Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Ia dan Aku dalam Keterasingan Kota

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Meniatkan diri untuk merantau, sebab desa tak dapat membuat nasib menjadi baik. Mengupayakan diri untuk mendapatkan sangu buat berangkat ke kota. Hutang pun dilakukan. Impian besar di pundak menatap ruang hingar bingar bahwa nasib akan menjadi lebih baik. Dengan kereta yang melaju ternaik dirii, hingga sampailah pada kota yang di tuju. Tak ada sanak famili dan sendiri. Memulai menanya satu dua orang yang tertemui, tapi tak juga ada kabar gembira kemana melabuhkan diri.

Masa terlewati dengan harapan sia akan kota. Hutang di kampung halaman belum terlunasi. Apa mau di kata, menetap dengan upaya yang penuh jerih. Menawarkan diri mengangkut barang dari mobil yang membawa dagangan untuk ditaruhnya pada kios Juragan di pasar terbesar kota yang tersinggahi. Kadang juga tak ada hasil dalam sehari, dengan terpaksa meminta pada yang berpunya untuk sebungkus nasi.

Bulan tepat di atas kepala saat Ia duduk di taman kota. Tiap hari bila waktu tak bersahabat…

Senjakala Tamansari

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Hari ini adalah Kamis, di sore hari ketika darah telah bergejolak karena kabar angin yang memang selalu terdengar sebagai lagu duka bagi seorang lelaki pendosa. Dia memang selalu bangga menyebut dirinya sebagai lelaki pendosa, lelaki yang dilumuri dengan kesalahan di setiap tapak kehidupan. Memang, dia sengaja. Tapi, di dalam hatinya diniatkan agar namanya yang dia sematkan itu mampu mengingatkan, kalau dirinya hanya seorang lelaki pendosa dan musti berjalan jauh untuk menjadi pembenaran atas pemahaman sampai dia yakin ketika bertemu denganNya, bahwa dia bukan seorang lelaki pendosa. Bukan manusia yang dialiri darah kesalahan.

Hari Kamis, menjadi hari perjalanan bagi si Lelaki Pendosa untuk melewati perjalanan waktu bersama dengan seorang Perempuan Pendoa yang pernah dia temui ketika perjalanannya mengantarkan pada surau kecil yang bercahaya. Entah dalam alur yang bagaimana, Dia yang memiliki kuasa atas alur kehidupan telah menggariskan keduan…

Marco Ketua DKJ Mengusir Saut Situmorang dkk

Saut Situmorang*
http://sautsitumorang.multiply.com/

Jumat 19 Desember 2008 kira-kira jam 2 siang lebih. Saya Saut Situmorang, Wowok Hesti Prabowo dan Viddy A Daery masuk ke sebuah ruangan tempat diadakannya “mukernas” dewan kesenian se-Indonesia di hotel Sheraton Media Jakarta. Saya mendapat info bahwa mukernas tersebut akan membahas soal “dewan kesenian Indonesia” yang beberapa waktu dulu ide pembentukannya mendapat tentangan keras dari banyak seniman. Ide awal pembentukan dewan kesenian Indonesia tersebut, kata orang, berasal dari Ratna Sarumpaet dan dia hari itu akan memberikan pidato tanggapan atas idenya yang mungkin dia rasa dicuri orang itu. Sebuah acara menarik untuk ditonton, bukan? Di pintu masuk ruangan mukernas itu saya sempat disapa oleh seorang cewek yang bekerja untuk Dewan Kesenian Jakarta alias DKJ, yang merupakan tuan rumah mukernas. Di pintu masuk saya tidak melihat ada pengumuman “YANG TIDAK DIUNDANG DILARANG MASUK!”.

Setelah berada di dalam ruangan saya dipanggil ol…

Taufik Ikram Gelar Kembara Sajak Tersebab Aku Melayu

Yurnaldi
http://oase.kompas.com/

Sastrawan Taufik Ikram Jamil, akan membacakan sajak-sajak yang terhimpun dalam buku sajaknya yang terbaru tersebab aku melayu , di Bentara Budaya, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, hari Selasa (22/6/2010) malam. Ini merupakan tempat pertama yang dikunjunginya dalam kegiatan yang dinamakannya kembara sajak tersebab aku melayu. Beberapa tempat akan dikunjunginya di Sumatera dan Jawa dalam kegiatan serupa sampai Agustus mendatang.

