Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Gerimis di Suatu Malam

Ahmad Zaini
http://sastra-indonesia.com/

Menjelang pagi, mataku masih sulit dipejamkan. Di setiap arah mataku memandang yang tampak hanyalah wajah Luna yang baru saja menghadap Sang Mahakuasa. Kelopak mataku terasa pedih seakan ada yang mengganjal. Lagi-lagi bayangan wajahnya yang mengganjal agar mata ini tidak terpejam. Di setiap sisi ruang kamarku terbayang ribuan lukisan wajahnya yang tersenyum manis. Tawa manja yang merayu saat aku bertemu dengannya setahun yang lalu. Setelah kutatap bayangan itu ribuan wajah Luna pun lenyap ditelan cahaya lampu temaram di ujung malam.

Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Umar Kayam
http://sastra-indonesia.com/

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam il…

Djibril dan Aku

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

Aku benar-benar tidak berbohong. Toh, tak ada gunanya aku berbohong. Sungguh, tadi aku bertemu Djibril sedang menyunyikan dirinya di tepi bukit sebelah Timur. Ia, dengan jubah putihnya, memandang langit dengan gamang – mengucap mantra-mantra yang tak bisa kupahami artinya. Kira-kira lima menit ia terus begitu. Setelah itu, ia tampak memilin sesuatu yang tak begitu jelas kulihat. Sampai ia mengulum pilinan itu dan asap-asap berbentuk lingkaran mengepul dari mulutnya itu. Ya, aku baru sadar bahwa Djibril juga seorang perokok!

Kau tak percaya padaku?

“Keluarlah, jangan terus bersembunyi,” katanya pelan. Aku jelas kaget. Aku takut. Aku, ah entah. Dengan langkah kaki ragu-ragu kudekatkan diriku padanya. Toh, aku pasti tidak akan bisa melarikan diri. Kautahu… dia malaikat! Bisa terbang, bisa muncul tiba-tiba dihadapanku jika ia mau. Setan-setan saja digambarkan begitu, apalagi malaikat. Pasti lebih itu…

“Jangan takut padaku. Aku bukan Izrail, tidak…

Kelopak Langit

Ragdi F. Daye
http://www.harianhaluan.com/

Baiklah, aku akan menelanjangi diriku di depanmu.Kau akan dengan leluasa melihat semua gurat sepi di pori-pori, semua jejak sesal yang membeku, dan mimpi-mimpi mati di epitel.Kau tak akan bisa pergi menghindar atau menutup mata dan telinga sebab aku telah memasang rantai yang membuat tubuhmu akan tetap duduk menyimak di kursi itu. Kedua tanganmu telah kuupayakan senyaman mungkin tetap berada di balik punggungmu. Maafkan aku yang terpaksa menyumpal mulutmu dengan saputangan petak-petak biru muda yang kaubelikan, karena aku tak ingin ada sela, ada pertanyaan. Dengarkan saja aku. Setelah itu, kau dapat memutuskan akan tetap mencintaiku atau akan menjauh sepenuh jarak.

Tapi sebentar… Kau tahu, aku tak pandai bercerita. Mungkin lebih baik kuputar lagu-lagu yang meruntuhkan hati agar aku bisa lancar berkata-kata, agar aku tak malu-malu menelanjangi diri di depanmu. Aku tak akan mengeraskan volumenya. Sayup-sayup saja.

Seperti perjumpaanku denganmu, per…

Sajak-Sajak Rukmi Wisnu Wardani

Republika 24 Juni 2007
SATU WAKTU

satu waktu akan lahir puisi-puisiku
tanpa bahasa, tanpa kata maupun aksara

dan tangan-tangan ini
akan tuntas terbakar cahaya

saat itu usai sudah kupanggul salib waktu
dan aku tak lagi bergelayut di tepi malam
seperti matahari yang muncul bagai pencuri
dan mengendap di kejut hari

mungkin kisah musim yang tersisa
hanyalah sejumput kisah embun
yang mengkristal (abadi)
di pucuk pohon cemara

2007



JALAN CINTA

malam nyala
dingin musim tak lagi terasa
sebab aku akan pulang dalam cinta
dan menjelma bunga di kolam raja
tanpa tangkai maupun rupa
kecuali wangi makhota sukma

malam nyala
suara jangkrik tak lagi ada
sebab pedang telah menari
sesempurna kilau permata

– menuju kuil suci, pepohonan
tunduk menyapa salam –
– memasuki pintu gerbang, mata air
bening bertatapan –

pada ujung mata pedang
kurebahkan takdir kehidupan
pada ujung mata pedang
kupentaskan syair kematian
pada ujung mata pedang
kulengkapi keabadian

(sungguh, tak kupungkiri
betapa perih rindu menyiksa
karena aku telah menunggu
untuk sekian…

Serenada Malam Kunangkunang

Shourisha Arashi
http://sastra-indonesia.com/

Kutenggelamkan diri dalam kubangan yang pekatnya adalah malam. Sedangkan dingin ini tak lagi dapat bekukan apapun karena segalanya telah hilang. Hanya jejak samar yang nyata mengarah ke entah. Dan kita takkan pernah tahu hingga saatnya tiba.

Langitku hitam. Sedang bintang yang nampak ternyata kunangkunang yang linglung mencari tempat berlindung. Kulihat telaga perak rembulan dan sekejap yang nampak adalah aku yang bersayap koyak. Terbang rendah dari dahan ke dedaunan lalu hinggap di rerumputan liar.

O, betapa sendu serenada malam kunangkunang. Dengan bisik lirih dan getar sayap yang mulai lelah. Dengan terang temaram tanpa pernah mendamba kerlapkerlip seterang bintang-gemintang. Karena gelap selalu menghargai seredup apapun nyala cahaya.

Lalu mendung pun hanya akan menjadi segumpal awan kelabu yang berlalu. Bersama angin yang mengabarkan bahwa hujan kan segera datang. Bukan janji. Hanya kabar. Maka kudengarkan dan kupahami dengan harap tak terl…

Ketika Puisi Mengalienasi Kita

Aguk Irawan MN
http://cetak.kompas.com/

Belakangan hari kita menyaksikan bagaimana puisi di Indonesia mendapatkan nasibnya yang paling getir. Bukan hanya penerbit menolak penerbitan buku kumpulan atau antologi puisi, penerbitannya pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa laju penjualannya yang bahkan tidak mencapai target minimal untuk impas.

Beronggok puisi mungkin mengisi laci, file, atau benak para penyair dan—mungkin—meja redaksi majalah atau surat kabar. Sebuah keadaan yang mungkin membuat seorang redaktur surat kabar memberi alasan, ”Kini lebih banyak penyair ketimbang pembacanya,” sebagai apologia hilangnya rubrik puisi yang sudah puluhan tahun bertahan di media itu.

Kini beberapa media yang sebelumnya dikenal komitmen dan perhatiannya kepada kesenian menghapus rubrik itu. Dan bukan hanya penerbit yang meninggalkan puisi secara definitif, beberapa toko buku juga sudah tidak lagi memajang buku puisi sejak beberapa tahun lalu.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang mendorong terjadiny…

Malam Nyadar1

Salamet Wahedi *
Jurnal Nasional,29 Agu 2010)

Thuuoong...! thooung...! thooung...!

SIRINE kapal merapat memulai debar dada. Selamat datang di Pulau Madura, sebentang spanduk merah menyala menarik perhatianku. Dan patung karapan sapi, merupakan nilai lebih yang mengakrabkan pulau ini dalam benakku. Seperti tempat-tempat yang aku singgahi, Dermaga Kamal, dan mungkin seluruh petak kenangan yang akan kulalui di Pulau Madura ini, adalah kesederhanaan yang mulai mengelupas. Seperti kegersangan yang pelan-pelan beringsut di beranda hatiku.

Mendekati terminal, ibu tua dan seorang anak merengek, merenyuh desir darahku. Di telinga, di antara lagu Iwan Fals, Siang di Seberang Istana, keluh Rafa mendengung. Seperti sebuah isyarat. Keluh pada malam dia berhasil mencopoti celana kelelakianku.

"Apa yang kau inginkan dariku, lelaki? Sekadar wawancara?" kata Rafa yang malam itu begitu anggun. Tatapannya penuh gairah. Seulas senyumnya menghentak nalarku. Tak bisa ditahan lagi, rona mukaku berubah.…

Untuk Apa Memetakan Penyair Sumatera?

Udo Z. Karzi*
Cybersastra.net, 5 Sep 2003

Aku membaca esai Isbedy Stiawan Z.S., “Jakarta dan Tabung Orba” (Lampung Post, 3 Agustus 2003). Isbedy menyikapi acara Temu-Dialog Penyair se-Sumatera di Padang, Sumatera Barat, 8–13 Agustus 2003. Isinya sama seperti kebanyakan esai yang terbit di koran-koran: daftar sekian banyak nama penyair, media, dan institusi kepenyairan.

