Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

BELAJAR SASTRA LOKAL ALA SAIPI ANGIN

[Dari Sabrank Suparno, Fikri. MS sampai Wong Wing King]
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Sudah beberapa hari ini aku berada di Jombang, padahal rencananya paling banter dua atau tiga hari. Beginilah keadaanku kala berkelana, seperti udara diterbangkan angin kemana saja sesukanya, tiada lebih diriku sewaktu di rumah. Kubebaskan alam fikiran-kalbu mengikuti arus tak terlihat, ricikan ombak kehidupan berjuta jumlah, setiap partikel terkecil menentukan aura. Daun-daun, burung-burung, segerombolan awan bertumpuk-tumpuk kadang menipis sesuai tarian bayu berdendang, berdentaman ke dalam jiwa.

Mungkin kesukaanku pada dua perkara; membaca, selanjutnya menulis; menyimak buku, peredaran alam, gerak hayati, lajuan tumbuh pula kelayuan. Semua itu kurasai sebadan bersandar ketenangan, belajar menggali ikhwal ribuan makna, membongkar batu-batu cadas pengertian. Aku jadi teringat para ibu pemukul batu-batu di Gunung Kidul, penjual kerupuk berjalan kaki, pedagang almari dengan pikulan kayu, …

Puisi Sebagai Perang Filsafat

Alex R. Nainggolan
Bali Post, 15 Mei 2011

PUISI merupakan sebuah permainan diri, di mana seluruh unsur tubuh bergerak. Sejumlah diksi yang tersusun, lebih layak disebut sebagai kesatuan yang unik. Posisi yang saling berjabat tangan. Maka puisi selalu berhadapan pula dengan filsafat, bagaimana penyair mengembalikan keyakinan, sikap, keraguan, kecemasan, kemarahan, kejengkelan, atau nuansa main-main terhadap hidup.

Kata-kata memang selalu bernada cemas, mengisyaratkan sebuah dunia baru yang membukakan sebuah peta. Kerja puisi adalah kerja yang penuh kekayaan, usaha penyair yang mirip dikerjakan seorang artefak, dengan membongkar seluruh mitos, penguasaan kata-kata ganjil, pemahaman terhadap sejumlah makna. Dan puisi bukan sekadar itu saja, terkadang ia pun menelusup di dalam kamar, hanya terkesan lirih, gumam yang mambang, tak terdengar, namun masuk ke dalam hati.

Ukurannya adalah bulu kuduk, kata Acep Zamzam Noor, terkadang pula puisi merentaskan sebuah jalan yang lain: menempuh seluruh ke…

SOLO DAN RUMAH SASTRA

Heri Maja Kelana*
http://pawonsastra.blogspot.com/

Akhirnya sampai juga di Solo, setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dari Bandung (pake kereta ekonomi lagi). 12 jam di kereta, rasanya seperti dalam oven. Terus terang saya baru pertama kali ke Solo. Awalnya saya mengenal Solo hanya sebatas pada lagu Gesang “Bengawan Solo”. Solo cukup ramah, namun udaranya sangat panas. Mungkin karena saya terbiasa di udara dingin.

Joko Sumantri seorang presiden Rumah Sastra menjemput kami (Denai, Wizard, Dian Hartati, Dian Hardiana, dan Fadhila) di stasiun Jebres. Rambut yang sedikit ikal, kaca mata, dan sepeda mengingatkan saya pada seorang teman di Majalengka tempat kelahiran saya. Namun Joko agak sedikit melar badannya. “Berapa jauh dari sini ke Rumah Sastra?”. “Bentar kok, nyebrang rel nyampe di rumah sastra” Joko menjawab dengan logat jawanya yang khas. 25 menit berjalan, akhirnya sampai di Rumah Sastra. Tanpa basa basi saya langsung masuk dan menyimpan tas. Sedikit iseng saya bertanya …

Yogya Basis Sastra Alternatif

Amien Wangsitalaja
http://www.kr.co.id/

MEDIA SASTRA, terutama sastra tulis, merupakan media yang cenderung tidak diminati secara massal dan karenanya cenderung tidak memiliki “masa hidup” yang panjang. Pamusuk Eneste dalam “Timbul dan Tenggelamnya Majalah Kebudayaan” (Matabaca, vol 1/no.4/ November 2002) menyimpulkan bahwa banyak majalah kebudayaan yang masih rutin terbit, yaitu Horison dan Basis ditambah dua lagi yang agak diragukan keberlangsungan terbitnya, yaitu Kalam dan Kolong.

