Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Gadis Peracau

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Aku tak mengerti apa yang diucapkan gadis yang berteduh di pendopo desa. Ia seperti meracau mengucap ke sana ke mari yang tidak jelas maksudnya. Dengan menahan hawa dingin aku hanya mendengarkan dan memperhatikan bibirnya mengucap yang ia suka. Kadang ia menangis, kadang ia tersenyum sendiri, kadang juga wajahnya mengekspresikan kemarahan pada seseorang.

Dinasti dan Tesis Tikungan Iblis

Indra Tranggono*
http://www.jawapos.com/

PUBLIK budaya Surabaya akan disuguhi kolaborasi Teater Dinasti Jogjakarta dengan kelompok musik Kiai Kanjeng, di Gedung Gramedia Expo, 19 November. Pertunjukan yang dimulai pukul 20.00 itu membawakan lakon Tikungan Iblis karya budayawan Emha Ainun Nadjib. Pementasan yang diselanggarakan Komunitas Bang Bang Wetan (BBW) dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ini merupakan bagian dari tur Teater Dinasti ke sejumlah kota, setelah Agustus lalu tampil perdana di Taman Budaya Yogyakarta.

Bidadari dalam Cahaya Putih

Eko Tunas
Suara Merdeka, 1 April 2012

LARON-LARON beterbangan memburu cahaya, mengepak-kepakkan sayap pada lampu neon di depan rumah orang tua Sanu. Sanu suka karena Monica begitu senang menyaksikan gerombolan serangga bersayap di seputar cahaya putih. Bahkan di mata Sanu, perempuan bermata burung dara itu seperti bidadari berhujan-hujan laron. Tubuh tinggi padatnya seperti menari, saat menggeliat sambil mengebitkan laron kehilangan sayap.

PEREMPUAN, Kucing, dan Kesepian Kita

Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Seorang perempuan menengadakan wajahnya pada cahaya rembulan yang berselimut mendung. Malam ini terlihat duka pada raut mukanya. Ia pandangi cahaya bulan yang menua. Satu per satu air matanya menetes dan jatuh pada seekor kucing yang meringkuk manja di pangkuannya. Dadanya sesak dengan ingatan masa silam bersama suami dan anak yang masih berusia lima bulan dalam kandungan.

M A A F

Putu Wijaya
http://www.jawapos.com/

Pada hari raya Idul Fitri muncul tamu yang tak dikenal di rumahku. Aku pura-pura saja akrab, lalu menerimanya dengan ramah tamah. Terjadi percakapan. Mula-mula sangat seret, sebab aku sangat berhati-hati jangan sampai kedokku terbuka. Di samping itu, diam-diam aku berusaha keras untuk membongkar seluruh kenangan. Setiap bongkah aku bolak-balik, mencoba menyibak, siapa kira-kira dia, tetapi sia-sia.

Gerakan Sastra Berbasis Ekonomi Mikro

Putri Utami *
__Radar Mojokerto, 11 Maret 2012

Mengamati gerakan sastra, ada bermacam konsep yang dilakukan oleh sastrawan. Sebut saja dari gerakan pencetakan buletin, majalah, buku, mengunggah karya sastra di situs internet, workshop jurnalis, perlombaan baca puisi, cerpen dan novel, pelatihan musikalisasi puisi, bedah buku, diskusi sastra di berbagai komunitas dll. Secara umum, seluruh pergerakan sastra tersebut bertujuan menancapkan basis kesusastraan yang kuat pada generasi berikutnya.

Perihal Anjing Yang Suka Azan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Di perantauan mana pun, yang penting bagi seseorang ialah sopan, jujur, dan tahudiri. Itu kunci. Bagaimana menempatkan diri sebagai perantau! Siapa tuan rumah? Siapa pendatang? Jika itu dilakukan, saudara dan orang tua dengan mudah terjalin di mana saja.

Awalnya aku mengenal I Ketut Sunyahne, Balinese tulen yang tak begitu cakap berbahsa Indonesia, tapi dia malah mengerti kalau aku berbahasa Jawa kuno. Barulah aku yakin pada sejarah, bahwa ras penduduk Bali, bernenek moyang Jawa yang lari jaman Majapahit dulu.

