Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Belajar Bersastra dari Seorang Umbu

Willem B Berybe
http://kupang.tribunnews.com

SEBUT nama Umbu, paling tidak bagi masyarakat Flobamora, langsung teringat akan sebuah pulau yang terletak di selatan wilayah Propinsi NTT yaitu Sumba. Mengapa? Etnik Sumba dengan marga (fam) Umbu berasal dari sana. Dari sekian nama Umbu salah satunya adalah Umbu Landu Paranggi, pria kelahiran Sumba 10 Agustus 1943, dan dikenal sebagai penulis puisi Indonesia.

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).

UNTAIAN PEMIKIRAN INSPIRATIF PENULIS PEDALAMAN

Prof. Dr. H. Soediro Satoto
http://sastra-indonesia.com

Saya mengenal penulis (Sutejo) sejak tahun 2000-an, ketika menjadi mahasiswa S2 di Universitas Sebelas Maret. Kala itu, ia (i) banyak menulis di media massa dengan ragam pemikiran kritis menyikapi persoalan aktual; (ii) memenangkan lomba kepenulisan tingkat nasional dan regional, dan (iii) mengisi seminar (workshop) untuk beberapa tema pelatihan. Lebih dekat ketika menjadi “mahasiswa bimbingan” saya saat menyelesaikan tesis studi di S2 UNS Program Studi Linguistik dengan konsentrasi Pembelajaran Bahasa.

Sastrawan Muda, Orisinalitas, dan Internet

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 2 Juni 2013

SUARA instrumen mengiringi langkah para penikmat sastra juga penulis muda masuk ke sebuah kafe di Plaza Semanggi, Jakarta, sore itu.

Di balik ingar suara di mal itu, sebuah peluncuran buku kumpulan cerpen Milana karya Bernard Batubara dihelat. Mayoritas tamu ialah para remaja. Mereka antusias ikut membedah 15 cerpen yang ditulis Bernard dalam rentang waktu 2010 hingga 2013 itu, yang dimuat dalam Milana.

Menyambut Ribuan Putu

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 16 Juni 2013

MENGHERANKAN bahwa apa saja yang ada di sekelilingnya dapat menjadi pokok ceritanya: seekor coro, majalah TEMPO, sebuah pistol, perayaan lebaran, sepakbola dan PSSI, sekolah, rumah yang digusur, SDSB, PPN, pesta, mesin tik dan komputer, atau Indonesia tahun 3000 dan malam tahun baru. Dalam membaca PW, terasa benar, bahwa ia tidaklah merencanakan terlebih dulu ceritanya, tapi bercerita selagi mengarang, dan hal ini dapat berkembang sedemikian jauhnya sehingga menimbulkan pertanyaan pada pembaca: apakah dia mengarang karena hendak bercerita, atau dia bercerita karena selalu mengarang?

Perempuan: Menulis dan Tulisan

Bandung Mawardi *
Bali Post, 26 Mei 2013

MENULIS dan tulisan menjadi perkara penting dalam gerakan perempuan abad XX. Gerakan itu menguat di Barat dengan rentetan sejarah panjang sastra dan pembentukan masyarakat literasi. Tulisan dalam perspektif perempuan mulai memiliki karakteristik dan menjadi kekuatan sebagai juru bicara ampuh untuk ide dan identitas perempuan.

Mimpi Buruk Pendidikan Kita

Sutejo
Radar Madiun, 3 Mei 2001

Mendiknas, Yahya A. Muhaimin dalam “Temu Konsultasi dan Koordinasi Pembangunan Pendidikan Tahun 2001”, di Sawangan Bogor, 25/4/2001, mensinyalir parahnya kemampuan membaca siswa SD, yang menempati posisi terendah di antara negara-negara ASEAN. Hal itu didasarkan pada laporan hasil studi kemampuan membaca, yang dilakukan oleh organisasi Internasional Educational Achievement (IEA), Indonesia menduduki rangking ke-38 dari 39 peserta studi. Di samping itu, kemampuan Matematika juga berada di urutan ke-34 dari 38 negara, dan kemampuan IPA berada di urutan ke-32 dari 38 negara.

Pengantar ‘Riwayat’ oleh Soediro Satoto

Sulaiman Juned Menyuarakan Kematian, Kekerasan, Ketidakadilan, Kelicikan, Perbedaan dan Konflik dengan cinta kasih
Soediro Satoto *)
Komunitas Seni Kuflet, 03 Des 2011

Antologi puisi Riwayat ini ditulis oleh Sulaiman Juned. Meskipun orangnya tampak pendiam, low profile, ia seorang nasionalisme, moderat (bukan, separatisme, atau provokator) berkat hasil didikan kedua orang tuanya yang ketat berdisiplin, gigih, demokratis, dan religius sejak kecil. Ia pernah memakai nama samaran Soel’s J. Said Oesy ( ‘nunggak semi’ dengan nama ayahnya).

Narasi Celana

Riza Multazam Luthfy *
Lampung Post, 23 Juni 2013

Celana menyimpan berbagai narasi. Dari yang sederhana hingga paling luks sekalipun. Narasi-narasi tersebut melekat seiring dengan laju perjalanan kehidupan manusia yang semakin kencang.

DAHULU kala, penggunaan celana ditengok dari satu sudut pandang saja, yaitu berdasarkan fungsi. Siapapun yang memakai celana pada umumnya bertujuan untuk menutupi alat vital dari penglihatan orang lain. Celana juga dimanfaatkan untuk menghindarkan tubuh dari kebekuan saat musim dingin tiba. Berbakal kain atau bahan baku lainnya, celana dipercaya mampu mengusir bengalnya kedinginan dan menghadirkan bulir-bulir kehangatan.

Sastra-Indonesia.com