Dari keempat nama yang disodorkan Pamusuk itu, hanya Horisonlah yang memiliki perhatian dalam porsi yang besar terhadap sastra, sementara lainnya lebih berorientasi pada kebudayaan secara umum (bahkan Basis sama sekali sudah menghilangkan rubrik sastranya). Dengan demikian bisa dikatakan Indonesia masih hanya memiliki satu majalah sastra saja, yaitu Horison. Karena itulah, kegelisahan untuk membuat media sastra alternatif penting untuk dimajukan, minimal untuk menyemarakkan wahana ekspresi dan publikasi sas…

Dante si anak alam

Noval Jubbek
http://sastra-indonesia.com/

“Hanya suaranyalah yang nyaring dan tajam. Seperti halilintar. Dan merdunya datang ketika malam. Serupa angin yang melibas ujung daun di pucuk cemara”

Dante, begitulah orang-orang memanggil namanya. Terkadang Dante, olokan para pemuda-pemudi kampung terhadap perempuan bertubuh ringkih yang sering duduk di bawah pohon beringin besar, di tengah-tengah pekuburan tua. Mungkin karena suaranya saja yang sering banter terdengar, sedang sosoknya tak tampak. Jadilah ia menyatu dengan angkernya pohon yang konon telah ribuan tahun kokoh berdiri itu. Akarnya yang telah mengular. Batangnya serupa kaki-kaki kokoh raksasa. Dan rambut pohon beringin itu terurai purba.

Sedang para tetua kampung tak sedikit yang menghormatinya. Membawakannya makanan. Terlebih pada malam-malam tertentu yang di keramatkan. Kemenyan satu ons dan kue pasar bermacam tujuh warna ditata dengan rapi di atas nampan dari bambu. Bibir nampan dihiasi daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa d…

Irama Terbang Tua

Mahmud Jauhari Ali
Tabloid Serambi Ummah 2 Jan 2009

Di antara hiruk-pikuknya kota, dan semakin pekatnya polusi di atmosfer tempat kelahiranku, aku masih seperti dulu. Ya, seperti dulu, setia dengan kesenian lama yang kini dipandang orang sudah usang dan berkarat. Batang usiaku kini telah mencapai kepala enam dan sedihnya, tanpa pewaris atas seni yang kubawakan dari waktu ke waktu. Temanku hanyalah sepasang kayu kering dan kulit hewan yang setia kepadaku. Sesekali kutengok masa lalu yang pernah membawaku ke atas pentas kebahagiaan. Sesekali pula aku diminta untuk mementaskan sebuah kisah yang berisi pula wejangan bagi pendengar dengan iringan suara terbang tuaku. Pernah kudengar sayup-sayup orang berkata, kesenian yang kubawakan telah berlumut, mirip dengan namanya.

Siang itu kupandangi sebuah surat yang dilayangkan oleh instansi ternama untukku. Telah lama sekali aku tak menerima sepucuk surat seperti ini. Memang bukan surat cinta, namun isinya membawaku ke alam cinta pada kesenian tua y…

Puisi-Puisi Mathori A. Elwa

http://mathorisliterature.blogspot.com/
SAKIT

ribuan sajak minta ditulis segera
dalam kertas
seperti rasa rindu yang mengeram
seperti resep dokter

ribuan sajak kautelan
bersama waktu
pagi siang dan malam
seperti ingin bersama selalu

tak kunjung sembuh juga
sakit jiwamu?

1994



Suluk

memetik pelajaran dari daun-daun
hidup tumbuh berguguran
bersama waktu, matahari dan rindu

dari lautan tinta
aku menulis berkah
manfaat dan madarat
saling bercumbu
menempa parang cinta
menggosok batu permata

jika bencana telah usai
pertempuran sebenarnya baru dimulai
agar tetap tegar dan waspada
bersama pertapa
aku memilih fajar

1990

Puisi-Puisi Tosa Poetra

http://sastra-indonesia.com/
Tulisan Yang Belum Selesei

Pada ujung matahari kupungut selembar kartu yang telah lama dipenjarakan waktu pada debu debu
kutemukan sebaris huruf yang telah dipudarkan waktu
di bawah kucuran bulan kueja walau jua tak terbaca
hujan rintik mulai berbisik
tiap titiknya yang berdetik mengajak kembali mengeja
Namamu tak jua terbaca
mungkin butuh seribu tanda tanya agar kutemukan namamu siapa
mungkin juga butuh sekian tanda baca
agar bintang bintang tak lagi malas berpijar
agar bibirku dapat berujar
keujung mimpipun namamu kukejar

