Tampilkan postingan dengan label Salamet Wahedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salamet Wahedi. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Maaf, Supir Itu Suami Saya!

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 156, 11 Juli 2010

“Mbak, Mbak sudah siuman? Syukurlah kalau Mbak sudah siuman”, lamat-lamat Reni mendengar suara setengah cemas di sampingnya. Perempuan muda seumurny, yang kira-kira dalam taksirannya, tiga tahun lebih tua dibanding dirinya. Ia juga melihat ruang tempatnya terdampar putih semua. Sekeliling, hanya warna putih yang menyapa retina-pupil matanya.

Senin, 19 September 2011

Malam Nyadar1

Salamet Wahedi *
Jurnal Nasional,29 Agu 2010)

Thuuoong...! thooung...! thooung...!

SIRINE kapal merapat memulai debar dada. Selamat datang di Pulau Madura, sebentang spanduk merah menyala menarik perhatianku. Dan patung karapan sapi, merupakan nilai lebih yang mengakrabkan pulau ini dalam benakku. Seperti tempat-tempat yang aku singgahi, Dermaga Kamal, dan mungkin seluruh petak kenangan yang akan kulalui di Pulau Madura ini, adalah kesederhanaan yang mulai mengelupas. Seperti kegersangan yang pelan-pelan beringsut di beranda hatiku.

Mendekati terminal, ibu tua dan seorang anak merengek, merenyuh desir darahku. Di telinga, di antara lagu Iwan Fals, Siang di Seberang Istana, keluh Rafa mendengung. Seperti sebuah isyarat. Keluh pada malam dia berhasil mencopoti celana kelelakianku.

"Apa yang kau inginkan dariku, lelaki? Sekadar wawancara?" kata Rafa yang malam itu begitu anggun. Tatapannya penuh gairah. Seulas senyumnya menghentak nalarku. Tak bisa ditahan lagi, rona mukaku berubah. Cepat-cepat kutepis dengan anggukan satu kali. Pelan. Penuh kesungguhan.

"Tidakkah kau akan menikmati ‘jajanan yang tidak berbungkus daun' malam ini?"

Jajanan tak berbungkus daun? Ah Rafa termasuk perempuan penuh imaji. Tidak adakah jalan lain Rafa?, aku membatin. Rafa begitu memikat, setiap pertanyaan yang kucoba sodorkan, disimpannya dalam simpul senyum manisnya. Lama-lama tak dapat kuhindari tatapannya yang teduh tapi runcing. Apalagi aroma tubuhnya, desah napasnya. Aku tak lagi dapat mengelak. Ia tak hanya memikatku. Tapi, ia membuatku kagum dan bangga padanya. Ia tangguh dan penuh imajinasi. Kata-katanya meluncur ritmis. Apalagi ditambah cahaya matanya yang berkaca-kaca.

"Rafa!" lenguhku meregang ngilu. Lagi-lagi Rafa melempar senyum melihat tubuhku mengejang. Tangannya membelai kepalaku yang rebah dekat ketiaknya. Rafa seperti guru geografiku. Ia begitu lugas mengajariku tentang ilmu bumi. Ia pemandu wisata yang lihai. Diperkenalkannya aku pada gunung yang selalu berdegup. Diajaknya aku menyelam, merasakan kehangatan sungai. Juga ditunjukkannya padaku bagaimana cicak lekat di dinding.

***

"Sumenep! Sumenep!"

SUARA seorang kondektur melintas di ujung retina. Memancingku mempercepat langkah. Sampai dekat loket karcis ibu tua itu terus mengejarku, manatapku penuh asa. Tangannya tiada pegal-pegalnya menadah. Dan anaknya bergelantungan di tanganku. "Om minta uang, Om. Aku belum makan," kata anak itu, kedua matanya begitu sayu. Tapi, begitu jernih. Mata yang runcing. Sedang si ibu, tampak mengiba. Ibu yang lusuh. Pakaiannya terkesan tak dicuci. Bibirnya pecah-pecah kering. Dan garis wajahnya penuh debu. Aku pun merogoh uang kecil di kantong celana.

Mungkin inilah yang diceritakan Rafa sebagai pemanggul sejarah buta. Sosok yang tak pernah dilihat dan disaksikan dengan saksama. Ya, kata Rafa, iklan dan orasi politik elite kita menggembar-gemborkan kesejahteraan kita semakin meningkat. Bahkan dengan bangganya mereka memamerkan bisnis ekspor kantong pengusaha mereka. Tanpa mau menengok bagaimana nasib orang tua dan generasi bangsa ini masih tercecer di pinggir-pinggi jalan.

Meski sebagai wanita tuna susila, Rafa selalu mengesaniku dengan kata-kata yang meluap ‘pedas'. Kata-kata yang meluncur sederas desahnya merengkuh tubuhku.

"Apa yang dapat kita dapatkan di negeri ini. Hanya dongeng dan janji. Para pejabat kita tak ubahnya para penyair yang tiada henti merangkai kata."

"Dan pilihanmu?" tanyaku dengan wajah melucu. Menggodanya untuk melempar cubitannya ke perutku waktu itu.

"Kupilih jalanku. Seperti angin memilih ruang di mana ia akan bersemayam," sungging Rafa mencibir.

"Puitis banget," sontak kata-kataku membuat mata Rafa ngacir ke langit luas.

Ah Rafa, kau mengingatkanku pada kisah Perempuan di Titik Nol!

***

"Tanah merah! Partelon pasar! Rombongan!"

MATAHARI telah beranjak melewati garis puncak. Dengan sebersit cahaya banal yang meredup, ia menyapa ladang-ladang menghijau tua di kanan-kiriku. Bus melaju 50 km per jam. Di kejauhan, pohonan, orang-orangan timbul tenggelam. Seperti ingatan yang nanar. Dan senja lamat-lamat seperti tangan seorang ibu mengusap kepala anaknya. Semburat jingganya seperti gincu perawan membias di kaca bus.

Dan burung-burung? Ah, perjalanan yang begitu eksotis. Setiap jengkal jalan yang kulalui, bak menyimpan serpih kerinduan. Berulang kuarahkan tele kameraku ke obyek yang melintas bak seliweran perempuan di senja Dolly, tempatku nongkrong dan menikmati panorama tubuh. Menikmati pemandangan sepanjang jalan yang senyap, kadang menderu, tambah asyik saja dengan iringan celoteh lagu-lagu jalanan pengamen.

Di sini aku kembali teringat wajah beku Rafa. Wajah yang menuturkan nasib orang-orang di sekitarnya. Dengan aksen Sumenepnya, pada malam ke-59 pertemuan kami, di Taman Bungkul, ia bercerita tentang seorang Rawit. Seorang anak berusia 15 tahun. Usia yang segar untuk menimba ilmu. Tapi sayang, pada usia yang masih belia ini, Rawit memilih belajar di kolong langit lepas. Ia begitu lihai mengamen. Memainkan gitar. Malam-malamnya dihabiskan di jalanan. Bermacam lagu telah menjadi menu pelajaran terbaiknya. Rafa begitu antusias setiap bercerita fragmen suram orang-orang di sekitarnya. Penghayatannya sungguh menakjubkan. Mimik wajahnya, intonasi suaranya, serta gerak bibirnya bak perpaduan busur dan anak panah menembus dadaku. Buru-buru aku memalingkan wajah, saban Rafa mengerling manis.

"Kau lelaki yang kuterima dengan ketelanjanganku. Kuraup seluruh telanjangmu. Kau tuntaskan birahi tanpa lendir kondom."

"Aaaa...." mulutku tercekat diteror tatapan dingin Rafa. Senyumnya menyeringai. Gemulai tangannya menepuk pundakku. Lalu kepalaku....

Laju bus semakin menderu. Keramaian mulai menepi di jalanan. Semburat senja seperti kibasan rambut pirang perempuan muda yang memilih duduk di dekatku. Ia melempar senyum. Tebal bibirnya membuatku berdegup. Oval matanya seperti lorong masa silam. Suram dan penuh hantu tanda tanya. Dan lentik tangannya? Ah....

"Mas turun mana?" kerling mata perempuan di sampingku bak lampu yang membuat mataku bergeragap. Mataku bergegas menangkap raut wajahnya. Lalu aku menjawab sekadarnya, "Sumenep"

"Sumenep? Di mana?"

"Mau ke Nyadar"

"Oh! mas wartawan ya? Sama saya juga mau ke sana. Mas asli mana?"

Seperti pertanyaan sebelumnya, aku hanya menjawab sekadarnya. Aku jelaskan, aku memang seorang wartawan. aku lahir dan besar di Lidah Wetan. Ayahku berasal dari Sukabumi. Ibuku asli Bangkalan.

"Berarti indo dong?" senyumnya seperti sebilah jeruk. Lalu ia memerkenalkan namanya: Asfi, asli Sumenep.

"Saniman," aku balik memperkenalkan diri, ketika kehangatan jabatan tangannya meminta kepastian.

Sepanjang perjalanan, aku mengesani Asfi sebagai sosok perempuan yang bijak. Sosok perempuan yang suka warna kuning. Kata-katanya, seperti awal perjumpaan, seperti sebaris pasukan yang dengan sigap dan penuh perhatian menunggu instruksi. Ceritanya tentang Nyadar yang akan kuliput, membawa sekelebat bayangan gamang: kecemasan, suasana mistis, dan kenangan yang tiba-tiba begitu sentimental menggodaku.

"Nyadar itu semacam ritual syukuran. Ia lahir atas niatan mensyukuri tumbuhnya garam di Girpapas," Asfi begitu lihai menceritakan nyadar. Sekali-kali dialihkannya pandangannya ke tempat kosong. Mengingat-ngingat secuil kenangan yang tercecer, atau menghadirkan suasana yang sungguh menyentuh jiwa.

"Kadang aku bergidik membayangkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan nyadar ladar di luar nalar," tandas Asfi. "Bayangkan saja, bagaimana nasinya panjang3 itu awet. Tidak cepat basi. Bedaknya dapat menyembuhkan penyakit. Yang paling aneh, mungkin bagi orang-orang luar Gir Papas, nyadar bagi masyarakat Gir papas seperti ritual menunaikan haji"

Berulang Asfi menandaskan hal-hal mistis. Mimiknya, setiap ia menguraikan selalu diliputi eksotisme. Semacam gelora jiwa kerinduan. Raut mukanya memancar aura alam lain. Sisi lain orang Madura yang selama ini hanya kukenal dari desas-desus dan secuil sosok Rafa.

"Oh, Hajjah Murdiah," tandas Asfi ketika kutanya tentang Rafa. Asfi lalu menjelaskan panjang lebar tentang sosok dan sepak terjang Rafa, sampai akhirnya ia menunaikan ibadah haji.

Ah Rafa, sosokmu kini tak lagi banal, tapi kau begitu sakral menghentak ilusi dan imajinasiku....

***

MALAM berkelebat riuh. Hembusan debu memenuhi rongga tanah Kebun Dadap. Tanah berlangsungnya ritual agung nyadar, begitu orang-orang Gir Papas menyebutnya. Di tanah Kebun Dadap ini pun, beberapa gambar dalam momen yang eksotis dan penuh romantika sudah memenuhi memori digitalku. Tak ketinggalan arakan bengatowa4 dengan kemeja racok saebu5. Sampan-sampan yang hilir mudik menelan dan memuntahkan penumpang yang berjibun.

Berdesak-desakan di atas sampan kecil kadang aku ngeri. Apalagi ketika sedikit oleng. Sontak mulutku juga berteriak-teriak seperti ibu-ibu. Dua hari di tanah Muaragaram ini, aku seperti melihat denyut nadi gelisahku: antusiasme masyarakat terhadap ritual adat-istiadat, muda-mudi mulai tampil punk dan glamour ke perayaan budaya, pasar malam digelar demi memeriahkan, dan turis-turis yang datang sekadar nampang. Ah, rasa gelisah itu tidak hanya bergolak di setiap titik nadir darahku, tapi mulai meruncing menusuk mata setiap kuarahakan tele kamera untuk mengambil gambar. Gambar-gambar itu seolah hendak berbicara. Tapi sayang gemerlap lampu Phillips yang mengganti lampu talpe, membuatnya ngungu terpaku bisu. Ah inikah nyadar yang eksotis itu, Rafa!

Menjelang tengah malam, Asfi mengajakku ziarah.

"Kalau tengah malam begini sudah sepi. Kita akan sedikit tenang memanjatkan doa. Abang nanti bisa merasakan sendiri bagaimana hawa mistis yang sering aku rasakan dan aku ceritakan," wajah Asfi yang tampak lebih segar dan berbinar. Senyumnya yang berulang di lemparkannya membuatku berdegup. Setiap kali kutepis gemuruh yang menjalari pori-pori darah, setiap itu pula ada hawa aneh yang menghentak alam bawah sadar. Hawa yang menyelusup seperti gulungan asap. Hawa yang lewat rongga dadaku seiring udara yang berlari-lari kecil. Dan lamat-lamat, di ujung gulungan asap, aku melihat wajah lain di wajah Asfi....

Duduk depan pasarean Mbah Anggasuto, aku hanya tertunduk sendu. Suasana yang hening dan senyap, menghapus tumpukan debu di jantungku, di otakku, di kelenjar darahku. Sesekali percakapan pelan dan penuh intonasi bengatowa, menyentuh gendang telinga. Seperti kuku angin mengelus kulit ariku.

Tak ada doa yang bisa kurapal. Hanya kelebat udara dingin dan penuh sentuhan, terus kurasakan. Kutangkap. Kupasang segenap panca indera dalam posisi on. Semakin lama kelebat yang membuat bulu roma berdiri, semakin pekat dan menyedot jiwaku dalam pusara sunyinya. Apalagi Asfi dengan telaten menuntunku dari pasarean5 satu ke pasarean lainnya. Seperti burung, aku seperti berkelana di cakrawala mistis tanpa batas. Dan setiap kali kumasuki pintu kecil pasarean, aku merasakan getar rindu yang dalam dan berat.

Cahaya bulan yang menyelinap di antara daun-daun pohon asam tak ubahnya kerling berpuluh pasang lancheng-paraben6. Berpuluh pasang yang mengendap di tempat-tempat gelap seperti burung-burung membagi kehangatan. Dan esoknya, mereka akan bercerita dengan malu-malu akan sejarah yang diukirnya di antara gelap kubangan sampan yang belum selesai. Di antara nisan-nisan yang setiap menangguk sepi.

Melewati titik puncak malam, para pedagang mulai memberesi barang-barangnya, dan keramaian pun menepi. Di beberapa celah jalan, hanya kelengangan yang bertahan. Kepul debu tidak sekelabu maghrib. Melintas di area pasar malam nyadar, dengan sesekali mencari obyek yang eksotis, aku merasa diradar sepasang mata gaib. Bahkan beberapa kali aku canggung. Orang-orang menyapa, menawarkan sisa dagangannya seperti datang dari masa lalu. Dan lamat-lamat wajah Rafa, membercak di setiap sudut malam. Ah, Hajjah Murdiah!

" Apa yang kau lamunkan Saniman?

Sebilah tangan menepuk bahuku. Terawangku mengawang. Dan alam bawah sadarku, seperti dikena reruntuh kota sehabis perang. Inikah luka kenangan dan rindu? Mataku semakin berkunang-kunang menyirap gulusan debu dan rasa. Rafa, ah Hajjah Murdiah balutan tubuhmu menebar embun cahaya, seruku dalam hati melihat sosok yang menepukku.

Dan yang paling membuatku membatu dan tidak mampu sekadar menggerakkan tele kameraku, seorang bocah yang menggelayut di sisi kiri Rafa, ah! Hajjah Murdiah. Bocah bermata jernih. Senyumnya menyimpan kilat tajam. Dan sepotong belati mainan diacung-acungkannya ke dadaku.

Sumenep-Surabaya, April 2009

Catatan:
1. Nyadar: ritual syukuran yang dilakukan masyarakat Pinggir Papas. Ritual ini dilakukan setiap tahun. Ritual ini merupakan adat-istiadat yang terus berlangsung sampai sekarang. Nyadar dilaksanakan tiga tahap. Nyadar pertama dan kedua dilaksanakan di Desa Kebun Dadap. Dan nyadar ketiga dilaksanakan di Desa Pinggir Papas.
2. Perempuan di Titik Nol: novel karya Nawal El-Saadawi, pengarang perempuan Mesir.
3.Panjang: piring besar yang digunakan dalam ritual nyadar.
4. Bengatowa: sesepuh/pemangku adat.
5. Pasarean: kuburan
6. Lancheng-paraben: perjaka-perawan.

*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=465257722274

Minggu, 01 Maret 2009

Sang Pembunuh Syams

Salamet Wahedi
http://www.surabayapost.co.id/

Syams. Kami memanggilnya. Syams Al-Wahed. Sudah dua tahun, ia telah meninggalkan kami. Ia telah menjadi manusia impian. Banyak hal dan peristiwa yang, tiba-tiba, minta dikenang. ’ee’, logat-gaya bicaranya agak lambat. Matanya yang selalu menampak kuyu. Kebiru-biruan. Pakaiannya ala kadar. ”si charokonx”, begitu kami memanggilnya. Lalu, ia nyengir. Lalu keluarlah filosofi andalannya, ”chasing boleh charokonx, tapi isi tetap tetap nomer settong”.

Kami tak mengerti. Kami begitu asing dengan nama dan tokoh yang disebutnya. Tapi kami- dengan bahasanya, dengan tuturnya yang meledak, melemah- dibuatnya begitu akrab. Begitu terhibur.

Syams. Satu dari sekian nama yang dipakainya. Suatu kali Kami menemukannya dalam sebuah majalah. Atau el-habib, ketika kami mendengar teman-teman kuliahnya. Atau Bang Slam, panggilan yang dilekatkan anak didiknya. Syams. Satu dari sekian nama yang kami pakai untuk mengenangnya. Sosok yang begitu rupawan, tapi bersahaja. Sosok yang penuh kontroversi, tapi arif dan bijak. Celotehnya, di samping membuat kami mengernyitkan kening, juga memberi sebuah dunia lain, -yang sekali lagi dengan bahasanya yang ritmis, tuturnya yang lemah-lembut, syams membuatnya begitu akrab. Dunia lain, tempat peristiwa yang akrab bagi kami. Sekaligus asing. Dan syams, seperti kebiasaannya, sehabis isya’, selalu kami temukan nongkrong di warung babeh.

”Kita mesti bertanya tentang diri kita. Tentang sejarah yang berjalan atas nama nenek moyang kita.” Malam itu syams datang dengan gaya yang amat nyentrik. Pakai gelang, kalung, serta anting-anting. ”Banyak potongan sejarah ini digudangkan dan diganti dengan cerita birahi para penguasa. Koruptor...”

”Semalam mimpi apa Syams?” Adi menyela. ”Pakaianmu kayak penyair tidak diakui orang.”

”Aku hendak bertemu izrail.”

Seperti angin malam yang menusuk sumsum, kata-kata Syams membuat kami terkesiap. Malam itu kami hanya berpandangan dengan mata nanar penasaran. Kata-kata yang polos. Tentang kamatian yang tulus. Isyarat yang halus. Tapi kami tidak dapat menangkap bahwa kematian itu, telah ditangguhkannya sendiri. Kematian itu, telah dijemputnya dengan kepala tegak.

Dua tahun, Syams telah meninggalkan warung bapak Babeh. Jejaknya tidak hanya minta dikenang, tapi telah menyelipkan kesunyian bersama desir angin malam. Syams mati malam itu. Malam, di mana ia berpakaian amat nyentriknya. Kata-katanya mengandung magis. Tentang nasib petani yang ditemui dan didampinginya mengurus hak-hak tanahnya. Tentang para mahasiswa yang mulai kehilangan jati dirinya. Tentang caleg muda yang terjebak pada euforia kekuasaan semata. Tentang....

Syams mati mengenaskan dan penuh misteri. Tubuhnya tersayat. Potongan tubuhnya berserakan sepanjang selokan. Lidahnya hilang. Matanya copot. Ia mati dibunuh. Jejak ceritanya yang menghibur bagi kami, ternyata begitu runcing dalam kenangan. Pun tokoh-tokoh yang berulang disebutnya: Pak Mahmud yang tanahnya kena gusur, Bu Karti yang merelakan warung kopinya demi mal, atau Dr. Mizoh, M.M yang getol menawarkan diri jadi caleg dengan seribu janji copypaste, K.H. Ali Gili, yang dengan gaya da’i sejuta umat mengajak para pemiarsanya mencoblos gambarnya, atau Moh. Aris, Mahasiswa tekhnik yang jadi kader partai biru-merah, Al-Jaber, Mahasiswa yang nyentrik dan merasa jagoan karena jadi ketua tim sukses pasangan pilpres no. 27 dan banyak lagi.

2

”Syams,” ia memperkenalkan diri. Wajahnya sayu. Rambutnya awut-awutan. Selain kata-katanya yang rancak, sosok 20-an ini memiliki aura yang sungguh menarik. Tuturnya yang runtut, untaian kalimatnya yang berantai, serta mimiknya yang ekspresif. Apalagi humor dan joke-jokenya yang memecah kebuntuan, bahkan ketegangan.

Malam masih merambat 20.30 ketika kami berjabat tangan. ”Sudah dua tahun saya mengadu nasib di kota bratakala ini,” matanya berkaca-kaca. Ada tetes bening di pelupuk matanya. Seperti embun yang mulai merembes, dan memenuhi udara dingin rongga dada. Mata yang memandang kilat matanya terlalu lama, dengan raut yang runcing akan terhipnotis. Terhisap pada pusaran kata-kata. Kubangan welas asih tak tertangguh.

Setiap malam. Setiap pukul 20.30 kami mulai menghabiskan dua pertiga malam kami dengan puntung rokok, secangkir kopi, cerita-cerita remeh orang-orang pinggiran, siasat perang orang-orang besar. Tidak terlewatkan, tentang wanita-wanita yang hilir mudik memasuki memori dan diary kami. ”Tanpa bunga revolusi, kita akan sepi. Lalu mati,” ia ngakak. Seperti tak ada beban yang perlu dipikirkan, ”Tetapi siapakah orang-orang revolusioner? Kita? Mereka?” tawanya semakin jumawa. Tawa yang tidak hanya menertawakan keadaan yang berjalan tanpa arah, tapi tawa yang begitu menusuk hatiku. Menusuk ulunya yang paling dalam.

Suatu malam, syams menghilang. Kata Adi, temannya, ia menghadiri acara sastra, baca puisi! ”Sosok yang energik!” seruku dalam hati.

Hilangnya syams memberi gambaran lain akan sosoknya. Tiba-tiba aku memahami segala ucapannya. Kata-katanya yang berangkai, kalimat-kalimatnya seirama dan beruntai, serta kritikannya yang berlambai dan landai. Sesekali aku membayangkan rautnya yang kuyu. Matanya sayu. ”Jangan percaya pada siapa pun. Bahkan pada diri kita sendiri, kita perlu mawas. Was-was.” wajahnya tanpa ekspresi suatu waktu.

Waktu itu kami memutuskan untuk cangkrukan di cafe, di lantai tiga sebuah mal. ”Dari sini kita dapat menyaksikan kelap-kelip lampu. Gelap dan terang yang berisisian menciptakan nuansa.” Lalu malam. Sejenak ia menyeruput es juice-nya, akan membawakan aku sepotong puisi, lalu menyelorohlah ia tentang seribu lembar mimpinya. Aku hanya sesekali menimpali.

Di Jerman, Syams nampak berbinar menghisap rokoknya. Ya di Jerman, aku akan membacakan sebuah puisi. Aku akan berkeliling dunia membacakan puisiku. Tentang Utari, yang menjadi kekasih impian. Sebab ia telah memilih suaminya bukan aku. Lalu puisi ”bapakku”, seorang petani yang tiada lelahnya menantang matahari.

”Tentang aku?” tukasku. Bibirku mengembang senyum. Syams pun mengiya. Sekali lagi diseruputnya minumannya. Dan dihembuskannya asap rokoknya.

”Ya tentang Mahfud. Seorang teman yang setia menemani sepiku. Seorang teman yang menghitung jejak di malam tahun baru. Seorang teman, ah Mahfud. Malam itu,” cerocos Syams begitu puitis. Aku tidak dapat membedakan apakah ia sedang berpuisi atau mengingau. Kau tampak gemetar. Bibirmu yang tirus meringis. Menahan dingin yang datang dengan segenap bisanya. Seperti daun dini hari. Tubuhmu pun menguar aroma cendana. Aroma...

Lalu mengalirlah berbagai angan dan khayalannya. Cita-citanya ingin jadi orang bebas, berpenghasilan tetap. Ia punya istri seperti Utari. Perempuan berjilbab. Pipi bulat telur. Mata seperti kerling tetas air di kejauhan. Dan tutur kata yang halus dan sopan. Dan yang tak dapat dilupakan Syams, rona mukanya ketika ia marah. Di antara celoteh dan seloroh Syams, yang membuat darahku tersirap, adalah sikapnya tentang gerakan mahasiswa. Tentang anak muda bangsa negeri ini yang sepanjang sejarah ikut andil mengawal negeri ini menjadi republik berfikir bebas. ”Kalau dulu, suasana dan situasi yang kurang ajar terhadap kita, tapi sekarang kitalah yang kurang ajar pada kesempatan,” ujarnya suatu malam. ”Apalagi di tengah krisis kepercayaan...”

Ah, Syams celoteh dan selorohmu adalah bumbu dapur. Kini aku hanya bisa mengenangmu. Wajahmu yang lugu, tapi penuh semangat yang berkobar. Kata-kata berangkai, tapi penuh tikungan dan kawah terjal. Serta pendirianmu yang memancang bak tembok China.

Tapi di luar itu semua. Terlepas akan kenangan yang kadang menyakitkan. Kadang menyenangkan. Aku hanya menunaikan tugasku. Khayalmu terlalu tinggi. Cita-citamu menjulang meninju langit, Syams.

Akhirnya di malam jumat kliwon. malam yang hujan, yang menandai rapuhnya saton hidupmu, saat kau mengendap kedinginan, sengaja kuambil kesempatan itu. Kesempatan yang akan menyempurnakan segala keluh kesahmu dengan janji tuhanmu.

3

Perempuan separuh abad, kurang lebih, menatapku dengan mata sembab. Kilatnya penuh gairah dan harapan, yang tiba-tiba liar oleh prahara. Di hadapannya potongan tubuh anaknya semisal fragmen yang menghantui masa-usianya yang kian menua dan lampau. Keriput pipinya menyimpan sisa air tangisnya yang tumpah sejak kabar kematian anak semata wayangnya.

Sejenak aku terenyuh. Rasa bersalah tiba-tiba pun berseliweran di setiap pori-pori dan sendi tubuhku. Ibu separuh abad, Ibu Kunti, merangkulku. Degup dadanya seperti hentakan musik yang bertalu di ruang-ruang diskotik malamku. Dan sengak isaknya seperti ujung kuku jarum menusuk ulu hati. Seperti gunung yang lama tidak meledak, Ibu Kunti menumpahkan segala kehilangan dan kehampaannya ke dadaku. Tubuhku bergetar. Darahku tersirap panas.

”Ibu,” seruku. ”Maafkan aku telah...,” kata-kataku tersekat dalam dada. Seperti para pelayat yang ikut berbelasungkawa dengan kebaya hitam, beras, uang dan ngaji Yaa-sin yang mulai menggerumung di kamar tengah.

Sementara persiapan pemberangkatan jenazah telah menyedot dan menarik perhatian beratus pasang mata. Seorang dara berkebaya hitam legam, rambut sebahu, terus memantau gerak-gerikku. Seperti pemburu yang mengintai mangsanya. Rautnya runcing. Bias wajahnya menanarkan aura kejantanan. Aku rikuh. Mungkin inilah sosok perempuan yang memikat Syams, Utari. Sosok yang diceritakannya akan hadir dan menghantui pembunuhnya. Aku bergidik

Kubelai kepala Ibu Kunti. Isaknya kian sengak. Arakan jenazah mulai bergerak. Dan gema kalimat tauhid mendendangkan lagu dingin di hatiku. Di tambah suara isak Ibu Kunti, sendi-sendi tubuhku semakin bergidik. Apalagi sepasang mata tajam si dara itu, yang tidak mau melepasku barang sebentar.

Pemakaman berlangsung syahdu. Pembaca talqin tidak hanya menyudahi bekal bagi si mayit Syams. Tapi ia juga seperti putusan yang ditimpakan padaku. Ada rasa sesal. Tapi juga kesal. Tanpa terasa airmataku juga menetes. Satu-satu. Seperti para pelayat yang mulai pulang.

Kini tinggal Ibu Kunti, aku dan si dara berkebaya legam hitam itu yang termangu. Menghikmati upacara duka yang baru usai. Menikmati cuaca berkabung yang tunai. Lalu Ibu Kunti menatapku dingin. Tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri. Lebih dingin dari aroma tubuh Syams. Ia melepaskan rangkulanku.

”Benar kata Syam,” suara ibu Kunti lirih. ”Suatu hari nanti pembunuh anakku akan datang kepadaku. Dan meminta tolong untuk mencincang tubuhnya di bilik suara.”

Aku tersentak. Ibu Kunti berlalu dengan lambaian jumawa. Si dara berkebaya hitam legam meremas stiker gambarku. Lalu menginjaknya.

Sedang aku menghunus pisau untuk mereka.

*) Penulis Tinggal di Sumenep, 2008.

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati