Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Hal ini dilakukan juga untuk mengatur Nurel dalam menentukan perguruan tinggi di mana jendela masa depan harapannya dapat diwujudkan. Tetapi jiwa berontak Nurel memilih untuk tidak selesaikan skripsi di jurusan ekonomi.

Apa yang menarik dari penulis ini? Beberapa hal berikut saya impresikan dari pertemuan empat hari bersama Maman S. Mahayana dan Kasnadi dalam tamasya budaya Jakarta-Bogor. Di emper rumah Bang Maman, hal-hal menarik berikut dapat direnungkan (a) ketidakpuasaannya atas…

Panorama Sastra Indonesia

Maman S Mahayana
http://www.riaupos.com/

Sastra Indonesia adalah lanskap pelangi; warna-warni dengan beragam cabaran ideologinya. Ia bagai taman bunga dengan tetumbuhannya yang semarak, dedaunannya yang rimbun, meski di sana tumbuh pula mawar berduri. Di taman itu, orang-orang boleh duduk bercengkerama, memadu kasih, memetik beberapa tangkai bunga untuk dipajang di dalam rumah atau mencampakkannya begitu saja. Taman itu milik semua dan sesiapa pun, boleh ikut memeliharanya; menanam pepohonan baru atau menyiraminya agar tetap segar sambil memberinya rabuk atau melakukan persilangan.

Sastra Indonesia adalah hutan belantara dengan aneka ragam kekayaan pepohonannya yang eksotik bersama kehidupan masyarakatnya yang tidak dapat melepaskan diri dari kultur yang telah melahirkan dan membesarkannya. Dan kita, sungguh tidak dapat menafikan ruh kultur etnik yang menjiwai sastra Indonesia.

Seperti juga bahasa Indonesia, sastra Indonesia bersumber dari akar tradisi kebudayaan besar yang bernama Mela…

Sajak-Sajak Hudan Nur

http://www.sinarharapan.co.id/
KEMATIAN RAJABASA

pertama kali
sri sultan pernah menyematkan lencana kehormatan
pada lengan kiri Ompu Hasanuddin
keberhasilannya dalam syiar agama
tujuh puluh tahun kemudian
dari lengan kanan pucuk pimpinan integrasi nusantara pun mendapat lencana yang sama
: gajah mada
hal demikian pantaslah ditiru
gumam seorang pendiri benteng di banten lama

tujuh abad kemudian
jadilah jayakarta sebagai pusat kenegaraan bagi nias hingga jayawijaya
menyatupadukan ratusan etnis dalam perbedaan
sebuah minor pengusung keberagaman

lalu panarukan
menjadi lahan paksa
penguasa di zamannya mencari siapa yang bergelar rajabasa
sebab kepalanya adalah teror
haram memberi ruang untuk bernafas
tujuh hari kemudian
ditemukan tubuh terpisah dengan tangan dan kakinya
peradaban sudah tergantikan
apakah tujuh puluh tahun mampu dituntaskan?

Serang, Awal 2008



CILIK KRIWUT: BATIWAH

sebentar lagi kasongan akan kita lampaui
tapi mampirlah dulu ke bukit
datu yang pernah kalah dalam bertarung dengan umur

disini
kami dilahirk…

KASUS POLITIK DALAM SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pembicaraan mengenai sejarah kesusastraan Indonesia modern sebenarnya bukanlah sekadar berisi pemaparan mengenai sejumlah karya pengarang Indonesia berikut ulasan dan biodata pengarangnya, melainkan juga menyangkut berbagai hal yang melatarbelakanginya. Proses penciptaan, latar sosio-budaya, situasi sosial yang terjadi pada zamannya, peranan penerbit, reaksi masyarakat, dan hubungannya dengan politik pemerintah, merupakan masalah yang mestinya diungkapkan atau disinggung dalam pembicaraan sejarah kesusastraan. Apa yang terjadi dalam kesusastraan Indonesia merupakan contoh kasus bahwa persoalan sosial-budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra, tidak dapat diabaikan begitu saja. Ternyata bahwa masalah tersebut, khasnya yang berkaitan dengan politik kolonial Belanda, sedikit-banyaknya telah ikut mewarnai –bahkan menentukan– perjalanan kesusastraan Indonesia sejak awal kelahirannya hingga dewasa ini.

Adanya kaitan yang erat antara sa…

Legenda

Sulaiman Tripa
http://www.lampungpost.com/c

DIA sendiri yang meminta dirinya dipanggil dengan Legenda saja. Pak Legenda, lengkapnya. Penarik becak yang stand by di persimpangan tugu. Ada atau tidak ada penumpang, ia tetap berdiam di sana.

Biasanya memang selalu ada orang yang menggunakan jasanya dan minta diantar entah ke mana. Jangkauannya bisa mencapai dua atau tiga kilometer.

Becak Pak Legenda dengan mudah dapat dikenali. Di kanan-kiri depan, terpacak bendera merah putih berukuran besar, mungkin 70 x 40 sentimeter. Padahal, mobil mewah sekalipun hanya memakai bendera kecil yang hanya 10 x 7 sentimeter saja. Demikian juga dengan becak-becak lain, hanya memakai bendera berukuran 20 x 15 sentimeter. Itu pun satu lembar. Bukan dua lembar.

Tanda lainnya dari becak Pak Legenda adalah adanya tulisan L-e-g-e-n-d-a dengan huruf besar, di bodi becaknya. Tulisan itu berwarna kuning keemasan. Dari jauh tampak mengilap dan bercahaya.

Tanda terakhir yang paling unik adalah Pak Legenda memakai klakson …

Rahasia Bahagia

Medy Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

MASIH ada segenggam kebahagiaan dalam diriku. Kebahagiaan yang selalu diiringi aliran air mata kerinduan akan hadirnya bidadari-bidadari tercinta dalam peristirahatan yang kekal kelak. Semakin basah hatiku oleh tangisan-tangisan jiwa, pengharapan yang tak pernah lelah akan datangnya cinta.

Dari dalam ruang tengah kudengar suara Maya, istriku, "Adek makannya yang banyak ya. Biar cepet gede dan bisa main dengan umi sama abi. Trus kita belajar ngaji, salat berjemaah, juga nangis bareng-bareng dalam munajat. "Sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar, Maya terus saja berceloteh seakan sedang berkomunikasi langsung dengan janin yang dalam hitungan hari lagi akan menghirup udara dunia.

Memperhatikan perilaku Maya, aku hanya bisa tersenyum geli dan tentu saja ada bahagia di sudut hatiku ini. Bukankah sebuah perasaan yang tidak berlebihan karena bagi kami ini adalah sebuah penantian, ujian kesabaran dalam perkawinan yang hampir menginjak…

Pupusnya Mimpi Sabila

Iskandar Saputra
http://www.lampungpost.com/

AKU tetap bunga seperti yang kau kenal dulu. Mungkin tak seranum kala warnaku mulai merekah dan menebar aroma wangi. Suatu pesona yang memikatmu kala pertama kau memandangku. Di pagi hari bersamaan dengan kemilau sinar mentari yang terbiaskan oleh butiran embun di kelopakku. Memang, kini aku tak seputih melati atau seelok pelangi seperti dulu kau panggil aku.

"Kau akan menyesal, Mas."
"Kenapa?" Bima memandang lekat wajah gadis di depannya. Sorot matanya tajam mencari jawab atas misteri yang memenuhi pikirannya.

"Aku bukan Sabila yang dulu pernah kau kagumi. Waktu telah membawa kita pada tempat yang berbeda. Tak pantas rasanya aku berada disampingmu lagi. Aku telah...."

"Cukup. Percayalah, apa pun yang pernah kau alami, kau tetap bunga yang menghiasi taman hatiku. Menjadi penyejuk di saat hatiku gersang dan penyambung semangat hidupku."

"Tapi, Mas."
"Bila, sampai kapanpun keberadaanmu tak akan p…

Bandar Negeri Semuong *)

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

MATAHARI di Teluk Semangka hampir tenggelam dibalut awan hitam. Senja masih memancarkan separuh cahayanya di ufuk langit. Bukit Barisan Selatan segera tertutup kabut. Awan hitam bermandikan cahaya keputih-putihan muncul dari lereng Gunung Tanggamus.

Sore itu saya duduk di bawah pohon dadap yang sedang berbunga kemerah-merahan di dekat Bandar Negeri Semuong. Dulu tempat ini dikenal dengan nama Bandar Brunai, pelabuhan kapal mengangkut rempah-rempah yang hampir sama ramainya dengan Teluk Bayur. Para pedagang dari Brunai dan Bengkulu sering singgah ke pelabuhan ini melewati hulu Teluk Semangka melintasi pesisir Krui.

Udara di sekitar bekas bandar perdagangan rempah-rempah ini begitu dingin dan bersih. Daun-daun pohon dadap tampak lebih hijau, bunga-bunga yang memerah menyebarkan harum wewangian. Memerah seperti gerbera. Putik-putik buah yang merayap di atas pohon dadap sebentar lagi akan menjelma biji-biji lada berwarna hijau, cokelat dan kemerah-merahan. …

Puisi-Puisi Fati Soewandi

http://www.kompas.com/
MEMBELAH MALAM
: Kuta

nelayan itu melupakan lautnya
membelah malam yang menjadikan sauhnya tawanan
ombak dan pasir menciumi wajahnya
bangkai hujan

aku melihat petir dan kilat
di sepotong siluetnya
mendengus panjang menunggui cakrawala bengkah
hingga mengguyurkan huruf-huruf langit
agar bisa ia menyumpahi kenakalan cuaca
yang memulas kisahkakinya dengan dingin
jadi pijakan paling renta

cericit anak-anak camar merestui permainannya
membelah malam dan cahaya bulan
dengan kesepian kenangan
bagi rasa sakit baru yang diperamnya diam-diam
kelak, waktu memutarku hingga mengasap di sini,
pada karang ini
yang dipahatnya jadi wajahku pagi
mataku rasi

Bali 2004



KAU, ENTAH

kau lepas tanganmu
tak mengajariku telanjang menyentuh wujud keibuanku
dengan patahan-patahan oda perempuan
jejak hati yang menegas kaubiarkan menistakan nyalangnya pengabdian nurani
sendiri
kauranggasi setiap benih ruh yang baru kutanam di rahim langit
yang asing dan dingin. kodrat apa kuwarisi dari para pengagum kegagahan wujudmu sed…

Puisi-Puisi Gita Pratama

http://www.kompas.com/
Pondok Bambu

Ada yang menggeletar di lembah lembah duka
Kisah tentang cinta di sebuah rumah bambu
Dengan hiasan dinding kayu
Pondok kecil di tengah hutan
Dekat dengan sungai yang lupa hulu

Kisah ini hanya cerita kecil
Yang sebentar mampir lalu pergi
Sekedar mlipir di pinggir sungai

: Sepenggal luka beriak menggelitik

April 2008



Lukisan Sepi

Ada sebuah hiasan pada dinding rumah bambu
Ingatkan pada sepenggal ragu

Lukisan perempuan dengan selendang mendekap dada
Pelangi beraneka rupa warna ditunggangi
Bingkainya rapuh dengan plitur terkelupas

Ranum senyum pada bibir perempuan

: Tanpa sapa hanya gelak-gelak sepi

April 2008



Kenangan Sungai

Ia berdiam mengamati sungai
Alirnya memagut dalam mesra

Bagai kelok liuk perempuan
Berwajah pilu dan kuyu

Sapa kecil tanpa senyum
Lunglai basah daun putri malu

Ingatan kecil mengembara
Mencari cinta kisah-kisah lalu
Berpeluk dekap sepasang pemburu

April 2008



Inilah Kisah Lelaki yang Keras Kepala

Berenanglah ia tanpa pelampung, memanggul ombak
Berkoar kasar memang…

Puisi-Puisi Slamet Widodo

http://www.kompas.com/
Puisi seorang ndoro untuk babunya

Minah…
kamu sudah lima tahun nderek ndoromu
sudah saya anggap jadi keluarga
Pada hari raya nanti
Kamu saya belikan kalung emas 5 gram
Sebagai penghargaan atas loyalitas pengabdianmu
Tapi saya minta kamu tidak pulang
Nanti saya kasih tambahan hadiah satu kali gaji"
Minah tidak memberi jawaban
Tapi raut mukanya jelas menyatakan penolakan

Para babu ketika lebaran
Susah ditahan untuk pulang
Susah diajak kompromi untuk berbincang
Tak mau diiming imingi uang
Menahan pembantu pulang
Seperti menahan gelombang pasang
Percuma ........ia pasti pulang kandang

Tanpa babu kita memang kelimpungan
Tanpa babu para ndoro kelihangan keseimbangan
Akhirnya para ndoro mbaboni
Masak seterika dan cuci sendiri
rasanya kesel sebel capek dan pusing
Anak-anak, suami dan isteri kekompakannya diuji
Akhirnya berantem saling iri

Tiga hari sebelum lebaran
Minah nekat pamit pulang
Rambut disasak model lohan
Kacamata cengdem warna hiitam
Pakaian nya merah menyala agak kusam
Hp barunya dik…

DOKUMEN BIODATA RINGKAS SASTRAWAN INDONESIA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Judul: Leksikon Susastra Indonesia, Penyusun: Korrie Layun Rampan, Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, Cetakan I: November 2000, Tebal: xv + 576 halaman

Dalam kesusastraan negara mana pun, buku yang memuat sejumlah nama penga-rang berikut karya yang dihasilkannya, sering kali diposisikan sebagai alat legitimasi dan stempel seseorang pantas-tidaknya disebut sastrawan. Buku Twentieth Century Authors A Biographical Dictionary of Modern Literature (disusun Stanley J. Kunitz dan Howard Haycraft, 1963) merupakan contoh, bagaimana buku itu hingga kini dipandang sebagai buku yang berwibawa dan penting yang memuat nama para pengarang Amerika berikut biodata ringkas dan karya-karya yang dihasilkannya. Secara periodik dalam waktu selam-batnya lima atau 10 tahun, buku itu akan mengalami revisi dan penambahan entri. Tidak mengherankan jika dalam setiap edisi, jumlah halaman buku itu akan terus membengkak, lantaran adanya tambahan nama dan data-data baru.

Bu…

Puisi-Puisi Ni Putu Destriani Devi

http://www.kompas.com/
Tata nini pon-pon:
Wibi

Tata nini pon-pon,
Bawakan kakak
kuda kayu yang bergoyang
di masa kanak dulu
Jadikan kakak boneka kelinci
yang kau peluk di tepi senyum mungilmu

Tata nini pon-pon,
Jangan nyanyikan cicak-cicak di dinding lagi
Jangan menirukan suara cicak lagi

Bergoyanglah lagu tata nini pon-pon untuk kakak
Lagu yang kakak nyanyikan untukmu

Tata nini pon-pon,
Tunjukkan tari perut yang membuat semua mata tertawa

Di badanmu yang gendut,
Ada beribu permen karamel yang tertinggal
Di ponimu,
Tersembunyi balon warna-warni serupa pelangi
Di tawamu yang berlarian
Ada masa riang ayah dan ibu yang hilang



UNTUK SI MATA SIPIT

Di bawah selimut bibir merah
tersembunyi surat si mata sipit
yang terjepit misteri dirambutnya

Geraknya di ayuni senyum mungil
entah kemana
bahkan tiap cermin melukiskan haru
dan terselip di langit biru
untuk lelaki yang entah untuk siapa?

sejak hujan menengadahkan kagumnya
angin-angin tak lagi menangis
payung-payung tak lagi menari
semua sajak jadi musim semi
di senja yang …

Sastra-Indonesia.com