20 September 2010



Setimba Air mata

Kubawa berlari,ke gunung,sungai dan samudera
namun tak tau hendak kutumpahkan di mana
sebab hanya ingin kutumpahkan di hati-Mu

sebiru langit yang kini masih biru walau terkadang awan menghadang
sebiru itu rindu yang tiada berbatas waktu

seperti air yang mengalir tiada henti
seperti kesetiaan bulan mengitari bumi
seperti itulah cintaku padamu

kupandang fotomu sekali lagi
kuadukan semua deritaku walau kau tiada tau
kuyakin kau t…

Puisi-Puisi Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Pemburu yang Diburu

kulihat diri asyik memandang langit
dan sesiapa saja ; termasuk aku
di punggung-punggung keadaan
pemburu bisa serupa yang diburu
yang diburu bisa serupa pemburu

saat memandang awan, pagi
perlu keyakinan memanah matahari
yang sinarnya memancar itu
jadikan benih kuasa
menetak penggal kecamuk amuk ,hati!
matahari-ku-mu-lah pemburu
berdiri tegak menatap dunia

saat malam, mata jasmani kugantung
untuk langit
mata hati menetak bulan
yang sinarnya memancar itu
aku
pemburu
diburu

duhai,o,duhai pemilik cahaya
di punggung-punggung keniscayaan
bila aku serupa duri
biar aku menjadi duri yang
menyelimuti tubuh kaktus

25 Maret 2010/rev/22 Juni 2011

Catatan: Pada kaktus dan beberapa tumbuhan daerah kering lainnya (xerofit), duri merupakan modifikasi dari daun. Fungsi metabolism daun sepenuhnya dilakukan pada epidermis batang dan daun berubah menjadi duri untuk mengurangi transpirasi (Bahasa Inggris: transpiration; hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan). Sumber dari Wikipedia…

Kembang Matahari Perpuisian Kita

Judul : Memburu Matahari
Pengarang : A. Faruqi Munif, dkk
Editor : Eko Putra
Pengantar : Wayan Sunarta
Penerbit : Bisnis, Maret 2011
Tebal : vi + 124 halaman
Peresensi : Asarpin *
http://www.lampungpost.com/

PUISI ibarat matahari dengan teriknya yang panjang, garang, yang berbeda dengan fajar dan senja yang memancarkan cahaya singkat. Sebagai matahari, maka terdapat puisi yang abadi, yang gema dan pengaruhnya sangat panjang. Maka tak heran jika banyak yang gerah terhadap kehadiran makhluk bernama puisi, terutama mereka yang terbiasa berhadapan dengan kata-kata biasa, bukan kata-kata yang memburu, membakar, memanggang serta menghanguskan sekujur tubuh mereka hingga terkulai tak berdaya.

Puisi juga ibarat pusat gravitasi yang mampu menjadi daya penarik bagi matahari-matahari kecil di sekitarnya. Ia bisa mewujudkan dirinya sebagai sesosok cumi-cumi yang memiliki seribu tangan dan kaki untuk menangkap setiap hal yang berkelebat di sekitarnya. Ia bisa amat sangat berbahaya kendati terasa amat sanga…

Novel Perjuangan Kemerdekaan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Perang Kemerdekaan 1945-1949 banyak diungkap oleh para sastrawan yang sering digolongkan sebagai Angkatan 45. Mereka mengungkapkan gejolak perjuangan itu sebab mereka memang terlibat dalam peristiwa tersebut. Mochtar Lubis menulis novel Jalan Tak Ada Ujung yang berkisah tentang sepak terjang pejuang di sekitar Jakarta. Pramoedya Ananta Toer juga menulis Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan,dll.

Yang menarik perhatian kita justru sejumlah novel yang menggambarkan kiprah para pejuang yang ditulis oleh seorang yang sebelumnya tak dikenal sebagai sastrawan, apalagi sebagai novelis. Namun, ternyata karya-karyanya mencengangkan, bukan lantaran deskripsinya yang jelas tetapi karena pengarang ini menulis sejumlah novel yang satu dengan yang lain saling kait-berkait.

Dia adalah Pandir Kelana, seorang pelaku Perang Kemerdekaan yang meniti karier militernya sampai berpangkat Mayor Jenderal. Nama aslinya RM Slamet Danusudirdjo adalah bekas pejuang yang…

Novel Sejarah Lamongan

Judul buku : Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama
Penulis : Viddy A.D. Daery
Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai), Februari 2011
Hal : 146 halaman
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

PENERBITAN novel-novel bergenre sejarah tampaknya sedang menjadi tren belakangan ini. Jika menilik rak-rak di toko buku, banyak novel-novel sejarah, mayoritas berlatar Jawa di masa silam.

Sastrawan Viddy A.D. Daery menerbitkan novel serial Pendekar Sendang Drajat Memburu Kertagama. Setelah meneliti sejarah Sendang Duwur dan Lamongan, penulis yang sekaligus keturunan Sunan Sendang Duwur, kakek Sendang Drajat, kemudian merekonstruksinya ke dalam novel. Tentu bukan hal mudah merekonstruksi sejarah dan memberi interpretasi baru ke dalam bentuk karya sastra.

Novel yang berkisah seputar Kerajaan Majapahit abad XV dibuka dengan deskripsi tokoh Pendekar Sendang Drajat alias Raden Ahmad yang bertugas menjaga keamanan Kasunanan Drajat dan Sendang Duwur. Dia hendak menyunting Dewi mengajaknya berja…

Perempuan dalam Sastra

Nurani Soyomukti *
Seputar Indonesia, 23 Des 2007

DALAM kesusastraan Indonesia, masih sedikit kaum perempuan yang berkecimpung di bidang sastra. Dunia sastra masih didominasi kaum laki-laki.Tak heran jika cara pandang bias gender pun terjadi.

Ideologi patriarki yang mendominasi masyarakat kita nampaknya turut memengaruhi cara pengarang dalam menempatkan tokoh perempuan dalam karya-karyanya. Kontradiksi pokok masyarakat Indonesia mulai dari feodalisme (yang masih tersisa dan belum hancur), kapitalismeimperialistik, dan militerisme adalah tantangan terbesar bagi kemerdekaan perempuan.

Struktur sosial tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk penuh dosa, dilemparkan secara nista dari wilayah produktifnya ke dalam domain domestik; pernikahan seperti pelacuran yang berpilar pada kebaikhatian dan kepasrahan perempuan.

Dalam bukunya Gadis Pantai, Pramoedya Ananta Toer menceritakan bahwa perempuan tidak lebih dari media pelatihan bagi pria menuju kesejatiannya untuk menikahi perempuan lainnya…

LOMBA CIPTA PUISI, MENULIS CERPEN, CERITA RAKYAT DAN PAGELARAN SASTRA

Sekadar Info Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2011
http://sastra-indonesia.com/

Dalam rangka Aruh Sastra ke-8 Kalimantan Selatan di Barabai HST, tgl 16 – 19 September 2011 dengan Tema “ Menebar Benih Sastra di Banua Murakata”, Panitia Penyelenggara membuka kesempatan bagi penulis yang berdomisili di wilayah Kalimantan Selatan untuk mengikuti beberapa lomba yaitu :

1) Lomba cipta puisi bahasa Indonesia, tema bebas.

2) Lomba menulis cerpen bahasa Indonesia, tema bebes.

3) Lomba menulis cerita rakyat berkisar cerita rakyat yang ada di daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Masing-masing mata lomba, peserta boleh mengirimkan maksimal 3 (tiga) karyanya yang ditulis tahun 2010/2011 + biodata singkat + foto,asli tidak saduran/jiplakan,belum pernah dipublikasikan di media cetak/internet atau sedang diikutkan pada lomba yang lain dibuat dalam surat pernyataan.

Untuk lomba puisi, panjang puisi maksimal dua kwarto dan untuk lomba cerpen dan kisah rakyat 4-7 kwarto, font 12 times new roman diketik satu sete…

Ahmad Tohari: Srintil-Srintil Masih Dialami Perempuan

Rofiuddin
http://www.tempointeraktif.com/

Keberadaan ronggeng di Dukuh Paruk pada masa 1960-an menjadi fenomena sosial. Ronggeng dipuja-puja dan diinginkan, namun di satu sisi harus mengalami malam buka kelambu saat calon ronggeng mempertaruhkan keperawanannya.

