Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

PERKEMBANGAN TEORI SASTRA MUTAKHIR

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

D.W. Fokkema dan Elrud Kunne-Ibsch, Teori Sastra Abad Kedua Puluh, terjemahan J. Praptadihardja dan Kepler Silaban (Jakarta: Gramedia, 1988), xxiii + 281 halaman.

Perkembangan kritik sastra akademis di Indonesia dewasa ini, sesungguhnya berutang budi pada kritik sastra aliran Rawamangun. Terlepas dari segala kekurangannya, kritik Rawamangun telah menanamkan satu tradisi ilmiah dalam pengkajian sastra.

Kini, berbagai perkembangan kritik sastra di Barat yang juga mulai semarak di Indonesia selepas tahun 1980-an, makin memberi kemungkinan lain yang lebih beragam dari pendekatan struktural yang dipegang teguh kritik aliran Rawamangun. Teks sastra yang semula diperlakukan sebagai struktur yang otonom dan mandiri, terlepas dari konteks sosio-kultural, menjadi objek kajian yang dapat dihubungkaitkan dengan teks-teks lain di luar sastra.

Satu kecenderungan baru yang marak belakangan ini adalah mun-culnya berbagai tulisan yang secara tidak tepat menyi…

Berbagi Ceruk Pasar Novel Asia

Bagja Hidayat
http://www.ruangbaca.com/

Penjualannya cukup tinggi, meski masih kalah dibanding terjemahan novel Barat.
Abad 20 adalah sebuah masa yang rusuh dengan ide-ide. Rusuh ide yang melahirkan rusuh massal, juga ketakutan yang akut—a continuous frenzy— jika meminjam istilah George Orwell. Kolonialisme modern mencapai puncaknya yang paling nyata pada abad itu. Negara-negara jajahan di belahan Timur bereaksi aktif terhadap datangnya kultur yang merangsek ke dalam ingatan setiap orang.

India, misalnya, menangguk ‘untung’ dari merasuknya semangat koloni ke dalam hidup mereka. Para penulis mutakhir bertutur dengan ringan dalam bahasa Inggris, sebuah media yang memungkinkan setiap karya berhadapan langsung dengan karya-karya kanon Eropa dan Amerika. Di Amerika Selatan kita mengenal el boom sastra pada sekitar dasawarsa 1960.

India, juga Cina dan Jepang, adalah sebuah wilayah yang unik dalam percaturan sastra dunia. Para penulis di sini memanfaatkan riwayat panjang kebudayaan mereka. Tiga n…

Pramoedya Ananta Toer: Dulu, Saya Tak Pernah Menyangka akan Menjadi Tua

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Kabar tentang terpilihnya Pramoedya Ananta Toer sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time ternyata ditanggapi dengan sangat biasa oleh yang bersangkutan. Menurutnya, pemilihan semacam itu adalah hak dari publik. ”Saya memang sudah sering ditulis dan diwawancara oleh Time. Untuk kabar ini, saya belum membacanya, baru dengar dari wartawan,” ujarnya.

Namun, sesungguhnya ada kabar lain yang menggembirakan hatinya. Novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal. Pada sampul novel yang judulnya menjadi Soliloquio Mudo, dikutip juga tentang pernyataan majalah Time beberapa waktu lalu, bahwa Pramoedya adalah salah satu penulis kuat untuk calon pemenang Nobel. ”Sejak 1981, saya telah menjadi kandidat Nobel,” katanya.

Matahari belum menunjukkan kegarangannya saat SH menemui seorang sastrawan besar yang karyanya terkenal ke seantero dunia, Pramoedya Ananta Toe…

Penulisan Feminin dan Maskulin

Daya Hidup, Seks, dan Narasi
Kematian dalam Semangat Tubuh

Mariana Amiruddin
http://www2.kompas.com/

APA lagi yang dapat kita temukan dalam karya penulisan? Setelah deretan pujangga mencoba menyihir manusia membuat kategori mana yang indah dan mana yang tidak, lahir kemudian penulisan menara gading versus pinggiran, seks versus moral, sastra-wangi versus sastra-bau. Lalu apa yang dapat kita nikmati dari penciptaan kategori?

BISA negatif: sesuatu yang merendahkan atau meninggikan. Bisa positif: sesuatu yang menjelaskan. Untuk sesuatu yang menjelaskan, saya akan turut serta menciptakan kategori penulisan feminin dan maskulin, ecriture feminine-masculine, yang wilayahnya adalah jender. Adakah yang lebih baik satu dengan lainnya? Tidak ada. Di sini saya akan membuat identifikasi bahwa setiap karya cipta tak dapat lepas dari identitas jender atau jenis kelamin. Berangkat dari penjelajahan hidup masing-masing, sebuah karya lahir tak lepas dari jenis kelamin pengarang, dengan sekian kekhasan dan …

Merayakan Pembacaan

Eka Kurniawan
http://www2.kompas.com/

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek Mak Ipah dan Bunga-Bunga, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005). Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.

Perhatikan pula satu cuplikan kalimat dari cerpen Cakra Punarbhawa Wayan Sunarta (Cakra Punarbhawa, Gramedia Pustaka Utama, 2005) ini: ”Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu.” Siapa yang suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu? Guru bahasa kita yang baik di sekolah pasti akan mencoret kalimat seperti itu, sebagaimana mungkin akan dilakukan oleh editor-editor terbaik kita. Kalimat tanpa subyek dianggap bukan kalimat yang baik. Tapi, benarkah kalimat-kalimat tak lengk…

Belajar Hidup kepada Sang Begawan

‘Immemorial’ Kuntowijoyo (18-9-1943–22-2-2005)
Bernando J. Sujibto*
http://www.lampungpost.com/

SUDAH 2 tahun lebih khazanah sastra Indonesia ditinggal salah satu putra terbaiknya, yaitu almarhum Bapak Prof. Dr. Kuntowijoyo (18 September 1943–22 Februari 2005), yang telah menyumbangkan paradigma kritis tentang sastra profetik (prophetic literature), sebuah konsep sastra transendental di tengah kegersangan spiritualitas masyarakat dewasa ini. Konsep sastra profetik sejatinya akan menjadi salah satu embrio dalam sastra Indonesia dengan jalannya sendiri.

Konsep sastra profetik berpijak kepada sebuah konsep berkarya yang berlandaskan pada elan kenabian. Kunto mengutip konsep tersebut dari Alquran, yaitu surat Al Imran Ayat 110: “Kamu ialah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah”. Sastra profetik mengedepankan humanisasi (amar makruf), liberasi (nahi mungkar) dan transendensi (tu’minuna billah) (Kuntowijowo,…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com