Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/

Logika Terbalik

maksudnya nasi
bilangnya padi

kasus century
misteri, si tante sri pergi

Amsterdam, 25/05/2010



Bukan Sekedar Hayalan

orang pacaran mati
dirayu ombak laut selatan

Amsterdam, 23/05/2010



Bukan Cerita Bersambung

aku mulai merasa sudah tua, umurku 51 hampir 52, alhamdullilah. 28 tahun lamanya aku merantau ke barat, dan berintegrasi dengan cara setempat, tapi tak pernah aku bisa jadi seperti mereka. seleraku lain, aku di lahirkan di negeri panas nan ganas (rezimnya), sedangkan mereka sejak bulan mei 1945 (setelah perang dunia ke 2 selesai) sampai sekarang aman-aman aja dan makin kayaraya.

perang dunia ke 2 tak membuat mereka bangkrut, malahan mereka menyerang indonesia (1945-1949), padahal republik indonesia sudah ada sejak 17 agustus 1945.

memang betul, kehilangan indonesia yang paling mereka sesali, kerna alamnya yang cantik, bangsanya yang gampang dibentuk-ditekuk-tekuk dan punya mentalitas ambtenaar yang doyan korupsi.

Amsterdam, 23/05/2010



Perempuan Yang Ber…

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Nirwan Ahmad Arsuka*
http://cetak.kompas.com/

• Judul: Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer • Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dilengkapi Soesilo Toer • Penerbit: KPG, Jakarta, 2009 • Tebal: 505 halaman (termasuk lampiran)

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak lurus kronologis, karangan itu akan menjadi biografi atau otobiografi penting.

Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat kejadian sejarah dan karangan disusun tak harus mengikuti aliran waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelok-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Memoar ini memang disusun mengikuti arus waktu linier, tetapi terasa agak menjauh dari ”riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer yang ”seharusnya” menjadi pusat cerita …

Pulau Talango

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Talango menghampar di depan mata. Namun, untuk merengkuh serta menjalajahi datar tubuh, bukit, lembah, ranau pepohon nyiur dan sayur mayur, aku perlu setapak langkah lagi. Tanpa perahu-perahu dan kapal kecil, Talango masih sayup bergelayut di riak-riak ombak.

Essang, desa itu ditulis Sindi dalam suratnya kepadaku. Satu di antara beberapa desa jujugan tengkulak cabe merah dari Pamekasan, Sampang dan Sumenep. Luas pulau Talango, seluas kecamatanku. Namun rumah-rumah lawasnya sudah banyak berganti still desain baru. Apalagi hamparan tanaman cabe, bak gelaran emas 24 karat saat area cabe Brebes dan sebagian pulau jawa tergenang banjir.

Di ujung Kali Anget, mata para tengkulak sudah berwana hijau. Ubun ubun mereka terlihat sibuk mengacak angka. Berbeda dengan aku yang sibuk mengacak gadis berwajah oval, alis tebal, kuning langsat cina, dan keramahannya.

Aku menangkap wajah Sindi saat ia menyelinap di gang kota dekat bukit Asta Tinggi. Ia bagai merak …

Pram, Buku dan Sastra Rasa Penjara

Catatan Buku Biografi Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)
Rama Prabu *
http://oase.kompas.com/

Membincangkan Pramoedya Ananta Toer atau lebih dikenal Pram memang tak ada habis-habisnya, terbukti satu lagi buku biografi menambah khasanah dalam hal itu. Pram memang menarik untuk dibahas, dari sudut manapun terlebih jalan hidupnya yang berliku tak sewajarnya sebagai seorang tokoh perjuangan yang pada akhirnya lebih memainkan penanya dari pada terjun langsung dalam kancah politik nasional. Tapi jangan dikira, menjadi pengarang, menjadi sastrawan justru Pram telah membuat jalur sendiri dan menarik lawan politiknya untuk ikut dalam konsep permainan tinta hitamnya.

