Dan ketidakmenentuan semacam ini seringkali terjadi. Sebuah musim yang membingungkan di sebuah kota yang gamang.

Di sebuah taman yang buruk berselimut musim yang buruk itu, seorang lelaki duduk di sebuah bangku batu, berpayung batu, berlindung dari gerimis. Seorang lelaki sederhana. Hampir dua jam ia membiarkan mulutnya tak lepas dari rokok. Hampir dua jam matanya menyaksikan kapal-k…

Kota Ini Tak Ada Pelacur

Riau Pos, 8 Mei 2005
Marhalim Zaini

Seperti lilin yang redup. Ia penat. Matanya terpejam, setengah tidur. Dalam posisi tubuh serupa itu, ia tak mungkin bisa tidur. Kedua kakinya ia sandarkan ke dinding, badan dan tangannya bertelentang di atas kasur. Ini obat buat kaki yang semalaman berjalan berkeliling kota. Jendela itu, sengaja terbiar. Menganga. Angin malam, di kota gerah ini, bagai sahabat karib yang setia. Biarkan leluasa menyapa. Dan untunglah ia tak salah memilih kamar hotel, dengan sebuah jendela yang menghadap ke wajah kota. Angin malam tak membuat perutnya jadi gembung, tapi ac, ia tak suka. Ac, membuat hidungnya tersumbat. Dan ia membenci ac, seperti ia membenci kota kecil yang gerah ini.

Matanya masih terpejam, tapi tak tidur. Seperti masih terus berselirat kesibukan kota dalam tubuhnya. Seperti masih terus menggumpal rasa penasaran di hatinya. Ini bukan kota pertama. Sebagai seorang konsultan perusahaan yang bertugas di bidang foundation engineering, bertandang ke pelosok-p…

Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal

Bernando J. Sujibto

SASTRA humanistik yang berakar kepada konteks kehidupan akar rumput, sebuah upaya berkesenian yang kembali kepada fitrahnya (baca: littĂ©rature engagĂ©e), meminjam istilah Jean-Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905 – id. 15 April 1980), sastrawan eksistensialis Prancis, akan dengan mudah ditemukan dalam diri sosok sastrawan-novelis Y.B. Mangunwijaya. Posisi kesastrawanannya—dengan bergerak di ranah novel—menjadi media dalam melakukan refleksi tajam dan implementasi ruh kemanusiaan ke dalam kehidupan bersama rakyat kecil (wong cilik: Jawa) sehari-hari. Jadi tidak aneh jika hampir seluruh hidupnya selalu ditemukan di antara para gelandangan dan anak jalanan di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah, tempat paling banyak dihabiskannya untuk bekerja dalam panggilan kemanusiaan.

Sosok Y.B. Mangunwijaya (1929-1999) telah menjadi saksi sejarah bukan hanya untuk masyarakat Yogyakarta (baca: Jawa) tetapi bagi segenap bangsa Indonesia. Beliau telah melaksanakan misi kemanusiaan dengan g…

Perempuan yang Pandai Menyimpan Api

Jawa Pos, 22 Feb 2004
Marhalim Zaini

Tahu apa kau tentang kehilangan
Sehingga membuatmu berbeda dari orang lain?*

Seolah seisi kedai menyimpan umpatan itu. Malam – yang diduga dapat menyembunyikan percik api sindir kebencian dari mata orang-orang – justru kini menjelma ribuan teluh yang mendera sunyi. Sunyi malam, yang memekat di dada Soi. Dada perempuan yang sipit matanya, membuncit perutnya, yang hanya memandangi genang bias cahaya lampu di wajah sungai hitam setiap malam. Soi tak suka ratusan cahaya kristal yang terapung berbaris di sepanjang tepian sungai Siak di seberang itu, sebab Soi tak mampu menggapainya. Dan Soi lebih suka pelabuhan tua beraroma lumut gambut ini, duduk bersandar mengelus-elus perut di sudut jendela kedai yang selalu terbuka, mendengarkan batu-batu domino beradu di atas meja, dan menyimak percakapan para kuli pelabuhan yang menyulut derai tawa. Serupa kenikmatan pahit candu dari tuak yang ditenggak para kuli imigran gelap itu, Soi menikmati setiap jarum teluh yan…

RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I - XCVIII

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=227

Suara gending-gending masih megalun dalam jiwamu,
walau tetabuhannya telah dihentikan, merasakan diamnya ke puncak membiru
lalu sukma berbisik, mengetuk jendela perempuan-perempuan abadi (IV: I).

Ketukan tembang mengalun ke tangga pesawahan wewaktu,
ia membuat minuman yang paling kau sukai sehabis berlatih lama
pepohon kehidupan itu menggeraikan tetangkai usiamu (IV: II).

Masuklah kemari wahai jiwa-jiwa yang berada di luar
laksana awan-gemawan membukakan pepintu,
singgahlah wahai kau, dan tetaplah di kedamaiannya (IV: III).

Istirahlah di ketinggianmu, biarkan mereka memandang kesulitan
sebab cinta-kasih penglihatannya terawat
walau nafasnya hampir memupus kepada sulur rimba angkasa (IV: IV).

Perbaikilah tarianmu, sebelum panggung wengi persembahkan purnama,
masa-masa dinanti mata bening embun sang keheningan sejati rasa (IV: V).

Lambaian sampurmu, murni bahasa lain gemulai jiwa,
sedang lautanmu mengaduk-aduk dasar kemanusiaan, tetapi mereka masih te…

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo