Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Cantik

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Gubernur marah besar. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah?

“Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya, Ratu Dangdut, Ratu Kaca Mata, Ratu Mercy, Kontes Mirip Bintang, Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salon-salon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua, karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!”

“Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?”

“Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. Baik kameranya, tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang …

Sawang

Ragdi F Daye
http://www.riaupos.com/

Pencari daun enau itu terkejut ketika melihat seorang laki-laki duduk melamun di atas batu karang yang berlumut. Laki-laki itu memakai celana jins biru pudar dan kaos abu-abu. Punggungnya sedikit membungkuk digayuti ransel hitam. Pencari daun enau itu sudah bertahun-tahun menjelajahi rimba Bukik Kapocong untuk mencari pucuk enau, daun pandan berduri, atau buah-buah damar. Dia sering bertemu dengan pemburu babi, pemikat burung, atau para pecinta alam. Namun, belakangan dia lebih sering sendirian di tengah hutan.

Diturunkannya ikatan daun enau dari bahunya. “Sendiri saja?”

Laki-laki itu sama terkejutnya. Dia mengangguk pendek.

“Mau berburu?”

Dia masih muda. Tatapan matanya begitu murung di bawah rambutnya yang menjuntai di kening. Dia mengangguk dingin seperti menginginkan percakapan itu lekas tuntas. Pencari daun enau kembali mengamati. Memperhatikan ransel hitamnya yang terlalu bersih untuk dibawa ke hutan. Arloji di tangan. Juga pakaiannya. Dia ingin be…

Alung

Sobirin Zaini
http://www.riaupos.com/

Bukan dua tiga kali kejadian hamil di luar nikah terjadi di kampung itu. Kalau dihitung-hitung, sudah berkali-kali pula. Simaklah, sejak Inah anak Wak Kajan, yang tiba-tiba perutnya berisi sepulangnya dari Batam. Begitu juga Ani anak Wak Salman, perutnya buncit setelah sepulangnya Inah.

Dua tahun belakangan ini sudah jadi musim anak-anak muda kampung itu pergi mencari kerja ke pulau sejumput itu. Karena memang kondisi ekonomi sangat memrihatinkan. Setamat SMA, mereka hijrah beramai-ramai setelah ada satu anak perempuan kampung itu yang nampaknya berhasil bekerja di sana. Pulang saat lebaran dengan berbagai hiasan di leher dan tangan. Dan bukan hanya anak-anak perempuan, anak-anak lelaki juga. Mereka biasanya bekerja di sebuah pabrik elektronik, atau di perusahaan galangan kapal yang gajinya memang cukup menggiurkan. Kalau sudah begitu, anak-anak lelaki yang bekerja di sana biasanya pulang dengan motor baru.

Tapi itu pula masalahnya. Karena kondisi lin…

Sekolah Para Setan

Musa Ismail
http://www.riaupos.com/

Sekolah itu bagai rumah setan. Isinya pun laksana setan. Tetapi, sebagaiannya laksana malaikat. Siswa memekau. Guru linglung laksana hilang akal. Kebingungan berputar. Lalu, membentur tembok-tembok melangit. Terpelanting sekian depa. Semuanya kandas pada keyakinan. Setan-setan terbang seperti keyakinan sebagian isi sekolah itu. Setan-setan tertawa sebagaimana para pemujanya. Para laknatullah itu menyerang laksana invasi AS terhadap Irak dan Afganistan. Mereka menyeringai. Melotot. Meneror. Kemudian, masuk ke jiwa yang kering.

’’Kubunuh kalian. Keparat. Kalian kotor. Manusia laknat. Pelaku maksiat,’’ Victoria, siswa di sekolah itu, menjerit. Matanya membelalak. Kedua tangannya meronta. Kedua kakinya menerjang. Empat temannya terpelanting dikebas. Voctoria lepas. Dia berlari. Siswa pintar itu seperti mengejar sesuatu. Terus berlari menuju labor. Jemarinya mengepal laksana petinju.

’’Otak dan mataku hilang di sekolah ini!’’ Victoria terus lari menuju labor…

JILFest, dari Politik sampai Spirit Bersastra

Aries Kurniawan
http://www.republika.co.id/

Sebuah perhelatan sastra berskala international, Jakarta International Literary Festival (JILFest), yang diselenggarakan atas kerja sama antara Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Cerpen Indonesia, dan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, digelar di Kota Tua Jakarta, pada 11-14 Desember 2008.

Melalui iven ini sekurangnya akan terkabarkan kepada masyarakat sastra dunia bahwa Indonesia memiliki sejumlah sastrawan dan karya-karya sastranya bisa dijadikan salah satu pintu masuk bagi masyarakat dunia untuk memahami budaya dan masyarakat Indonesia.

Iven ini sekaligus menjawab kegelisahan banyak sastrawan Indonesia atas ketiadaan iven sastra berskala international -- tidak sebagaimana di bidang musik, film, dan seni pertunjukan, yang telah lebih dulu memiliki iven internasional di Jakarta.

Ketiadaan iven sastra berskala international berimbas pada rendahnya tingkat pergaulan sastra dan sastrawan Indonesia di manca negara. Diak…

PEREMPUAN DAN PUISI TUHAN

Restoe Prawironegoro
http://www.republika.co.id/

Segalanya jadi gelap. Seluruh dinding kamarku terasa menjadi hitam legam. Tiba-tiba saja semuanya menjadi kenyataan yang merampas kebanggaan kecil dan pengabdianku. Berhari lalu hatiku masih membunga, jiwaku masih bersorak tentang suatu kemenangan. Tetapi kini semuanya menjadi kedap.

Tidak! Mungkin saja berita itu tidak benar. Kurasa semuanya seperti karangan, terpapar di depan mata. Semuanya masih membayang, seperti barusan terjadi. Seperti tadi.Kaki-kakiku yang kecil serasa masih basah di pematang sawah. Hidupku masih mencium aroma padi. Langit menampakkan keluasan yang mengandung puisi Tuhan. Rasanya segala keremajaanku yang mekar di tengah kedamaian desa membuat aku jadi peka pada kesedihan.

Ya, desaku yang sunyi damai dan mengandung kenang-kenangan hidup bagiku memang telah kutinggalkan. Kehidupan keluarga kami tidak memungkinkan aku mendapatkan kemajuan masa depan. Sebagai anak nelayan, ayahku tidak mungkin menyekolahkan kami aku dan…

Gemuruh Kepulangan

Sobirin Zaini
http://www.riaupos.com/

ALUNAN syahdu lirik-lirik lagu itu masih juga terngiang di telingaku sekaligus menusuk-nusuk dadaku ketika kakiku mulai menginjakkan pintu ruang tunggu pelabuhan itu. Tadi malam, lagu Allahyarham Sudirman dari negeri seberang Malaysia itu berkali-kali on play di winamp komputerku.

Sejak puluhan tahun lalu, ketika aku masih tahu betul apa rasanya kebahagiaan idul fitri, lagu itu sebenarnya telah mulai kudengar, dan karena lagu itu pula, aku tak menangis kecuali hanya untuk sebuah kebahagiaan.

Restu ayah bonda kuharap selalu
Hanya kusampaikan doa dan kiriman tulus ikhlas
Dari jauh kumohonkan ampun maaf
Jangan sedih pagi ini tak dapat kita bersama
Meraikan aidil fitri yang mulia..

Tapi sekarang, bukankah aku juga tetap menangis karena lagu itu? Ya, lirik dan alunannya memang masih punya kekuatan untuk mencabik-cabik ulu hatiku dan memaksa airmata itu tumpah. Tapi kenapa itu bukan lagi terjadi karena sebuah kebahagiaan?

Kenapa iramanya kini tak lagi sekua…

Romansa Kebun Tebu

Aris Kurniawan
http://www.sinarharapan.co.id/

Dua malam lagi aku akan meninggalkan kota ini. Beberapa menit setelah tiang listrik dipukul orang tiga kali, dan penjual nasi goreng mendorong gerobaknya pulang meninggalkan kawanan tukang becak yang terkapar di dalam becak mereka setelah lelah berjudi. Saat-saat seperti itulah aku bisa keluar dari kamar kontrakan dengan perasaan lapang. Mengunci pintu perlahan-lahan, kemudian meletakkannya bersama sebuah surat di bawah keset untuk ibu kontrakan.

Dua malam lagi kamar kontrakan yang bertahun-tahun menghidupiku dengan kesunyian hanya akan kubawa dalam ingatan. Meninggalkan tumpukan baju kotor yang menggelantung di balik pintu. Meninggalkan percakapan anak-anak mahasiswa yang selalu diselingi gelak tawa. Meninggalkan gadis kecil yang dua minggu ini setiap menjelang magrib melintas di jalan itu. Gadis kecil berambut kemerahan yang selalu berjalan dengan langkah-langkah kecil dan tergesa. Dua tangan mungilnya mendekap sebuah buku di dadanya. Gadis…

ANAK LAUT

Syarif Hidayatullah
http://www.surabayapost.co.id/

Ayahku bercumbu gelombang dan lautan, begitu mesra hingga malam-malamnya penuh dengan tarian ombak dan ikan-ikan yang ia tangkap melalui tebaran jala miliknya.

“Sekali waktu ajari aku mengaji,” ujarku padanya. Namun tak ada jawaban yang aku terima melainkan desis ombak yang mengetuk daun pintu rumahku.