Habis Gelap Terbitlah Gelap

Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.com/

Andai Kartini tidak lahir pada 21 April 1879, pastilah tidak akan muncul ledakan keperempuanannya hingga ia menulis Door Duisfernis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang (P.N. Balai Pustaka, 1957). Ia tak lain adalah cermin tragedi perempuan di abad itu, saat harkat perempuan terperosok dan cuma berkubang ”riwa-riwi” di sumur, dapur, dan kasur. Batinnya dilecut gelisah, dipukul topan badai keterbelakangan. Dirundung cita-cita, dihambat kasih sayang. Dikerangkeng adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang lama nian terjajah.

Berenergi Dramaturgi Wayang

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

KUMPULAN puisi terbaru Tjahjono Widijanto (TW), Janturan (Jakarta, Spirit Management, 2011), terdiri dari tiga bagian: Janturan, Bayang-bayang, serta Lurung. Terma janturan itu sendiri diterangkan TW, di dalam prolog yang ditulisnya sendiri, sebagai bagian dari dramaturgi pementasan wayang (Jawa), sesuatu yang diterimanya sebagai nina bobo pengantar tidur dari sang bapak yang kebetulan guru bahasa Jawa di SPG di Ngawi.

YANG BERPOLA PIKIR, YANG RAJIN MENYINDIR

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Sindiran boleh saja datang, dari siapapun, dan dari manapun. Namun jelas, bahwa si empunya sindiran adalah mereka yang merasa, dirinya sebagai tokoh yang merasa lebih berkepentingan dalam sesuatu persoalan, sehingga merasa pula berhak mengeluarkan pendapat. Saya teringat akanMultatuli, yang dalam “Max Havelaar”nya memperlihatkan kekuatan pena yang luar biasa, lantaran dia menyindir penguasa kolonial di Hindia Belanda, yang semena-mena itu.

Antara Jalan Beraspal dan Bahasa Indonesia

Mahmud Jauhari Ali
__Banjarmasin Post

Secara sadar kita dapat mengatakan bahwa manusia normal tidak dapat langsung berjalan tanpa proses belajar. Tentu saja seorang anak harus melalui proses belajar secara bertahap hingga ia mampu berjalan dengan menggunakan kedua kakinya. Begitu pula dengan kemampuan berbahasa seseorang tidak didapatnya secara sekaligus, melainkan didapatnya secara bertahap hingga ia mampu berbahasa dengan lancar. Sebagaimana kita ketahui bersama di Indonesia terdapat ratusan bahasa daerah dan satu bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia.

“Mengintip” Latar Sastra Pesantren

Aguk Irawan Mn
http://langitan.net/

Tempo hari, saya menerima posting email dari Gus Acep (Acep Zamzam Noor) dan Kang Bunis (Sarabunis Mubarok) perihal acara “Silaturahmi Sastrawan Santri” yang diselanggarakan komunitas Azan dan Desantara di Tasikmalaya. Kendati saya bukanlah sastrawan-santri yang betulan, namun jujur, ketika membaca larik barisan sejumlah santri-sastrawan yang akan berkumpul pada tanggal itu, sambil membayangkan berjalannya acara, tiba-tiba saja ada sesuatu yang tertangkap oleh benak saya, sebuah kesan, yang cukup menggetarkan. Antara sedu, bahagia dan haru.

Estetika Skizofrenia Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Puisi Indonesia tidak pernah selesai mencari bentuk-bentuk operasional bahasa yang baru. Setelah sukses dengan kemendayuan Pujangga Baru, ketajaman dan efektifitas Chairil Anwar—diteruskan oleh Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Muhammad—kini muncul fenomena baru yang belum pernah ditemukan dalam bahasa puisi sebelumnya. Fenemona tersebut adalah konstruksi bahasa skizofrenia. Apakah telah tercipta bahasa estetik puisi skizofrenia? Bagaimanakah operasional estetik teks puisi skizofrenia?

Jejak Pemikiran Kritis Sang Kiai Selebritis

Akhmad Sekhu
http://www.kompasiana.com/akhmadsekhu

Judul Buku : Jejak Tinju Pak Kiai
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Emha Ainun Nadjib adalah sebuah fenomena. Tak ada orang Indonesia yang sefleksibel pemikiran dirinya yang bisa masuk ke berbagai ranah kehidupan sosial, budaya, politik, keagamaan, bahkan dunia selebriti. Istrinya, Novia Kolopaking adalah penyanyi dan artis sinetron.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com