Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 20 Apr 2015
Sejak 1998, saya berikhtiar memiliki pelbagai kamus Indonesia. Semula, saya hanya bisa membaca kamus-kamus di pelbagai perpustakaan di Solo. Pada masa itu, saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tahun demi tahun berlalu. Dan kamus yang saya peroleh adalah yang dijual di pasar buku loakan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Bandung Mawardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung Mawardi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 September 2017
Senin, 01 Juli 2013
Perempuan: Menulis dan Tulisan
Bandung Mawardi *
Bali Post, 26 Mei 2013
MENULIS dan tulisan menjadi perkara penting dalam gerakan perempuan abad XX. Gerakan itu menguat di Barat dengan rentetan sejarah panjang sastra dan pembentukan masyarakat literasi. Tulisan dalam perspektif perempuan mulai memiliki karakteristik dan menjadi kekuatan sebagai juru bicara ampuh untuk ide dan identitas perempuan.
Bali Post, 26 Mei 2013
MENULIS dan tulisan menjadi perkara penting dalam gerakan perempuan abad XX. Gerakan itu menguat di Barat dengan rentetan sejarah panjang sastra dan pembentukan masyarakat literasi. Tulisan dalam perspektif perempuan mulai memiliki karakteristik dan menjadi kekuatan sebagai juru bicara ampuh untuk ide dan identitas perempuan.
Sabtu, 27 Agustus 2011
Sutardji, Puisi, Takdir
Bandung Mawardi*
Lampung Post, 7 Sep 2008
SUTARDJI Calzoum Bachri (SCB) dengan kalem menuturkan: Pemberian sekian penghargaan dan gelar kehormatan membuatnya malu karena merasa belum bisa berbuat apa-apa. Semua itu takdir.
Tuturan itu hadir karena SCB menjadi penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 bidang kesusastraan.
Pengakuan SCB mengingatkan penulis pada Nietzsche dalam Ecce Homo. Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir dengan arogan mengakui: “Aku tahu takdirku…Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit.”
SCB memiliki kemiripan dengan pengakuan Nietzsche karena SCB dengan berani hadir dengan pembaharuan estetika puisi Indonesia modern. Kehadiran itu memakai kredo ampuh untuk keimanan atas realisasi pencapaian estetika. SCB menobatkan diri sendiri sebagai “dinamit” yang membuat ledakan besar dalam perpuisian Indonesia modern. Ledakan itu adalah O Amuk Kapak sebagai takdir penyair dan puisi.
SCB sejak awal mulai membuat takdir dan menciptakan kesempurnaan takdir itu dalam perbenturan dan konfrontasi besar dengan pembaca dan kondisi zaman. Orang-orang pun sejak itu mulai menaruh perhatian untuk ikhtiar memahami SCB dan puisi-puisinya. Sampai hari ini SCB belum selesai terpahami. SCB berlaku seperti Nietzsche yang selalu menanyakan: “Sudahkah aku dipahami?”
Pertanyaan itu dalam kasus SCB terus menemukan sekian jawaban dari A. Teeuw, Dami N. Toda, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Umar Junus, Goenawan Mohamad, Rachmat Djoko Pradopo, Harry Aveling, Arief B. Prasetyo, Ignas Kleden, dan deretan nama yang masih panjang. Orang-orang itu ingin memahami SCB dalam sekian perspektif dan pamrih. “Sudahkah aku (SCB) dipahami?” Pertanyaan itu sampai hari ini terus menemukan jawaban.
Dami N. Toda dengan eksplisit mengakui takdir SCB itu dalam esai Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa. Eksekusi dari Dami N. Toda: Chairil adalah mata kanan dan Sutardji adalah mata kiri dalam perpuisian Indonesia modern.
Takdir itu hadir dalam polemik panjang mengenai kredo dan puisi-puisi SCB. Dami N. Toda adalah pembela militan untuk SCB dengan kepercayaan bahwa puisi-puisi SCB membuktikan pembaruan atau ledakan bom estetika. Kredo SCB menjadi alasan untuk takdir bahwa ada kebenaran estetik menantang alur besar perpuisian Indonesia modern. Kebenaran yang direalisasikan SCB: “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian… Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan diri sendiri.”
Kehadiran kredo dan puisi-puisi SCB menentukan gairah kritik sastra mulai tahun 1970-an dengan pelbagai label dan teori. Dami N. Toda menjadi sosok penting dan menentukan untuk SCB mirip dengan peran H.B. Jassin untuk Chairil Anwar.
Dami N. Toda terus menulis tentang SCB dengan publikasi esai-esai (kritik sastra) penting dan mumpuni dalam kesusastraan Indonesia modern. Peran lain tampak pada sosok Umar Junus yang tekun mengkaji SCB dengan kritis. Umar Junus (1981) pun mengakui takdir SCB dan menilai bahwa kredo dan puisi-puisi (yang) mantra SCB itu menciptakan misteri atas misteri puisi. SCB hadir dengan pamrih emansipasi kata dari tirani dan permainan bahasa dengan kontradiksi-kontradiksi memukau.
Kesibukan tukang kritik mengurusi puisi-puisi SCB, membuat Ajip Rosidi gerah. Ajip Rosidi menuduh sekian tukang kritik terlena dan latah masuk pembicaraan puisi-puisi SCB dengan konsep mantra yang dicantumkan SCB dalam kredo. Ajip Rosidi sekadar menjadi interupsi karena tidak mengeluarkan keringat deras untuk membuat kondisi kritik sastra dan puisi mencapai ekstase.
A. Teeuw dengan analitis menunjukkan kontradiksi-kontradiksi dalam buku Tergantung Pada Kata (1980). A. Teeuw secara genit memberi judul untuk bab SCB dengan ungkapan kotradiktif Terikat dalam Pembebasan Kata. Judul itu adalah vonis utuh A. Teeuw mulai dari asumsi sampai konklusi.
Arus puisi dengan ruh modernitas bergulir sejak Pujangga Baru dan meledak dalam puisi-puisi Chairil Anwar menemukan penantang ampuh yakni SCB. Kredo puisi SCB adalah kekasih dan musuh untuk alur-alur perpuisian Indonesia modern. SCB hadir dengan puisi-puisi dalam tegangan tradisionalitas, modernitas, dan posmodernitas. Puisi-puisi SCB menjadi ledakan dalam kesadaran bahasa dan olahan estetik untuk membuka kemungkinan-kemungkinan struktur dan sistem makna. Kehadiran puisi-puisi SCB itu pun mengingatkan publik atas diri Chairil Anwar melalui revolusi dan pemberian ruh hidup atas potensi bahasa.
Perkara bahasa dalam revolusi Chairil Anwar dan SCB itu membuat Rachmat Djoko Pradopo kena rayuan dengan publikasi penelitian Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern (1985). Penelitian itu menempuh jalan kecil karena cenderung akademis, formalistik, dan struktural. Penelitian itu sejak awal percaya bahwa Chairil Anwar dan SCB adalah pembaharu perpuisian Indonesia modern. Kekuatan dua penyair itu ada dalam permainan dan pengolahan bahasa.
Hal itu menjadi dalil baku Rachmat yang kaku dan kikuk: “Pembicaraan atau analisis puisi itu yang terpenting adalah analisis kebahasaan. Kepuitisan atau nilai estetis sajak itu terutama ditentukan oleh bahasa atau penggarapan bahasanya.”
Takdir SCB belum selesai dalam tulisan-tulisan tukang kritik sebagai malaikat pencatat kebaikan atau keburukan. SCB sebagai takdir masih mendapatkan perhatian dalam esai-esai mutakhir. Polemik SCB mulai tahun 1970-an mayoritas belum berubah dalam perkara-perkara baku kredo dan pencapaian estetika.
Kehadiran O Amuk Kapak jadi lahan tak pernah selesai digarap dan terus menumbuhkan sesuatu untuk dipanen. Buku-buku puisi lain dari SCB selalu jadi penantian tanpa akhir. SCB dengan genit menonton resah dan marah pembaca dan tukang kritik. Radhar Panca Dahana menilai kegenitan SCB menemukan klaim dalam kelakar bahwa O Amuk Kapak adalah puncak. Pertanyaan atas kelakar itu: Apakah SCB mau dan sanggup mencipta puncak-puncak lain?