Buku Muhammad Rifai, dengan judul Pramoedya Ananta Toer ini memang tidak menghadirkan kebaruan baik data maupun fakta-fakta sejarah, dia hanya merangkumnya, meramunya serta menghimpun cerita-cerita yang berserakan disekitar Pram. Tapi ini patut diapresiasi khususnya bagi mereka yang hendak melakukan penelitian mengenai sosok pram maupun…

Pramoedya Ananta Toer Juga Manusia

Mila Novita
http://www.sinarharapan.co.id/

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Begitu Pramoedya Ananta Toer (atau akrab disapa Pram) berpesan dalam Rumah Kaca, salah satu buku dari tetralogi roman Pulau Buru yang diwariskannya untuk Indonesia.

Tulisan Pram memang membuat ia tidak hilang dari sejarah, meskipun pada 30 April tiga tahun lalu jasadnya dimakamkan di pemakaman Karet Bivak, Jakarta. Ia sastrawan terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Ia juga satu-satunya sastrawan Indonesia yang berulang kali dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel, meski tidak pernah “sukses” membawa penghargaan itu pulang ke negerinya.

Karakter-karakter ciptaan Pram, yang merefleksikan sejarah bangsa, dikenal luas sampai ke mancanegara. Tapi, seperti apa keseharian Pram sebagai manusia biasa? Juga ketika ia berada di penjara-penjara, tempat ia melahirkan karya-karya terbaiknya? Koesalah Soebagyo Toer dan Susilo Toer, dua adi…

Dan Intuisi Membisikkan Peluang sang Legendaris

Selamat Jalan Pramoedya Ananta Toer…

IBM Dharma Palguna
http://www.balipost.co.id/

SAYA seorang mahasiswa yang sedang nenulis sebuah skripsi untuk menamatkan kuliah di Fakultas Sastra. Pramoedya Ananta Toer adalah nama yang langsung saya pilih tanpa keraguan sedikit pun. Setelah itu barulah memilih salah satu karyanya untuk dianalisis. Pilihan jatuh pada roman Perburuan. Ketika itu tahun 1984.

Saya tidak mengenal pemilik nama besar itu. Saya juga sama sekali tidak pernah melihatnya. Bagi saya ini seperti tokoh tidak nyata, yang samar-samar menampakkan diri hanya kalau saya sedang membaca bukunya. Saya pun lantas menulis surat kepada tokoh tidak nyata itu, menanyakan beberapa hal berkaitan dengan dirinya, kepengarangannya, dan pertanyaan seputar roman Perburuan.

”Tidakkah pilihan Anda akan menimbulkan kesulitan di masa depan? Saya siap membantu, asal bisa dipastikan dengan surat persetujuan Rektor.”

ITULAH salah satu isi jawaban yang saya terima. Kedatangan surat balasan itu sangat membesark…

Tinggalkan Bumi Manusia

Gunawan Budi Susanto
http://www.suaramerdeka.com/Senin, 01 Mei 2006

INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun. Pramoedya Ananta Toer tak pernah menyerah di bawah kepongahan dan kebebalan (kekuasaan) manusia. Namun kini, mau tak mau, dia harus menyerah di bawah kuasa ilahi.

Ya, Minggu (30/4) kemarin pukul 08.30, dia mengembuskan napas terakhir dalam rengkuhan keluarga tercinta. Kini Pram telah pergi, meninggalkan bumi manusia.

Sebelumnya, pada saat kritis Pram sempat menceletuk bahwa kaum muda harus melahirkan pemimpin. Dia memang senantiasa menumpukan harapan akan perubahan ke arah kehidupan (berbangsa dan bernegara) yang jauh lebih baik pada kaum muda. Dia sudah kehilangan kepercayaan kepada generasi tua, termasuk generasi seangkatannya.

Menurut penilaian dia, mereka tak mampu mengelola negara ini menjadi lebih beradab dan bermartabat. Cuma kaum mudalah, ujar dia pada berbagai kesempatan, yang harus ambil peranan: merebut kesempatan dan menjadi pemimpin di segenap sektor kehidupan.

Pramoedya Anan…

Kenapa Pramoedya Menolak Wayang?

Asep Sambodja
http://oase.kompas.com/

Ada pernyataan Pramoedya Ananta Toer yang membuat saya masygul. Dalam buku Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (Depok: Komunitas Bambu, 2008), Pramoedya Ananta Toer mengatakan kepada Kees Snoek bahwa sejak berumur 17 tahun, dirinya sudah menolak wayang, karena wayang pada dasarnya hanya omong kosong belaka.

Kenapa Pramoedya menilai wayang hanya omong kosong belaka? Menurut Pram, masyarakat Jawa dibesarkan oleh kisah Mahabarata dan mendapatkan inspirasi darinya. Dan, klimaks Mahabarata adalah pembantaian yang dilakukan saudaranya sendiri. Jadi, Pram menyimpulkan, pendidikan budaya Jawa terdiri dari perang saudara. “Oleh karena itu, orang Indonesia tidak pernah akan menang melawan bangsa asing,” katanya.

Pernyataan Pram yang singkat, padat, dan menyesakkan bagi pencinta wayang ini tidak lepas dari interpretasi seorang Pramoedya terhadap Mahabarata dan wayang itu sendiri. Tentu saja dalam menginterpretasikan hal itu pengalaman Pramoedya yang demikian sar…

Potret Pramoedya Sehari-hari

Sebuah catatan penting tentang sisi lain Pramoedya Ananta Toer. Banyak cerita lucu.
Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : xiv + 266 halaman
Peresensi : Bagja Hidayat
http://www.ruangbaca.com/

Pramoedya Ananta Toer, penulis Indonesia paling terkenal itu, punya ilmu kebal. Ilmu itu didapatnya ketika muda dari seorang dukun di Tanah Abang. Pram dan seorang pamannya datang ke sana sengaja untuk meminta kekuatan tubuh dalam menghadapi gonjang-ganjing revolusi. Pram pernah bekerja di dinas militer sepanjang 1945- 1947 yang bermarkas di Cikampek. Sebagai staf perhubungan, Pram bertugas mengirim berita dari medan perang.

Pram ikut-ikutan para tentara itu pergi ke dukun. Tapi ia menurut juga ketika si dukun memandikannya sembari melafalkan doa. Setelah pemandian selesai, semua orang diberi jimat berupa tulisan Arab berwarna merah. Kertas itu dijahit di topi.

Si dukun langsung menguji para ”muridnya”…

Menikmati Perjalanan “Sang Kretek”

Hendriyo Widi
http://m.kompas.com/

Sastrawan asal Blora, Pramoedya Ananta Toer, mempunyai cara tersendiri menikmati kretek semasa kecilnya. Bukan dinyalakan apalagi diisap, tetapi menjadi mainan yang mengesan di dalam hati Pramoedya sehingga melahirkan tulisan tentang “Kretek”.

Tulisan tersebut menjadi kata pengantar buku Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes (2000), karya Mark Hanusz. Dalam tulisan itu, Pramoedya mengisahkan pertama kali dia berkenalan dengan kretek. Waktu itu, dia masih berumur 14 tahun dan baru lulus Sekolah Rakyat Budi Utomo, Blora.

Dia mengumpulkan bungkus dan label kretek dan menggunakan bungkus serta label kretek tersebut sebagai media permainan bersama teman-teman sebayanya pada waktu itu. Bungkus kretek yang tipis itu dilipatnya dan dilempar ke udara. Jika bungkus kretek tersebut saat jatuh ke tanah tampak bagian atasnya, dia berhak mengambil label kretek dari teman-temannya.

Itulah sejarah kretek, setidaknya bagi Pramoedya. Kisahnya bis…

Membicarakan Plus Minus Pramoedya

(Pramoedya Ananta Toer, Perahu yang Setia dalam Badai)
Arwan Tuti Artha
http://www.kr.co.id/

BUKU ini rasanya tidak terlalu istimewa, jika hanya membicarakan soal Pramoedya Ananta Toer. Apalagi, isinya berbagai kumpulan tulisan yang sebelumnya sudah dimuat media massa dan nyaris tak ada yang baru. Judulnya pun tidak simpel. Panjang dan penuh penjelasan. Pram misalnya diibaratkan sebagai perahu yang setia dalam badai. Toh, masih harus dijelaskan lagi sebagai serba-serbi tentang Pram. Tetapi, sebagai buku referensi yang membicarakan plus dan minusnya Pram, tak bisa dianggap enteng upaya yang dilakukan Penerbit Bukulaela ini.

Dalam catatannya disebutkan, lahirnya buku ini memang dengan kerja keras. Diawali pertengahan 2000. Situs-situs yang terbaca mengenai Pram, dikumpulkan hingga buku ini menjadi semacam tumpengan. Tidak salah kiranya jika Pram yang dipilih. Sebab, namanya sedang menanjak serenta tak lagi ada belenggu yang melarangnya. Nyaris tak ada perbantahan kecuali, ada yang mengangga…

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : I, Oktober 2005
Tebal : 145 hal
ISBN : 979-97312-8-3
Peresensi : Hernadi Tanzil
http://www.ruangbaca.com/

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Dibangun dibawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu : Herman Willem Daendels (1762-1818). Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan…

Kebudayaan dalam Dua Wajah

Donny Anggoro
http://oase.kompas.com/

Sebagai salah satu wilayah negara berkembang di Asia Tenggara, Indonesia terlibat dalam proses mencari kesepakatan untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang mereka punya. Adapun kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah warisan berbagai bentuk yang diterima sebagai identitasnya.

Susunan pemerintahan lokal misalnya tata cara keraton Yogyakarta dan Solo, bahasa, nilai-nilai kepercayaan, dan berbagai bentuk ekspresi seni budaya di berbagai tempat dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah itu.

Proses perkembangan dan modernisasi dengan menunjukkan pergeseran masyarakat agraris-feodal menjadi masyarakat yang lebih bersifat perkotaan dalam beberapa kasus tertentu menunjukkan perkembangan berarti. Tataran nilai-nilai konvensional dalam kebudayaan tradisi pelan-pelan didobrak sehingga dalam perkara kesenian, hasil-hasil seni yang dihasilkan relatif lebih kontekstual agar terlihat gesit mengikuti perkembangan zaman.

Tapi di tengah-tengah perkembang…

Dari Puisi Mantra ke Kursi Presiden Penyair

Murparsaulian
http://riaupos.com/

Kepiawaiannya meramu kata telah menghipnotis, tidak hanya mahluk sastra, namun juga penikmat dan pemerhati sastra di tanah air bahkan dunia.

Di tangannya kata-kata menjadi wangi dan ranggi. Pada momen Anugerah Sagang ke-15 tahun ini, Yayasan Sagang memberikan anugerah khusus Sagang Kencana kepada presiden penyair ini.

Siapa yang tak mengenal Sutardji Calzoum Bachri. Kehadirannya di jagat sastra nusantara telah menguak tabir sastra kontemporer. Tardji muncul dengan karya-karyanya yang fenomenal. Mendobrak batasan-batasan umum dalam peta sastra di tanah air.

Keberaniannya dengan kredo puisinya mengejutkan publik sastra waktu itu. Tidak hanya mengejutkan dari segi karya, Tardji juga mengejutkan banyak orang ketika membacakan puisi-puisinya. ‘’Kejutan-kejutan’’ Tardji ini sontak saja mengalihkan perhatian publik sastra padanya.

Berbekal semangat kemelayuannya, Tardji muncul di pentas sastra nusantara dengan puisi mantra yang pada awalnya banyak mendapat ‘’perla…

Ristata Siradt, Pengarang Sumut, Pengabdi Sastra Indonesia

Sugeng Satya Dharma
http://waspadamedan.com/

Kerap berpeci, semasa hidupnya pria tua bertubuh kecil ini adalah figur lelaki dengan kesetiaan yang luar biasa. Bertahun-tahun menjadi guru bahasa di SMP Negeri IV Tebing Tinggi Sumatera Utara, lelaki ini adalah potret seorang pengabdi sejati sastra Indonesia.

Murid, tetangga dan teman-temannya menaruh rasa hormat yang sangat besar kepadanya. Tutur katanya lemah lembut, nyaris tak pernah bernada emosi. Ketaatannya sebagai hamba Allah pun ia wujudkan dalam khusyuk sholat yang nyaris tak pernah alpa.

Ristata Siradt, dialah salah seorang sastrawan besar Sumut yang sunyi dari publikasi. Sampai wafatnya pun, kecuali segelintir teman dekatnya sesama seniman, nyaris tak ada orang yang memberi penghargaan lebih pada apa yang dikerjakannya.

Bahkan pemerintah setempat (Pemkot Tebing Tinggi, Sumut), tak cukup peduli terhadap keberadaannya. Padahal, selain sebagai sastrawan yang produktif, Ristata Siradt adalah dokumentator sastra satu-satunya di kota Tebi…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com