Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 Maret 2018
Bedah Buku Kritik Sastra di PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki
Selasa, 09 November 2010
Radhar Panca Dahana: Ada Masalah dalam Pola Relasi Kesenian Kita!
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi ”bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah.
Namun yang menjadi perhatian malam itu—siapa lagi—kalau bukan Radhar Panca Dahana, sang penyair yang kondisi kesehatannya sempat memburuk. Ia tampil penuh semangat. Beberapa karya puisi yang telah dihafalnya di luar kepala begitu lancar dan lantang diucapkan malam itu.
Ditemui secara terpisah oleh SH, Radhar menyatakan antologi berjudul Lalu Batu itu sangat bermakna bagi dirinya.
Bagi Radhar, manusia mengejar waktu, lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Salah satu obsesi manusia adalah mengalahkan waktu,” ujarnya. Pada intinya, perjalanan mengalahkan waktu itu adalah sebuah upaya menaklukkan si empunya waktu juga, menaklukkan Tuhan. Karena baginya pemilik waktu adalah Tuhan.
Lalu Batu punya maksud bahwa batu adalah ”tempat berdiamnya waktu”. Ketika dia menjalani proses dan akhirnya dimakamkan pun dia menjadi batu. Seperti sebuah fosil. Jadi, kalau dia menjalani sebuah proses, maka ujung akhirannya adalah batu.
Radhar, selain dikenal ”bandel” juga termasuk orang yang kreatif. Menanggapi itu, sekalipun membantah, dan mengatakan bahwa yang bandel itu pada hakikatnya bukan cuma seniman dan tak paralel dengan kreativitas yang dia lakukan selama ini.
Dalam pertemuan dengan SH, Radhar menegaskan ketertarikannya yang lebih pada puisi ketimbang prosa yang cenderung beretorika. ”Saya jenuh beretorika. Pada puisi kita bisa lebih mengutamakan makna,” tandas penyair yang telah menghasilkan beberapa antologi puisi dan satu cerpen itu.
Berikut, Radhar mengungkapkan lebih banyak lagi pandangannya tentang sastra Indonesia.
Kenapa Anda lebih tertarik pada puisi? Prosa tak menarik ketimbang puisi?
Bagi saya, bukan puisi lebih menarik dari prosa, tapi puisi lebih sulit dari pada prosa. Dunia kita sekarang adalah dunia yang dikuasai prosa, dunia yang prosaik. Dunia prosaik ini sudah dikuasai seluruh kepentingan yang ada di bumi—kepentingan politik, bisnis, agama, dan lain-lain. Semua bermain dengan prosa yang sangat bagus, retorikanya bagus, tetapi tetap dunia retorik.
Padahal, retorika yang pernah menjadi raja di abad pertengahan telah dipinggirkan pada abad ke-19. Pelajaran retorika di kuliah filsafat juga sudah tidak ada. Namun, dunia sekarang justru kembali pada retorika dan ternyata sukses.
Seorang kritikus sastra dari Prancis, Antoine Compagnon, mengatakan retorika kembali muncul pada milenium baru dengan bukti-bukti seperti itu. Dunia prosaik yang semacam itu bagi saya sangat ganas, sangat liar, karena tiba-tiba orang harus berebut untuk hidup dengan mempertahankan retorikanya, termasuk media massa. Media massa ‘kan begitu, main gede-gedean headline. Sampai sekarang yang paling banal, paling jorok sudah muncul ‘kan?
Perbedaannya dengan puisi?
Puisi adalah tempat kata-kata mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Puisi adalah sebuah dunia tempat kata-kata dimainkan seminimal mungkin dan seefektif mungkin untuk bisa menyelami makna sedalam-dalamnya. Cuma, persoalannya ternyata kemajuan sudah begitu luar biasa. Dunia prosa membahana. Perubahan-perubahan sudah lagi tidak tertangkap dalam pikiran kita dan sudah tidak termuat lagi dalam bahasa. Bahasa apa pun sudah tidak cukup lagi menggambarkan kenyataan sekarang.
Baru-baru ini JS Badudu memunculkan kamus bahasa serapan, begitu tebal. Artinya bahasa serapan sudah begitu banyak. Dengan bahasa serapan yang berasal dari Inggris, Jawa, Sunda itu pun bahasa Indonesia belum cukup mumpuni untuk menggambarkan kenyataan sekarang. Penyair pun mengalami kesulitan. Bagaimana dengan bahasa yang semiskin itu kita harus menggambarkan realitas semesta yang begitu kayanya. Penyair mengalami krisis ketika bahasa sebagai senjata utamanya, mengalami pemiskinan yang luar biasa. Ada berbagai macam bahasa baru dari dunia teknologi, sains dan lain-lain, yang tidak begitu mudah tercerap di dalam puisi. Puisi-puisi mutakhir tiba-tiba memasukkan begitu saja kosa-kata baru, lemari es, komputer, digit, karena dia terbata-bata melihat itu. Seorang penyair sangat sensitif terhadap hal seperti itu. Seorang penyair kan sebelum ini menerakan sebuah kata misalnya ”kau” atau ”antipati”, ini kata asing. Dia harus mengerti dulu dong, apa yang disebut dengan ”antipati”, apa yang disebut dengan ”kau”. Tapi sekarang dalam dunia yang gagap seperti ini, kita main masuk-masukin kata sebelum kita tahu apa artinya. Kenapa? Kita juga mengalami kesulitan untuk memaknai kenyataan dan kehidupan melalui kata-kata itu. Kehidupan ini aku maknai dengan kata-kataku. Dan kata-kata tidak cukup.
Nah, kecepatan perkembangan hidup peradaban kita sekarang ini, seperti kata Bill Gates, tidak diukur lagi oleh kecepatan melainkan oleh percepatan. Sementara bahasa berkembang seperti siput. Kita ngomong salah sedikit aja langsung dikoreksi, ‘eh salah lo!’ Orang Minang bilang, ‘Itu bahasa Jawa’. Terus, orang Sunda bilang itu bahasa sanskrit. Orang main tuding-tudingan. Lha terus kenapa kalau bahasa Jawa?
Bahasa planet juga boleh, prokem diinjek-injek dan lain-lain. Kita harus melepaskan bahasa dari
telikungan-telikungan itu, penjara-penjara itu. Makanya waktu ”Masa Depan Kesunyian”, ”97”, kumpulan cerpen saya, dibacakan dengan 10 bahasa. Marissa Haque baca bahasa Belanda. Desy Ratnasary baca bahasa Sunda. Rano Karno bahasa Betawi, Teguh Esha bahasa prokem. Satu cerpen bisa diekspresikan dengan berbagai bahasa yang pemaknaannya jadi beda-beda. Jadi sumber kekayaan dong, bagi bahasa, pengetahuan dan bagi kebudayaan itu sendiri. Jadi kalau begitu bahasa dibatasi, begitu pula membeku peradaban.
Tanggapan Anda terhadap sejarah kesusasteraan yang berlangsung lambat dan kurang dinamis?
Saya kira yang harus ditanggapi bukan karya-karyanya saja, tetapi pola relasi antara para seniman tersebut. Saya kira, kita ada masalah dengan pola relasi tersebut. Masalahnya, adanya kecenderungan, nah ini mungkin agak sentimental, ada kecenderungan yang terciptanya satu pola relasi patronklienistik. Artinya saya sangat menyayangkan beberapa teman yang harus menggantungkan diri kepada kekuatan-kekuatan literer tertentu yang didukung oleh kekuatan non-literer, misalnya kekuatan media, ekonomi, kekuatan politik dan lain-lain sehingga kekuatan sastranya sendiri tidak cukup bisa dipertahankan karena dia juga harus mempertahankan yang lain-lainnya itu.
Termasuk politik kesenian di dalamnya?
Termasuk dong. Artinya secara langsung sastra atau dunia literer itu sudah dipolitisasi untuk menciptakan kekuatan-kekuatan ini. Yang pada akhirnya dia berkompetisi. Kalau kompetisi itu sampai pada tingkatan dunia intelektual, katakanlah melahirkan cara berpikir, cara pandang, mazhab, sesuatu yang tersendiri dalam cara melihat kehidupan kita, nggak apa-apa. Itu bagus. Tapi kan kadang-kadang yang terjadi bukan perang konsep. Perang emosi. Perang sentimentalia, perang masa lalu, itu nggak perlu kan? Makanya saya bilang patronklienistik.
Itu berpengaruh pada sejarah sastra kita?
Sangat berpengaruh. Karena kemudian beberapa pengarang atau seniman yang tidak bisa terserap atau terhisap pada pusaran-pusaran itu, dia jadi terpinggirkan, teralienasi dan dengan sendirinya kesempatannya, peluangnya berkurang. Tampil dalam forum lokal dan internasional berkurang. Ia mungkin berbakat tapi tidak mempunyai kemampuan relasional yang bagus. Kemampuan publikasi yang bagus. Tidak punya modal yang cukup untuk bergaul, tidak bisa ngumpul di kafe-kafe untuk gimana gitu. Saya adalah pengarang yang mulainya dari situ. Saya adalah seniman kere sejak dulu. Sejak SMP saya sudah menghasilkan uang sendiri.
Tren seperti itu sejak kapan?
Sejak 80-an. Ada beberapa pengarang yang tidak setuju dengan tren itu akhirnya terpinggirkan karena dia tidak mampu main lagi di sentrum.
Anda punya keinginan untuk mencari solusinya?
Saya tidak pernah membayangkan diri saya untuk jadi solusionis, orang yang menciptakan solusi solusi. Cuma saya ingin memperlihatkan kenyataan itu saja. Disetujui atau tidak. Banyak orang mungkin tidak menyetujui mungkin ya dengan cara menipu dirinya sendiri. Silakan saja. Tapi bagi orang yang bisa melihatnya dengan clear dan jernih, harus mengakuinya kan?
Bukan tak mungkin, suatu saat, Anda pun bisa saja tersesat di labirin itu?
Bisa saja! Bisa saja! Memangnya saya tidak merasakan tarikan itu? Saya ditarik-tarik. Betot kanan betot kiri. Dan saya harus melawan itu untuk bisa mempertahankan independensi kita. Menjadi manusia yang independen sekarang ini, dalam bidang apa pun sangat sulit, termasuk sastra.
Angkatan Pujangga Baru tidak dalam kondisi seperti itu?
Saya kira juga iya, tetapi dalam pengertian yang berbeda. Ada cara bermain yang lebih fair. Artinya
kalau memang berbakat walaupun mungkin bukan selebriti dinilai dengan saksama. Bukan karena ia anak presiden, kita harus memberi perhatian yang saksama sehingga penilaian karya sastranya menjadi bias. Penilaian karya sastra jangan dikaitkan dengan yang nonliterer. Jangan dikaitkan dengan yang sifatnya politis, sosial, kultural, nggak bisa dong.
Atau kesalahan semua ini karena sekarang kita tak punya pengamat sastra?
Sebenarnya pengamat sastra itu selalu ada. Selama masyarakat ada, pengamat itu ada. Karena pengamat yang paling utama adalah masyarakat itu. Kalau kamu punya pengamat seribu tapi tidak ada masyarakat, siapa yang mau beli? Untuk apa puisi diciptakan. Yang penting kan pengamatnya masyarakat itu sendiri. Kritikus mati nggak apa-apa kalau masyarakatnya tetap ada. Nah, masyarakat yang hidup apresiatif sastra itu yang harus kita tumbuhkan. Jangan menumbuhkan kritikus-kritikus
hebat tapi mayarakatnya buta. Jangan dibalik dong.
http://www.sinarharapan.co.id/
Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi ”bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah.
Namun yang menjadi perhatian malam itu—siapa lagi—kalau bukan Radhar Panca Dahana, sang penyair yang kondisi kesehatannya sempat memburuk. Ia tampil penuh semangat. Beberapa karya puisi yang telah dihafalnya di luar kepala begitu lancar dan lantang diucapkan malam itu.
Ditemui secara terpisah oleh SH, Radhar menyatakan antologi berjudul Lalu Batu itu sangat bermakna bagi dirinya.
Bagi Radhar, manusia mengejar waktu, lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Salah satu obsesi manusia adalah mengalahkan waktu,” ujarnya. Pada intinya, perjalanan mengalahkan waktu itu adalah sebuah upaya menaklukkan si empunya waktu juga, menaklukkan Tuhan. Karena baginya pemilik waktu adalah Tuhan.
Lalu Batu punya maksud bahwa batu adalah ”tempat berdiamnya waktu”. Ketika dia menjalani proses dan akhirnya dimakamkan pun dia menjadi batu. Seperti sebuah fosil. Jadi, kalau dia menjalani sebuah proses, maka ujung akhirannya adalah batu.
Radhar, selain dikenal ”bandel” juga termasuk orang yang kreatif. Menanggapi itu, sekalipun membantah, dan mengatakan bahwa yang bandel itu pada hakikatnya bukan cuma seniman dan tak paralel dengan kreativitas yang dia lakukan selama ini.
Dalam pertemuan dengan SH, Radhar menegaskan ketertarikannya yang lebih pada puisi ketimbang prosa yang cenderung beretorika. ”Saya jenuh beretorika. Pada puisi kita bisa lebih mengutamakan makna,” tandas penyair yang telah menghasilkan beberapa antologi puisi dan satu cerpen itu.
Berikut, Radhar mengungkapkan lebih banyak lagi pandangannya tentang sastra Indonesia.
Kenapa Anda lebih tertarik pada puisi? Prosa tak menarik ketimbang puisi?
Bagi saya, bukan puisi lebih menarik dari prosa, tapi puisi lebih sulit dari pada prosa. Dunia kita sekarang adalah dunia yang dikuasai prosa, dunia yang prosaik. Dunia prosaik ini sudah dikuasai seluruh kepentingan yang ada di bumi—kepentingan politik, bisnis, agama, dan lain-lain. Semua bermain dengan prosa yang sangat bagus, retorikanya bagus, tetapi tetap dunia retorik.
Padahal, retorika yang pernah menjadi raja di abad pertengahan telah dipinggirkan pada abad ke-19. Pelajaran retorika di kuliah filsafat juga sudah tidak ada. Namun, dunia sekarang justru kembali pada retorika dan ternyata sukses.
Seorang kritikus sastra dari Prancis, Antoine Compagnon, mengatakan retorika kembali muncul pada milenium baru dengan bukti-bukti seperti itu. Dunia prosaik yang semacam itu bagi saya sangat ganas, sangat liar, karena tiba-tiba orang harus berebut untuk hidup dengan mempertahankan retorikanya, termasuk media massa. Media massa ‘kan begitu, main gede-gedean headline. Sampai sekarang yang paling banal, paling jorok sudah muncul ‘kan?
Perbedaannya dengan puisi?
Puisi adalah tempat kata-kata mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Puisi adalah sebuah dunia tempat kata-kata dimainkan seminimal mungkin dan seefektif mungkin untuk bisa menyelami makna sedalam-dalamnya. Cuma, persoalannya ternyata kemajuan sudah begitu luar biasa. Dunia prosa membahana. Perubahan-perubahan sudah lagi tidak tertangkap dalam pikiran kita dan sudah tidak termuat lagi dalam bahasa. Bahasa apa pun sudah tidak cukup lagi menggambarkan kenyataan sekarang.
Baru-baru ini JS Badudu memunculkan kamus bahasa serapan, begitu tebal. Artinya bahasa serapan sudah begitu banyak. Dengan bahasa serapan yang berasal dari Inggris, Jawa, Sunda itu pun bahasa Indonesia belum cukup mumpuni untuk menggambarkan kenyataan sekarang. Penyair pun mengalami kesulitan. Bagaimana dengan bahasa yang semiskin itu kita harus menggambarkan realitas semesta yang begitu kayanya. Penyair mengalami krisis ketika bahasa sebagai senjata utamanya, mengalami pemiskinan yang luar biasa. Ada berbagai macam bahasa baru dari dunia teknologi, sains dan lain-lain, yang tidak begitu mudah tercerap di dalam puisi. Puisi-puisi mutakhir tiba-tiba memasukkan begitu saja kosa-kata baru, lemari es, komputer, digit, karena dia terbata-bata melihat itu. Seorang penyair sangat sensitif terhadap hal seperti itu. Seorang penyair kan sebelum ini menerakan sebuah kata misalnya ”kau” atau ”antipati”, ini kata asing. Dia harus mengerti dulu dong, apa yang disebut dengan ”antipati”, apa yang disebut dengan ”kau”. Tapi sekarang dalam dunia yang gagap seperti ini, kita main masuk-masukin kata sebelum kita tahu apa artinya. Kenapa? Kita juga mengalami kesulitan untuk memaknai kenyataan dan kehidupan melalui kata-kata itu. Kehidupan ini aku maknai dengan kata-kataku. Dan kata-kata tidak cukup.
Nah, kecepatan perkembangan hidup peradaban kita sekarang ini, seperti kata Bill Gates, tidak diukur lagi oleh kecepatan melainkan oleh percepatan. Sementara bahasa berkembang seperti siput. Kita ngomong salah sedikit aja langsung dikoreksi, ‘eh salah lo!’ Orang Minang bilang, ‘Itu bahasa Jawa’. Terus, orang Sunda bilang itu bahasa sanskrit. Orang main tuding-tudingan. Lha terus kenapa kalau bahasa Jawa?
Bahasa planet juga boleh, prokem diinjek-injek dan lain-lain. Kita harus melepaskan bahasa dari
telikungan-telikungan itu, penjara-penjara itu. Makanya waktu ”Masa Depan Kesunyian”, ”97”, kumpulan cerpen saya, dibacakan dengan 10 bahasa. Marissa Haque baca bahasa Belanda. Desy Ratnasary baca bahasa Sunda. Rano Karno bahasa Betawi, Teguh Esha bahasa prokem. Satu cerpen bisa diekspresikan dengan berbagai bahasa yang pemaknaannya jadi beda-beda. Jadi sumber kekayaan dong, bagi bahasa, pengetahuan dan bagi kebudayaan itu sendiri. Jadi kalau begitu bahasa dibatasi, begitu pula membeku peradaban.
Tanggapan Anda terhadap sejarah kesusasteraan yang berlangsung lambat dan kurang dinamis?
Saya kira yang harus ditanggapi bukan karya-karyanya saja, tetapi pola relasi antara para seniman tersebut. Saya kira, kita ada masalah dengan pola relasi tersebut. Masalahnya, adanya kecenderungan, nah ini mungkin agak sentimental, ada kecenderungan yang terciptanya satu pola relasi patronklienistik. Artinya saya sangat menyayangkan beberapa teman yang harus menggantungkan diri kepada kekuatan-kekuatan literer tertentu yang didukung oleh kekuatan non-literer, misalnya kekuatan media, ekonomi, kekuatan politik dan lain-lain sehingga kekuatan sastranya sendiri tidak cukup bisa dipertahankan karena dia juga harus mempertahankan yang lain-lainnya itu.
Termasuk politik kesenian di dalamnya?
Termasuk dong. Artinya secara langsung sastra atau dunia literer itu sudah dipolitisasi untuk menciptakan kekuatan-kekuatan ini. Yang pada akhirnya dia berkompetisi. Kalau kompetisi itu sampai pada tingkatan dunia intelektual, katakanlah melahirkan cara berpikir, cara pandang, mazhab, sesuatu yang tersendiri dalam cara melihat kehidupan kita, nggak apa-apa. Itu bagus. Tapi kan kadang-kadang yang terjadi bukan perang konsep. Perang emosi. Perang sentimentalia, perang masa lalu, itu nggak perlu kan? Makanya saya bilang patronklienistik.
Itu berpengaruh pada sejarah sastra kita?
Sangat berpengaruh. Karena kemudian beberapa pengarang atau seniman yang tidak bisa terserap atau terhisap pada pusaran-pusaran itu, dia jadi terpinggirkan, teralienasi dan dengan sendirinya kesempatannya, peluangnya berkurang. Tampil dalam forum lokal dan internasional berkurang. Ia mungkin berbakat tapi tidak mempunyai kemampuan relasional yang bagus. Kemampuan publikasi yang bagus. Tidak punya modal yang cukup untuk bergaul, tidak bisa ngumpul di kafe-kafe untuk gimana gitu. Saya adalah pengarang yang mulainya dari situ. Saya adalah seniman kere sejak dulu. Sejak SMP saya sudah menghasilkan uang sendiri.
Tren seperti itu sejak kapan?
Sejak 80-an. Ada beberapa pengarang yang tidak setuju dengan tren itu akhirnya terpinggirkan karena dia tidak mampu main lagi di sentrum.
Anda punya keinginan untuk mencari solusinya?
Saya tidak pernah membayangkan diri saya untuk jadi solusionis, orang yang menciptakan solusi solusi. Cuma saya ingin memperlihatkan kenyataan itu saja. Disetujui atau tidak. Banyak orang mungkin tidak menyetujui mungkin ya dengan cara menipu dirinya sendiri. Silakan saja. Tapi bagi orang yang bisa melihatnya dengan clear dan jernih, harus mengakuinya kan?
Bukan tak mungkin, suatu saat, Anda pun bisa saja tersesat di labirin itu?
Bisa saja! Bisa saja! Memangnya saya tidak merasakan tarikan itu? Saya ditarik-tarik. Betot kanan betot kiri. Dan saya harus melawan itu untuk bisa mempertahankan independensi kita. Menjadi manusia yang independen sekarang ini, dalam bidang apa pun sangat sulit, termasuk sastra.
Angkatan Pujangga Baru tidak dalam kondisi seperti itu?
Saya kira juga iya, tetapi dalam pengertian yang berbeda. Ada cara bermain yang lebih fair. Artinya
kalau memang berbakat walaupun mungkin bukan selebriti dinilai dengan saksama. Bukan karena ia anak presiden, kita harus memberi perhatian yang saksama sehingga penilaian karya sastranya menjadi bias. Penilaian karya sastra jangan dikaitkan dengan yang nonliterer. Jangan dikaitkan dengan yang sifatnya politis, sosial, kultural, nggak bisa dong.
Atau kesalahan semua ini karena sekarang kita tak punya pengamat sastra?
Sebenarnya pengamat sastra itu selalu ada. Selama masyarakat ada, pengamat itu ada. Karena pengamat yang paling utama adalah masyarakat itu. Kalau kamu punya pengamat seribu tapi tidak ada masyarakat, siapa yang mau beli? Untuk apa puisi diciptakan. Yang penting kan pengamatnya masyarakat itu sendiri. Kritikus mati nggak apa-apa kalau masyarakatnya tetap ada. Nah, masyarakat yang hidup apresiatif sastra itu yang harus kita tumbuhkan. Jangan menumbuhkan kritikus-kritikus
hebat tapi mayarakatnya buta. Jangan dibalik dong.
Jumat, 22 Oktober 2010
Catatan Temu Sastra MPU V Siasat Sastra di Pusar Arus Global
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Sejalan dengan Maria Vargas Llosa, penulis kelahiran Peru yang menggondol Hadiah Nobel Sastra 2010, bagaimanapun, sastrawan membutuhkan kiat khusus untuk karyanya di tengah arus global.
Eksplorasi mulai dari tema adat istiadat, fenomena “keluarga” hingga teknik bercerita yang unik, sangat dibutuhkan. Selain itu, kendati sudah merancang teknik canggih, dari berbahasa, struktur hingga alur sekali pun, karya sastra tetap membutuhkan energi sosio-politik lokal.
Hal itu dinyatakan seorang peserta dalam seminar bertajuk “Lokal Global dalam Sastra Indonesia” di Taman Budaya Lampung, Sabtu (2/10) yang diamini salah satu pembicara, Triyanto Triwikromo yang juga dikenal sebagai editor sastra sebuah harian umum di Kota Semarang.
Dia melontarkan bahwa pembicaraan soal lokalitas dan globalitas karya sastra yang tak pelak menyinggung juga persoalan batas kebudayaan. Bila dulu, papar Triyanto, kita memahami kelokalitasan dan keglobalitasan adalah entitas yang beku, tak bergerak, statis maka kini identitas tak pernah mandek.
Triyanto kemudian mengatakan bahwa tak ada ruang, sekali pun dengan gagah disebut lokal yang steril dari pengaruh ruang-ruang lain. Ruang lain, menyusup sedemikian deras ke dalam kelokalan sebuah teks sastra, misalnya karena pengaruh globalisme, tumbuh seperti sebuah virus yang tak terbendung.
Triyanto mencontohkan dialektika lokal-global pada sebuah karya sastra terbaru, yang dicontohkannya ada pada karya Arundhati Roy “The God of Small Things”. Arundhati, ujar Triyanto, mampu menyiasati berkah sekaligus ancaman globalitas. Jhumpa Lahiri menurut Triyanto hidup di dua dunia namun tak serta-merta larut di jantung sastra global, malah memunculkan kisah imigran, menggarap dunia batas lokal dan global, lalu berhasil.
Jose Ortega, disitir oleh Anton Kurnia dan Triyanto, pernah mengatakan sastra Amerika Latin adalah respons imajinatif terhadap segala pandangan dunia, aturan norma dan tata sosial yang datang dari barat.
Hal yang sama, ketika di antara para novelis Amerika Latin, sebut saja penulis Chili Luis Sepulveda yang mengungkapkan “The Old Man Who Read Love Stories” dalam novel yang tipis, realis dan terang-benderang, Gabriel Garcia Marquez penulis asal Kolombia malah mengungkapkan dengan bahasa yang puitik dan berpanjang-panjang. Namun, di tengah orang-orang di Kota Mokondo yang mau menukarkan hasil kekayaan alamnya dengan kaca pembesar para Gipsi Marquez sesungguhnya tak hanya membawa metafora bahasa saja. Energi Marquez adalah energi kolektif dari sejarah sosial-politik bangsa-bangsa Amerika Latin.
Energi Sosial
Pertanyaannya, bagaimanakah perkembangan sastra Indonesia selepas zaman dan masa Amir Hamzah, Marah Rusli, lalu pencarian modernitas Sutan Takdir Alisjahbana hingga Idrus dan Chairil Anwar, memasuki masa global, di mana penulis sastra Indonesia tak mungkin lagi berada dalam kondisi membebaskan begitu saja karyanya ke arah global karena perkembangan ke globalan justru akan kembali mempertanyakan identitas lokalitas. Tak bisa dipungkiri, risiko globalitas akan mengarah pada bahaya lain, keseragaman dan totalitarian.
Bagaimanapun, keunikan karya Pramoedya Ananta Toer yang tak lekang di sejarah, kendati diklaim mengusung paham terbaru dari realisme sosial ataupun humanisme, misalnya, telah ikut membawa kisah lokal di Arok-Dedes, juga kosmologi wong ngetan Jawa Timur di Perburuan, kendati diungkapkan dalam bahasa Indonesia sekali pun.
Pramoedya dan Marquez, melalui cara berbahasa yang berbeda telah menangkap persoalan lokal, namun mampu menarik perhatian para penikmat sastra global. Sebuah strategi kalau tak disebut sebagai visi-misi atau pandangan dunia dari si penulis yang membawakan teks sesuai perkembangan zamannya. Tentu dengan berbagai risiko, seperti Marquez, seyakin apakah penulis ini bahwa caranya berbahasa dapat ditangkap dan dimengerti oleh sebagian besar rakyat Amerika Latin. Sebuah karya, bukan teks eksklusif, seperti seorang yang berteriak dari menara gading, di tengah padang pasir yang sunyi.
Secara umum, seminar di tengah acara Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) di Lampung, yang pada seminar sesi pertama menghadirkan pembicara selain Triyanto yaitu tokoh pers dan penyair Djadjat Sudradjat dan sastrawan Lampung Asarpin lalu pada seminar sesi kedua menghadirkan pembicara antara lain sastrawan Yanusa Nugroho, Jamal D Rahman, dan sastrawan Lampung Iswadi Pratama itu menarik perhatian untuk disimak.
Masing-masing pembicara secara umum juga mengungkapkan tegangan lokal dan global dari latar belakang masing-masing. Sebuah tema seminar yang sejak dulu terasa klise, tapi sesungguhnya sulit dan berat untuk dipraktikkan dalam sebuah teks, terutama bagi penulis Indonesia di masa sekarang yang merasa berada di antara gaya khas sastrawan besar di masa silam.
http://www.sinarharapan.co.id/
Sejalan dengan Maria Vargas Llosa, penulis kelahiran Peru yang menggondol Hadiah Nobel Sastra 2010, bagaimanapun, sastrawan membutuhkan kiat khusus untuk karyanya di tengah arus global.
Eksplorasi mulai dari tema adat istiadat, fenomena “keluarga” hingga teknik bercerita yang unik, sangat dibutuhkan. Selain itu, kendati sudah merancang teknik canggih, dari berbahasa, struktur hingga alur sekali pun, karya sastra tetap membutuhkan energi sosio-politik lokal.
Hal itu dinyatakan seorang peserta dalam seminar bertajuk “Lokal Global dalam Sastra Indonesia” di Taman Budaya Lampung, Sabtu (2/10) yang diamini salah satu pembicara, Triyanto Triwikromo yang juga dikenal sebagai editor sastra sebuah harian umum di Kota Semarang.
Dia melontarkan bahwa pembicaraan soal lokalitas dan globalitas karya sastra yang tak pelak menyinggung juga persoalan batas kebudayaan. Bila dulu, papar Triyanto, kita memahami kelokalitasan dan keglobalitasan adalah entitas yang beku, tak bergerak, statis maka kini identitas tak pernah mandek.
Triyanto kemudian mengatakan bahwa tak ada ruang, sekali pun dengan gagah disebut lokal yang steril dari pengaruh ruang-ruang lain. Ruang lain, menyusup sedemikian deras ke dalam kelokalan sebuah teks sastra, misalnya karena pengaruh globalisme, tumbuh seperti sebuah virus yang tak terbendung.
Triyanto mencontohkan dialektika lokal-global pada sebuah karya sastra terbaru, yang dicontohkannya ada pada karya Arundhati Roy “The God of Small Things”. Arundhati, ujar Triyanto, mampu menyiasati berkah sekaligus ancaman globalitas. Jhumpa Lahiri menurut Triyanto hidup di dua dunia namun tak serta-merta larut di jantung sastra global, malah memunculkan kisah imigran, menggarap dunia batas lokal dan global, lalu berhasil.
Jose Ortega, disitir oleh Anton Kurnia dan Triyanto, pernah mengatakan sastra Amerika Latin adalah respons imajinatif terhadap segala pandangan dunia, aturan norma dan tata sosial yang datang dari barat.
Hal yang sama, ketika di antara para novelis Amerika Latin, sebut saja penulis Chili Luis Sepulveda yang mengungkapkan “The Old Man Who Read Love Stories” dalam novel yang tipis, realis dan terang-benderang, Gabriel Garcia Marquez penulis asal Kolombia malah mengungkapkan dengan bahasa yang puitik dan berpanjang-panjang. Namun, di tengah orang-orang di Kota Mokondo yang mau menukarkan hasil kekayaan alamnya dengan kaca pembesar para Gipsi Marquez sesungguhnya tak hanya membawa metafora bahasa saja. Energi Marquez adalah energi kolektif dari sejarah sosial-politik bangsa-bangsa Amerika Latin.
Energi Sosial
Pertanyaannya, bagaimanakah perkembangan sastra Indonesia selepas zaman dan masa Amir Hamzah, Marah Rusli, lalu pencarian modernitas Sutan Takdir Alisjahbana hingga Idrus dan Chairil Anwar, memasuki masa global, di mana penulis sastra Indonesia tak mungkin lagi berada dalam kondisi membebaskan begitu saja karyanya ke arah global karena perkembangan ke globalan justru akan kembali mempertanyakan identitas lokalitas. Tak bisa dipungkiri, risiko globalitas akan mengarah pada bahaya lain, keseragaman dan totalitarian.
Bagaimanapun, keunikan karya Pramoedya Ananta Toer yang tak lekang di sejarah, kendati diklaim mengusung paham terbaru dari realisme sosial ataupun humanisme, misalnya, telah ikut membawa kisah lokal di Arok-Dedes, juga kosmologi wong ngetan Jawa Timur di Perburuan, kendati diungkapkan dalam bahasa Indonesia sekali pun.
Pramoedya dan Marquez, melalui cara berbahasa yang berbeda telah menangkap persoalan lokal, namun mampu menarik perhatian para penikmat sastra global. Sebuah strategi kalau tak disebut sebagai visi-misi atau pandangan dunia dari si penulis yang membawakan teks sesuai perkembangan zamannya. Tentu dengan berbagai risiko, seperti Marquez, seyakin apakah penulis ini bahwa caranya berbahasa dapat ditangkap dan dimengerti oleh sebagian besar rakyat Amerika Latin. Sebuah karya, bukan teks eksklusif, seperti seorang yang berteriak dari menara gading, di tengah padang pasir yang sunyi.
Secara umum, seminar di tengah acara Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) di Lampung, yang pada seminar sesi pertama menghadirkan pembicara selain Triyanto yaitu tokoh pers dan penyair Djadjat Sudradjat dan sastrawan Lampung Asarpin lalu pada seminar sesi kedua menghadirkan pembicara antara lain sastrawan Yanusa Nugroho, Jamal D Rahman, dan sastrawan Lampung Iswadi Pratama itu menarik perhatian untuk disimak.
Masing-masing pembicara secara umum juga mengungkapkan tegangan lokal dan global dari latar belakang masing-masing. Sebuah tema seminar yang sejak dulu terasa klise, tapi sesungguhnya sulit dan berat untuk dipraktikkan dalam sebuah teks, terutama bagi penulis Indonesia di masa sekarang yang merasa berada di antara gaya khas sastrawan besar di masa silam.
Jumat, 10 September 2010
Surat Bunga dari Ubud: Putu dan ”Sejarah yang Terserpih”
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Persimpangan sejarah yang membuat generasi itu mampu membuat kisah lebih bermakna, energi yang memadai bila diangkat ke dalam karya. Demikian lontaran pendapat sastrawan Martin Aleida. Pendapat yang boleh diragukan oleh generasi masa kini. Kendati, pendapat Martin itu penting untuk dipertimbangkan saat membaca karya Putu Oka Sukanta.
Begitu pun sejarah tentang biografi di sebuah rezim di tengah prahara politik di Indonesia, hingga sekarang menjadi kemelut, menjadi kontroversi, bahkan mampu memperlambat dan memacetkan proses hukum yang sedang dijalankan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK): korban 1965 yang pembelaannya masih menimbulkan pro-kontra dari setiap lapisan politik masa kini.
Sejarah yang gamang, sejarah yang rawan.
Perasaan semacam itu tertangkap di buku Surat Bunga dari Ubud (Penerbit Koekoesan, 2008) yang diluncurkan di Goethe Institut Jl Sam Ratulangi 9-15 Jakarta, Jumat (7/11) malam, didukung oleh Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA), Institut for Global Justice (IGJ), Penerbit Koekoesan, Kelompok Insan Pemerhati Seni (KIPAS), Meja Budaya dan Goethe Institut.
Ada fenomena yang berbeda antara teks cerpen dan puisi. Cerpen cenderung berupa dunia imaji yang rapi dan penuh siasat untuk melepaskan diri dari personalitas penulisnya. Di dalam puisi, terendus jejak biografi sekaligus perasaan si senimannya.
Karena itu, tak tepat bila membaca puisi penulis kelahiran Singaraja, Bali, 1939 yang pernah mendekam di penjara politik Salemba dan Tangerang sejak 1966 hingga 1976 ini, hanya diarahkan kepada fenomena diksi, tipologi dan tanda-tanda baca lainnya di dalam karya.
Di karya penyair yang sebelumnya pernah menulis kumpulan puisi Selat Bali (1982), Tembang Jalak Bali (1986), Salam (1986), Tembok-Matahari Berlin (1990) itu, terseliplah cinta personalnya tentang keluarga, ”rantai cinta” di masa lalu, genetik Bali seorang Putu Oka Sukanta, lengkap dengan spiritualitas ”manusia Pulau Dewata” di Nusantara.
Sepuluh tahun, tentu begitu mengerikannya, sebuah ruang terali sempit yang tanpa kebebasan fisik dan ketidakpastian masa depan – diganduli belenggu pemikiran dan belenggu karya di atas riwayat hidupnya.
Tak hanya itu, dalam kebebasan pun, hingga tahun 1998 bahkan sekarang, stigma itu terus berlangsung, mempermainkan riwayat tiap orang yang pernah terlibat dan terkalahkan oleh prahara sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan hukum di masa menyedihkan itu. Kendati bersalah pun, tak ada pengadilan dan hukum yang memadai untuk mengantarkan mereka dalam pesakitan panjangnya. Bahkan, khalayak awam seperti petani dan ”kalangan lugu”, harus ikut menderita dalam stigma prahara politik tahun 1960-an.
Ada sejarah yang berjalan di atas muka bumi, yang ikut mempermainkan seorang Putu Oka Sukanta. Tubuh yang menua, pengalaman hidup yang mendera, dunia yang terus berubah. Sama seperti menyaksikan sastrawan Sitor Situmorang, Martin Aleida, mendiang Pramoedya Ananta Toer atau seniman rupa Agustin Sibarani, mereka adalah “mata masa lalu” yang sempat melihat kekinian zaman yang terus bergerak. Aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) hingga aktivis Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) ikut dirobohkan dan dihancurkan dalam sejarah itu.
Seorang mantan tapol akhirnya memperhatikan dunia yang berubah wajah, dunia yang kini berada di tengah sistem industri liberal, pasar bebas. Negaranya kini masih menjadi negara berkembang yang mengklaim diri tekun dengan spiritualitas Asia – penuh dengan harmoni, namun sekaligus juga dimainkan oleh “spiritualitas” baru: televisi kabel, generasi MTV (music television, sebuah program televisi internasional), plus globalisasi yang membelit. Sekaligus juga krisis ekonomi dan rasa kebangsaan yang diserpih…
***
Amatlah unik bila dipasang asumsi bahwa penyair yang pernah tersisih dalam sejarah rezim tiran Orde Baru, umumnya tetap menggali kenangan dan rasa rindu dendam pada tanah air di dalam puisinya.
Tanah rantau tetap sulit menjadi tanah air pertama, tanah rantau kerap dijadikan tanah yang kedua. Mereka masih kerap membandingkan antara Amerika, Eropa dengan rasa kangen tanah air.
Itu dapat saja terjadi, baik pada sastrawan eksil, ataupun sastrawan yang mendapat ganjaran hukum beberapa tahun dari tiran Orde Baru dan sekeluar dari penjara baru dapat merasakan hawa kebebasan di paru-parunya.
Umumnya, mereka tetap menggali kenangan, rasa rindu dendam pada tanah air. Sekali pun hanya singgah atau bahkan menetap di negeri orang.
Putu Oka Sukanta memang bukan sastrawan eksil secara fisik – kendati dia ”eksil, pernah tersingkir dari sebuah sejarah biografi dan karya”. Putu kembali tinggal dan bekerja di negeri ini. Setelah mewarisi keahlian Dokter Lee, dia pun bekerja di bidang konsultasi akupunktur di rumah praktiknya yang terletak di sebuah gang kota Jakarta. ”Hidup saya justru dari sini, Bung,” ujarnya pada penulis, saat bertandang ke tempatnya berpraktik.
Putu, juga diundang ke beberapa negara di Asia, Eropa, Amerika dan Australia untuk mempresentasikan tulisannya. Di semua puisi yang ber-titimangsa (keterangan latar tempat dan waktu) negeri lain itu, Putu ternyata tak henti membandingkan dengan kecintaan dan kerinduan pada tanah airnya.
Bacalah puisi berjudul ”Stockholm”, dengan titimangsa pembuatan karya di Huddingen-Amsterdam, November 2000, Putu menggubah larik puisinya. Mantel tebal dengan bahasa Jawa di Huddingen Swedia mengingatkannya pada masa lalu di Pendopo Taman Siswa:
jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di huddingen swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya
Juga pada puisinya yang lain, kali ini, melalui pikiran dan kenangan Putu, tanah leluhurnya pun tiba-tiba saja ”hinggap” di Ithaca. Antara Bali dan Amerika. Amboi, betapa jauhnya perbandingan dua alam berbeda benua disajikannya dalam santapan puitik!
pantai Bali di Ithaca
naik jukung bertiga
menggali sumur peradaban semesta
tak kan kering ditimba pengarang dunia
(”Pantai Bali Ithaca”, halaman 40)
***
Namun, manakah yang lebih kuat, perasaan yang terkait dunia sosial Putu, terutama dalam konteks kebangsaan, dibandingkan keterpesonaan si penyair dengan alam semesta termasuk matahari, Pulau Bali atau keindahan alam mancanegara?
Putu bisa memunculkan satir perjalanan berbangsa sekaligus pesona alam. Kendati saat melukiskan alam dalam sajak, kerinduannya sebagai manusia, sebagai manusia Bali yang religius, kepada Sang Pencipta di karyanya, Putu terasa lebih mampu mengendalikan olah bahasa ketimbang tema-tema puisinya yang bernuansa politis.
Untuk politik, terkadang Putu sangat verbal, puisinya bisa menjadi begitu ”terang”, sayangnya dalam terang, banyak sisi lain yang bisa terlupakan, entah segi bunyi ataupun permainan metafora. Putu berada di persimpangan itu, puisi yang simbolik, dengan bahasa verbal untuk menyiratkan keadaan. Demikianlah dia kini, berada di antara sejarah kekinian, dengan cara pandang ”mata masa lalu” yang masih dia miliki.
http://www.sinarharapan.co.id/
Persimpangan sejarah yang membuat generasi itu mampu membuat kisah lebih bermakna, energi yang memadai bila diangkat ke dalam karya. Demikian lontaran pendapat sastrawan Martin Aleida. Pendapat yang boleh diragukan oleh generasi masa kini. Kendati, pendapat Martin itu penting untuk dipertimbangkan saat membaca karya Putu Oka Sukanta.
Begitu pun sejarah tentang biografi di sebuah rezim di tengah prahara politik di Indonesia, hingga sekarang menjadi kemelut, menjadi kontroversi, bahkan mampu memperlambat dan memacetkan proses hukum yang sedang dijalankan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK): korban 1965 yang pembelaannya masih menimbulkan pro-kontra dari setiap lapisan politik masa kini.
Sejarah yang gamang, sejarah yang rawan.
Perasaan semacam itu tertangkap di buku Surat Bunga dari Ubud (Penerbit Koekoesan, 2008) yang diluncurkan di Goethe Institut Jl Sam Ratulangi 9-15 Jakarta, Jumat (7/11) malam, didukung oleh Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA), Institut for Global Justice (IGJ), Penerbit Koekoesan, Kelompok Insan Pemerhati Seni (KIPAS), Meja Budaya dan Goethe Institut.
Ada fenomena yang berbeda antara teks cerpen dan puisi. Cerpen cenderung berupa dunia imaji yang rapi dan penuh siasat untuk melepaskan diri dari personalitas penulisnya. Di dalam puisi, terendus jejak biografi sekaligus perasaan si senimannya.
Karena itu, tak tepat bila membaca puisi penulis kelahiran Singaraja, Bali, 1939 yang pernah mendekam di penjara politik Salemba dan Tangerang sejak 1966 hingga 1976 ini, hanya diarahkan kepada fenomena diksi, tipologi dan tanda-tanda baca lainnya di dalam karya.
Di karya penyair yang sebelumnya pernah menulis kumpulan puisi Selat Bali (1982), Tembang Jalak Bali (1986), Salam (1986), Tembok-Matahari Berlin (1990) itu, terseliplah cinta personalnya tentang keluarga, ”rantai cinta” di masa lalu, genetik Bali seorang Putu Oka Sukanta, lengkap dengan spiritualitas ”manusia Pulau Dewata” di Nusantara.
Sepuluh tahun, tentu begitu mengerikannya, sebuah ruang terali sempit yang tanpa kebebasan fisik dan ketidakpastian masa depan – diganduli belenggu pemikiran dan belenggu karya di atas riwayat hidupnya.
Tak hanya itu, dalam kebebasan pun, hingga tahun 1998 bahkan sekarang, stigma itu terus berlangsung, mempermainkan riwayat tiap orang yang pernah terlibat dan terkalahkan oleh prahara sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan hukum di masa menyedihkan itu. Kendati bersalah pun, tak ada pengadilan dan hukum yang memadai untuk mengantarkan mereka dalam pesakitan panjangnya. Bahkan, khalayak awam seperti petani dan ”kalangan lugu”, harus ikut menderita dalam stigma prahara politik tahun 1960-an.
Ada sejarah yang berjalan di atas muka bumi, yang ikut mempermainkan seorang Putu Oka Sukanta. Tubuh yang menua, pengalaman hidup yang mendera, dunia yang terus berubah. Sama seperti menyaksikan sastrawan Sitor Situmorang, Martin Aleida, mendiang Pramoedya Ananta Toer atau seniman rupa Agustin Sibarani, mereka adalah “mata masa lalu” yang sempat melihat kekinian zaman yang terus bergerak. Aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) hingga aktivis Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) ikut dirobohkan dan dihancurkan dalam sejarah itu.
Seorang mantan tapol akhirnya memperhatikan dunia yang berubah wajah, dunia yang kini berada di tengah sistem industri liberal, pasar bebas. Negaranya kini masih menjadi negara berkembang yang mengklaim diri tekun dengan spiritualitas Asia – penuh dengan harmoni, namun sekaligus juga dimainkan oleh “spiritualitas” baru: televisi kabel, generasi MTV (music television, sebuah program televisi internasional), plus globalisasi yang membelit. Sekaligus juga krisis ekonomi dan rasa kebangsaan yang diserpih…
***
Amatlah unik bila dipasang asumsi bahwa penyair yang pernah tersisih dalam sejarah rezim tiran Orde Baru, umumnya tetap menggali kenangan dan rasa rindu dendam pada tanah air di dalam puisinya.
Tanah rantau tetap sulit menjadi tanah air pertama, tanah rantau kerap dijadikan tanah yang kedua. Mereka masih kerap membandingkan antara Amerika, Eropa dengan rasa kangen tanah air.
Itu dapat saja terjadi, baik pada sastrawan eksil, ataupun sastrawan yang mendapat ganjaran hukum beberapa tahun dari tiran Orde Baru dan sekeluar dari penjara baru dapat merasakan hawa kebebasan di paru-parunya.
Umumnya, mereka tetap menggali kenangan, rasa rindu dendam pada tanah air. Sekali pun hanya singgah atau bahkan menetap di negeri orang.
Putu Oka Sukanta memang bukan sastrawan eksil secara fisik – kendati dia ”eksil, pernah tersingkir dari sebuah sejarah biografi dan karya”. Putu kembali tinggal dan bekerja di negeri ini. Setelah mewarisi keahlian Dokter Lee, dia pun bekerja di bidang konsultasi akupunktur di rumah praktiknya yang terletak di sebuah gang kota Jakarta. ”Hidup saya justru dari sini, Bung,” ujarnya pada penulis, saat bertandang ke tempatnya berpraktik.
Putu, juga diundang ke beberapa negara di Asia, Eropa, Amerika dan Australia untuk mempresentasikan tulisannya. Di semua puisi yang ber-titimangsa (keterangan latar tempat dan waktu) negeri lain itu, Putu ternyata tak henti membandingkan dengan kecintaan dan kerinduan pada tanah airnya.
Bacalah puisi berjudul ”Stockholm”, dengan titimangsa pembuatan karya di Huddingen-Amsterdam, November 2000, Putu menggubah larik puisinya. Mantel tebal dengan bahasa Jawa di Huddingen Swedia mengingatkannya pada masa lalu di Pendopo Taman Siswa:
jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di huddingen swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya
Juga pada puisinya yang lain, kali ini, melalui pikiran dan kenangan Putu, tanah leluhurnya pun tiba-tiba saja ”hinggap” di Ithaca. Antara Bali dan Amerika. Amboi, betapa jauhnya perbandingan dua alam berbeda benua disajikannya dalam santapan puitik!
pantai Bali di Ithaca
naik jukung bertiga
menggali sumur peradaban semesta
tak kan kering ditimba pengarang dunia
(”Pantai Bali Ithaca”, halaman 40)
***
Namun, manakah yang lebih kuat, perasaan yang terkait dunia sosial Putu, terutama dalam konteks kebangsaan, dibandingkan keterpesonaan si penyair dengan alam semesta termasuk matahari, Pulau Bali atau keindahan alam mancanegara?
Putu bisa memunculkan satir perjalanan berbangsa sekaligus pesona alam. Kendati saat melukiskan alam dalam sajak, kerinduannya sebagai manusia, sebagai manusia Bali yang religius, kepada Sang Pencipta di karyanya, Putu terasa lebih mampu mengendalikan olah bahasa ketimbang tema-tema puisinya yang bernuansa politis.
Untuk politik, terkadang Putu sangat verbal, puisinya bisa menjadi begitu ”terang”, sayangnya dalam terang, banyak sisi lain yang bisa terlupakan, entah segi bunyi ataupun permainan metafora. Putu berada di persimpangan itu, puisi yang simbolik, dengan bahasa verbal untuk menyiratkan keadaan. Demikianlah dia kini, berada di antara sejarah kekinian, dengan cara pandang ”mata masa lalu” yang masih dia miliki.
Rabu, 08 September 2010
Kini Kartu Lebaran Berganti SMS dan “Email”
Silaturahmi Idul Fitri
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Penulis sastra sekaligus sineas Djenar Mahesa Ayu, mengatakan kalau dirinya justru lebih memilih mengirimkan ucapan pada hari raya, ulang tahun lewat kiriman SMS, ketimbang mengirimkan lewat kartu atau surat.
“SMS bisa lebih efektif, efisien dan ekonomis ketimbang ke kantor pos. Bahkan lewat email pun, kita tetap ke tempat di mana ada komputer dan itu masih agak menyulitkan. Saya lebih senang SMS, karena saya ingin yang supel dan praktis,” paparnya.
Dia mencontohkan, sampai sekarang orang sering mengontaknya lebih cepat bila lewat telepon. “Orang bilang ke gue, mbak minta alamatnya dong, kita mau kirim undangan. Gue bilang, gak usah kirim lewat undangan tapi SMS aja. Mobilitas makin gila, kalau lewat surat sudah sering tak bisa dilihat lagi karena saking banyaknya. Sedangkan SMS kan bisa langsung masuk ke skedul gue, bisa diingatkan,” katanya kepada SH, Senin (29/9).
Ungkapan menjelang perayaan Idul Fitri yang biasanya dilakukan lewat kartu lebaran dengan mengirimkan surat khusus ke alamat rekan, kerabat ataupun keluarga kini berganti dengan kiriman short message service (SMS) melalui Hp ataupun kiriman email. Namun, tindakan dan kreativitas memilih gambar dan lukisan di kartu lebaran, sekali pun bisa teralih ke objek visual di email, tak bisa dikejar hanya lewat baris tulisan di handphone.
Namun, penyair yang juga Buruh Migran Indonesia di Hong Kong, Mega Vristian, saat dihubungi SH lewat email, justru mengaku lebih suka mengirim ucapan lebaran lewat surat ataupun kartu. “Karena kalau lewat kartu, kiriman saya itu bisa menjadi kenangan bagi mereka. Apalagi saya mengucapkan lebaran biasanya dengan kalimat puitis,” papar Mega yang hingga kini masih aktif menjadi anggota di Komunitas Perantau Nusantara yang bergelut di dunia sastra.
Namun, belakangan, dia mengaku ikut terhanyut oleh kemalasan mengirim kartu. Khusus untuk ke orang tua dan kerabat dekat, dia tetap mengirim kartu ataupun langsung menelepon mereka.
Para Buruh Migran Indonesia di Hong Kong pun, menurut Mega, sudah tidak mengirim kartu lebaran lewat pos. Bila mereka tak tahu internet, biasanya mereka akan mengirim melalui SMS dengan telepon genggam. “Rekan-rekan jarang mengirim dan menerima kartu lebaran beberapa tahun belakangan ini,” ujar Mega.
Budaya Literatur
Ini sekadar pendapat pengamat seni rupa Merwan Yusuf. Menurut Merwan, saat ini yang berkembang pesat adalah kepekaan literatur. Literatur, artinya pesan lebih sering disampaikan lewat tulisan. Sedangkan penyampaian lewat lukisan, image atau visual kini sudah berkurang. “Kecuali di internet barangkali image tetap bisa dimainkan. Tetapi bila lewat handphone, itu lebih mendorong munculnya literatur,” ujarnya.
Sekali pun ada pergeseran objek di masyarakat, namun Merwan menolak bila kecintaan pada seni di tengah publik telah berkurang. “Memang ada pergeseran, tetapi kecintaan pada seni tak bisa dipandang berkurang. Bila dulu silaturahmi dilakukan dengan cara bersalaman, oral, lewat lisan saja, kini lewat dialog tulisan di handphone,” ujar Merwan Yusuf, saat dilontarkan SH, Senin (29/9) tentang fenomena itu.
Kebiasaan ber-SMS di negeri ini, menurut Merwan, tak lepas dari budaya masyarakat Indonesia suka mengobrol. Dari perilaku oral ini, membuat perilaku SMS kemudian lebih dekat dan lebih bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang memang karakternya sangat ekspresif.
“SMS menampung semua hasrat itu, karenanya kegiatan ini jadi kondusif di masyarakat kita. Sekarang lihat saja, pembantu rumah tangga pun saling ber-SMS, kalau dulu kan menulis surat. Itu tak bermasalah. Kalau bicara soal lukisan, kebiasaan itu tetap ada. Hanya saja sudah teralihkan, ya di internet tadi. Sekarang malah untuk membuat kartu nama pun orang membuat foto atau lukisan, itu harganya malah lebih mahal dari kartu lebaran. Jadi, tak ada kaitannya dengan pendalaman,” ujar Merwan.
Merwan juga mengingatkan esensi itu harus ditanggapi jeli karena kadang dalam konteks pembicaraan ini, semua bisa mengarah pada seni pendalaman, tetapi bisa juga pendangkalan. “Inilah masyarkat industri, kita tak bisa menghindarinya. Seni rupa telah berdialektika dengan hal-hal semacam itu,” ujar Merwan.
Biar kartu atau email,yang penting silaturahmi terjaga. Mohon maaf lahir bathin!
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Penulis sastra sekaligus sineas Djenar Mahesa Ayu, mengatakan kalau dirinya justru lebih memilih mengirimkan ucapan pada hari raya, ulang tahun lewat kiriman SMS, ketimbang mengirimkan lewat kartu atau surat.
“SMS bisa lebih efektif, efisien dan ekonomis ketimbang ke kantor pos. Bahkan lewat email pun, kita tetap ke tempat di mana ada komputer dan itu masih agak menyulitkan. Saya lebih senang SMS, karena saya ingin yang supel dan praktis,” paparnya.
Dia mencontohkan, sampai sekarang orang sering mengontaknya lebih cepat bila lewat telepon. “Orang bilang ke gue, mbak minta alamatnya dong, kita mau kirim undangan. Gue bilang, gak usah kirim lewat undangan tapi SMS aja. Mobilitas makin gila, kalau lewat surat sudah sering tak bisa dilihat lagi karena saking banyaknya. Sedangkan SMS kan bisa langsung masuk ke skedul gue, bisa diingatkan,” katanya kepada SH, Senin (29/9).
Ungkapan menjelang perayaan Idul Fitri yang biasanya dilakukan lewat kartu lebaran dengan mengirimkan surat khusus ke alamat rekan, kerabat ataupun keluarga kini berganti dengan kiriman short message service (SMS) melalui Hp ataupun kiriman email. Namun, tindakan dan kreativitas memilih gambar dan lukisan di kartu lebaran, sekali pun bisa teralih ke objek visual di email, tak bisa dikejar hanya lewat baris tulisan di handphone.
Namun, penyair yang juga Buruh Migran Indonesia di Hong Kong, Mega Vristian, saat dihubungi SH lewat email, justru mengaku lebih suka mengirim ucapan lebaran lewat surat ataupun kartu. “Karena kalau lewat kartu, kiriman saya itu bisa menjadi kenangan bagi mereka. Apalagi saya mengucapkan lebaran biasanya dengan kalimat puitis,” papar Mega yang hingga kini masih aktif menjadi anggota di Komunitas Perantau Nusantara yang bergelut di dunia sastra.
Namun, belakangan, dia mengaku ikut terhanyut oleh kemalasan mengirim kartu. Khusus untuk ke orang tua dan kerabat dekat, dia tetap mengirim kartu ataupun langsung menelepon mereka.
Para Buruh Migran Indonesia di Hong Kong pun, menurut Mega, sudah tidak mengirim kartu lebaran lewat pos. Bila mereka tak tahu internet, biasanya mereka akan mengirim melalui SMS dengan telepon genggam. “Rekan-rekan jarang mengirim dan menerima kartu lebaran beberapa tahun belakangan ini,” ujar Mega.
Budaya Literatur
Ini sekadar pendapat pengamat seni rupa Merwan Yusuf. Menurut Merwan, saat ini yang berkembang pesat adalah kepekaan literatur. Literatur, artinya pesan lebih sering disampaikan lewat tulisan. Sedangkan penyampaian lewat lukisan, image atau visual kini sudah berkurang. “Kecuali di internet barangkali image tetap bisa dimainkan. Tetapi bila lewat handphone, itu lebih mendorong munculnya literatur,” ujarnya.
Sekali pun ada pergeseran objek di masyarakat, namun Merwan menolak bila kecintaan pada seni di tengah publik telah berkurang. “Memang ada pergeseran, tetapi kecintaan pada seni tak bisa dipandang berkurang. Bila dulu silaturahmi dilakukan dengan cara bersalaman, oral, lewat lisan saja, kini lewat dialog tulisan di handphone,” ujar Merwan Yusuf, saat dilontarkan SH, Senin (29/9) tentang fenomena itu.
Kebiasaan ber-SMS di negeri ini, menurut Merwan, tak lepas dari budaya masyarakat Indonesia suka mengobrol. Dari perilaku oral ini, membuat perilaku SMS kemudian lebih dekat dan lebih bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang memang karakternya sangat ekspresif.
“SMS menampung semua hasrat itu, karenanya kegiatan ini jadi kondusif di masyarakat kita. Sekarang lihat saja, pembantu rumah tangga pun saling ber-SMS, kalau dulu kan menulis surat. Itu tak bermasalah. Kalau bicara soal lukisan, kebiasaan itu tetap ada. Hanya saja sudah teralihkan, ya di internet tadi. Sekarang malah untuk membuat kartu nama pun orang membuat foto atau lukisan, itu harganya malah lebih mahal dari kartu lebaran. Jadi, tak ada kaitannya dengan pendalaman,” ujar Merwan.
Merwan juga mengingatkan esensi itu harus ditanggapi jeli karena kadang dalam konteks pembicaraan ini, semua bisa mengarah pada seni pendalaman, tetapi bisa juga pendangkalan. “Inilah masyarkat industri, kita tak bisa menghindarinya. Seni rupa telah berdialektika dengan hal-hal semacam itu,” ujar Merwan.
Biar kartu atau email,yang penting silaturahmi terjaga. Mohon maaf lahir bathin!
Rabu, 30 Juni 2010
Perjuangan Rakyat, Berpameran, dan ”Tak Termuat di Antologi”
HUT Ke-80 Sitor Situmorang
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Rekonsiliasi itu perlu. Namun penegakan kebenaran juga tetap harus dilakukan sejalan dengan rekonsiliasi itu. Kalimat ini mengalir dari pendapat seorang Sitor Situmorang, penyair, prosais, yang terlibat dalam aktivitas dan sejarah kebangsaan, di momen pembacaan puisi dan cerpen bersama generasi terbaru.
Dengan tajuk ”Menengok ke Belakang, Mengintip ke Depan: 1965 sampai 2004” yang diadakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin (5/10), Sitor Situmorang, tampil bersama nama lain yang tak jauh dari generasinya, Putu Oka Sukanta dan Martin Aleida. Di momen yang diadakan oleh milis Sastra Pembebasan itu, Sitor mengatakan bahwa hal terpenting adalah memperjuangkan suara rakyat dan kebenaran.
Sitor, penyair kelahiran 2 Oktober 1924 di Harianboho, Sumatera Utara ini sehari sebelumnya juga baru merayakan hari ulang tahunnya di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Hadir di acara itu generasi muda, dengan disiplin yang berbeda, akademisi, aktivis mahasiswa, hingga penikmat sastra.
Nama Sitor memang bukan hanya dikenal di kalangan budayawan tapi juga pergerakan Indonesia. Kehadiran rekannya di acara itu, Pramoedya Ananta Toer, menguatkan kesan, bahwa hingga kini, perjuangan tetap setia dan konsisten mereka jalani.
Inilah, salah satu sikap di antara untaian ceramah sang penyair di momen HUT-nya di Galeri Cipta II, saat berbicara tentang puisi: Akal dan bathin, pikiran dan perasaan ingin dipadukan dalam puisi, kesadaran manusiawi yang utuh, dan yang tidak dapat diuraikan, dianalisa memuaskan dengan akal semata.
Di momen ulang tahun ini, menarik juga melongok pameran yang digelar, mengetengahkan ”figur dan karya” Sitor Situmorang di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin.
Pameran seputar Sitor Situmorang yang dimulai sejak 1 Oktober itu, menggelar seputar biografi Sitor dan karyanya. Ada fotonya semasa perjuangan pergerakan nasional, masa kecil Sitor di Tanah Batak, Sitor muda dan keluarga, berita surat kabar seputar aktivitas politik dan budaya, surat-menyurat dia bersama sastrawan lain termasuk HB Yassin, tarombo (silsilah keturunan marga Situmorang-nya Sitor), juga buku-buku karya pengarang ini, yang tampak sudah usang namun bertahan oleh usia.
Yang menarik, keseluruhan karya-karya Sitor ini diletakkan di medium ”estetik” khas seorang Afrizal Malna. Afrizal jugalah yang mengusung foto-foto dan menempelkannya di kulkas tua, menempelkan foto lainnya di mesin cuci tua, menyandarkan bambu tepat di foto Sitor sehingga seolah tangan di foto itu menyentuh bambu. Ada juga karya pelukis Pande Ketut Taman, berupa pulasan hitam membentuk mawar ”tampak dari atas”, karya yang menerjemahkan puisi Sitor berjudul Mawar, yang hanya terdiri dari delapan kata: //Mawar jingga/ Mawar semesta/ Mawar nestapa/ Ciuman buta//
Sentuhan Afrizal di pameran ini, mau tak mau mengingatkan pada puisi Afrizal yang ”hiper-realis” dengan ”benda-benda yang berseliweran”, ”fantasmagoria”, ”lipatan waktu”, terasa berbenturan dengan figur dan karya seorang sastrawan pada masa ”Angkatan 1945”, yang lebih mengarah pada ”kebijakan alam dan romantisme” termasuk ”nuansa perjuangan dan kebangsaan”. Namun justru itulah, membuatnya tema paradoksal di antara keduanya itu jadi terkesan unik.
Sitor: Antologi, Teks, dan Apresian
Di Pusat Dokumentasi HB Yassin, beberapa hari setelahnya (6/10), diadakan acara bertajuk ”Dialog dengan Sitor Situmorang”. Sitor mengatakan di acara itu bahwa politik sudah lama dia jalani. Begitu pun tentang politik di dalam kesenian yang banyak macamnya. ”Termasuk ada generasi baru yang ingin dapat pengakuan pada generasi yang lebih tua,” ujarnya, sambil tersenyum.
Tapi bagi Sitor, justru sikap berpolitik itu lebih baik daripada ”berpura-pura tak berpolitik padahal berpolitik”. Ungkapan yang perlu dimengerti – bisa saja mengarah pada perbedaan yang pernah terjadi puluhan tahun silam. ”Itu sikap saya, termasuk ketika saya berhadapan dengan Soeharto dan rezim Orde Barunya,” ujarnya.
Sitor bahkan mengatakan di dalam politik kesenian, antologinya sempat tak diikutsertakan pada generasi yang sama dengan dirinya, tanpa pemberitahuan, tanpa mengajak debat dulu tentang kualitas karyanya atau memilih beberapa karya yang terbaik saja dari dirinya. Sama sekali pengujian itu tak dilakukan. ”Jadi bukan karena nilai karya, maka itu semua jadi (membuat saya punya) persangkaan-persangkaan. Tahunya ada (seniman di baliknya) masih layani keinginan ‘orang Orba’ tertentu,” ujar Sitor, seperti ingin membeberkan kembali kejadian masa lalunya itu.
Itu hal yang bagi Sitor, sesuatu yang rendah dan kekanak-kanakan, berupa kecemburuan. Memang, saat itu tak bisa diingkari bahwa karya Sitor sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa internasional, selain juga dia masuk dalam sejarah sastra periode 1945 dan 1966, suatu pembicaraan yang sempat terangkat dalam tulisan Ajip Rosidi (lewat bukunya Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir). ”Memang perilaku itu bahkan tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di seluruh dunia,” ujar Sitor, membubuhkan.
Menurut Sitor lagi, secara pribadi, dia tak pernah ada ketakutan tidak diakui atau ikhlas mengakui kelebihan orang lain. Dia terus berkarya 1.000 sajak pun, belum tentu semua sama butuhnya (tergantung minat dan selera pembaca, red). Menurutnya, dia bahkan bisa membingungkan orang-orang yang ”tanggung-tanggung” referensi sastranya, sehingga ”sajak politik” saya lantas dibilang ”bukan puisi”. Bahkan, ada yang mengatakan, bahwa setelah Sitor berpolitik, dia jadi malu membaca karya Sitor yang berpolitik itu. Saat Sitor menulis tentang Marsinah (buruh yang terbunuh, red), lantas dibilang memalukan karena Sitor membuat sajak politik tentang Marsinah. ”Saya bahkan dibilang melacur kalau bikin sajak semacam itu. Bagi saya, orang semacam itu ”beda” budaya dan beda dunianya dengan saya. Untuk itu, saya tak perlu masuk antologi untuk orang yang kayak begitu!” ujarnya, berapi-api.
Dia kemudian memaparkan bahwa sekalipun tak masuk antologi, nyatanya pada generasi setelahnya, orang masih mengingat dirinya. Dia mencontohkan saat dirinya datang ke acara Cakrawala Sastra Indonesia (14-17 September 2004 yang lalu), sebagai undangan dan bukan sebagai peserta. Dia akan menyaksikan mereka baca. ”Saya yakin saya belum kenal mereka dan mereka belum kenal saya. Tapi ternyata malah tegur saya, ‘Wah Pak Sitor…’ lalu tet..tett..tett… dia ngomong banyak sambil mengutip kalimat yang dikutip dari sajak saya. Tidak ada yang lebih memuaskan dan membahagiakan saya daripada suasana pertemuan semacam itu,” ujarnya. Bagi Sitor itu lebih daripada sekedar antologi, karena sifat pertemuan kali ini tak formal dan spontan, dan lebih tulus.
Dengan kisah pertemuan dengan generasi ”penyair generasi sekarang” itu, dia kemudian menghubungkannya dengan pendapat seorang Fuad Hassan yang pernah melontarkan bahwa hubungan antargenerasi sastra di Indonesia sudah terputus. ”Sebenarnya tidak Itu tak mungkin, buktinya, seniman dari Bali dan Bugis yang belum pernah bergaul dengan saya bisa tahu bahkan hafal sajak saya,” ujar penyair dan esais ini. Selamat ulang tahun, Bung Sitor.
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Rekonsiliasi itu perlu. Namun penegakan kebenaran juga tetap harus dilakukan sejalan dengan rekonsiliasi itu. Kalimat ini mengalir dari pendapat seorang Sitor Situmorang, penyair, prosais, yang terlibat dalam aktivitas dan sejarah kebangsaan, di momen pembacaan puisi dan cerpen bersama generasi terbaru.
Dengan tajuk ”Menengok ke Belakang, Mengintip ke Depan: 1965 sampai 2004” yang diadakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin (5/10), Sitor Situmorang, tampil bersama nama lain yang tak jauh dari generasinya, Putu Oka Sukanta dan Martin Aleida. Di momen yang diadakan oleh milis Sastra Pembebasan itu, Sitor mengatakan bahwa hal terpenting adalah memperjuangkan suara rakyat dan kebenaran.
Sitor, penyair kelahiran 2 Oktober 1924 di Harianboho, Sumatera Utara ini sehari sebelumnya juga baru merayakan hari ulang tahunnya di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Hadir di acara itu generasi muda, dengan disiplin yang berbeda, akademisi, aktivis mahasiswa, hingga penikmat sastra.
Nama Sitor memang bukan hanya dikenal di kalangan budayawan tapi juga pergerakan Indonesia. Kehadiran rekannya di acara itu, Pramoedya Ananta Toer, menguatkan kesan, bahwa hingga kini, perjuangan tetap setia dan konsisten mereka jalani.
Inilah, salah satu sikap di antara untaian ceramah sang penyair di momen HUT-nya di Galeri Cipta II, saat berbicara tentang puisi: Akal dan bathin, pikiran dan perasaan ingin dipadukan dalam puisi, kesadaran manusiawi yang utuh, dan yang tidak dapat diuraikan, dianalisa memuaskan dengan akal semata.
Di momen ulang tahun ini, menarik juga melongok pameran yang digelar, mengetengahkan ”figur dan karya” Sitor Situmorang di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin.
Pameran seputar Sitor Situmorang yang dimulai sejak 1 Oktober itu, menggelar seputar biografi Sitor dan karyanya. Ada fotonya semasa perjuangan pergerakan nasional, masa kecil Sitor di Tanah Batak, Sitor muda dan keluarga, berita surat kabar seputar aktivitas politik dan budaya, surat-menyurat dia bersama sastrawan lain termasuk HB Yassin, tarombo (silsilah keturunan marga Situmorang-nya Sitor), juga buku-buku karya pengarang ini, yang tampak sudah usang namun bertahan oleh usia.
Yang menarik, keseluruhan karya-karya Sitor ini diletakkan di medium ”estetik” khas seorang Afrizal Malna. Afrizal jugalah yang mengusung foto-foto dan menempelkannya di kulkas tua, menempelkan foto lainnya di mesin cuci tua, menyandarkan bambu tepat di foto Sitor sehingga seolah tangan di foto itu menyentuh bambu. Ada juga karya pelukis Pande Ketut Taman, berupa pulasan hitam membentuk mawar ”tampak dari atas”, karya yang menerjemahkan puisi Sitor berjudul Mawar, yang hanya terdiri dari delapan kata: //Mawar jingga/ Mawar semesta/ Mawar nestapa/ Ciuman buta//
Sentuhan Afrizal di pameran ini, mau tak mau mengingatkan pada puisi Afrizal yang ”hiper-realis” dengan ”benda-benda yang berseliweran”, ”fantasmagoria”, ”lipatan waktu”, terasa berbenturan dengan figur dan karya seorang sastrawan pada masa ”Angkatan 1945”, yang lebih mengarah pada ”kebijakan alam dan romantisme” termasuk ”nuansa perjuangan dan kebangsaan”. Namun justru itulah, membuatnya tema paradoksal di antara keduanya itu jadi terkesan unik.
Sitor: Antologi, Teks, dan Apresian
Di Pusat Dokumentasi HB Yassin, beberapa hari setelahnya (6/10), diadakan acara bertajuk ”Dialog dengan Sitor Situmorang”. Sitor mengatakan di acara itu bahwa politik sudah lama dia jalani. Begitu pun tentang politik di dalam kesenian yang banyak macamnya. ”Termasuk ada generasi baru yang ingin dapat pengakuan pada generasi yang lebih tua,” ujarnya, sambil tersenyum.
Tapi bagi Sitor, justru sikap berpolitik itu lebih baik daripada ”berpura-pura tak berpolitik padahal berpolitik”. Ungkapan yang perlu dimengerti – bisa saja mengarah pada perbedaan yang pernah terjadi puluhan tahun silam. ”Itu sikap saya, termasuk ketika saya berhadapan dengan Soeharto dan rezim Orde Barunya,” ujarnya.
Sitor bahkan mengatakan di dalam politik kesenian, antologinya sempat tak diikutsertakan pada generasi yang sama dengan dirinya, tanpa pemberitahuan, tanpa mengajak debat dulu tentang kualitas karyanya atau memilih beberapa karya yang terbaik saja dari dirinya. Sama sekali pengujian itu tak dilakukan. ”Jadi bukan karena nilai karya, maka itu semua jadi (membuat saya punya) persangkaan-persangkaan. Tahunya ada (seniman di baliknya) masih layani keinginan ‘orang Orba’ tertentu,” ujar Sitor, seperti ingin membeberkan kembali kejadian masa lalunya itu.
Itu hal yang bagi Sitor, sesuatu yang rendah dan kekanak-kanakan, berupa kecemburuan. Memang, saat itu tak bisa diingkari bahwa karya Sitor sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa internasional, selain juga dia masuk dalam sejarah sastra periode 1945 dan 1966, suatu pembicaraan yang sempat terangkat dalam tulisan Ajip Rosidi (lewat bukunya Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir). ”Memang perilaku itu bahkan tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di seluruh dunia,” ujar Sitor, membubuhkan.
Menurut Sitor lagi, secara pribadi, dia tak pernah ada ketakutan tidak diakui atau ikhlas mengakui kelebihan orang lain. Dia terus berkarya 1.000 sajak pun, belum tentu semua sama butuhnya (tergantung minat dan selera pembaca, red). Menurutnya, dia bahkan bisa membingungkan orang-orang yang ”tanggung-tanggung” referensi sastranya, sehingga ”sajak politik” saya lantas dibilang ”bukan puisi”. Bahkan, ada yang mengatakan, bahwa setelah Sitor berpolitik, dia jadi malu membaca karya Sitor yang berpolitik itu. Saat Sitor menulis tentang Marsinah (buruh yang terbunuh, red), lantas dibilang memalukan karena Sitor membuat sajak politik tentang Marsinah. ”Saya bahkan dibilang melacur kalau bikin sajak semacam itu. Bagi saya, orang semacam itu ”beda” budaya dan beda dunianya dengan saya. Untuk itu, saya tak perlu masuk antologi untuk orang yang kayak begitu!” ujarnya, berapi-api.
Dia kemudian memaparkan bahwa sekalipun tak masuk antologi, nyatanya pada generasi setelahnya, orang masih mengingat dirinya. Dia mencontohkan saat dirinya datang ke acara Cakrawala Sastra Indonesia (14-17 September 2004 yang lalu), sebagai undangan dan bukan sebagai peserta. Dia akan menyaksikan mereka baca. ”Saya yakin saya belum kenal mereka dan mereka belum kenal saya. Tapi ternyata malah tegur saya, ‘Wah Pak Sitor…’ lalu tet..tett..tett… dia ngomong banyak sambil mengutip kalimat yang dikutip dari sajak saya. Tidak ada yang lebih memuaskan dan membahagiakan saya daripada suasana pertemuan semacam itu,” ujarnya. Bagi Sitor itu lebih daripada sekedar antologi, karena sifat pertemuan kali ini tak formal dan spontan, dan lebih tulus.
Dengan kisah pertemuan dengan generasi ”penyair generasi sekarang” itu, dia kemudian menghubungkannya dengan pendapat seorang Fuad Hassan yang pernah melontarkan bahwa hubungan antargenerasi sastra di Indonesia sudah terputus. ”Sebenarnya tidak Itu tak mungkin, buktinya, seniman dari Bali dan Bugis yang belum pernah bergaul dengan saya bisa tahu bahkan hafal sajak saya,” ujar penyair dan esais ini. Selamat ulang tahun, Bung Sitor.
Kamis, 24 Juni 2010
Zawawi Imron: Tak Ada Alasan untuk Tidak Mencintai Indonesia
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Hingga tak terpikir lagi bagi kami untuk membayarnya, lalu kami tambah lagi dengan utang-utang baru. Barangkali utang itu sejenis iblis yang tidak boleh memasuki pintu rumah kami. Kalau utang itu telah menjadi bulu rambut dan bulu ketiak dan tak sempat kami lunasi….
Jakarta – Petikan puisi bebas itu adalah salah satu puisi yang dibacakan penyair D Zawawi Imron selain sajaknya yang lain seperti “Ibu” dan “Zikir”, yang dia lantunkan sesuai orasi budaya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/11).
“Zawawi lebih memikat dalam membacakan puisinya,” ujar sastrawan Imam Mutahrom, seusai acara orasi sekaligus pembacaan karya oleh penyair asal Batang-batang Madura itu. Namun, Zawawi memang punya cara tersendiri dalam mengawali, merangkai dan mengalirkan pendapatnya tentang kebudayaan.
“Kalau di desa, dengan Rp 500, kita bisa makan pagi, makan siang lontong soto Rp 1.000, dan makan malam seharga Rp 1.500. Di Jakarta uang sebesar itu cuma bisa kencing tiga kali di terminal,” ujarnya yang disambut tawa para hadirin.
Jenaka, itu gaya Zawawi. Penyair ini kemudian menyuarakan “romantisme agraris”-nya.
Demikianlah si penyair yang dijuluki si “Clurit Emas” itu berkisah tentang manusia yang berbeda dengan binatang, tak bisa seenaknya, penuh rambu-rambu moral. Manusia sejak kecil harus sudah bersekolah, harus pintar, harus jujur, harus mandi, harus pakai sabun, harus bikin rumah, harus bikin pabrik, harus demokrasi dan puluhan ribu harus yang lain.
“Jadi, dengan menghindari diri berlagak dengan gaya binatang, sebenarnya seorang manusia hanya menjalankan kodratnya sebagai manusia. Apa sulitnya seorang manusia menjalankan kodratnya sebagai lazimnya manusia,” ujar Zawawi, retoris.
Di depan podium Teater Kecil itu, lelaki pensiunan pegawai negeri Departemen Agama yang juga kerap di sapa “Pak Haji” dan hingga kini senantiasa berdakwah itu, mengomentari kemanusiaan yang pernah diucap Sayidina Ali bin Abi Thalib yang pantas untuk direnungkan, “Tidak lapar orang miskin kecuali karena rakusnya orang kaya.” Menurut pemahaman ini, sebenarnya rezeki dari Tuhan untuk manusia telah cukup.
Dari orasinya ini, Zawawi kemudian menyebutkan positif dan negatif dari sisa penjajahan Belanda, karena bagaimanapun adanya penjajahan Belanda pada awal abad ke-20 telah membawa bangsa Indonesia kepada wawasan baru dan modern.
“Namun, model pendidikan kita agaknya masih merupakan kelanjutan dari sisa pendidikan kolonial. Anak didik pedesaan diajak seperti anak Jakarta. Jarang ada keterampilan yang diajarkan sesuai dengan alam desa dan alam pesisir.
Anak-anak petani tidak ditanami penghayatan mendalam terhadap aroma lumpur sawah dan tanah tegalan, serta anak nelayan tidak diajar terampil menebar jala dan mengembangkan layar. Akibatnya sesudah tamat SMA sebagian mereka menjadi anak yang gagap untuk bekerja di desanya sendiri,” ujar Zawawi.
Dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Marco Kusumawijaya, Zawawi pun berorasi puitik: “… Nanti bila saatnya kita mati, kita akan dikubur dalam pelukan bumi Indonesia. Daging kita yang meleleh akan bersatu dengan bumi Indonesia. Tak ada alasan untuk tidak mencintai tanah air. Tidak ada alasan untuk tidak menyantuni bangsa,” lantunnya.
http://www.sinarharapan.co.id/
Hingga tak terpikir lagi bagi kami untuk membayarnya, lalu kami tambah lagi dengan utang-utang baru. Barangkali utang itu sejenis iblis yang tidak boleh memasuki pintu rumah kami. Kalau utang itu telah menjadi bulu rambut dan bulu ketiak dan tak sempat kami lunasi….
Jakarta – Petikan puisi bebas itu adalah salah satu puisi yang dibacakan penyair D Zawawi Imron selain sajaknya yang lain seperti “Ibu” dan “Zikir”, yang dia lantunkan sesuai orasi budaya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (28/11).
“Zawawi lebih memikat dalam membacakan puisinya,” ujar sastrawan Imam Mutahrom, seusai acara orasi sekaligus pembacaan karya oleh penyair asal Batang-batang Madura itu. Namun, Zawawi memang punya cara tersendiri dalam mengawali, merangkai dan mengalirkan pendapatnya tentang kebudayaan.
“Kalau di desa, dengan Rp 500, kita bisa makan pagi, makan siang lontong soto Rp 1.000, dan makan malam seharga Rp 1.500. Di Jakarta uang sebesar itu cuma bisa kencing tiga kali di terminal,” ujarnya yang disambut tawa para hadirin.
Jenaka, itu gaya Zawawi. Penyair ini kemudian menyuarakan “romantisme agraris”-nya.
Demikianlah si penyair yang dijuluki si “Clurit Emas” itu berkisah tentang manusia yang berbeda dengan binatang, tak bisa seenaknya, penuh rambu-rambu moral. Manusia sejak kecil harus sudah bersekolah, harus pintar, harus jujur, harus mandi, harus pakai sabun, harus bikin rumah, harus bikin pabrik, harus demokrasi dan puluhan ribu harus yang lain.
“Jadi, dengan menghindari diri berlagak dengan gaya binatang, sebenarnya seorang manusia hanya menjalankan kodratnya sebagai manusia. Apa sulitnya seorang manusia menjalankan kodratnya sebagai lazimnya manusia,” ujar Zawawi, retoris.
Di depan podium Teater Kecil itu, lelaki pensiunan pegawai negeri Departemen Agama yang juga kerap di sapa “Pak Haji” dan hingga kini senantiasa berdakwah itu, mengomentari kemanusiaan yang pernah diucap Sayidina Ali bin Abi Thalib yang pantas untuk direnungkan, “Tidak lapar orang miskin kecuali karena rakusnya orang kaya.” Menurut pemahaman ini, sebenarnya rezeki dari Tuhan untuk manusia telah cukup.
Dari orasinya ini, Zawawi kemudian menyebutkan positif dan negatif dari sisa penjajahan Belanda, karena bagaimanapun adanya penjajahan Belanda pada awal abad ke-20 telah membawa bangsa Indonesia kepada wawasan baru dan modern.
“Namun, model pendidikan kita agaknya masih merupakan kelanjutan dari sisa pendidikan kolonial. Anak didik pedesaan diajak seperti anak Jakarta. Jarang ada keterampilan yang diajarkan sesuai dengan alam desa dan alam pesisir.
Anak-anak petani tidak ditanami penghayatan mendalam terhadap aroma lumpur sawah dan tanah tegalan, serta anak nelayan tidak diajar terampil menebar jala dan mengembangkan layar. Akibatnya sesudah tamat SMA sebagian mereka menjadi anak yang gagap untuk bekerja di desanya sendiri,” ujar Zawawi.
Dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Marco Kusumawijaya, Zawawi pun berorasi puitik: “… Nanti bila saatnya kita mati, kita akan dikubur dalam pelukan bumi Indonesia. Daging kita yang meleleh akan bersatu dengan bumi Indonesia. Tak ada alasan untuk tidak mencintai tanah air. Tidak ada alasan untuk tidak menyantuni bangsa,” lantunnya.
Rabu, 21 April 2010
Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia!
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Oki Toshio, seorang novelis diburu karena mengangkat tokoh Otoko, perempuan masa lalunya yang kemudian menjadi pelukis perempuan terkenal. Kisah Okio ini kemudian ditarik pada kegetiran masa lalu Oki. Oki kemudian pergi ke desa itu, mendengarkan lonceng di kuil, mengingat Otoko.
Ada lagi kisah lain, tentang seorang calon rahib di sebuah kuil mengalami pengalaman sekuler – termasuk bersetubuh dengan pelacur – lalu akhirnya mendulang kegelisahan. Di puncak kegelisahan itu. Si tokoh, kemudian membakar kuilnya dengan wajah yang teramat dingin.
Kedua novel ini bukan novel Indonesia melainkan novel dari negeri Jepang. Kedua karya ini adalah novel dari Beauty and Sadness Yasunari Kawabata dan The Temple of the Golden Pavilion Yukio Mishima.
Selain karya dari Jepang ini, banyak novel dari Cina (Gao Xingjian), atau India (Rabindranath Tagore) yang melekat kuat dalam benak.
Kaya Tema
Paparan ini sengaja dikedepankan untuk melihat bagian negara Asia lainnya yang memiliki kekayaan dalam tema pada novelnya. Sastra memiliki banyak alat untuk mendedah persoalan, untuk bertahan lengket di dalam pikiran. Baik lewat tema kultural, spiritual, sosial, filosofi, politik, bahkan gender! Tapi, di luar tematik, jangan lupa bahwa novel punya "darah" berupa bahasa, metafora, gaya yang khas, yang juga menarik buat pembicaraan.
Ada novel yang memperlihatkan kekhasan bahwa narator tak punya opini dan detail dibiarkan dalam peristiwa – baik peristiwa tokoh atau peristiwa alam–kisah aktivis muda bersama ibunya dalam "Bunda" Maxim Gorki, seorang tahanan politik yang pulang namun tak diterima keluarga bahkan kekasihnya di novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer, atau metafora bahasa dalam paragraf yang sangat panjang pada One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez.
Di antara pikatan novel-novel klasik baik dari Barat, Eropa, Asia, bahkan karya sastra (novel) Indonesia masa Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1966 – meminjam periodisasi HB Yassin – karya sastra pada masa belakangan (setidaknya 1990-an), juga kaya dalam membongkar persoalan relung kehidupan manusia, ataupun di relung kehidupan sosial.
Cobalah sesekali melawan arus dan giringan kritikus atau esais (bahkan jangan percaya pada esai ini sekali pun), dengan membaca karya sastra yang "sedang tak diwajibkan", atau "yang sedang tidak trend".
Toh, kritikus dan esais bukan dosen yang punya kurikulum wajib membaca buat pencinta sastra! Siapa tahu ada yang "lengket" dalam ingatan Anda.
Lihatlah betapa variatifnya novel-novel yang saat ini masih "in" di Indonesia dalam mengangkat persoalan manusia dan masyarakat sebagai tema. Ada kisah tentang seorang demonstran di masa reformasi yang bertemu ayahnya mantan tentara di masa PKI yang menjadi gembel dalam "Tapol" Ngarto Februana. Atau, cerita seorang jurnalis internet di tengah pergolakan pra-Mei 1998 pada Anonim, My Hero karya Sunardian, seorang pemuda Hurlang yang berjuang dengan ibunya bernama Molek atas polusi air di Danau Toba pada Jamangilak Tak Pernah Menangis Martin Aleida.
Arleta melakukan pencarian spiritual lewat filosofi waktu pada novel Memburu Kalacakra Ani Sekarningsih, tokoh wayang Boma Narakasura yang muncul di masa modern pada novel Yanusa Nugroho atau Margio yang sadis di tengah keluarga kisah keluarganya yang juga tragis pada Lelaki Harimau Eka Kurniawan.
Persoalan yang terbeber di atas ini masih mengarah pada kisah yang lebih mendetail pada persoalan karakter, penokohan atau konflik yang terbangun, dengan latar sosio-kultural yang berbeda satu sama lain.
Banyak karya (lagi) yang masih bisa digali untuk hal lainnya, tentu lebih luas daripada sekadar memerangkap karya sastra dengan nilai-nilai tertentu yang telah Anda pasang sebelumnya, sebagai pengamat, sebagai kritikus, bahkan sebagai jurnalis atau penerbit sekalipun.
Cobalah tengok bagaimana uniknya alur dalam karya Dadaisme (Dewi Sartika), Supernova (Dewi Lestari), Tabula Rasa (Ratih Kumala), Tanah Api (S. Jai), Payudara (Chavchay Syaefullah). Alur yang tak linier, berputar-putar dan bolak-balik!
"Wisata" Karya
Pada kedua unsur intrinsik – alur dan kisah – tadi, memang bukan membuat karya tersebut jadi adiluhung, garda depan. Juga bukan karena orang lain harus membaca semua karya yang bertumpuk di toko buku.
Hanya, betapa miskinnya sebuah pembacaan tanpa pernah melakukan "wisata" karya sebanyak-banyaknya. Apalagi sebuah penilaian untuk menentukan karya sastra (novel) yang terdepan.
Ada lagi hal yang dicermati, yaitu bagaimana cara pembaca untuk menjinakkan karya bermetafora, yang puitis, pada novel Lorong ke Pusar Rumah oleh Ari MP.
Tamba atau Menggarami Burung Terbang oleh Sitok Srengenge. Ini juga bukan rekomendasi untuk sebuah kemenangan atas karya sastra yang satu atas karya sastra yang lain.
Bila sempat pusing dengan banyaknya karya yang ada, buku yang tersedia, tetap saja itu bukan jadi alasan untuk tak membaca banyak lagi karya yang bermunculan saat ini. Di tengah karya yang bagai "air bah", ujar Martin Aleida, kita membutuhkan kritikus. Walau sebenarnya tak hanya kritikus, tapi juga apresiator dari sebuah pembacaan, walau tanpa beban teori (sastra) yang berlebihan.
Seperti ketika Wang Meng menyebutkan ada enam ribu lebih sastrawan di Cina, di Indoensia tampaknya jumlah dua ribu akan terus bertambah, akan banyak "karya sastra yang terlewatkan oleh sejarah". Bukan karena karyanya yang tak bermutu, tak kuat dengan bahasa, karakter, penokohan atau konflik, tapi karena terlalu sedikitnya kritikus, pengamat, atau bahkan "pembaca awam" sekalipun.
Barangkali kesusasteraaan Indonesia, untuk kali ini novel, memang tak hanya mengharapkan kritikus yang arif, yang membeli puluhan bahkan ratusan buku yang ada untuk dia koleksi. Barangkali kita tak hanya memerlukan pembaca yang arif, ulet, tekun melihat karya sastra yang serupa gulungan bola salju ini, tapi juga pembaca yang berani bicara, berkomentar, berapresiasi dengan perbedaan spesialisasi ilmu yang dimilikinya.
Maka, yang kita temukan "ternyata" bukan cuma persoalan seks bahkan ideologi. Kita akan temukan kenikmatan wacana, berbagai tema, bisa berupa kegusaran, ketidaksetujuan atau pujian. Adalah semborono memang, bila hanya baik atau buruk, sedangkan nilai dalam pengertian pengamat sastra Rene Wellek dan Austin Warren (1989), merupakan pengalaman estetik dan juga bisa dianggap alat ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Seorang penulis sastra pernah bertanya kepada seorang penyair Sutardji Calzoum Bacri, "Benarkah sastra begitu sempit, serupa jam kuno yang bandulnya hanya mengarah ke kanan dan ke kiri?" Si penyair mengangguk dan merasa pesimistis terhadap kondisi yang ada saat ini. Kalau demikian, betapa miskinnya nasib penulis generasi muda yang terjepit pada wacana sempit. Tentu saja, bila pembaca atau pengamat rela mengorbankan waktunya untuk membaca puluhan bahkan ratusan karya sastra, tanpa pandang bulu. Dari romantisme, balada, kultural, bigorafi imajiner, tuntutan sosial, permainan bahasa, cyberspace, gender, bahkan ideologi. Selamat datang di rimba belantara sastra Indonesia!
http://www.sinarharapan.co.id/
Oki Toshio, seorang novelis diburu karena mengangkat tokoh Otoko, perempuan masa lalunya yang kemudian menjadi pelukis perempuan terkenal. Kisah Okio ini kemudian ditarik pada kegetiran masa lalu Oki. Oki kemudian pergi ke desa itu, mendengarkan lonceng di kuil, mengingat Otoko.
Ada lagi kisah lain, tentang seorang calon rahib di sebuah kuil mengalami pengalaman sekuler – termasuk bersetubuh dengan pelacur – lalu akhirnya mendulang kegelisahan. Di puncak kegelisahan itu. Si tokoh, kemudian membakar kuilnya dengan wajah yang teramat dingin.
Kedua novel ini bukan novel Indonesia melainkan novel dari negeri Jepang. Kedua karya ini adalah novel dari Beauty and Sadness Yasunari Kawabata dan The Temple of the Golden Pavilion Yukio Mishima.
Selain karya dari Jepang ini, banyak novel dari Cina (Gao Xingjian), atau India (Rabindranath Tagore) yang melekat kuat dalam benak.
Kaya Tema
Paparan ini sengaja dikedepankan untuk melihat bagian negara Asia lainnya yang memiliki kekayaan dalam tema pada novelnya. Sastra memiliki banyak alat untuk mendedah persoalan, untuk bertahan lengket di dalam pikiran. Baik lewat tema kultural, spiritual, sosial, filosofi, politik, bahkan gender! Tapi, di luar tematik, jangan lupa bahwa novel punya "darah" berupa bahasa, metafora, gaya yang khas, yang juga menarik buat pembicaraan.
Ada novel yang memperlihatkan kekhasan bahwa narator tak punya opini dan detail dibiarkan dalam peristiwa – baik peristiwa tokoh atau peristiwa alam–kisah aktivis muda bersama ibunya dalam "Bunda" Maxim Gorki, seorang tahanan politik yang pulang namun tak diterima keluarga bahkan kekasihnya di novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer, atau metafora bahasa dalam paragraf yang sangat panjang pada One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez.
Di antara pikatan novel-novel klasik baik dari Barat, Eropa, Asia, bahkan karya sastra (novel) Indonesia masa Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1966 – meminjam periodisasi HB Yassin – karya sastra pada masa belakangan (setidaknya 1990-an), juga kaya dalam membongkar persoalan relung kehidupan manusia, ataupun di relung kehidupan sosial.
Cobalah sesekali melawan arus dan giringan kritikus atau esais (bahkan jangan percaya pada esai ini sekali pun), dengan membaca karya sastra yang "sedang tak diwajibkan", atau "yang sedang tidak trend".
Toh, kritikus dan esais bukan dosen yang punya kurikulum wajib membaca buat pencinta sastra! Siapa tahu ada yang "lengket" dalam ingatan Anda.
Lihatlah betapa variatifnya novel-novel yang saat ini masih "in" di Indonesia dalam mengangkat persoalan manusia dan masyarakat sebagai tema. Ada kisah tentang seorang demonstran di masa reformasi yang bertemu ayahnya mantan tentara di masa PKI yang menjadi gembel dalam "Tapol" Ngarto Februana. Atau, cerita seorang jurnalis internet di tengah pergolakan pra-Mei 1998 pada Anonim, My Hero karya Sunardian, seorang pemuda Hurlang yang berjuang dengan ibunya bernama Molek atas polusi air di Danau Toba pada Jamangilak Tak Pernah Menangis Martin Aleida.
Arleta melakukan pencarian spiritual lewat filosofi waktu pada novel Memburu Kalacakra Ani Sekarningsih, tokoh wayang Boma Narakasura yang muncul di masa modern pada novel Yanusa Nugroho atau Margio yang sadis di tengah keluarga kisah keluarganya yang juga tragis pada Lelaki Harimau Eka Kurniawan.
Persoalan yang terbeber di atas ini masih mengarah pada kisah yang lebih mendetail pada persoalan karakter, penokohan atau konflik yang terbangun, dengan latar sosio-kultural yang berbeda satu sama lain.
Banyak karya (lagi) yang masih bisa digali untuk hal lainnya, tentu lebih luas daripada sekadar memerangkap karya sastra dengan nilai-nilai tertentu yang telah Anda pasang sebelumnya, sebagai pengamat, sebagai kritikus, bahkan sebagai jurnalis atau penerbit sekalipun.
Cobalah tengok bagaimana uniknya alur dalam karya Dadaisme (Dewi Sartika), Supernova (Dewi Lestari), Tabula Rasa (Ratih Kumala), Tanah Api (S. Jai), Payudara (Chavchay Syaefullah). Alur yang tak linier, berputar-putar dan bolak-balik!
"Wisata" Karya
Pada kedua unsur intrinsik – alur dan kisah – tadi, memang bukan membuat karya tersebut jadi adiluhung, garda depan. Juga bukan karena orang lain harus membaca semua karya yang bertumpuk di toko buku.
Hanya, betapa miskinnya sebuah pembacaan tanpa pernah melakukan "wisata" karya sebanyak-banyaknya. Apalagi sebuah penilaian untuk menentukan karya sastra (novel) yang terdepan.
Ada lagi hal yang dicermati, yaitu bagaimana cara pembaca untuk menjinakkan karya bermetafora, yang puitis, pada novel Lorong ke Pusar Rumah oleh Ari MP.
Tamba atau Menggarami Burung Terbang oleh Sitok Srengenge. Ini juga bukan rekomendasi untuk sebuah kemenangan atas karya sastra yang satu atas karya sastra yang lain.
Bila sempat pusing dengan banyaknya karya yang ada, buku yang tersedia, tetap saja itu bukan jadi alasan untuk tak membaca banyak lagi karya yang bermunculan saat ini. Di tengah karya yang bagai "air bah", ujar Martin Aleida, kita membutuhkan kritikus. Walau sebenarnya tak hanya kritikus, tapi juga apresiator dari sebuah pembacaan, walau tanpa beban teori (sastra) yang berlebihan.
Seperti ketika Wang Meng menyebutkan ada enam ribu lebih sastrawan di Cina, di Indoensia tampaknya jumlah dua ribu akan terus bertambah, akan banyak "karya sastra yang terlewatkan oleh sejarah". Bukan karena karyanya yang tak bermutu, tak kuat dengan bahasa, karakter, penokohan atau konflik, tapi karena terlalu sedikitnya kritikus, pengamat, atau bahkan "pembaca awam" sekalipun.
Barangkali kesusasteraaan Indonesia, untuk kali ini novel, memang tak hanya mengharapkan kritikus yang arif, yang membeli puluhan bahkan ratusan buku yang ada untuk dia koleksi. Barangkali kita tak hanya memerlukan pembaca yang arif, ulet, tekun melihat karya sastra yang serupa gulungan bola salju ini, tapi juga pembaca yang berani bicara, berkomentar, berapresiasi dengan perbedaan spesialisasi ilmu yang dimilikinya.
Maka, yang kita temukan "ternyata" bukan cuma persoalan seks bahkan ideologi. Kita akan temukan kenikmatan wacana, berbagai tema, bisa berupa kegusaran, ketidaksetujuan atau pujian. Adalah semborono memang, bila hanya baik atau buruk, sedangkan nilai dalam pengertian pengamat sastra Rene Wellek dan Austin Warren (1989), merupakan pengalaman estetik dan juga bisa dianggap alat ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Seorang penulis sastra pernah bertanya kepada seorang penyair Sutardji Calzoum Bacri, "Benarkah sastra begitu sempit, serupa jam kuno yang bandulnya hanya mengarah ke kanan dan ke kiri?" Si penyair mengangguk dan merasa pesimistis terhadap kondisi yang ada saat ini. Kalau demikian, betapa miskinnya nasib penulis generasi muda yang terjepit pada wacana sempit. Tentu saja, bila pembaca atau pengamat rela mengorbankan waktunya untuk membaca puluhan bahkan ratusan karya sastra, tanpa pandang bulu. Dari romantisme, balada, kultural, bigorafi imajiner, tuntutan sosial, permainan bahasa, cyberspace, gender, bahkan ideologi. Selamat datang di rimba belantara sastra Indonesia!
Minggu, 05 April 2009
Pramoedya Ananta Toer: Dulu, Saya Tak Pernah Menyangka akan Menjadi Tua
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Kabar tentang terpilihnya Pramoedya Ananta Toer sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time ternyata ditanggapi dengan sangat biasa oleh yang bersangkutan. Menurutnya, pemilihan semacam itu adalah hak dari publik. ”Saya memang sudah sering ditulis dan diwawancara oleh Time. Untuk kabar ini, saya belum membacanya, baru dengar dari wartawan,” ujarnya.
Namun, sesungguhnya ada kabar lain yang menggembirakan hatinya. Novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal. Pada sampul novel yang judulnya menjadi Soliloquio Mudo, dikutip juga tentang pernyataan majalah Time beberapa waktu lalu, bahwa Pramoedya adalah salah satu penulis kuat untuk calon pemenang Nobel. ”Sejak 1981, saya telah menjadi kandidat Nobel,” katanya.
Matahari belum menunjukkan kegarangannya saat SH menemui seorang sastrawan besar yang karyanya terkenal ke seantero dunia, Pramoedya Ananta Toer di rumahnya yang cukup luas. Kata orang, sastrawan memang kerap memilih kediaman yang terpencil. Lihat saja Rendra, Hamsad Rangkuti, atau Gerson Poyk yang tinggal di Depok. Mungkin Pram bisa masuk kategori itu. Namun, sekalipun terpencil di daerah Bojong Gede, rumahnya tetap terbuka. Cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa ke setiap kisi pintu dan jendela.
Tiba di kediamannnya—setelah terlebih dahulu menetapkan janji untuk bertemu—kami melihat sebuah kendaraan dengan tanda CD (Corps Diplomatic) terparkir di halaman rumah. Pram sedang menerima tamu dari Kedutaan Portugal. Untungnya, dalam percakapan keduanya yang serius itu, ibu Maemunah—istri Pram—melihat kedatangan kami dan mempersilakan duduk. Senyum yang ramah bercampur keakraban menyambut kehadiran kami disambung dengan sajian teh.
Baru setelah tamu dari Kedutaan Portugal pamit, Pram kemudian muncul. ”Tunggu ya,” katanya, dengan wajah dan senyum yang tak berubah. Hangat. Kami pun menunggu di teras rumahnya. Pram masuk sebentar, kembali dengan sebungkus rokoknya.
”Dari media mana tadi? Sinar Harapan?” kata lelaki kelahiran 6 Februari 1925. Kami lalu mengatakan niat untuk mewawancarainya sehubungan dengan berita tentang Pramoedya Ananta Toer yang terpilih sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia versi majalah Time.
”Saya tidak tahu itu, saya justru baru dengar dari wartawan,” katanya. Namun, Pram mengatakan telah beberapa kali diwawancara oleh Time. Nyatanya, tak hanya penghargaan dari majalah itu, anugerah Magsaysay pun sudah pernah diraihnya. Bahkan pada novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugal, Soliloquio Mudo tertera keterangan di sampulnya: O Principal candidato asiatico ao premio Nobel (Time)—bahwa Pram adalah calon kuat peraih Nobel.
Tentang Nobel, Pram mengatakan telah mendengar beberapa kali tentang pencalonannya. Soal kontroversi di negaranya sendiri, menurutnya Amerika kadang bisa lebih demokratis dalam melihat profil seorang pemikir. ”Gao Xingjian, pemenang Nobel dari Cina yang lari ke Amerika atau siapa itu yang dari Italia (komedian Dario Fo-red), itu kan juga kontroversial. Waktu mereka menang, banyak orang yang marah,” ujar mantan karyawan Kantor Berita Domei di masa penjajahan Jepang.
Seberapa kuat karya sastra bisa mempengaruhi masyarakat global? ”Ya persisnya saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah karya saya yang telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia. Artinya, apa yang ada di karya saya itu masuk ke dalam alam pikiran pembaca. Tentang apakah alam pikiran bisa menggerakkan perbuatan atau tidak, itu soal lain,” ujarnya.
Nyatanya, bagi Pram, Indonesia memang suatu saat harus mampu menampilkan penulis Indonesia yang mampu memperoleh Nobel. ”Kalau Indonesia tidak bisa meraih Nobel karena mungkin Akademi Swedia tidak punya ahli bahasa Indonesia sehingga semuanya harus melalui terjemahan,” ujar Pram, setengah bercanda.
Detail
Hidup Pram memang tak lepas dari terali penjara. Tak hanya dalam rezim Orde Baru, pada pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan pada tahun 1947—1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Begitu pun dengan nasib karyanya. Banyak hasil tulisannya yang dirampas Belanda, Inggris dan bahkan pemerintahan Indonesia sendiri. ”Nggak ngerti hidup saya begini. Dirampasin, diinjek, dihina,” katanya. Bahkan saat mendengar tentang karyanya yang pernah dibakar dan dirampas oleh rezim Orde Baru, wajah Pram makin terlihat mendung. ”Nggak ngerti saya, kalau negara membutuhkan, silakan ambil. Tapi, pakai tanda terima segala macem. Itu ‘kan lebih baik. Ini dirampas dan dibakari, nggak ngerti. Naskah-naskah, dokumentasi, dokumentasi saya itu mulai abad sebelumnya, berapa harganya, nggak bisa dihitung. Nggak ngerti kok bisa berbuat begitu,” ujarnya. Suaranya tertahan, ada tangisan yang berusaha dia sembunyikan di balik wajah tuanya.
Menurut Pram, setiap sastrawan, harus siap menanggung segala konsekuensi atas karya-karyanya. ”Penulis harus berani. Dia harus mau mempertanggungjawabkan karyanya,” ujar Pram. Perkara keberanian juga membuat dia tetap konsisten untuk berkarya, bahkan ketika ia dipenjara sekalipun. Pada tahun 1972, saat di penjara, Pram ”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Waktu itu, Amerikalah yang memaksa rezim agar Pram dikirimi mesin tik—walau kiriman mesin tik itu nyatanya tidak pernah sampai—sehingga kawan-kawan sesama napi pun terpaksa membikinkan mesin tik bekas buat Pram.
Lantas, apakah pengarang yang cukup dikenal di dunia ini juga menyukai karya sastrawan lain? Dengan rendah hati, dia katakan kalau dia pun menyukai beberapa karya dari luar, termasuk Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. ”Saya belajar dari Steinbeck, pernah baca karya Steinbeck? Coba perhatikan, sampai lalat terbang, segala macam diungkap untuk menggambarkan suasana. Sehingga kalau kita baca Steinbeck seperti nonton film. Nah, itu berpengaruh sama saya. Kalau baca buku saya ‘kan seperti nonton film. Pelajari gaya bahasa dia, itu gaya plastik namanya. Kita baca seperti nonton film, semua tergambar,” ujarnya. Namun, Pram tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, ”Tidak manusiawi,” kata pengagum peraih Nobel, Gunter Grass.
Selain membuat novel, ternyata Pram pernah juga menyusun syair-syair puisi. ”Tapi saya sudah mulai bosan dengan perasaan,” kata anak Kepala Sekolah Instituut Boedi Oetomo, Blora. Karena itu, dia hanya membuat novel yang rasional, dan sama sekali tak menyukai sastra yang bergaya irasional.
Pram berpendapat penulis sekarang juga harus berani dan mampu mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Hanya, dia sadari kondisi saat ini membuat penulis dan pemikir muda harus menghadapi sesuatu yang sangat berat, keberanian menempuh risiko seorang diri. Di negara dunia ketiga di mana kondisi rakyat memprihatinkan, para penulis sesungguhnya memikul tanggung jawab yang lebih berat. Cuma, banyak generasi sekarang yang pemikirannya terlampau miskin, perhatiannya pada kemanusiaan nggak ada. ”Cuma, itu urusan kalian lho. Sudah bukan urusan saya lagi,” kata Pram, dengan nada yang kocak.
Tegar
Kini, Pram mengaku sudah makin kepayahan. Mencangkul yang dulu dia bisa lakukan enam hingga delapan jam hanya bisa dua jam saja. Bahkan pernah, selama dua tahun, Pram sama sekali tidak bisa mengangkat benda apa pun. Itu mulai dia sadari saat hujan datang, ketika dia masih mencangkul di kebun. ”Rupanya suhu badan saya dipatahkan oleh suhu alam,” katanya, dengan gaya bahasa khas Pram.
Dia bahkan sudah tidak membuat karya lagi kini. Bagaimana kalau ada ide yang mendesak, tidak berupa Kali Lusi di Blora, tapi tentang rel di Stasiun Bojong Gede? Menjawab itu, Pram hanya tersenyum tipis, sedikit menggiris. ”Lha, konsentrasinya udah bubar nggak keruan. Itulah, dulu saya tidak pernah menyangka akan menjadi tua.
Perasaan kuat badan saya, nggak tahunya sama saja dengan yang lain, kemerosotan otak,” kata lelaki asal Blora yang berasal dari daerah bagian kelompok masyarakat Samin. ”Masyarakat Samin yang dikenal antiperaturan kolonialis itu menginspirasi Gandhi lewat Swadeshi dan Satyagraha lho,” ujarnya.
Kini, dia ingin bersunyi-sunyi di kediamannya, berternak dan berkebun. Dia memang sudah lama tidak ke Blora. ”Nanti dari Eropa, mungkin saya ke sana. Betulin rumah,” katanya. Mulai bulan Mei, dia akan melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Negara yang akan ditujunya pertama adalah Swiss, lalu menyeberang ke Italia untuk menerima penghargaan Laureate Novelist dari Universitas Bologna, Italia Utara.
Dia juga berencana akan ke Spanyol (dalam bahasa Catalon) dan ke Yunani untuk meluncurkan Gadis Pantai. ”Juga undangan ke Prancis yang saya tidak tahu acaranya,” ujar lelaki ini sambil terus menghisap rokoknya dalam-dalam. Tampaknya, novelis Anak Segala Bangsa ini telah menjadi anak segala bangsa dalam arti sesungguhnya. Berkelana, mengarungi beberapa negara dan bangsa …
http://www.sinarharapan.co.id/
Kabar tentang terpilihnya Pramoedya Ananta Toer sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time ternyata ditanggapi dengan sangat biasa oleh yang bersangkutan. Menurutnya, pemilihan semacam itu adalah hak dari publik. ”Saya memang sudah sering ditulis dan diwawancara oleh Time. Untuk kabar ini, saya belum membacanya, baru dengar dari wartawan,” ujarnya.
Namun, sesungguhnya ada kabar lain yang menggembirakan hatinya. Novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal. Pada sampul novel yang judulnya menjadi Soliloquio Mudo, dikutip juga tentang pernyataan majalah Time beberapa waktu lalu, bahwa Pramoedya adalah salah satu penulis kuat untuk calon pemenang Nobel. ”Sejak 1981, saya telah menjadi kandidat Nobel,” katanya.
Matahari belum menunjukkan kegarangannya saat SH menemui seorang sastrawan besar yang karyanya terkenal ke seantero dunia, Pramoedya Ananta Toer di rumahnya yang cukup luas. Kata orang, sastrawan memang kerap memilih kediaman yang terpencil. Lihat saja Rendra, Hamsad Rangkuti, atau Gerson Poyk yang tinggal di Depok. Mungkin Pram bisa masuk kategori itu. Namun, sekalipun terpencil di daerah Bojong Gede, rumahnya tetap terbuka. Cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa ke setiap kisi pintu dan jendela.
Tiba di kediamannnya—setelah terlebih dahulu menetapkan janji untuk bertemu—kami melihat sebuah kendaraan dengan tanda CD (Corps Diplomatic) terparkir di halaman rumah. Pram sedang menerima tamu dari Kedutaan Portugal. Untungnya, dalam percakapan keduanya yang serius itu, ibu Maemunah—istri Pram—melihat kedatangan kami dan mempersilakan duduk. Senyum yang ramah bercampur keakraban menyambut kehadiran kami disambung dengan sajian teh.
Baru setelah tamu dari Kedutaan Portugal pamit, Pram kemudian muncul. ”Tunggu ya,” katanya, dengan wajah dan senyum yang tak berubah. Hangat. Kami pun menunggu di teras rumahnya. Pram masuk sebentar, kembali dengan sebungkus rokoknya.
”Dari media mana tadi? Sinar Harapan?” kata lelaki kelahiran 6 Februari 1925. Kami lalu mengatakan niat untuk mewawancarainya sehubungan dengan berita tentang Pramoedya Ananta Toer yang terpilih sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia versi majalah Time.
”Saya tidak tahu itu, saya justru baru dengar dari wartawan,” katanya. Namun, Pram mengatakan telah beberapa kali diwawancara oleh Time. Nyatanya, tak hanya penghargaan dari majalah itu, anugerah Magsaysay pun sudah pernah diraihnya. Bahkan pada novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugal, Soliloquio Mudo tertera keterangan di sampulnya: O Principal candidato asiatico ao premio Nobel (Time)—bahwa Pram adalah calon kuat peraih Nobel.
Tentang Nobel, Pram mengatakan telah mendengar beberapa kali tentang pencalonannya. Soal kontroversi di negaranya sendiri, menurutnya Amerika kadang bisa lebih demokratis dalam melihat profil seorang pemikir. ”Gao Xingjian, pemenang Nobel dari Cina yang lari ke Amerika atau siapa itu yang dari Italia (komedian Dario Fo-red), itu kan juga kontroversial. Waktu mereka menang, banyak orang yang marah,” ujar mantan karyawan Kantor Berita Domei di masa penjajahan Jepang.
Seberapa kuat karya sastra bisa mempengaruhi masyarakat global? ”Ya persisnya saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah karya saya yang telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia. Artinya, apa yang ada di karya saya itu masuk ke dalam alam pikiran pembaca. Tentang apakah alam pikiran bisa menggerakkan perbuatan atau tidak, itu soal lain,” ujarnya.
Nyatanya, bagi Pram, Indonesia memang suatu saat harus mampu menampilkan penulis Indonesia yang mampu memperoleh Nobel. ”Kalau Indonesia tidak bisa meraih Nobel karena mungkin Akademi Swedia tidak punya ahli bahasa Indonesia sehingga semuanya harus melalui terjemahan,” ujar Pram, setengah bercanda.
Detail
Hidup Pram memang tak lepas dari terali penjara. Tak hanya dalam rezim Orde Baru, pada pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan pada tahun 1947—1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Begitu pun dengan nasib karyanya. Banyak hasil tulisannya yang dirampas Belanda, Inggris dan bahkan pemerintahan Indonesia sendiri. ”Nggak ngerti hidup saya begini. Dirampasin, diinjek, dihina,” katanya. Bahkan saat mendengar tentang karyanya yang pernah dibakar dan dirampas oleh rezim Orde Baru, wajah Pram makin terlihat mendung. ”Nggak ngerti saya, kalau negara membutuhkan, silakan ambil. Tapi, pakai tanda terima segala macem. Itu ‘kan lebih baik. Ini dirampas dan dibakari, nggak ngerti. Naskah-naskah, dokumentasi, dokumentasi saya itu mulai abad sebelumnya, berapa harganya, nggak bisa dihitung. Nggak ngerti kok bisa berbuat begitu,” ujarnya. Suaranya tertahan, ada tangisan yang berusaha dia sembunyikan di balik wajah tuanya.
Menurut Pram, setiap sastrawan, harus siap menanggung segala konsekuensi atas karya-karyanya. ”Penulis harus berani. Dia harus mau mempertanggungjawabkan karyanya,” ujar Pram. Perkara keberanian juga membuat dia tetap konsisten untuk berkarya, bahkan ketika ia dipenjara sekalipun. Pada tahun 1972, saat di penjara, Pram ”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Waktu itu, Amerikalah yang memaksa rezim agar Pram dikirimi mesin tik—walau kiriman mesin tik itu nyatanya tidak pernah sampai—sehingga kawan-kawan sesama napi pun terpaksa membikinkan mesin tik bekas buat Pram.
Lantas, apakah pengarang yang cukup dikenal di dunia ini juga menyukai karya sastrawan lain? Dengan rendah hati, dia katakan kalau dia pun menyukai beberapa karya dari luar, termasuk Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. ”Saya belajar dari Steinbeck, pernah baca karya Steinbeck? Coba perhatikan, sampai lalat terbang, segala macam diungkap untuk menggambarkan suasana. Sehingga kalau kita baca Steinbeck seperti nonton film. Nah, itu berpengaruh sama saya. Kalau baca buku saya ‘kan seperti nonton film. Pelajari gaya bahasa dia, itu gaya plastik namanya. Kita baca seperti nonton film, semua tergambar,” ujarnya. Namun, Pram tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, ”Tidak manusiawi,” kata pengagum peraih Nobel, Gunter Grass.
Selain membuat novel, ternyata Pram pernah juga menyusun syair-syair puisi. ”Tapi saya sudah mulai bosan dengan perasaan,” kata anak Kepala Sekolah Instituut Boedi Oetomo, Blora. Karena itu, dia hanya membuat novel yang rasional, dan sama sekali tak menyukai sastra yang bergaya irasional.
Pram berpendapat penulis sekarang juga harus berani dan mampu mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Hanya, dia sadari kondisi saat ini membuat penulis dan pemikir muda harus menghadapi sesuatu yang sangat berat, keberanian menempuh risiko seorang diri. Di negara dunia ketiga di mana kondisi rakyat memprihatinkan, para penulis sesungguhnya memikul tanggung jawab yang lebih berat. Cuma, banyak generasi sekarang yang pemikirannya terlampau miskin, perhatiannya pada kemanusiaan nggak ada. ”Cuma, itu urusan kalian lho. Sudah bukan urusan saya lagi,” kata Pram, dengan nada yang kocak.
Tegar
Kini, Pram mengaku sudah makin kepayahan. Mencangkul yang dulu dia bisa lakukan enam hingga delapan jam hanya bisa dua jam saja. Bahkan pernah, selama dua tahun, Pram sama sekali tidak bisa mengangkat benda apa pun. Itu mulai dia sadari saat hujan datang, ketika dia masih mencangkul di kebun. ”Rupanya suhu badan saya dipatahkan oleh suhu alam,” katanya, dengan gaya bahasa khas Pram.
Dia bahkan sudah tidak membuat karya lagi kini. Bagaimana kalau ada ide yang mendesak, tidak berupa Kali Lusi di Blora, tapi tentang rel di Stasiun Bojong Gede? Menjawab itu, Pram hanya tersenyum tipis, sedikit menggiris. ”Lha, konsentrasinya udah bubar nggak keruan. Itulah, dulu saya tidak pernah menyangka akan menjadi tua.
Perasaan kuat badan saya, nggak tahunya sama saja dengan yang lain, kemerosotan otak,” kata lelaki asal Blora yang berasal dari daerah bagian kelompok masyarakat Samin. ”Masyarakat Samin yang dikenal antiperaturan kolonialis itu menginspirasi Gandhi lewat Swadeshi dan Satyagraha lho,” ujarnya.
Kini, dia ingin bersunyi-sunyi di kediamannya, berternak dan berkebun. Dia memang sudah lama tidak ke Blora. ”Nanti dari Eropa, mungkin saya ke sana. Betulin rumah,” katanya. Mulai bulan Mei, dia akan melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Negara yang akan ditujunya pertama adalah Swiss, lalu menyeberang ke Italia untuk menerima penghargaan Laureate Novelist dari Universitas Bologna, Italia Utara.
Dia juga berencana akan ke Spanyol (dalam bahasa Catalon) dan ke Yunani untuk meluncurkan Gadis Pantai. ”Juga undangan ke Prancis yang saya tidak tahu acaranya,” ujar lelaki ini sambil terus menghisap rokoknya dalam-dalam. Tampaknya, novelis Anak Segala Bangsa ini telah menjadi anak segala bangsa dalam arti sesungguhnya. Berkelana, mengarungi beberapa negara dan bangsa …
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati