Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 10 Apr 2010

Dalam bahasa Melayu ada peribasa “bahasa menunjukkan bangsa”. Kata “bangsa” di situ tidaklah menujuk kepada arti “bangsa” yang sekarang populer, yaitu sama artinya dengan nation, walaupun ketika peribahasa itu diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dan digunakan dalam bahasa Sunda, artinya menjadi berubah karena dalam bahasa Sunda arti kata bangsa hanya menunjuk kepada nation. Sedangkan kita saksikan sendiri tidak semua bangsa mempunyai bahasa yang khas.

Bahasa Indonesia sebagai Cermin?

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 20 Feb 2012

Suatu hari pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, kami berdiskusi tentang penerjemahan. Saya memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk memahami dan menerjemahkan teks berita di sebuah harian Indonesia yang bukan saja mengandung kesalahan tata bahasa, tapi ditulis demikian kacau alias mengabaikan logika kalimat. Setelah 10 menit, para mahasiswa begitu putus asa dan menyatakan mogok.

Dan Fenomena Presiden Penyair Daerah sebagai Dagelan Populer?

Nurel Javissyarqi
Tentu kita tahu sebutan presiden penyair Indonesia tersemat dari-padanya Sutardji Calzoum Bachri. Kredonya yang fenomenal itu meluas mempengaruhi banyak penyair serta kritikus (… dengan kredonya yang terkenal itu, Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya cipta atau kreativitas, Ignas Kleden endosemen di buku Isyarat, lalu lihat buku Raja Mantra Presiden Penyair, 2007). Sehingga di puncak ketenarannya, SCB tidak segan-segan menyelewengkan ayat-ayat suci; Qs. Asy-Syu’ara, 224-227 (baca buku saya MTJK SCB, 2011). Sampailah, kita mendengar adanya presiden penyair Surabaya, presiden penyair Lampung, presiden penyair Cirebon dan sebangsanya. Dari sini terpancang jelas pengaruh Sutardji di belantika kepenyairan Tanah Air, atau dengan label presiden penyair memudahkan seseorang berbuat semaunya tanpa halangan berarti pun dari para kritikus; mereka tidak lagi obyektif mengkaji suatu karya, sebab tertutupi titel yang sudah terlanjur mentereng?

Betulkah Bentuk Mengkritisi?

J.S. Badudu
Intisari Mar 2005

Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat.

Mengasah Otak untuk Memecahkan Masalah

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 23 Feb 2015

Konon, kalau ingin cerdas, kita harus sering-sering mengasah otak. Otak dianggap atau disamakan dengan pisau, yang harus sering diasah agar meningkat ketajamannya. Kalau kita menafsirkannya secara harfiah, ungkapan itu sungguh mengerikan. Otak diambil dari kepala, diadu dengan batu pengasah supaya tajam.

Mini

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 13 Mar 2017

Pertamina dan Pertamini. Dua nama yang mirip sekali. Hanya beda satu huruf terakhir: “a” dan “i”. Tak aneh jika kita mengira keduanya memiliki “pertalian darah”. Apalagi setelah melihat sepak terjang Pertamini yang sangat lincah seperti Pertamina. Dalam waktu singkat, ia sudah bertebaran di mana-mana. Berdiri di pinggir-pinggir jalan.

Petjoek

Agus R. Sarjono
Majalah Tempo 25 Jan 2010

Bahasa Indonesia pada dasarnya adalah bahasa yang kaku, agak formalistik, dan kurang santai. Pada era Orde Baru, bahasa Indonesia yang tak santai ini makin gerah karena dibebani feodalisme yang membedakan penggunaan bahasa bagi mantan menteri dengan bagi bekas tukang parkir, mantan pejabat dengan bekas penjahat. Srimulat selalu menggunakan campuran bahasa daerah dalam banyolan mereka untuk menciptakan suasana santai. Kalau ingin memancing tawa, mereka menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena di tangan mereka, formalitas bahasa Indonesia jadi benar-benar menggelikan.

Sastra-Indonesia.com