Kemudian ia mulai merobek pekatnya malam dengan perahu Kencananya. Sesekali aku diajaknya, mengarungi lautan, ombak menjilati tubuh hingga garam begitu asin terasa di bibir.

“Ha-ha, ha-ha! Hadi tidak bisa baca Quran,” ejek teman-teman sekelasku.

“Sudah besar tidak bisa baca Al-Quran,” lanjut temanku yang lain.

Bukan main malunya aku, sampai-sampai aku menundukan wajahku di kursi tempatku duduk. Sepulang sekolah, aku meraung-raung kepada bapak yang sedang asyik beristirahat. Namun, tanpa menggubris tangisku ia berusaha memejamkan terus matanya. Bahkan ia malah memarahiku untuk diam. Mendapat perlakuan seperti itu tangisku semakin menjadi-jadi…

Sajak-Sajak Nirwan Dewanto

http://kompas-cetak/
Gong

Tengah kami cerna hamparan abu yang meluas hingga ke Prabalingga ketika kau datang tiba-tiba. Menyuapkan sebilah anak kunci ke mulutku kau berkata, "Aku pandai membuka semua pintu. Jangan lagi lari dariku." Waktu kaulepaskan gaunmu tahulah kami bahwa tubuhmu masih setengah-matang. Tapi aku tak lagi bisa tertawa sebab baru saja kami kuburkan sang panakawan di antara batang-batang pisang.

Malam ini sungguh terlalu panjang. Maka menarilah, Adinda. Tak akan kami pulang sebab kami mahir bertepuk sebelah tangan. Menarilah. Inilah lingkaran yang akan kami berikan esok hari kepada ki lurah Baradah. Namun sekarang ambillah. Sebab tubuhmu kian merona merah.

Baiklah, bahkan lingkaran seluas padang ara-ara pun tak cukup bagimu. Telah kunyalakan segala suluh agar hutan pring dan rotan ini menjauh darimu. Dan kami tanam pokok-pokok pinang kencana di sekitarmu agar tanganmu gemas meninggi melupakan leluka para leluhur di bumi. Tapi kau ingin bergerak seperti lautan se…

Puisi-Puisi Fauzi Absal

http://sastrakarta.multiply.com/
SESOBEK ANGIN

sesobek angin mula-mula
mengembara di benua-benua di agama-agama:
sesobek angin!
hanya angin sesobek - "cukup" - katanya
menyayangi namaku. sesobek angin
adalah berita adam terguling

sesobek angin bercengkerama di pelabuhan
berjodoh dengan denyutku
sesobek angin merayakan pelaminan
membongkar kucir lilin menetapkan darah:

sesobek angin membubuhkan berkah kunang-kunang
sambungan nasib moyangku!

sesobek angin memuat kerlap-kerlip ikan
sesobek angin adalah makna
atau taman makna
adalah bahasa arwah.
sesobek angin menemukan mata
menemukan telinga menemukan mulut
memperoleh leher memperoleh kemaluan
memperoleh kegairahan dalam hidupku

sesobek angin adalah berita persembahan
adalah berita mengenai kincir angin di surga



MATA ZAMAN

Mataku ini makin menyala
sebelah jadi bajingan sebelah jadi pelacur
telah semakin sempurna menyamarkan kebenaran
baik dan buruk telah sama-sama percaya diri
pada suatu pesta yang menenung hati nurani

mataku kini…

Surat Pada Gubernur

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

“Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai,” tulis Amat.

Surat itu diperlihatkan pada tetangga.

“Bagaimana?”

Tetangga manggut-manggut.

“Hebat.”

“Hebatnya apa?”

“Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut.”

“Lho, apa salahnya?”

“Pak Amat kenal dengan beliau?”

“Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran.”

“Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit.”

“Apa?’

“Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali.”

Amat ketawa.

“Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!”

“Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik …

BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Sejak mahasiswa tingkat S1, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini sudah rajin menulis. Awalnya dia menulis sajak dan puisi yang dimuat majalah Ti¬me. Berangkat dari kelompok diskusi mulailah dia menulis artikel di berbagai media massa, dan buku pertama yang diterbitkan adalah tesis dan disertasinya. Hingga kini –paling tidak-- telah mengha¬silkan 18 judul.

Menulis bagi Azyumardi menebarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dia tidak pernah memikirkan pendapatan yang dihasilkan dari menulis buku. Bahkan, dia tidak pernah tahu berapa royalti yang dia dapatkan ataupun eksemplar bukunya yang terjual. "Bagi saya, begitu selesai menulis, saya tidak memikirkan hal lain lagi, bahkan saya tidak pernah tahu persis honor yang saya terima dari hasil menulis kolom atau artikel," ujar ayah empat anak ini.

Keseriusan dalam menulis menyebabkan dia mendapat penghargaan Buku Utama dari Yayasan di bawah naungan Depdiknas tahun 2000, …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com