Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA CENAYANG

1
Demikian pusing gunung. Hentak jadi tempelak
Barangkali dambaan batin yang maharengkah
niscaya akhirnya jadi acuan larat

Aduh, tak tergapai pautan syukur
bila juntai lindurmu harum
Dan gempita baga gempal gerompal
buat duduk memeluk dengkul

2
Cenayang adalah tiarap menggoyah sekal
dari sini guntur pun takkan loncat
dati tahtanya. Demi kumparan si tertindih
Entah jikalau tiada lagi yang digenapi
Dari nubuat Bapakku Suci

Dalam sanak, dubalang sanak
serta tundungan ujung-ujung sergap
Maka kita punya kawasan putih
akan mengakhiri tualang tutur.

3
Lamun rentung-runting nestapa di gigir ringkih
melecut jasat uzurku-tidak mengerkah nasib
Hanya gesang di alas watas
seperti elmaut juga warisan gemas

Hingga pun segera membolong mudaku
percuma alun-prahara tanpa bekas
Dengan sangglah dan koyakanya laras

4
Cenayang membukiti telentangku papa. Aduhai, bujang
yang mengeras,mengarus, mempecundangi tarakbrata
sampai kepada Sesaji Matirta paling seksama
Aku lolos dari kepungan sumpah nan hitam!

Dan sungguh makin ku…

Mitos Besar dari Bangsa Besar

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/
Kebesaran sebuah bangsa terekam dalam kekayaan mitologi dan legendanya.

Judul : Mitos & Legenda China
Penulis : ETC Werner
Penerjemah : Johan Japardi
Kategori : Non Fiksi
Tebal : 414 hlmn
Cetakan : Pertama
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, dia akan mengguncang dunia. Begitulah Napoleon Bonaparte, si penakluk Eropa, itu pernah berkata. Dan China saat ini agaknya sudah terbangun dan dunia terpana kepadanya. Ketika krisis keuangan global terjadi di bulan Oktober 2008, akibat krisis ekonomi yang (disebabkan dan) terjadi di Amerika Serikat, semua pasar modal global guncang (termasuk Tokyo, Jepang). Kecuali, di Korea Selatan dan China!

Lalu, di kalangan intelektual, pada tahun 2000, seorang pengarang China, Gao Xingjian mendapatkan Nobel Sastra melalui The Soul Mountain (Gunung Jiwa, 1990). Dunia sastra khususnya: terbelalak. Terlepas dari posisi Gao yang telah menjadi warga negara Prancis, ke-China-an Ga…

REVOLUSI SUNYI SANG PENYAIR; IQBAL

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=70

Ah, betapa gembira mereka yang hendak memuja apiku!
Tapi aku tak menghendaki telinga zaman sekarang
Akulah suara penyair dari dunia masa depan
Karena zamanku tak pernah memahami maksudku (Iqbal, Rahasia Pribadi).

Di sana, saya melihat betapa malang seorang penyair yang seolah gagal menyuarakan hati nuraninya, dalam kancah usianya mereguk masa melahirkan karya-karya. Sejenis keputusasaan yang menyimpan harapan, entah mimpi bolong atau bergelayutnya awan yang enggan menurunkan hujan. Kala kehidupan membutuhkan seteguk tirta pengusir dahaga di tengah kembaranya.

Tampak jelas penyair itu takkan bisa merangkai kata-kata, memuntahkan isi jiwanya ke dalam lelembaran karya, selain setelah menyetubuhi pengalaman hayatnya. Kesendirianya bukan kedahagaan tanpa guna, serupa pengharapan yang ngambang. Namun sungguh perjuangan itu melahirkannya, meski nampak tidak seberapa, ketika dirinya masih menghirup udara -nyawa.

Sang penyair menuangkan kata-kata, me…

JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL (JILFest) 2008

Sumber, http://www.jilfest.org/

Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, kota internasional, dan berbagai predikat lainnya — yang melekat pada reputasi dan nama baik Jakarta yang merepresentasikan citra Indonesia — memiliki arti penting tidak hanya bagi warga Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Artinya, posisi Jakarta sangat strategis bagi usaha mengangkat keharuman Indonesia serta menjalin kerja sama sosial budaya untuk memperkenalkan Indonesia dalam pentas dunia. Jakarta — yang juga dapat dimaknai sebagai miniatur Indonesia — dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat dunia untuk mengenal berbagai kebudayaan etnik yang tersebar di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penting artinya mendatangkan masyarakat dunia ke Indonesia melalui Jakarta. Dalam kaitan itu penulis (sastrawan) sesungguhnya alat yang efektif untuk memperkenalkan dan mempublikasikan Jakarta ke masyarakat manca negara. Dalam hal itulah program Jakarta Internati…

Biarkan Putri Beri Makna

Liza Wahyuninto

Perjumpaanmu dengan rembulan, bukan kali yang pertama. Tapi cara menatapmulah yang buat ia lebih bermakna. Rembulan, seperti benda langit lainnya, ia hanya seonggok cahaya. Dan rembulan, sungguh tak lebih baik dari bebintang, ia hanya ketiban cahaya dan coba pantulkan ke sisi gelap dunia.

