Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
Sastra-indonesia.com

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang.

Imajinasi Turisme

Sartika Dian Nuraini
Bali Post, 18 Nop 2012

Pelesiran menjadi jalan yang dipilih manusia modern membebaskan diri dari rutinitas hidup sehari-hari. Di tingkat lokal hingga global, pelesiran atau turisme sudah menjadi kebutuhan, bahkan pokok. Di beberapa negara Eropa, seseorang/keluarga merasa sangat menderita atau pariah jika tidak dapat menjalankan ritus pelesir atau berturis di liburan panjang macam musim panas.

Kekaburan Kritik dan Fenomena Penulis Pemula

Sutejo
Karya Darma, 27 Mei 1995

Bagaimanakah potret kritik sastra kita dewasa ini? Tampaknya kritik sastra kita masih centang perenang, belum mempunyai sosok pribadi yang jelas. Beni Setia, pernah melontarkan tulisan ‘’Demistifikasi Kritik’’. Pemikiran Beni Setia demikian menyadarkan kita pada fenomena kritik sastra yang tanpa karakter. Sampai gemasnya penyair Bandung ini (kini tinggal di Caruban Jawa Timur-red) melihat fenomena kritik sastra dengan menyebutnya sebagai sebuah arogansi elite sastra yang begitu determinatif dalam pengukuan dan kualifikasi kepenyairan seorang penyair.

Sastra-Indonesia.com