Takdir yang diciptakan SCB memiliki usia panjang dan aura memukau. Pembacaan dan penilaian Arief B. Prasetyo (2002) atas puisi-puisi SCB menunjukkan kuasa SCB dalam rumah puisi Indonesia modern.
Arief B. Prasetyo merasa pukau SCB itu sejak bocah ingusan sampai ketika sanggup menjadi pembaca puisi yang kritis. Kepercayaan publik bahwa puncak SCB adalah O Amuk Kapak seakan menemukan penguatan pada kecurigaan Arief B. Prasetyo: “Jangan-jangan, justru lantaran telanjur menanggung beban sejarah di pundaknya, Sutardji kelak cuma akan menyulut batang mercon basah dengan buku puisi barunya. Itulah momen mengenaskan…”
Ignas Kleden dalam esai Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri (2007) membuat pembacaan lain dengan kritis. Kleden menilai kredo puisi SCB bukan teori tapi rencana kerja, program, desain, atau tekad. SCB bekerja menulis puisi untuk mencari kebenaran kredo itu. SCB membuktikan itu dengan sekian risiko dan kontradiksi.
Kleden mengakui SCB patut mendapatkan catatan-catatan penting karena sanggup melakukan dekonstruksi dalam konteks bahasa, sastra, dan kebudayaan. SCB memukau dan menggairahkan.
Sekian pembacaan dan penilaian atas puisi-puisi SCB adalah bukti antusiasme dan kerepotan publik dan tukang kritik sastra. SCB sebagai penyair ampuh pun menerima ganjaran-ganjaran besar atau “kutukan indah” dari pelbagai orang dan lembaga. Berita-berita mutakhir menyebutkan bahwa SCB mendapatkan acara-acara fenomenal: perayaan usia ke-66 tahun (14–19 Juli 2007) di TIM (Jakarta); Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (10 Desember 2007); peringatan 67 tahun SCB di Pekanbaru (Riau) dengan penerbitan buku puisi Atau Ngit Cari Agar dan peresmian bulan Juni sebagai “bulan Sutardji”; penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 untuk kesusastraan. SCB adalah takdir membawa berkah. Keren!
* Bandung Mawardi, Kritikus sastra dan peneliti Kabut Institut, Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/apresiasi-sutardji-puisi-takdir.html
Lampung Post, 7 Sep 2008
SUTARDJI Calzoum Bachri (SCB) dengan kalem menuturkan: Pemberian sekian penghargaan dan gelar kehormatan membuatnya malu karena merasa belum bisa berbuat apa-apa. Semua itu takdir.
Tuturan itu hadir karena SCB menjadi penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 bidang kesusastraan.
Pengakuan SCB mengingatkan penulis pada Nietzsche dalam Ecce Homo. Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir dengan arogan mengakui: “Aku tahu takdirku…Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit.”
SCB memiliki kemiripan dengan pengakuan Nietzsche karena SCB dengan berani hadir dengan pembaharuan estetika puisi Indonesia modern. Kehadiran itu memakai kredo ampuh untuk keimanan atas realisasi pencapaian estetika. SCB menobatkan diri sendiri sebagai “dinamit” yang membuat ledakan besar dalam perpuisian Indonesia modern. Ledakan itu adalah O Amuk Kapak sebagai takdir penyair dan puisi.
SCB sejak awal mulai membuat takdir dan menciptakan kesempurnaan takdir itu dalam perbenturan dan konfrontasi besar dengan pembaca dan kondisi zaman. Orang-orang pun sejak itu mulai menaruh perhatian untuk ikhtiar memahami SCB dan puisi-puisinya. Sampai hari ini SCB belum selesai terpahami. SCB berlaku seperti Nietzsche yang selalu menanyakan: “Sudahkah aku dipahami?”
Pertanyaan itu dalam kasus SCB terus menemukan sekian jawaban dari A. Teeuw, Dami N. Toda, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Umar Junus, Goenawan Mohamad, Rachmat Djoko Pradopo, Harry Aveling, Arief B. Prasetyo, Ignas Kleden, dan deretan nama yang masih panjang. Orang-orang itu ingin memahami SCB dalam sekian perspektif dan pamrih. “Sudahkah aku (SCB) dipahami?” Pertanyaan itu sampai hari ini terus menemukan jawaban.
Dami N. Toda dengan eksplisit mengakui takdir SCB itu dalam esai Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa. Eksekusi dari Dami N. Toda: Chairil adalah mata kanan dan Sutardji adalah mata kiri dalam perpuisian Indonesia modern.
Takdir itu hadir dalam polemik panjang mengenai kredo dan puisi-puisi SCB. Dami N. Toda adalah pembela militan untuk SCB dengan kepercayaan bahwa puisi-puisi SCB membuktikan pembaruan atau ledakan bom estetika. Kredo SCB menjadi alasan untuk takdir bahwa ada kebenaran estetik menantang alur besar perpuisian Indonesia modern. Kebenaran yang direalisasikan SCB: “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian… Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan diri sendiri.”
Kehadiran kredo dan puisi-puisi SCB menentukan gairah kritik sastra mulai tahun 1970-an dengan pelbagai label dan teori. Dami N. Toda menjadi sosok penting dan menentukan untuk SCB mirip dengan peran H.B. Jassin untuk Chairil Anwar.
Dami N. Toda terus menulis tentang SCB dengan publikasi esai-esai (kritik sastra) penting dan mumpuni dalam kesusastraan Indonesia modern. Peran lain tampak pada sosok Umar Junus yang tekun mengkaji SCB dengan kritis. Umar Junus (1981) pun mengakui takdir SCB dan menilai bahwa kredo dan puisi-puisi (yang) mantra SCB itu menciptakan misteri atas misteri puisi. SCB hadir dengan pamrih emansipasi kata dari tirani dan permainan bahasa dengan kontradiksi-kontradiksi memukau.
Kesibukan tukang kritik mengurusi puisi-puisi SCB, membuat Ajip Rosidi gerah. Ajip Rosidi menuduh sekian tukang kritik terlena dan latah masuk pembicaraan puisi-puisi SCB dengan konsep mantra yang dicantumkan SCB dalam kredo. Ajip Rosidi sekadar menjadi interupsi karena tidak mengeluarkan keringat deras untuk membuat kondisi kritik sastra dan puisi mencapai ekstase.
A. Teeuw dengan analitis menunjukkan kontradiksi-kontradiksi dalam buku Tergantung Pada Kata (1980). A. Teeuw secara genit memberi judul untuk bab SCB dengan ungkapan kotradiktif Terikat dalam Pembebasan Kata. Judul itu adalah vonis utuh A. Teeuw mulai dari asumsi sampai konklusi.
Arus puisi dengan ruh modernitas bergulir sejak Pujangga Baru dan meledak dalam puisi-puisi Chairil Anwar menemukan penantang ampuh yakni SCB. Kredo puisi SCB adalah kekasih dan musuh untuk alur-alur perpuisian Indonesia modern. SCB hadir dengan puisi-puisi dalam tegangan tradisionalitas, modernitas, dan posmodernitas. Puisi-puisi SCB menjadi ledakan dalam kesadaran bahasa dan olahan estetik untuk membuka kemungkinan-kemungkinan struktur dan sistem makna. Kehadiran puisi-puisi SCB itu pun mengingatkan publik atas diri Chairil Anwar melalui revolusi dan pemberian ruh hidup atas potensi bahasa.
Perkara bahasa dalam revolusi Chairil Anwar dan SCB itu membuat Rachmat Djoko Pradopo kena rayuan dengan publikasi penelitian Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern (1985). Penelitian itu menempuh jalan kecil karena cenderung akademis, formalistik, dan struktural. Penelitian itu sejak awal percaya bahwa Chairil Anwar dan SCB adalah pembaharu perpuisian Indonesia modern. Kekuatan dua penyair itu ada dalam permainan dan pengolahan bahasa.
Hal itu menjadi dalil baku Rachmat yang kaku dan kikuk: “Pembicaraan atau analisis puisi itu yang terpenting adalah analisis kebahasaan. Kepuitisan atau nilai estetis sajak itu terutama ditentukan oleh bahasa atau penggarapan bahasanya.”
Takdir SCB belum selesai dalam tulisan-tulisan tukang kritik sebagai malaikat pencatat kebaikan atau keburukan. SCB sebagai takdir masih mendapatkan perhatian dalam esai-esai mutakhir. Polemik SCB mulai tahun 1970-an mayoritas belum berubah dalam perkara-perkara baku kredo dan pencapaian estetika.
Kehadiran O Amuk Kapak jadi lahan tak pernah selesai digarap dan terus menumbuhkan sesuatu untuk dipanen. Buku-buku puisi lain dari SCB selalu jadi penantian tanpa akhir. SCB dengan genit menonton resah dan marah pembaca dan tukang kritik. Radhar Panca Dahana menilai kegenitan SCB menemukan klaim dalam kelakar bahwa O Amuk Kapak adalah puncak. Pertanyaan atas kelakar itu: Apakah SCB mau dan sanggup mencipta puncak-puncak lain?
Takdir yang diciptakan SCB memiliki usia panjang dan aura memukau. Pembacaan dan penilaian Arief B. Prasetyo (2002) atas puisi-puisi SCB menunjukkan kuasa SCB dalam rumah puisi Indonesia modern.
Arief B. Prasetyo merasa pukau SCB itu sejak bocah ingusan sampai ketika sanggup menjadi pembaca puisi yang kritis. Kepercayaan publik bahwa puncak SCB adalah O Amuk Kapak seakan menemukan penguatan pada kecurigaan Arief B. Prasetyo: “Jangan-jangan, justru lantaran telanjur menanggung beban sejarah di pundaknya, Sutardji kelak cuma akan menyulut batang mercon basah dengan buku puisi barunya. Itulah momen mengenaskan…”
Ignas Kleden dalam esai Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri (2007) membuat pembacaan lain dengan kritis. Kleden menilai kredo puisi SCB bukan teori tapi rencana kerja, program, desain, atau tekad. SCB bekerja menulis puisi untuk mencari kebenaran kredo itu. SCB membuktikan itu dengan sekian risiko dan kontradiksi.
Kleden mengakui SCB patut mendapatkan catatan-catatan penting karena sanggup melakukan dekonstruksi dalam konteks bahasa, sastra, dan kebudayaan. SCB memukau dan menggairahkan.
Sekian pembacaan dan penilaian atas puisi-puisi SCB adalah bukti antusiasme dan kerepotan publik dan tukang kritik sastra. SCB sebagai penyair ampuh pun menerima ganjaran-ganjaran besar atau “kutukan indah” dari pelbagai orang dan lembaga. Berita-berita mutakhir menyebutkan bahwa SCB mendapatkan acara-acara fenomenal: perayaan usia ke-66 tahun (14–19 Juli 2007) di TIM (Jakarta); Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (10 Desember 2007); peringatan 67 tahun SCB di Pekanbaru (Riau) dengan penerbitan buku puisi Atau Ngit Cari Agar dan peresmian bulan Juni sebagai “bulan Sutardji”; penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 untuk kesusastraan. SCB adalah takdir membawa berkah. Keren!
* Bandung Mawardi, Kritikus sastra dan peneliti Kabut Institut, Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/apresiasi-sutardji-puisi-takdir.html
Senin, 21 Maret 2011
Godaan Puisi Dalam Politik
Bandung Mawardi*
Pikiran Rakyat, 23 Agus 2008
KONDISI politik Indonesia mulai masuk dalam dunia kata dan imajinasi. Perdebatan dalam wacana pemimpin tua dan muda menjadi ramai dengan sekian pernyataan politik dalam konstruksi bahasa imajinatif. Puisi menjadi pilihan untuk merumuskan pemikiran atas konsep kekuasaan dengan pertimbangan efek estetika dan sosial-politik.
Berita mengejutkan muncul dari Tifatul Sembiring (Presiden PKS) yang membacakan “Mega Pantun” di Bandung (Senin, 2 Agustus 2008) untuk memberi tanggapan balik dan tantangan pada Megawati Soekarnoputri. Pantun itu lahir dari tegangan perdebatan politik mengenai pemilihan presiden 2009 dalam konteks kaum muda dan kaum tua. Kehadiran pantun itu menjadi sesuatu yang unik dan menggelitik sebab tradisi politik Indonesia sejak Orde Baru selalu terkungkung dalam bahasa-bahasa formal dan retorika kaku.
Tifatul Sembiring mengungkapkan bahwa pembacaan pantun itu untuk merespons semua capres. Tifatul dengan eksplisit hendak mengambil posisi beda dari perdebatan panas antarcapres dengan pernyataan-pernyataan politis. Penempatan pantun sebagai hiburan tentu menjadi fenomena menarik dalam perpolitikan Indonesia. Tifatul memberi kesadaran kritis bahwa dalam arus dan alur politik Indonesia membutuhkan hiburan. Hiburan itu dalam pengertian Tifatul adalah pantun politik.
Inilah petikan pantun politik dari Tifatul Sembiring: Anak balita bertopi merah / Topi terbuat dari bahan katun / Daripada ibu jadi pemarah / Lebih baik kita berbalas pantun // Jadi pemimpin mesti telaten / Sambangi rakyat yang tak berbaju / Kalau ibu nak jadi presiden / Monggo kerso silakan maju // Buat apa pergi ke seberang / Airnya susu banyak berbatu / Buat apa melarang orang / Dah terbayang kursi RI satu. Apa pantun ini patut dibaca dan sekadar ditafsirkan sebagai hiburan? Tifatul Sembiring memang genit untuk masuk dalam perdebatan politik yang penuh godaan dan risiko untuk wacana pilihan presiden 2009. Pantun itu lebih dari sekadar hiburan sebab ada substansi mengenai ide, kritik, dan kepentingan politik.
Mengapa Tifatul memilih bentuk pantun? Pertanyaan ini patut diajukan untuk mengetahui peran pantun itu dalam konteks estetika dan politik. Pantun memang memiliki sistem longgar untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran. Pantun dengan konvensi-konvensi estetika (sampiran dan isi) memungkinkan seseorang dengan lihai memainkan bahasa dan imajinasi. Tifatul dengan canggih memilih bentuk pantun itu untuk pengungkapan terbuka dengan tingkat sensitivitas politik yang tinggi. Pantun mungkin jadi juru bicara ampuh untuk Tifatul ketimbang dia membaca teks pidato atau menulis risalah politik untuk publik. Pantun satu sisi menjadi representasi pandangan politik dan di sisi lain menjadi kesadaran estetis pemain politik untuk sadar bahasa dan imajinasi.
Fenomena puisi (pantun) masuk politik memang sesuatu yang masih ganjil untuk konteks Indonesia. Ignas Kleden (Menulis Politik: Indonesia sebagai Utopia, 2001) mengingatkan bahwa puisi dan politik berada dalam ambivalensi yang sama. Puisi dan politik berjumpa dalam serba kemungkinan. Ignas Kladen memberi suatu pemahaman historis bahwa politik mulai zaman Bismarck adalah seni kemungkinan (the art of the possible) dan puisi mulai zaman Aristoteles adalah dunia kemungkinan (the wordl of the possible). Pembayangan Ignas Kleden atas kondisi Indonesia adalah politik sebagai seni kemungkinan bisa menemukan dirinya kembali dalam puisi sebagai dunia kemungkinan.
Pantun politik Tifatul adalah lanjutan dari fragmen politik mutakhir. Kesadaran estetika dan imajinasi dalam lakon politik Indonesia mulai eksplisit melalui iklan-iklan politik dan agenda-agenda politik-kebudayaan. Fenomena mengejutkan mulai kentara pada penampilan iklan politik Sutrisno Bachir (Ketua Umum PAN) menjelang puncak peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Iklan politik itu eksplisit menghadirkan kesadaran estetika dengan pemakaian referensi puisi “Diponegoro” dari Chairil Anwar. Kutipan penting untuk roh iklan politik itu: “Sekali berarti, sudah itu mati.”
Ungkapan itu menjadi acuan untuk interpretasi politis: “sekali berarti” adalah sebuah penegasan bahwa esensi kehidupan adalah perbuatan, kehendak untuk mencipta, dorongan untuk memberi yang terbaik, serta semangat untuk menjawab tantangan zaman. Tafsir itu hendak mencitrakan sosok dan pandangan Sutrisno Bachir mengenai kondisi Indonesia. Sutrisno Bachir lalu dengan taktis memakai ungkapan “hidup adalah perbuatan” sebagai aporisma politik yang estetis dan imajinatif dalam konteks politik. Iklan politik itu jadi bukti kontribusi Sutrisno dalam konstruksi politik Indonesia mutakhir dengan referensi puisi Chairil Anwar dan kesadaran atas imajinasi politik.
Pencitraan Sutrino Bachir dalam iklan politik merupakan realisasi dari kerja sama dengan tim produksi dari Rizal. Sentuhan-sentuhan estetika itu mungkin berasal dari Rizal untuk memberi karakteristik kuat dan implikatif. Iklan politik itu memang sanggup menjadi pusat perhatian publik dan memberi kesan progresif dalam penggarapan iklan sesuai dengan wacana kebudayaan visual mutakhir. Iklan politik dengan referensi puisi mulai mendapatkan perhatian besar dari pemain politik dan publik.
Kesadaran estetis dan imajinasi politik pun kentara dalam iklan politik Rizal Mallarangeng yang memutuskan untuk maju sebagai calon presiden. Aporisma terkenal dari Rizal adalah “If there is a will there is a way” (Jika ada kemauan, selalu ada jalan terbuka). Rizal dengan sadar memilih karakter estetik untuk menjadi jembatan dalam komunikasi dengan publik. Kesadaran itu mulai mengesankan kekuatan dan identitas intelektual dalam pemakaian bahasa Inggris. Rizal cenderung menampilkan diri sebagai sosok intelektual yang patut untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Pemakaian bahasa Inggris itu mungkin terasa paradoks dengan kondisi masyarakat literasi Indonesia yang terbiasa masuk dalam wacana politik dengan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris memang belum lazim untuk jadi pilihan komunikasi politik dengan publik.
Citra intelektual Rizal mungkin pengaruh selama studi dan menjadi pengajar di Amerika Serikat. Pengaruh itu semakin kentara dengan referensi puisi yang dihadirkan Rizal dalam advertorial di koran nasional. Advertorial dengan judul “Surat buat Semua” mencantumkan kutipan puisi dari penyair Robert Frost dari Amerika. Proses atau jalan politik yang ditempuh Rizal dalam perpolitikan Indonesia ingin menemukan pembenaran dengan acuan ungkapan terkenal dari Robert Frost: “This is a road less-traveled bay”. Rizal dengan kutipan puisi itu membayangkan bahwa ada pertemuan imajinasi dan kondisi riil dalam politik Indonesia.
Sutrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng memosisikan diri sebagai pemain dengan referensi puisi. Posisi itu berbeda dengan Tifatul Sembiring yang berani menjadi pemain dengan pantun politik. Tifatul memang selama ini tidak dikenal sebagai penyair, tetapi kehadiran pantun politik itu membuktikan kesanggupan dan kesadaran Tifatul bahwa politik butuh imajinasi atau permainan bahasa yang estetis. Pemain (capres) lain yang belum tampil terbuka dengan iklan politik atau puisi adalah M. Fadjroel Rachman dan Ratna Sarumpaet. M. Fadjroel Rachman memang seorang penyair, esais, dan novelis. Kompetensi sastra itu itu belum jadi juru bicara ampuh dalam komunikasi politik meski Fadjroel Rachman sebelum pencalonan diri sudah menerbitkan buku kumpulan puisi Catatan Bawah Tanah (1993) dan Sejarah Lari Tergesa (2004). Ratna Sarumpaet sebagai seniman yang intens dalam teater dan sempat mengurusi Dewan Kesenian Jakarta juga belum hadir dengan puisi untuk komunikasi politik dengan publik.
Politik Indonesia menjadi ramai dan imajinatif dengan puisi. Pemakaian bahasa dengan bentuk puisi bisa melawan (menandingi) kodifikasi bahasa politik Indonesia yang selama ini cenderung kaku, formal, dan prosais. Politik menjadi pelangi dan reflektif karena puisi memberi hak untuk sekian interpretasi dengan tegangan teks dan realitas. Begitu.***
*) Peneliti Kabut Institut (Solo)
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/esai-godaan-puisi-dalam-politik.html
Pikiran Rakyat, 23 Agus 2008
KONDISI politik Indonesia mulai masuk dalam dunia kata dan imajinasi. Perdebatan dalam wacana pemimpin tua dan muda menjadi ramai dengan sekian pernyataan politik dalam konstruksi bahasa imajinatif. Puisi menjadi pilihan untuk merumuskan pemikiran atas konsep kekuasaan dengan pertimbangan efek estetika dan sosial-politik.
Berita mengejutkan muncul dari Tifatul Sembiring (Presiden PKS) yang membacakan “Mega Pantun” di Bandung (Senin, 2 Agustus 2008) untuk memberi tanggapan balik dan tantangan pada Megawati Soekarnoputri. Pantun itu lahir dari tegangan perdebatan politik mengenai pemilihan presiden 2009 dalam konteks kaum muda dan kaum tua. Kehadiran pantun itu menjadi sesuatu yang unik dan menggelitik sebab tradisi politik Indonesia sejak Orde Baru selalu terkungkung dalam bahasa-bahasa formal dan retorika kaku.
Tifatul Sembiring mengungkapkan bahwa pembacaan pantun itu untuk merespons semua capres. Tifatul dengan eksplisit hendak mengambil posisi beda dari perdebatan panas antarcapres dengan pernyataan-pernyataan politis. Penempatan pantun sebagai hiburan tentu menjadi fenomena menarik dalam perpolitikan Indonesia. Tifatul memberi kesadaran kritis bahwa dalam arus dan alur politik Indonesia membutuhkan hiburan. Hiburan itu dalam pengertian Tifatul adalah pantun politik.
Inilah petikan pantun politik dari Tifatul Sembiring: Anak balita bertopi merah / Topi terbuat dari bahan katun / Daripada ibu jadi pemarah / Lebih baik kita berbalas pantun // Jadi pemimpin mesti telaten / Sambangi rakyat yang tak berbaju / Kalau ibu nak jadi presiden / Monggo kerso silakan maju // Buat apa pergi ke seberang / Airnya susu banyak berbatu / Buat apa melarang orang / Dah terbayang kursi RI satu. Apa pantun ini patut dibaca dan sekadar ditafsirkan sebagai hiburan? Tifatul Sembiring memang genit untuk masuk dalam perdebatan politik yang penuh godaan dan risiko untuk wacana pilihan presiden 2009. Pantun itu lebih dari sekadar hiburan sebab ada substansi mengenai ide, kritik, dan kepentingan politik.
Mengapa Tifatul memilih bentuk pantun? Pertanyaan ini patut diajukan untuk mengetahui peran pantun itu dalam konteks estetika dan politik. Pantun memang memiliki sistem longgar untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran. Pantun dengan konvensi-konvensi estetika (sampiran dan isi) memungkinkan seseorang dengan lihai memainkan bahasa dan imajinasi. Tifatul dengan canggih memilih bentuk pantun itu untuk pengungkapan terbuka dengan tingkat sensitivitas politik yang tinggi. Pantun mungkin jadi juru bicara ampuh untuk Tifatul ketimbang dia membaca teks pidato atau menulis risalah politik untuk publik. Pantun satu sisi menjadi representasi pandangan politik dan di sisi lain menjadi kesadaran estetis pemain politik untuk sadar bahasa dan imajinasi.
Fenomena puisi (pantun) masuk politik memang sesuatu yang masih ganjil untuk konteks Indonesia. Ignas Kleden (Menulis Politik: Indonesia sebagai Utopia, 2001) mengingatkan bahwa puisi dan politik berada dalam ambivalensi yang sama. Puisi dan politik berjumpa dalam serba kemungkinan. Ignas Kladen memberi suatu pemahaman historis bahwa politik mulai zaman Bismarck adalah seni kemungkinan (the art of the possible) dan puisi mulai zaman Aristoteles adalah dunia kemungkinan (the wordl of the possible). Pembayangan Ignas Kleden atas kondisi Indonesia adalah politik sebagai seni kemungkinan bisa menemukan dirinya kembali dalam puisi sebagai dunia kemungkinan.
Pantun politik Tifatul adalah lanjutan dari fragmen politik mutakhir. Kesadaran estetika dan imajinasi dalam lakon politik Indonesia mulai eksplisit melalui iklan-iklan politik dan agenda-agenda politik-kebudayaan. Fenomena mengejutkan mulai kentara pada penampilan iklan politik Sutrisno Bachir (Ketua Umum PAN) menjelang puncak peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Iklan politik itu eksplisit menghadirkan kesadaran estetika dengan pemakaian referensi puisi “Diponegoro” dari Chairil Anwar. Kutipan penting untuk roh iklan politik itu: “Sekali berarti, sudah itu mati.”
Ungkapan itu menjadi acuan untuk interpretasi politis: “sekali berarti” adalah sebuah penegasan bahwa esensi kehidupan adalah perbuatan, kehendak untuk mencipta, dorongan untuk memberi yang terbaik, serta semangat untuk menjawab tantangan zaman. Tafsir itu hendak mencitrakan sosok dan pandangan Sutrisno Bachir mengenai kondisi Indonesia. Sutrisno Bachir lalu dengan taktis memakai ungkapan “hidup adalah perbuatan” sebagai aporisma politik yang estetis dan imajinatif dalam konteks politik. Iklan politik itu jadi bukti kontribusi Sutrisno dalam konstruksi politik Indonesia mutakhir dengan referensi puisi Chairil Anwar dan kesadaran atas imajinasi politik.
Pencitraan Sutrino Bachir dalam iklan politik merupakan realisasi dari kerja sama dengan tim produksi dari Rizal. Sentuhan-sentuhan estetika itu mungkin berasal dari Rizal untuk memberi karakteristik kuat dan implikatif. Iklan politik itu memang sanggup menjadi pusat perhatian publik dan memberi kesan progresif dalam penggarapan iklan sesuai dengan wacana kebudayaan visual mutakhir. Iklan politik dengan referensi puisi mulai mendapatkan perhatian besar dari pemain politik dan publik.
Kesadaran estetis dan imajinasi politik pun kentara dalam iklan politik Rizal Mallarangeng yang memutuskan untuk maju sebagai calon presiden. Aporisma terkenal dari Rizal adalah “If there is a will there is a way” (Jika ada kemauan, selalu ada jalan terbuka). Rizal dengan sadar memilih karakter estetik untuk menjadi jembatan dalam komunikasi dengan publik. Kesadaran itu mulai mengesankan kekuatan dan identitas intelektual dalam pemakaian bahasa Inggris. Rizal cenderung menampilkan diri sebagai sosok intelektual yang patut untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Pemakaian bahasa Inggris itu mungkin terasa paradoks dengan kondisi masyarakat literasi Indonesia yang terbiasa masuk dalam wacana politik dengan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris memang belum lazim untuk jadi pilihan komunikasi politik dengan publik.
Citra intelektual Rizal mungkin pengaruh selama studi dan menjadi pengajar di Amerika Serikat. Pengaruh itu semakin kentara dengan referensi puisi yang dihadirkan Rizal dalam advertorial di koran nasional. Advertorial dengan judul “Surat buat Semua” mencantumkan kutipan puisi dari penyair Robert Frost dari Amerika. Proses atau jalan politik yang ditempuh Rizal dalam perpolitikan Indonesia ingin menemukan pembenaran dengan acuan ungkapan terkenal dari Robert Frost: “This is a road less-traveled bay”. Rizal dengan kutipan puisi itu membayangkan bahwa ada pertemuan imajinasi dan kondisi riil dalam politik Indonesia.
Sutrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng memosisikan diri sebagai pemain dengan referensi puisi. Posisi itu berbeda dengan Tifatul Sembiring yang berani menjadi pemain dengan pantun politik. Tifatul memang selama ini tidak dikenal sebagai penyair, tetapi kehadiran pantun politik itu membuktikan kesanggupan dan kesadaran Tifatul bahwa politik butuh imajinasi atau permainan bahasa yang estetis. Pemain (capres) lain yang belum tampil terbuka dengan iklan politik atau puisi adalah M. Fadjroel Rachman dan Ratna Sarumpaet. M. Fadjroel Rachman memang seorang penyair, esais, dan novelis. Kompetensi sastra itu itu belum jadi juru bicara ampuh dalam komunikasi politik meski Fadjroel Rachman sebelum pencalonan diri sudah menerbitkan buku kumpulan puisi Catatan Bawah Tanah (1993) dan Sejarah Lari Tergesa (2004). Ratna Sarumpaet sebagai seniman yang intens dalam teater dan sempat mengurusi Dewan Kesenian Jakarta juga belum hadir dengan puisi untuk komunikasi politik dengan publik.
Politik Indonesia menjadi ramai dan imajinatif dengan puisi. Pemakaian bahasa dengan bentuk puisi bisa melawan (menandingi) kodifikasi bahasa politik Indonesia yang selama ini cenderung kaku, formal, dan prosais. Politik menjadi pelangi dan reflektif karena puisi memberi hak untuk sekian interpretasi dengan tegangan teks dan realitas. Begitu.***
*) Peneliti Kabut Institut (Solo)
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/esai-godaan-puisi-dalam-politik.html
Rabu, 16 Maret 2011
Menguak Sejarah Sastra di Indonesia
Judul : Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa
Penulis : Claudine Salmon
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetak : Desember 2010
Tebal : 562 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/
Lembaran-lembaran sejarah sastra di Indonesia ingin disingkapkan dengan sorotan kritis dan reflektif. Claudine Salmon mengantarkan pembaca pada petualangan teks sastra, pengenalan biografi-biografi kecil, dan pemahaman atas latar zaman saat proyek literasi disemaikan di Indonesia pada abad XIX dan XX. Ikhtiar menarasaikan jejak-jejak sejarah sastra awal memang bisa mengejutkan, menyulut curiga, dan melegakan kehausan historis para pembaca sastra. Penelusuran sastra dari kalangan Tionghoa-Peranakan ini seolah jagat misteri dalam produksi buku-buku sejarah sastra ala A. Teeuw, H.B. Jassin, Bakrie Siregar, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, dan Jakob Sumardjo.
Dua puluh esai dalam buku ini memunculkan pikat untuk pembayangan atas nasib sastra dari zaman ke zaman. Keberadaan surat kabar, industri buku, dan komunitas literasi memberi bukti tentang gairah sastra di Indonesia oleh kalangan pengarang dan pembaca Tionghoa-Peranakan. Mereka menjadi pemula dari agenda penerjemahan-penyaduran sastra dari China dan Barat. Penulisan sastra dalam bentuk syair, cerita bersambung, drama, dan novel juga dipelopori oleh mereka sebagai konsekuensi modernisasi di Hindia Belanda. Sastra menjadi bagian dari perubahan sosial-kultural-politik dan kalangan peranakan menjalankan peran strategis untuk mengobarkan gairah literasi di negeri terjajah.
Claudine Salmon mengajukan esai Awal Sastra Melayu-Tionghoa Dicerminkan oleh Sebuah Syair Iklan Tahun 1886. Informasi produksi dan perkembangan sastra terekam dalam iklan tapi masih diselimuti oleh misteri. Pelbagai novel di iklan dan pengarang belum bisa diketahui gamblang. Iklan ini memang membuat penasaran karena sejumlah informasi tentang minat sastra dan pergaulan masyarakat di Hindia Belanda dengan khasanah sastra dunia dan sastra China klasik. Iklan sastra menguak asal-mula kesusastraan Melayu-Tionghoa dalam bentuk cetakan, jumlah penerjemahan roman Tionghoa dalam bahasa Melayu, dan model-model pendahulu kesusastraan Indonesia modern.
Iklan itu ditulis oleh Ting Sam Sien di Semarang (1886) dalam bentuk syair Melayu. Ada 41 buku cerita ditawarkan dalam iklan dengan penjelasan dan perincian untuk kepentingan penjualan. Simaklah petikan iklan sastra ini: Banjak lah tabe hormat besrenta,/ Pada pembatja sekalian rata,/ Dari hal segala boekoe tjerita,/ Njang ada terdojoewal di toko kita// Di bawah ini saja menbrita,/ Pada sekalian pembatja kita,/ Dari hal segala boekoe teherita,/ Harganja djoega poen ada besrenta. Makna iklan ini adalah mengawali dari proses pengenalan roman dan penulisan sastra dalam unsur kelokalan. Kelahiran roman Sitti Nurbaya (1922) oleh Marah Rusli kemungkinan turut dipengaruhi oleh jejak-jejak awal dari produksi buku cerita di kalangan Tionghoa-Peranakan.
Claudine Salmon juga menengarai perkembangan penerbitan dalam bahasa Belanda dan Melayu-Tionghoa pada 1880-an merupakan momentum penting dalam sejarah kesusastraan Melayu di Jawa. Industri penerbitan adalah basis dalam pembentukan masyarakat literasi. Kondisi ini menjadi latar dari kelahiran novel Melayu-Tionghoa Thijt Liap Seng (Bintang Toedjoeh) oleh Lie Kim Hok. Novel ini diduga merupakan olahan-campuran dari dua novel Eropa: Klaasje Zevenster karangan J. van Lennep (1902-1868) dan Les Tribulations d’un Chinois en Chine karangan Jules Verne (1828-1905). Penerbitan novel Thijt Liap Seng (Bintang Toedjoeh) diduga menjadi pemula dari sastra Melayu-Tionghoa. Penemuan dan pengakuan ini memang jauh dari pengetahuan publik sastra karena data-data tentang novel dan pengarang masih susah dijelaskan.
Kerja penelitian Claudine Salmon dalam buku ini tampak mozaik ketimbang buku Sastra China Peranakan dalam Bahasa Melayu (1985). Esai-esai dalam Sastra Indonesia Awal kentara memberi multiperspektif untuk meletakkan dan memaknai sastra dalam pelbagai konteks. Penulisan sebuah novel, profil, dan aktivitas pengarang, industri percetakan, dan pers menjadi sumber-sumber informasi untuk pengayaan memahami sastra dan situasi zaman. Pembacaan dan penjelasan Claudine Salmon mirip pengumpulan serakan-serakan data untuk dinarasikan dengan naluri historis. Model ini mengesankan pembaca sanggup memasuki labirin sejarah sastra Indonesia awal dengan gairah dan khusyuk.
Uraian memikat tampil dalam esai Masyarakat Pribumi Indonesia di Mata Penulis Keturunan Tionghoa (1920-1941). Esai ini menandai ada limpahan pengetahuan melalui sastra untuk membaca dan mengenali konstruksi identitas, transformasi sosial-kutlural, dan narasi politis dalam pengisahan. Novel-novel produksi penulis keturunan Tionghoa sanggup merekam, mendefinisikan, dan menebar tendensi untuk memerkarakan kalangan pribumi. Aksara menjadi representasi dari lakon hidup pribumi. Kisah menjelma pengimajinasian hidup dan biografi kaum pribumi.
Sekian novel dengan kisah kaum pribumi, antara lain Oey Se (Thio Tjien Boen), Lo Fen Koei (Gouw Peng Liang), Pertjintahan dalam Halimoen (Numa), dan Djeritan di Ladang Soenji (Tan Sioe Tjhay). Gambaran tentang kehidupan kaum priyayi dan pembaratan di Jawa dikisahkan dalam Boeat Apa Ada Doenia (1929) karangan Njoo Cheong Seng. Model pendidikan ala Barat telah membuat kaum priyayi mengalami dilema secara kultural, sosial, ekonomi, dan politik. Pembaratan berlangsung dan mengalir dalam diri priyayi. Pemahaman atas nilai-nilai tradisional kejawaan bertarung dengan indoktrinasi nilai-nilai Barat melalui jalur pendidikan, pers, dan institusi politik. Contoh kecil ini memberi pengertian bahwa konsentrasi dan kerja riset Claudine Salmon kerap dihadapkan pada keringat tafsiran karena kelangkaan sumber data.
Buku ini pantas menjadi sandaran untuk kembali merenungi kronik sastra dan pemahaman publik terhadap kontribusi kaum Tionghoa-Peranakan dalam pertumbuhan sastra di Indonesia. Sejarah resmi sastra memang jarang memberi ruang untuk mereka. Pembahasan mendalam tentang signifikansi sastra dan geliat zaman melalui sastra produksi mereka juga jarang disuarakan. Claudine Salmon menyapa pembaca untuk melakukan petualangan kritis dalam membuka dan menulis lagi di lembaran-lembaran sejarah sastra.
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Penulis : Claudine Salmon
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetak : Desember 2010
Tebal : 562 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/
Lembaran-lembaran sejarah sastra di Indonesia ingin disingkapkan dengan sorotan kritis dan reflektif. Claudine Salmon mengantarkan pembaca pada petualangan teks sastra, pengenalan biografi-biografi kecil, dan pemahaman atas latar zaman saat proyek literasi disemaikan di Indonesia pada abad XIX dan XX. Ikhtiar menarasaikan jejak-jejak sejarah sastra awal memang bisa mengejutkan, menyulut curiga, dan melegakan kehausan historis para pembaca sastra. Penelusuran sastra dari kalangan Tionghoa-Peranakan ini seolah jagat misteri dalam produksi buku-buku sejarah sastra ala A. Teeuw, H.B. Jassin, Bakrie Siregar, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, dan Jakob Sumardjo.
Dua puluh esai dalam buku ini memunculkan pikat untuk pembayangan atas nasib sastra dari zaman ke zaman. Keberadaan surat kabar, industri buku, dan komunitas literasi memberi bukti tentang gairah sastra di Indonesia oleh kalangan pengarang dan pembaca Tionghoa-Peranakan. Mereka menjadi pemula dari agenda penerjemahan-penyaduran sastra dari China dan Barat. Penulisan sastra dalam bentuk syair, cerita bersambung, drama, dan novel juga dipelopori oleh mereka sebagai konsekuensi modernisasi di Hindia Belanda. Sastra menjadi bagian dari perubahan sosial-kultural-politik dan kalangan peranakan menjalankan peran strategis untuk mengobarkan gairah literasi di negeri terjajah.
Claudine Salmon mengajukan esai Awal Sastra Melayu-Tionghoa Dicerminkan oleh Sebuah Syair Iklan Tahun 1886. Informasi produksi dan perkembangan sastra terekam dalam iklan tapi masih diselimuti oleh misteri. Pelbagai novel di iklan dan pengarang belum bisa diketahui gamblang. Iklan ini memang membuat penasaran karena sejumlah informasi tentang minat sastra dan pergaulan masyarakat di Hindia Belanda dengan khasanah sastra dunia dan sastra China klasik. Iklan sastra menguak asal-mula kesusastraan Melayu-Tionghoa dalam bentuk cetakan, jumlah penerjemahan roman Tionghoa dalam bahasa Melayu, dan model-model pendahulu kesusastraan Indonesia modern.
Iklan itu ditulis oleh Ting Sam Sien di Semarang (1886) dalam bentuk syair Melayu. Ada 41 buku cerita ditawarkan dalam iklan dengan penjelasan dan perincian untuk kepentingan penjualan. Simaklah petikan iklan sastra ini: Banjak lah tabe hormat besrenta,/ Pada pembatja sekalian rata,/ Dari hal segala boekoe tjerita,/ Njang ada terdojoewal di toko kita// Di bawah ini saja menbrita,/ Pada sekalian pembatja kita,/ Dari hal segala boekoe teherita,/ Harganja djoega poen ada besrenta. Makna iklan ini adalah mengawali dari proses pengenalan roman dan penulisan sastra dalam unsur kelokalan. Kelahiran roman Sitti Nurbaya (1922) oleh Marah Rusli kemungkinan turut dipengaruhi oleh jejak-jejak awal dari produksi buku cerita di kalangan Tionghoa-Peranakan.
Claudine Salmon juga menengarai perkembangan penerbitan dalam bahasa Belanda dan Melayu-Tionghoa pada 1880-an merupakan momentum penting dalam sejarah kesusastraan Melayu di Jawa. Industri penerbitan adalah basis dalam pembentukan masyarakat literasi. Kondisi ini menjadi latar dari kelahiran novel Melayu-Tionghoa Thijt Liap Seng (Bintang Toedjoeh) oleh Lie Kim Hok. Novel ini diduga merupakan olahan-campuran dari dua novel Eropa: Klaasje Zevenster karangan J. van Lennep (1902-1868) dan Les Tribulations d’un Chinois en Chine karangan Jules Verne (1828-1905). Penerbitan novel Thijt Liap Seng (Bintang Toedjoeh) diduga menjadi pemula dari sastra Melayu-Tionghoa. Penemuan dan pengakuan ini memang jauh dari pengetahuan publik sastra karena data-data tentang novel dan pengarang masih susah dijelaskan.
