Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

Kisah Perempuan Telanjang

Eko Hendri Saiful *
Tabloid Seputar Ponorogo, edisi III, 17-23 Jan 2012

Jika kawan melewati alun-alun kota kami, engkau akan menemukan sebuah menara yang berdiri tonggak di pojok alun-alun. Bentuknya seperti menara telephone seluler di kota-kota besar yang terbuat dari kesatuan besi berwarna hitam. Jika diukur kurang lebih 20 meter tingginya. Kebanggaan bagi kami selaku warga kota kecil memiliki menara setinggi dan semewah itu. Kabar terakhir menara itu dimiliki oleh sebuah stasiun radio swasta dikota kami dan berfungsi sebagai pemancar.

Tersungging di Padang Ilalang

Nur Wachid *
__Tabloid Seputar Ponorogo

Mata nanar berpijak pada tumpuan batu senandung ilmu. Bermaslahat keangkuhan jiwa berkejora putih. Titik semu pada daun pintu mulai terdengar asing. Tak tersahut dengan kata majikan. Tampak kusut wajah tak berhias. Berkobar api semangat bermahligai optimistis. Dengan segala kemampuan dan tenaga, padi – padi kering yang setinggi gunung rinjani mulai tak tampak tinggi menjulang. Cucur deras keringat membasahi kain putih lusuh yang dikenakannya.

SUMBANGAN ACEH BAGI BAHASA MELAYU DAN INDONESIA *

T.A. Sakti **
Serambi Indonesia, 21 Agu 2008

Bahasa Melayu merupakan akar utama dari bahasa Indonesia. Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa diperkaya sehingga ia semakin mantap berperan di seluruh Nusantara, Bahasa Melayu masih dapat dilacak jejaknya mulai abad ke-7 masa kerajaan Sriwijaya berupa prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Melayu kuno, seperti prasasti Kedukan Bukit (tahun 683 M), Talang Tuo (tahun 684), dan lain-lain.

A. Teeuw Dalam Ingatan

Soni Farid Maulana
_Pikiran Rakyat, 27 Mei 2012

TERBITNYA buku Tiga Pesona Sunda (Pustaka Jaya, 2009) yang ditulis oleh Prof. Dr. J. Noorduyn dan Prof. Dr, A. Teeuw merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tak terkira nilainya bagi orang Sunda khususnya dan masyarakat umumnya, yang ingin mengetahui apa dan bagaimana perkembangan sastra Sunda Kuna pada zamannya. Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hawe Setiawan.

MENGGELIATKAN GAIRAH KREATIVITAS TEATER INDONESIA

Sri Wintala Achmad *
http://sastra-indonesia.com/

Teater dikenal sebagai induk dari segala genre seni (mother of arts). Berbagai disiplin seni, seperti seni musik, seni rupa, seni tari, seni vokal, dan sastra merupakan unsur-unsur penting yang mengkristal di dalam seni teater. Teater pula sering mendapat sebutan seni kolektif. Karena banyak personal, seperti: sutradara, astrada, penulis naskah lakon, piñata setting atau piñata dekorasi, piñata make-up dan busana, piñata lampu, piñata musik, dan aktor-aktris terlibat di dalamnya.

Hiperbola Agus R Sarjono *

Saut Situmorang **
http://boemipoetra.wordpress.com/

Dalam dunia puisi, salah satu persoalan penciptaan yang terpenting adalah bagaimana mempertemukan puisi dan politik dalam sebuah sajak. Bagaimana seorang penyair mesti menulis puisi politik hingga puisi tersebut benar-benar memiliki nilai estetik dan tidak terjerumus menjadi sekedar slogan politik yang dibungkus dalam penampilan sebuah puisi.

SASTRAWAN DAERAH SULAWESI TENGGARA PAHLAWAN YANG KESEPIAN

La Ode Balawa *
http://sastrakendarisultra.blogspot.com/

Bukan untuk mengajarkan kesombongan pada Komunitas Sastrawan Daerah Sultra (Sulawesi Tenggara), tapi demi kejujuran dan keadilan saya harus membuka risalah ini dengan pernyataan: sepanjang sejarah berdirinya Provinsi Sulawesi Tenggara baru Komunitas Sastrawan Daerah Sultra (satu-satunya) yang sudah berhasil mempersembahkan medali emas/tinta emas nasional terhadap daerah ini.

Polemik yang Tak Aplikatif

Beni Setia
Lampung Post, 5 Sep 2010

KHASANAH sastra Indonesia penuh pertentangan biner yang tidak ada putusnya. Dari polemik kebudayaan dengan pilihan mem-Barat atau mereaktualisasi Timur. Lantas yang mendunia dengan yang menggali kekayaan lokal.

Terjadi clash antara sastra realisme sosial versus sastra agamawi dan humanisme universal. Keperkasaan liris menghasilkan penentangan berwujud Pengadilan Puisi di Bandung, di Surabaya almarhum Muhamad Ali mengeluhkan dominasi c.q. esei Izinkan Saya Bicara pada dekade 1970-an. Lantas lahir sastra sufi eskapistik dan sastra kritik sosial. Lalu muncul gerakan RSP dan BP.

Berthold Damshäuser, Nietzsche, dan Indonesia

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 19 Sep 2010

BERTEMPAT di Goethe Institut Bandung, Senin (27/9) malam, buku Syahwat Keabadian akan diluncurkan dan didiskusikan dengan pembicara Bertold Damshäuser dan Agus R. Sarjono. Bagi publik sastra Indonesia, Bertold Damshäuser bukanlah sosok yang asing. Pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Institut für Orient-und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia) di Universitas Bonn dan Pemimpin Redaksi Orientierungen (jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia) ini, getol menerjemahkan puisi-puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia, dan puisi Indonesia ke dalam bahasa Jerman. Seri Puisi Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia merupakan bukti upaya kerja kerasnya mempertemukan khazanah sastra Jerman dan Indonesia.

Sastra-Indonesia.com