Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Lukisan Perempuan *

Kafiyatun Hasya
http://sastra-indonesia.com/

“Aku memang tak menampakkan dihalayak banyak orang, tapi aku tahu kau diantara mereka”. Ucapmu padaku disenja kemaren. Entah kenapa aku tak bisa mengerti posisimu. Kau sebagai seorang pelukis yang terkenal, tak pantang memenyerah ketika malas menyambar semagatmu. Mungkin itu karena kau hidup dari hasil corat-coret tanganmu. Tapi aku yang berstatus kekasihmu sejak dua tahun yang lalu, tak penah kau kenalkan dengan teman-temanmu. Kau hanya mengenalkanku pada lukisan-lukisanmu. Kau paling banyak melukis perempuan daripada benda atau makhluk lainnya. Saat ditanya, kau hanya menjawab dengan senyuman serta sentuhan lembut ditanganku untuk sekedar menenangkanku.

“Ah, kau sangat pandai merayuku! Jangan-jangan kau menyimpan perempuan lain, lalu kau alihkan dengan melukis wajah-wajah mereka dikanvasmu” sergahku

“Tidak, tidak akan. Aku bukan penghianat. Kau satu-satunya kekasihku. Perempuan dilukisanku tak pernah berarti bagiku, mereka hanya barang kes…

Bilik Mesra

Wawan Eko Yulianto*
http://oase.kompas.com/

Aku ingin menulis sebuah cerpen tentang banjir lumpur yang melahap pemukiman itu. Bukan menulis esai. Tapi bagaimana bisa aku menulis cerpen jika aku ingin marah-marah saat ingat betapa beratnya para pengungsi yang kegerahan setiap siang seperti ini.

Aku baru saja datang dari kamp pengungsian mereka. Aku melihat seseorang menangisi rumahnya yang sedikit demi sedikit ditelan lumpur hingga tinggal atap. Bayangkan, mereka melihat sendiri rumah mereka sedikit demi sedikit terendam.

Begitulah, aku terlalu ingin meneriakkan kemarahan tentang tingkah para pengusaha yang menyalahi aturan pengeboran dan menyebabkan menyemburnya lumpur panas yang tiada henti itu. Biasanya, jika aku terlalu marah dan ingin menyuarakan sesuatu, tulisanku akan jadi esai. Tapi, kali ini tidak boleh: Aku ingin menulis cerpen! Karena itulah aku pergi ke SMA tempatku sekolah sekitar delapan tahun yang lalu. Udara memang gerah dan memanggang rambut, aku tahu. Tapi segala kenan…

Peristiwa G30S dalam Fiksi Indonesia

Sunaryono Basuki Ks*
Republika, 30 Sep 2007

SETIAP peristiwa penting dalam sejarah Indonesia menghasilkan karya sastra yang mencoba memberi gambaran tentang peristiwa itu. Perang Kemerdekaan menghasilkan sejumlah novel dan cerpen, yang ditulis oleh pelaku sejarah ataupun oleh generasi yang lebih muda yang ikut mengalamai sebagian kecil peristiwa tersebut.

Peristiwa G30S yang menggoncangkan negeri ini juga telah ditulis oleh sejumlah perngarang kita, baik dalam bentuk puisi, drama, cerpen, maupun novel. Karya-karya itu ditulis saat peristiwa itu baru terjadi (misalnya sajak-sajak karya Taufiq Ismail), tetapi juga beberapa tahun kemudian, bahkan beberapa puluh tahun kemudian.

Dalam novel kita dapat membacanya pada Ronggeng Dukuh Paruk versi aslinya yang terbit tahun 2003, padahal versi yang “disensor” terbit tahun 1981. Dalam versi aslinya ternyata Ahmad Tohari bercerita tentang malapetaka politik tahun 1965 yang membuat dukuh Paruk hancur secara fisik dan mental.

Putu Wijaya dalam drama…

Menyongsong `Era Baru` Balai Pustaka

Leon Agusta*
Republika, 23 Sep 2007

Penerbit Balai Pustaka (BP), 22 September 2007, genap berusia 90 tahun. Bagi sebuah penerbit penghasil buku sastra, usia 90 tahun boleh dibilang hebat. Tapi, kalau dari 90 tahun itu yang melahirkan kebanggaan dan kenangan hanya 30 tahun pertama, tentu menimbulkan tanda tanya besar. Ada mata rantai yang hilang dari 60 tahun keberadaannya.

