Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Dimanakah Sastra Dunia?

Nirwan Dewanto *
islandsofimagination.id

Kurang lebih empat dasawarsa lalu, kritikus sastra H.B Jassin berkata bahwa sastra Indonesia adalah warga sastra dunia. Hari-hari ini tampaknya kita mesti berkata bahwa pernyataan Jassin itu benar dalam satu hal: sastra dunia itu milik kita, menjadi bagian dari kehidupan sastra Indonesia mutakhir. Apalagi di zaman “globalisasi” sekarang! Paling tidak, dengan “sastra dunia” itulah para sastrawan kita mempunyai ukuran baik-dan-buruk dalam mencipta dan menilai.

Catatan akhir tahun; Tubuh Bahasa

Awalludin GD Mualif

Keberadaan alam semesta beserta isinya,
manifestasi dari cara Tuhan menunjukan kebesaranya.


Tubuh, Bahasa

Tubuh bahasa merupakan ruh yangmembutuhkan ruang, ada ruang tubuh, ada ruang bahasa. Tanpa ruh, tubuh danbahasa hanyalah seonggok daging tanpa nyawa, ibarat benda mati: ada tangan, kaki,kepala, yang terpotong sebagian atau seluruh bagiannya, namun tak bernyawa. “Bendamati” sebagai bagian terkecil dari susunan bahasa, ibarat bagian tubuh yangterpotong beserakan. Sedangkan pada bahasa, tubuh menjelma dalam bentuk grafis berupahuruf: a, b, c, dst.

Tahun 2017 dan Bayang-bayang Kebudayaan

Jumari HS
http://riaupos.co

FILSAFAT menempatkan kebudayaan pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik . ia tidak bicara tentang bagaimana kebudayaan menjadi norma bagi tingkah laku (learned behaviour)  sehingga membentuk way of life (suatu hal menjadi obyek studi sosio antropolgi), atau bagaimana kebudayaan dibentuk oleh representasi kuasa pengetahuan  (satu hal yang menjadi obyek cultural studies).

55 Tahun Orang NTT di Panggung Sastra *

Yohanes Sehandi **
yohanessehandi.blogspot.co.id

Sejak kapan orang NTT (Nusa Tenggara Timur) berkiprah di panggung sastra? Siapa perintis sastra NTT? Siapa saja orang-orang NTT yang menggeluti dunia sastra? Berapa jumlah karya sastra yang dihasilkan para sastrawan NTT? Inilah sejumlah pertanyaan menarik ketika orang menyaksikan betapa semaraknya pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT dalam lima tahun terakhir ini, sejak tahun 2011 sampai dengan saat ini. Sastra NTT yang dimaksudkan di sini adalah sastra Indonesia yang bertumbuh dan berkembang di Provinsi NTT atau sastra Indonesia warna daerah NTT. Sedangkan sastrawan NTT adalah orang-orang NTT atau keturunan orang NTT yang berkiprah di panggung sastra. Di tingkat nasional sastrawan NTT ini tentu bisa masuk dalam jajaran sastrawan Indonesia.

Bahasa dan Kebudayaan Nasional

Ajip Rosidi
Pikiran Rakyat, 3 Jul 2010

Pada 1930-an terjadilah di kalangan para intelektual muda Indonesia polemik tentang masa depan bangsa Indonesia. Polemik itu berlangsung bertahun-tahun serta dimuat dalam berbagai majalah dan surat kabar. Sekarang kita sebut sebagai polemik kebudayaan karena sebagian besar polemik itu dikumpulkan oleh Achdiat K. Mihardja yang diberinya judul “Polemik Kebudayaan” (Balai Pustaka, Jakarta, 1950). Yang terlibat dalam polemik itu kemudian kita kenal sebagai pendiri bangsa dan negara Indonesia, antara lain S. Takdir Alisjahbana, Sanoesi Pane, Dr. Soetomo, Ki Hadjar Dewantara, dan Dr. Poerbatjaraka.

Antara Kuli Tinta dan Awak Media

Sunaryono Basuki Ks *
Kompas, 20 Nov 2013

Kata ’kuli’, menurut KBBI, selain bermakna ’pekerja kasar’ ternyata bermakna pula ’penduduk desa keturunan pendiri atau sesepuh desa yang mempunyai hak suara di dalam pemilihan kepala desa dan mempunyai kewajiban penuh melakukan pekerjaan desa’. Sedangkan ’kuli ajek’ di Madura adalah golongan yang dianggap sebagai pendiri suatu masyarakat yang menganut hukum adat tertentu.

Benarkah Ada Krisis Bahasa Indonesia?

Mohammad Cahya *
Pikiran Rakyat, 14 Mei 2010

Logo KemdiknasSebagaimana kita tahu, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya. Dari sekitar 5.000 bahasa yang bertebaran di seluruh dunia, salah satu yang tercatat adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia, yang dulunya Bahasa Melayu, tumbuh dan berkembang pesat seiring dengan kemajuan zaman.

Tokoh Perkamusan Indonesia

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 20 Apr 2015

Sejak 1998, saya berikhtiar memiliki pelbagai kamus Indonesia. Semula, saya hanya bisa membaca kamus-kamus di pelbagai perpustakaan di Solo. Pada masa itu, saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tahun demi tahun berlalu. Dan kamus yang saya peroleh adalah yang dijual di pasar buku loakan.

GERAKAN SASTRA KAMPUS DI CIREBON

Edeng Syamsul Ma’arif * Kompas, 27 Des 2008

Sastra, sepanjang sejarah sastra di Cirebon, tidak dilahirkan dari dunia kampus. Fakultas sastra, meski sebenarnya hanya ada satu kampus berisi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dengan jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia serta pendidikan bahasa dan sastra Inggris, menjadi pangkal persoalan. Fakultas ini tidak mampu melahirkan mahasiswa yang memiliki gagasan cemerlang dan serius untuk mengurusi persoalan kebudayaan di tingkat lokal sekalipun.

Sastra-Indonesia.com