Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2009

Ben Okri Dan Penyair Tulen

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=340

Penyair dipertentangkan dengan dunia, karena ia tak dapat menerima segala yang tampak sebagaimana apa adanya (Ben Okri).

Penyair hadir dari kegelisahan menggila atas beban lingkungannya; ladang di mana dirinya menemukan benturan hebat, di hadapannya rumusan hidup tiada yang becus, wewarna sengkarut. Namun tatkala melihat langit biru peroleh rongga pernafasannya lega, awan beterbangan sewujud pergerakan sosial, peradaban bertumpuk-tumpuk. Dan saat angin menghampiri didapati abad silam-semilam memberi kabar, lantas turun balik peroleh kekacauan yang sedikit jinak.

Maka diteruskan kembara memasuki gelombang hayati mengendarai ombak perasaan sesama, bertemu tebing curam mata-mata di tengah laluan pun jurang terjal pandangan sinis antar manusia. Ia melangkah seolah tak berjejak juga tiada bayangan, dalam keadaan itulah mengenal kata-kata.

Ia bayang-bayang berlarian dari awan tubuhnya, menggembol kesedihan teramat sangat akan nasib bermakhluk y…

Nilai Budaya dalam ”Puteri Malam” Cerita Rakyat Bangka

L.K. Ara
http://www.sinarharapan.co.id/

Penggemar cerita rakyat mungkin akan mendapat kesulitan untuk menemukan cerita rakyat Pulau Bangka. Berbeda dengan cerita rakyat daerah lainnya seperti: Sunda, Jawa, Batak, Aceh, Sulawesi, yang sudah banyak diterbitkan. Baik dalam suatu kumpulan bersama antara cerita rakyat dari berbagai daerah maupun sendiri-sendiri.

Namun demikian penggemar cerita rakyat Pulau Bangka yang dikenal sebagai penghasil timah itu tidak perlu kecewa karena masih dapat ditolong oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1983 Proyek ini pernah menerbitkan buku Puteri Ladang dan Puteri Malam yang ditulis oleh Amiruddin D (Dja’far) berisi cerita rakyat Bangka . Dalam kata pengantar pengarang kita pun akhirnya mengetahui bahwa buku ini merupakan lanjutan penerbitan sebelumnya yakni Cerita-Cerita Purba dari P. Bangka yang ditulis oleh pengarang yang sama. Mungkin karena penerbitan dengan oplah terbatas kedua buku …

Pendobrak Pintu Cerpen Indonesia

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman di dalam dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai sastrawan ia juga pernah mengikuti program penulisan di luar negeri di antaranya di Kyoto, Jepang.

Wayan Sunarta, seorang penulis puisi dan cerpen asal Bali mengagumi karya-karya Danarto dan menganggap karya-karyanya fenomenal dalam kesusastraan Indonesia. Melalui karya Godlob, Wayan menganggap bahwa Danarto telah mendobrak genre cerpen di Indonesia pada tahun 70-an hingga 80-an dengan penyajian fiksinya yang mengangkat persoalan kehidupan sosial sehari-hari dengan bumbu sufisme Jawa.

Akmal Naseri Basral, seorang cerpenis, novelis dan juga wartawan yang telah menyelesaikan buku-buku: Naga Bonar Jadi 2, Imperia dan kumpulan cerpen Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku, amat mengagumi karya Danarto se…

Jiwa Manusia Kota dalam Cerpen

Imam Muhtarom*
http://jurnalnasional.com/

Pelajaran yang berharga dari membaca cerpen maupun novel karya Budi Darma kita disadarkan bahwa manusia itu pada hakikatnya berjiwa. Jiwa inilah yang mengatasi dunia material tempat ia berada. Dalam khasanah sastra Indonesia posisi karya-karya Budi Darma sudah jelas letak dan sumbangannya. Juga semakin jelas perbedaannya apabila kita membandingkannya dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Semua karya Pramoedya memberi pelajaran pada kita bahwa manusia pada dasarnya pertarungan tak selesei antara kelas penguasa dengan kelas yang dikuasai. Jika pada karya-karya Pramoedya berpijak pada material, maka bisa dikatakan karya-karya Budi Darma berpijak pada yang immaterial, jiwa.

Namun demikian, tokoh-tokoh dalam karya Budi Darma, khususnya dalam kumpulan Orang-Orang Bloomington (selanjutnya disingkat OOB), sekalipun dengan jelas menunjukkan sosok manusia lewat tokoh-tokohnya yang memiliki jiwa, memiliki kepribadian, bukan berarti mereka berada di luar…

Fiksi Perempuan Dunia Maya

Judul: Suicide
Penulis: Latree Manohara
Editor: Dwi Cipta
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri
Cetakan: Pertama, Agustus 2009
Tebal: 112 halaman
Peresensi: Agunghima
http://suaramerdeka.com/

DUNIA realita mungkin memang sudah terlampau sesak dan padat. Ada begitu banyak hal yang membuat manusia selalu ingin mencari jalan keluar dari rutinitas yang menderanya. Pada era modern ini bukanlah hal yang kuno ketika segala persoalan keseharian dibawa menuju dunia maya, sebagai salah satu jalan keluar. Dari curhat, pisuhan, puisi hingga cerpen melaju dengan kencang di portal-portal dunia yang nyaris tak bersekat itu, menciptakan bahasa dan jalannya sendiri. Dan bahasa pada wilayah ini menjadi alat komunikasi yang membentuk ruang dan tanda bagi dirinya sendiri, membentuk sebuah ‘’sastra’’-nya sendiri.

Latree Manohara adalah salah satu di antara jutaan manusia yang memanfaatkan berbagai portal di dunia maya ini menjadi alat ekspresi dan komunikasinya. Dengan bahasa yang dipunyai ia melontarkan gagasan yang di…

Membaca Ensiklopedi Aceh, Mengulang Dongeng Lama

Peresensi: Herman RN
http://blog.harian-aceh.com/

Judul buku : ENSIKLOPEDI ACEH
Adat Hikayat dan Sastra
Penulis : L.K. Ara dan Medri (editor)
Tebal buku : 468 + xvi
Penerbit : Yayasan Mata Air Jernih (YMAJ) bekerja sama BRR-Badan
Arsip dan Perpustakaan NAD, JKMA-ICCO
Edisi : Cetakan Pertama, April 2008

Setelah Aceh mengalami sejarah panjang dengan derai air mata, maka menjadi sebuah kepatutan mendokumentasikan segala yang pernah ada di sini, baik yang telah hilang maupun masih tersisa. Salah satu upaya mendokumentasikan tersebut dapat berupa menuliskannya menjadi sebuah buku lalu menerbitkannya.

Adalah L.K. Ara dan Medri, mereka mendokumentasikan sejumlah hal sekitar sastra dan budaya dalam sebuah buku bertadjuk “Ensiklopedi Aceh” Adat Hikayat dan Sastra. L.K. Ara adalah seorang penyair dari Tanah Gayo, Aceh Tengah. Sedangkan Medri merupakan seorang sastrawan asal Riau yang menjadi salah seorang peneliti di Balai Bahasa Banda Aceh sejak tahun 2001—karena lama berkiprah dan menulis di media-medi…

Ihwal Biografi Sastrawan Riau Modern

(Apresiasi Atas Buku Leksikon Sastra Riau)

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

Betapa pun pakar semiotika Roland Barthes (1915-1980) menggemaungkan, “the death of the author,” saya yakin, kita masih sangat percaya bahwa sosok sastrawan (pengarang) tak dapat dengan mudah “terpisah” dengan karyanya.

Dan tentu, kita juga tahu bahwa Roland Barthes memang tidak sedang hendak “memisahkan” keduanya, meski dia menandaskan tentang “matinya seorang pengarang.” Sebab, makna kematian di sini bukan berarti nama si pengarang serta merta terhapus dari karyanya, menjadi anonim nasibnya, akan tetapi ini soal “makna” yang menguar dari teks karyanya itu. Di titik ini, si pengarang tidak lagi punya “kekuatan” untuk menjangkau makna akhir dari (teks) karyanya. Tak ada otoritas tunggal. Begitu sampai ke tangan pembaca, teks seperti liar tak terkendali, dan “tanda-tanda” bertebaran, memproduksi makna-makna baru. Maka, jika begitu, bukankah yang “hidup” dan terus “lahir” adalah para pembaca?

Lalu, apa kabar si…

Sastra-Indonesia.com