Di bawah kewenangan Deputi Bidang Agro Industri, Kehutanan, Kertas dan Penerbitan BUMN, Dr Agus Pakpahan, seorang cultured scholar/ yang juga dikenal sebagai penyair, beberapa waktu yang lalu sudah diambil tindakan penting, antara lain membentuk armada managemen baru, yang terdiri dari kaum muda yang lebih energik. Zaim Uchrowi ditunjuk sebagai Direktur Utama. Beban berat menghimpit pundak mereka.

Meskipun begitu, masa suram BP belum akan segera berlalu. Masa lalu menyisakan bertumpuk-tumpuk persoalan yang harus dibenahi. Jaringan kerja dengan kantor-kantor distributor, komunikasi baru dengan para kontributor naskah …

NUREL JAVISSYARQI MENGGUGAT SUTARDJI *)

Chamim Kohari **)
http://sastra-indonesia.com/

”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu.
Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata,
dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman,
beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”.

(Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227)

Membaca tulisan Nurel Javissyarqi yang berjudul Menggugat Tanggungjawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri, yang dibukukan oleh penerbit sastraNESIA & PUstaka puJAngga, tahun 2011, seakan-akan menyentak dan menyadarkan kepada siapa pun yang menggeluti dalam bidang puisi dan kepenyairan. Semangat Nurel sangat bergeni-geni, ia seperti —pinjam istilah Maman S. Mahayana— telah sekian lama menyimpan sejumlah kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya untung ia seorang santri yang mambu seniman, atau seorang seniman yang mambu santri, sehingga apa yang ia paparkan masih terkendali…

Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab

(Tanggapan atas buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri)
Mahmud Jauhari Ali
http://sastra-indonesia.com/

Apakah yang terbayang di benak Anda ketika membaca judul saya di atas? Wujud bahasakah? Dukun yang sedang membaca mantra? Seorang lelaki yang sedang menunaikan tanggung jawabnya? Atau apa?

Sutardji, Puisi, Takdir

Bandung Mawardi*
Lampung Post, 7 Sep 2008

SUTARDJI Calzoum Bachri (SCB) dengan kalem menuturkan: Pemberian sekian penghargaan dan gelar kehormatan membuatnya malu karena merasa belum bisa berbuat apa-apa. Semua itu takdir.

Tuturan itu hadir karena SCB menjadi penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 bidang kesusastraan.

Pengakuan SCB mengingatkan penulis pada Nietzsche dalam Ecce Homo. Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir dengan arogan mengakui: “Aku tahu takdirku…Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit.”

SCB memiliki kemiripan dengan pengakuan Nietzsche karena SCB dengan berani hadir dengan pembaharuan estetika puisi Indonesia modern. Kehadiran itu memakai kredo ampuh untuk keimanan atas realisasi pencapaian estetika. SCB menobatkan diri sendiri sebagai “dinamit” yang membuat ledakan besar dalam perpuisian Indonesia modern. Ledakan itu adalah O Amuk Kapak sebagai takdir penyair dan puisi.

SCB sejak awal mulai membuat takdir dan menciptakan kesempurnaan takdir itu dalam p…

Hujan Bulan Juni

Adi Marsiela
Suara Pembaruan, 3 Juli 2007

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu- ragu di jalan itu.

Penggalan musikalisasi puisi Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dinyanyikan Dua Ibu (Reda dan Tatyana) terdengar sayup-sayup di amphitheater Selasar Sunaryo Art Space, Sabtu (23/6) malam lalu. Bulan pun menampakkan dirinya tanpa malu meski usianya baru mencapai setengah purnama.

Hawa dingin Bandung bagian utara yang menusuk kulit tertutup oleh hangatnya sajian kopi, teh manis, dan mie kocok. Puluhan pengunjung sudah hadir untuk mengikuti puncak acara Hujan Bulan Juni yang diselenggarakan oleh Yayasan Lontar dan Selasar Sunaryo.

Siapa sangka, meski hanya dengan mie kocok, makan malam itu menjadi sebuah pengalaman berbeda. Yayasan Lontar yang berusia 20 tahun pada 28 Oktober 2007 mendatang memutarkan Rendra-Si Burung Me…

Sutardji, Tradisi, Apresiasi

Ibnu Wahyudi*
Pikiran Rakyat, 28 Juli 2007

SELAMA sepekan, sampai Kamis kemarin, digelar sejumlah acara untuk menyambut 66 tahun usia penyair bernama Sutardji Calzoum Bachri yang dipusatkan di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kalau menurut Dami N. Toda dalam Hamba-hamba Kebudayaan, tahun ini Sutardji baru berusia 62 tahun. Secara statistik, sangat sedikit sastrawan Indonesia yang dalam pencapaian usia tertentu dirayakan dengan semarak dan menghadirkan sejumlah pengamat sastra Indonesia dari dalam maupun luar negeri sebagai pembicaranya. Dengan kata lain, diadakannya acara bertajuk “Pekan Presiden Penyair” ini paling kurang menunjukkan kebermaknaan eksistensi sastrawan kelahiran Riau tahun 1941 (atau 1945?) ini berkaitan dengan perjalanan sastra Indonesia yang tahun ini mencapai 150 tahun jika dihitung sejak tahun 1857.

Penyair yang di masa lalu namanya sering dipelesetkan dengan Sutardji Calzoum Bir –lantaran dalam beberapa acara pembacaan puisi ia sering membaca sembari meneng…

Mudik Melampaui Fenomena Sosial

Ismatillah A. Nu’ad
http://www.jurnalnasional.com/

Sudah lazim dan menjadi tradisi masyarakat Islam di Indonesia, di hari-hari mendekati lebaran, masyarakat muslim melakukan mudik pulang ke kampung halaman masing-masing. Mudik ternyata bukan saja fenomena fisik, dimana banyak orang melakukan perjalanan pulang ke kampung.

Tradisi itu juga menyimbolkan fenomena “metafisik”, dalam arti sejauh-jauhnya orang melakukan pengembaraan, pada akhirnya akan kembali ke habitatnya sebagai manusia makhluk ciptaan Tuhan.

Mudik bukan sekadar fenomena sosiologis biasa, sebab jika hanya fenomena sosiologis, pertanyaannya mengapa orang harus pulang kampung di hari-hari menjelang lebaran? Belum lagi ada pelbagai risiko, di mana pada saat itu bukan hanya segelintir orang, melainkan jutaan orang yang pulang kampung.

Itu menandakan bahwa mudik bukan sekadar fenomena sosiologis. Ada spirit religiositas di mana orang berkeinginan keras untuk pulang kampung, dan ada satu titik perasaan di mana tak menghendaki pe…

35 Cerita buat Seorang Wanita

Agus Noor
http://www.jawapos.com/

Anjing

Ia berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya.

Teka-teki Laki-laki yang Tak Kembali

Terkantuk-kantuk perempuan itu menunggu suaminya pulang. Terdengar kunci pintu dibuka pelan. Sejak itu suaminya tak pernah muncul.

Bayi

Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.

Jangan Membunuh Ular di Hari Minggu

Kau bermimpi, seekor ular menyelusup masuk telinga ibumu. Kau menjerit, dan cepat-cepat menghantamnya. Saat terbangun, kau mendapati ibumu mati terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah.

Misteri Mutilasi

Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.

Api Sinta

Sinta berdiri di tepi api penyucian yang berkobar. ”Masuklah…,” ujar Rama. ”Bila kau belum terjamah Rahwana, api itu ak…

Wajah Kultural Kita **

M. Shoim Anwar
http://sastra-indonesia.com/

Jemuah legi nyang Pasar Genteng
Tuku apel nyang Wonokromo.
Merah-Putih Kepala Banteng
Benderane dokter Soetomo.

Pantun (parikan) di atas dikidungkan oleh Cak Pono, arek Jombang, saat pentas Ludruk Sari Bancet di Bondowoso. Gara-gara kidungan itu pementasan dibubarkan oleh Belanda karena dianggap menghembuskan nafas nasionalisme. Saat pentas di Desa Mojorejo, Jombang, Cak Durasim sebagai pimpinan Ludruk Organisatie (LO) ditangkap dan disiksa Jepang karena melantuntan kidungan “Pagupon omahe dara, Melok Nippon tambah sara.” Cak Pono dan Cak Durasim adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Mereka menggunakan media kultural sebagai media perlawanan. Ketika Indonesia telah merdeka, tema-tema perlawanan terhadap kolonialisme juga masih mendominasi lakon-lakon ludruk.

Kolonialisme memang melahirkan berbagai akibat buruk. Cak Pono dan Cak Durasim sadar hingga melakukan perlawanan. Di sisi lain, kolonialisme juga menimbulkan perpecahan kepriba…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com