Minggu, 26 Juni 2011

BELAJAR SASTRA LOKAL ALA SAIPI ANGIN

[Dari Sabrank Suparno, Fikri. MS sampai Wong Wing King]
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Sudah beberapa hari ini aku berada di Jombang, padahal rencananya paling banter dua atau tiga hari. Beginilah keadaanku kala berkelana, seperti udara diterbangkan angin kemana saja sesukanya, tiada lebih diriku sewaktu di rumah. Kubebaskan alam fikiran-kalbu mengikuti arus tak terlihat, ricikan ombak kehidupan berjuta jumlah, setiap partikel terkecil menentukan aura. Daun-daun, burung-burung, segerombolan awan bertumpuk-tumpuk kadang menipis sesuai tarian bayu berdendang, berdentaman ke dalam jiwa.

Mungkin kesukaanku pada dua perkara; membaca, selanjutnya menulis; menyimak buku, peredaran alam, gerak hayati, lajuan tumbuh pula kelayuan. Semua itu kurasai sebadan bersandar ketenangan, belajar menggali ikhwal ribuan makna, membongkar batu-batu cadas pengertian. Aku jadi teringat para ibu pemukul batu-batu di Gunung Kidul, penjual kerupuk berjalan kaki, pedagang almari dengan pikulan kayu, doanya perbuatan. Menjajakan yang dibawa dengan kembalian tak memaksa, hanya ketenangan rahayu teridam, sebagaimana kehendak ke alam keabadian.

Pagi ini kembali bertepatan di rumah Sabrank, desa Dowong, Plosokerep, Sumobito, yang kesehariannya bekerja ke sawah, ia tak lebih pantulan jiwa revolusioner Emha Ainun Nadjib, tetangga desanya, Mentoro, Sumobito, Jombang. Sejak belia ia sudah kerap mendengar kata-kata Emha, dapatlah dibilang malah jarang membaca karya-karyanya -budayawan tersebut, seperti murid belajar langsung. Ucapan Cak Nun tak kurang sama di buku-bukunya yang dikemudian hari dijumpainya.

Sabrank Suparno, awal mula kukenal pembaca cerkak (cerito cekak atau cerpen berbahasa Jawa) yang handal, serupa petuah-petuah orang dulu. Jiwa tuturnya tak sebentuk menggurui, tetapi dengan langgam penceritaan sindiran, paribasan membuat orang terheran-heran, minimal diriku. Jika melihat perbedaan insan jaman sekarang yang sudah banyak melupakan kebudayaan leluhur, ia salah satu penguri-uri budaya. Aku bersyukur, ia mulai merambah ke kancah berbahasa Indonesia, sehingga kita mengetahui jawilan-jawilan kecil bak mutiara keringatnya.

Kukira keberangkatannya menapaki jalan kepengarangan lewat cerkak, tumbuh sejiwa pemberontakan disamping mentaati tradisi. Atau berkehendak melapangkan keduanya, dalam menggenapi usia kehadiran pribadi sebagai manusia Jawa mengenali bahasa Indonesia. Dilihat tulisannya mulai membeludak, sedangkan buku-buku pada perpustakaan pribadinya tidak seberapa, bisa dikata lebih banyak membaca realitas; bencah kebijakan hati, hijau pepadian perkaya fikiran, hujan lebat kegalauan menentukan pilihan tahap penelitannya, mendung bergayuh harapannya semakin kelam, namun ada secercah cahaya di sela-sela gemawan, matahari keyakinan diberangkatkan dari kemauan, hasrat tak ingin tertinggal sedari jauh.

Entah apa difikirnya mengenai dunia kepenulisan, kemungkinan bukan ketenaran, apalagi kekayakan, tak. Ia telah berkelana di pulau dewata Bali hingga plosok-plosoknya, pulau Madura dan dataran tanah Jawa telah dihatamkannya. Mungkin segenap jiwa-raganya dipersembahkan demi nilai-nilai adiluhung terserap, menyerap jatidirinya tetap kokoh di bumi kelahirannya, sejauh kalimahnya mampu meresapi kalbu pembaca.

Ia sekadar lulusan Aliyah setingkat SMA, maka sangat memalukan, jika ada mahasiswa kurang bisa menulis. Alam pendidikan kelak benar-benar menuju titik kehancuran, kalau mereka tak pandai mengamalkan segenap keilmuannya, hanya berpelesiran -desa ke kota, adu-gengsi gagah-gagahan, otaknya nol putul apalagi mengadopsi teori, pula mazhab aliran sedari negeri jauh, yang jelas-jelas tidak bisa mengakar di bumi Nusantara.

Minimal beberapa hari ini di Jombang, aku coba meresapi beberapa kemungkinan ke depan; pertama membakar gairah kawan Fikri. MS kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 12 November 1982 yang pernah lulus kuliah di STKIP Jombang, kala bertemu dirinya di malam pementasan teater bertajuk “Elegi Sebuah Negeri.” Serta memberi usulan spasi pada nama cerpenis Wongwingking menjelma Wong Wing King, kelahiran Jombang jebolan UNDAR.

Penyair Fikri. MS yang aktif dalam dunia teater, menceritakan hari-harinya disibukkan komunitas, sehingga sedikit luang waktu berkarya tulis, meski berbakat kesastrawian kuat. Semoga sekembali dari tanah Jawa, ada ruangan oval sendiri, waktu khusyuk mengudar segenap pengalaman jalan-jalannya selama ini membentuk gugusan karya, berangkat dari realitas ditempa bacaan-bacaanya. Setidaknya ia sudah menancapkan ruh semangatnya pada Komunitas Sanggar Teater Gendhing (STG) di Muara Enim, yang digagas bersama kawan-kawannya semenjak 18 Agustus 2008 yang sampai sekarang menggeliat. Tampangnya mengingatkan aku pada kawan Marhaliam Zaini asal Riau, yang berkacamata penuh selidik memandangi mungkin juga saat membaca, menelisiki hasil pendahulu demi ditumpahkan dalam karya yang sudah menyatu sejiwa-raga, seperti percampuran ruh di ubun-ubun seniman.

Cerpenis Wong Wing King yang sebelumnya membentuk Sanggar Sinau Lentera, kini menjelma Lentera Sastra Sepuluh. Juga menggagas Komunitas Teater Sanggar Seni Mentari Indonesia, dalam lingkungan UNDAR. Sosoknya malu-malu tapi haus belajar disamping dirinya pengajar, sehingga ringanlah kakinya melangkah, menambah wawasan di manapun dalam jangkauannya. Namanya mengingatkan aku pada buku “Pelita Hidup” yang disusun Moerthiko, penerbit Sekretariat Empeh Wong Kam Fu, 1979, yang diprakatai Empeh Wong Kam Fu sendiri. Lagian tidak keliru, Wong Wing King (dalam bahasa Jawa bermakna Orang berada di Belakang) pula berdarah turun Cina atas silsilah dari Kediri.

Malam itu di kampus AMIK Jombang, digelar acara rutin setiap tanggal 10an pengajian sastra, yang membedah salah satu cerpennya. Lantas diriku teringat rutinitas dulu di Lamongan, yang rutin pula menampik tulisanku untuk dibedah, sampai menjadi buku. Hanya satu esai yang dibahas pun sebatas permukaan, padahal sudah kufotokopi di setiap acara bulanan. Entah imbas atau apa, acaranya tak berjalan lancar hingga lima tahun dari sekarang, dan sepertinya mulai diaktifkan kembali, mungkin juga tak lama.

Acara di AMIK tak tampak bebentuk senioritas, sehingga memudahkan bertukar pengalaman, maka diriku tidak segan mengajukan usulan, agar bulan depan karyaku dibahasa, dan aku bersyukur diterima dengan tangan terbuka. Ya semoga bisa ajek menimba keilmuan di kota Jombang, meski jarak Lamongan-Jombang lumayan membuat pegal, tapi kukira ini baik, daripada membaca-menulis dalam kamar sedirian, yang ada kalanya minim kontrol. Setidaknya, atas bacaan kawan-kawan di sana, kelak beberapa kekurangan terketahui, guna ditambal dalam perevisian.

Gejala kemandekan acara rutin kegiatan sastra biasanya tak ditopang penambahan bacaan para peserta, maka berputar itu-itu saja kajiannya dari waktu sudah-sudah. Rupa-rupa ini mungkin berasal sikap kegantengan, tapi dalam pancapain keilmuan tidak tampak peningkatan, biasanya sebagai gong penutup seolah-olah berbijak rasa menampung jalannya diskusi. Padahal kedatangan peserta tentu diniatkan menimba keilmuan saling mengisi, bukan adu gengsi, apalagi adu mulut tanpa referensi.

Sangat disayangkan jika para pelaku sastra di Lamongan tak terus sinahu, tapi masih suka disebut-sebut, apalagi bangga dimasukkan dalam antologi Jatim, tetapi tidak mencerminkan tanjakan, padahal usia terus bertambah, kematian senantiasa menyapa. Kukira ajaran ini masih patut didengungkan; “mencari ilmu sampai ke liang lahat.” Namun aku bersyukur, masih ada beberapa yang mau berdiskusi sepadan, meski di waktu-waktu kebetulan; Rodli TL, Imamuddin SA, Agus B. Harianto, dan Denny Mizhar, AS Sumbawi sepulang dari Malang, Haris Del Hakim dari Surabaya. Sehingga mengurangi kecelakaan pula kebelusuknya tilikan tengah terbangun diatas masing-masing, yang diharapkan paparan terkemuka melalui jalan lurus mencerahkan.

Januari 2011

Puisi Sebagai Perang Filsafat

Alex R. Nainggolan
Bali Post, 15 Mei 2011

PUISI merupakan sebuah permainan diri, di mana seluruh unsur tubuh bergerak. Sejumlah diksi yang tersusun, lebih layak disebut sebagai kesatuan yang unik. Posisi yang saling berjabat tangan. Maka puisi selalu berhadapan pula dengan filsafat, bagaimana penyair mengembalikan keyakinan, sikap, keraguan, kecemasan, kemarahan, kejengkelan, atau nuansa main-main terhadap hidup.

Kata-kata memang selalu bernada cemas, mengisyaratkan sebuah dunia baru yang membukakan sebuah peta. Kerja puisi adalah kerja yang penuh kekayaan, usaha penyair yang mirip dikerjakan seorang artefak, dengan membongkar seluruh mitos, penguasaan kata-kata ganjil, pemahaman terhadap sejumlah makna. Dan puisi bukan sekadar itu saja, terkadang ia pun menelusup di dalam kamar, hanya terkesan lirih, gumam yang mambang, tak terdengar, namun masuk ke dalam hati.

Ukurannya adalah bulu kuduk, kata Acep Zamzam Noor, terkadang pula puisi merentaskan sebuah jalan yang lain: menempuh seluruh keragu-raguannya. Beberapa diksi memang terasa dekat dengan keseharian kita, namun tetap saja terlupa atau tak pernah dipikirkan sebelumnya. Dan saya kembali membaca sejarah sastra, yang pernah dibilang Nirwan Dewanto sebagai beban dunia susastra kita. Saya kembali membaca pendombrakan yang dilakukan Chairil Anwar, dengan sejumlah sajak liris cum bisiknya yang terdengar berbisik, semacam “Senja di Pelabuhan Kecil”—saya tergoda, betapa hal semacam rasa sakit hati bisa diangkat menjadi sebuah puisi. Kemudian saya menelusuri lagi dengan filsafat yang ditawarkan Sutardji Calzoum Bachri, dalam “Tapi”, “Perjalanan Kubur”, “Mesin Kawin”. Saya kembali ditampar oleh sejumlah narasi-narasi yang pendek di awal masa kepenyairan Sapardi Djoko Damono yang terangkum dalam antologi “Hujan Bulan Juni”, saya kembali digoda dengan nuansa perlawanan Taufiq Ismail dalam “Tirani dan Benteng”. Dan kembali saya terpukau pada sajak cinta WS Rendra di awal dunia kepenyairannya pula dalam “Empat Kumpulan Sajak”, atau balada-balada, yang beberapanya ditiru dalam dunia prosa kita akhir-akhir ini dalam “Ballada Orang-Orang Tercinta”.

Filsafat

Kembali saya tersentak beberapa filsafat yang ditawarkan mereka, bagaimana membaca kehidupan, mengembalikan diri, dan bersikap. Ditambah lagi dengan kesulitan pembacaan atas sajak Goenawan Mohammad, yang penuh dengan nuansa wacana pemikiran, pencampuradukkan dongeng, pengingkaran, tanpa jawaban yang bisa dikatakan final. Puisi adalah filsafat. Sejak awal, bahkan ketika Descartes mencatatkan definisi mula tentang puisi itu sendiri, sebagai suatu wilayah meditasi. Usaha untuk membentangkan jarak antara realitas. Seorang penyair selalu berhadapan dengan hal tersebut, untuk itu perlu dibangun cogito (penalaran), terhadap diri sendiri atau kehidupan di sekelilingnya. Puisi adalah filsafat, bagaimana Joko Pinurbo bermain dengan santainya ihwal “Celana” atau “Telepon Genggam”. Puisi adalah filsafat, bagaimana Afrizal Malna bergerak di sekitar kota tempat tinggal, merasa terasing, dan masuk ke alam benda-benda, yang baginya hidup (baca: “Kalung dari Teman”). Friedrich Holderin bilang puisi itu merupakan sebuah lingkaran kalimat yang serat makna, dengan bangunan kata-kata yang gandrung akan misteri. Misteri itulah yang membuat sebuah puisi hidup, di mana seorang pembaca secara acak maupun sistematis, mengikuti larik-larik selanjutnya yang akan dijumpai. Sebuah gigil yang ajaib akan membuat tersendak, bahkan tak jarang melulu berada di dalam kepala. Puisi yang baik, barangkali ialah yang tetap hidup, di mana ia bisa terbang melintasi pelbagai zamannya. Rangkaian kata, permainan bahasa, dan beberapa penampakan filsafat menyebabkan seseorang terpukau.

Dihadapkan sebuah puisi, barangkali kita seperti memasuki medan perang filsafat. Setiap penyair seakan-akan menyuguhkan semua jurus yang dimilikinya untuk menghidupkan semua diksi yang disusun, direkatkan, kemudian direkam dalam pusat memori. Unsur depan sadar yang sering dibicarakan Sutardji, lebih merupa pada langkah meditasi, yang bermula dari kata Le Duc de Luynes, Descartes melanjutkan, “Puisi sebagaimana juga filsafat, seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang lebih berguna lagi, kecuali mencari satu kali, dengan tekun, terus-menerus.”

Memang kita sudah paham juga, pencarian dalam setiap karya sastra adalah proses yang tak kenal lelah. Semacam candu yang terus menghantui, maka puisi mewujudkan sebuah bentukan baru akan dunia yang juga baru rupanya, tempat antara pembaca syair dan pembuat syair bertemu. Proses yang semacam ini juga lebih berwujud pada penapakan bebas. Semacam gurat kenangan yang terus hidup, memorabilia, waktu yang berdentang antara ada dan tiada.

Karena sarat dengan pencarian, emosional, puisi juga lebih berwujud pada pelintasan ruang batas sunyi yang tak terkendali. Di mana seluruh pucat kehidupan tampak di situ. Seorang penyair, tentu menuliskan puisi dengan caranya masing-masing, melalui tahap kesulitan masing-masing. Tidak hanya sekadar bersandar pada kemampuan bakat semata, ia lebih dibebankan pada seluruh pengetahuan antara dunia sadar dan tidak sadar. Dalam filsafat, kita juga temui bagaimana seorang Nietzche merumuskan dunia kenihilan kita. Dunia absurd yang tidak jelas, tetapi pada akhirnya kita kembali pada nalar juga.

Puisi berusaha mencuri segalanya, dengan kekuatan yang ada di tubuhnya. Ia menghidupkan seluruh keganjilan tersebut. Dan saya kembali teringat pada nuansa yang dibangun dalam sajak Ulfatin Ch. , Gus Tf. Sakai, Warih Wisatsana, Sindu Putra, I Wayan Sunarta, di sana kesadaran mereka akan ruang imajinasi seperti merobek seluruh pengetahuan yang telah lama “membusuk” di dunia.

Alex R. Nainggolan, penyair, tinggal di Jakarta
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/puisi-sebagai-perang-filsafat.html

SOLO DAN RUMAH SASTRA

Heri Maja Kelana*
http://pawonsastra.blogspot.com/

Akhirnya sampai juga di Solo, setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dari Bandung (pake kereta ekonomi lagi). 12 jam di kereta, rasanya seperti dalam oven. Terus terang saya baru pertama kali ke Solo. Awalnya saya mengenal Solo hanya sebatas pada lagu Gesang “Bengawan Solo”. Solo cukup ramah, namun udaranya sangat panas. Mungkin karena saya terbiasa di udara dingin.

Joko Sumantri seorang presiden Rumah Sastra menjemput kami (Denai, Wizard, Dian Hartati, Dian Hardiana, dan Fadhila) di stasiun Jebres. Rambut yang sedikit ikal, kaca mata, dan sepeda mengingatkan saya pada seorang teman di Majalengka tempat kelahiran saya. Namun Joko agak sedikit melar badannya. “Berapa jauh dari sini ke Rumah Sastra?”. “Bentar kok, nyebrang rel nyampe di rumah sastra” Joko menjawab dengan logat jawanya yang khas. 25 menit berjalan, akhirnya sampai di Rumah Sastra. Tanpa basa basi saya langsung masuk dan menyimpan tas. Sedikit iseng saya bertanya “ada nasi pecel gak ya di sini?”. Dari kereta saya membayangkan nasi pecel. Pecel salah satu makanan favorit saya.

Solo memang ramah dan murah makanannya. Nasi pecel, kerupuk, bala-bala, dan susu coklat cuma empat ribu lima ratus. Di Bandung mana ada makan dengan harga segitu.

Rumah Sastra, rumah yang sederhana, akan tetapi orang-orangnya luar biasa. Spirit untuk berkarya muncul di rumah itu. Chairil dan Pram menjadi simbol, bahwa sastra tidak akan pernah mati. Saya merasakan susana Pentagon (sekretariat ASAS) juga di sini. Kekeluargaannya sangat kentara. Joko Sumantri, memang sang presiden yang sangat gigih membumikan sastra di Solo.

Saya banyak sekali masukan dari rumah sastra, terutama dari orang-orangynya. Sastra yang tumbuh di sini berbeda dengan sastra di Bandung. Di sini saya seperti menemukan dunia baru. Dunia tanpa beban, dunia yang bebas menembus dinding-dinding metafora. Merobek cakrawala dan mengangkat imajinasi purba. Jadi ingin berpuisi nieh. Entah kenapa, di Rumah Sastra hawanya selalu ingin berpuisi. Bagi saya Rumah Sastra adalah Rumah Sajak.

Pawon salah satu jurnal sastra yang lahir dari Rumah Sastra. Jurnal yang agak sedikit nyeleneh, akan tetapi jujur dan berbobot serta menjadi media alternatif bagi anak-anak muda. Dengan semangat independent Pawon terus bergulir. Semangat-semangat ini yang dibutuhkan Indonesia sebenarnya. Pawon tidak dapat bantuan dana dari kapitalis apalagi imperialis. Tidak seperti majalah yang mandapat bantuan dana dari Ford Fondation yang tidak jelas itu. Atau KUK antek imperialis. Konsistensi Pawon, sebagai jurnal sastra yang bermasyarakat wajib kita acungi jempol.

Rumah Sastra akan saya jadikan rumah ke 4, setelah rumah saya tentunya. Saya akan kembali walau sekedar singgah atau rehat, bisa jadi menetap (setelah mas Joko mengijinkan tentunya).

Satu malam di Solo akan saya rindukan, apalagi apalagi nasi pecel, bir, dan ciunya serta hujan puisi di Rumah Sastra pada malam itu.

*) Penyair tinggal di Bandung

Yogya Basis Sastra Alternatif

Amien Wangsitalaja
http://www.kr.co.id/

MEDIA SASTRA, terutama sastra tulis, merupakan media yang cenderung tidak diminati secara massal dan karenanya cenderung tidak memiliki “masa hidup” yang panjang. Pamusuk Eneste dalam “Timbul dan Tenggelamnya Majalah Kebudayaan” (Matabaca, vol 1/no.4/ November 2002) menyimpulkan bahwa banyak majalah kebudayaan yang masih rutin terbit, yaitu Horison dan Basis ditambah dua lagi yang agak diragukan keberlangsungan terbitnya, yaitu Kalam dan Kolong.

Dari keempat nama yang disodorkan Pamusuk itu, hanya Horisonlah yang memiliki perhatian dalam porsi yang besar terhadap sastra, sementara lainnya lebih berorientasi pada kebudayaan secara umum (bahkan Basis sama sekali sudah menghilangkan rubrik sastranya). Dengan demikian bisa dikatakan Indonesia masih hanya memiliki satu majalah sastra saja, yaitu Horison. Karena itulah, kegelisahan untuk membuat media sastra alternatif penting untuk dimajukan, minimal untuk menyemarakkan wahana ekspresi dan publikasi sastra kita.

Lantas, kenapa Yogyakarta dimajukan sebagai tempat kemunculan media sastra alternatif itu? Jika kita renungkan secara serius, agaknya bukan tidak mungkin jika Yogyakarta memang kondusif untuk tempat melahirkan media sastra alternatif tersebut.

Pertama, dari sisi motif-motif politik. Jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, maka suasana di Yogyakarta lebih memberi tempat kepada tumbuhnya sikap saling menghargai di antara para pekerja sastra. Politik “perkubuan” boleh dibilang telah usang untuk dikembangkan di kota ini, terutama setelah kematian Linus Suryadi. Suasana ini tentu berbeda dengan Jakarta, yang bias-bias politik “perkubuan”-nya teramat kental.

Di sana, setidaknya, ada kubu Utan Kayu “TUK” dan Utan Kayu “Horison” (karena Horison mulai Januari tahun ini juga bermarkas di Utan Kayu) sebagai dua kubu yang memiliki power tertentu yang diperhitungkan dalam perpolitikan” sastra. Kemudian di wilayah marjinalnya terdapat komunitas Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), Komunitas Sastra Indonesiia (KSI), komunitas-komunitas sastra pergerakan yang melahirkan Media Kerja Budaya (MKB), juga komunitas-komunitas lain yang mencoba untuk lebih bersikap independen semacam Yayasan Multimedia Sastra (YMS).

Kentalnya bias politik “perkubuan” tentu akan membuat kehadiran ataupun kemunculan seseorang atau sesuatu apa pun dalam khasanah komunikasi sastra di Jakarta, akan mudah direspons dalam suasana kesalingcurigaan. Melejitnya nama seseorang sastrawan, pemilihan nama-nama tertentu sebagai peserta sebuah festival sastra internasional, peluncuran buku antologi sastra, penjurian-penjurian dan penghargaan-penghargaan sastra, dan sebagainya; adalah peristiwa-peristiwa yang tak pernah luput dari nuansa politik “perkubuan” tersebut. Komunikasi sastra telah kehilangan kesahajaannya dan upaya-upaya pemajuan dunia kesusastraan rentan untuk tergiring ke penjadian dunia kesusastraan sebagai alat untuk peneguhan kubu politik.

Jika kita hendak memunculkan sebuah media sastra baru atau alternatif di Jakarta, jangan-jangan sebelum media tersebut berhasil muncul kita sudah disibukkan untuk menjawab berbagai sinisme dan kecurigaan yang ditujukan terhadap motif-motif apa pelahiran media ini, siapa berdiri di belakangnya, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berlagak kritis tapi sebetulnya melulu politis. Jika demikian, tentu Yogyakarta bisa dijadikan kota alternatif untuk penggairahan dan pemajuan sastra, termasuk misalnya untuk menjadikan kota ini basis dari media sastra alternatif. Penggairahan dan pemajuan sastra yang diharapkan lebih bersahaja dan tidak tenggelam oleh banalitas nafsu politik mudah-mudahan bisa dilakukan di sini.

Kedua, dari sisi motif-motif ekonomi. Dalam tulisan di Matabaca tersinggung di atas, Pamusuk Eneste mengutip pendapat Jakob Sumardjo perihal mengapa sebuah majalah kebudayaan (atau majalah sastra) cenderung mudah mati di tengah jalan. Menurut Jakob Sumardjo, ada beberapa hal yang menyebabkan sebuah majalah kebudayaan bisa bertahan hidup, dan salah satunya adalah bahwa majalah itu harus bukan mengejar keuntungan komersial tapi keuntungan kultural.

Faktor pengesampingan motif komersial inilah poin yang kemungkinan besar komunitas sastra Yogyakarta masih bisa menjalankannya, yang orang-orang dari kota-kota besar lain (Jakarta, Bandung, dsb.) sulit untuk melepaskan diri dari jaring-jaring sikap hidup materialistik dan pengejaran keuntungan material semacam itu.

Kita bisa belajar dari dunia penerbitan buku secara umum. Yogyakarta adalah gudang dari puluhan penerbit alternatif. Penerbit-penerbit kecil mandiri banyak muncul dari kota ini dengan karakteristik utama yang dimiliki oleh mereka adalah: (1) berangkat berbekalkan semangat idealistik, (2) tidak memaksudkan sebagai sebuah usaha dagang yang murni profit oriented, (3) bermodal finansial yang pas-pasan, (4) memiliki semangat mendobrak mainstream wacana yang status quo.

Penerbit-penerbit alternatif jika menerbitkan sebuah buku pertama kalinya, bukan untuk mengejar keuntungan komersial, tapi untuk keuntungan kultural. Dan terbukti di Yogyakarta semangat-semangat tersebut masih bisa dipelihara, dan penerbit-penerbit alternatif tersebut juga terbukti bisa bertahan hidup di kota ini. Dari contoh bisa bertahannya penerbitan buku alternatif di Yogyakarta inilah, maka bukan tidak mungkin ide untuk menjadikan Yogyakarta sebagai basis penerbitan media sastra alternatif, akan menemukan relevansinya.

Beberapa media sastra alternatif itu pun memang telah mulai mencoba untuk muncul dari sini. Contohnya Jurnal Cerpen Indonesia. Bahkan, Jurnal Puisi yang pada mulanya terbit di Jakarta dan merasa kewalahan untuk bertahan hidup dan sempat sekarat bertahun-tahun, akhirnya memilih untuk bertahan terbit di Yogyakarta.

Kemudian sesudah itu dan karenanya, masih terbuka kesempatan untuk menggagas dan melahirkan media sastra lain di sini. Mari beramai memunculkan media-media sastra lain di sini. Mari jadikan Yogyakarta sebagai basis media sastra alternatif. Dan kalaupun di kota ini pernah dideklarasikan Asosiasi Penerbit Alternatif (APA) dan Aliansi Penerbit Independen (API), bukan tidak mungkin akan lahir juga Asosiasi Media Sastra Alternatif (AMSA) yang mudah-mudahan khalis dari kepentingan politik dan ekonomi secara sempit. ***

Dante si anak alam

Noval Jubbek
http://sastra-indonesia.com/

“Hanya suaranyalah yang nyaring dan tajam. Seperti halilintar. Dan merdunya datang ketika malam. Serupa angin yang melibas ujung daun di pucuk cemara”

Dante, begitulah orang-orang memanggil namanya. Terkadang Dante, olokan para pemuda-pemudi kampung terhadap perempuan bertubuh ringkih yang sering duduk di bawah pohon beringin besar, di tengah-tengah pekuburan tua. Mungkin karena suaranya saja yang sering banter terdengar, sedang sosoknya tak tampak. Jadilah ia menyatu dengan angkernya pohon yang konon telah ribuan tahun kokoh berdiri itu. Akarnya yang telah mengular. Batangnya serupa kaki-kaki kokoh raksasa. Dan rambut pohon beringin itu terurai purba.

Sedang para tetua kampung tak sedikit yang menghormatinya. Membawakannya makanan. Terlebih pada malam-malam tertentu yang di keramatkan. Kemenyan satu ons dan kue pasar bermacam tujuh warna ditata dengan rapi di atas nampan dari bambu. Bibir nampan dihiasi daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa dipadu dengan juntaian janur kuning yang diserut dari pohon kelapa hijau. Sajian yang sering mereka berikan pada Dante.

Pada tengah malam seringkali Dante memekik pilu. Jeritannya mencekam. Mencakar-cakar hening yang memantul di atas genting dan atap lalang pemukiman. Terkadang seperti gerimis dan embun yang lembut menyelimuti rerumputan. Dante akan bersyair, meraung, berdendang, mendengung.

OOO.. si anak alam tinggal ringkih tulang
tangannya sela-sela ranting
kaki-kaki bumi melangkah
matanya tak nampak bintang
duh, tak banyak yang terang
hatinya si anak alam, malam bulan yang terang
***

Dari atas langit sekitar pekuburan muncul pelangi malam-malam. Aroma dupa mengalir dari segala penjuru. Tak terbawa angin. Sebab sunyi adalah saat itu. Benar-benar tak ada suara. Bahkan suara kecipak air dari sungai tepi pekuburan tak berisik. Adalah semacam teja. Sinar tumpah tepat di atas beringin tua. Dan seperti mercon sebasar lengan meledak di keheningan. Duaaarrr…

Seluruh orang-orang kampung berkumpul di sekitar pekuburan, di pagi buta. Dengan penerangan seadanya berkasak-kusuk sambil menunggu para tetua yang belum datang. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok. Tentu dengan terka-terka beberapa pula.

“Mungkin itu bom peninggalan jepang yang terkubur disini

“Ah tak mungkin… Barangkali itu hanya mayat yang meledak seperti yang diceritakan orang-orang di pasar, mereka menontonnya di tivi

“Yah.. itukan hanya berita orang-orang yang cari sensasi saja

“Atau barang kali ledakan itu hanya mercon yang disebabkan pemuda iseng saja

Tak ada yang pasti. Orang-orang kampung yang berkelompok itu hanya berpendapat dengan kebingunangnya masing-masing. Terkaan mereka tak lebih keluar dari bualan masing-masing, agar suasana semakin mencekam dan bahkan sampai pula pada humor. Suara-suara yang mendengung. Tawa-tawa yang cekikik. Tiba-tiba mereka terdiam dan tercengang, bahkan sebagian berhamburan menjauh dari sekitar pekuburan mendengar suara yang keluar dari pandang samar-samar.

ueang young pang heeee
aku si anak alam….
…….
….
..
.

Orang-orang banyak yang lari ketakutan. Sebagian mengambil apa saja untuk dijadikan senjata untuk menyerbu arah suara itu. Tapi itu dihentikan oleh tetua kampung yang baru datang.

“Tenang, tenang… Tenang saudara-saudara”

Lelaki berpakaian serba hitam itu–yang menurut orang kampung telah mencapai puncak kesaktiannya– komat-kamit membaca mantra, lalu membuka buku lapuk yang dibawanya. Suasana mutlak menjadi milik suara aneh itu. Sekitar lima menit lelaki itu membuka suara.

“Saudara-saudara, tak perlu takut. Menurut buku ramalan, suara itu adalah nyanyian Dante. Anak dari alam yang lahir limaratus tahun sekali pada jam satu tanggal satu bulan satu dan tahun yang ada angka satu. Ia terlahir buta, namun memiliki suara merdu ketika alam mengasihi kita, namun akan menakutkan suaranya ketika kita tak lagi menghormati alam. Dalam buku ini pula, selama nyanyian Dante terdengar di kampung kita, maka selamatlah kita dari mara bahaya”
***

Mungkin akulah satu-satunya pemuda yang saat ini tak memanggilnya dengan kata Danter. Karena tak layak pulsa aku ikut-ikutan para pemuda yang mengolokinya tanpa tahu sebanarnya. Setelah diamati, tak ada yang benar, apa saja yang dikatakan pemuda-pemudi itu. Sejak saat itu aku berpendapat lain terhadap Dante. Aku sering pula membawakannya makanan ketika kebetulan melewati sekitar pemakaman. Dante tak pernah bicara padaku. Bahkan ucapan terimakasihpun tak ia ucapkan setelah aku berikan nasi bungkus. Tapi ada suatu hari yang aneh menurutku.

“Hey anak muda”

Dante menegurku. Aku dengan sedikit dag dig dug menghampirinya.

“Bawalah kantung ini. Inilah hartaku satu-satunya

“Jangan kau buka sebelum aku bangkit dari kematian ini”

“Tapi, bukankah saat ini kau dalam keadaan bernafas, itu artinya kau masih hidup, Dante”

“hahahahahaha” Ia hanya tertawa

“Tidak, aku akan mati besok”

Aku hanya terdiam memandangi dante yang berlalu dengan sedikit menyeret sebelah kakinya. Ia berdengung lalu menjerit tak karuan. Semakin jauh jarak pandangku pada Dante, semakin jelas jeritannya pada pendengaranku.

ALAM SUDAH SEKARAT, ALAM SUDAH SEKARAT
OO AKU SI ANAK ALAM
SEKARAT

Satu minggu setelah kejadian. Aku tak lagi nampak Dante, suaranyapun sudah tak terdengar lagi. Aku bertanya pada orang-orang di sekitar pemakaman, seorangpun tak ada yang tahu. Ah… Mungkin Dante sudah benar-benar mati, yang ia sebut sebagai bangkit. Tapi dimanakah jazadnya?

Satu bulan setelah aku cukup yakin kalau dante sudah mati atau yang menurutnya di bangkitkan dari kematian. Keberanian membuka bungkusan yang di berikannya mulai ada. Perlahan-lahan aku mulai membuka bungkusan itu. Bau kemenyan yang menyengat dan sedikit bunyi yang berisik akibat gesekan benda yang di dalamnya. Tahukah kalian apa yang ada di dalamnya?. Tak lain adalah tumpukan kemenyan dan gulungan kecil dari kulit lembu bertuliskan dengan huruf kapital. “HIDUPKANLAH ALAM”

Malang 2010

Irama Terbang Tua

Mahmud Jauhari Ali
Tabloid Serambi Ummah 2 Jan 2009

Di antara hiruk-pikuknya kota, dan semakin pekatnya polusi di atmosfer tempat kelahiranku, aku masih seperti dulu. Ya, seperti dulu, setia dengan kesenian lama yang kini dipandang orang sudah usang dan berkarat. Batang usiaku kini telah mencapai kepala enam dan sedihnya, tanpa pewaris atas seni yang kubawakan dari waktu ke waktu. Temanku hanyalah sepasang kayu kering dan kulit hewan yang setia kepadaku. Sesekali kutengok masa lalu yang pernah membawaku ke atas pentas kebahagiaan. Sesekali pula aku diminta untuk mementaskan sebuah kisah yang berisi pula wejangan bagi pendengar dengan iringan suara terbang tuaku. Pernah kudengar sayup-sayup orang berkata, kesenian yang kubawakan telah berlumut, mirip dengan namanya.

Siang itu kupandangi sebuah surat yang dilayangkan oleh instansi ternama untukku. Telah lama sekali aku tak menerima sepucuk surat seperti ini. Memang bukan surat cinta, namun isinya membawaku ke alam cinta pada kesenian tua yang mulai redup di telan angkasa kota. Rasa rinduku untuk duduk sambil menatap sekumpulan orang yang hadir dalam acaraku, kini sedikit terobati di kala kubaca isi surat yang dibungkus plastik terang dan licin.

”Yth. Bapak Saman…. Kami selaku Panitia Festival Budaya Daerah memohon Bapak untuk berkenan mementaskan kesenian lamut dalam rangka memeriahkan HUT ke-63 RI. Atas perhatian dan perkenan Bapak, kami sampaikan terima kasih.”, demikian sepenggal isi surat yang kubaca.

Hatiku yang telah lama mendamba untuk membuat orang-orang tersenyum bahagia, kini terasa tenang. Setenang genangan air hujan di jalan yang berlubang karena dilupakan sang empunya kekuasaan. Ternyata masih ada kesempatan untuk orang tua sepertiku mementaskan kesenian ini.

”Ya Allah, aku benar-benar bersyukur kepada-Mu atas kebahagiaan yang kudapatkan ini. Hatiku kini tentram karena-Mu. Perkenankanlah hamba-Mu ini untuk kembali memetaskan kesenian yang hampir dilupakan orang-orang di hari yang akan datang.”, ucapku lirih dalam doaku.

”Kek, ada yang datang mencari Kakek. Orangnya masih muda dan bertubuh kekar. Nama orang itu Alimuddin.”, cucuku yang hampir remaja tiba-tiba memberitakan hal yang tak kuduga itu, entah siapa.

”Suruh orang itu masuk.”, pintaku kepadanya.

***

”Assalamu’ailaikum.”, sapa orang itu dengan manis dan lembut.

”Wa’alaikumussalam.”, jawabku singkat kepadanya.

”Maaf Pak. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Rifani. Saya seorang wartawan salah satu surat kabar harian di kota ini. Tujuan saya ke mari untuk mewawancarai Bapak berkenaan dengan lamut.”

”Syukurlah masih ada yang berminat untuk mengetahui seputar perkembangan kesenian yang hampir dilupakan orang ini.”, kataku, ”Bapak berharap nak Rifani dengan tulus meliput perkembangan lamut dari hati nurani untuk turut melestarikan kesenian yang hampir musnah ini.”, imbuhku.

Beberapa pertanyaannya dapat kujawab dengan lancar hingga satu pertanyaan darinya yang membuat lidahku kelu untuk berkata. Sebuah pertanyaan menyangkut pewaris kesenian yang dari dulu aku geluti ini, benar-benar membuat hatiku miris semiris-mirisnya. Betapa tidak, hingga kini belum ada generasi muda yang sudi berguru kepadaku untuk dapat mementaskan lamut di hadapan penonoton. Ah, sedihnya hati ini.

Pemuda itu terdiam menatapku yang tak dapat berkata-kata lagi. Diraihnya alat perekam yang dari tadi ia letakkan di meja tamuku.

”Sudahlah Pak. Saya mengerti apa yang ada dalam pikiran Bapak. Sebelumnya saya sudah mendengar tentang hal terakhir yang saya tanyakan tadi. Maaf pak, sekali lagi saya meminta maaf kepada Bapak atas pertanyaan yang membuat Bapak sedih.”, kata pemuda itu kepadaku dengan rasa simpati yang cukup tinggi buatku.

Tidak lama pemuda itu mohon diri meninggalkan rumahku dengan wajah yang seakan turut tenggelam menyaksikan raut wajah tuaku yang sedih. Aku tak dapat mencegahnya untuk itu. Kubiarkan ia melewati pintu dan pagar rumahku.

Satu hari telah lewat dan kurenungi kembali pertanyaan pemuda kemarin sore itu. Sendainya lidahku dapat berkata kala itu, akan kukatakan, ”Kini tinggal aku yang masih aktif dalam kesenian yang kudapat dari ayah kandungku sendiri. Tak ada satu pun pewaris yang meminta warisan lamut dariku.” Oh, sakitnya hati ini jika menyangkut generasi muda yang tiada peduli terhadap kelestarian lamut di tanah kelahiranku. Tapi, aku tidak dapat menyalahkan mereka, terutama bagi mereka yang memilih berkesenian lainnya, kesenian daerah dan modern. Toh, juga kesenian yang sama-sama harus dilestarikan. Hanya yang membuat hatiku jatuh berkeping-keping adalah, mengetahui ada generasi-generasi muda yang lebih memilih menelan obat terlarang dan meminum minuman keras daripada melestarikan kesenian di daerah mereka sendiri. Ya, tempat kelahiran mereka juga telah mereka nodai dengan perbuatan buruk mereka itu.

Aku mainkan kembali terbang tuaku untuk mengiringi suaraku yang hampir habis ditelan zaman. Kunikmati sendiri merdunya irama yang dihasilkan dari kulit kering dan kayu yang berongga besar di teras depan rumahku. Kadang anak-anak dan cucu-cucuku mau mendengarkan permainanku. Walau mereka tak ada yang mau meneruskannya, hatiku sangat bahagia jika mereka mau menonton pertunjukan tuaku itu.

***

”Sudah siap Pak?” tanya salah seorang panitia penyelenggara kepadaku.

”Bapak sudah siap, insya Allah Bapak akan segera tampil.”, jawabku singkat.

Segera kutabuh terbang tuaku dengan sebaik mungkin agar iramanya merdu di telinga para undangan. Semoga saja dengan penampilanku malam ini, banyak orang yang berminat kembal terhadap kesenian yang telah lama kehilangan banyak peminat ini. Setidak-tidaknya pemerintah daerah mau memperjuangkan lamut tetap lestari di tengah budaya modern yang semakin mengglobal. Tepuk tangan yang riuh mengiringi penampilanku.

”Bapak harap tahun depan akan ada lagi acara serupa.”, pesanku kepada pihak panitia penyelenggara peringatan HUT ke-63 RI, ”Insya Allah bapak akan datang jika ada permintaan tahun depan”, tambahku.

Mereka tersenyum dan seraya menganggukkan kepala. Aku benar-benar senang hari ini. Lama tak kutemui suasana hati yang mebahagiakan seperti ini.

***

Sore di bawah rintik hujan seorang datang kepadaku. Ya, wartawan itu. Pemuda tempo hari datang kembali. Kulihat wajahnya yang cerah menerangi redupnya sang surya yang sedang enggan bersinar. Segera kubukakan pintu perhatianku kepadanya.

”Ada yang tertinggal Nak hingga kau datang kembali?” tanyaku menggoda.

”Ya, ada yang tertinggal Pak.”, katanya serius.

”Apa? Silakan kauambil yang tertinggal itu.”

”Ilmu dan akan saya ambil dari jiwa Bapak yang ikhlas.”

Kupandangi wajahnya yang serius dan teramat serius buatku. Kulihat sebuah keinginan yang benar-benar dalam darinya.

”Bapak hanya memiliki ilmu berlamut yang dianggap orang sudah usang. Ini titipan dari-Nya. Jika kau menginginkannya, bapak akan menuliskannnya dengan ikhlas dalam dirimu.”

”Alhamdulillah.” ucapnya singkat namun penuh makna yang dalam.

Akupun mengucapkan puji dan syukur kepada-Nya atas anugerah yang sangat indah ini buatku, seorang pewaris.

Perlahan kuajarkan kepadanya yang kutahu. Tiada keinginan dariku menyembunyikan satu ilmu pun darinya. Bagiku murid bukanlah calon saingan dalam berkesenian lamut. Murid adalah teman dan pewaris yang selalu kunanti kedatangannya. Malang melintang di dunia kesenian di daerahku memang bukanlah hal yang membuat hidupku menjadi kaya uang dan harta. Tapi dengan kesenian, hari-hariku terisi dengan kekayaan hati dalam indahnya berbagi sebongkah cerita dan secuil pengetahuan. Kedatangan murid yang mau bergumul dengan seni yang kubawa dari waktu ke waktu ini sungguh nikmat yang luar biasa. Ya, Andi adalah nikmat dari-Nya untukku.

***

Kini pewarisku sudah mampu mementaskan lamut di hadapan penonton. Usiaku semakin senja dan mendekati malam dengan goresan dosa-dosaku di masa laluku.

”Pak, saya permisi pulang. Hari sudah mulai gelap.”, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara Andi yang sudah berdiri di sampingku.

”Ya, hati-hatilah Nak di jalan. Salam untuk orang tuamu di rumah.”

Tak lama setelah Andi pulang, suara telepon rumahku berdering nyaring. Segera kuangkat dan betapa girangnya hatiku mendengar berita akan diselenggaraknnya festival kesenian nasional. Aku menjadi wakil daerahku untuk mementaskan kesenian lamut secara nasional. Februari mendatang aku dijadwalkan tampil di Jakarta untuk menghibur dan berbagi secuil pengetahun kepada orang-orang di sana.

”Inikah buah dari kesabaranku selama ini ya Allah? Hamba-Mu ini benar-benar senang menerima nikmat-Mu ini. Tak kusesali sedikit pun jerih payahku melestarikan kesenian daerah dengan jalan yang terseok-seok selama ini. Hamba sungguh bersyukur kepada-Mu. Izinkan hamba untuk meneruskan kesenian ini hingga napas terakhir hamba di dunia ini.”, ucapku lirih dalam doaku selesai salat Magrib di musala samping rumahku.

***

Puisi-Puisi Mathori A. Elwa

http://mathorisliterature.blogspot.com/
SAKIT

ribuan sajak minta ditulis segera
dalam kertas
seperti rasa rindu yang mengeram
seperti resep dokter

ribuan sajak kautelan
bersama waktu
pagi siang dan malam
seperti ingin bersama selalu

tak kunjung sembuh juga
sakit jiwamu?

1994



Suluk

memetik pelajaran dari daun-daun
hidup tumbuh berguguran
bersama waktu, matahari dan rindu

dari lautan tinta
aku menulis berkah
manfaat dan madarat
saling bercumbu
menempa parang cinta
menggosok batu permata

jika bencana telah usai
pertempuran sebenarnya baru dimulai
agar tetap tegar dan waspada
bersama pertapa
aku memilih fajar

1990

Puisi-Puisi Tosa Poetra

http://sastra-indonesia.com/
Tulisan Yang Belum Selesei

Pada ujung matahari kupungut selembar kartu yang telah lama dipenjarakan waktu pada debu debu
kutemukan sebaris huruf yang telah dipudarkan waktu
di bawah kucuran bulan kueja walau jua tak terbaca
hujan rintik mulai berbisik
tiap titiknya yang berdetik mengajak kembali mengeja
Namamu tak jua terbaca
mungkin butuh seribu tanda tanya agar kutemukan namamu siapa
mungkin juga butuh sekian tanda baca
agar bintang bintang tak lagi malas berpijar
agar bibirku dapat berujar
keujung mimpipun namamu kukejar

20 September 2010



Setimba Air mata

Kubawa berlari,ke gunung,sungai dan samudera
namun tak tau hendak kutumpahkan di mana
sebab hanya ingin kutumpahkan di hati-Mu

sebiru langit yang kini masih biru walau terkadang awan menghadang
sebiru itu rindu yang tiada berbatas waktu

seperti air yang mengalir tiada henti
seperti kesetiaan bulan mengitari bumi
seperti itulah cintaku padamu

kupandang fotomu sekali lagi
kuadukan semua deritaku walau kau tiada tau
kuyakin kau tau walau kau tiada peduli curahan hatiku
yang ingin kucurahkan seperti hujan yang mengguyur bumi
menenggelamkan kota-kota
mengenang dan membajir di tiap ruas ibu kota
dan aku tenggelam dalam kata kata tanpa makna
yang aku tau tak mampu mewakili tiap luka

padamu aku bersujud
kusandarkan segala derita
merapi telah meletus
merenggut sehelai nafas yang kau titipkan pada jazatku
lahar lahar mengguyur tubuh
membekukanku bersama magma cinta yang beku di ujung mata

30 Oktober 2010



Kepada Para Penyair

Aku
Kau
dia
pun mereka
kita juga ada
pada jalan
menemu siang malam
gelap terang berliku
kadang buntu
pada jurang dan karang
siang
malam
adakah beda
jika gelap terang
adalah sama

kita menjadi buta
malu
mau
tau
tapi tak mau tau malu
sebab telah bersekutu dengan nafsu
sementara cacing menunggu

kapan kembali pada diksi
bercinta dalam puisi dan sair suci
menata mimpi
menemu pagi

23 November 2010



Dendam

Api berkobar atas yang terbakar
jadi arang pun bara tiada hilang
sampai jadi abu
lenyap diterbang angin
tenggelam dalam debu
masih menderu

16 Oktober 2010



Di Tepi Pantai

Di bawah bintang, di atas pasir dan batu-batu
diiring debur ombak,tuntun jemariku melukis wajahmu pada tiap dinding sepiku.
Ajari aku menulis puisi,tuk untai rasaku padamu yang tak cukup kuwakilkan pada kata.
Biar debur ombak,pasir dan batu-batu jadi saksi,gemintang bintang sebagai wali dan alam satukan kita.
Kan kusetubuhi kau dalam sair suci,kucumbung,kunikmati tiap leku tubuhmu di sela desah nafas yang menderu bak riak ombak.

Di bawah bintang,di atas pasir dan batu batu,diiring deru ombak.
Ku mau puisiku tak cuma kata,lukisanku tak gambar saja dan cinta kita adalah nyata

02 desember2010



Ketikan Sepi

Ketika sendiri
Entah kemana melabuh sepi
mungkin puisi dapat jadi pedang tuk menusuk jantung rindu
dan menyayat urat air mata

satu satu huruf kueja
tak jua kutemu puisi pada rindu
sepi dan air mata yang kupintal

entah puisi mana
cuma huruf kutata menjadi kata,
kurangkai menjadi kalimat tanpa makna dan kususun seperti piramida agar nampak tipografi seperti puisi
sebab ku tak dapat bikin puisi dari air mata pada sepi yang terkoyak rindu dan luka yang tertimbun debu

05 Desember 2010

Puisi-Puisi Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Pemburu yang Diburu

kulihat diri asyik memandang langit
dan sesiapa saja ; termasuk aku
di punggung-punggung keadaan
pemburu bisa serupa yang diburu
yang diburu bisa serupa pemburu

saat memandang awan, pagi
perlu keyakinan memanah matahari
yang sinarnya memancar itu
jadikan benih kuasa
menetak penggal kecamuk amuk ,hati!
matahari-ku-mu-lah pemburu
berdiri tegak menatap dunia

saat malam, mata jasmani kugantung
untuk langit
mata hati menetak bulan
yang sinarnya memancar itu
aku
pemburu
diburu

duhai,o,duhai pemilik cahaya
di punggung-punggung keniscayaan
bila aku serupa duri
biar aku menjadi duri yang
menyelimuti tubuh kaktus

25 Maret 2010/rev/22 Juni 2011

Catatan: Pada kaktus dan beberapa tumbuhan daerah kering lainnya (xerofit), duri merupakan modifikasi dari daun. Fungsi metabolism daun sepenuhnya dilakukan pada epidermis batang dan daun berubah menjadi duri untuk mengurangi transpirasi (Bahasa Inggris: transpiration; hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan). Sumber dari Wikipedia bahasa Indonesia.



Bulan Tersungkur Dalam Sangkar

Maka, nafsu itu adalah hidup
Pikiran tumbuh di hutan api
Dan engkau, yang karenanya jiwa terbakar
tak akan mendengar
nyanyian indera menuju ke Surga

Dan lalu, mesti dibagaimanakan kebahagiaan itu?

O, alangkah luas rahasia Kekasih,
saat engkau dilahirkan, saat itu pula
udara yang engkau hisap menjadi tangga
dan engkau mesti mendaki takdirmu
setapak demi setapak.

Duhai wahai diri yang kini tengah dijerat cinta
di mana hati merah
yang mengalir wangi sungai asmara?

19 June 2011



Badut-badut Politik

Jam berdetak jantung meretak
Lalu lalang pengab-kan otak
Hilir mudik koar birokrat,
Cari simpati buahnya laknat

Bagi uang katanya amal
Retorika di sana sini
Dapat tahta lupa janji
Mikirin modal cepat kembali

Ini salah bener siapa
Tak tahu awal siapa mula
Tapi nyata ini terjadi
Seakan terpatri jadi tradisi

Ini sajak bukannya mortir
Jangan marah mawaslah diri
Bila rasa diri tersindir
Sucikan hati taubat Illahi

24108.rev.300511



Uban

Di depan cermin, mata lelaki itu tak berkedip
Tangannya menyibak rambut di kepala
Tapi kenapa lalu ketakutan berloncatan?

