Jumat, 26 Desember 2008

Puisi-Puisi Hamdy Salad

http://sastrakarta.multiply.com/
SURAT-SURAT UNTUK BERKACA

Dan dunia telah dibenamkan para raksasa
ke dasar benua. Laut berlumpur hitam
menghisap cahaya dari cincin matahari
mengaduk luka dan air garam
dalam bencana yang tak pernah selesai

Doa dan dupa, mantra dan sesaji
tak juga sampai ke langit tinggi
menggumpal di udara kelam
bagai awan yang gagal menjadi hujan
tubuh dan jiwa bersembunyi dalam keluh
berpisah diri dengan semesta paling inti

113 surat dalam kitab keabadian
menuliskan martabat cinta
bagi manusia yang berkaca. Bacalah! Bacalah!

2001



SENJA DI ATAS MENARA

Dan bergeraklah senja. Fasabbih, fasabbih!
menyeberangi segala sungai yang mendidih

Matahari berambut pirang, mengirim usia di perbatasan
tangan-tangan saling berebut bagai puncak menara
dalam remang, menjulurkan rasa takut
di antara gema adzan, ayat suci dan panggilan maut
yang bergulung menuju pelangi di langit baka

Maka badai tak kunjung reda untuk berdoa
dan kembali ke dalam mimpi yang lebih purba

Kemarilah wahai pedang khalifah. Tebas leherku!
nyalakan api neraka yang telah padam
di sekujur tubuhku. Bakarlah semua gairah
sampai surga menjadi kosong dalam darahku
dan dunia tak lagi pilu kepompong batu

2002



KERTAS PUTIH PENYAIRKU

Buka mata tulipmu! dan ceraplah warna tinta
sampai huruf dan kata-kata menjadi sirna

Dari pelipis kirimu, kertas putih menari
berpendaran bagai batu-batu granit
penuh beban: meja marmer yang pecah
patahan tulang, gigi palsu dan rambut perak
terlempar dari tempat asalnya
di udara fana. Setitik embun menguap
dan sembahyang bersama terik matahari
tapi jiwamu masih saja pengap dan beku
walau musim semi telah menyergapmu

Maka berlarilah engkau, wahai penyairku
Fafirru, fafirru! Kitari sumbu api di dekat jantungmu

2002



KUKIRIMKAN MAWAR CINTA

Aku ingin kembali menjadi bayi
menyusu rindu pada puting abadi

Seperti angin lalu pada setiap musim
kukirimkan mawar cinta
ke dalam rahimmmu. Wahai kekasihku!
sepenuh waktu aku berdoa dan mengaji
di gigir malam paling sunyi
kubiarkan bintang-bintang berlayar
mendayung perahu
menuju muara tak bertepi

Kulintasi api dan cahaya!
mendaki rindu di bukit cinta

2003



WAKTU DOA DI PAGI BUTA

Waktu doa di pagi itu, di antara lumut hijau yang beku
aku terbangun dan gagap, kata-kata jadi lenyap
tak ada lidah untuk bertanya pada segala
kenapa gempa dan ombak itu bergolak
menangkup rahasia el-maut di tengah kota

Lalu aku berenang di sela batu karang
mengembangkan sirip waktu dan kesaksian
seperti ikan mencari cahaya di tengah gelombang
ketika air garam mengencangkan otot-ototnya
menjalarkan rasa perih ke seluruh tubuhku
sampai aku tak berdaya di gigir pelabuhan
mendengar gema adzan dari pucuk pepohonan

Dan subuh telah berpisah dengan matahari
gelegar badai menggulung perkampungan
juga lembah dan daratan di sepanjang pantai
berjuta luka menjerit dalam kegaduhan
jiwa-jiwa mengukuh di antara benda yang rubuh
lalu berdiri dan berdoa untuk terakhir kali

O laut biru, sungai biru
dzikir air yang mengalir
bawalah syahadat kami
menuju langit Yang Tinggi

Begitu cepat, serupa kilat menembus gelap
kematian berguling dari lantai ke dinding
jasad-jasad berbaur dengan lumpur
mengaduk rasa pilu di bumi subur
cinta, derita dan airmata
membawakan mawar pada semua
sampai cahaya kembali bersinar
di atas kubah dan menara

Masih adakah tasbih laut-mu
untuk mengenang doa terakhir di pagi itu?

2005



WAKTU API MEMBAKAR RINDU

Engkau api dan hujan di musim semi

Waktu api membakar rindu
separuh tubuhku jadi belerang
arwah cinta bangkit kembali dari kuburan
mengirim bangkai para pengkhianat
dalam tengkorakku, dada merah jambu
jenjang leher angsa penuh bulu
menari bagai panas tanpa bayangan
meremuk daging dan tulang nafsu
antara tidur dan mimpiku

Engkau api dan hujan di musim semi

Waktu hujan menyiram rindu
separuh tubuhku menjadi ladang
tempat bersemi segala pujian
tak ada cinta yang berjamur di dada
kalimat tanpa jasad, pohon dan bunga
mencari jejak semesta di tengkukku
daun-daun menghijau dalam keemasan
menanggalkan duri dari tangkainya
antara hidup dan matiku

Engkau api dan hujan di musim semi
matamu kilat menembus dinding batu
keringatmu parfum sepanjang hari
separuh jiwaku menjadi abu
separuhnya lagi jadi tanaman

2006



LAYAR KOSONG

Aku mati jadi mineral
ruh pun berlayar
menuju ke tempat asal

Kecapi abad tak terdengar lagi
lenyap segala dalam riuh dunia
bangkai-bangkai babi
sejarah satu mata
jadi beban di bumi

Anak bangsa bermimpi
terbang tanpa sayap
munuju ke langit tinggi
melintasi gugusan asap
pulau-pulau dan hutan api
mencari jejak katulistiwa
dalam neraka lima benua

Layar kosong
kata-kata gosong
penyair pergi
menyusur kolong
di negeri sendiri

Rubuh kota dalam gempa
raga dan jiwa berpelukan
mencari silsilah keabadian

2006



DOA SEPASANG GANGGANG

Seperti batu dibanting rasa cemburu
anak cintaku terguling dari ayunan
menyulut jerami di antara tidur dan jaga
hingga asapnya memenuhi pipa paru-paru
dalam dadaku – sepasang rusuk mahligai
menilap radang kata dari lembaran buku-buku

Satu menghilang di cermin
mendekap bayangmu tanpa yang lain
dari mula sampai akhirnya

Aku pun mengaji dan keluar dari lubang jeruji
menjadi tukang las di gerbang pintu rumahmu

menyambung ruas baja dan potongan besi
dari masa lalu – leleh keringatku kolam ikan
tempat berenang sepasang ganggang
menjaga rinduku sepanjang siang dan malam
mengusap airmata doa – mengucap doa airmata

Lalu gerimis menghilang di udara fana
tak ada gunanya pipi lembab dan batu nisan
jika tangis bergema hanya sampai telinga

Maka kulepas gelembung duka itu dari semestamu
dari lingkaran usus duabelasjari di lambungku
saat cinta mengikat kembali sayap-sayapnya
di punggung rindu – aku berdiri tanpa beban
memanggul kenangan dari segala penderitaan
berjalan dan terus berjalan di sisimu selamanya

Apalagi yang masih sembunyi -- kekasih!
sebab jejakmu telah tergambar di telapakku
dan darahmu juga mengalir dalam resahku

2007



ORANG PESTA DI BALIK PUNGGUNGMU

Kilat pedangmu menusuk dadaku
berulangkali – aku tersungkur dan berdiri
meliuk bunga matahari tanpa angin
sendiri – membentang pelangi
rajah senja di halaman rumahmu

Mengucur juga akhirnya darah cintaku
merembes ke tanah jadi bayangmu paling indah

Dan biarkan luka itu menganga
bagai mulut si bayi merindukan airsusu ibunya
di ceruk malam – mengisap cahayamu
sampai bulan dan bintang terasa ngilu
sekujur tubuhku – tisikan tato menghitam

Lalu aku bermimpi orang pesta di balik punggungmu
menyantap gulai dari jantung dan hatinya sendiri

Hutan dan taman terbakar – anak waktu terkapar
barisan asap merapat – mengusung lencana
dari ruang diskotik dan kamar mayat
kakek nenek mati bersama – para pahlawan
menjelma arang dalam tungku perapian

Kembali nyeri dadaku membaca surat-suratmu
mengeja kata cinta yang berkilat di langit senja itu

2007



BULAN PECAH DI KOTAKU

langit kaki
bulan pecah di kotaku

Gerak bumi menggerus dinding batu
menyusuri jejak kaki rumah-rumah tua
di antara kilat dan cahaya kematianku

kapak berayun
membelah dada kegelapan

Darah putih menyembur ke empat penjuru
menggulung perihku tanpa gugusan bintang
seratus tahun menghilang dari gundukan waktu

keluh berbaris
mengusung keranda tubuh amis

Kubur-kubur menganga seperti jalan berlubang
saat sunyi memburu bayangku di tengah malam
dari kekosongan menuju kekosongan

sembarang mimpi
di atas ranjang kawat berduri

Lalu surut menggigil dalam selimut warna bunga
rasa pahit butrowali menjelma gula di lidahku
betapa manis duka itu jika ditelan bersama getahnya

2007

Jawa, Tambang Sastra Pascamitos*

S. Jai**
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

Mula-mula adalah kata. Jagad tersusun dari kata," tutur penyair Subagio Sastrowardoyo. Namun, meyakini nenek moyang segala ilmu, juga tentu saja kata adalah mitos, juga sah. Jauh sebelum kata-kata diperas, diperah sampai apuh beban artinya, mitos lebih dahulu menyingkap makna sampai akarnya yang purba.

Tidak banyak yang meyakini hal itu dan mungkin hanya sastrawan yang sadar menghidupkan kata bahwa kata juga seperti manusia. Seperti juga manusia, ia tahu bagaimana harus hidup, bercinta, dan menyusun pikiran besar melunasi hasratnya pada alam cita. Seperti halnya sedikit yang tahu peristiwa kelas dunia baru usai digelar, yakni Pesamuhan Budaya Panji Internasional Ke-2 di Trawas, Mojokerto.

Sayang, gemanya tidak terdengar menggaung sampai dalam, apalagi membayang hingga bisa diterbangkan alias inspiratif. Padahal, itu yang mestinya terjadi di wilayah tambang mitos bernama Jawa. Betapa dari salah satu versi mitos Cerita Panji justru bisa ditangkap bayang keindahan cinta meski dari sebentuk cerita rakyat yang semula dihargai murah karena dinilai tidak bermutu dan rendah.

Cerita Panji itu sejenis cerita rakyat yang penyebarannya berkembang sampai ke pulau-pulau di antara, tumbuh subur terutama di Jawa dan Bali serta beberapa di pelosok-pelosok kepulauan Nusa Tenggara Barat. Cerita rakyat tentu ada muara dan asalnya. Profesor Purbatjaraka menduga kuat penulisan Cerita Panji baru terjadi pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit. Hal itu karena cerita berlatar belakang sosial politik Kerajaan Jenggala dan Kediri itu dibuat setelah ingatan orang akan kerajaan itu sudah agak samar. Sementara mengenai penyebarannya, Profesor CC Berg memperkirakan terjadi pada zaman Singasari melalui ekspedisi Pamalayu ke Nusantara oleh Kertanegara tahun 1297.

Mula-mula Cerita Panji ditulis para pujangga dalam bentuk tembang macapat dalam bahasa Jawa kuna. Namun dalam perkembangannya, banyak kisah percintaan dan perjodohan putra mahkota Kerajaan Jenggala serta putri Kerajaan Kediri ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa. Ada Panji Sekar, Panji Raras, Panji Dhadhap, dan Serat Panji. Lebih dari itu, ternyata Cerita Panji sangat berpengaruh dalam penulisan sastra sesudahnya. Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito menulis Kitab Panji Jayeng Tilam dalam bahasa Jawa. Sumosentiko menulis Babat Kediri.

Kitab Babat Kediri mengisahkan, setelah Anggreini istri pertama Panji meninggal, Panji Yudarawisrengga menolak untuk dikawinkan dengan saudara sepupunya, putri Prabu Lembu Merdhadu di Kediri. Kemudian Panji meninggalkan Jenggala dan pergi ke Ngurawan, tempat Prabu Lembu Pangarang, pamannya, bertakhta. Di sini Panji menikah dengan putri pamannya, Dewi Surengrana.

Perang antara Kediri dan Hindustan pecah karena lamaran Raja Hindustan, Kelana Suwandana, kepada Dewi Candra Kirana ditolak. Akhir cerita, Prabu Kelana tewas dan Panji menikah dengan Candra Kirana. Namun, Surenrana tidak suka dimadu. Ia pencemburu dan giginya selalu dikerot-kerotkan karena menahan dendam serta benci kepada Candra Kirana. Ia dijuluki Dewi Thothok Kerot.

Mitos Cerita Panji menjadi sangat populer karena kisahnya lebih gampang dicerna masyarakat ketimbang kitab-kitab kebudayaan adiluhung karya pujangga-pujangga keraton. Cerita Panji lebih merakyat meskipun tidak perlu mengatakan buruk dalam seni sastra yang kurang bermutu pada zaman tradisi Hindu masih kuat.

Mengenai Tuhan

Hal yang amat menarik adalah analisis Zoetmulder dalam Manunggaling Kawula Gusti. Dalam diri Panji, kita berjumpa dengan gambaran mengenai Tuhan yang menampilkan diri di dunia. Ia seolah- olah meninggalkan kedudukannya yang asli selaku Zat Mutlak lalu mengembara jauh di luar negeri-Nya, terlindung samarannya sehingga hanya mereka yang terpilih dapat mengenal-Nya. Jenggalane nut tan adoh, Jenggala tan katilar (Megatruh Serat Centini). Dari teks Asmaradana, wayang topeng dengan kisah pernikahan Panji dan Kirana, Zoetmulder mengulas ada pesan bahwa manusia bisa tersesat oleh apa yang mereka anggap kenyataan.

Hyang Sukma menyembunyikan diri dalam badan manusia sehingga manusia tidak melihat Dia dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai topeng. Bisa dipercaya muasal Cerita Panji itu subur tatkala Prabu Kameswara I berkuasa. Pasalnya, sesudahnya Prabu Jayabaya-berkuasa pada 1135-1157-melakukan hal serupa dengan menutup pertikaian Kerajaan Jenggala dan Kediri sebagai kenang-kenangan belaka.

Dia memerintahkan Mpu Sedah dan Penuluh menulis kitab Bharatayudha. Kitab itu mengakhiri cerita buram Jenggala dan Kediri. Tentu saja sebagai alat legitimasi baru, kitab itu bertujuan membunuh mitos-mitos sebelumnya terkait dengan raja-raja Jenggala maupun Kediri. Sayang, kitab itu terlampau agung dan berbahasa Jawa dengan kadar sastra yang tinggi. Cerita Panji kukira luput dari pembunuhannya, bahkan mengilhami banyak kitab besar sesudahnya.

Dengan kata lain, ini menjadi klasik dan menjadi tambang emas sastra pascamitos. Kelak sangat mungkin menjadi tambang sastra dalam sebentuk kisah atau hikayat yang tidak perlu diragukan lagi mutunya. Tentu saja tanpa harus meninggalkan watak aslinya, nuansa tradisi tutur di dalamnya. Sastra yang kaya falsafah atas nama cinta-cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan, apalagi kehilangan hak milik saya sebagai individu kreatif. Cinta yang sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tidak sanggup menampung kandungan isinya. Tapi juga karya sastra berlandaskan falsafah atas nama cinta yang tidak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata. "Hyang Sukma menyembunyikan diri dalam badan manusia sehingga manusia tidak melihat Dia dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai topeng".

**) S Jai Center for Religious and Community Studies, Surabaya.
*)Kompas JaTim,12Des2008.

Sampah

A Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/

Sampah? Sudah melebihi jajaran pegunungan, bahkan sudah punya keinginnan untuk membentuk galaksi. Mengalahkan Bima Sakti. Entah mulai kapan keinginan itu mulai tercipta. Yang pasti sejak mereka mampu membentuk planet sampah lengkap dengan satelitnya.

Aku tak tahu bagaimana mereka berkomunikasi. Keakraban muncul. Berkembang biak tanpa perkawinan yang berarti. Yang aku tahu keinginan mereka, dalam kacamata mereka, baik dan tulus dari hati nurani. Menggalang persatuan demi mewujudkan cita-cita mereka.

“Bagaimana kita bisa berkembang biak cepat di bumi ya?” ucap salah satu sampah yang menyerupai botol, “padahal manusia sangat punya keinginan memusnahkan kita.”

“Itu gampang,” kata salah satu sampah yang hancur, tak berbentuk, tak menyerupai apapun, “kita bisikkan pada industri untuk membuat kemasan yang tidak bisa didaur ulang dan tidak mudah terurai oleh bakteri. Seperti diriku yang kian hari makin hancur oleh bakteri sialan ini. Bentukku sungguh menyedihkan.”

“Ya…ya. Boleh juga. Lantas bagaimana tentang rencana kita untuk menyingkirkan manusia dari bumi.”

“Tentu saja akan kita lakukan. Semua koloni seantero jagad juga sudah siap. Tinggal mengatur strategi saja.”

Aku bahkan tidak percaya, langkah mereka sudah sedemikian jauhnya. Bahkan manusia yang menciptakan mereka, ingin mereka singkirkan. Apalagi dengan rencana mereka yang ingin berkembang biak besar-besaran. Makin membuatku khawatir.

Manusia memang hanya mampu berpikir tanpa bisa mewujudkan pikiran itu. Sementara mereka, sampah, bisa mewujudkan keinginan mereka dengan setiap tidakan yang dilakukan manusia. Layaknya dapat dikatakan bahwa mereka sudah memiliki setiap diri mereka sendiri. Sedangkan manusia hanya memiliki sampah dari dirinya.

Bahkan pikiran yang seharusnya menjadi kelebihan dan kebanggan manusia, sekarang, menjadi sampah. Pikiran sampah. Tak pernah terdengar, tercampakkan yang pasti, kegemilangan dari kecerdasan pikiran. Semua hanya mampu menciptakan sampah baru.

Kuberanikan diriku menghadap pada jutaan sampah. Dalam keadaan sedang diskusi dan menyiapkan strategi. Dengan sedikit risih yang muncul. Kulihat di jajaran sampah pemandangan yang tak lulus sensor. Tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Tak juga kaget dengan kedatanganku.

Leleran cairan hasil hubungan mereka pun tercecer tak tertampung. Cairan yang seharusnya berada dalam rahim. Menjadi calon orok. Kupahami itu karena aku tahu kalau mereka hanya memiliki kelamin tanpa rahim. Sungguh pemandangan yang luar biasa biadabnya menurut orang-orang suci.

“Hai sampah! Jangan kau terlalu berani pada manusia. Manusia juga punya rencana menghancurkan kalian,” ucapku, “bukan hanya menyerahkan kalian pada bakteri saja, tapi lebih dari itu kalian tidak akan bisa berkembang biak karena akan kuciptakan sendiri kemasan atau benda yang bisa dipakai lagi dan tidak akan dibuang.”

“Bagaimana kau akan melakukan?” jawab salah satu sampah yang hampir tidak berbentuk, yang tadi bercakap dengan botol sampah, “kami tahu itu akan hanya ada dalam pikiranmu. Atau paling tidak, jika terwujud hanya akan ada padamu saja. Kami akan tetap berkembang biak melalui pikiran dari manusia lainnya bukan kau tentunya.”

“Kau akan kubakar!”

“Dengan apa kau akan membakarku? Kalau kau membakarku tentu dengan mudah aku menjadi sampah baru. Sampah udara. Dengan mudah aku dapat berkembang biak. Membuat sampah baru lagi. Sampah manusia.”

“Bagaimana caranya? Kau hanya sampah dan bagaimana kau bisa menjadikan manusia sebagai sampah. Bukankah sampah tetap menjadi sampah dan manusialah yang menghasilkanmu.”

“Aku hidup. Ya, karena aku hidup sekarang. Dengan bentukku sekarang, kusengat penciuman manusia. Dan kalau kau bakar aku, aku dengan mudah dapat masuk ke paru-paru manusia, aliran darah, jantung, otak, bahkan setiap lubuk hati manusia. Manusia akan lumpuh, tak punya perasaan lagi. Yang akan menjadi sampah kami berupa tubuh yang sudah ditinggalkan rohnya. Atau tubuh yang sudah ditinggalkan otak dan pemikiran tentang kami.”

Tumpukan-tumpukan sampah berloncatan di hadapanku. Memperlihatkan diri kalau mereka hidup. Sempat aku terheran. Bagaimana mereka hidup? Sementara mereka hanya barang mati tak berharga. Bentuk mereka pun tak pantas dikatakan sebagai makhluk hidup. Siapa yang memberi mereka nyawa? Atau mereka hidup dari baterai atau semacamnya tapi tak kulihat itu pada diri mereka.

“Hai sampah,bagaimana kau hidup?” tanyaku.

“Aku hidup dari pikiran manusia, nyawa kami dari hasil pemikiran yang dituangkan pada diri kami.”

“Lantas, semangatmu?”

“Kami dapat semangat juga dari pemikiran manusia. Selain dari perasaan senasib kami, sesama sampah, bertemu dengan saudara-saudara yang lain di tempat manusia mempertemukan kami.”

Semakin terperangah aku dibuatnya. Bagaimana mungkin sampah mempunyai perasaan. Punya semangat juang. Sementara manusia saja kadang-kadang tidak mempunyai perasaan. Tidak punya semangat juang untuk membasmi sampah-sampah ini.

Aku merasa semakin terpojok dengan sampah-sampah ini. Tak heran kalau mereka sudah bisa membentuk gunung. Planet dan satelitnya. Lantas bagaimana jika mereka menyerangku? Apa yang bisa kulakukan? Untuk lari pun tak mungkin. Karena setiap memandang hanya kutemukan sampah. Tanah yang kuinjak layaknya berubah menjadi lautan sampah.

“Ehmmm…,Tuan Sampah, bagaimana kalau manusia dan sampah saling berdamai? Hidup berdampingan, saling membantu, dan bertenggang rasa.”

“Tidak bisa. Manusia sudah memperlakukan kami tidak sewajarnya.”
“Maksud, Tuan?”

“Kau lihat sendiri, kami dibuang ke angkasa luar setelah bumi tak mampu lagi menampungnya. Untungnya kami bisa membentuk jajaran planet. Jadi kami bisa hidup. Enak saja mau damai! Kami akan menumpas habis manusia, mengusirnya dari bumi.”

“Ke mana Tuan akan mengirim kami?”

“Jelas ke angkasa luar. Sama seperti mereka mengirim saudara-saudara kami. Biar merasakan betapa tidak enaknya hidup di luar orbit.”

Gundukan-gundukan sampah mulai berdiri. Mengelilingiku. Nyalang mata mereka penuh emosi. Kepalan tangan mereka memaksaku memperbesar rasa takutku yang ada.

Aku mulai berpikir kalau mereka ada dan hidup seperti saat ini. Atau keinginan mereka untuk menyingkirkan manusia itu benar adanya. Barisan mereka yang kuat semata-mata disebabkan kelalaian kami. Menganggap remeh sampah. Aku teringat ketika koloni mereka tak begiu banyak. Mereka tak punya kekuatan. Tapi tata ruang tempat tinggal kami memberi peluang mereka berkembang pesat. Kebiasaan kami, membuang mereka sembarangan, sering dimanfaatkan mereka.

“Eh…, begini,” tubuhku mulai bergetar, “Tuan Sampah bagaimana kalau Tuan kami pergunakan lagi.”

“Manusia? Menggunakan sampah? Untuk apa? Dan mana mungkin? Kami tahu kebiadaban manusia. Penginkaran-pengingkaran yang mereka lakukan. Bahkan sesama manusia. Menciptakan lingkungan tanpa kami katanya. Mana buktinya? Semuanya hanya omong kosong. Apalagi janjimu seorang diri. Bagaimana kami bisa percaya?”

“Lantas mau Tuan apa?”
“Manusia harus menjadi budak kami!”

“Mana mungkin Tuan. Kami sebenarnya yang diciptakan Tuhan untuk lebih berakal. Bukan sampah. Itu tak mungkin terjadi karena derajat kami sebenarnya lebih tinggi dari sampah.”

Gundukan-gundukan sampah mulai menghantamku. Memegang erat tubuhku. Bahkan ada yang sempat masuk ke dalam tubuhku melalui rongga hidung, mulut, telinga, anus. Aku mersakan otakku diremas sampai pecah. Darahku pun mulai muncrat keluar. Jantungku mereka keluarkan. Bahkan seluruh isi perut sampai terburai keluar. Hatiku pun mereka sayat-sayat menjadi potongan kecil-kecil. Sampai kudapati diriku sudah menjadi sampah.

Gresik, 17 April 2006

BELAJAR MENULIS DARI MARDILUHUNG*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Ketika beberapa waktu lalu HU Mardiluhung menjadi pembicara di SMA Immersion Ponorogo, dia lebih banyak bercerita tentang apresiasi puisi dan bagaimana membaca puisi. Dalam perbincangan informal di rumah, di jelang pagi, Mardiluhung mengungkapkan beberapa hal menarik berkaitan dengan proses kreatifnya: (a) bahwa proses kreatif itu sebenarnya tidak bisa diceritakan, (b) bahwa menulis ternyata mengalami fase kritis (krisis), (c) menulis itu harus peka situasi karena itu sering mengamati kejadian sosial, dan (d) menulis itu butuh risearch.

Mardiluhung memang seorang guru, yakni pengajar di SMA NU Tuban. Tetapi, dalam dunia kepenulisan jika seseorang ingin belajar menulis maka dia pun guru menulis. Untuk itulah, kini ia hanya mengajar bahasa Indonesia khusus spesifikasi menulis. Setiap minggu satu jam pelajaran. Unik?

Saya sendiri tidak tahu mengapa Mardiluhung bilang bahwa menulis tidak dapat diceritakan. Mungkin karena proses seseorang menulis memang terjadi di bawah sadar, tetapi ini pun sebenarnya dalam teori relaksasi justru dapat ditelusur karena hal itu terjadi dalam wilayah gelombang alfa dan teta. Artinya, mimpi (teta) sekalipun dapat diceritakan apalagi proses kreatif yang berlangsung (kira-kira dalam wilayah alfa) kok tidak bisa diceritakan. Tapi bagaimanapun karena itu proses kreatif yang bersifat pribadi, personal, maka pengakuan seperti ini pun bukan hal aneh. Bukankah kepenulisan kreatif itu sendiri sebuah keanehan?

Pengalamannya tentang proses kreatif yang “unik” inilah, barangkali yang kemudian mengokohkan puisi-puisinya. Memang, HU lebih banyak menulis puisi daripada ulasan atau esai. Sepengetahuan saya, Mardiluhung baru menulis cerpen sekali. Tetapi untuk kepenyairannya dia boleh dibilang kokoh, jadi ikon angkatan 2000 yang dikukuhkan oleh Korri Layun Rampan. Di situlah, lagi dapat dipahami mengapa proses kreatif menulis puisinya tidak dapat diceritakan karena memang proses ini terjadi pada saat mooding. Istilah orang Jawa, dhong-dhongan. Lek ora pas dhong juga gak bisa.

Sebelum hadir di Ponorogo, saya memang sudah mengenal Mardiluhung tiga lahun lalu ketika di Bogor. Saat itu, memang ia sudah kelihatan “gendheng” di antara guru-guru bahasa Indonesia yang lain. Kegendhengan ini, kemudian dapat pembenaran dari Maman S. Mahayana yang mengatakan begini, “Jadi guru bahasa Indonesia memang harus gendheng”. Ungkapnya disambut riuh para guru yang gendheng pula. Saat itu pula, Taufik Ismail menceritakan pengalamannya diundang di Hongkong oleh para Cerpenis Urban di sana, sampai kemudian Taufik mempertanyakan motivasi menulis para guru.

Kedua, ternyata menulis seperti pula kehidupan pada umumnya. Artinya, mengalami krisis pula. Pengalaman Mardiluhung hampir 2-3 tahun dia mengalami krisis itu, yang anehnya memang tidak dapat dipaksakan (hal ini diceritakannya saat perjalanan Bogor-Ponorogo). Apa yang dilakukan? Ya, mengalir saja. Gak usah dipaksa, katanya. Pengarang dan sastrawan lainnya memang banyak juga yang mengalami hal demikian. Untuk itu, jika Anda nanti sudah mulai menulis, berjalan, tetapi kemudian mengalami krisis, gak usah risau. Memang hal itu terjadi secara “alami”.

Pada saat krisis ini, sepengetahuan saya memang ia sedang terlilit masalah hidup. Persoalan kesandung dalan alus, kecocok lancupan sing tanpa ngelancupi. Dia jatuh cinta lagi, dan aneh memang, seperti rekaman perjalanan dunia lucu yang seringkali membuat orang lain geli. Wajar? Ia, namun sebagaimana umumnya manusia, penulis pun bukan hal haram jatuh cinta meskipun sudah berkeluarga. Bukan penulis pun ternyata jauh lebih banyak, apalagi penulis memang kelebihan imajinasi.

Menulis menyatu dengan kondisi, inilah hal lain yang dapat dipelajari. Sebab memang menulis seringkali terpancing inspirasinya dari kehidupan realitas sosial. Tak heran, jika puisi-puisi Mardiluhung juga berbicara lokalitas Gresik dengan berbagai pernik kehidupannya. Tak heran jika ia berbicara juga tentang laut dan nelayan sebagaimana Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahhman dan penyair muda M. Faizi.

Terakhir, dan ini merupakan gejala penulisan karya sastra mutakhir adalah perlunya research dalam menulis, termasuk menulis puisi. Mardiluhung kini sedang menyelesaikan kumpulan puisi yang ditulis berdasarkan research lapangan di pulau Bawean. Sebuah reportase estetis? Mungkin. Tetapi juga tidak, karena karya sastra hakikatnya sebuah dunia tersendiri. Dunia imajinasi dengan tokoh imajinasi pula, sebuah dunia puisi dengan aku liris imajinasi pula, sebuah sapa pembaca dengan pembaca imajinasi pula.

Untuk ini, jika kita jujur belajar dari kepenulisan Mardiluhung barangkali kita perlu sesekali research, mengamati situasi lokal, peka krisis, dan gak usah terkejut ketika menulis kemudian ditanya tentang bagaimana proses kreatif kok tidak dapat menceritakannya. Sebagaimana pernah menjadi perdebatan tentang puisi Malam Lebaran Sitor Situmorang, maka proses kreatif tidak penting untuk diceritakan. Menghilangkan dimensi penafsiran, karena sifat situasionalisasi hanyalah bersifat kilasan, karena itu, hanyalah bersifat inspiratif. Bukan potret.***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Minggu, 21 Desember 2008

2008

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda, Pak Amat ingin menyepi. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara, tidak tidur dan tidak makan dan minum, pendeknya melakukan tapa selama satu hari.

Yang pertama protes adalah Bu Amat.

“Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati, untuk membunuh Niwatakawaca. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?”

“Ya, menghayati kembali apa itu Indonesia.”
“Untuk apa?”

“Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. Kita perlu mengingat cita-cita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia.”

“Hanya itu?”

Amat berpikir.

“Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan …….. .”

Bu Amat tak sabar.

“Ah kalau cuma maunya itu, tidak usah susah-susah bertapa, lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan, ada tiga sekaligus hari ini. Nanti jawaban satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan, sebab aku masih ingat, itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD.”

Amat tak bisa membantah, akhirnya ia mengomel pada Ami.

“Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Begitulah manusia, sama saja dengan kendaraan. Makin lama, meskipun dipelihara, tetap saja makin tua makin merongrong.”
“Iiih kebangetan, masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan.”
“Lho ini kenyataan. Ya bukan hanya Ibu kamu, kita semua manusia begitu, Bapak juga.”
“Bapak terlalu sinis!”

“Habis, masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. Kalau semua orang seperti ibumu itu, nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter.

Tanpa kepribadian. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi, perpecahan. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif, Ami. Kamu sendiri sering bilang, perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Benar tidak?”

“Kalau itu memang, tapi …….”
“Tidak ada tetapi, kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!”
“Ya.”
“Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!?
“Ah masak! Itu kan kata Bapak!”

“Yakin. Lihat saja ketika hak cipta batik, tempe, keroncong, Rasa Sayange, reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang, pejabat-pekabat kita tidak peduli, seakan-akan itu bukan urusan mereka. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor, kurang waspada. Baru kalau kepalenya sendiri digondol, langsung mencak-mencak mengerahkan massa!”

“Itu pejabatnya saja yang geblek, bukan semua kita!’

“Ah sama juga, pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Coba kritik Ibumu, supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!”

“Maksud Bapak, supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?”

Amat nyengir.

“Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!”

“Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!”
“Lho memang, untuk mendapatkan pencerahan batin!”
“Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?”
“Maksudmu?”

“Kata Ibu, Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. Bapak kali mau menikmati itu?”
“Ah dasar, kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!”

Ami tertawa. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Tapi ternyata bukan tiga, ada empat acara pernikahan. Tempatnya berjauhan. Dari pagi hingga malam , seperti kambing congek Amat salam-salaman. Pulang ke rumah, badannya rasa hancur digiling. Perutnya gembung karena kebanyakan makan, tetapi kakinya hampir copot.

Sampai di rumah, baru hendak melepas baju batik, tiba-tiba datang tamu. Terpaksa Amat berbasa-basi melayani, karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. Itu bukan silaturahmi lagi, tetapi siksaan.

Begitu tamu pulang, Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi, terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga.

“Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!”

Amat kesal. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Masalahnya sama, kata-katanya juga sama. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga, jadi lebih sering ngelayap. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian, mulai kesal. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah, karena kesal melihat ulah suaminya..

Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Bu Amat tersentak bangun, langsung minta Amat keluar, untuk melerai. Mula-mula Amat tidak mau, tapi ketika terdengar suara perkelahian, apalagi pintu rumah diketok tetangga, Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya, lalu keluar.

Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman, Amat selalu dianggap sebagai kunci. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu, ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat.

Biasanya kalau Amat datang, cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Ia sudah menghunus parang.

Untung Amat tidak terlambat. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu, sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Amat dengan sabar melerai. Ia dengarkan keluhan keduanya. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Tiga jam semuanya baru terkuras. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi, gembos dengan sendirinya, kemudian perdamaian dimulai. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa.

Sudah lewat tengah malam, ketika Amat masuk ke dalam rumah. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Ami juga sudah pulas. Tinggal Amat sendirian.

Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak, sekarang perutnya keroncongan. Tetapi sial, begitu membuka tutup nasi di meja makan, Amat kecewa lagi. Tidak ada apa-apa di situ. Air matang pun habis.

Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Ia marah. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Ia manjakan istri dan anaknya. Ia tidak pernah marah. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri, sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Tidak pernah menuding orang lain. Ia lebih banyak menyesali kekurangannya sendiri. Tetapi ternyata balasannya tak ada.

Amat duduk terhenyak.

“Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Aku ternyata sendirian,”keluh Amat.

Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Tapi tak bisa. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial.

Tiba-tiba mendesak rasa haru. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. Bahkan ketika mulai punya pacar, semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan.

Kasihan pada dirinya sendiri, Amat menangis. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Tanpa seorang penonton, air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan.

Setelah menangis dalam, Amat merasa lebih lega. Kemudian datang malu, sebagaimana biasanya. Setua sekarang usianya, ia masih saja cengeng. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan, untuk dikeluarkan lagi nanti, kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas.

Amat bangkit dari kursi, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Lampu kamar belum dimatikan. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur, seperti seonggok kayu yang tumbang. Ia memandangi istrinya lama. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Kelihatannya sangat nikmat. Ia tidur mati, terhanyut begitu jauh. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar, kesal, sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek.

Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar, keluar ke teras.

Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Sekeliling sepi sekali. Hanya kesunyian yang masih terjaga. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Lalu Amat tersenyum.

“Ya hanya kamu temanku, sepi. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Usiamu bertambah, pengalamanmu semakin banyak. Tetapi setiap kali tahun baru, kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Biarlah tak ada yang mencintaiku, biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya, asal masih ada kamu yang menyapa, aku sudah merasa cukup lega, ” bisik Amat dalam hati.

Malam bagai mendengar. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Amat merasa dinina-bobokkan. Baru beberapa menit duduk, ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi.

Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah.

“Kasihan Bapak, seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa, menahan perasannya, “kata Ami.

“Ya, Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam,” jawab Bu Amat, ” tapi apa boleh buat, bapakmu kan memang maunya bertapa, jadi waktu semalam ia masuk kamar, Ibu terus saja pura-pura tidur.”

Amat membuka mata.

“Apa?”
“Ah nggak, Bapak kok tidur di luar. Tidak dingin?”

Amat menggeliat, merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku.

“Aku bertapa.”
“O ya? Dapat panah Pasopatinya?”

Amat menggeleng.

“Aku tidak lulus. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa.”

“Kenapa!”

Amat tertawa.

“Sebab aku bukan Arjuna. Aku tidak mencari panah Pasopati. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari, mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena cemburu buta.”

Bu Amat nyengir karena merasa tersindir.

“Aku untung kalau begitu.”
“Untung?”
“Ya, karena Bapak bukan Arjuna. Arjuna kan doyan kawin.”

“Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. Ibu memang beruntung. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam.”

“Ya?”

“Lama aku perhatikan kamu tidur. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. Kamu nampak lelap sekali. Jadi karena takut mengganggu, aku tidur di luar.”

“O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat.

“Ya. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan, bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan, tetapi karena kita tidak tahu, tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu.

Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri, kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan, akibatnya kita jadi tidak peka, buta dan merindukan yang lain, padahal semuanya itu sudah kita miliki!”

Bu Amat tak menjawab. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. Tetapi begitu sampai di dalam, ia terkejut. Rumah nampaj berdandan. Meja makan memakai taplak baru, di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. Kopi panas, pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. Juga ada buah-buahan.

“Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus.

Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng.

“Tidak ada.”
“Itu untuk siapa?”

Ami menjawab.

“Untuk Bapak kan?!”
“Aku?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena Bapak kemaren sudah bertapa.”
“Apa?”
“Karena Bapak kemaren sudah bertapa.”

Amat ketawa malu.

“Ah sudahlah, itu tidak penting lagi. Untuk apa bertapa, kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren, kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia.”

Amat hendak terus ke kamar mandi. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. Akhirnya ia menghampiri meja, menarik kursi lalu duduk. Bu Amat dan Ami nimbrung.

“Minum saja dulu, Pak.”
“Tapi aku belum mandi.”

“Bapak lupa, bangun tidur, mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan, justru bangun-tidur minum itu sehat.”

“Ya, aku ingat.”

Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. Matanya terpejam karena nikmat.

“Cukup gulanya, Pak?”

Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Kemudian ia meraih pisang goreng.

“Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring.
“Boleh.”

Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar, suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan, pacaran lagi……. .”

Amat bersenandung mengikuti lagu. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik.

“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?”

Ami menggeleng.

“Sudah dibatalkan.”
“Kenapa?”
“Ya dibatalkan saja.”

Amat menggeleng tak mengerti. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya.

“Lho bukannya, kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?”

Bu Amat menggeleng.

“Kan sudah kemaren.”

Amat terkejut.

“Bukannya hari ini?”
“Kalau sudah kemaren, hari ini tidak usah.”

Amat mengernyitkan dahinya.

“Tapi kenapa?”
“Ya nggak apa-apa.”

Tiba-tiba Amat terpagut. Lintasan pikiran itu mengagetkannya..

“Astaga,”kata Amat seperti disambar petir, “kalian sengaja melakukan itu, supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?”

Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi.

“Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?”
“Kalau toh ya, apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele.

Tetapi Amat jadi begitu terpukul.

“Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti, apa yang mereka lakukan,”bisik Amat.

Amat menatap anak istrinya dengan takjub.

“Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita, untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?”

BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa.

Amat terpesona. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh, betapa cantiknya hari itu. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini, yang bebal, buta, tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai, sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya.

Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan.

“Terimakasih,”kata Amat kemudian dengan suara lirih, “terimakasih, kalian sudah menolongku kemaren bertapa.”

Sajak-Sajak Arya Winanda

http://www.korantempo.com/
DI KULIT BATANG RANDU

asmara
mungkin bersemayam
di sebatang pohon randu, sebagai dua nama
tertoreh di kulitnya

di antaranya ada yang lerai
seperti randu, merelakan rindu
daun
dipetik angin berhelai-helai,
yang keras-kepala menggenggam ranting
pada tangkai

suatu waktu, rapat jeruji hujan mengguyurnya
ada kalanya kilau petir menyambar
merobohkan batang randu
berkilat-kilat, menerangi nama sepasang manusia
buah apel dan anak panah tajam yang ditatokan,
berceraian
berserakan
terkelupas bersama kulitnya

terseret arus, timbul-tenggelam di hitam selokan
mengendap
terurai--larut di lingkar air
menguap
ke perut awan
bersama bentakan guruh, terjun
menderas ke arah seorang lelaki yang mematung
kehilangan arah di antara bulir-bulir hujan
terserap ke gigil iga
merembes ke dasar telaga
di bawah pelipis di sisi lengkung alis
menitis
membeku di kelopak bibir ungu
menggerakkan jari lampai yang biru
memahat pusara bagi dua nama
di kulit batang randu suatu waktu
di simpang gang
di jantung kota yang berdetak kencang
ketika asmara
melesat
keluar loka

tersesat
ditatap dingin
delapan mata angin

2008



PAGI

pagi hinggap pada sehelai daun
melayang turun, berayun-ayun

seseorang lelaki mengeram suara hujan di bilik jantung
tengkuknya beku ditiup angin yang melengkung

harum rumput meruap bersama teritis hujan
dengan kaki yang ragu melompat dari punuk awan

begitu murung riak air muka malam, sebelum pagi
laki-laki bermimpi, kelopak bunga lili
gemetar--mekar di halaman begitu sendiri

putih, seputih susu ibu
dan gema ketukan palu
ayahnya, yang melekatkan foto keluarga
di dinding, ditembus runcing
paku, dalam kalbu

gerimis mendesis
menghalau kicau kutilang
mengendap ke balik pakaian
terserap dada lelaki
membasahi kepalanya yang tak lagi pagi

pagi yang menetes di sehelai daun kuning
luruh
digusah dingin angin

menyentuh permukaan kolam
di bawah alis lelaki

berpendaran
berlingkaran

2008

Sabtu, 20 Desember 2008

PERINTIS SASTRA INDONESIA MODERN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sistem penerbitan yang awal dalam kesusastraan Indonesia modern memperlihatkan betapa pengaruh kekuasaan pemerintah Belanda begitu dominan dalam menentukan arah perjalanan kesusastraan bangsa ini. Jika dikatakan, sejarah selalu berpihak pada penguasa, maka itulah yang terjadi dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Riwayat perjalanannya penuh dengan pemanipulasian, perekayasaan, penenggelaman, dan penyesatan. Tetapi lantaran sejarah milik penguasa, bahkan penguasa itu juga sengaja menciptakan sejarahnya sendiri, maka yang kemudian bergulir adalah sebuah mainstream yang menyimpan kepentingan politik penguasa.

Akibatnya memang dahsyat. Riwayat sastra Indonesia modern seolah-olah berpangkal pada Balai Pustaka. Balai Pustaka itu pula yang kemudian menjadi ukuran gengsi sastra Indonesia. Bahasa yang dipelihara Balai Pustaka, juga dianggap sebagai bahasa golongan yang paling tinggi budayanya. Ia menjadi ikon kebudayaan elite. Mencitrakan sekumpulan orang terhormat, terpelajar, dan paling berjasa dalam membangun sastra, bahasa, dan kebudayaan Indonesia. Mereka yang berkarya di luar itu, masuk kategori bacaan liar, roman picisan, bahasa pasar, tak berbudaya, marjinal!

Perhatikan pernyataan A. Teeuw, berikut ini: “Balai Pustaka tidak saja mendorong para pengarang Indonesia supaya menciptakan roman dengan memberikan kepada mereka fasilitas penerbitan yang dalam keadaan waktu itu tidak mungkin diberikan oleh penerbit swasta … akan tetapi biro itu juga menjamin kepada mereka sidang pembaca yang lebih luas … Timbulnya roman Indonesia modern dan juga kepopulerannya, dapat dimungkinkan terutama oleh wujudnya Balai Pustaka….”

Ke manakah para pengarang yang menerbitkan bukunya di luar Balai Pustaka? Ke mana pula pengarang peranakan Tionghoa yang berkarya jauh sebelum Balai Pustaka berdiri? Benarkah karya-karyanya tidak sepopuler terbitan Balai Pustaka dan sidang pembacanya terbatas pada kelompok masyarakat Tionghoa saja? Untuk menempatkan posisi sastrawan peranakan Tionghoa dalam sejarah sastra Indonesia, perlu kita menelusuri duduk perkaranya ke belakang, ke awal mula terjadinya perubahan sosial di Hindia Belanda sebagai akibat perkenalannya dengan percetakan dan penerbitan yang lalu melahirkan suratkabar dan media massa lainnya.
***

Sistem penerbitan di Indonesia ditandai dengan datangnya mesin cetak yang dibawa dari Belanda oleh para misionaris gereja tahun 1624. Tetapi, tiadanya tenaga ahli yang dapat menjalankan mesin itu, menyebabkan tak ada kegiatan apa pun berkenaan dengan percetakan. Pada tahun 1659, Cornelis Pijl memprakarsai percetakan dengan memproduksi Tijtboek, semacam almanak. Setelah itu, kembali kegiatan percetakan menghadapi tidur panjang. Menurut catatan J.A. van der Chijs (1875), produk pertama percetakan terjadi ketika disepakati perjanjian damai antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin, 15 Maret 1668 yang kemudian menghasilkan naskah Perjanjian Bongaya. Sejak itulah VOC (Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost—Indische Compagnie) mulai memperkenalkan hasil-hasil cetakannya berupa kontrak dan dokumen perjanjian dagang.

Selama hampir empat dasawarsa, perkembangan percetakan masih seputar mencetak dokumen-dokumen resmi, meski pernah pula ada usaha untuk mencetak kamus Latin—Belanda—Melayu sebagaimana yang dilakukan mantan pendeta Andreas Lambertus Loderus (1699). Menyadari makin banyaknya dokumen yang harus dicetak, pemerintah kemudian mendatangkan dua mesin cetak dari Belanda tahun 1718. Pemerintah sendiri menangani cetakan dokumen-dokumen resmi, sedangkan cetakan lain diserahkan pada percetakan swasta. Percetakan pemerintah pun mulai mencetak berita-berita dalam bentuk laporan berkala, ringkasan surat-surat resmi yang dianggap penting, dan maklumat atau pengumuman pemerintah. Percetakan swasta juga mulai melakukan hal yang sama. Bahkan dalam berita berkala itu, disertakan jadwal pemberangkatan dan kedatangan kapal, daftar harga komoditas pertanian sampai ke pengumuman lelang berikut daftar harga barang. Iklan pada akhirnya menjadi bagian penting dari cetakan berkala itu. Cetakan berkala itulah yang kelak menjadi cikal-bakal lahirnya suratkabar.

Percetakan swasta mengembangkannya dengan menerbitkan suratkabar (courant). Awal tahun 1800-an, beberapa suratkabar berbahasa Belanda umumnya terbit dalam usia yang pendek. Problem utamanya tidak lain menyangkut biaya dan minimnya jumlah pelanggan. Dari situ, mulai dipikirkan sasaran pembaca potensial, yaitu masyarakat non-Belanda yang bisa membaca. Bahasa Jawa kemudian menjadi pilihan. Lahirlah Bromartani, suratkabar mingguan berbahasa Jawa pertama yang terbit 25 Januari 1855. Pada saat yang sama terbit pula suratkabar Poespitamantjawarna, juga berbahasa Jawa.

Kedua suratkabar itu pada awalnya terbit dan beredar di lingkungan keraton Surakarta dan kemudian Yogyakarta. Salah satu tujuannya adalah menyediakan bacaan berbahasa Jawa untuk mereka yang pernah belajar bahasa Jawa di Instituut voor de Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa, 1833—1843). Belakangan, penyebarannya sampai juga ke Jawa Timur. Penerbit E. Fuhri di Surabaya kemudian coba menerbitkan suratkabar dalam bahasa Melayu mengingat masyarakat yang bisa membaca dalam bahasa Melayu jauh lebih luas dibandingkan bahasa Jawa. Tebitlah di Surabaya Soerat Kabar Bahasa Melaijoe, 5 Januari 1856. Itulah suratkabar pertama dalam bahasa Melayu.

Pada dasawarsa itu, beberapa suratkabar berbahasa Melayu bermunculan. Sebutlah beberapa di antaranya, bulanan Bintang Oetara (Rotterdam, 5 Februari 1856), Soerat Chabar Betawi (Batavia, 3 April 1858), mingguan Selompret Melayoe (Semarang, 3 Februari 1860), suratkabar Bientang Timoor (Surabaya, 10 Mei 1862), dan mingguan, Biang-Lala (Batavia, 11 September 1867).

Apa maknanya penerbitan surat-suratkabar itu dalam konteks penerbitan buku-buku sastra? Bagaimana peranan yang dimainkan golongan peranakan Tionghoa dalam menyikapi perubahan yang terjadi pada zamannya? Bagaimana pula hubungannya dengan pemunculan sastrawan peranakan Tionghoa yang sesungguhnya merupakan perintis perjalanan kesusastraan Indonesia modern. Ada beberapa faktor yang mendukung munculnya golongan peranakan Tionghoa dalam kehidupan kemasyarakatan di Hindia Belanda pada masa itu.

Pertama, terbitnya sejumlah berita berkala, suratkabar, dan mingguan berbahasa Melayu yang memuat iklan, jelas sangat penting bagi golongan peranakan Tionghoa yang sebagian besar bekerja sebagai pedagang. Mereka sangat berkepentingan mencermati daftar harga komoditas, barang-barang lelang, jadwal kedatangan dan pemberangkatan, dan berita-berita lain yang berhubungan dengan mutasi dan pengangkatan pejabat pemerintah, dalam kaitannya untuk memperlancar usaha dagang mereka.

Kedua, untuk dapat mengikuti dan membaca suratkabar atau berita berkala dalam bahasa Melayu itu, tentu saja mereka dituntut untuk bisa membaca (dalam bahasa Melayu). Pada mulanya, tidak sedikit di antara para pedagang Tionghoa ini yang membayar seseorang untuk membacakan berita-berita suratkabar itu. Dari sana, timbul kesadaran, bahwa anak-anak mereka harus bisa berbahasa Melayu agar mereka tidak perlu lagi menyewa orang untuk membacakan berita-berita itu. Maka, ketika sekolah-sekolah belum leluasa dapat dimasuki oleh anak-anak keluarga golongan peranakan Tionghoa ini, di antara mereka –terutama keluarga kaya—kemudian mengundang seseorang untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak mereka (semacam les privat).

Mengenai hal tersebut, J.E. Albrecht (1881) sebagaimana yang dikutip Claudine Salmon (1985) mengungkapkan bahwa bahasa Cina, selain tidak begitu dikuasai dengan baik oleh keluarga peranakan Tionghoa di Jawa, juga tidak banyak manfaatnya dalam hubungan sosial mereka. Oleh karena itu, banyak di antara keluarga peranakan Tionghoa ini yang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah Eropa atau pribumi atau mengundang seorang guru. “… Anak-anak lainnya diajar di rumah oleh orang Eropa atau Cina, agar dapat menulis bahasa Melayu dalam huruf Latin dan kemudian menggunakan bahasa ini dalam surat-menyurat.”

Ketiga, dibukanya sekolah-sekolah untuk golongan peranakan Tionghoa ini juga memberi peluang mereka dapat belajar bahasa Belanda dan bahasa Melayu mengingat kedua bahasa itu dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah. Maka, mulailah generasi baru golongan peranakan Tionghoa ini tampil sebagai golongan yang menguasai bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Kees Groeneboer (1995) menyebutkan bahwa antara tahun 1823—1900 jumlah peranakan Tionghoa yang bersekolah, baik yang bersekolah di sekolah Raja (Eropa), sekolah Cina, dan sekolah pribumi, jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak pribumi.

Kondisi itu tentu saja berpengaruh bagi kehidupan sosial ekonomi pada masa-masa berikutnya. Tambahan lagi, adanya perubahan kebijakan kolonial yang dijalankan pemerintah Belanda, dalam kenyataannya lebih banyak menguntungkan golongan peranakan (Indo—Belanda, Indo Eropa dan Tionghoa) dibandingkan golongan pribumi. Dengan demikian, posisi pribumi pada masa itu tetap sebagai golongan yang peranan sosialnya berada di bawah golongan peranakan. Di sinilah golongan peranakan Tionghoa lebih siap memasuki terjadinya perubahan sosial dibandingkan pribumi.

Keempat, derasnya usaha untuk mengganti huruf Arab—Melayu dengan huruf Latin dalam bahasa Melayu, memungkinkan penyebaran bahasa Melayu lebih luas dapat diterima. Pertimbangannya, bahwa pemakaian huruf Pegon (Arab—Melayu) dalam bahasa Melayu di sekolah-sekolah menyulitkan orang untuk mempelajarinya. Padahal, bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar. Dengan demikian, untuk memudahkan orang belajar bahasa Melayu, salah satu langkah yang penting dilakukan adalah mengganti huruf Pegon itu dengan huruf Latin.

Kelima, penguasaan bahasa Melayu bagi golongan peranakan Tionghoa ini juga secara tidak langsung menuntut ketersediaan bahan bacaan berbahasa Melayu. Oleh karena itu, ketika bermunculan penerbitan suratkabar, majalah, dan buku-buku berbahasa Melayu, golongan peranakan Tionghoa ini seperti memperoleh saluran yang baik dalam usaha mempermahir penguasaan bahasa Melayu mereka. Di samping itu, kehausan mereka akan kisah-kisah dari tanah leluhurnya, ditanggapi oleh para penerbit itu dengan menerjemahkan cerita-cerita asli Cina. Salah satu karya terjemahan yang terkenal, Kisah Tiga Negara (Tjerita Dahoeloe kala di benoea Tjina, tersalin dari tjeritaan boekoe Sam Kok), telah mendorong bermunculannya cerita terjemahan. Pada dasawarsa 1880-an, sedikitnya ada 40 karya terjemahan dari cerita-cerita asli Cina. Dengan demikian, kelompok pembaca golongan peranakan Tionghoa ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan kelompok pembaca pribumi, bahkan juga Belanda.

Kelima faktor inilah yang mendorong berlahirannya surat-surat kabar, majalah dan penerbit yang dikelola golongan peranakan Tionghoa. Dari sana pula embrio bermunculannya para pengarang Tionghoa. Catatan Claudine Salmon menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan karya penulis peranakan Tionghoa antara tahun 1870—1960 yang berhasil dikumpulkan mencapai 3005 judul. Meski jumlah itu tak memperhitungkan cetak ulang, secara kuantitas terbitan Balai Pustaka tetap kalah jauh, seperti yang dicatat A. Teeuw, berjumlah 400-an karya (1917—1967).

Ketika Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat (Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) berdiri (1908) sampai berganti nama menjadi Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de volkslectuur) 22 September 1917, naskah yang masuk 598 berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Sampai tahun 1928, Balai Pustaka menerbitkan tidak lebih dari 20-an novel, sementara penerbit-penerbit milik peranakan Tionghoa, antara tahun 1903—1928, menerbitkan hampir seratusan novel asli karya 12 pengarang peranakan Tionghoa. Beberapa di antaranya mengalami cetak ulang. Pertanyaannya kini: di kemanakankah dana ratusan golden untuk penerbitan buku oleh Balai Pustaka, jika Balai Pustaka hanya menerbitkan beberapa novel saja. Jelas pula di sini, bahwa sasaran pembaca penerbit swasta adalah masyarakat umum, sedangkan Blai Pustaka adalah kelompok elitis yang jumlahnya terbatas pada golongan bangsawan yang diizinkan bersekolah.

Bahwa peranan penerbit swasta menjangkau wilayah yang jauh lebih luas dengan jumlah pembaca yang jauh lebih banyak, tampak tidak hanya dari persebaran agen dan distributor penerbit-penerbit itu, tetapi juga dari sejumlah karya yang mengalami cetak ulang. Di sinilah muncul kesadaran pemerintah kolonial akan bahaya pengaruh bahan bacaan. Bukankah bacaan-bacaan itu dapat mencerdaskan seseorang dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sekolah (pendidikan). Jika penduduk pribumi leluasa bersekolah dan kemudian pandai membaca, bukankah itu bahaya bagi pemerintah kolonial lantaran kebohongannya selama itu akan terbongkar.

Sangat wajar jika kemudian Dr. D.A. Rinkes, direktur Balai Pustaka ketika itu, mengatakan bahwa buku-buku terbitan di luar Balai Pustaka sebagai “Bacaan Liar” yang dibawa oleh “Saudagar kitab yang kurang suci hatinya.” Jadi, bagaimana mungkin kita menafikan keberadaan sastrawan peranakan Tionghoa dalam sastra Indonesia jika kenyataannya mereka justru yang mendahului sastrawan Balai Pustaka. Bahkan, salah satu alasan pemerintah Belanda mendirikan Balai Pustaka, justru karena keberadaan penerbit-penerbit swasta itu.

Demikianlah, Belanda lewat politik kolonialnya dengan berbagai cara berusaha membonsai pribumi agar tetap berada di bawah hegemoni mereka. Balai Pustaka sebagai bagian politik kolonial, tentu saja harus dicitrakan sebagai lembaga pencerahan. Maka, peranan pihak lain yang sesungguhnya mendorong berlahirannya penerbitan dan kehidupan pers –yang dapat menumbuhkan kesadaran kebangsaan bagi pribumi— harus ditenggelamkan! Oleh karena itu –meski begitu terlambat, kinilah saatnya kita mengembalikan sejarah sastra Indonesia ke jalan yang benar, tanpa manipulasi, tanpa penggelapan, tanpa penyesatan!
***

Kebaya Pengantin

Ida Ahdiah
http://www.jawapos.com/

Ibu minta saya membeli bahan kebaya sutra, warna hijau labu siam, di Toko Delhi, langganan nenek. Bahannya polos, tidak boleh ada sulaman sedikit pun. Tanpa ditanya, ibu bercerita jika sudah menyiapkan sulaman yang akan dibuat penyulam langganannya. Di bagian depan kebaya, ia ingin memberi sulaman bunga kenanga kuning muda. Di sepanjang ujung kebaya dan seputar pergelangan tangan akan disulam daun kenanga hijau tua.

''Minta pada Tuan Rahul kualitas kainnya nomor satu dengan harga langganan,'' pesan ibu.

Toko tekstil itu milik keturunan India. Tokonya yang kecil dipenuhi gulungan-gulungan kain yang ditata menurut kualitas dan harga. Alat ukurnya menggunakan kayu yang sudah tua, kehitam-hitaman. Selalu ada dupa yang mengepul di dekat meja kasir. Terakhir kali saya ke toko itu bersama nenek semasa ia masih ada.

Seumur hidup, setiap hari nenek mengenakan kebaya. Koleksinya selemari. Bahannya dari katun yang sederhana, beludru, brokat, paris, dan sutra. Setelah menikah, seumur hidupnya, setiap hari ibu juga mengenakan kebaya. Ibu tak keberatan mengenakan kebaya warisan nenek, yang masih bagus karena terpelihara dan dipakai sesekali saja.

Ibu juga seorang penjahit kebaya di kota kabupaten. Pelanggannya istri-istri pejabat kebupaten, anggota DPR, kepala polisi, pemilik hotel, pegawai Pertamina, dan para calon pengantin. Namun, sepanjang karirnya, ibu tak pernah meminta saya secara khusus membeli kain di Toko Delhi.

''Kebaya untuk siapa, Bu?'' tanya saya di telepon.
''Untuk pengantin.''
''Mengapa bukan warna putih?''
''Siapa yang mengharuskan kebaya pengantin putih...''
''Tidak pesan kainnya sekalian.''
''Kain sidamuktinya sudah ada.''
''Selendangnya?''
''Aduh, hampir lupa. Tolong belikan juga kain menerawang warna hijau tua. Nanti tinggal diberi sulaman bunga kenanga...''

Semua pesanan ibu itu saya antar pada satu Minggu yang panas. Ibu menyambut saya dengan gembira. Segera ia membuka belanjaan dan mengaku senang, barang yang saya beli sesuai dengan pesanannya. Berulang-ulang ibu memuji kehalusan sutra Tuan Rahul.

''Saroh akan menikah ya, Bu?'' tanya saya.

Saroh menemani ibu sehari-hari. Dia sudah kami anggap keluarga sendiri. Ibu sekolahkan dia dari SD hingga lulus sekolah menjahit. Kini Saroh menjadi asisten ibu.

Ibu menggeleng.

''Ada yang pesan kebaya pengantin khusus warna hijau?''

Lama ibu terdiam hingga akhirnya saya terhenyak mendengar ibu berkata, ''Ibu yang akan menikah...''

''Ibu bercanda, kan?''

Namun, saya melihat mata ibu berbinar-binar. Wajah almarhum bapak melintas. Saya gemetar.

Sepeninggal bapak, saya tak pernah mendengar ibu menjalin hubungan dengan lelaki. Waktunya habis untuk mencari uang, untuk sekolah saya dan Ade, adik saya. Kesibukan tak mengurangi kesegaran dan kesehatannya. Di usianya yang 56 tahun, ibu masih tampak ayu dan berwibawa dibalut kain kebaya.

Beberapa kali saya mencandai ibu untuk menikah lagi. Tapi, ibu selalu menjawab, ''Tidak pernah terpikir. Entah kalau nanti...''

Saya diam-diam bahagia mendengar jawabannya. Kini, tiba-tiba tanpa meminta persetujuan dua putrinya, ibu akan menikah. Siapa gerangan lelaki istimewa itu?

''Ibu mengenalnya sejak kamu dan Ade belum lahir,'' sambung ibu menambah keterkejutan saya.
''Namanya Udin. Dia seorang bupati. Istrinya meninggal tiga tahun lalu,'' ucap ibu lirih.

Nama itu pernah saya dengar dari Bi Uti, adik ibu! Tentu Udin putra tukang becak yang ibu maksud.
***

Bapak adalah guru SMP. Ia meninggal saat saya kelas 3 SMP dan Ade kelas 1 SMP. Pensiunan bapak tak seberapa. Syukur, sejak menikah, ibu menerima jahitan khusus kebaya. Saat itu, hanya ada satu penjahit kebaya di kota, yaitu Encik, istri juragan becak Berdikari. Orang harus menjahitkan jauh-jauh hari sebelum hari H karena panjang antreannya. Salah satu pelanggan Encik adalah nenek. Kebaya pengantin ibu juga buatan Encik.

Ibu belajar menjahit kebaya kepada Encik. Awalnya, keinginan ibu belajar menjahit ditentang keluarga. Sebab, menurut rencana, selulus SMA, ibu akan dinikahkan dengan bapak, putra teman kakek, keturunan keluarga wedana. Ibu berjanji mau menikah setelah belajar menjahit kebaya. Alasannya agar bisa menjahitkan kebaya nenek.

Bi Uti kesal karena harus menunda pernikahannya. Ia tak boleh, dianggap tabu, mendahului ibu menikah. ''Sejak dulu, ibumu itu memang suka cari perkara,'' kata Bi Uti suatu saat.

Alasan ibu belajar menjahit, kata Bi Uti, agar bisa bertemu Udin. Pemuda sekelas yang sigap, anak tukang becak. Udin adalah pacar ibu. Selulus SMA, Udin mengambil kursus montir. Sore ia bekerja di bengkel becak Berdikari. Malam hari kadang mengayuh becak menggantikan ayahnya. Cita-cita Udin bukan jadi tukang becak. Cita-citanya sekolah lagi, jadi pegawai negeri, agar bisa menikahi ibu.

''Udin diajari berselera oleh ibumu,'' cerita Bi Uti, kali lain, sambil terkekeh-kekeh.
''Maksud Bibi?''
''Diajari menyukai bunga.''
''Bunga apa?''
''Bunga kenanga. Dulu di desa banyak sekali pohon kenanga. Kami suka memetik bunganya. Kami selipkan di baju atau buku untuk pengharum. Udin pernah memberi ibumu satu baskom kenanga.''
''Romantis.''
''Nekat, Udin itu,'' Bi Uti tertawa. ''Dia datang ke rumah, melamar ibumu. Keruan saja ditolak mentah-mentah.''
''Ibu bagaimana?''
''Kakek melarang ibumu belajar menjahit lagi. Tiga bulan kemudian, ibumu dinikahkan.''
''Dengan bapak?''

Bi Uti mengangguk dan berkata, ''Ibumu menghilang di malam pertama. Esoknya baru ketahuan kalau dia tidur di kolong ranjang pengantin, ha ha ha...''

Saya pikir itu hanya cerita rekaan Bi Uti belaka. Saya pun tak pernah menanyakan perihal Udin kepada ibu. Apalagi, setahu saya, ibu selalu bertutur dan bersikap baik pada bapak yang pendiam.

Pagi ibu menyiapkan teh manis dan nasi goreng. Jika bapak pulang mengajar, ibu menghentikan pekerjaannya menjahit, menyiapkan bapak makan siang dan menemaninya. Pernah saya melihat ibu menyiangi duri ikan emas untuk bapak. Ibu juga menemani bapak duduk memeriksa hasil pekerjaan murid-muridnya sambil mendengarkan radio BBC London. Sementara ibu menyelesaikan kebaya yang perlu dijahit tangan.

Rutinitas itu tak berubah, kendati sebagai penjahit ibu makin sibuk. Encik melimpahkan sebagian pelanggannya ke ibu hingga ibu mampu menggaji dua orang penjahit. Kesibukannya menjadi-jadi waktu Encik pindah ke Singkawang, menemani orang tuanya yang sudah sepuh.

Sebelum bapak meninggal, sudah berdiri bangunan baru di samping rumah utama. Bangunan itu digunakan untuk kegiatan jahit-menjahit. Bapak mengantar ibu membeli mesin jahit baru dan mesin obras.

Tak pernah bapak berkata kasar. Tak pernah ibu mengeluh. Ketika bapak meninggal, ibu menanam bunga kamboja di samping makamnya. Ibu wanti-wanti kepada saya, paling tidak, berziarah setahun sekali ke makam bapak.

''Bapak itu orangnya sabar, saleh, dan tidak banyak menuntut,'' kata ibu sambil menyeka air mata, sepulang dari pemakaman.

Lalu, saya dan Ade menikah, berkeluarga, tinggal berjauhan. Saya tak perlu khawatir karena ibu tak pernah sendirian. Sepanjang siang ibu ditemani empat orang penjahit. Malam ibu ditemani Saroh.

Mungkinkah selama ini ibu kesepian? Mungkinkah diam-diam ibu masih memendam cinta pertamanya? Mungkinkah... bermacam dugaan membuat saya sakit kepala.
***

Seminggu menjelang pernikahan ibu, Bi Uti datang ke rumah saya.
''Kamu harus gagalkan pernikahan ibumu,'' katanya tiba-tiba.

Saya terkejut mendengarnya. Menuruti kata hati, saya pun ingin pernikahan ibu tidak terjadi. Tapi, saya tak mau menjadi egois dengan menentangnya. Ibu telah memberi saya kebebasan dalam menentukan cita-cita dan menentukan calon suami.

Saya tatap adik ibu yang tampak lebih tua dari usianya ini. Ia mengenakan kebaya dan kain yang warnanya pudar. Wajahnya tak dipoles make-up sedikit pun. Padahal, dulu bibi selalu tampil wah dengan make-up lengkap. Perhiasan emasnya memenuhi pergelangan, leher, jari, dan telinganya. Tapi, itu tak ada lagi sejak usaha suaminya, Mang Latif, pedagang beras, bangkrut. Tiga tahun lalu, Mang Latif pamit bekerja ke Korea. Sejak setahun lalu, tidak ada lagi kabar beritanya.

Atas bantuan ibu, Bi Uti berjualan makanan di SD dekat rumah. Putranya yang terakhir masih kuliah, membutuhkan biaya banyak. Ibu turun tangan membiayai. Kepada saya, Bi Uti pernah mengatakan menyesal tak menyelesaikan SMA karena ingin cepat menikah dengan bandar beras yang kaya raya. ''Tidak seperti ibumu yang punya keahlian, bisa bantu-bantu mencari uang,'' katanya.

Setelah lama terdiam, menganggap usul Bi Uti mengada-ada, saya angkat bicara. ''Ibu dan Pak Bupati saling mencintai. Bi Uti sendiri yang cerita kalau kisah cinta mereka begitu dalam.''

''Ibumu mencintai bapakmu dengan tulus,'' sela Bi Uti.
''Tapi, ibu masih suka bunga kenanga,'' kata saya emosi.
''Sebelum kenal Udin, ibumu sudah menyukai kenanga. Jangan menduga yang tidak-tidak pada ibumu.''

Saya menghela napas. ''Bupati itu cinta pertama ibu. Cinta yang tak lekang oleh waktu,'' ungkap saya.

''Kebetulan mereka bertemu lagi. Kebetulan keduanya sendirian,'' sambung saya.
''Saya tak ingin mengecewakan ibu. Saya ingin ibu bahagia di masa tuanya. Saya dan Ade berusaha ikhlas...''

Bi Uti menyodorkan koran ke saya. ''Sudahlah, baca ini! Kau akan bersyukur bisa menggagalkan pernikahan ibumu.''

Berita di koran itu membuat saya terkejut campur gembira. Tapi, saya tak ingin terlampau bersemangat. Bisa saja ibu tak memercayai berita itu. Ibu mungkin ikhlas menerima apa pun yang dialami calon suaminya. Bukankah cinta kadang membutatulikan? Membayangkan itu, saya menggigil. Saya harus menyampaikan berita ini pada ibu. Keputusan selanjutnya terserah ibu.

''Ayo, kita harus menyampaikannya pada ibumu.'' Bi Uti menarik lengan saya.

Saya menerima ajakan Bi Uti. Saya tabahkan hati seandainya ibu tetap menikah dengan Udin. Menahan malu. Jadi omongan orang!

Ibu sedang duduk di kursi goyang ketika saya dan Bi Uti tiba. Ia tengah merapikan jahitan kebaya sutra warna hijau labu siam bersulam bunga kenanga itu.

Ketika melihat kami tiba, ibu berkata, ''Kebaya ini harus selesai besok. Kalian lihat, bagus sekali, ya.'' Ibu membentangkan kebaya itu.

Saya membayangkan ibu mengenakan kebaya itu. Lalu, bupati duduk di sampingnya, bukan bapak. Lengan Bi Uti mendorong bahu saya, meminta saya segera mengatakannya pada ibu.

''Seorang calon pengantin melihat kebaya ini. Ia menyukainya.''

Saya hendak menyodorkan koran ketika mendengar ibu bicara, ''Ibu bilang padanya, kebaya ini memang cocok untuknya. Ibu baru selesai mengecilkannya. Dia akan mengambilnya besok pagi. Dia mau membelinya dengan harga yang pantas.'' Ibu menatap saya dan Bi Uti dengan mata nanar dan senyum getir.

Saya tidak tahan lagi. Saya buang koran yang dari tadi saya pegang. Saya berlari memeluk ibu.

Ibu mengusap-usap rambut saya. ''Ibu sudah tahu. Udin tertangkap tangan menerima uang miliaran dari pengusaha yang ingin meratakan tanah, tempat ayahmu dikubur. Di tanah itu akan dibangun hotel. Nak, Ibu tak akan menikah dengannya...''

Bi Uti menghela napas lega, tersenyum tipis.

Kemudian, ibu berdiri mematut-matut kebaya itu ke tubuhnya. Membawa kebaya ke atas meja dan melipatnya pelan-pelan dengan kepala menunduk. Saya melihat air mata ibu menimpa kebaya pengantin hijau labu siam bersulam bunga kenanga itu.

Biarlah hanya ibu yang tahu untuk bapak atau Udin-kah air mata itu. ***


Cote Vertu - VP Mas, 2007-2008

Buku-Buku Novel yang Bergerak

Mohammad Ikhwanuddin*
http://www.jawapos.com/

Pekan pertama bulan Desember ini, setidaknya ditemukan dua buku yang tengah bergerak indah dengan bentuk interpretasi yang unik. Buku dipahami sebagai media informasi melalui tulisan, sementara bergerak berarti suatu keadaan dinamis, fleksible, dan tidak rigid. Pada saat buku sastra menjadi sebuah audio-visual akibat sentuhan sineas, di situlah buku-buku mulai bergerak terlepas diri dari kejumudan kata.

Kedua buku tersebut adalah Twiligt karya Stephenie Meyer dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sukses besar yang sudah terengkuh dalam penjualan berimbas pada media lain di mana buku-buku novel menjadi bergerak. Tabloid Nyata memberitakan bahwa kesuksesan Twilight berwujud pemecahan rekor pemasukan bioskop pada pemutaran perdana (Jumat, 21/11), yakni USD 70,6 juta atau Rp 858 miliar, mengalahkan Quantum of Solace-nya James Bond (USD 27,4 juta). Sebuah nilai fantastis mengingat krisis yang tengah dihadapi Amerika saat ini dan biaya produksi film Twilight yang ''hanya'' USD 37 juta.

Respon positif juga dirasakan novel bergerak asli buatan anak Belitong, Laskar Pelangi. Konon, film ini telah ditonton lebih dari 4,3 juta penduduk Indonesia (Jawa Pos, 2/12). Tentu saja angka itu belum termasuk penonton di layar tancap di Belitong yang mencapai 300 ribuan. Meski data pemasukan uang bukan standar kesuksesan film di Indonesia, melihat geliat apresiasi film yang diadaptasi dari novel dengan judul sama ini seakan melecut sebuah gebrakan ''baru'' supaya lebih berkonsentrasi pada mewujudkan novel bermutu anak bangsa menjadi bergerak.

Sebuah Kontroversi

Membaca sebuah perjalanan buku-buku novel yang bergerak, ternyata kita mendapati sebuah kenyataan bahwa, menurut sutradara film Garin Nugroho, 85 persen film pemenang Oscar, 45 persen film cerita dan 83 persen miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. Begitu banyak bertebaran proyek menghidupkan novel dalam ruang gerak yang berbeda.

Pangsa luar negeri setidaknya terwakili oleh The Davinci Code-nya Dan Brown, Harry Potter-nya J.K. Rowling, Gone With the Wind-nya Margaret Mitchell, Lord of the Ring-nya J.R.R. Tolkien. Untuk buku bergerak yang terakhir, film yang mengadopsi novel laris dengan nama yang sama pernah mengantongi 9 piala Oscar dari 11 nominasi yang diperebutkan. Sedangkan di Indonesia, kita pernah memilki Siti Nurbaya karya Marah Roesli, Sengsara Membawa Nikmat karya Sutan Sati, Di Bawah Lindungan Ka'bah-nya Buya Hamka, dan yang masih hangat terekam, Cintapuccino-nya Icha Rahmanti, Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Syirazi, dan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata.

Baik yang di luar negeri maupun di dalam negeri, buku-buku novel yang bergerak ternyata mampu menjadi blue print dalam menggarap film bermutu. Kendati demikian, kontroversi sering mengemuka sebagai buah dari kekecewaan. Kekecewaan rawan terjadi saat pemahaman terhadap sebuah karya tidak dipahami secara arif. Misalnya, mengenai perbedaan antara novel yang terbatasi space dengan novel bergerak hasil pemahaman sineas.

Salah satunya, kekecewaan penonton film AAC-nya Kang Abik -panggilan Habiburrahman El-Syirazi. Beragam kekecewaan ditumpahkan mengimbangi berbagai lapisan masyarakat yang memujinya. Plot, karakter, keindahan estetika setting cerita, termasuk yang sering diperselisihkan. Bahkan Ayu Utami pernah mengkritik esensi muatan cerita yang menganggap bahwa penulis tidak memiliki keberanian dalam meneruskan polemik poligami di mana sosok Maria, salah satu tokoh, dibunuh dalam akhir cerita.

Kekecewaan dimungkinkan timbul pula dari pengarang novel. Habiburrahman mengaku kurang puas atas terwujudnya film AAC yang disutradarai Hanung Bramantyo itu. Ahmad Tohari juga pernah mengutarakan kekecewaanya atas film Ronggeng Dukuh Paruk. Hal sama juga pernah dirasakan Achdiat K Mihardja dan Y.B. Mangunwijaya saat Atheis (1975) dan Roro Mendut (1984) memasuki layar lebar. Alasan utamanya: ternyata kemauan sang penulis sebagai ''tuhan dari cerita'', tidak ditaati.

Menimbang persoalan tersebut, dibutuhkan pemahaman yang lebih arif termasuk mau mengakui bahwa antara novel dan film --sebagai novel yang bergerak-- merupakan sebuah karya yang berbeda. Buku novel yang bergerak merupakan sebuah interpretasi sineas sebagai hasil kontemplasinya memahami sebuah karya. Dalam buku Film Scripwriting a Practical Manual (Swain, 1990) tertera tiga cara mengadaptasi karya sastra ke film. Yaitu mengikuti buku, mengambil konflik-konflik penting dan membuat cerita baru. Kebanyakan para sineas mengeksplorasi diri dengan memilih opsi yang ketiga, karena di situlah kreasi dan kreativitas sineas membuncah dan tersalurkan meski masih dalam koridor muatan cerita utama dalam novel.

Akan banyak lagi karya-karya penulis novel yang mulai menggeliat, bergerak dalam ruangan yang benar-benar berbeda. New Moon dan Eclipse karya Sthepenie Meyer akan menyusul Twilight. Kemudian tiga karya Andrea Hirata yang lain --Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov-- sangat mungkin mengikuti jejak sukses Laskar Pelangi. Termasuk karya Habiburrahman El-Shirazi yang saat ini mengawal jalannya proses produksi Ketika Cinta Bertasbih. (*)

*)Pustakawan di Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya.

PERI CANTIK ATAU HANTU FEMINISME?

Nurel Javissyarqi*

Perempuan itu kelembutan bathin, kehalusan air, hati yang mengarus. Jiwanya ombak senantiasa memiliki keyakinan, yang menampilkan pamor kecantikan. Keteguhannya, kesabaran mengaliri tiap-tiap cela kehidupan. Tanpa dirinya, dunia kering-kerontang tiada ricik-gemericik tangis bayi para insan. Dan kaum lelaki tongkat estafetnya, saat menyadari pentingnya kembang jiwa.

Ini bukan kehendak menuturkan siang-malam, tapi menciptakan kesatuan harmoni, fajar rahmat, senja temaram yang berpelukan. Dalam percumbuan manis, kreasinya terus menggelora, menyedot bak magnit atau garam guna-guna, yang disebar di setiap pepintu lelaki melangkahkan kaki ke luar rumah.

Senyum penantiannya sepenuh harapan, melihat dunianya membawa manfaat laki-laki menjejakkan kepercayaan, meneruskan langkah sebagaimana nafas-nafas doa. Bukan berarti berdoa tanpa aktivitas, kreativitasnyalah harapan.

Wanita bukan pemancing atau ikannya. Ia mampu jadi penjala paling lihai di antara lelaki, atau kedudukannya sepadan gairah mewujudkan keinginan-keinginan hayat. Munculnya hantu-hantu, sebab keterasingan, keterkucilan yang tak memahami karakternya.

Wanita bukanlah hantu menakutkan atau penggoda. Karena para lelaki pun memiliki daya rangsang yang serupa, ketika memasang ranjau pikatnya. Dalam sifat dasarnya, keduanya menuntut berbeda yang awalnya berangkat dari pengertian-pengertian, lantas menuju kedewasaan makna.

Adalah sejarah sosial insan, terkuasai perkembangan materi yang menciptakan keduanya berbeda, berangkat dari didikan, tingkah pakola norma yang dibangun sejak kesadarannya belum terbentuk.

Saat keduanya mencapai kebebasan kesadaran, yang tampil bukan saling menyerang, tapi topang-menopang bantu-mengisi. Maka usalah hawatir munculnya hantu feminisme. Perbedaan malam-siang sebagaimana wewarna perasaan, yang menajamkan sudut-sudut singgung pada awal terciptanya gagasan.

Keduanya memiliki kekuatan mengolah bencah materi, menempati alam spiritual sendiri-sendiri. Tidak jauh berbeda saat menggunakan kacamata obyektif pada daerah kekuasaan, atas telah mampu mempelajari realitas kesungguhan.

Tidakkah ketakutan muncul sebab merasa tidak mempunyai tameng atas kedatangannya? Ketakutan menjelma hantu menerkam, padahal bukan saingan melainkan pendamping. Maka berilah lahan seluasnya berekspresi, membuka jalan mempelajari was-was, dengan menyadari fitrohnya. Dan ketakutan itu hakikat kekalahan sebelum mata menyapa takdir jaman.

Kemampuan air menjelma beku, seharusnya dipelajari, agar dalam mengembangkan pengetahuan tidak timpang menimbulkan peperangan. Kita sering menyuntuki apa yang tersukai dan menghindari yang ditakuti. Maka timbullah rasa cemburu, fikiran negatif merusak pribadi.

Wanita sejatinya tidak menuntut berlebih kiranya lelaki memberi pandangan fitri kepada sosoknya. Adalah miris dinaya ketakutan kaum lelaki, menjadikannya pemenang semu. Lalu, atas tekanan bertubi-tubi, wanita menjelma pemberontak.

Sementara hakikat niat memiliki sifat kewanitaan juga kelelakian. Yang membedakan ialah fitrohnya, sedangkan kedudukan nalar serta spiritualitasnya sama berdayadinaya. Sebab keunggulan insan pada realitas kerjanya tubuh dan jiwa, seiring sejalan menciptakan kualitas dirinya paripurna.

*) Pengenala, 17 Mei 2006, Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Kamis, 18 Desember 2008

De Winst, Kesaksian Novel Poskolonial

A. Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Sebagai salah satu novel sejarah, De Winst merupakan salah satu karya sastra yang laik diziarahi. Novel setebal 336 halaman ini, menenun kisahnya ihwal jama’ah pelajar Indonesia di negeri Belanda, Indonesische Vereniging (IV), atau di Hindia lebih familiar dengan sebutan Perhimpunan Indonesia (PI).

Afifah Afra, novelis muda jebolan jurusan biologi kampus negeri di Solo, yang juga merupakan anggota dari forum komunitas penulis FLP yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia tersebut, senang bergelut dengan cerita berlatar sejarah. Di tengah gemerlap hajatan sastra Islami yang digeluti komunitasnya, ia kadang setia bertahan dengan sajian cerita-cerita sejarahnya yang kental, menggugah inspirasi. Terlebih, dengan bubuhan gambar di setiap lekuk badan novel ini, membuat pembaca makin termanjakan.

Sedikit beda dengan karya jamak penulis FLP lainnya. Karya ini mengingatkan kita pada sebuah jejak-rekam kesengsaraan inlander oleh sistem tanam paksa yang dinarasikan oleh H. Moekti dalam roman klasik, “Hikajat Siti Mariah”. Roman ini juga menyibak tuntas ihwal kesengsaraan inlander; praktik penindasan masyarakat gula di Jawa Tengah oleh rezim kapitalis Belanda.

Dalam Prelude to Revolution, George D. Larson pernah mengungkap, perkembangan politik bumi putra pada era kolonial di daerah seperti Surakarta (Solo), banyak didominasi kaum pedagang dari pada golongan priyayi. Kemajuan ekonomi itu bertumpu pada sektor perdagangan seperti batik, tekstil dan sejenisnya. Perkumpulan kaum pedagang ini menurut Larson, mula-mula punya andil menandingi hegemoni perdagangan kawasan Hindia oleh etnis China dan golongan Eropa, termasuk Belanda. Namun perkumpulan ini lambat laun tidak sebatas mengurusi soal perdagangan, melainkan (dengan perlahan juga) menjadi ajang bagi tumbuh kembangnya rasa kebangsaan & semangat pergerakan. Perkumpulan semacam ini semisal Sarikat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh H. Samanhudi dari daerah laweyan. Fenomena inilah (kalau boleh saya tebak) yang mengilhami Afifah Afra untuk mengangkatnya dalam sebuah novel, yang diyakini penulis, mampu membangunkan jiwa idealisme kita yang saat ini lagi kendur.

Konflik novel ini bermula dari krisis ekonomi yang menyerang dunia awal abad 20, menghantam dunia Timur dan merambat ke wilayah Hindia Belanda. Kita mafhum, bahwa negeri kita yang beratus-ratus tahun menjadi tempat bercokolnya kolonial Belanda, adalah ladang surga bagi suplai tumbuh-kembangnya perekonomian negeri tersebut. Namun semakmur-makmurnya Hindia, tak ketinggalan ikut terkena imbas krisis dunia saat itu. Novel ini menggambarkan kekelaman penduduk pribumi atas arogansi penduduk golongan kelas satu penumpuk modal (Belanda), yang gemar mengeruk kekayaan negeri Hindia yang melimpah. Namun ironis, di tengah kemewahan negeri pecahan surga nan elok, bumi putra sebatas menjadi jongos di negeri sendiri. Mereka menjadi penduduk kelas tiga yang selalu ditindas dan diperbudak oleh syahwat kapitalisme.

Akibat dari krisis tersebut, berpuluh-puluh industri komoditas utama negeri ini banyak yang gulung tikar. Salah satunya adalah industri gula. Industri yang bahan bakunya disuplai dari perkebunan tebu ini, terancam bangkrut. Harga gula di pasaran terus melorot. Imbasnya, harga sewa tanah dan gaji pekerja buruh, yang mayoritas ditekuni inlander turun pada level yang mencekik. Tragedi ini menjadi pemantik semakin menguatnya gairah revolusi kaum pribumi menuju tata perekonomian yang lebih kondusif. Seperti yang dikoar-koarkan oleh kaum pergerakan, perihal rencana & cita-cita agung memerdekakan negerinya.

Salah seorang priyayi mantan asisten administratur De Winst (nama sebuah perusahaan gula swasta milik Belanda), bangsawan aristokrat keturunan raja mataram, lulusan Leiden University, Rangga Paruhita, ingin melepaskan bangsanya dari belenggu & penindasan antek-antek kolonial. Ia membidani lahirnya sebuah gerakan. Gerakan ini berusaha memonopoli perusahaan-perusahaan swasta yang nota bene dikelola kaum penjajah. Gerakan dalam sektor ekonomi tersebut ia namai gerakan ekonomi kerakyatan. Usaha ini bertumpu pada pengembangan sektor industri tekstil, di mana kapas menjadi komoditas utamanya. Namun tak beberapa lama, sebuah tragedi mencuat. Geger dan eksodus besar-besaran buruh De Winst ke pabrik tekstil yang dikelolanya, menyeret R.M Rangga Paruhita ke muka pengadilan dengan tuduhan memberontak pada pemerintah. Tak ayal, serangkaian fitnah dan konspirasi keji yang dilimpahkan pengadilan, menyeretnya dalam internering ke Endeh.

De Winst begitu memesona. Tak berbeda jauh dari novelnya terdahulu, “Bulan Mati di Javasche Orange”, Afifah Afra menyelipkan kisah asmara tragis tapi menarik. Cerita percintaan ini terajut dari pertemuan Rangga yang studi ekonomi di Leiden sepulangnya dari negeri Belanda dengan Everdine Kareen Spinoza yang sarjana hukum Universitas Rotterdam di geladak kapal menuju Hindia. Kelebihan novel ini adalah ketangkasan penulisnya mempertemukan tradisi lokal keraton Jawa yang kental aroma feodalismenya dengan gaya hidup Eropa yang aristokratik dalam nampan cerita yang memikat. Ia menyembulkan cerita yang mengetengahkan geger kebudayaan antara harus melanggengkan sistem feodalisme Jawa atau mentradisikan sistem demokrasi ala cendekiawan Bumi Putera. Seperti yang telah dijalankan Soekarno, Shahrir, Hatta maupun Cipto Mangunkusomo.

Novel ini ingin menegaskan kembali, bahwa dengan terbenamnya sejarah oleh waktu, apa yang diusung kolonialis, yaitu misi penjajahan itu sendiri, belumlah benar-benar hengkang. Praktik kapitalis dengan wujud imperialisme yang mendera bangsa kita sekitar 3,5 abad itu walau sekarat, tetapi belum benar-benar mati. Zaman sekarang pemilik modallah (baca: investasi asing) yang berkuasa & menguasai sektor-sektor penting di negeri ini. Bahkan, pemerintah dibuat seakan tak berkutik. Praktik kapitalisme itu, kendati pengaruhnya secara umum seringkali laten, namun tetaplah harus diwaspadai. Novel ini menjadi senjata ampuh untuk menyentil kesadaran kita akan bahaya praktik kapitalisme yang kini dengan amat terselubung dan ditunggangi berbagai kepentingan aktif menyemburkan praktik-praktik kapitalisme gaya baru.

Data Buku:
Judul buku : De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 336 halaman

Rabu, 17 Desember 2008

Menulis Lakon

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

I. KIAT PENULISAN LAKON

Untuk menyusun naskah lakon, yang diperlukan mula-mula adalah gagasan. Tidak semua hasrat atau keinginan adalah sebuah gagasan. Gagasan atau ide dalam menulis lakon, adalah hasil perenungan dan pemikiran.. Dalam hubungan dengan kerja kreatif, gagasan atau ide adalah apa yang biasa disebut “inspirasi”.

Kita hindari istilah inspirasi atau ilham untuk sementara, karena apa yang disebut ilham sering dihubung-hubungkan dengan karunia Tuhan. Akibatnya banyak orang terkecoh lalu hanya menunggu untuk mendapatkannya. Padahal semua yang ada di dunia ini adalah karunia Tuhan. Yang disebutkan dengan gagasan di sini adalah hasil perenungan, hasil pemikiran, hasil kontemplasi. Bahkan mungkin hasil diskusi dan rembugan-rembugan, baik dengan diri sendiri, denganm orang lain atau pemahaman kebenaran yang lain.

Di dalam gagasan ada sesuatu yang baru, yang berbeda, yang lain dari yang sudah ada dikenal. Itulah yang menyebabkan seorang penulis lakon perlu melahirkan, mendeklarasikannya, agar dikenal oleh orang lain. Apakah gagasannya bagus dan berguna atau sebaliknya, sangat tergantung pada benturannya dengan sekitar setelah lahir sebagai lakon.

Jadi gagasan, walau pun merupakan cakal-bakal, tetapi yang kemudian menentukan adalah pengembaraannya sebagai naskah. Untuk itu diperlukan ketrampilan untuk mewujudkan gagasan itu menjadi lakon yang baik. Lakon yang baik, bukan saja gagasannya bagus, tetapi juga memenuhi persyaratan sebagai sebuah lakon, yakni punya daya pukau sebagai tontonan.

Tema adalah wilayah yang menunjuk, sudut kehidupan yang mana yang akan digarap. Ke dalam tema yang menjadi flatform dari naskah itu kemudian dipancangkan gagasan yang merupakan hasil pemikiran penulisnya. Lalu dicari batang tubuhnya berupa cerita.

Cerita tidak selamanya berjalan lurus, runtun. Dapat acak, sama sekali tanpa aturan atau kacau, sehingga nyaris bukan cerita tetapi hanya suasana-suasana. Cerita yang bertutur membuat lakon menjadi potret atau representasi kehidupan. Yang tidak bertutur, adalah pemikiran, sikap dan rumusan-rumusan yang mengandung nilai-nilai yang dipakai dalam menghadapi fenomena-fenomena kehidupan yang baru.

Dalam membangun cerita akan muncul berbagai kebutuhan terhadap: waktu, tempat, tokoh-tokoh, kemudian alur, plot, konflik dan sebagainya. Juga akan timbul masalah-masalah teknis yang mungkin akan dijumpai dalam pelaksanaannya, sehingga penulis mesti memikirkan jalan keluarnya. Sedangkan untuk rumusan-rumusan nilai yang diperlukan adalah statemen-statemen tajam yang menggugah yang sering berbau pemberontakan dan pembaruan, agar lebih menggigit.

Terakhir adalah pesan moral. Muatan apa yang mau disampaikan oleh penulis, baik secara langsung maupun tak langsung. Watak, idiologi, pandangan hidup, filosofi penulis naskah dapat dibaca dari isi pesan moral dan cara menyampaikannya. Naskah yang tak memiliki pesan moral pun adalah sebuah pesan moral.

Seperti dalam proses pembuatan bangunan, penulis adalah seorang arsitek sekaligus pemborong proyek. Ia berpikir tentang konstruksi bagaimana membuat sesuatu yang kuat dan indah. Ia memikirkan dengan cermat wujud naskah itu.

Bila gagasannya memerlukan wadah besar yang spektakuler, berarti naskah itu akan terdiri dari banyak babak sehingga durasinya sampai beberapa jam. Atau sudah cukup satu babak, sekitar satu jam, sehingga padat dan tajam. Di sini seorang penulis menentukan strategi dan konsepnya.

Konsep adalah strategi untuk menerapkan gagasan. Inilah pergulatan yang sebenarnya bagi setiap penulis lakon: bagaimana memindahkan gagasannya menjadi sebuah tontonan. Untuk itu ia harus memahami benar seluk-beluk seni pertunjukan. Ia perlu menguasai teknik-teknik penulisan, sehingga ia bebas untuk menuangkan gagasannya. Ia tidak terhalang oleh persoalan-persoalan teknis, sehingga konsentrasinya pada usaha menuangkan ide tidak terhambat.

Di dalam menuangkan gagasan menjadi lakon juga diperlukan “gagasan-gagasan”. Jadi bukan hanya isi, kemasan lakon pun harus memberikan “gigitan”. Bentuk, struktur, cara menyampaikan pesan, bahasa, gaya, jenis tontonan yang hendak dicapai, semua itu bukan hanya sekedar alat, tetapi bisa menjadi isi itu sendiri. Bahkan pesan yang klise dan sangat sederhana, tentang pengorbanan, misalnya, bisa menjadi baru karena cara menyampaikannya berbeda dari apa yang biasa dilakukan.

Naskah yang menggigit baik isi maupun kemasannya disebut “berdarah” atau “memiliki daya tendang”. Artinya lakon itu tidak hanya sekedar bualan kosong. Bukan semata-mata memukau karena pasang surut ceritanya. Tetapi karena mengandung sesuatu yang benar-benar penting, jitu atau baru. Pengemasan yang pas, tajam atau unik membuat naskah itu punya nilai lebih. Unsur pembaruan menyebabkan isinya yang sebenarnya biasa, bisa menjadi luar biasa.

Mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, umumnya dicapai dengan melakukan penggalian dan pendalaman. Persoalan cinta biasa antara dua remaja, bila digali lebih mendalam lagi, dimunculkan kompleksitasnya, tiba-tiba menyeruak menjadi masalah kemanusiaan yang universal. Cerita Romeo Dan Juliet karya Shakespearre , misalnya, bukan hanya masalah percintaan tetapi menampilkan masalah-masalah mendasar kemanusiaan.

Cara lain adalah dengan menukar sudut pandang. Sebuah pembunuhan dalam negara hukum akan berakhir dengan terhukumnya pembunuhnya. Tetapi dengan menggeser sudut pandang, pembunuh itu bukan dipenjarakan, tapi malah dinobatkan menjadi pahlawan. Kenapa? Sebab pembunuh itu sudah berhasil menggoyang hukum yang tidur untuk beringas dan aktip kembali menegakkan keadilan.

Sudut pandang adalah bagian penting di dalam apa yang semula kita sebut gagasan. Diperlukan keberanian dan juga kejujuran untuk memandang sesuatu keluar dari kebiasaan umum. Tujuannya bukan hanya sekedar keluar, bukan hanya untuk berbeda, tetapi karena ada keyakinan, bahwa dengan mampu melihat dari sudut pandang yang lain, kebenaran lebih terburai atau muncrat.

Bila sebuah lakon tak hanya menghibur, tak hanya menarik, tapi dapat membawa penonton pada kebenaran yang lain, dia menjadi penting. Naskah tidak hanya akan menjadi sebuah persiapan untuk sebuah pementasan, tetapi pengetahuan dan pencapaian kultural. Sebagaimana yang terjadi pada “Waiting For Godot”. Karya Samule Beckett yang memenangkan hadiah nobel itu adalah sebuah penemuan yang fenomenal. Beckett mencatat bahwa di samping lahir dan mati, pada hakekatnya semua manusia adalah menunggu.

Gagasan yang bagus dapat hancur berantakan apabila tidak terkemas dengan baik. Karena itu sebelum menulis lakon, seseorang harus mengenal dulu teknik penulisan lakon. Umumnya pengemasan lakon memerlukan beberapa unsur yang membuat hasilnya pas sebagai tontonan. Karena untuk itulah lakon dibuat. Lakon yang ditulis hanya untuk dibaca biasa disebut drama “kloset”.

Sebagai tontonan, lakon harus memikat. Cerita akan memikat kalau memiliki plot. Plot akan memukau bila mengandung empathi. Empathi akan menjadi sempurna kalau dibumbui dengan ketegangan, konflik dan humor. Ada juga yang menyelipkan kritik-kritik sosial, konteks dari lingkungannya, sehingga lakon menjadi membumi dan memiliki komitmen sosial.

Naskah lakon dibuat untuk kemudian dipentaskan sebagai pertunjukan. Kemungkinan-kemungkinan tontonan yang ada di dalam naskah itu menjadi penting. Kemungkinan tersebut ada yang sudah dicantumkan secara tertulis oleh penulisnya, tapi ada juga yang lahir akibat persentuhan dengan sutradara dan pemain. Semakin banyak kandungan kemungkinan yang ada dalam sebuah naskah, membuat naskah itu semakin kaya.

Sebuah naskah lakon yang kaya memberikan kesempatan kepada sutradara, pemain serta penata artistik mengembangkan lakon itu sehingga ia menjadi seperti tambang emas yang tak habis-habisnya digali. Di dalamnya juga termasuk ruang-ruang yang diberikan kepada penonton. Naskah yang bagus akan membuat penonton tak hanya penikmat yang pasif. Penonton akan hidup dan ikut mencipta di dalam imajinasinya, sehingga pertunjukan benar-benar merupakan sebuah dialog gencar antara tontonan dengan penonton sehingga menciptakan pengalaman spiritual.

Sebuah naskah lakon yang baik akan menciptakan pengalaman batin yang membuat penonton mengalami ekstase. Naskah yang kuat memberikan rangsangan kreatif pada semua yang terlibat di dalam pementasan. Baik naskah standar yang konvensional atau naskah kontemporer yang multi iterpretasi, kalau ia berdarah, mengandung kekayaan sebagai seni pertunjukan, ia tidak akan bersifat temporer, tetapi abadi. Naskah lakon yang baik tetap berdarah di segala zaman dalam konteks dan referensi yang berbeda-beda. Setiap kali dipentaskan ia akan mentransformasikan dirinya menjadi aktual dan baru.



II.CATATAN DARI LAPANGAN
Berikut catatan dapur saya di lapangan untuk perbandingan:

Saya menulis lakon sejak saya masih SMA. Tetapi lakon-lakon itu masih merupakan ,ide-ide mentah yang belum disentuhkan dengan pengalaman lapangan. Naskah-naskah yang saya tulis adalah drama kloset. Drama yang hanya untuk dibaca, miskin dari kemungkinan pemanggungan.

Setelah saya mulai main drama (Badak:Anton Chekov, Barabah:Motinggo Boesye dan Selamat Jalan Anak Kufur:Utuy Tatang Sontany, Pelacur:Sartre), baru saya memahami hubungan naskah dengan pementasan, memahami hubungan naskah dengan penonton. Sejak itu saya mulai menulis naskah di Jogja tidak lagi untuk dibaca tetapi untuk dimainkan. Dalam periode itu saya menulis Bila Malam Bertambah Malam, Dalam Cahaya Bulan (1964). Kemudian Lautan Bernyanyi (1967), Tak Sampai Tiga Bulan (1965), Orang-Orang Malam (1966). Semuanya ditulis dan kemudian saya mainkan.

Pada tahun 1966, ketika membuat parade drama di gedung BTN Jogja, saya melakukan monolog spontan berjudul Matahari Yang Terakhir. Berlangsung bagus. Sesudah main baru naskahnya dituliskan. Menjadi lebih jelas lagi bahwa lakon ditulis bukan untuk dibaca tetapi untuk dimainkan. Kini saya sering memainkan monolog lebih dahulu dan sesudahnya baru ditulis. Misalnya Merdeka dan Zmar.

Setelah menulis naskah untuk kebutuhan pementasan, saya ikut pementasan Waiting For Godot (1969) Bengkel Teater, bermain sebagai Pozzo. Terpengaruh oleh naskah itu, antara tahun 1971 s/d 1980 saya mulai menulis naskah untuk berekspresi. (Aduh, Edan, Anu, Dag-Dig-Dug, Hum-PimPah). Kecuali Dag-Dig-Dug, semuanya juga saya mainkan dengan Teater Mandiri di Jakarta.

Pada tahun 1975 dan 1976 saya membuat pementasan tanpa memakai naskah (Lho, Entah, Nol). Tidak ada cerita. Yang ada hanya suasana dan gambar-gambar. Pementasan Lho yang dipersiapkan selama 4 bulan, sangat visual, mengagetkan penonton dan mendapat sambutan bagus sekali. Pengunjung sampai membludak selama 3 hari di Teater Arena TIM. Tetapi pementasan selanjutnya penonton menipis dan akhirnya sangat kurang waktu NOL. Waktu itu saya menyimpulkan yang dibutuhkan oleh penonton adalah cerita. Saya kembali kepada kata-kata.

Setelah itu saya kembali membuat naskah yang penuh kata-kata untuk pementasan (Dor, Blong, Awas, Los, Gerr, Zat, Tai, Front, Awas, Aib, Wah). Di dalamnya ada cerita, karakter dan konflik. Tetapi saya tidak berkiblat kepada realisme. Teater saya cenderung menjadi teater seni rupa.

Pada 1985 – 1988, saya berada di Amerika dan membuat naskah, hanya untuk membuat naskah (Aeng, Aut, Jreng-Jreng-Jreng, Bah, Hah). Naskah-naskah itu sampai sekarang belum pernah saya pentaskan.

Pada 1991 s/d 2003 saya sama sekali tidak membuat naskah dan hanya melakukan pementasan-pementasan (Wesleyan, New York, Cal Art, Seatle, Brunai Darusssalam, Tokyo, Hong Kong, Taipeh, Singapura, Kyoto, Hamburg, Cairo) tanpa naskah (Yel, Yel II, Bor, The Coffin is too Bif for The Hole, War, Zoom, Zero). Saya membuat sekumpulan monolog yang terhimpun dalam buku DAR-DER-DOR.

Sejak 2003 saya mulai lagi menulis dan memainkan monolog (Kemerdekaan, Demokrasi, Mulut, Merdeka, Memek, Perempuan, Pahlawan, Surat Kepada Zetan, Zmar) selanjutnya sejak 2004 saya kembali menulis lakon untuk pementasan (Jangan Menangis Indonesia, Zetan, TVRI)

Dalam perjalanan saya sebagai penulis, gagasan yang ada dalam setiap naskah terlahir didorong oleh beberapa kebutuhan. Pertama kebutuhan untuk memiliki naskah sendiri. Dengan naskah sendiri kebebasan mengembangkan tontonan akan lebih leluasa. Di samping itu selesai pementasan, hasilnya akan tetap ada berupa naskah. Jadi sekali kerja dua hal tercapai.

Kebutuhan lain yang mendorong adalah hasrat untuk berekspresi, berdialog dengan penonton, memberikan kesaksian-kesaksian yang personal tentang kejadian di sekitar. Saya merasa punya sudut pandang yang lain dengan umumnya pandangan di sekitar. Tak ada maksud untuk memenangkan pandangan sendiri, hanya ingin berbagi, mengutarakan kepada masyarakat bahwa perbedaan itu harmoni yang dinamis.

Yang juga mewarnai gagasan itu adalah kompromi terhadap kondisi pemain, keadaan sarana serta keterbatasan biaya produksi yang semuanya kemudian membentuk sikap dasar saya dan Teater Mandiri (berdiri tahun 1971 di Jakarta) untuk berkiblat pada : Bertolak Dari Yang Ada. Yakni usaha untuk memanipulasi kekurangan menjadi kekuatan dengan mengoptimalkan apa yang dimiliki. Dengan cara itu tak ada yang tak mungkin dalam setiap produksi.

Pemain-pemain saya sebenarnya bukan pemain tapi orang-orang biasa. Mereka bukan aktor. Ada tukang sapu dan maling kecil yang tak bisa membaca. Orang cacad. Ibu rumah tangga. Bahkan pernah suami-sitri pemulung ikut dalam produksi ( Kasan dan Kamisah dalam lakon Anu, 1974) Keterlibatannya pada teater hanya karena senang. Keterbatasan mereka yang juga membatasi produksi, saya balikkan menjadi kekuatan, sejak dari pembuatan naskah. Naskah saya buat sesuai dengan potensi mereka.

Saya sangat terganggu dengan tidak adanya desiplin dan komitmen dalam berlatih. Para pemain jarang datang lengkap dan selalu merepotkan jadwal. Akhirnya saya menulis naskah yang membuat pemain sekali masuk ke dalam adegan, untuk seterusnya tidak bisa keluar sampai lakon berakhir. Ini yang membuat saya sampai ke naskah-naskah yang mengetengahkan kelompok manusia sebagai sebuah karakter. Struktur itulah yang menjadi formula semua naskah yang saya buat sampai 1989.

Pesan moral yang saya pegang dalam setiap pembuatan naskah adalah usaha untuk melakukan “teror mental”. Upaya untuk mengganggu, membangunkan, mengingat, membimbangkan, menggoda, menteror batin penonton. Tujuannya agar penonton terbangun, tergugah dan berpikir lagi setelan mendusin dari tidurnya.

Saya lihat akibat berbagai macam bentuk penjajahan (politik, ekonomi, sosial, budaya), banyak orang setelah membuat keputusan tidak mau berpikir lagi. Banyak orang karena dibius oleh sesuatu yang dahysat ( idiologi, paham, agama, kecendrungan, pendapat, ilmu) mengunci dirinya dalam satu kesimpulan yang membuat ia seperti mati dalam kehidupan. Banyak manusia menjadi mummi. Saya ingin mengajak ia bimbang dan memikirkan lagi posisinya, tetapi tanpa berusaha untuk mempengaruhinya. Buat saya kebimbangan adalah suci.

Karena pesan moral itulah saya mengawali setiap naskah dengan langsung menggebrak. Dan kemudian mengakhirinya dengan mengambang. Tak ada kesimpulan. Kesimpulkan yang terbuka. Pertanyan berakhir sebagai pertanyaan. Pertanyaan, jawabanya pertanyaan yang lain. Lakon adalah sebuah PR kepada setiap penonton yang mengajak mereka berdialog dan kemudian mengambil keputusan-keputusan untuk hidupnya sendiri.

Saya tidak memberikan banyak petunjuk di dalam naskah (yang saya lakukan juga dalam membuat skrip film) karena berharap mereka yang membaca/mempergunakan naskah itu akan melakukan penafsiran. Saya mengambil posisi, saya sendiri belum tentu lebih tahu tentang naskah itu dari penggunanya. Karenanya naskah-naskah itu mengapung, bersifat multi interpretasi. Dapat dimaknakan ke mana saja, tergantung pembaca, pelaku atau penontonnya.

Maksud saya untuk memberikan ruang kepada sutradara. Tetapi hasilnya agak menyedihkan, karena kebanyakan penggunanya kemudian mempergunakan seenak perutnya. Di samping itu naskah itu bagi yang belum pernah menyaksikan pementasannya menjadi sulit dimengerti.

Dalam membuat naskah teater saya merasa tak pernah mendapat hambatan. Sensor dan batasan dari berbagai aspek di sekitar saya adalah tantangan, adalah kesempatan yang justru menolong saya mampu melompat. Pengalaman dalam mengelak, menyiasati hambatan-hambatan itu, membuat saya percaya bahwa kreativitas membuat tak ada yang tak mungkin di atas pentas. Dengan cara memandang seperti itu, wilayah pentas adalah wilayah yang yang tak terbatas. Kita bebas mengekspresikan apa saja.

Pengikut