Demikian disampaikan sastrawan Ahmad Tohari, penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, dalam diskusi "Di Balik Ronggeng Dukuh Paruk" di Pondok Maos Guyub Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah, Minggu, 22 Mei 2011. Tohari, yang malam itu mengenakan baju batik bermotif cokelat, menegaskan, "Dengan menulis ronggeng, saya ingin membela perempuan. Perempuan masih tertindas dari dulu hingga sekarang," ujar lelaki yang akrab dipanggil Kang Tohari ini.

Dalam acara "Parade Obrolan Sastra IV" oleh Komunitas Lerengmedini dan milis Apresiasi Sastra ini, suami dari Hj. Syamsiyah ini bercerita seputar proses kreatif di balik novelnya. Tokoh ronggeng dipilih, menurutnya, karena kondisi negara saat itu masih belum ber…

Chairil Anwar, Sang Pelopor Antara Biografis dan Ruang Estetis

Raudal Tanjung Banua
http://www.harianhaluan.com/

Chairil Anwar, seorang penyair yang mati muda, tapi toh menyandang prediket yang amat prestesius: Sang Pelopor. Setidaknya, ini sedikit meng­obati klangenan kita akan sosok dan pokok yang lahir dan dibesarkan oleh proses krea­tifnya sendiri, bukan dari ranah politik yang lebih meng­andal­kan intuisi dan publisitas ala selebritis sebagaimana terlihat dalam kecenderungan kehidup­an berbangsa kita saat ini. Sementara sosok dan pokok dari ranah budaya, seperti HB Jassin, Mochtar Lubis atau Pramoedya Ananta Toer, di samping tentu Chairil, lenyap seiring lenyapnya tradisi pemi­kiran kreatif-alternatif dalam ranah politik dan keagamaan seperti pernah ditunjukkan sosok Sok Hok Gie dan Ah­mad Wahib, yang sebagaimana Chairil, keduanya juga mati muda.

Dalam usianya yang singkat (lahir di Medan, 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta, 28 April 1949—27 tahun) dan usia kepenyairan yang jauh lebih singkat (sajak pertama, “Nisan”, 1942, sajak terakhir “Aku B…

Sapardi Bicara Keindonesiaan di Bandung

Anwar Siswadi
http://www.tempointeraktif.com/

Penyair Sapardi Djoko Damono bicara tentang keindonesiaan di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 20 Mei 2011. Diskusi di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia itu mengiringi acara peluncuran buku terbaru Sapardi.

Buku berjudul Mengapa Kesatria Memerlukan Punakawan itu berisi kumpulan esai Sapardi tentang keindonesiaan. Dalam diskusi yang digelar Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, itu Sapardi mengambil tema khusus terkait seni, budaya, dan sastra. Awalnya, ia mempertanyakan kesenian Indonesia di antara kesenian asing dan tradisi.

Untuk membedakan kesenian asing dan tradisi, Sapardi mengambil contoh musisi jazz Indra Lesmana dengan penari Jawa Retno Maruti. Namun, kesenian Indonesia berasal dari kesenian asing dan tradisi. "Kebudayaan kalau berdampingan akan terus bertengkar. Dari pertengkaran itu lahir Indonesia," ujarnya.

Sapardi juga menilai kebudayaan Indonesia seperti sastr…

Seniman Yogyakarta Mengenang Dick Hartoko

Anang Zakaria
http://www.tempointeraktif.com/

Sejumlah seniman dan budayawan mengenang kembali almarhum Dick Hartoko, budayawan Indonesia yang meninggal dunia 10 tahun lalu, di gedung Karta Pustaka Yogyakarta, Sabtu malam, 21 Mei 2011.

Rohaniawan Katolik yang lahir pada 9 Mei 1922 itu meninggal dunia pada 1 September 2001. Semasa hidupnya, dia banyak menulis buku-buku sastra, filsafat, seni dan budaya. Dia juga dikenal sebagai redaktur majalah Basis.

Peringatan yang bertajuk "Mengenang Dick Hartoko: Guru, Budayawan, Kawan Kita (9 Mei 1922-1 September 2001)" itu dilakukan dengan cara kembali membaca tulisan-tulisan Romo Dick, demikian Dick Hartoko biasa disapa, di rubrik Tanda-Tanda Zaman pada majalah Basis. Di antara mereka yang turut membacakan tulisan itu adalah Landung Simatupang, Hairus Salim, Mahatmanto dan Ons Untoro. "Tulisannya masih cukup relevan dengan kondisi saat ini"” kata Ons Untoro.

Karya Romo Dick yang berjudul "DPR" yang dibaca Ons misalnya. D…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com