Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Kedudukan Sastra Pesisir

Uniawati, S.Pd.
http://www.kendaripos.co.id/

Jika kita menyinggung perihal sastra pesisir, yang pertama akan terbayang dalam benak kita adalah suasana pesantren atau suasana islami. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemahaman kita mengenai sejarah perkembangan Islam di tanah air. Pada awalnya, perkembangan islam yang paling besar terjadi di sekitar daerah-daerah pelabuhan. Dalam hal ini wilayah pesisir ikut menjadi sasaran terjadinya perkembangan Islam. Proses penyiaran islam yang dilakukan kala itu salah satunya dilakukan melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Melalui karya-karya sastra itu, maka penyebaran agama Islam dapat menjadi lebih efektif.

Kenyataan di atas ada benarnya juga jika kita mengorelasikannya dengan kondisi masyarakat yang bermukim di pesisir laut daerah Sulawesi Tenggara terutama di pulau-pulau yang terdapat di sekitarnya. Pada umumnya, masyarakat di daerah tersebut mengenal sastra-sastra lisan yang kandunganny…

Centhini, Kekasih yang Tersembunyi

Seno Joko Suyono, Lucia Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

”…Kehidupan saya dan kehidupan penyair Jawa sejak berabad-abad, semua menyatu. Segala yang pernah saya alami di Jawa dan di tempat lain di Bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib, dan raksasa itu, yang kelihatannya begitu cerai-berai, namun intinya begitu sempurna. Saya seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah wafat, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia….”

Pengakuan Elizabeth D. Inandiak, warga Prancis, pengakuan orang yang terpesona pada Serat Centhini. Ia menyadurnya ke dalam bahasa Prancis. Setelah terbit edisi Prancisnya, kini tafsirnya itu muncul dalam edisi bahasa Indonesia. Iqra kali ini membahas seluk-beluk bagaimana Elizabeth menenggelamkan diri ke dalam Centhini, sebuah karya sastra Jawa di era lampau yang sarat perbincangan religius dan erotisme, sesuatu yang dianggap suci sekaligus kotor itu.

”K…

KULTUR DAN IDENTITAS

Sastra Nir-ideologi: “Menjadi Tak Ada”

Gus TF Sakai
http://kompas-cetak/

Ketika individu menjelma jadi kelompok, ada unsur, sifat, atau kepentingan sama tertentu yang mengikatnya. Dan, identitas dalam bentuk kelompok (etnik, kultur, nation) selalu berada dalam sistem kompleks yang tak bisa dikenali melalui individu.

Fisika boleh menemukan partikel terkecil sub-atomik misalnya, tetapi ketika sejumlah atom berada dan terikat dalam gugus atom (molekul, senyawa), “wujud” yang muncul selalu beda. Dalam kajian sosial, sistem kompleks kumpulan individu ini diidentifikasi melalui ideologi. Tetapi, tepatkah identifikasi seperti itu?

Ada satu hal sulit dalam ideologi, yakni keniscayaan untuk menghamba pada kehendak sendiri. Setiap entitas di luar dirinya adalah salah, maka mekanisme tumbuhnya selalu dengan menaklukkan “Sang Lain”. Ada rekayasa ekspansif-konsekuensi dari politik identitas—yang kalau dimiliki oleh kelompok mayoritas akan berlaku menekan, dan bila dimiliki kelompok berkuasa tentulah ot…

Sastra yang Tidur dalam Kulkas

Saut Situmorang*
http://www.sinarharapan.co.id/

”Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.” Demikianlah bunyi empat baris pertama sajak Afrizal Malna yang berjudul ”Persahabatan Dengan Seekor Anjing” yang muncul dalam kolom yang sama dengan esai Suryadi berjudul ”Dobrak Kultus, Menjadikan ‘Merek Dagang’”(Media, 02/02/03). Kalau sajak Afrizal yang prose-poem itu tidak malu-malu bicara soal ”isu lama untuk pusat baru”, yaitu persoalan ”apakah sastra harus dengan teguh mengemban komitmen sosialnya atau, sebaliknya, tetap bertengger di menara gading”, dan telah melakukan pilihannya, maka esai Suryadi dengan tegas menolak memilih satu di antara keduanya tapi menawarkan sebuah pilihan baru yaitu sastra sebagai ”merek dagang”.

Kalau penyair ”bentuk” eksperimental Afrizal Malna masih memilih…

Sebuah Upaya Memeluk Dunia

Mohammad Eri Irawan*
http://www.jawapos.com/

Pada awalnya, jurnalisme adalah sebuah upaya memeluk dunia. Ia kadang berangkat dari hal kecil, namun kemudian berhasil mendekap sesuatu yang besar. Ia kerap bermula dari sosok-sosok yang terlipat di pusaran waktu mantra manusia modern, namun kemudian gemilang menjadi pencerita yang lengkap tentang cela manusia modern itu sendiri.

Linda Christanty, jurnalis dan penulis sastra peraih Khatulistiwa Literary Award 2004, menunaikan tugasnya dengan sangat baik di buku Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay ini.

Buku ini berisi senarai laporan Linda tentang berbagai tema, mulai gerakan Islam, GAM, militerisme, Aceh-Nias pascatsunami, Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, jurnalisme amplop, sampai gay. Membaca buku ini kita bisa merasakan kejelian seorang jurnalis tulen dalam mengambil sudut pandang. Linda, mantan eksponen Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) –salah satu gerakan perlawanan terpenting di…

Membahasakan 1000 Jejak Pram

Judul Buku : 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa
Penyunting : Astuti Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : xvi+504 halaman
Harga : Rp. 80.000
Peresensi: Engkos Kosnadi*
http://oase.kompas.com/

100 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, Ini sebuah buku yang saya kategorikan sebagai salah satu “babad pram” yang ditulis oleh sekitar 68 orang yang pusparagam dari mulai wartawan, pemimpin redaksi, pustakawan, guru, sahabat, pengagum, pemerhati, adik, anak dan cucu dan beberapa orang sahabat dekat pram dan banyak profesi lainnya, jadinya ‘gado-gado ala pramis’. Buku yang disajikan khusus sebagai kado peringatan 100 hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer ini memang terkesan terburu moment, sehingga banyak detail yang terlewatkan dari mulai tidak seragamnya siapa jatidiri penulis sampai beberapa kata yang salah ketik walaupun jumlahnya minimal, mungkin ini lagi-lagi gaya ‘pramis’ yang menjadi ciri dalam kebebasannya dalam menulis. Mungkin mereka ingat pesan Pram “masa terbaik dalam hidup se…

Sastra, Ideologi, dan Dunia Nilai

Mohamad Sobary
http://kompas-cetak/

Sastra menyodorkan ke hadapan kita ekspresi estetis tentang manusia dan kebudayaannya. Di dalamnya tercakup kompleksitas ideologi, dunia nilai, norma hidup, etika, pandangan dunia, tradisi, dan variasi-variasi tingkah laku manusia. Dengan kata lain, sastra berbicara tentang tingkah laku manusia di dalam kebudayaannya.

Di dalam sastra, seperti halnya di dalam kajian tentang kebudayaan, manusia disorot sebagai makhluk sosial, makhluk politik, makhluk ekonomi, dan makhluk kebudayaan. Tak mengherankan sastra disebut cermin masyarakat, dan cermin zaman, yang secara antropologis merepresentasikan usaha manusia menjawab tantangan hidup dalam suatu masa, dalam suatu konteks sejarah tertentu.

Manusia individual, atau sang tokoh dalam sastra tersebut, hanya cuilan kecil dan bagian dari sastra yang besar dan luas: bagian dari sastra yang mewakili potret zaman dan cerminan masyarakat tadi. Tapi, sekecil apa pun peran sosialnya, manusia adalah aktor. Dia aktor penen…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com