Ikram akan membacakan sembilan sajaknya dengan masa sekitar satu jam. Di antara sajak yang dibacakannya berisi tentang perspektif kejayaan Melayu untuk masa kini dan bagaimana memanfaatkannya seperti dalam sajak gurindam bukit siguntang (sriwijaya,Red.), catatan terakhir oleh raffles, di sungai siak, dan orang asing rupanya aku. Ia juga membawa dialog keruntuhan Majapahit melalui sajak hanya karena aku bukan seorang jawa (biografi dara petak). Dalam membacakan sajak, ia dibantu multimedia.

“Inti acara ini adalah silaturahim dengan me…

Aceh Butuh Kritikus Sastra

Thayeb Loh Angen*
http://blog.harian-aceh.com/

Aceh butuh kritikus sastra untuk merawat mutu karya dan arahnya. Namun banyak yang belum siap mengupasnya.

Kehadiran orang-orang yang memahami dunia kesusastraan di Aceh patut disyukuri dan diharapkan ada beberapa di antara mereka yang mengambil posisi sebagai kritikus yang adil, atas dasar standar dan dilengkapi dengan keahlian yang cukup.

Demi majunya dunia sastra di Aceh, orang-orang yang telah memposisikan dirinya sebagai senior dan menyamankan diri di menara gading kita minta keluar ke halaman atau setidaknya bukalah jendela atau pintu, lihatlah sekeliling dunia sastra kita.

Indonesia kekurangan kritikus sastra, apalagi Aceh. Tulisan-tulisan yang tersebar di beberapa media di Aceh terlihat berjalan sendiri tanpa ada pengamat yang disebut kritikus sastra. Fakta ini terjadi karena beberapa sebab, di antaranya: kurangnya orang yang memahami seluk beluk tentang kesusastraan. Para lulusan akademik bidang sastra pun jarang menampilkan dirinya u…

Perlawanan dari Tegal

Dahono Fitrianto
http://cetak.kompas.com/

Apa hal pertama yang mampir di kepala saat mendengar nama Kota Tegal? Seorang teman dengan cepat menjawab, warteg dan ”ngapak-ngapak”.

Begitulah, kota di pesisir utara Jawa Tengah ini telanjur diidentikkan dengan dua stereotip: warung tegal alias warteg dan logat bahasa khasnya. Itu juga lebih sering ditampilkan dalam konteks olok- olok, untuk lucu-lucuan, yang secara tidak langsung sebenarnya mengandung sikap agak meremehkan.

Perhatikan dunia pop kita yang selalu menampilkan Tegal sebagai bahan lawakan, mulai dari Cici Tegal, Parto Patrio, hingga terakhir grup musik Warteg Boyz dengan lagunya yang sangat populer, ”Okelah Kalau Begitu”.

Padahal, jika diteliti lebih jauh, banyak yang tidak pas dengan olok-olok soal Tegal tadi. ”Bahkan, bahasa ngapak-ngapak yang dibawakan para pelawak itu sebenarnya bukan bahasa Tegal, tetapi bahasa banyumasan. Bahasa Tegal tidak ngapak-ngapak,” kata Yono Daryono, salah seorang tokoh sastra dan teater, pertengahan Fe…

Selayang Pandang Tentang TKW di Hong Kong:

Dari Terbitkan Buku Hingga Kuliah S2!

Uly Giznawati*
http://regional.kompasiana.com/

Tenaga kerja wanita atau buruh migran adalah jutaan manusia yang mencoba mengadu nasib dengan bekerja di luar negeri, meninggalkan keluarga, saudara dan kampung halaman. Demi tercapainya kesejahteraan bagi individu, keluarga, komunitas dan negara. Seperti di Hong Kong (HK), jumlah buruh migran tiap tahunnya selalu bertambah. Dan saat ini tercatat 124.000 buruh migran yang bekerja di HK. Sebagian besar dari mereka (99 persen) bekerja disektor rumah tangga.

Salah satu faktor yang paling utama adalah para BMI di HK memiliki hak dan kewajiban yang sama dan standar kontrak kerja yang telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah HK, salah satunya hak untuk libur.

Jatah libur satu hari dalam seminggu, memberikan ruang pada teman teman BMI untuk melakukan banyak aktifitas. Sehingga tidak heran jika lapangan Viktoria Park mendadak berubah menjadi ”Kampung Jawa”, pada hari minggu.

Pada hari minggu, bermacam macam akt…

Perjuangan Rakyat, Berpameran, dan ”Tak Termuat di Antologi”

HUT Ke-80 Sitor Situmorang

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Rekonsiliasi itu perlu. Namun penegakan kebenaran juga tetap harus dilakukan sejalan dengan rekonsiliasi itu. Kalimat ini mengalir dari pendapat seorang Sitor Situmorang, penyair, prosais, yang terlibat dalam aktivitas dan sejarah kebangsaan, di momen pembacaan puisi dan cerpen bersama generasi terbaru.

Dengan tajuk ”Menengok ke Belakang, Mengintip ke Depan: 1965 sampai 2004” yang diadakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin (5/10), Sitor Situmorang, tampil bersama nama lain yang tak jauh dari generasinya, Putu Oka Sukanta dan Martin Aleida. Di momen yang diadakan oleh milis Sastra Pembebasan itu, Sitor mengatakan bahwa hal terpenting adalah memperjuangkan suara rakyat dan kebenaran.

Sitor, penyair kelahiran 2 Oktober 1924 di Harianboho, Sumatera Utara ini sehari sebelumnya juga baru merayakan hari ulang tahunnya di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Hadir di acara itu generasi muda, dengan disiplin yang…

“Tuk”, Menziarahi (Legenda) Sastra Jawa

Ardus M Sawega, Sonya Helen Sinombor
http://cetak.kompas.com/

”Ana tangis layung-layung/Tangise wong wedi mati/Gedongana, kuncenana/Wong mati mangsa wurunga….”

Sepenggal Ketawang Soyung yang dilagukan dengan nada pilu di bagian awal pementasan lakon ”Tuk” —sebuah repertoar berbahasa Jawa yang dipentaskan pada 26-28 Juni 2008 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo—itu seakan mengentak setiap penghayat yang memahami filsafat yang terkandung di dalamnya.

Terjemahan tembang di atas: Ada tangis terdengar samar/Tangis orang yang takut mati/Meski dikepung gedung, meski digembok serapat apa pun/Maut mustahil dicegah…. Tembang ageng serupa requiem atau nyanyian kematian itu hanya pembuka, nyaris tak ada kaitan langsung dengan adegan-adegan berikutnya yang penuh gebrakan dan cerocos caci-maki ala Jawa.

Lakon ”Tuk” yang selama tiga malam dipentaskan oleh Teater Lungid Solo tak lain adalah lakon sama yang beberapa kali dipentaskan oleh kelompok Teater Gapit, sekitar tahun 1980-1990. Bahkan, se…

Sajak-Sajak Wahyu Prasetya

http://www.sastra-indonesia.com/
Harapan Rumah Petak Rojali

tak ada apa apa di sini. televisi, koran,
dan sarapan pagi maupun gelas kopi.
di depan meja kayu, kami biasa menguraikan
masa lalu dan masa depan di atas
telapak tangan masing masing.
pagi hingga petang udara tak pernah
berganti, selain dengus itu saja.

tak ada pintu dengan nasi dan krupuk
hanya jari jari tangan mengetuk ngetuk
hari demi hari yang berlompatan itu.
bagai mengajak siang hari untuk memeras
pikirannya menjadi kepulan debu.
dan di sini pula kota besar, kota kecil
tumpah antara cinta dan benci.

hanya guratan guratan huruf di benak,
mengantar nasib keluar pintu.
mengatakan pada diri sendiri, hari ini
iklan untuk hidup lebih manusiawi,
makan 3 kali sehari dan gizi dan kerja
buat ongkos bermimpi mencaci makimu!

tak ada siapa siapa selain gerit jendela.
menciptakan musik dari kehampaan,
melukiskan kekasih dan mata pisau,
kami membayangkan manusia yang terbelah
seperti dinding dan atap seng ini,
betapa rapuhnya di hadapan buldozer,
di depan ketakb…

MERAYAKAN KE-BODOH-AN PENYAIR-PENYAIR MUDA KONTEMPORER

Catatan untuk ‘PENYAIR (ITU) BODOH
Ahmad Kekal Hamdani
http://www.sastra-indonesia.com/

2 Paragraf Pertama Tentang Penyair dan Kebodohan

Beberapa bulan yang lalu (entah tepatnya kapan), saya mendapatkan sebuah buku antologi puisi “Penyair (itu) Bodoh” karya seorang kawan di Yogyakarta; Dea Anugrah mahasiswa Filsafat UGM, sahabat saya yang mirip Chow Yun-Fat itu. tapi tentu saja dia bukan penjudi, tapi penyair yang bodoh. Dan atas kebodohannya itu, saya nyaris jatuh cinta kepadanya. Secara pribadi (kepenyairan) dia memang bodoh setengah mati, bayangkan saja; tanpa banyak nulis di Koran dia sudah berani menerbitkan buku puisinya itu, yang sama-saja tingkat kebodohannya. yah, karena memang tidak banyak penyair yang mau menuju ‘bodoh’ seperti dirinya. Ini tentu saja karena, kebodohan, kecerobohan dan ketololan hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang masih berjiwa muda (dalam hal ini saya sama mudanya) yang nota-bene tak gentar pada yang namanya kalah dan disingkirkan (terlepas kawan saya ini m…

OMBAK MEMECAH-TERPECAH

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Ia berdiri, mematung menghadap ke selatan di tepian pantai yang tidak bising akan hasrat yang terus bergejolak. Pandangannya jauh ke selatan, menerawang langit yang bersih dan juga biru. Cakarawala yang berdiri di selatan, terus saja berusaha mengundang jiwanya untuk menyusur sampai ke sana. Ia, sang Perempuan Pendoa memandang takjub pada keindahan nan dalam.

“Indah, Mas!” ucapnya yang langsung dibungkam debur ombak Pantai Selatan.

Di atas tebing yang dibuat oleh manusia itu, si Perempuan Pendoa berdiri sambil merajut angannya pada keindahan yang lebih besar. Dua bola matanya menerawang, semakin jauh untuk menggapai cakrawala. Perempuan Pendoa terus berusaha.

“Apa yang kamu lihat?” tanya si Lelaki Pendosa yang telah berdiri di samping sang kekasih yang tengah berdoa.

“Langit biru, ombak yang pecah dan menghambur!” ungkap Perempuan Pendoa sambil memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Ia merasakan semilir angin yang membasuh muka dan mengib…

Sepasang Mata di Malam Hari

Restu Ashari Putra
http://oase.kompas.com/

Suatu waktu aku ingat perkataan nenek, saat kami datang berdua mengunjunginya di sebuah rumah di kaki gunung. Sebelum kami sendiri yang menyaksikan ajalnya tiba. Ia masih tertawa berseri-seri dengan sederet gigi palsunya. Dengan sepasang mata yang masih ceria. Saat itu, di bawah aroma kebun teh Goalpara, aku masih mengingatnya ketika aku bersama Saskia di sana.

“Berbahagialah kalian. Tapi jangan lupa, seseorang yang mengutamakan cinta, mereka pasti mengetahui siapa sesungguhnya yang mencintai kalian,” Ia kembali tertawa berseri-seri. Lagi-lagi dengan sederet gigi palsunya. Dengan sepasang mata yang kemudian menyimpan rahasia.

Ini kali pertamanya kata-kata itu keluar dari bibirnya. Dan aku seperti akan mendengar yang kedua kalinya. Entah di mana.
****

Satu hal yang paling kubenci di dunia ini di antara kebencianku yang lain adalah menunggu angkutan umum (angkot) ngetem selama berjam-jam. Seperti halnya malam ini. Kalau saja bukan karena ini kendaraa…

Putu Wijaya, Sejak Remaja Sudah Menggemari Sastra

Faidil Akbar
http://www.suarakarya-online.com/

Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Ketika duduk di sekolah menengah atas, ia memperluas wawasannya dengan melibatkan diri dalam kegiatan sandiwara. Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra.

Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum …

Zawawi Imron: Tak Ada Alasan untuk Tidak Mencintai Indonesia

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Hingga tak terpikir lagi bagi kami untuk membayarnya, lalu kami tambah lagi dengan utang-utang baru. Barangkali utang itu sejenis iblis yang tidak boleh memasuki pintu rumah kami. Kalau utang itu telah menjadi bulu rambut dan bulu ketiak dan tak sempat kami lunasi….

Jakarta – Petikan puisi bebas itu adalah salah satu puisi yang dibacakan penyair D Zawawi Imron selain sajaknya yang lain seperti “Ibu” dan “Zikir”, yang dia lantunkan sesuai orasi budaya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/11).

“Zawawi lebih memikat dalam membacakan puisinya,” ujar sastrawan Imam Mutahrom, seusai acara orasi sekaligus pembacaan karya oleh penyair asal Batang-batang Madura itu. Namun, Zawawi memang punya cara tersendiri dalam mengawali, merangkai dan mengalirkan pendapatnya tentang kebudayaan.

“Kalau di desa, dengan Rp 500, kita bisa makan pagi, makan siang lontong soto Rp 1.000, dan makan malam seharga Rp 1.500. Di Jakarta uang sebesar…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com