Pola serupa juga aku temukan dalam esai Gus tf, “Kepenyairan Sumatera” (Media Indonesia, 3 Agustus 2003). Penyair asal Solok, Sumatera Barat, itu menyebut nama-nama yang secara kebetulan muncul di media massa, terutama yang terbit di Jakarta. Seolah-olah, yang disebut penyair itu hanyalah mereka yang karya-karyanya dimuat di koran Jakarta atau kumpulan puisinya diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar.

Ini sebuah kekeliruan. Isbedy pun demikian, setidaknya, dalam beberapa esainya sehingga muncul penegasan semacam ini, “Saya sependapat dikatakan Agus Hernawan (baca: “Mau Apa Temu-Dialog Penyair Sumatera”, Padang Ekspres, 27 …

Sajak-Sajak Binhad Nurrohmat

http://www2.kompas.com/
Alienasi perempuan semua orang

Kisut bibirmu menggambar selaput cahaya, mengelupas
dari sekujur laut pasang, hitamkan seluruh tanda.
Tangan-tangan lelaki menulis surat cinta
di pesisir basah dengan huruf-huruf besar.
Di dahan bakau kau gantung gaunmu, menyelam
bersama kura-kura, tenggelamkan debar jantung
meletuskan isyarat tak diharapkan.

Seperti laut, surat cinta melulu menunggu,
kalimat-kalimat aneh di sepanjang pesisir,
sebelum digerus arus.
Kau mengerti, cinta cuma ilusi yang diagungkan.

Dan seperti laut, tak ingin pasrah pada celetuk kecil
rasa sepi, juga hasrat iseng berbagi: lalu kembali
seperti laut, kehilangan jejak kering di pantai kemarin.

Warna bibirmu tak berubah, asingkan debar jantung.
Ratusan senja berlewatan
mereka terus menulis surat cinta, seperti arus,
dan percaya: mungkin tak singkat, kelak
isyarat lain tertinggal di sebutir pasir…

Jakarta, 2001



Roman Pelarian

Tak ada di sini gugup jantungmu
hanya kecut tubuh membekas di dinding
dan pekat jelaga pertarungan di bat…

Bidadari Pasar

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Kau bukan bidadari surga. Maka tubuhmu dilempar ke pintu pasar. Tugasmu hanyalah menolong pembelanja kesasar, bingung di tengah jubel dan hiruk pikuk pedagang, atau ibu ibu yang hendak membeli daging sapi. Daging yang dibantai para jagal malam hari, sebelum paginya dijajahkan di lapak lapak pedagang.*

Kau yang dulu mengesankan, lugu dan mempesona, tiba-tiba menjadi Leak betina yang menjelma seekor burung kedasih. Burung yang membuntuti gerak malamku sembari hinggap di rerimbunan carang bambu. Sorot matamu nanar. Berkilau setajam ujung belati. Sekilas pandang saja, dadaku tercabik beribu sayatan.

Andai santet atau tenun, tak sampai menyeberangi lautan. Tapi Leak..! Leak tak kenal seberangan. Rasanya ke pulau mana pun, tetap kau incar kematianku. Bukan kematian secara wajar dan mudah, melainkan sekaratku dalam sunyi, kelam, merasuk seutas jiwa, penuh bisikan, rintihan, konstan dan pasti. Kalapmu pun seperti tak mau tau, bahwa kematian …

Kunang-kunang dalam Bir

Agus Noor, Djenar Maesa Ayu
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Di kafe itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I just called to say I love you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan ma…

Tiada Darah di Lamalera

Martin Aleida
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Gigil laut utara menggiring kami kemari, ke Laut Sawu yang hangat dan biru begini. Langit begitu rendah. Seperti hendak rebah. Lengkungnya sesekali disaput semburan air yang tegak lurus meniti dalam hembusan napas paru-paru paus pembunuh. Orang-orang yang mendiami pulau kecil di sini menyebut mereka seguni. Sementara aku dan kaumku, mereka beri nama koteklema.

Setahun sekali kami melintas di tengah laut ini, beberapa mil dari rumah penduduk yang jumlahnya tak seberapa. Menyediakan diri sebagai umpan yang akan menghidupi mereka selama laut utara dingin membekukan. Hubungan kami dengan mereka, yang sudah berabad-abad, membuat mereka hafal bahwa paus jenis kami adalah buruan yang mudah ditaklukkan. Sekali tempuling tertancap, kami bukannya melawan, malah mempermudah pertarungan. Kami tidak akan melawan sebagaimana paus pembunuh yang akan menggeliat meronta dalam darah, berputar-putar, menyiksa, mau meremukkan perahu seisi-isinya. Membuat omba…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com