Dalam bayangan cermin
Maka ianya, rambut putih itu berseakan berkata
: untuk apa engkau akan cabut aku

aku itu cinta yang mengingatkanmu arah
menuju pintu wangi senja

25 Mei 2011



Kidung Pelangi

Di pinggir telaga
lama kita duduk berdua
awan pun cerah berseri
tapi tidak dengan lengkung pelangi

Kamu bilang
warna-warni itu telah menghilang

Ah, kamu salah mengerti, jelita
lihat di atas sana…
seperti kala kita lihat semasa kecil dulu
biar tanpa lengkung pelangi, langit tetap biru
burung-burung kecil juga
terlihat terbang, berkejaran
berlatar putih mega beriring

Duh jelita
tidak semua alam dengan kidung sama
kemarikan tanganmu
dalam gengam
masih kujaga indah
pelangi, di pucuk-pucuk rindu

5.1.09/7.3.09



Sajak yang Kutulis Untukmu Mungkin Akan Kuberi Judul Piano

Kursi yang menatapku itu
biasanya ada engkau
Dan jari jemari nan syahdu
menabur benih rindu

O, pemilik lentik jemari
berlaksa ilusi terpahat di mimpi
Tanpa bunyi apa ini diri
tut-tut nada sebisu sunyi

Pertalian hati
iakah serupa hening yang nyanyi?

19 Mei 2011

Kembang Matahari Perpuisian Kita

Judul : Memburu Matahari
Pengarang : A. Faruqi Munif, dkk
Editor : Eko Putra
Pengantar : Wayan Sunarta
Penerbit : Bisnis, Maret 2011
Tebal : vi + 124 halaman
Peresensi : Asarpin *
http://www.lampungpost.com/

PUISI ibarat matahari dengan teriknya yang panjang, garang, yang berbeda dengan fajar dan senja yang memancarkan cahaya singkat. Sebagai matahari, maka terdapat puisi yang abadi, yang gema dan pengaruhnya sangat panjang. Maka tak heran jika banyak yang gerah terhadap kehadiran makhluk bernama puisi, terutama mereka yang terbiasa berhadapan dengan kata-kata biasa, bukan kata-kata yang memburu, membakar, memanggang serta menghanguskan sekujur tubuh mereka hingga terkulai tak berdaya.

Puisi juga ibarat pusat gravitasi yang mampu menjadi daya penarik bagi matahari-matahari kecil di sekitarnya. Ia bisa mewujudkan dirinya sebagai sesosok cumi-cumi yang memiliki seribu tangan dan kaki untuk menangkap setiap hal yang berkelebat di sekitarnya. Ia bisa amat sangat berbahaya kendati terasa amat sangat sederhana.

Maka, kalau di zaman yang supersibuk oleh tetek-bengek perekonomian dan politik nasional dan internasional yang aneh ini masih ada penyair yang bergelut dengan perih untuk menghadirkan sesosok makhluk bernama puisi, di saat ketika sebagian besar rekan mereka memburu pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil dengan gaji yang mantap dan stabil sehingga sangat dibangga-banggakan orang tua dan kekasih mereka, lidah saya terasa kelu dan sekujur tubuh saya merinding. Bukan saja karena saya mengamini apa yang diucapkan Oktavio Paz yang dikutip Wayan Sunarta dalam pengantar buku antologi puisi Memburu Matahari (Bisnis2030, 2011) yang akan menjadi fokus pembicaraan saya kali ini, bahwa puisi adalah puncak pencapaian derita para penyair, tapi banyak hal yang tak kuasa saya lukiskan.

Terus terang, saya iri dengan kemampuan 20 penyair yang mencatatkan diri dalam buku bunga rampai ini. Bukan karena usia mereka rata-rata masih 20-an tahun telah menghasilkan sejumlah sajak yang mantap, tapi pencarian yang mereka lakukan dan kemampuan untuk menuliskannya. Tidak hanya mantap dilihat dan dirasakan dari segi larik, tapi juga irama, pilihan kata dan tema. Bahkan di antara mereka tampak memiliki bakat sebagai penyair besar untuk ukuran nasional.

Masalah usia saya kira tak perlu lagi dipersoalkan, karena matang-tidaknya sebuah sajak sama sekali tak terpaut dari segi usia. Ada penyair yang menulis puisi sangat bagus dalam usia kanak-kanak atau remaja, tapi juga bakat-bakat sebagai penyair yang tangguh sering juga muncul di usia yang dianggap tidak muda lagi. Chairil dan Sapardi serta masih banyak lagi, mampu menghasilkan puisi dahsyat dalam usia relatif muda. Dulu Ahmad Yulden Erwin memublikasikan sejumlah sajaknya dengan pengucapan filosofis yang cantik ketika masih duduk di bangku SMP. Tapi Sutardji Calzoum Bachri justru menghasilkan puisi bagus di saat usia menjelang 30, bahkan di usia 35 tahun. Kategori tua-muda juga mesti segera ditangguhkan karena ini sering menyakitkan, juga menyesatkan.

Apresiasi pertama yang mesti disampaikan di sini, dan untuk buku himpunan puisi ini, saya tujukan kepada editor yang dengan tekun dan cerdas memilih sajak yang untuk kumpulan ini. Sekalipun ada satu-dua sajak yang masih tampak goyah dan kedodoran dari banyak segi, tapi secara keseluruhan telah menunjukkan usaha yang keras untuk menghadirkan para pemburu kedalaman kata dan makna.

Bolehlah kita sedikit lega dengan perkembangan perpuisian kita saat ini, dan menaruh harapan yang besar kepada beberapa penyair di masa mendatang untuk mencatatkan dirinya sebagai virtuoso di lapangan perpuisian kita, setidaknya untuk ukuran nasional.

Memang ada sedikit kecemasan, kalau bukan kekhawatiran, yang tampaknya telah menjadi gejala umum bagi perkembangan puisi kita, yakni keseragaman bentuk pengucapan dan pilihan pada bentuk lirik yang konvensional. Tapi kekhawatiran ini bisa segera ditepis sejauh mereka jujur dan memang sungguh-sungguh bergulat, bukan sebagai pengekor atau epigon yang memalukan. Jika terdapat kemiripan satu-dua sajak dari sajak para pendahulu, hal itu sangat lumrah tejadi kepada siapa pun, dan tak usah jadi beban bagi generasi kini.

Sajak-sajak yang saya anggap sudah selesai dari urusan teknis perpiuisian, dan terasa mantap dan menggugah ruang batin saya sebagai penikmat puisi lirik, dapat disebut, di antaranya sajak Anne Frank (Ammad Subki). Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan (Dea Anugrah), Pada Sebuah Taman (Dwi S. Wibowo), Kampung Keramat, Desaku (Eko Putra), Padma Suci (Faisal Syahreza), Di Malam Purnama (Moh. Nurul Kamil), Percakapan (Muhammad Amin), Berkunjung ke Desamu (Na Lesmana), Ingatanku, Bayangan Sebuah Negeri (Pranita Dewi), Surat Dari Bandung (Zulkifli Songyanan), dan masih beberapa yang luput disebutkan.

Mungkin hanya kebetulan saja kalau sebagian besar puisi dalam buku ini yang berhasil justru ketika bicara soal matahari. Ada matahari dengan cahayanya yang kelewat panas, tapi ada yang sedang dan tak terlampau menyengat tapi bisa membuat tubuh tetap berkeringat. Ada yang terasa asing, aneh, lebai, tapi ada yang unik dan cantik menawan hati.

Kita mungkin tak terlampau betah hidup selamanya di bawah kaki langit dengan matahari yang menyilaukan dan membakar sepanjang siang, apalagi di saat berada dalam perjalanan, tapi cukup dengan matahari yang sedang, yang memancarkan cahaya yang tak kelewat garang. Kita membutuhkan keseimbangan antara malam dan siang, hangat dan dingin sehingga menyejukkan. Seperti kata salah satu penyair dalam buku ini, yang mungkin tidakditujukan kepada keseluruhan penyair yang disapanya kita, dengan kehadiran buku puisi ini, semoga kolam di langit akan tumpah malam nanti, dan kita bisa menjenguk sejuk siang hari sambil menatap kembang matahari.

Asarpin, pembaca sastra

Novel Perjuangan Kemerdekaan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Perang Kemerdekaan 1945-1949 banyak diungkap oleh para sastrawan yang sering digolongkan sebagai Angkatan 45. Mereka mengungkapkan gejolak perjuangan itu sebab mereka memang terlibat dalam peristiwa tersebut. Mochtar Lubis menulis novel Jalan Tak Ada Ujung yang berkisah tentang sepak terjang pejuang di sekitar Jakarta. Pramoedya Ananta Toer juga menulis Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan,dll.

Yang menarik perhatian kita justru sejumlah novel yang menggambarkan kiprah para pejuang yang ditulis oleh seorang yang sebelumnya tak dikenal sebagai sastrawan, apalagi sebagai novelis. Namun, ternyata karya-karyanya mencengangkan, bukan lantaran deskripsinya yang jelas tetapi karena pengarang ini menulis sejumlah novel yang satu dengan yang lain saling kait-berkait.

Dia adalah Pandir Kelana, seorang pelaku Perang Kemerdekaan yang meniti karier militernya sampai berpangkat Mayor Jenderal. Nama aslinya RM Slamet Danusudirdjo adalah bekas pejuang yang kemudian menerima pendidikan militer di Eropa |Barat, Negeri Belanda dan Belgia, serta di Eropa Timur di Uni Sovyet. Jabatan non militer yang pernah diembannya adalah deputy Ketua BAPPENAS, Dirjen Bea dan Cukai, anggota DPA RI, dan rektor IKJ. Bayangkan saja, IKJ yang lembaga pendidikan kesenian, dipimpin oleh seorang jenderal tapi yang seniman.

Lantaran Pandir Kelana, nama yang dipilih RM Slamet Danusudirdjo untuk merendahkan dirinya, tak dikenal sebagai sastrawan, maka ketika novel-novelnya terbit silih berganti pada tahun 1991 dan 1992, publik pembaca dibuat terperangah. Ibu Sinder (1991), Kereta ApiTerakhir (1991), Bara Bola Api (1992), Rintihan Burung Kedasih (1992), Merah Putih Golek Kencana (1992), lalu Kadarwati Wanita dengan Lima Nama.

Novel-novel tersebut berketebalan antara 210 sampai 400 halaman, yang menunjukkan pengarangnya tidak main-main.. Novel-novel jenis lain, yakni novel sejarah, juga sudah terbit, antara lain Tusuk Sanggul Pudak Wangi (berlatar tahun 1291-1630) dan Subang Zamrud Nurhayati (berlatar tahun 1620-1630).

Waktu novel-novel tersebut terbit, Pandir Kelana berusia 66 tahun dan masih merencanakan untuk menulis beberapa novel lagi yakni Huru Hara di kaki Gunung Slamet, Quo Vadis, Di Sepanjang Garis Demarkasi, dan Madiun,Madiun!

Ciri Khas
Tema Perang Kemerdekaan menjadi salah satu ciri khas novelis gaek Pandir Kelana ini. Ciri yang kedua adalah, novel-novelnya saling terkait satu sama lain.

Dalam sejumlah novelnya, untuk menambah kejelasan wilayah kisahnya, Pandir Kelana menyertakan pula peta, seperti Peta Karesidenan Pati dan sekitarnya lengkap dengan gambaran mengenai Garis Demarkasi, Serangan Belanda, Kantong Gerilya, Jalur Komunikasi Gerilya, Serangan Balas TNI ke Semarang, dan Kedudukan Belanda. Peta ini disertakan dalam novel Rintihan Burung Kedasih. Pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai gerakan para pelaku dalam novel itu bilamana novelis menyebut nama suatu tempat.

Novel Merah Putih Golek Kencana bahkan menyertakan dua buah peta, yakni, peta Pelayaran Andi Ra’uf di sekitar Riau dan Peta Wilayah Semarang.

Ciri kedua justru yang sangat jarang dilakukan oleh pengarang lain, yakni, tokoh dalam sebuah novel muncul dalam novel yang lain. Tokoh Suro Buldog muncul dalam novel Ibu Sinder, serta novel Bola Bara Api.

Tokoh Bargowo dalam Bara Bola Api muncul pula dalam Kadarwati:Wanita dengan Lima Nama dan Rintihan Burung Kedasih. Tokoh Herman dalam Kereta ApiTerakhir muncul juga dalam novel Ibu Sinder, Kadarwati, dan Rintihan Burung Kedasih.

Sejumlah novel karya Pandir Kelana sudah difilmkan atau ditelesinemakan, antara lain Suro Buldog (telesinema), Kadarwati (film).

Tema Perang Kemerdekaan sudah jarang ditulis, apalagi oleh pengarang yang lebih muda. Dari sedikit nama, tentu kita dapat menyebut Suparto Brata (lahir 27 Februari 1932), novelis yang banyak menulis kisah perjuangan dalam Bahasa Jawa, tetapi kemudian juga dalam bahasa Indonesia. Dia terkenal dengan novel perangnya antara lain Lara-lapane Kaum Republik, Kadurakan ing Kidul Dringu, juga sejumlah novelnya yang disiarkan dalam Bahasa Indonesia. Tahun 2005 ini novelnya Mencari Sarang Angin (726 halaman) diterbitkan oleh Grasindo. Ceritanya bergerak sejak masa sebelum Perang Kemerdekaan, masuk ke Masa Pendudukan jepang sampai ke Masa Perang Kemerdekaan. Rata-rata novel karya Suparto Brata, baik yang berupa novel berbahasa Jawa maupun bahasa Indonesia mempunyai ketebalan luar biasa. Novel berbahasa Jawa Dongane Wong Culika ( Doa Orang Culas) setebal 535 hal ( 35 baris per halaman) diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta tahun 2004.
Sunaryono Basuki Ks (lahir th 1941) menulis Bumi Hangus dan Budiman Benggol (cerber Republika 1995-1996).

Tahun ini pula Budiman Benggol diterbitkan oleh Mizan dengan judul baru Maling Republik. Pengarang lain tentu saja YB Mangunwijaya dengan Burung-burung Manyar.

Seorang sastrawan eksil yang juga pelukis, Kuslan Budiman (lahir tahun 1933, mantan guru Sekolah rakyat di Pacitan) melontarkan novelnya Bendera Itu Masih Berkibar ( Penerbit Suara Bebas, Mei 2005). Novel setebal 308 halaman ini terbagi dalam tiga bagian: Benderra Itu Masih Berkibar, Malam berbintang, dan Pekarangan Rumah Wedana. Seluruh novel berkisah tentang Perang Kemerdekaan dengan suka dan dukanya.

Dalam merenungkan makna Hari Kemerdekaan serta mengenang jasa para pahlawan kita, sebaiknya kita membuka-buka novel-novel dengan latar Perang Kemerdekaan dan menaruh simpati dan terimakasih pada mereka yang telah memberikan segalanya untuk kemerdekaan yang sangat berharga ini.**

*) Penulis adalah novelis, dan Guru Besar Bahasa dan Seni, IKIP Negeri Singaraja.

Novel Sejarah Lamongan

Judul buku : Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama
Penulis : Viddy A.D. Daery
Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai), Februari 2011
Hal : 146 halaman
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

PENERBITAN novel-novel bergenre sejarah tampaknya sedang menjadi tren belakangan ini. Jika menilik rak-rak di toko buku, banyak novel-novel sejarah, mayoritas berlatar Jawa di masa silam.

Sastrawan Viddy A.D. Daery menerbitkan novel serial Pendekar Sendang Drajat Memburu Kertagama. Setelah meneliti sejarah Sendang Duwur dan Lamongan, penulis yang sekaligus keturunan Sunan Sendang Duwur, kakek Sendang Drajat, kemudian merekonstruksinya ke dalam novel. Tentu bukan hal mudah merekonstruksi sejarah dan memberi interpretasi baru ke dalam bentuk karya sastra.

Novel yang berkisah seputar Kerajaan Majapahit abad XV dibuka dengan deskripsi tokoh Pendekar Sendang Drajat alias Raden Ahmad yang bertugas menjaga keamanan Kasunanan Drajat dan Sendang Duwur. Dia hendak menyunting Dewi mengajaknya berjalan di sekitar Pelabuhan Kemantren. Dalam tamasya itu, mereka memergoki perkelahian dua pihak yang terjadi dalam wilayah pengawasannya.

Salah satu pihak yang berkelahi ternyata rombongan pendekar dari Melayu; Tumenggung Ismail bersama empat anak buahnya. Para pendekar pengembara dari Johor itu ke tanah Jawa hendak menyepi dari kekacauaan politik di tempatnya. Selain itu, mereka hendak ke ziarah ke Candi Gajah Mada. Menurut mereka, dalam peti di Candi Gajah Mada ada buku kuno berjudul Desa Warnana atau Kertagama yang banyak diburu banyak pendekar Nusantara, seperti dari Pasai, Banjar, Bugis, dan sekitarnya.

Pangeran Sendang Drajat merasa malu karena sedikit sekali yang dia ketahui tentang Kerajaan Majapahit yang telah runtuh. Dia hanya tahu dua nama besar dari Majapahit, Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Beberapa hari setelah pernikahannya dengan Dewi, Pangeran Sendang Drajat langsung mengemban tugas. Dia hendak mengantar para tamu dari negeri jiran ke tempat yang dituju. Perjalanan mereka tak mulus. Banyak kendala dalam perjalanan, misalnya dihadang para begundal yang hendak merampas harta mereka, bertemu Ratu Buaya Jamang. Dari ratu buaya ini, para pendekar mendapat informasi tentang Kesultanan Demak yang telah berkali-kali membantu Kesultanan Johor berperang melawan Portugis.

Candi Gajah Mada berdekatan dengan makam ibunda Gajah Mada, tepatnya di atas bukit di Desa Modo. Untuk ke sana harus menempuh perjalanan sungai dan darat.

Langit Kresna Hariadi, penulis novel sejarah, dalam endosemen buku ini, belajar sejarah tanpa berniat belajar sejarah.

Novel ini menjadi pintu masuk untuk mengetahui sejarah Lamongan di masa silam yang terletak di sebelah utara Majapahit, dan dahulu bernama Pamotan Tuban. Sebelum memasuki cerita silat dan petualangan Raden Ahmad, pembaca buku ini juga bisa melihat sejarah singkat Kabupaten Lamongan, Kerajaan Majapahit, dan silsilah pemimpin-pemimpin kala itu.

Dengan bahasa yang komunikatif, buku ini bisa dibaca semua kalangan, terutama pelajar dan anak muda zaman sekarang yang mungkin telah abai pada sejarah bangsanya di masa silam. Novel ini menjadi jembatan untuk mengetahui sejarah tanpa harus mengerutkan dahi. Selain itu ada unsur wisata dan budaya.

Jika pembaca merasa jalan cerita novel ini terkesan berbau film atau seperti sinetron-sinetron di televisi, barangkali sesuai dengan pengalaman penulis dalam menggarap skenario.

Akhir novel ini tidak menjelaskan bagaimana ujung perjalanan Pangeran Sendang Drajat dan empat tamunya dari Malaka. Pembaca jadi penasaran mengetahui kelanjutan kisah. Sepertinya penulis sengaja menyimpan cerita dan menyiapkan akhir perjalanan Pendekar Sendang Drajat dan empat pendekar itu dalam sekuel novel selanjutnya.

Arman A.Z., pembaca sastra

Kamis, 23 Juni 2011

Perempuan dalam Sastra

Nurani Soyomukti *
Seputar Indonesia, 23 Des 2007

DALAM kesusastraan Indonesia, masih sedikit kaum perempuan yang berkecimpung di bidang sastra. Dunia sastra masih didominasi kaum laki-laki.Tak heran jika cara pandang bias gender pun terjadi.

Ideologi patriarki yang mendominasi masyarakat kita nampaknya turut memengaruhi cara pengarang dalam menempatkan tokoh perempuan dalam karya-karyanya. Kontradiksi pokok masyarakat Indonesia mulai dari feodalisme (yang masih tersisa dan belum hancur), kapitalismeimperialistik, dan militerisme adalah tantangan terbesar bagi kemerdekaan perempuan.

Struktur sosial tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk penuh dosa, dilemparkan secara nista dari wilayah produktifnya ke dalam domain domestik; pernikahan seperti pelacuran yang berpilar pada kebaikhatian dan kepasrahan perempuan.

Dalam bukunya Gadis Pantai, Pramoedya Ananta Toer menceritakan bahwa perempuan tidak lebih dari media pelatihan bagi pria menuju kesejatiannya untuk menikahi perempuan lainnya yang lebih berderajat atau bangsawan, tetapi tetap dijadikan perhiasan dalam sangkar emas, tetap menjadi alat untuk memproduksi keturunan.

Tidak lebih dari itu. Meski tragis, melalui karya itu, Pram menampilkan perempuan yang memberontak. Tokoh Srintil adalah gadis yang melawan kesewenang-wenangan terhadap dirinya dengan kesadaran melakoni hidup sebagai ronggeng yang dianggapnya sebagai pilihan untuk memberontak.

Humanisme realis Pram memang cukup kritis dalam melihat keberadaan struktur sosial yang membelenggu kaum perempuan. Karena itu pulalah, syaratsyarat munculnya kesadaran akan ketertindasan selalu dimiliki kaum perempuan. Pram menemukan tokoh-tokoh perempuan yang tercerahkan dalam sejarah kebudayaan Indonesia.Tradisi inilah yang sebenarnya harus dikembangkan dalam karya sastra agar berguna bagi kemanusiaan.

Tokoh Ibu yang Mencerahkan

Tokoh Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) adalah gambaran lain dari perempuan yang mengalami pencerahan; sosok yang bersahaja.

Ia mirip dengan seorang ibu dalam novel Ibundanya Maxim Gorky yang memahami dan mengerti kenapa anaknya dan anakanak muda lainnya harus berjuang membebaskan belenggu ketertindasan. Bahkan, sang ibu tersebut bukan hanya merelakan anaknya dengan tangis keharuan atas jiwa kepahlawanan.

Seorang ibu dalam novel Gorky digambarkan sebagai orangtua yang bertindak; mengirimkan surat-surat ke penjara, membagi-bagikan selebaran secara sembunyi-sembunyi.

Secara tegas, ibunda dalam karya Gorky digambarkan sebagai sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokratik berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia bersama rakyat miskin lainnya hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit di atas perkampungan buruh yang kumuh. Ibunda menikah dengan Michail Wlassow, laki-laki peminum berat yang memperlakukan istri secara amat kejam.

Setelah suaminya meninggal, banyak keadaan yang berubah.Ia masih punya anak bernama Pavel,yang kemudian menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu. Keterlibatan Pavel dalam politik dimulai ketika ia memiliki kebiasaan baru, yaitu membaca buku dan interaksinya dengan para aktivis yang ditemuinya di tempat lain.

Awalnya, ketika dilihatnya bahwa kepribadian, komitmen, dan (utamanya) tujuan hidup anak laki-laki itu berubah, sang ibunda cemas dan khawatir padanya.Tetapi, akhirnya ia mulai dapat memahami hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya setelah kawan-kawan Pavel menyusun sebuah gerakan kemanusiaan yang juga dibicarakan di rumahnya.

Bahkan,sang ibunda haru karena sekecil kumpulan pemuda tidak mabuk-mabukan ketika mengadakan pertemuan di antara mereka. Padahal, di daerah tempat ia tinggal, bila seorang pemuda telah usai kerjanya di pabrik dan berkumpul dengan teman-temannya, kegiatan yang normal adalah minumminum sampai mabuk.

Hal baru lainnya adalah bagaimana seorang gadis kawan Pavel mengorbankan dirinya, waktunya, hanya untuk sesuatu yang abstrak, yang disebut cita-cita. Maka,dalam novel Gorky ini, seorang ibu digambarkan sebagai sosok yang produktif dan aktif dalam sejarah untuk perubahan masyarakat.

Bukan seorang ibu yang cengeng dan hanya menginginkan kesuksesan pribadi anaknya.Ibunda dalam novel Gorky ini adalah yang memiliki cinta kasih universal, menyinari perasaan-perasaan tersulit anak-anak selama menghadapi represi kekuasaan Tsar.Ketika Pavel dan anak-anak itu satu persatu ditangkap, bahkan disiksa di depan matanya, Ibunda terjun ke kancah revolusi dengan peranannya sebagai pendistribusi pamflet ke kalangan buruh dan tani.

Kemudian, ia dituduh sebagai pencuri oleh seorang mata-mata dan saat sedang ditangkap polisi militer dengan kekerasan, ia teriakkan,“ Bahkan samudra pun takkan mampu menenggelamkan kebenaran!” Pengaruh Maxim Gorky dan sastra realisme sosialis di Indonesia memang melekat pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Melalui karya terbesarnya, tetralogi Bumi Manusia, Pram juga mengangkat sosok perempuan sekaligus seorang ibu di masa penjajahan yang banyak melontarkan pemikiran yang maju dan mencerahkan. Tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi Pram juga merupakan seorang yang ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu karena pengaruh pencerahan.

Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita bumiputra yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Tetapi, ia menemukan kebangkitan diri. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan dalam menolak menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman.

Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem, wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Namun bagaimanapun, Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawanan mempertahankan anaknya, meski kalah. Kekalahan adalah risiko dari pertarungan. Tetapi, semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal.

Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak, “Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!” Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya,Annelis.

Bahkan, ia adalah ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan.

Seorang ibu, Nyai Ontosoroh, telah mendorong seorang pemuda untuk berpartisipasi dalam mendukung perubahan di sebuah negeri yang memang hendak meninggalkan zaman kegelapan. Seorang ibu dalam masyarakat transisi memiliki peran yang kuat, tidak lemah dan hanya tunduk patuh serta jatuh ke dalam kubang posisi dan peran domestik,apalagi sampai menjadi objek kekerasan suami.

Karya-karya semacam itulah yang sangat kita butuhkan sekarang ini.Perjuangan memperjuangkan hak-hak perempuan dan menuntut partisipasi aktif dan produktif bagi kaum perempuan adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar. Para penulis dan pengarang (sastrawan) harus mengagendakan aktualisasi komitmen sosial kepengarangannya, terutama dari kaum perempuan sendiri yang seharusnya berada di garis depan dalam dunia kesusastraan untuk menuliskan posisi dan peran yang maju dan mendobrak budaya patriarki.

Mendobrak Kebudayaan Lama

Akhir-akhir ini memang banyak karya sastra yang menjadi tempat bagi kaum perempuan mendobrak kebudayaan lama Indonesia yang membelenggunya.Bukan lagi lelaki seperti Pram yang hadir,tetapi justru kaum perempuan sendiri yang telah menghasilkan karya sastra untuk melontarkan pemikirannya menamai relasi kesetaraan.

Sebut saja Ayu Utami yang dengan novel Saman dan Larung-nya berhasil merebut diskursus baru tentang perempuan yang memiliki hak atas tubuh dan pilihan ideologis atau keberpihakan. Nama lain seperti Jenar Mahesa Ayu,Dewi “Dee” Lestari,Rieke Dyah Pitaloka, turut membuka kembali kebekuan paham lama.

Mereka melanjutkan upaya perlawanan yang dirintis Kartini. Melalui sastra, pencerahan dimulai dan paham lama ditinggalkan. Karya-karya tersebut turut mengiringi gerakan sosial untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Capaian legal dan formal saja tidak cukup.Memang,dibutuhkan sebuah penempatan perempuan dalam perjuangan untuk menghadapi dan menghancurkan tatanan penindasan yang kini didominasi neoliberalisme dan sisa-sisa feodalisme.

Perjuangan perempuan tidak boleh eksklusif, tetapi harus terlibat dalam perjuangan massa rakyat, mengarahkan serangan ideologis,dan programatiknya untuk menyerang akar permasalahan. Sebagaimana kita rasakan, karya-karya sastra tersebut turut mewarnai dan memberikan nuansa estetis pada gerakan sosial dan (bahkan) politik untuk menghancurkan sumber-sumber sosial yang menyebabkan ketertindasan perempuan.

*) Pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (Koteka), memperoleh penghargaan Juara I Lomba Esai Pemuda Tingkat Nasional Menpora 200
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/esai-perempuan-dalam-sastra.html

LOMBA CIPTA PUISI, MENULIS CERPEN, CERITA RAKYAT DAN PAGELARAN SASTRA

Sekadar Info Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2011
http://sastra-indonesia.com/

Dalam rangka Aruh Sastra ke-8 Kalimantan Selatan di Barabai HST, tgl 16 – 19 September 2011 dengan Tema “ Menebar Benih Sastra di Banua Murakata”, Panitia Penyelenggara membuka kesempatan bagi penulis yang berdomisili di wilayah Kalimantan Selatan untuk mengikuti beberapa lomba yaitu :

1) Lomba cipta puisi bahasa Indonesia, tema bebas.

2) Lomba menulis cerpen bahasa Indonesia, tema bebes.

3) Lomba menulis cerita rakyat berkisar cerita rakyat yang ada di daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Masing-masing mata lomba, peserta boleh mengirimkan maksimal 3 (tiga) karyanya yang ditulis tahun 2010/2011 + biodata singkat + foto,asli tidak saduran/jiplakan,belum pernah dipublikasikan di media cetak/internet atau sedang diikutkan pada lomba yang lain dibuat dalam surat pernyataan.

Untuk lomba puisi, panjang puisi maksimal dua kwarto dan untuk lomba cerpen dan kisah rakyat 4-7 kwarto, font 12 times new roman diketik satu setengah spasi.

Naskah masing-masing lomba sebanyak 4(empat) rangkap dimasukkan ke dalam amplop, di sudut kanan atas amplop ditulis jenis lomba yang diikuti dan sudah masuk ke panitia melalui post atau diantar sendiri dengan alamat DISBUDPARPORA Kabupaten HST di Barabai Jl.H.Abdul Muis Redhani Kelurahan Barabai Timur Kec.Barabai Kab.HST, selambatnya 30 Juli 2011.

Hadiah-hadiah sbb :

1) Lomba cipta puisi dan menulis cerpen bahasa Indonesia :

Pemenang I,II,III dan Harapan I,II,III dari masing-masing mata lomba akan mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan.( Rp 2.000.000, Rp 1.500.000, Rp 1.000.000, Rp 750.000. Rp 500.000, Rp 400.000 )

2) Lomba menulis cerita rakyat :

Pemenang I,II,III dan harapan I,II,III akan mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan ( Rp 1.500.000, Rp 1.000.000, Rp 750.000, Rp 600.000, Rp 500.000, Rp 400.000 )

Pemenang I sampai harapan III dan yang dipilih masing-masing mata lomba akan di antologikan.

Khusus lomba Pagelaran Sastra :

Setiap Kabupaten/Kota dapat mengirimkan satu kelompok maksimal anggotanya 12 (dua belas orang) yang teridiri dari pemain,pemusik dan krew.

Yang dipergelarkan memilih salah satu cerpen yaitu :

a. Bunglon karya Anton Cekov

b. Lurik karya Hasan Al Banna

c. Lukisan Angsa karya Fakhrunas MA Jabbar

d. Buaya Putih karya Ajamudin Tifani

e. Sanja Kuning karya Sandi Firly

Durasi penampilan maksimal 15 menit.( diluar pengaturan setting )

Hadiah : Pemenang I,II,III dan Harapan I,II,III akam mendapat hadiah tropy dan uang pembinaan masing – masing Rp 5.000.000, Rp 4.500.000, Rp 4.000.000, Rp 3.500.000, Rp 3.000.000, Rp 2.500.000,-

Disamping lomba Panitia juga mengharapkan partisifasi penyair yang berdomisi di wilayah Kalsel untuk mengirimkan karya puisinya sebanyak 3 (tiga) puisi + bioadata singkat + foto yang akan diterbitkan dalam sebuah antologi puisi. Karya puisi dimasukan dalam amplop dan di sudut kanan atas amplop ditulis Antologi Puisi dikirim melelui post atau diantar sendiri dengan alamat DISBUDPARPORA Kab.HST di Barabai Jl.H.Abdul Muis Redhani Kelurahan Barabai Timur Kec.Barabai Kab.HST, selambatnya 30 Juli 2011

Yang belum jelas silakan kontak person 081351128514 / 081348120891

Salam Sastra
Panitia Aruh Sastra ke-8 Kalsel di Barabai HST

Sumber: Arsyad Indradi, sesepuh sastrawan Kalimantan Selatan

Kamis, 02 Juni 2011

Ahmad Tohari: Srintil-Srintil Masih Dialami Perempuan

Rofiuddin
http://www.tempointeraktif.com/

Keberadaan ronggeng di Dukuh Paruk pada masa 1960-an menjadi fenomena sosial. Ronggeng dipuja-puja dan diinginkan, namun di satu sisi harus mengalami malam buka kelambu saat calon ronggeng mempertaruhkan keperawanannya.

Demikian disampaikan sastrawan Ahmad Tohari, penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, dalam diskusi "Di Balik Ronggeng Dukuh Paruk" di Pondok Maos Guyub Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah, Minggu, 22 Mei 2011. Tohari, yang malam itu mengenakan baju batik bermotif cokelat, menegaskan, "Dengan menulis ronggeng, saya ingin membela perempuan. Perempuan masih tertindas dari dulu hingga sekarang," ujar lelaki yang akrab dipanggil Kang Tohari ini.

Dalam acara "Parade Obrolan Sastra IV" oleh Komunitas Lerengmedini dan milis Apresiasi Sastra ini, suami dari Hj. Syamsiyah ini bercerita seputar proses kreatif di balik novelnya. Tokoh ronggeng dipilih, menurutnya, karena kondisi negara saat itu masih belum berpihak pada sosok perempuan. Model tokohnya, Srintil, bersumber dari kehidupan ronggeng di daerah Ciparuk, Banyumas.

Tohari, yang saat itu masih remaja, mengaku tak bisa membayangkan bagaimana keperawanan seorang perempuan harus dipertaruhkan demi menjadi seorang ronggeng, yang katanya direstui oleh arwah Ki Secamenggala, tokoh yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. "Ini menusuk rasa kemanusiaan terutama pada sosok perempuan," katanya.

Menurut Tohari, kondisi semacam Srintil sampai saat ini masih dialami oleh sebagian perempuan di Indonesia. "Ini menunjukkan bahwa di kebudayaan kita ada masalah seperti ini. Masih ada srintil-srintil lagi," ujar pengarang yang mengaku menulis novel ini karena terinspirasi dari Fortilla Flatt karya John Steinbeck.

Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri atas Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Terbit kali pertama pada tahun 1980 oleh Penerbit Gramedia Pustaka setelah 15 tahun mengendap di benak Tohari sejak duduk di bangku SMA. Pada saat di bangku SMA itu, ia merasa apa yang dipikirkannya akan bisa ditulis oleh sastrawan yang lebih senior saat itu, seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, dan W.S. Rendra. "Tetapi, ternyata tidak. Bahkan, sampai saya menunggu 15 tahun sejak tahun 1965," ujar penulis novel Bekisar Merah itu.

Dalam acara yang dipandu Esther Mahanani, pegiat kelompok baca sastra Lerengmedini, itu Tohari bertutur bahwa saat itu dirinya merasakan kepedihan akan rasa kemanusiaan yang mendalam. Peristiwa setelah upaya pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1965 itu benar-benar membuatnya kaget. "Bagaimana tidak, sebagian peristiwa pembantaian manusia terjadi di depan mata saya," ujar pengarang kelahiran Banyumas ini.

Hal itu membuatnya gelisah dan bertekad untuk merekam dan mencatatnya. "Celakanya, tak ada wartawan pada waktu itu yang berani menulis soal eksekusi orang-orang itu. Sebab, jika berani akan beradapan dengan militer," tuturnya.

Ronggeng Dukuh Paruk saat ini sudah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Cina, dan sedang dalam proses penerjemahan ke bahasa Prancis.

Dalam acara itu juga disuguhkan demonstrasi kelompok baca Ronggeng Dukuh Paruk dengan pemandu demonstrasi, Nurdin, Kepala Sekolah SMK PGRI 03 Boja. Tujuh peserta kelompok itu membaca novel tersebut secara bergiliran.

Koordinator Komunitas Lerengmedini, Heri CS, menyatakan Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu sastra klasik yang dimiliki oleh kesusastraan Indonesia. Dengan mengundang penulisnya langsung, masyarakat akan lebih tahu secara mendalam bagaimana sebuah karya klasik dihasilkan. "Semoga pengalaman penulis mampu menginspirasi," katanya.

Chairil Anwar, Sang Pelopor Antara Biografis dan Ruang Estetis

Raudal Tanjung Banua
http://www.harianhaluan.com/

Chairil Anwar, seorang penyair yang mati muda, tapi toh menyandang prediket yang amat prestesius: Sang Pelopor. Setidaknya, ini sedikit meng­obati klangenan kita akan sosok dan pokok yang lahir dan dibesarkan oleh proses krea­tifnya sendiri, bukan dari ranah politik yang lebih meng­andal­kan intuisi dan publisitas ala selebritis sebagaimana terlihat dalam kecenderungan kehidup­an berbangsa kita saat ini. Sementara sosok dan pokok dari ranah budaya, seperti HB Jassin, Mochtar Lubis atau Pramoedya Ananta Toer, di samping tentu Chairil, lenyap seiring lenyapnya tradisi pemi­kiran kreatif-alternatif dalam ranah politik dan keagamaan seperti pernah ditunjukkan sosok Sok Hok Gie dan Ah­mad Wahib, yang sebagaimana Chairil, keduanya juga mati muda.

Dalam usianya yang singkat (lahir di Medan, 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta, 28 April 1949—27 tahun) dan usia kepenyairan yang jauh lebih singkat (sajak pertama, “Nisan”, 1942, sajak terakhir “Aku Berada Kembali”, 1949—7 tahun), kepeloporan Chairil yang lazim disebut untuk Angkatan ’45, sebenarnya mampu menembus sekat setiap angkatan, bahkan sampai hari ini.

Lebih lima puluh tahun silam dengan rendah hati ia berkata,”Aku berkisar di antara mereka,” maka sekarang de­ngan hati terbuka kitalah yang berkisar di antara sosok dan pokok Chairil. Ini menunjuk­kan bahwa kepeloporannya memiliki derajat signifikansi yang tinggi. Tidak saja secara estetis (diksi, gaya bahasa dan tema sajak-sajaknya), melainkan juga secara biografis (pandangan hidup, gagasan dan orientasi budaya). Pada yang terakhir ini, sering muncul situasi di mana sosok biografis menjadi dominan ketimbang unsur estetis, sehingga terkadang memunculkan momen-momen krusial, dan dalam beberapa hal kontraproduktif.

Kita ingat misalnya, bagai­mana isu seputar kehidupan Chairil yang bohemian, kurang ajar, pencuri buku dan pengidap sipilis pula, menjadi eksemplar paling ramai dalam pembi­caraan ketimbang sesuatu yang afdol menyangkut karya-karya­nya. Itu pun dengan pembi­caraan yang nostalgis. Jarang sekali yang melihat kehidupan Chairil sebagai cerminan ma­sya­rakat kita saat itu. Yakni, masyarakat yang hidup di awal kemerdekaan, mencoba men­cari orientasi baru, bermain-main menggoda aturan baku-konvensional—setelah begitu lama dikerangkeng para feodal dan kolonial—ke arah ke­mandirian.

Tidak pula ada yang meli­hat semangat perlawanan Chai­ril Anwar terhadap semangat sastrawan menara gading, sebagaimana pujangga di istana raja-raja yang memang norma­tif, tapi dengan menyerahkan kebebasannya pada aturan istana. Atau sastrawan Balai Pustaka yang terkesan kompro­mistis dengan penerbit kolonial yang mencuatkan isu adat dan kawin paksa di tengah kerasnya kolaborasi feodalisme-kolonia­lisme.

Sikap bebasnya itu jarang pula terbaca sebagai upaya Chairil menjaga puisi agar menjadi genre yang bebas, merdeka dan mandiri, disaat kentalnya tradisi kesenian istana yang dilakukan Soekarno seperti diterima penari istana atau pelukis istana. Kebo­hemianan Chairil adalah “kei­manan” terhadap jalan puisi sebagai the other, dunia lain, meski kesempatan seperti Dullah misalnya sangat terbuka, karena toh ia cukup dekat dengan Soekarno maupun Sjahrir yang notabene paman­nya. Kalau sekarang puisi tetap terjaga sebagai “dunia sunyi”, tidak seheboh genre seni lain seperti musik dan film, tidak pula sematerial lukisan, saya kira ini buah tidak langsung dari keimanan Chairil.

Meski jalan yang ditempuh Chairil bukannya tanpa resiko. Beban kepeloporan meng­akibatkan puisi dan biografi bersaing ketat untuk tampil, dalam bahasa Chairil, “mene­kan mendesak sampai ke pun­cak.” Akibatnya, sosok Chairil pun ditarik ke sana kemari, dari ruang domestik ke ruang publik, dari kehidupan ro­mantik ke politik. Ini tak ubahnya pewacanaan sosok perempuan dalam ranah femi­nisme sekarang yang memun­culkan sisi romantik dan inspiratif, sekaligus memper­tentangkan yang tradisi dan modern. Ya, sosok Chairil analog dengan sosok dan wacana perempuan di tanah air; enak diperbincangkan, kadang kontroversial, tapi sekaligus tereksploitasi.

Salah satu peristiwa yang menempatkan sosok Chairil dalam nuansa politik yang kental adalah penolakkan tanggal kematian Chairil seba­gai Hari Sastra. Mengatasna­makan sajaknya yang dianggap kontrarevolusioner, pihak Lekra misalnya menggugurkan hari kematian Chairil sebagai Hari Sastra yang sebelumnya diusung pihak Manifes. Itu karena mereka melihat dari persfektif antara yang politik dan apolitik. Sebaliknya, Asrul Sani tampak dengan dingin memisahkan Chairil dari gelanggang politik, misal mewacanakan sajak “Aku” yang kadung dianggap ikon vitalitas Chairil (dalam beberapa hal revolusioner), ditarik pada tataran sekedar romantik, yakni urusan keluarga semata.

Sampai saat ini, berbicara tentang Chairil memang tak dapat dilepaskan dari dua sisi: biografis dan estetis. Inilah yang justru membentuk dua dunia dalam kepeloporan “si Binatang Jalang”, yang pada akhirnya menurunkan dunia binner yang lain. Seperti kasus wacana politik dan apolitik di atas, sebagai buah adukkan yang biografis dan estetis. Begitu pula tubrukan asumsi terhadap sosok Chairil: pendukung revolusi atau antirevolusi. Asumsi ini lahir lantaran di satu sisi orang menganggap puisi dan gaya hidupnya amat romantik-individualistik, tapi sebagian lain menganggap sikap indiviualistiknya cermin hasrat masyarakat luas untuk lebih bebas mengekspresikan diri, tanpa berarti harus kehilangan kolektivitas. Bukankah ini juga tercermin dari dua jenis sajak Chairil, antara “sajak kamar” dan “sajak mimbar”?

Sisi Estetis Kepeloporan

Bicara kepeloporan Chairil dalam hal estetis, pertama harus dikatakan, ia pelopor yang inklusif. Artinya, pencapaian-pencapaian estetik Chairil bisa dimasuki orang lain untuk menghasilkan variasi atau kemungkinan lain atau bahkan “penyimpangan”. Ini berke­balikkan dengan mereka yang menurut saya berhasil sebagai pelopor ekslusif, sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna.

Konsepsi puitik Sutardji yang dikenal dengan “Kredo Puisi” (1973) yang “membe­baskan kata dari beban penger­tian”, disertai bentuk sajak mantra yang dikembangkannya, terlalu ekslusif untuk dimasuki kreator lain, bahkan mungkin bagi apresiator. Tema “maut” (kematian) di tangan Chairil bisa berbeda dengan tema “maut” di tangan Goenawan Muhamad atau Sapardi Djoko Damono, meski bahasa liris dan imajis memiliki pertalian yang jelas dengan capaian Chairil. Sebaliknya, tidak terbayangkan bagaimana kata “batu” di tangan Sutardji ditulis penyair lain dengan terlebih dahulu mengambil bentuk mantra, pastilah “batu” di tangan penyair lain itu akan tenggelam ke kebisuan dalam arti yang sebenarnya, kecuali jika ia bisa lebih ekstrem dari “batu” Tardji.

Begitu pula Afrizal, akan menjadi absrud jika konsep­sinya tentang “alam benda” dipraktekkan langsung serta-merta orang lain, apalagi dengan gaya ungkapnya yang tak mengindahkan “kimiawi kata”. Itulah sebabnya, feno­mena Afrizalian pada sekitar tahun 90-an tetap hanya me­mun­culkan Afrizal sendiri karena secara riil memang dialah empunya konsepsi. Banyak yang kemudian ter­pental, alih haluan, meski ada juga yang keras kepala bertahan seperti T. Wijaya (Palembang) atau Shinta Febriany (Makasar), tapi toh tetap saja mengingat­kan kita pada sajak Afrizal.

Tentu saja saya tidak ber­maksud mengatakan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain. Apalagi untuk mengatakan bahwa estetika pelopor yang ekslusif tidak memberi jejak pada tradisi kepenyairan kita. Tidak. Spirit Tardji dan Afrizal jelas meno­rehkan jejak pada perpuisian mutakhir kita, namun dalam konteks membuka jalan bersa­ma, efek eststika Chairil terha­dap kepenyairan Indonesia harus diakui lebih mengena: ia meneruka dunia kata-kata dengan lebih lempang, menjadi milik semua orang. Dalam kerangka agak normatif inilah Chairil menempati posisi utama pembahru dan pelopor estetika puisi Indonesia.

Lagi pula Chairil tidak merumuskan suatu konsepsi personal yang sekiranya menjadi kredo puisinya, sebab efeknya tentulah menutup kemungkinan lain dari “jalan bersama” yang sedang dirintisnya. Sepanjang pengetahuan saya, Chairil hanya merumuskan konsepsi kolektif kepenyairan yang “ideal”, seperti terungkap dalam surat­nya kepada HB Jassin (8 Maret 1944),”Mengorek kata sampai ke intinya.” Atau seperti yang disampaikan dalam pidato radionya (1946),”Sajak adalah dunia yang menjadi.” Bukankah ini sewaj­arnya milik setiap penyair? Meski pula ia pernah bilang, setengah meradang, “yang bukan penyair jangan ambil bagian,” namun jelas ditujukan kepada para kreator setengah hati yang justru membuat dunia bersama itu terancam mencair. Hal yang sekarang terbukti, betapa puisi, dengan mem­peralat demokra­tisasi telah mengalami peng­gam­pa­ngan di sana-sini.

Jelaslah, kepeloporan in­klusif Chairil membuka jalan bersama yang dalam bahasa keren sekarang bolehlah kita sebut demokratisasi. Sayangnya, di tengah iklim demoktratisasi ini pula muncul ironi hidup berbangsa: yang lahir bukannya si Pelopor, melainkan si Pecun­dang. Yang muncul bukannya kreator yang berproses dan berkeringat, tapi koruptor yang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cepat. Dalam situasi seperti inilah kepe­loporan Chairil Anwar, baik estetis maupun biografis, menemukan momentumnya untuk diperingati, ada atau tidak ada Hari Sastra.

Raudal Tanjung Banua, Penyair dan Redaktur Rumahlebah Ruangpuisi.

Sapardi Bicara Keindonesiaan di Bandung

Anwar Siswadi
http://www.tempointeraktif.com/

Penyair Sapardi Djoko Damono bicara tentang keindonesiaan di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 20 Mei 2011. Diskusi di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia itu mengiringi acara peluncuran buku terbaru Sapardi.

Buku berjudul Mengapa Kesatria Memerlukan Punakawan itu berisi kumpulan esai Sapardi tentang keindonesiaan. Dalam diskusi yang digelar Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, itu Sapardi mengambil tema khusus terkait seni, budaya, dan sastra. Awalnya, ia mempertanyakan kesenian Indonesia di antara kesenian asing dan tradisi.

Untuk membedakan kesenian asing dan tradisi, Sapardi mengambil contoh musisi jazz Indra Lesmana dengan penari Jawa Retno Maruti. Namun, kesenian Indonesia berasal dari kesenian asing dan tradisi. "Kebudayaan kalau berdampingan akan terus bertengkar. Dari pertengkaran itu lahir Indonesia," ujarnya.

Sapardi juga menilai kebudayaan Indonesia seperti sastra dan musik itu paling hibrid di Asia Tenggara sehingga paling bagus. Oleh karena itu, ada negara lain yang mau mencuri, semisal Reog Ponorogo. "Kalau ada yang ingin mencuri, berarti punya kita paling hebat," katanya.

Pembicara lainnya dalam diskusi itu, Jacob Sumardjo, melihat kebudayaan dari sebelum negara Indonesia muncul. Masyarakat yang hidup berkelompok menjadi bangsa dan negara, lama-lama saling tukar-menukar bahasa dan budaya.

Diskusi yang bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional itu diawali permainan lagu keroncong. Permainan keroncong itu ditujukan untuk mengingat wafatnya Gesang.

Seniman Yogyakarta Mengenang Dick Hartoko

Anang Zakaria
http://www.tempointeraktif.com/

Sejumlah seniman dan budayawan mengenang kembali almarhum Dick Hartoko, budayawan Indonesia yang meninggal dunia 10 tahun lalu, di gedung Karta Pustaka Yogyakarta, Sabtu malam, 21 Mei 2011.

Rohaniawan Katolik yang lahir pada 9 Mei 1922 itu meninggal dunia pada 1 September 2001. Semasa hidupnya, dia banyak menulis buku-buku sastra, filsafat, seni dan budaya. Dia juga dikenal sebagai redaktur majalah Basis.

Peringatan yang bertajuk "Mengenang Dick Hartoko: Guru, Budayawan, Kawan Kita (9 Mei 1922-1 September 2001)" itu dilakukan dengan cara kembali membaca tulisan-tulisan Romo Dick, demikian Dick Hartoko biasa disapa, di rubrik Tanda-Tanda Zaman pada majalah Basis. Di antara mereka yang turut membacakan tulisan itu adalah Landung Simatupang, Hairus Salim, Mahatmanto dan Ons Untoro. "Tulisannya masih cukup relevan dengan kondisi saat ini"” kata Ons Untoro.

Karya Romo Dick yang berjudul "DPR" yang dibaca Ons misalnya. Ditulis pada April 1976, tulisan itu sangat tepat menggambarkan perilaku anggota dewan yang hingga kini masih sering alpa hadir di ruang sidang. "Ketika pada tanggal 28 Februari lalu RUU APBN 1976/1977 disahkan oleh DPR, ternyata dari jumlah 460 orang anggota hanya 135 anggota hadir, walaupun daftar presensi memperlihatkan angka 284."

Tak hanya tulisannya yang tajam dan terus terang, Romo Dick juga cukup berani dalam mempertahankan prinsipnya. Ons mengenang, di tahun 1970-an acara-acara yang digelar di Karta Pustaka tak pernah melewati prosedur perijinan ke pihak kepolisian. Padahal, di masa itu penguasa Orde Baru cukup gencar mencurigai tiap kegiatan yang digelar di masyarakat. "Kalau ada yang tanya, bilang ini tanggung jawab saya," kata Ons menirukan ucapan Romo Dick kala itu.

Namun, Romo Dick tetaplah manusia biasa. Dia pun pernah didera ketakutan akibat tulisannya di rubrik Tanda-Tanda Zaman majalah Basis. Budi Sarjono, salah seorang staf redaksi di majalah Basis, ingat bahwa akibat tulisannya tentang Kedung Ombo dianggap menyinggung Orde Baru, Romo Dick pernah diinterogasi seorang intelijen kejaksaan.

"Mas Budi, tolong siapkan handuk, sabun, odol dan sikat gigi. Kayaknya saya mau ditahan," kata Romo Dick, seperti ditirukan Budi, setelah menjalani interogasi itu. Beruntung, lantaran bantuan seorang petinggi militer di Yogyakarta, Romo Dick tak jadi dibui.

Direktur Yayasan Karta Pustaka Yogyakarta, Anggi Minarni, mengatakan, persiapan acara itu digelar terburu-buru. Tak kurang dari dua pekan. Bermula dari obrolan di jejaring media sosial, akhirnya didapat kesepakatan bahwa di bulan Mei ini, hari ulang tahun Romo Dick, harus digelar acara peringatan. "Saya sampai termehek-mehek mempersiapkan," kata dia.

Pengikut