Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Bagaimana Situasi Perang Sastra di Indonesia? *

Viddy AD Daery **
ahmadsamantho.wordpress.com

Perang sastera yang terjadi dan semakin membesar akhir-akhir ini di Indonesia, menurut hemat saya, sangat berbeza dengan beberapa kali perang sastera yang pernah terjadi di Indonesia.

Bahkan sebelum Republik Indonesia berwujud, perang sastera telah dilancarkan oleh Lembaga Balai Pustaka yang dikendalikan pemerintahan kolonialisme Hindia Belanda, yakni, pada tahun 1920-an melancarkan perang terhadap “bacaan Liar” yakni buku-buku Melayu-Tionghoa yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa dengan menggunakan bahasa Melayu yang kacau-balau, atau disebut “Melayu pasar” atau “Melayu Rendah”.

Jerami, Hasrat, dan Waktu

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 23 Jan 2010

JERAMI itu tak hanya berupa batang-batang padi yang telah mengering setelah dituai. Akan tetapi, ia juga menyimpan jejak panjang ihwal manusia dan ruang yang dihuninya, para petani, masyarakat agraris, dan ruang pesawahan. Dan ketika jerami itu menjadi tubuh manusia maka niscaya di situ ada yang hendak diungkapkan. Dari mulai realitasnya sebagai sebuah sosok hingga berbagai lanskap peristiwa yang dihuninya. Dan ketika lanskap itu adalah perubahan ruang yang dihuni manusia, jerami menjadi sebuah narasi yang getir. Narasi yang hidup dalam tubuh manusia. Tubuh masyarakat agraris yang tertatih-tatih dalam berbagai hasratnya. Hasrat yang terus tumbuh dan bergerak dalam dirinya. Juga hasrat waktu yang menghendaki berbagai perubahan.

DUNIA PENULIS YOGYAKARTA

M.H. Abid *
https://komunitassastra.wordpress.com

Dialog on-air Jogja Realitas yang digelar Radio Eltira FM pada 23 Maret 2007 lalu mengangkat topik “Jogja Kota Buku”. Dialog tersebut menghadirkan pihak penerbit, distributor, dan toko buku—pihak yang dianggap menunjang konsep Kota Buku. Sayang, selain tidak dihadirkan, pihak penulis dan dunia kepenulisan di Yogyakarta tidak disinggung dalam dialog itu. Apakah penulis dan dunia kepenulisan bukan unsur penunjang Kota Buku? Atau apakah Yogyakarta tidak menunjang bagi tumbuh dan berkembangnya dunia penulisan?

Sastra-Indonesia.com