Tapi, di balik kesahajaan itulah ada hikmah. Banyak manusia mampu bercahaya, punya sinar di matanya, tapi hanya berapa yang bersedia jadi pelita bagi sesamanya? Bukankah itulah makna bermanfaat bagi manusia (yanfa’u linnas).

Perjumpaanmu dengan rembulan, memang sebentar. Tapi cukup membekas. Banyak orang terlena dan asyik menatapnya. Ya sebanyak itu pula yang mengumpat hadirnya. Demikian manusia, ada yang suka kehadiranmu sebanyak yang tak kehendaki ada-mu.

Manusia terbius oleh kemilau cahaya, tak peduli pada gulita di sebelahnya. Coba ingatlah! Berapa banyak sahabat yang berada di sampingmu kala kau bahagia dan berpunya? Bandingkan, berapa yang hadir menghiburmu kala duka menyelimuti?

Ing…

BELAJAR MENULIS DARI INTAN PARAMADITHA*

Sutejo

Anda kenal dengan Intan Paramaditha? Wah, rugi jika tidak mengenalnya. Seorang perempuan cantik, cerdas, otak encer, pandai menulis, dan latar belakang pendidikan yang menyakinkan: sastra Inggris UI kemudian mengabdi di almamaternya. Jika anda penasaran, carilah kumpulan cerpennya yang berjudul Sihir Perempuan (KataKita, 2005). Bagaimana background perjalanan proses kreatifnya? Yang jelas masih muda, dia lahir 15 November 1979 di Bandung.

Sementara, kita sering mendengar keraguan melangkah para penulis pemula karena takut ditolak media. Ngapain kalau bercinta, mengungkapkan cinta, ditolak, tidak takut? Banyak penulis sudah berpesan agar kita tidak usah gelisah dengan tulisan yang ditolak. “Wajar, kok!” kata Ucu Agustin. Beni Setia pun, penulis senior yang kini tinggal di Caruban juga punya pandangan yang sama. Bahkan, sepuluh tahun yang lalu ketika bermain di rumahnya, penulis sederhana ini menganalogkan profesi menulis dengan menjual jasa. Ditolak, biasa.

Hal ini pulalah yang men…

BERGURU PADA KETERBIUSAN MENULIS BUDI DARMA

Sutejo*

Tanggal 8 Desember 2007 adalah hari pelepasan seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan itu sering memiliki jargon yang unik, jargon itu diantaranya adalah (i) bahwa dunia sastra adalah dunia jungkir balik, (ii) pada mulanya karya sastra adalah tema, (iii) menulis itu berpikir, (iv) menulis rangkaian dari peristiwa kebetulan, (v) menulis itu seperti naik pesawat terbang (kuatnya imajinasi), (vi) menulis sebagai identitas budaya, karena itu ia hampir menuliskan seluruh tulisannya dalam bahasa Indonesia, (vii) menulis asal menulis dan asal mengikuti mood, tanpa draft, dan tanpa apa pun (sebuah kondisi terbius), (viii) menulis adalah masalah waktu, karena itu menulis akan lancar, manakala suasana menyenangkan untuk menulis tidak terganggu-ganggu, (ix) falsafah “realitas burung” yang mengerakkan, (x) pengarang adalah proses mencari, dan karya sastra adalah rangkaian proses mencari itu, dan (xi) pengarang tidak pernah puas dengan karyanya sendiri.

Dan pada hari itu, bersama itu p…

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Jamal D. Rahman
Sumber, http://jamaldrahman.wordpress.com/

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Dalam hubungannya dengan kepenyairan Zawawi, yang paling penting dari desa kelahirannya mungkin kekayaan alamnya —kekayaan alam di mata seorang penyair. Sudah barang tentu terdapat hubungan kompleks antara alam desa dengan kepenyairan Zawawi, yang tidak mungkin direduksi menjadi sekedar hubungan kausalitas linear. Tapi apa pun bentuk hubungan itu, desa Batangbatang pastilah memiliki arti penting ba…

GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I - CXI

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=209

Dia menumpahkan sabda kelanggenggan gelombang,
luapan kabut menuruni semenanjung langit pulau sebrang
dan daya rindu tersirap cakrawala (XIII: I).

Ketika elang mengapung, kau tarik kendali sukmanya,
angin-ombak tiada berhenti menelusupi pori-pori pasirmu,
itu bayang dirinya telah sampai di gerbang penantian (XIII: II).

Melepas pelukan purba, jejakkan kaki di bebatuan karang,
lantas terbang bersayap pengetahuan melewati kenangan (XIII: III).

Janji rindu semesta bersaksi melalui geraian rambutmu, kau
semakin temukan ketentraman, di kedalaman tak terukur (XIII: IV).

Saat singgahsana nalarmu porak-poranda oleh tiupan taupan,
debu mengiris mata, atas tumpah darah di sudut gelap tercela (XIII: V).

Kiranya hujan gerimis bertambah menggenangi lamunan hati
oleh mendung berdesak merata ke tengah malam (XIII: VI).

Usap kulit lembutnya, lalu goyanglah nyala lilin hatimu,
ia mempunyai kasih, tidak mematikan cahayanya (XIII: VII).

Siapa bergayuh terus melenggak ke…

Sastra-Indonesia.com