Langsung ke konten utama

Postingan

Tahun 2017 dan Bayang-bayang Kebudayaan

Postingan terbaru

55 Tahun Orang NTT di Panggung Sastra *

Yohanes Sehandi **
yohanessehandi.blogspot.co.id

Sejak kapan orang NTT (Nusa Tenggara Timur) berkiprah di panggung sastra? Siapa perintis sastra NTT? Siapa saja orang-orang NTT yang menggeluti dunia sastra? Berapa jumlah karya sastra yang dihasilkan para sastrawan NTT? Inilah sejumlah pertanyaan menarik ketika orang menyaksikan betapa semaraknya pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT dalam lima tahun terakhir ini, sejak tahun 2011 sampai dengan saat ini. Sastra NTT yang dimaksudkan di sini adalah sastra Indonesia yang bertumbuh dan berkembang di Provinsi NTT atau sastra Indonesia warna daerah NTT. Sedangkan sastrawan NTT adalah orang-orang NTT atau keturunan orang NTT yang berkiprah di panggung sastra. Di tingkat nasional sastrawan NTT ini tentu bisa masuk dalam jajaran sastrawan Indonesia.

Bahasa dan Kebudayaan Nasional

Ajip Rosidi
Pikiran Rakyat, 3 Jul 2010

Pada 1930-an terjadilah di kalangan para intelektual muda Indonesia polemik tentang masa depan bangsa Indonesia. Polemik itu berlangsung bertahun-tahun serta dimuat dalam berbagai majalah dan surat kabar. Sekarang kita sebut sebagai polemik kebudayaan karena sebagian besar polemik itu dikumpulkan oleh Achdiat K. Mihardja yang diberinya judul “Polemik Kebudayaan” (Balai Pustaka, Jakarta, 1950). Yang terlibat dalam polemik itu kemudian kita kenal sebagai pendiri bangsa dan negara Indonesia, antara lain S. Takdir Alisjahbana, Sanoesi Pane, Dr. Soetomo, Ki Hadjar Dewantara, dan Dr. Poerbatjaraka.

Antara Kuli Tinta dan Awak Media

Sunaryono Basuki Ks *
Kompas, 20 Nov 2013

Kata ’kuli’, menurut KBBI, selain bermakna ’pekerja kasar’ ternyata bermakna pula ’penduduk desa keturunan pendiri atau sesepuh desa yang mempunyai hak suara di dalam pemilihan kepala desa dan mempunyai kewajiban penuh melakukan pekerjaan desa’. Sedangkan ’kuli ajek’ di Madura adalah golongan yang dianggap sebagai pendiri suatu masyarakat yang menganut hukum adat tertentu.

Benarkah Ada Krisis Bahasa Indonesia?

Mohammad Cahya *
Pikiran Rakyat, 14 Mei 2010

Logo KemdiknasSebagaimana kita tahu, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya. Dari sekitar 5.000 bahasa yang bertebaran di seluruh dunia, salah satu yang tercatat adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia, yang dulunya Bahasa Melayu, tumbuh dan berkembang pesat seiring dengan kemajuan zaman.