Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

PERSEMBAHAN KEABADIAN

Judul Buku : Sahibul Hikayat al Hayat
Pengarang : KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Pengantar : Nurel Javissyarqi
Jenis Buku : Kumpulan Prosa
Penerbit : PUstaka puJAngga
Tebal Buku : xxiv + 144 hlm; 14 x 20 cm
Peresensi : Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Seberapa jauh perjalanan hidup manusia? Seberapa lama ia hidup untuk sesamanya? Seberapa kuat ia dikenang oleh generasinya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang mesti direnungkan jauh lebih dalam bagi setiap orang. Fenomena yang terjadi dalam psikologi manusia, hanya dalam beberapa kurun waktu jenjang keturunan, ia masih diingat oleh generasi selanjunya. Yang jelas, seorang anak pasti masih mengingat dan mengenal orang tuanya. Ia juga pasti masih mengenal dan mengingat kakek-neneknya. Lebih jauh lagi, ia mungkin masih mengingat buyutnya. Namun yang terakhir ini intensitasnya cukup rendah. Dalam bahasa Jawa, seseorang pasti sangat sulit mengenal maupun mengingat cangga, wareng, udeg-udeg, siwur atau jenjang keturunan ke bawah lainnya.

Fenomena…

INTRIK PENYAIR DAN KARYANYA

(Ini hasil perasaan saja, andai saya seorang penyair. Dan jika benar istilah perasaan itu, awal daripada ilmu pengetahuan).

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/

Apa yang kalian impikan pada tinggi kepenyairan? (Goethe).
Puisi ialah masa-masa mati. Terhenti atas kekakuan dirinya yang telah terselubung kelenturan. Ia tidak bisa bergerak terlampau jauh, ketika “kata-kata” sudah mewakili kehadirannya. Maka penciptaan puisi, sejenis latihan bunuh diri berkali-kali.

Siapa yang mati di sana? Penciptanya, dipermalukan kejujurannya. Meski berselimutkan kerahasiaan, tetaplah ada keinginan untuk diketahui, difahami. Mungkin ini sisi lain kebinalan puisi sebelum mati, sedurung di kubur dalam keranda kata-kata.

Saya tidak hendak menghakimi. Ini realitas keindahan terbatas di muka bumi, sebuah musim bunga terhilangkan lewat gugurnya dedaunan atas musim berubah. Matahari yang kita nikmati, menciptakan hayalan, yang keinginannya terus bertambah dari dorongan naluri, dari kedalaman maksud jiwa.

Tap…

TAUFIQ ISMAIL: MENULIS DENGAN KEHARUAN HATI

Maman S. Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm)
“Taufiq Ismail tak ingin memperingati usianya, tetapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” begitu Fadli Zon, Ketua Panitia Peluncuran Buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm) menegaskan semangat yang melandasi acara peluncuran keempat buku karya Taufiq Ismail (14 Mei 2008) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Keseluruhannya, keempat buku itu berjumlah 3004 halaman, termasuk halaman pelengkap dan indeks. Inilah rekor baru ketebalan buku karya seorang penyair.

Meskipun begitu, tentu saja yang jauh lebih penting bukanlah perkara tebal—tipisnya buku, melainkan isinya; kedalaman dan gagasannya dalam mencermati dan memandang berbagai persoalan dan mengungkapkannya dalam berbagai ragam tulisan—…

Mempromosikan Karya Penulis Indonesia

Rofiqi Hasan
http://www.tempointeraktif.com/

Dewa Syiwa dan Dewi Uma resah. Situasi jagat sedang diwarnai kekalutan, konflik, dan ketidakseimbangan. Dari Nirwana, akhirnya mereka mengutus tiga dewa, yakni Brahma, Wisnu, dan Iswara, untuk mengatasinya. Ketiganya lalu menjelma menjadi tiga tokoh yang populer dalam kesenian Bali, yakni Telek (wanita berparas cantik dengan pakaian serba putih), Barong, dan Topeng Merah.

Bahu-membahu mereka mengatasi para perusuh yang dilambangkan oleh Rangda. Melalui berbagai pertempuran, akhirnya mereka berhasil mewujudkan Tri Hita Karana. Ini adalah keseimbangan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, serta dengan sesama.

Fragmentari karya Made Wija itu menandai pembukaan Ubud Writers & Reader Festival (UWRF), Rabu malam lalu, di Puri Saren, Ubud. Ratusan penulis dari 30 negara, termasuk dari Indonesia, berbaur menikmati tarian itu.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, penggagas UWRF Janet De Neefe, dan para tokoh Puri Ubud menjadi tuan rumah. “T…

Kata-Kata Telah Membuat Teater Tersiksa*

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

Tahun 2009 menjadi tahun yang sibuk bagi proses berteater S.Jai. Di tahun yang penuh agenda politik ini, S.Jai melakukan serangkaian pentas monolog. Naskah yang diusung sama, Racun Tembakau. Saduran dari cerpen Anton Chekov berjudul “On The Harmful Effects of Tobacco.”

Selama bulan Oktober kemarin, S.Jai bersama Teater Keluarganya menggelar Campus Tour Monologue di Universitas Dr Soetomo Surabaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Trunojoyo Madura. Sebelumnya, Drama ini dipentaskan dua kali di Unair Surabaya dan satu kali di RRI Surabaya.

Apakah spirit yang menggelibat dalam diri S.Jai? Apakah hal ikwal dramaturgi yang dikukuhinya? Dan, Apakah visi sosio-kultural yang sedang diperjuangkannya? Kepada Kidung, S.Jai membeberkan secara panjang dan lebar.

1. Beberapa seniman, saya tidak perlu menyebutkan namanya, mencibir kerja teater Anda yang bekerjasama dengan LSM yang bergerak di bidang kampanye anti rokok. Dikatakan, teater Anda pun tidak te…

Naskah Sastra Arab Betawi

Alwi Shahab
http://www.republika.co.id/

Jangka waktu penguasaan Fatahillah atas Jakarta memang tidak lama (1527-1610), namun telah berhasil mengubah masyarakat Jakarta menjadi masyarakat Muslim. Salah satu peninggalan kekuasaannya atas Jakarta antara lain berupa adanya kawasan yang dihuni masyarakat Muslim yang kita kenal dengan nama Jatinegara Kaum yang ada sejak masa Pangeran Jayakarta.

Tempat tersebut terletak di Pulogadung, Jakarta Timur. Di tempat tersebut terdapat sebuah perkampungan yang hingga kini menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulan antar penduduknya. Di sana juga terdapat sebuah pemakaman yang oleh penduduk diyakini sebagai makam keturunan Pangeran Jayakarta yang melarikan diri setelah tidak mampu melawan VOC.

Menurut Prof Dr Muhajir, ahli sejarah dari UI yang banyak menulis tentang sejarah Jakarta, Fatahillah dan keturunannya berhasil membina masyarakat Betawi di Jayakarta menjadi masyarakat Islami. Betapa meresapnya ajaran Islam pada masyarakat Jayakarta yang dibinanya. H…

Budak Setan Menafsir Horor

Iwank, Ismi Wahid
http://www.tempointeraktif.com/

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?” (Riwayat Kesendirian, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan–lebih mirip terigu menggumpal tersapu air–dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan. (Goyang Penasaran, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam sama telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Se…

KONCOISME DALAM SASTRA, ADAKAH?

Budhi Setyawan
http://budhisetyawan.wordpress.com/

Mungkin judul di atas akan sangat menohok bagi yang merasa seperti itu. Sebenarnya saya lebih mempertanyakan pada pemuatan sebuah karya sastra, terutama cerpen dan puisi, di media massa. Lebih utama pada sejumlah koran edisi minggu yang menyediakan kolom sastra. Ada beberapa media nasional yang bisa disebutkan di sini antara lain: Kompas, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan.

Mungkin beberapa pembaca ada yang lebih jeli mengamati? Sejauh pengamatan saya yang awam dengan dunia jurnalisme dan persuratkabaran, sangat sering muncul karya-karya sastra dari pengarang yang telah begitu dikenal. Ada juga beberapa nama baru, dengan karya yang cukup bagus. Namun ada juga nama baru, yang dengan karya yang menurut penilaian saya ‘biasa-biasa saja’ tetapi dimuat di media nasional. Nah yang terakhir ini apa pertimbangannya?

Untuk karya dari pengarang terkenal, itu sudah pasti dari pihak koran tersebut ingin menaikkan nilai med…

Rasanya Malu pada Mpu Tantular…

Kris Razianto Mada
http://cetak.kompas.com/

Tahun 2007, riuh sekali penerbitan sastra Jawa dari Jawa Timur. Tercatat sedikitnya 15 buku dengan beragam isi diterbitkan sepanjang tahun lalu. Ada geguritan, kumpulan cerita cekak (cerita pendek), hingga novel.

Tahun ini, para sastrawan Jawa di Jatim tidak ingat berapa pastinya buku yang terbit. Namun, hampir dipastikan tidak sampai lima buku terbit sepanjang tahun ini dari provinsi dengan penduduk terbanyak di Jawa dan Indonesia ini.

Bagi Ketua Perhimpunan Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) Bonari Nabonenar, itu salah satu tanda kesalahan dalam pengembangan sastra Jawa. “Penerbitan karya masih mengacu pada keberadaan festival atau acara-acara terkait sastra Jawa. Untuk tahun ini, penerbitan boleh disebut antiklimaks,” ucapnya.

Sepanjang 2007 setidaknya ada dua perhelatan nasional terkait sastra Jawa. Ada Kongres Bahasa Jawa yang digelar pemerintah. Ada Kongres Sastra Jawa yang dibuat para pengarang. Sebaliknya, sepanjang 2008 tidak ada fes…

MEREKA TIDAK HARUS MATI

Haris del Hakim
http://sastragerilyawan.blogspot.com/

Kastumiun menambatkan perahu di batang trembesi sebesar lengan, menjejakkan kaki di bibir perahu, melompat ke atas pematang tambak, melihat tambak yang berair keruh dan ikan-ikan bandeng timbul tenggelam; sesekali bagian perut ke atas, berusaha menyelam lagi, timbul lagi. Ikan-ikan dalam keadaan seperti itu memenuhi separuh permukaan tambak.

Lelaki berumur setengah baya itu melompat ke tambak, tanpa melepas baju atau celana seperti yang dilakukannya saat menabur pupuk urea untuk menghijaukan air, dan merabai tanah. Tangannya berkali-kali menyentuh ikan-ikan yang mati. Kemudian dia mentas ke pematang dan melompat lagi ke perahu. Setelah melepas ikatan tali di pohon trembesi, dia mengayuh perahu itu cepat-cepat. Dia hanya menoleh sebentar pada tambaknya yang ada di sebelah kiri kali desa dan mendayung kembali. Dari kejauhan dia melihat anak sulungnya sedang mengayuh sepeda dengan boncengan kosong belum mengangkut rumput sama sekali. Dia…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com