Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

MEMBANGUN PENDIDIKAN, MELAKSANAKAN OTONOMI DAERAH

Catatan Kecil atas Berbagai Gagasan Besar

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

“Kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada pendidikan” (Fukuzawa Yukichi (1835—1901), Bapak Pendidikan Modern Jepang)

Membaca sebuah buku antologi, boleh jadi kita merasa laksana dibawa masuk ke sebuah lanskap yang penuh panorama. Dari sana, tema-tema yang beragam seperti hendak saling menyerbu dan memaksa kita (pembaca) melakukan pilihan-pilihan. Jika keberagaman tema yang dihadirkan itu mengesankan berbagai gagasan yang fragmentaris, maka tugas pembaca kemudian mencoba mencari benang merahnya. Mencoba pula menemukan pesan keseluruhan yang hendak disampaikannya. Bagaimana hubungan dan keterkaitan antara tema yang satu dan tema yang lain. Bagaimana pula masing-masing tema itu menyatakan diri dan menyampaikan pesan sponsornya. Apakah ada pesan holistik atau ideologis yang melatarbelakangi dan melatardepani keseluruhan tulisan-tulisan itu.

Dalam hal itulah, buku antologi kerapkali menghadirkan dua hal …

Pilar Kesadaran Rendra

Agus R Sarjono*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SUASANA hening dan mencekam–hingga jika saat itu ada jarum jatuh, dentingnya akan nyaring terdengar– saat Rendra membacakan sajaknya “Khotbah”, di Festival Puisi Internasional, Rotterdam. Usai pembacaan, ruang meledak oleh gemuruh tepuk tangan. “Bravo!” ucap seseorang dari barisan penonton, sambil menghampiri Rendra dan memeluknya erat di hadapan para hadirin. Orang itu bernama Pablo Neruda.

Kisah tersebut diriwayatkan oleh penyair Taufiq Ismail yang berada dalam festival itu bersama Rendra berpuluh tahun lalu. Saya yang diceritai kisah itu hanya bisa membayangkannya saja. Namun, beberapa tahun lalu, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri penerimaan publik asing atas pembacaan puisi Rendra. Dalam festival puisi Berlin, Rendra tampil di panggung terbuka yang didirikan di tengah jalan khusus untuk keperluan festival. Para penonton memenuhi kursi yang dipasang berjajar sepanjang jalan dan sedikit naik ke trotoar. Sementara itu, para …

Marco Polo (1254-1324) Mampir di Jogjakarta?

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=389

Marco Polo (15 Sep 1254 - 8 Jan 1324), pedagang penjelajah lahir di Venezia, Italia. Pergi ke Tiongkok semasa kuasanya Dinasti Mongol. Menemukan kekisah menarik dan aneh, dari dunia Timur bagi bangsa Eropa. Para cendekia berpendapat Marco ke Tiongkok, tetapi tidak mengunjungi semua tempat, yang tergambar di bukunya (Xanadu). Kisah menarik untuk Indonesia, cerita unicorn (kuda bertanduk satu) yang dijumpai di Sumatra. Namun ilmu pengetahuan membuktikan, yang ditemuinya bukan sembrani, melainkan badak.
Dataran Indonesia yang disebut di bukunya: Pulau Jawa Besar (Jawa); diperkirakan sangat luas, karena pantai selatannya tidak sempat dikunjungi. Juga diceritakan ekspedisi penyerangan, kegagalan Kubilai Khan. Pulau-pulau Sondur dan Condur (belum jelas); diperkirakan kepulauan di Laut Cina Selatan, yang digunakan patokan pelayaran. Pulau Pentam (Bintan); letaknya dari selat Singapura. Kota Malaiur (Melayu atau Palembang?); dikisahkan raja-raj…

Kesadaran Puitis & Politik

Damhuri Muhammad*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BAGAIMANA semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten.

Tapi, apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun, atau hujan bulan November yang mengingatkan ia pada serpihan-serpihan yang hilang. Mengawang-awang, tak membumi, sesekali bahkan utopia. Ada atau tak adanya bait-bait cengeng itu tidak akan ber…

Memotret Singkat Perjalanan Sang Pengelana

(Catatan Kenangan Perjalanan)

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Udara panas kota Lamongan membuat gerah, waktu itu tak ada alasan untuk tidak berjumpa dengannya. Saya hubungi lewat hand phone, memastikan keberadaannya. Saya baru pertama kali jumpa dengannya waktu dia berkunjung ke kota rantau saya untuk membincang bukunya Kitab Para Malaikat kira-kira tahun 2008-an.

Sungguh buku kumpulan puisi yang tak biasa bagiku, bukan saja aku yang berkata demikian. Sehabis acara tersebut, saya tunjukkan pada kawan. Lalu bertanya padaku “Apa ini puisi?” aku jawab “Ya, ini puisi, lihat saja tertulis antologi puisi pada caver depan.” Begitulah awal perjumpaanku dengan pengelana dari Kendal Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Saya yang baru saja memasuki dunia kata-kata (penulisan) khusunya puisi, ingin sekali berkunjung kerumahnya. Setelah saya pastikan ada dirumahnya. Motor saya pacu menuju kediamannya. Saya disambut hangat olehnya. Dan kita berbincang-bincang tentang kepenulisan, dia me…

“Lirisme” Sajak Sunda

Djasepudin*
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM khazanah sastra Sunda, sajak merupakan produk budaya paling bungsu. Bahkan, di awal kelahirannya sajak Sunda sempat menuai pro-kontra. Setelah melewati lebih dari lima dasawarsa kiwari, keberadaan sajak Sunda masih mendapat tempat di hati masyarakat.

Sastrawan Sunda munggaran yang menulis sajak adalah Kis Ws, nama lain dari Kiswa Wiriasasmita (1922-1995). Meski produk budaya anyar, sajak Sunda sejatinya masih berpijak pada akar tradisi karuhun. Tidak hanya bahasa, pengaruh nilai-nilai dangding atau pantun pun masih menjadi ilham para pengarang Sunda dalam menuangkan ekspresinya.

Sayudi (1932-2000), misalnya. Penyair alumnus Konservatori Karawitan jurusan Sunda ini, sajak-sajaknya memiliki ruh puisi lama semacam pantun, sisindiran, atau kakawihan. Kumpulan sajak Sunda yang pertama terbit pun buah pikirnya, Lalaki di Tegal Pati (1963). Sajak Sunda ti kamari tepi ka kiwari masih mengedepankan unsur musikal alias terpatri melalui dimensi bunyi,…

Sastra Tradisi Sekadar Tempelan Sastra Modern?

Hazwan Iskandar Jaya
http://www.suarakarya-online.com/

Masih patutkah membenturkan dua arus kutub sastra sastra tradisi (lisan/ lokal) dengan sastra modern KRG kontemporer KRG, ketika ruang kreatif makin terbuka? Mengapa pula sastra tradisi (lisan/lokal) makin tak bergeming dari keterpakuannya (baca: stagnan), ketika sastra modern yang melaju kencang?

Menyuguhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu tidaklah gampang. Namun paling tidak, Jung Fondation dan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung mendiskusikannya dalam sebuah forum Diskusi Ragam Sastra Lampung, di Chriza Art Gallery Bandar Lampung, Nopember silam.

Sebuah upaya memberi “pencerahan” kepada 50 peserta dari berbagai siswa SMA/SMK se Bandar Lampung. Dengan harapan peserta dapat mengenal lebih dekat apa dan bagaimana sastra tradisi yang telah lama berkembang di Lampung, dan bagaimana pula proses perkembangan kreativitas perjalanan sastra modern di Lampung.

Maka tak heran bila para sastrawan Lampung dalam d…

Fenomena Penyair Facebook Indonesia

Kurniawan Junaedhie
http://www.suarakarya-online.com/

Akhir tahun lalu, saya menjadi kurator buku antologi berjudul Merah Yang Meremah. Buku yang laris manis dijual Facebook itu memuat hampir 100 puisi yang ditulis oleh 10 penyair perempuan yang biasa menulis di situs perkawanan yang sedang ngetrend itu. Kesepuluh penyair itu adalah Dewi Maharani, Faradina Izdhihary, Helga Worotitjan, Kwek Li Na, Nona Muchtar, Pratiwi Seyaningrum, Shinta Miranda, Susy Ayu, Tina K, dan, Weni Suryandari.

Saya tergugah untuk membukukan puisi mereka, karena beberapa alasan. Pertama, nama mereka pada umumnya (kecuali satu dua nama) belum pernah saya dengar dalam perbicangan sastra, karena memang belum pernah dipublikasikan di media mainstream berupa koran atau majalah berskala nasional. Kedua, motivasi mereka menulis di Facebook, tampaknya murni ‘hanya’ didorong keinginan mengekspresikan dan beraktualisasi diri, tidak sebagaimana gerakan Cybersastra pada tahun 2005 yang ditokohi penyair Medy Loekito dkk; yang…

Sastra-Indonesia.com