Kerja penelitian Claudine Salmon dalam buku ini tampak mozaik ketimbang buku Sastra China Peranakan dalam Bahasa Melayu (1985). Esai-esai dalam Sastra Indonesia Awal kentara memberi multiperspektif untuk meletakkan dan memaknai sastra dalam pelbagai konteks. Penulisan sebuah novel, profil, dan aktivitas pengarang, industri percetakan, dan pers menjadi sumber-sumber informasi untuk pengayaan memahami sastra dan situasi zaman. Pembacaan dan penjelasan Claudine Salmon mirip pengumpulan serakan-serakan data untuk dinarasikan dengan naluri historis. Model ini mengesankan pembaca sanggup memasuki labirin sejarah sastra Indonesia awal dengan gairah dan khusyuk.
Uraian memikat tampil dalam esai Masyarakat Pribumi Indonesia di Mata Penulis Keturunan Tionghoa (1920-1941). Esai ini menandai ada limpahan pengetahuan melalui sastra untuk membaca dan mengenali konstruksi identitas, transformasi sosial-kutlural, dan narasi politis dalam pengisahan. Novel-novel produksi penulis keturunan Tionghoa sanggup merekam, mendefinisikan, dan menebar tendensi untuk memerkarakan kalangan pribumi. Aksara menjadi representasi dari lakon hidup pribumi. Kisah menjelma pengimajinasian hidup dan biografi kaum pribumi.
Sekian novel dengan kisah kaum pribumi, antara lain Oey Se (Thio Tjien Boen), Lo Fen Koei (Gouw Peng Liang), Pertjintahan dalam Halimoen (Numa), dan Djeritan di Ladang Soenji (Tan Sioe Tjhay). Gambaran tentang kehidupan kaum priyayi dan pembaratan di Jawa dikisahkan dalam Boeat Apa Ada Doenia (1929) karangan Njoo Cheong Seng. Model pendidikan ala Barat telah membuat kaum priyayi mengalami dilema secara kultural, sosial, ekonomi, dan politik. Pembaratan berlangsung dan mengalir dalam diri priyayi. Pemahaman atas nilai-nilai tradisional kejawaan bertarung dengan indoktrinasi nilai-nilai Barat melalui jalur pendidikan, pers, dan institusi politik. Contoh kecil ini memberi pengertian bahwa konsentrasi dan kerja riset Claudine Salmon kerap dihadapkan pada keringat tafsiran karena kelangkaan sumber data.
Buku ini pantas menjadi sandaran untuk kembali merenungi kronik sastra dan pemahaman publik terhadap kontribusi kaum Tionghoa-Peranakan dalam pertumbuhan sastra di Indonesia. Sejarah resmi sastra memang jarang memberi ruang untuk mereka. Pembahasan mendalam tentang signifikansi sastra dan geliat zaman melalui sastra produksi mereka juga jarang disuarakan. Claudine Salmon menyapa pembaca untuk melakukan petualangan kritis dalam membuka dan menulis lagi di lembaran-lembaran sejarah sastra.
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Jumat, 21 Mei 2010
Uang, Modernitas, dan Tafsir Sastra
Bandung Mawardi*
http://cetak.kompas.com/
Uang adalah wacana tak selesai untuk memperkarakan kehidupan manusia modern. Uang sebagai benda, kata, dan makna terus jadi kuasa untuk mengantarkan manusia pada permainan-permainan hidup dalam seribu satu risiko. Pengenalan manusia modern terhadap uang menjadi absorsi dan internalisasi untuk melakoni hidup dengan konstitusi atas nama nilai dan kompensasi. Uang sebagai juru bicara membuat manusia menerima mekanisme atau prosedur hidup dalam perhitungan angka untuk mencapai makna. Angka jadi penentu, tetapi makna kadang hadir dalam kesamaran.
Uang mengantarkan peradaban manusia pada pertaruhan ekonomi modern secara sistemik. Efek pertaruhan itu meluber dalam lakon politik, spiritualitas, sosial, pendidikan, dan kultural. Uang menjelma monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi. Manusia-manusia modern jadi tokoh-tokoh dalam lakon fiksi modern karena uang telah mengaburkan fakta-fakta dalam nalar tradisional. Fiksi mutakhir adalah pembenaran uang dalam konstruksi nalar modern dengan penentuan tema, alur, dan latar.
Karl Marx dengan satire mengungkapkan uang adalah dewa. Uang telah menjadi penguasa manusia dan alam. Uang menjelma pusat dari nilai segala sesuatu. Uang telah merampas dunia dari tatanan kosmis yang mengacu pada norma spiritualitas dan kultural menuju ke tatanan ekonomi dan politik yang materialistik. Karl Marx pun menilai uang sebagai esensi alineatif dari eksistensi manusia dan laku kerja untuk hidup. Uang justru menemukan eksistensi dalam iman manusia karena ritual pemujaan dalam mekanisme produksi dan konsumsi.
Satire itu muncul dari lakon peradaban manusia modern dengan pemahaman uang sebagai dewa atau pusat. Fakta-fakta modernitas jadi ”fiksi realisme” atau ”fiksi absurd” karena kuasa uang. Georg Simmel memberi penjelasan lanjutan bahwa uang memang jadi pokok dan tokoh dalam modernitas. Dalil reflektif dari Simmel adalah modernitas digerakkan oleh kota dan uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Uang adalah sebab untuk sebaran kuasa modernitas. Uang adalah lambang dan metafora yang terus mendapati terjemahan dan realisasi untuk lakon konstruktif atau destruktif.
Wacana uang di Eropa mendapat perhatian dari kalangan studi filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, teologi, seni, dan sastra. Pelbagai pembacaan dan penilaian terhadap uang menjadi prosedur legitimasi uang dalam lakon manusia modern. Uang jadi dalil untuk alienasi, hedonisme, perbankan, kapitalisme, pasar bebas, revolusi, pasar modal, asuransi, dan globalisasi. Legitimasi uang pun menampakkan pengaruh pada laku spiritual, olah estetika, interaksi sosial, dan operasionalisasi demokrasi.
Uang dalam wacana-wacana kritis memang jadi momok untuk berkah atau kutukan. Pemahaman uang secara kuantitatif dan kualitatif lalu memunculkan kontradiksi-kontradiksi dilematis. Uang menjadi tukang sulap untuk manusia modern melakoni hidup sebagai fakta atau fiksi. Pembedaan rasionalitas dan irrasionalitas semakin tak mempan ketika uang menjebol definisi dan tafsir atas peradaban modern. Uang bisa menjelma dewa kapitalisme, spiritualisasi ekonomi, lokomotif politik, sakralitas prestise, mistik sosial, aktor seni populer, atau iblis kemiskinan.
Tafsir
Membaca dan menilai uang dalam garapan sastra tentu jadi tindakan reflektif untuk memahami resepsi manusia-manusia modern terhadap uang. Sastra memang pewartaan dalam bentuk dokumentasi fragmen-fragmen historis, sosiologis, etis, teologis, dan estetis. Sastra pun memiliki orientasi untuk memuat nubuat atas kondisi manusia dan peradaban modern dalam kuasa uang. Sastra memberi warta reflektif ketimbang analisis ekonomi atau sosiologi dengan suguhan data dan tafsir-tafsir ilmiah dan rasional.
Hugh Dalziel Duncan (1997) memberi paparan reflektif tentang uang dalam fiksi-fiksi modern. Uang adalah tema penting dalam arus modernitas dan hasrat manusia untuk melegitimasi eksistensi-esensi. Uang mengandung misteri dan kodrat hierarkis untuk membedakan derajat manusia dalam mengonsumsi seni atau materi-materi lain untuk klaim kemapanan atau prestise. Uang jadi kunci untuk menciptakan nikmat atau jatuh dalam sengsara.
Edith Wharton (1862-1937) dalam novel The House of Mirth (1905) memberikan deskripsi tentang relasi manusia modern dengan uang untuk eksplisitas eksistensi melalui tindakan konsumsi dan gaya hidup: ”Tuan Rosedale memiliki ketepatan khas rasanya dalam hal memuja nilai-nilai, dan untuk dilihat orang tatkala ia berjalan menuruni tangga di jam istirahat makan siang yang penuh sesak dengan ditemani oleh Nona Lily Bart sama rasanya dengan uang dalam kantong, sebagaimana kata-kata yang akan dipilih sendiri oleh Tuan Rosedale”. Uang adalah aura modernitas, tetapi mungkin jadi faktor untuk membuka aurat hedonisme dan kapitalisme.
Konklusi kritis diajukan Duncan ketika menilai novel-novel F Scott Fitzgerald dan Thomas Mann. Fitzgerald dalam novel The Great Gatsby menciptakan tokoh-tokoh yang terangsang secara seksual dan rohani oleh uang. Tokoh-tokoh dalam novel Buddenbrooks anggitan Thomas Mann justru luluh, membusuk, dan musnah oleh kuasa dan aura uang. Tokoh-tokoh itu adalah representasi dari lakon manusia-manusia modern di Amerika dan Jerman.
Fiksi-fiksi di Eropa memang kentara untuk mewartakan lakon uang dalam peradaban modern. Bagaimana lakon uang di negeri Indonesia? Novel-novel awal abad XX di Indonesia sudah merepresentasikan tema uang dalam kadar tertentu terkait dengan hasrat untuk hedonis, kawin paksa, gaya hidup modern oleh kaum pribumi, kemiskinan di desa dan kota, modal dalam pendidikan modern, atau progresivitas kebudayaan populer di kota. Penggarapan sastra dengan tema uang tentu bisa jadi dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia terhadap uang sebagai pamrih untuk hidup atau menjadi modern.
Eksplorasi terhadap tema uang justru masih jarang dilakukan oleh empu-empu sastra Indonesia. Kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra. Uang tentu jadi perkara besar dalam biografi manusia-manusia Indonesia ketika dengan gairah atau gerah tumbuh dalam arus dan alur modernitas pada abad XX.
*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai.
http://cetak.kompas.com/
Uang adalah wacana tak selesai untuk memperkarakan kehidupan manusia modern. Uang sebagai benda, kata, dan makna terus jadi kuasa untuk mengantarkan manusia pada permainan-permainan hidup dalam seribu satu risiko. Pengenalan manusia modern terhadap uang menjadi absorsi dan internalisasi untuk melakoni hidup dengan konstitusi atas nama nilai dan kompensasi. Uang sebagai juru bicara membuat manusia menerima mekanisme atau prosedur hidup dalam perhitungan angka untuk mencapai makna. Angka jadi penentu, tetapi makna kadang hadir dalam kesamaran.
Uang mengantarkan peradaban manusia pada pertaruhan ekonomi modern secara sistemik. Efek pertaruhan itu meluber dalam lakon politik, spiritualitas, sosial, pendidikan, dan kultural. Uang menjelma monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi. Manusia-manusia modern jadi tokoh-tokoh dalam lakon fiksi modern karena uang telah mengaburkan fakta-fakta dalam nalar tradisional. Fiksi mutakhir adalah pembenaran uang dalam konstruksi nalar modern dengan penentuan tema, alur, dan latar.
Karl Marx dengan satire mengungkapkan uang adalah dewa. Uang telah menjadi penguasa manusia dan alam. Uang menjelma pusat dari nilai segala sesuatu. Uang telah merampas dunia dari tatanan kosmis yang mengacu pada norma spiritualitas dan kultural menuju ke tatanan ekonomi dan politik yang materialistik. Karl Marx pun menilai uang sebagai esensi alineatif dari eksistensi manusia dan laku kerja untuk hidup. Uang justru menemukan eksistensi dalam iman manusia karena ritual pemujaan dalam mekanisme produksi dan konsumsi.
Satire itu muncul dari lakon peradaban manusia modern dengan pemahaman uang sebagai dewa atau pusat. Fakta-fakta modernitas jadi ”fiksi realisme” atau ”fiksi absurd” karena kuasa uang. Georg Simmel memberi penjelasan lanjutan bahwa uang memang jadi pokok dan tokoh dalam modernitas. Dalil reflektif dari Simmel adalah modernitas digerakkan oleh kota dan uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Uang adalah sebab untuk sebaran kuasa modernitas. Uang adalah lambang dan metafora yang terus mendapati terjemahan dan realisasi untuk lakon konstruktif atau destruktif.
Wacana uang di Eropa mendapat perhatian dari kalangan studi filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, teologi, seni, dan sastra. Pelbagai pembacaan dan penilaian terhadap uang menjadi prosedur legitimasi uang dalam lakon manusia modern. Uang jadi dalil untuk alienasi, hedonisme, perbankan, kapitalisme, pasar bebas, revolusi, pasar modal, asuransi, dan globalisasi. Legitimasi uang pun menampakkan pengaruh pada laku spiritual, olah estetika, interaksi sosial, dan operasionalisasi demokrasi.
Uang dalam wacana-wacana kritis memang jadi momok untuk berkah atau kutukan. Pemahaman uang secara kuantitatif dan kualitatif lalu memunculkan kontradiksi-kontradiksi dilematis. Uang menjadi tukang sulap untuk manusia modern melakoni hidup sebagai fakta atau fiksi. Pembedaan rasionalitas dan irrasionalitas semakin tak mempan ketika uang menjebol definisi dan tafsir atas peradaban modern. Uang bisa menjelma dewa kapitalisme, spiritualisasi ekonomi, lokomotif politik, sakralitas prestise, mistik sosial, aktor seni populer, atau iblis kemiskinan.
Tafsir
Membaca dan menilai uang dalam garapan sastra tentu jadi tindakan reflektif untuk memahami resepsi manusia-manusia modern terhadap uang. Sastra memang pewartaan dalam bentuk dokumentasi fragmen-fragmen historis, sosiologis, etis, teologis, dan estetis. Sastra pun memiliki orientasi untuk memuat nubuat atas kondisi manusia dan peradaban modern dalam kuasa uang. Sastra memberi warta reflektif ketimbang analisis ekonomi atau sosiologi dengan suguhan data dan tafsir-tafsir ilmiah dan rasional.
Hugh Dalziel Duncan (1997) memberi paparan reflektif tentang uang dalam fiksi-fiksi modern. Uang adalah tema penting dalam arus modernitas dan hasrat manusia untuk melegitimasi eksistensi-esensi. Uang mengandung misteri dan kodrat hierarkis untuk membedakan derajat manusia dalam mengonsumsi seni atau materi-materi lain untuk klaim kemapanan atau prestise. Uang jadi kunci untuk menciptakan nikmat atau jatuh dalam sengsara.
Edith Wharton (1862-1937) dalam novel The House of Mirth (1905) memberikan deskripsi tentang relasi manusia modern dengan uang untuk eksplisitas eksistensi melalui tindakan konsumsi dan gaya hidup: ”Tuan Rosedale memiliki ketepatan khas rasanya dalam hal memuja nilai-nilai, dan untuk dilihat orang tatkala ia berjalan menuruni tangga di jam istirahat makan siang yang penuh sesak dengan ditemani oleh Nona Lily Bart sama rasanya dengan uang dalam kantong, sebagaimana kata-kata yang akan dipilih sendiri oleh Tuan Rosedale”. Uang adalah aura modernitas, tetapi mungkin jadi faktor untuk membuka aurat hedonisme dan kapitalisme.
Konklusi kritis diajukan Duncan ketika menilai novel-novel F Scott Fitzgerald dan Thomas Mann. Fitzgerald dalam novel The Great Gatsby menciptakan tokoh-tokoh yang terangsang secara seksual dan rohani oleh uang. Tokoh-tokoh dalam novel Buddenbrooks anggitan Thomas Mann justru luluh, membusuk, dan musnah oleh kuasa dan aura uang. Tokoh-tokoh itu adalah representasi dari lakon manusia-manusia modern di Amerika dan Jerman.
Fiksi-fiksi di Eropa memang kentara untuk mewartakan lakon uang dalam peradaban modern. Bagaimana lakon uang di negeri Indonesia? Novel-novel awal abad XX di Indonesia sudah merepresentasikan tema uang dalam kadar tertentu terkait dengan hasrat untuk hedonis, kawin paksa, gaya hidup modern oleh kaum pribumi, kemiskinan di desa dan kota, modal dalam pendidikan modern, atau progresivitas kebudayaan populer di kota. Penggarapan sastra dengan tema uang tentu bisa jadi dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia terhadap uang sebagai pamrih untuk hidup atau menjadi modern.
Eksplorasi terhadap tema uang justru masih jarang dilakukan oleh empu-empu sastra Indonesia. Kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra. Uang tentu jadi perkara besar dalam biografi manusia-manusia Indonesia ketika dengan gairah atau gerah tumbuh dalam arus dan alur modernitas pada abad XX.
*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai.
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati