Tampilkan postingan dengan label Balada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balada. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Oktober 2008

Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA CENAYANG

1
Demikian pusing gunung. Hentak jadi tempelak
Barangkali dambaan batin yang maharengkah
niscaya akhirnya jadi acuan larat

Aduh, tak tergapai pautan syukur
bila juntai lindurmu harum
Dan gempita baga gempal gerompal
buat duduk memeluk dengkul

2
Cenayang adalah tiarap menggoyah sekal
dari sini guntur pun takkan loncat
dati tahtanya. Demi kumparan si tertindih
Entah jikalau tiada lagi yang digenapi
Dari nubuat Bapakku Suci

Dalam sanak, dubalang sanak
serta tundungan ujung-ujung sergap
Maka kita punya kawasan putih
akan mengakhiri tualang tutur.

3
Lamun rentung-runting nestapa di gigir ringkih
melecut jasat uzurku-tidak mengerkah nasib
Hanya gesang di alas watas
seperti elmaut juga warisan gemas

Hingga pun segera membolong mudaku
percuma alun-prahara tanpa bekas
Dengan sangglah dan koyakanya laras

4
Cenayang membukiti telentangku papa. Aduhai, bujang
yang mengeras,mengarus, mempecundangi tarakbrata
sampai kepada Sesaji Matirta paling seksama
Aku lolos dari kepungan sumpah nan hitam!

Dan sungguh makin kukuh alang-ujurku
bila gelombang dari langit, di benteng kebohongan
mengapungi wajah-wajah acuh. Nyaris mengelupas.



BALADA TELAWAR

1
Telawar si pungguk Jembar
ada pada ungsian lubuk. Pada timbun telimbun
Kita menyulang sama, dan ber-ibu-kan rembulan
sampai keconggah menyerbu mancapraja

2
Telawar, si gendam gurindam
pabila usai dentang bait-bait tuan
pabila ujud malampinta
datang membahana. Dan esok boleh dituai

3
Maka nanti harap pun bersorak
dengan ciuman sedap dan harum terangkum
O, gupita sari! Syapmu mewarnai
kujur-tubuh pengelana
Menuju kepurnaan jiwa
dan lantang menyerukan Mahapariniwarna

4
Lalu para tunang dan meriam
datanglah datang pada kemah
Seraya menyanding bocah-bocah asuh
ajar kenal terhadapYang Maha Kekal

5
Dan satu bumi dalam limpah-ruah
Satu wujud penala gita. Satu risik-rindu
Mewedarkan langkir-lingkuran
hingga bakti pendatang tak bisa dibilang
Menggunung-menggelanggang!

6
Aadapun getar yang mengusap sesaji
dan belum satu pun terurapi: biar bersandar
membawa sepoi rujuk dan dupa setanggi
aruh-arahan pada Yang Mah Cantik

7
Rentang persentuhan-jauhlah dijulangkan Zaman
namun demikian kemasan damba, suntingan hasrat
Pabila lelakon sesak bakal kelak diacungkan
mudahlah diri temungkul. Aku seka cucurpeluh
jauh sebelum sampau depan Gerbang Paling Angkuh.



BALADA PURING

1
Keris kuna, belati tua
menyantak pipi keranda
Tapi siapakah mengetuk pintu berkarat ini
selain persekutuan sendiri?

2
Demikian Puring bersama gelojoh puisi
menebarkan aroma paling sangit
serta menyeka pelipisku: o, sedu-nikmat
karena daku pelabuhnya. Dan di sini punjer bengawan

3
Lantas dituntaskan tarian ronggeng
mengusap jelujur rembangan. Tangis tak berbasuh
Sembayang penggal onani
ditinggal sekar buron bauran

4
Sankal-sangkal jadi memberat:
O, aduh!-pekikan tanpa ujung
tengah malam desa Puring
menggalur geliur sinting

5
Cuma aku terbebas dari amarah glodrah
Kala talas-talas menggatal di jantung
dan batinku terkoyak nista
jauh dari sebuah bentangan gelisah

6
Mungkinkah kawal dan gelepar
menguasai dongeng pancawarna
Tatkala sanjung tak lagi dibendung
oleh serbuan si anak ontang-anting

7
Adalah itu, pekik tengah sandungan
dan belum pamit pada guru. Bukit longsor di utara
seperti lecehan seorag pembual. Asing dan dangkal
jadi sebuah limit sipit.

8
Mak apada juntrung pelabuhan, cintaku membenam
bagai kentalnya air mani di kenikmatan cumbana
Seraya melantunkan puisi Asmarandana
Kawah letih, buana merintih
landungnya senggama pasrah
Dan hidup adalah hutang pada Sang Poyang.

Minggu, 21 September 2008

Balada Segelas Kahwa

RPA. Suryanto Sastroatmodjo

(1)
Aku tahu bahwa pahit
Teronggok dalam cangkir sukma
hanya menunggu bedug malam
dengan terompah kayu dan bersalam
Aku tahu risau nan kelam
menggelepar dalam kamar samar
dan tak kukenal seraut kenang
tatkala mengetuk pintu pertama



(2)
Mungkin adalah dendangsayang
dendang gebalau hari-hari cendawan
Sungguh, alangkah gawal
mendera ufuk tanpa sepeluk faal
Padahal bumiku punya pelatuk
juga bukan cancangan ufuk
bila lusa dituntut ujung telutsujud



(3)
Dengan mentari teramat pahit
aku gulung helai kain aksaramu
kendati kopi pun pahit. Cuma sehaluan
menyebut simpati pada bocah-bocah rimba
Aku menggapai sulur gadung
dan rebahan batang-batang lengkung
Tanda sebuah janji bakal pupus
ditunda oleh kemarau berpeluh



(4)
Dan alangkah sibuk dan suntuk
pedalaman benua di ini ufuk
Kala kita punya persinggahan barang dua bentar
seraya menengadah ke langit gumelar
Atau biar segelas kahwa panas
aku teguk dalam pahitnya gemas
Seraya mencari sesuatu nan tercecer
dari seberang menyeberang harungan



(5)
Lantas bertanyalah pada anak dolan
yang kini sanggup mengepuk matahari. Sepenggal tanya
sandar di dermaga selepas maghrib sekelupas
Dan aku akan minum kahwa panas
sebelum kembali bercakap keras
di beranda, sarat oleh tamu-tamu berdandan.

Rabu, 13 Agustus 2008

BALADA SI GILA MENYAPAMU

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=102


(I) Ini kata-kata si gila,
mengandung sembilan bulan kenangan;
hidup-mati berkali-kali sungsang,
kepala separuh dingin malaikat, sebelah kiri dunia nyata.
Kapal kegelisahan terpontang-panting
selaksa mengarungi cakrawala tanpa warna,
gentayangan di tengah prahara;
jaman edan anak-anaknya,
tersungkur bersama anggur-anggur kehormatan.

(II) Ia memandang mereka tergila-gila,
merenungi bumi sedang kentir,
begitulah kitab kegilaan tercipta;
bangun dari tidur ketidaktenangan.
Deladapan mencipta kidungan puja di altar Yang Kuasa,
pada kuil, gereja, masjid dan di dalam sangkar langit;
planet goncang, beranak-pinak kegilaan.

(III) Pagi tanpa sebab,
awal tak menentu dan menjadi kebiasaan,
sebelum embun berguguran,
jemari lembut mengambili bunga rumput,
lalu memandang meresapi udara bagi mata bathin terlahir;
matahari tak mau bicara pada wajah pucat getir,
serta tampak di balik kerudung gelap bayangan,
kembang-kembang kemungil dirangkai mantra puja,
tak jelas namun tergores kesadaran hayat di pagi suci.

(IV) Kala siang membelalak,
bibir blingsat tertampar marah ia,
hari-hari hilang direbut hawa suwong,
bukan terampas paksa tapi sambillalu,
di antara itu ada pencuri;
belaian senja memetik tangkai rerumputan,
burung-burung musim semi ke sarangnya kembali,
setingkah anak-anak di pesisir Bakauheni.
Penantian sakit merindu obatnya; siapa bergandengan,
mengajak matahari temaram di peluk kebugaran.

(V) Malam menanjaki jubah tebing pada kejauhan jurang,
sekuntum terjatuh begitu pikir melayang;
jemari ganjil bersunting dawai-dawai syair,
langkah susah terubah irama, menggugah kedalaman jiwa,
mengungkit rindu, nyala api kasih sayang kembali menyala.

(VI) Malam lebih bercerita menggayuh sunyi,
bintang beradu pandang, jantung sama terpejam;
secercah cahaya sampai menerangi benda melaju peristiwa.
Ini masa kegilaan lembut, tak tampak kapan mencuat,
aliran sungai ke arus deras menyenggol sekujur sanubari;
berjalan bersama sukma, lainnya ikut serta
kepada pedalaman kabut tidak terhingga.

(VII) Syair tak terhingga, bukan jarak rentang nasib gejala gila;
pada gerbang puncak petilasan Samber Nyawa gunung Gambar,
angin kering pebukitan, mengelupas kulit punggung kembara,
mulanya kidungan lalu terpotong siur bayu lembah pesawahan.

(VIII) Di pagi sudut kota ia terlelap berbaju kumal,
tak terawat dahi berdebu di alun-alun penantian;
mimpi menyeberangi sungai, sampan beriak gelombang,
degup air mengurangi nafasnya lebih lama mengalir kentir.
Inilah senyum tawa kecil digelitik musykil;
tiap aura persinggahan menghentakkan kaki melayang,
laksana kapas randu tanpa jiwa tertiup angin segudang.
Inikah kabar tersampainya berita kekekalan,
mulanya kantuk lalu menemukan ujung kasmaran.

(IX) Hari-hari mendung berkelabu meruang bumi,
matahari malu menuai rerumputan padi,
sementara bebijian merunduk
tanda menyetujui musim berganti;
berlanjut di masa bolong,
burung gereja malas menciptakan sarang,
menerima kubur di sudut-sudut bangunan.

(X) Ia sempurna kala menyapa,
bahasa senyum tawa, gerak misteri dalam jiwa;
ada patut dikenang, menuang seluruh perhatian,
santun berjalan di kala jaman sedang edan,
layaknya si buta melangkah tak tentu rimbah.

(XI) Engkau gila atau aku yang sinting?
Biar pertanyaan ini gentayangan, usah tergesa ke muara jawaban,
makin kabur mendekat ke sana,
dirimu datang padaku atau lebih,
dirimu di kedalaman kalbumu;
kau gila sunyi, tersadar sampai sendiri.

(XII) Ini kegilaan durung terkisahkan;
ia berlayar merajut lukis belum utuh, walau sempurna itu apa(?).
Inilah jalan lain pena tempuh, usah risau diakhir kalimah,
masuk ke ruang gila, kembali beku langkah-langkah neraca;
mengurangi beban waktu ringan bathin, istirahlah
bumi membentangkan cakrawala, kau awan luka.

(XIII) Ibarat menyapu lantai tak selesai, sampah berserak
namun terus beranjak perbuatan lain; lautan gelisah,
menumpahkan butiran garam tak jelas berakhirnya.
Memasuki keranjang berulang tiada perlu resah;
selesaikan menjualnya ke pasar kembang
dan bebaskan keliaranmu menerka walau tak sama,
menjangkau harap penuh sayap rentangan sesama,
kala pandangan semesta di dahan tak terhingga.
Ini sejarah di bawah nyata,
keluar daya tarik bumi merayapi punggung bengi,
perhitungan gemintang ke mana di mana,
terjawab pahit lidah, sembuh itu luka.

(XIV) Kala membungkuk seolah-olah gemunung tertunduk,
rumpun bebambu menjulang suling pada angin menelusup
ke sela-sela berderit;
rintihan tangis lembah ke dasar jurang kenangan,
dan ia kembali mabuk atas serangkaian kembang.

(XV) Satu kali pun pula,
kelopak-kelopak ia cabuti disebar melingkar,
para penari melewati garis awal ekstasi, begitu ia berkarya;
sejarah tak terhingga ditarik darinya semagnit menarik,
pasir-pasir besi segumpal kenang menjadi ingatan.
Menyala mendung hangat bersahaja,
kala tak mengucurkan sehelaian gerimis,
siang terik diayun asap putih melompong.

(XVI) Dan terus membumbung asap dihasilkan
harum cendana, kemenyan menjelma bunga-bunga
terkumpul menjelma merpati terbang;
terlepas meninggalkan semua jejak dilewatkan,
mengunjungi abad semilam nan jauh
sebelum otak menjangkau malam-siang.

(XVII) Merangsek hembusan angin, daya terang nyata terus
tiada menghirau bentuk serta warna, sempurna gila tanpa rasa;
getir atau manis dilupa, cahaya rasa mengendap di pundak setia.

(XVIII) Begini lupa hilang gelak tawa
melesat ke gurun gemuruh,
yang lamban bukan apa, ada ritme ia jalankan;
yang tahu lagi mengerti, singgahlah sebentar,
rasakan kegamangan ruh pada diri seorang,
gila yang lembut tak seperti terbayangkan.

(XIX) Kemarin, hilang kemarinnya,
sekarang sama kosong menuju hampa,
indera tak lagi indera, camkan sebelum telat.
Jauh melangkah tiada bakal mendapati apa-apa,
kata-kata tidak berujung, putaran itu di titik ulang;
selembut perasaan menebalkan niatan pemikiran.

(XX) Jatuhkan debu disapu angin lalu,
ke hadapanmu mereka anggap biasa; resapilah
seekor semut di kertas putih, kau tenggelam di sana.

(XXI) Sejak ia menjelma kembang, tinggal di taman srowang,
hanya dirinya bunga lain tiada. Taman ganjil tercipta agung,
kau renung keberadaan gunung tak juntrung.

(XXII) Ia sampaikan salam, kala kau tak enak membaca,
esok bakal membuka alam sama namun lain dikau terima;
bukan cara itu memetik dawai dengan amarah, dengarkan
lantunan tembang pengajaran yang mengajakmu ke sana.

(XXIII) Salamnya membahana, awan merata di rimba raya,
puncak-pucuk renung mengapung di ketinggian gunung
dan setiap ayunan ganjil terjawab bertambah genap,
berjalan angka menuju gila; ia berkendara kereta malam
kisahkan aksara hadir pada kerajaan tuhan ia kabarkan
dalam mimbar kemanusiaan.

(XXIV) Tancapkan mimpi di tlatah ketaksadaran,
gerakan ganjil penghuni tropis berlapis kabut,
di mana temukan kelembutan, nyawa kegilaan,
terlahir bersama tamatnya riwayat surat-surat ini.
Gegaslah melangkah menjelajahi rimba hening,
kelelawar menelusup ke daun-daun sunyi
menjelma bayu terikat malam takdirmu.

(XXV) Kala bayangan hadir memanggilmu mendekat,
salamnya untukmu, ia juga mereka;
menggerakkan pena tajam menghilir pesisir,
menggulung rindu ke muara akhir,
terhempas memukul karang merangsek ladang membujur cair,
kuserahkan sedenyut air hadir demi terbebas kemarau panjang.

(XXVI) Kegilaan melewati jalan tiada sadar sebelumnya,
menggenggam dendam, mekar meliar bunga di tangkai
atas harum tubuh perawan.
Di mana tak terhingga merindu gelepar mata,
lembut nan tebal menutup gardu pandangan.

(XXVII) Sampai juga kegilaan ke ujung-ujungnya,
selayang jiwa-jiwa petapa selembut selendang para penari;
rumput suci menemani kekupu mengepak terjatuh terkulai,
tangisan lunglai berakhir pada keikhlasan penyerahan tunggal.

(XXVIII) Si gila teringat pandangan ayu di hadapan,
sesosok wanita dalam mimpi seperti kembang kaca;
ia mengunjungi lalu berjumpa cerlangnya,
tiada kurang bertambah merekam waktu mengapung
dari benua satu ke lainnya, dari kepulauan terus menjelajah,
tak puas dewasa mentah, kan matang oleh beban menempa.

(XXIX) Yang lalu dibiarkan, jangan ungkit terkubur,
terus berhamburan sejumlah orang-orangan ladang,
burung-burung nanti ketakutan benang,
sementara belum sebiji persembahkan
bagi anak-anaknya telah jauh menerbangkan angan;
sampailah salam kepadamu wahai temanten temaram.

(XXX) Sepucuk surat bagimu pengisi lorong penuh cahaya,
meruang gelegak tawa warna tetap nging hening dalam telinga,
setelah itu kesal atau karunia, hanya yang bergerak tanda dinaya
dari seluruh sedang dialirkan ke sana
kepada satu titik serupa tercurah, terbuai lamunan seenaknya,
selayaknya bocah ceria bermain, sedia menjelajahi teruskanlah.

(XXXI) Langkah terlalui, warna tersendiri di muka air jernih,
lihatlah bayang wajahmu menghadap serupa itu terus sampai;
daun-daun kering berguguran membuyarkan cermin telaga,
dikau marah sungguh dengan membawa parang telanjang.

(XXXII) Ia terkantuk juga malu meminta-minta,
baik waktu menjalankan dari sebelumnya,
lentur teratur, timbal-balik terasa damai serasi dalam,
seharum kekuncup mekar bunga senyuman perawan.

(XXXIII) Lain begitu,
bocoran awan memetik dawai bersuara parau
mengisi ruang suci membahana ke lembah jurang,
tertuntun senandung bayangan berkabut kematian.
Pohon asam tak berbuah, tambah musim menegak,
tangisan dedaun memercikan embun selalu pada kita,
dunia lain tertelan angin bisu selepas nafas lupa bertemu.

(XXXIV) Tetembangan ini menembusi sunyi,
siapa mendengarkan di balik kekhusyukan,
gubahan laguan si gila tengah berkumandang;
nyanyian gelombang berpendar-putar busanya
pada pantai kelegaan mengukuhkan anak jaman.

(XXXV) Mentari terbit dari lekuk selimut laut,
tiada lain pantas dipandang kesedihan bumi dikau terima,
merasakan waktu tak bertempat,
terjemahkan tempat tanpa masa
atau bukan keduanya,
hilang perasaan kosong tergugah kentir, laksana
ombak menghanyutkanmu dekat pesonanya,
kau lagi faham sebenarnya.

(XXXVI) Sejauh alunan resah,
detak lonceng tengah malam;
menaiki bulan bergelantungan belum pasti tujuan,
rutinitas membelenggu jiwa, segumpal awan menyungkup
di atas kepalamu payung tentram, daun-daun hijau bercahaya.

(XXXVII) Kegilaan membimbing ke satu kubangan,
tiada tampak namun terasakan,
menggali kubur sendiri digali tanah,
membongkar nenek moyang; tulang belulang patah tak wajar,
berserakan, tumbang ditindih perang. Di mana tak berubah,
menjadi penggali bagi sanak-saudara.

(XXXVIII) Kelahiran kembar berdarah,
bayangan kematian sekejap kilatan pedang
menebas kabel senada seruling terputus;
sekuat jemari mencekik menumbangkan harapan
atas hembusan badai melengking mengigau-balau.

(XXXIX) Semenjak hilang malam bengong,
hening pergi jauh ingatan terbang ke dusun terpencil,
tentram sebelum tumpah prahara berebut sumber mataair
bagi ladang-ladang kerontang
oleh cahaya matahari selalu dahaga.

(XL) Berlembar-lembar kertas kesaksian
atas tumpahan lahar ribuan tahun silam;
gunung lebat pohon, bukit mengepung
api suci melingkari upacara adat, dan
tari-tarian nyawa digerakkan sukma.
Gemuruh gendang bertalu-talu bersahutan memburu,
derap kaki tentara bagaikan kicau burung di belantara,
nafasnya di lempengan sejarah oleh kesaksian mengalir.
Seluruh kegilaan tak datang tiba-tiba,
telah diatur yang menguasai malam-malam gemintang
yang merawat teratai di telaga hening memagut makna,
sebagaimana ladang-ladang hijau esok hari.

(XLI) Tanpa batas bukan musnah, usah kau terka;
tiada selain kesamaan hayati
itu gerak bathin tak dimengerti,
dalam genggaman kuasa sir Ilahi.

(XLII) Tunggulah sebentar,
kasihmu kan datang membawa setangkai senyuman;
mawar penggubah sunyi menyembuhkan luka hati
dan kembang-kembang teratai penggubah seni.

(XLIII) Kau mengerti baris-baris dijalankan,
menterjemahkan alam bergerak lembut,
pelita menyala, kluwung menerangi jalan
tiada lupa disekejapan, teguklah awan mengembarai jaman;
yang menunggumu bertemu, yang ragu mendapati batu-batu.
Tidakkah harmoni tercipta atas nilai-nilai kasih?
Kau lagi percaya, genderang cinta ditabuh bertalu-talu menjauh
menghampirimu atas ketukan nada-nada sembilu; salam baginya
wahai pengantin waktu,
kau selalu dikenang dalam ketakhadiranmu.

(XLIV) Setialah hingga maut menjemput,
bersenyum purnama, bunga-bunga sepanjang sejarah
yang mengangkat jiwa sejati menatap matahari abadi.

(XLV) Kekurangan demi penglihatanmu dangkal,
bergegaslah keluar di pagi suci mengembalikan semua;
orang-orang berduyun mengisi tawar-menawar ke tengah jalan
tak pernah usai kekal tiada dalam nalar, bukan di hati kesadaran,
namun di pedalaman tertempuh atas pantulan cermin kejujuran.

(XLVI) Kadang gerak sejajar kau kira kebenaran,
pandangan menyatakan belum kau resapi artian
lalu masuk ke dalam; apa ini maha karya?
Segala terpikir-terasa,
puncak kegilaan bukan imaji tanpa jelantra,
setiap renung terimalah sebelum hilang ingatan tentang semua;
gunung salju mengapung di lautan lebih banyak jasad bawahnya
dari atas meleleh yang berlimpah-ruah di bawa sadar penciptaan.

(XLVII) Di gurun pasir bunga mekar meliar
tanpa perhatian juga rencana,
sepadan mitos perawan menjelma tanya;
selagi kau buka gembok hatimu nan terkatup,
angin menelusupi percakapan ricik-gemulai.
Air turun memenuhi ruang kosong gelas terlelap,
di balik tembok ada menggelepar bengong bersuara.
Siapa berkata cukup atau luber?
Bagimu tahu diri, matahari hampir tenggelam,
cahayanya ke lembah-lembah jiwa
di hamparan padi berisi pengajaran.

(XLVIII) Seiring lagu suci petikan dawai,
mengalung mengisi ruang wengi perjalanan kereta;
ia serahkan sekuntum harum lekuk setia,
tiada pantas dikisah kecuali bagimu
yang sedang tenggelam dibuaian kasih mesrah.

(XLIX) Serupa tembang dilagukan serangga,
tersiar mimpi-mimpi secercah burung kelana
mengisyaratkan kerahasiaan tak kunjung dikayuh
bagai ayunan lekang; mereka merawat kesadaran bayang gelisah,
kalau bukan malam purnama takkan mengepak ke padalaman,
dan kehadiranmu dihitung menggelegar tiada kunjung padam.

(L) Waktu sunyi memberi tempat,
laju serempak menyerang kantuk; hening saling bicara,
malam-malam belum menetes di gapaian puncak.
Kebebasan dirinya bagi terhanyut mengikuti rasa,
sedikit demi sedikit menerima halusnya, tanpa batas
terus menyetubuhi waktu berat menjelang turun gunung,
daun kabut pagutan berbeda lalu menjelma penerimaan nyata.

(LI) Majulah terus, gegap mendengarkan petang,
beratnya batu rindu penutup pintu gua pertemuan;
kembara tersesat tiada lain langkah tak bertanya,
berdegupan pagi terlempar dari punggung realita.
Kesakitan bukan terpikir belati namun nikmat terberi;
rentangan kelejatan tanpa peduli sampai kepastian muncul.

(LII) Panjang seluruh lorong suwung mencari artian,
tersirat gemuruh hati sekarat antara dengungan serangga;
tiada bosan menghibur bagi insan mengemban jamannya.
Ia tumpahkan seluruh kata menggerakkan malam berat,
pohon klampis menanti terkumpulnya kabut berlapis,
menyempurnanya embun di mata daun berbaris.

(LIII) Menyembahkan malam berat demi ringan siang,
mahatari setia melintasi tiada letih memenuhi janji manis,
merawat perhatian penduduk itu rantai besar kemanusiaan.
Gelak-tawa memberi makna, tenggelam dalam seribu diam.

(LIV) Gugusan malam gemintang tertutup awan,
langit gugurkan kelopakan warna bau kembang
mempesonakan niatan mencipta kidungan;
dari lorong pekat engkau sebut kegilaan,
dalam kalimah menghilir meninggalkan mataair
ke muara persembahan, ke seluruh rindu pujian.

(LV) Malam selanjutnya begitu ringan,
kereta cepat secahaya berpijar melesat,
kala kelopakan terlepas mata air;
ia seungkap daun bersiram kenangan,
mensucikan salam damai persaudaraan.
Sulit teraba dari gugurnya daun di tengah malam,
usianya sematang musim bersilam fajar mendenting,
dentuman keras menyadari disergap waktu serempak;
kidungan digubah para pujangga menjaga malam setia,
demi sayap-sayapnya lembut semerbak sajak, bagaikan
selongsong mayang teruntuk persembahan kebijakan.

(LVI) Sabarlah, cahaya datang kepadamu
kalau kau khusuk mencipta rasa;
tiada kata selain penantian malam melarut
dan daya kekuatan melebihkan nilainya
demi tercapainya tujuan rindu purnama.
Ia menunggu sedari balik tirai keheningan.

(LVII) Ia rendam tubuh di tengah rawa-rawa,
bertenggelam dalam dingin malam merasakan
resapan pori-pori atas bunga teratai bermekaran;
di sanakah kebahagiaan sejati?
Malam mematangkan laku bersegala dayadianya
menembusi batas jaman membebaskan nyawa,
bagi endapan jasad-kalbu mengingatkan ia
masih terus berjuang demi seteguk air
menyembuh racun pemahaman masa silam.

(LVIII) Inikah jelmaan ratapan,
terhempas menyendiri menembusi tubuh
dengan tenagamu mengoyak batas sungguh,
pada pasir nadi kemanusiaanmu.
Tertebus hutang moyang keyakinan menguat,
terpegang wengi menjadikan pewarisnya;
pagutan menggantung bertanya tanpa jawab,
yang menuju ke sana ia dekap, dan tiada lagi
semua terhimpun di dalam dada pengampun.

(LIX) Hembusan nafas memacu semangat
meninggalkan jauh tubuh-tubuh lemah,
lalu terbiasa menemukan limpahan berkah.
Saudaraku, datanglah bersenyum gaibmu
sembari membawa cawan berisi madu
agar diri ini sembuh dari senyap nan rapuh.
Lalu kau menggerakkan tangan ini begitu lincah,
menari-nari di dedaun merdu oleh bayu perindu;
segenggam tangan sebelumnya,
malam mengajarkan anaknya mengawali malam
dengan kesungguhan kasih sayang ia sampaikan.
Lewat sepucuk surat kegundahan mendentang,
tangan halusmu uluran menyentuh
akan kemudahan merengkuh.

(LX) Bila musim berkumandang segerak jiwa gelombang,
sapaan langit bayu ringan menyelindap pada ceruk tak wajar;
mulanya akhir lalu berteguh hati, gesit memeluk dada gelisah
berkumambang tiada lain kecipak berkah sebadan bertujuan.
Itulah air memercik dari bibir pasir-putih hening kenangan.

(LXI) Dasarnya membekukan tulang,
kabar leluhur menampakkan kisah nyata,
sejenis ikan diasinkan; di sinikah kegilaan ajal?
Angin dingin menjilati punggung belati,
kapas terlayang menjelma awan putih,
tanpa watas juga penuh perwatasan
berhembus bersama alam kesyukuran.

(LXII) Prosesi adam-hawa selalu berulang di pentas dunia,
nurani insani menggemerincing langkah hayat-menghayati;
menggemakan seluruh jagad kepompong menjelma kekupu
atau kan hangus diterik bisu, teluk empedu pada janji sembilu.

(LXIII) Beginikah kisahnya? Suatu panggung kegilaan;
cahaya hadir menyongsong tarian si gila
mengumbar nyala merah, suara langit terus menggema,
tulang belulang remuk redam sebelum bumi berpamitan.
Ketika kehilangan dialog, terbunuh penilaian tiada kepuasan.

(LXIV) Sungguh gila bergerak tanpa ruh,
sebiji jagung basah bercendawan; mayat-mayat
bergelimpangan disadap burung-burung bangkai.
Bukankah peti mati terbuka mengangah?
Bayang kelelawar mengambili bebuah jambu,
sayapnya gosong persembahkan wengi penciptaan;
namun di wajah siapa luka berserah lelehan darah?
Duka nestapa ia rangkai menjelma reronceng bunga,
teruntuk perkawinan timur dan barat.

(LXV) Bergerak aroma edan terus membangkit,
dari sini getarannya; ganjil-gunjing, gunem-ucap,
kegaiban takkan mengacuhkan lemparan batu,
melengking sejauh tidak mereka persembahkan.
Menjelma batuan magnit di hamparan kerikil,
sepadan gendul terhempas di pasir pesisir.
Inilah sayap-sayap masa lalu menembusi kepala
menjumpaimu di waktu-waktu tak kau duga meliar
sebagaimana degupan jantung dalam tubuh isyaratnya.

(LXVI) Mereka tahu penjaga waktu
menciptakan tempat di batas perasaan,
dan siapa pun sanggup ke sana.
Di atas ketinggian jangkauan membakar cerutu,
perlunya aturan nafas merancang pola ramalan,
lantas di sisanya terisi kegilangan.
Menyembulkan asap memekatkan burung di langit,
terbentur awan kebodohan, darah segar mengucur
dari tubuh disengaja teruntuk dahaga kembara;
cawan-cawan ganjil terisi minyak menyalakan lampu,
sebelum padam kepenuhan sunyi, ramai terwarnai.
Kau beruntung teresapi renungan jejak di jalan agung,
nantinya bertemu kefahaman ulung.

(LXVII) Takkan terdamba sebab engkau bukan ia;
itu pertanda kesintingan lain sedari keedanan tunggal.
Bersamaan ini kutitipkan salam lewat tangan bergetaran,
yang ia cari dalam larut menanjaki tubuh malam-malam.

(LXVIII) Ada hilang setelah itu,
ingatanmu terlepas di ladang keramaian;
alpamu kutunggu sampai tersadar kembali,
kebenaranmu kau yakini bukan aku atau ia.
Gesekan nada-nada biola memanjati tebing curam,
menemukanmu dekat awan; hadirlah mendung segumpal,
curahan hujan bagimu tak terduga menandatangani prahara.

(LXIX) Keedanan ditentukan menuruni lembah sulit,
lebih gila menggali ke dalam inti menerawangi bebiji;
di mana pohon tertanam antara nalar dan keedanan.
Kedunguan itu di bawah sadar kejadaban.

(LXX) Gunung salju meleleh mendinginkan lekuk tubuh,
hujan menutup pintu, ciptakan perapian hangatkan nalarmu;
lantaran api, reranting bambu butuhkan itu.
Aliran sungai leluhur, kesegarannya tenggelamkan kata-kata
dan pada gilirannya kau tak percaya dirimu juga. Setelah itu
tuhan mencabut keraguan mereka, lantas kesetiaan melanda.

(LXXI) Bengawan mengalir terjelma samudra biru;
anak-anak menanti di pesisir, ia datang kepadamu
membagi-bagikan roti mengekalkan kebahagiaan
dengan memberikan tuwong berisi air zam-zam.
Carilah ia, yang turun penyelamat prahara
menyembuhkan orang-orang gila,
nilai penuh ia percik-percikan di kening insan,
sebelum mendapati kecupan mesrah perpisahan.

(LXXII) Dalam kelana,
baju compang-acak tak berbekal selain kasih sayang,
setiap ucapannya menjelma harum bunga di bibirnya;
kecupannya sewangi kesturi, sedang ayunan kaki-kaki
seringan lebah madu yang tak robohkan rerumputan,
telapak tangan bersinar oleh penjagaan lelaku.
Ia seimbangkan gerak nasib lewat musim menerpanya;
merawat gerbang jaman menyetiai amanah,
malaikat patuh kemurnian pekertinya dan
angin memanjakan di kala terik menyengat,
menerobos keringat melampaui awan bercelah.
Apakah si gila orang mulia?
Atau ia berlari dari kenyataan takdir?
Atau keluar membawa nasibnya ke alam kentir?

*)Pengenalan, 11 Oktober 2000 (setahunan penggarapannya,
di atas plafon Teater Eska), UIN Yogyakarta.

Rabu, 06 Agustus 2008

BALADA JALA SUTA

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=107


(Ia bernama Jala Suta, kata legenda;
lahirnya dikala kedua orang tuanya mengarungi selat Sunda.
Gelombang saksi upacara suci, matahari puncak kedewasaan,
sedang warna perak rembulan, menemani renungannya.
Sementara bintang-gemintang ia petik bagi pelajaran).


(I) Awan hitam arang di atas selat Sunda;
air bergolak, gelombang memburu memecahkan udara,
dewa-dewi di angkasa saling khianat, negri kahyangan goncang;
bintang-gemintang satu-persatu berguguran menjelma bola api,
lautan mendidih, ikan-ikan pada mati.
Ini prahara pernah diramalkan; jantung langit pecah,
dada samudera tumpah, di musim tak jelas waktunya.

(II) Telah menjadi ketentuan,
kapal kecil terpontang-panting merasakan gejolak kiamat;
itu kapal satu-satunya, selamat dari bencana.


(III)
Ibu Fatimah mengandung sembilan bulan kerinduan,
berlayar dengan suaminya, Ahmad;
cemas, ribuan petir mencengkeram kulit bergetar,
sayap-sayap malaikat maut siap menenggelamkan.

(IV) Sedikit demi sedikit,
tuan Ahmad membuang muatan kapal;
ibunda Fatimah meringis kesakitan, dan tak berapa lama,
hujan beserta cambuk kilat menghantam udara,
menikam gelombang memecahkan ombak.

(V) Ada yang melesat, cahaya putih kebiru-biruan
jatuh menimpa tubuh kapal; bersamaan itu Jala Suta terlahir,
sempurna dirinya dibarengi tarian nafas angkasa di sekitarnya.


(VI)
Awan tadinya menutup selat Sunda,
cepat menyebar ke tepi-tepi cakrawala,
petir malu tangisan bayi,
ombak membabi-buta normal kembali;
hujan reda, air tak lagi mendidih,
bintang-gemintang membiak lagi, begitulah kisahnya.


(VII)
Kapal telah melewati selat Sunda,
takdir selamat digariskan menuju tanah Dwipa.
Kala itu pulau Jawa tengah terjadi pergolakan kekuasaan,
saling sikut pengaruh, peraturan adat tak lagi dijalankan;
agama semacam dongeng kengerian,
di telinga anak-anak beranjak raksasa.
Sedang nasib alim-ulama hilang wibawa;
para pastur, biksu dan romo tak lagi berkhotbah.

(VIII) Cepat-lambat Jala Suta dewasa,
di negri sedang panas-panasnya;
sinar matahari bagai bara menempa lempeng baja,
kemarau menderu-melanda gunung ke lembah,
wabah penyakit menjelma malaikat maut kedua.
Orang-orang saling bunuh-menikam,
berebutan air untuk ladang-ladangnya;
aparat pemerintah tak sudi menggubrisnya,
kaum saudagar berubah lintah darat semua.

(IX) Kelaparan melanda raya,
sering terjadi perampokan di mana-mana;
para janda banyak hilang harta benda, malam tak jadi tentram,
penculik seperti hantu gentayangan, tiada tempat aman di sana;
para pemimpin berpesta-pora, para perampok menjarah,
para politisi menjilat, berlidah ular kepala srigala.

(X) Jala Suta menyaksikan kesemrawutan itu,
bersedih hati, bathin terdorong berhasrat merubahnya;
namun bagaimana anak Fatimah dapat melakukannya?
Sementara bapaknya telah meninggal dunia,
sang ibunda dijangkit penyakit lupa;
seluruh rambutnya beruban, gigi-giginya pada tanggal,
hanya memakan bubur mengunyah kinang,
berdzikir dikeseharian, mengharap Yang Kuasa,
agar Jala Suta kelak dijadikan anak budiman.

(XI) Doa-doa terbang berasap kemenyan,
ibunda Fatimah menyusul suaminya;
mata terpejam, mati dengan tenang.

Bathin Jala Suta hancur, lahar tumpah di dadanya;
ia kubur ibundanya berhujan airmata,
beserta mendung ia beranjak pulang,
dan ruh sang ibu telah naik tangga
serupa merpati putih penghuni surga.

(XII) Siang itu alas Roban bau amis,
darah tercecer kuda-kuda bergelimpangan;
para perampok yang dikepalai Surendros mengamuk,
harta saudagar Cina yang melewati hutan itu dirampas paksa,
anak gadisnya bernama Ci’a, dilarikan Surendros ke dalam gua.

(XIII) Namun siang terik itu berubah gelap pekat,
awan hitam arang berbondong menutupi alas Roban;
Suta datang diiringi cambuk kilat menyerang Surendros,
serasa memukul angin, keduanya saling tabrak kadigjayaan,
Ci’a menggigil ketakutan, berbaju sobek teriris derita perawan.

(XIV) Jala Suta dan Surendros lemas, terkuras seluruh tenaga,
karna Suta lebih muda, cepatlah pulih kekuatannya;
Surendros balik memburu membabibuta,
laksana banteng kupingnya tersumbat tanah,
sedang anak samudra gesit mengelak meloloskan diri,
bagaikan ikan sili atau belut putih.

Saat tangan Surendros menghantam pohon asam,
batang gosong, bebuah rontok, daun-daun melayang;
waktunya tepat tak disia-siakan Jala Suta,
menikam perut lawan dengan keris pemberian leluhurnya.


(XV)
Surendros terkapar bersimbah darah,
Suta bergegas mendekai Ci’a, dan berkata lembut;
“anak manis, keparat itu telah binasa,
kau boleh pergi sekarang juga.”
“tapi orang tuaku bagaimana tuan?” ;sahut Ci’a,
“mari kita keluar” Jala Suta mengajak keluar Ci’a dari mulut gua.

(XVI) Menyaksikan Surendros membangkai,
para begundal bersiap-siap menyergap Jala Suta,
namun dengan senyum langit Suta berucap kata;
“lihatlah awan di angkasa sana, petir berkilatan,
semuanya kan pergi jikalau aku menghendaki.”

“menjauhlah saudaraku, tugasmu telah usai”
;Jala Suta memerintahkan awan-gemawan
menyebar ke sudut-sudut cakrawala.
Anak buah Surendros menyaksikan petir-awan pergi perlahan,
mereka ciut nyali; serentak memohon ampun kepada anak Selat.

(XVII) Jala Suta, sosok utusan di hadapan mereka.
“cepat!, lepaskan ikatan di tubuh saudagar itu”
;kata anak Fatimah.
Lalu Ci’a beranjak berlari memeluk orang tuanya.
(para pengawal saudagar itu banyak tersungkur,
lainnya terluka parah).


(XVIII)
Barang dagangan dikemasi,
lantas pergi membawa kereta kuda yang masih bisa ditumpangi.
Ci’a dan orang tuanya berpamitan; ada senyum Suta dibawa Ci’a,
mereka terus melanjutkan perjalanan, keluar dari alas Roban.

(XIX) Kini Jala Suta kepala perampok
dari anak-anak buah Surendros;
bertolak dari riuh-gemuruh alas ke kota,
menggoncangkan orang-orang pemerintah,
yang menumpuk harta hasil korupsi, dan
merampas paksa kekayaan lintah darat,
yang memeras keringat rakyat jelata.


(XX)
Anak buah Jala Suta makin banyak,
kilas bertemu gerombolan perampok lain,
beradu kekuatan dan selalu menang;
ia terkenal di kalangan Samin karena loman,
di mata pejabat serta yang dirugikan, ia sosok tak waras.


(XXI)
Suatu malam di lereng gunung Merapi sebelah selatan,
Jala Suta memimpin rapat, pada intinya;
ingin memberontak pada pemerintah.

Paranggi, bekas pemimpin rampok,
menganggukkan kepala tanda setia,
disusul para bekas pemimpin dan anak-anak buahnya.
Malam itu juga strategi pemberontakan dirancang,
dewa-dewi bimbang, bulan sabit sebagai saksinya.


(XXII)
Di waktu tepat ditentukan,
alam telah bersiap-siap menerima goncangan;
para kelelawar itu memporandakan kekuasaan,
dahan reranting pohon bergoyang menghempas,
buah-buah jambu berguguran diterkam kebisingan.
Dan para penguasa tak kalah hebat,
bak burung gagak menjaga wilayahnya,
bertarung habis-habisan di udara pekat.

Anak-anak buah Jala Suta banyak jadi bangkai,
semisal disambar angin taupan menggelombang,
terpukul mundur ke tepian pantai pelarian;
pun Suta, lari tunggang-langgang dari gelangang.

(XXIII) Hari sial baginya, anak dilahirkan selat Sunda;
kabur menunggang turangga membawa luka,
lengan kirinya tertusuk panah,
dan anak-anak buahnya semangat pecah,
berserakan bagai bebatuan kali tak bermakna.

(XXIV) Warna fajar menyapu timur raya,
tersungkur badan di tepian telaga;
kabut naik embun berguguran,
ia diangkat seorang putri ke punggung kuda,
dibawanya jasad sekarat itu ke sebuah rumah.

(XXV) Kebetulan,
ibunda sang putri penolong Jala Suta seorang tabib;
tujuh hari ia sekarat, hari ke delapan siuman,
luka-luka di tubuh berangsur sembuh.


(XXVI)
Ucapan kali pertama Jala Suta dari ketaksadaran;
“di manakah aku ini? Siapa kau penolongku?”
Putri lemah-lembut itu berucap jawab;
“tuan dalam kediamanku, aku membawa tuan kemari,
tuan pingsan di tepian telaga di dekat sini.”
“Siapa namamu gadis cantik?” ;tanya lelaki selat Sunda,
“aku tiada memiliki nama selain Dewi.”

Jala Suta lanjut bicara;
“kau memang pantas menyandang sebutan itu,
bolehkah aku menambahnya menjadi Dewi Tunjung Biru?
Sepertinya kau layak itu, segeraian angin ombak rambutmu.”
(sang putri itu tersenyum, mengangguk tanda setuju).


(XXVII)
Hari berikutnya sebagaimana adanya;
Ibunya Tunjung Biru menanyakan kesehatan Suta,
seluruh anggota tubuhnya dalam kondisi membaik,
digerakkan leluasa, jiwa pun bersemangat kembali,
berselang dari cerai-berainya anak-anak buahnya.

(XXVIII) Pagi nan elok kata pujangga,
serpihan kabut menjelma butiran embun,
lantas gugur beraturan;
kicauan burung menembangkan kenangan,
ketika wajah mentari molek berseri-serasi,
sayap kekupu terbang ringan menggoda hati,
di antara bunga-bunga di tepian telaga hari.

(XXIX) Jala Suta tertegun di atas gundukan batu,
gemerincing air mengaliri lembah pesawahan itu;
Dewi Tunjung Biru mencuci pakaian,
mata keindahan saling resap merasakan,
menikmati kelopakan kembang teratai;
kedua insan saling tatap memandang
merangkum senyum kebahagiaan,
hanya kecewa yang sanggup hentikan.

Lalu datanglah semboyan;
“akulah Jala Suta, memberontak
adalah siasatku menghormati nenek moyang.”

*) Pengelana, 3 Oktober 2000 Yogyakarta, Kadipaten Kulon.

Minggu, 03 Agustus 2008

BALADA DI BUKIT PASIR PRAHARA

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=108


(I) Yang menapaki bencah pasir pesisir,
mendaki bukit-bukit rindu,
dan angin selalu menyapu kakiku;
seperti seorang putri mengusap keningku,
kala keringat mulai bercukulan
lantas cepat menguap bersamanya.

(II) Ia bagaikan pengembara
berteduh di bawah trembesi tua,
cahaya surya beranjak sore,
melagukan kidung jingga kemesraan;
dan di manakah asal,
tempat tinggal dunia semestinya?

(III) Aku hawa kering, menuliskan lirik laut selatan,
menggerakkan kertas surat-surat ini
yang miliki ruh sebentuk makhluk,
lalu mereka terbuai angin pantai.

(IV) Kala mega kelam merunduk panjang,
ditarik serombongan taupan,
derap kereta kencana menghampiri singgahsana;
petilasan aku melamun sebuah dunia!

(V) Pagi pun sayup, ada yang berbisik di belakang,
sekerumun gadis membicarakan aku, kala di bukit pasirmu.


(VI)
Ribuan pasang mata mengintai nasib dan nyawaku,
kegelisahanku bercampur senang,
karena alunan seruling langit setia memberi kabar,
laksana berita yang tak akan usai.

(VII) Di segugus bukit pasir, kudengar gemuruh ombak
terus menggelepar, menggelegar di balik hatimu;
suara genta semakin lama bertambah kencang,
denting klenengan meninggi, membukit gemitar;
aku diburu bayangan kematian.

(VIII) Pengembara tua bergegas melangkah,
menyisir rumput selamatkan satwa;
aku melintasi bayang mentari,
disapu lembut angin lembah senantiasa.

(IX) Kepala di bawa hati, nikmati hidupku,
terkoyak momok rindu waktumu;
walau pandanganmu jauh menerawang,
tetapi sayapku yang tunggal, tak pernah engkau perhatikan.

(X) Daun-daun akasia dihempas angin sekutu,
muntahan gelombang kikis ketegaran,
dan tak terasa; pasir yang biasa engkau tiup
semakin mengubur renunganku.

(XI) Begini saja, ucapkan salam buat kukenang; lalu
lihatlah burung-burung kecil melintas sekali terhempas di udara,
suaranya yang riuh lenyap, bersama mantra puja pernah lewat.

(XII) Di depanku, seekor kuda jantan mangais nasibnya,
kesepian, karena kaki-kakinya tak serupa tenaga muda;
akankah ia sanggup menjilat langit
sekobaran tungku kawah candradimuka.

(XIII) Pelanlah kasih, jangan dikejar ketakutanmu ngilu sepi,
sebab di ketiak sayap-sayap itu terselip sepasang pisau berkilatan,
menarik nyawa yang terlena.

(XIV) Boleh engkau melakukannya,
sebab dalam dadamu nasib cepat berubah,
namun berbuatlah bijak, serupa kasih angin geladak,
yang selalu mengipasi perjalananmu.

(XV) Rambutmu yang panjang, biarkanlah tergerai, usah
kau perhatikan bolamata-bolamata menguntit keberadaanmu,
sebab engkau telah aku selimuti dengan keganjilan agung
yang tak pernah aku lakukan pada mereka.

(XVI) Yang engkau jalankan sesuci kehendak mulia;
para cendekia di dalam sangkar,
atau burung timur bebas berkelana.
Dalam dirimu, ada kebimbangan penuh
yang sanggup menyatukan timur-barat,
dan selamanya engkau begitu.

(XVII) Seirama bayu,
awan kesedihan ini mengikuti masa-masa harus mereka lewati,
sedang engkau, pralambang yang mengasyikkan.

(XVIII) Dari jauh, angin menderu kencang; berpuluh-puluh
gelombang siap menerjang kemah-kemah berteratak tegar,
juga ia bakal genggam bulir-bulir pasir kemanusiaan.

(XIX) Di sini kau jauhi dunia keramaian,
sedang mereka hanya merekam prahara,
sementara badai tengah engkau bangun
sejumlah angin mengajarkan kepadamu;
dari tepian jauh dikau rasakan itu,
lalu terkenang oleh cinta akan kejujuran.

(XX) Lolongan anjing menyita kehusyukanku,
aku tahu energi suaranya dibantu angin kelestarianmu;
gending-gending sebentar sayu lalu menggenta,
aku pun pula tenaga prahara engkau setubuhi,
dan tak terasa angin pantai menjadi Maha Guru
di waktu hatimu sedingin salju.

(XXI) Sesekali sisirlah rambutmu walau sejenak,
searah angin mengajakmu pergi jauh,
meski nantinya kembali kusut;
yang engkau jalankan,
serupa ikan-ikan hidup di dasar samudra,
perlu bernafas, sesuci manusia menghirup denyutan semesta.


(XXII)
Halus butiran pasir itu
semakin tinggi, lembut selendang diterbangkan,
mendorong menyapa lewat surat-surat tertakdirkan
bagi persembahan nyawamu-nyawaku,
dan nafasmu itu nafasku di alam panggung.

(XXIII) Di ubun-ubun kepalaku,
awan menjelma jala-jala angkasa
semakin cepat menyebar,
keinginannya aku sebagai tangkapannya,
demi persembahan di altar candi para dewa;
namun ada kekuatan lain yang mencegah,
sehingga daku luput dari jeruji,
karena Sang Waktu belum berkenan.

(XXIV) Yang mencipta waktu
menjadi bebunga penghuni pantai;
ia sosok penjaga taman,
duduk sendirian menikmati harum kembang,
dari musim satu ke musim lainnya;
lantas kulit ruh terpesona dan mempesona.

(XXV) Kembali memandangmu,
tarian janur-janur serasi waktu membiru,
mengikuti ritme riak gelombang yang terdengar
dari balik pebukitan dunia;
dirinya yang lembut bertirai,
sedang engkau, sudah melewati tirai ke berapa?


(XXVI)
Tatkala mutut membisu, kubaca bola matanya,
tangannya yang santun begitu lembut, ada penantian tak jenuh
menunggu sang ayu menghampirimu;
daun hijau bercahaya, embun murni mengkristal.

(XXVII) Saudaraku,
geserlah tempat dudukmu walau sebentar,
sebenarnya di belakang punggung bukit,
pohon-pohon subur sulur-menjulur,
berdiri tegas atas hembusan angin nuranimu;
tapi tahukah engkau? Dan terfikirkah mereka?
Ia melakukan itu, menanti kehadiranmu,
dekapanmu yang bersahabat,
sebelum perpisahan takdir melepas.

(XXVIII) Seharusnya jangan hentikan sampai di situ,
sebab ruh dalam dadamu siap membantu;
seakan waktu selalu baru menuju kepemudaan cahaya.

(XXIX) Jika engkau mengambili benang-benang tercurah
dari kasih sayang hujan kepadamu, itu masih ada.

(XXX) Yang biasa di dunia terpencil, kenapa masih ada gelisah?
Lalu ingin mengakhiri nikmatnya vibrasi mahabbah?
Padahal sudah banyak tenaga kau petik dari gairahnya;
bukankah hanya tak enak atas sahabat karibmu
yang menunggu dengan murung sepertimu juga.

(XXXI) Yang ia kerjakan mengasah pucuk karang
menjadikan bebijian pasir bermakna;
tidak hanya bagimu, untuk mereka pula,
walau waktu itu mereka melupakan dirimu,
padahal terngiang setuju
atas angin-gelombang pernah ia singgahi,
sebagai tempat menimba sumur keabadian itu.

(XXXII) Santai saja,
cukup engkau kenang, lalu mereka merasakan pula;
biarkan ia berjalan dengan pilihannya,
dan engkau melangkah pada keyakinanmu.
Terus atau sudah cukup,
sampai kembali sebagai manusia asing di hadapan mereka.

(XXXIII) Yang telah menggerakkan
grafitasi nasib dunia walau sekejap,
partikel auraku berpijar terang,
dan parfum atmosfirnya tetap melekap pada mereka;
ini mawar hitam, racun cair racikan jaman, kata mereka.

(XXXIV) Ia tanggalkan pebekalan
kala tinta hitamnya berlayar tanpa rencana;
kau telah melakukan juga,
merasakan bagaimana bumi ini digedor dari dalam,
dan tubuhmu berlapis kekuatan.

(XXXV) Meninggikan unsur sukma sejati
pada dataran mulia,
teratai semakin tinggi tangkainya;
kelebihanmu dari mereka,
yang hanya menanti antrian waktu.

(XXXVI) Tidak cukup merentang,
sudah lama menghabiskan atom nyawa
demi pengembaraan tanpa telatah,
bagaikan tertikam belati malam menggigil putus asa.
Engkau memeluk bintang-gemintang setelah saling pandang,
demi mengembalikan dinaya;
yang dicuri akan kembali, yang memberi segera menerima,
bagi persembahkan senyum, mendapat kecupan mesra.

(XXXVII) Kini danau matanya keruh,
pasir berhamburan, bergolak di arus deras,
melemparkan jasad melobangi angkasa;
hanya mata dekatlah, mengerti rindu dari pedihnya ujung pena.

(XXXVIII) Pentas mulai digelar,
para pelukis sedikit menorehkan keberanian warna,
dan para penyair baru menggores beberapa aksara,
seakan merangkum dunia dengan kesombongan;
mereka rasa telah unggul dari Sang Pencipta.
Separuh dari mereka berucap;
“bila Tuhan masih ada, Ia punya rencana!”

(XXXIX) Sementara itu,
aku tetap duduk di rerumputan hijau perawan,
sambil memahat waktu di atas batu,
menujum takdirku untuk mereka.

(XL) Sesekali untaian rambut mengenai mukaku,
aku biarkan, dan terkadang kuseka lembut
dengan jemari tangan yang ada cincin setia darinya.

(XLI) Lalu ia berjalan, sambil mengunyah makna batu nisan;
berkali-kali senja menyeret matahari,
jam-jam kembali terhenti di embun daun kalbumu.
Serupa malam-malam sebelumnya,
kesepian tanpa seorang teman,
juga tiada lagi, kata mereka;
“raut yang patut dibayangkan!”

21 September 2000, Parang Tritis Yogyakarta.

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati