Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=102
(I) Ini kata-kata si gila,
mengandung sembilan bulan kenangan;
hidup-mati berkali-kali sungsang,
kepala separuh dingin malaikat, sebelah kiri dunia nyata.
Kapal kegelisahan terpontang-panting
selaksa mengarungi cakrawala tanpa warna,
gentayangan di tengah prahara;
jaman edan anak-anaknya,
tersungkur bersama anggur-anggur kehormatan.
(II) Ia memandang mereka tergila-gila,
merenungi bumi sedang kentir,
begitulah kitab kegilaan tercipta;
bangun dari tidur ketidaktenangan.
Deladapan mencipta kidungan puja di altar Yang Kuasa,
pada kuil, gereja, masjid dan di dalam sangkar langit;
planet goncang, beranak-pinak kegilaan.
(III) Pagi tanpa sebab,
awal tak menentu dan menjadi kebiasaan,
sebelum embun berguguran,
jemari lembut mengambili bunga rumput,
lalu memandang meresapi udara bagi mata bathin terlahir;
matahari tak mau bicara pada wajah pucat getir,
serta tampak di balik kerudung gelap bayangan,
kembang-kembang kemungil dirangkai mantra puja,
tak jelas namun tergores kesadaran hayat di pagi suci.
(IV) Kala siang membelalak,
bibir blingsat tertampar marah ia,
hari-hari hilang direbut hawa suwong,
bukan terampas paksa tapi sambillalu,
di antara itu ada pencuri;
belaian senja memetik tangkai rerumputan,
burung-burung musim semi ke sarangnya kembali,
setingkah anak-anak di pesisir Bakauheni.
Penantian sakit merindu obatnya; siapa bergandengan,
mengajak matahari temaram di peluk kebugaran.
(V) Malam menanjaki jubah tebing pada kejauhan jurang,
sekuntum terjatuh begitu pikir melayang;
jemari ganjil bersunting dawai-dawai syair,
langkah susah terubah irama, menggugah kedalaman jiwa,
mengungkit rindu, nyala api kasih sayang kembali menyala.
(VI) Malam lebih bercerita menggayuh sunyi,
bintang beradu pandang, jantung sama terpejam;
secercah cahaya sampai menerangi benda melaju peristiwa.
Ini masa kegilaan lembut, tak tampak kapan mencuat,
aliran sungai ke arus deras menyenggol sekujur sanubari;
berjalan bersama sukma, lainnya ikut serta
kepada pedalaman kabut tidak terhingga.
(VII) Syair tak terhingga, bukan jarak rentang nasib gejala gila;
pada gerbang puncak petilasan Samber Nyawa gunung Gambar,
angin kering pebukitan, mengelupas kulit punggung kembara,
mulanya kidungan lalu terpotong siur bayu lembah pesawahan.
(VIII) Di pagi sudut kota ia terlelap berbaju kumal,
tak terawat dahi berdebu di alun-alun penantian;
mimpi menyeberangi sungai, sampan beriak gelombang,
degup air mengurangi nafasnya lebih lama mengalir kentir.
Inilah senyum tawa kecil digelitik musykil;
tiap aura persinggahan menghentakkan kaki melayang,
laksana kapas randu tanpa jiwa tertiup angin segudang.
Inikah kabar tersampainya berita kekekalan,
mulanya kantuk lalu menemukan ujung kasmaran.
(IX) Hari-hari mendung berkelabu meruang bumi,
matahari malu menuai rerumputan padi,
sementara bebijian merunduk
tanda menyetujui musim berganti;
berlanjut di masa bolong,
burung gereja malas menciptakan sarang,
menerima kubur di sudut-sudut bangunan.
(X) Ia sempurna kala menyapa,
bahasa senyum tawa, gerak misteri dalam jiwa;
ada patut dikenang, menuang seluruh perhatian,
santun berjalan di kala jaman sedang edan,
layaknya si buta melangkah tak tentu rimbah.
(XI) Engkau gila atau aku yang sinting?
Biar pertanyaan ini gentayangan, usah tergesa ke muara jawaban,
makin kabur mendekat ke sana,
dirimu datang padaku atau lebih,
dirimu di kedalaman kalbumu;
kau gila sunyi, tersadar sampai sendiri.
(XII) Ini kegilaan durung terkisahkan;
ia berlayar merajut lukis belum utuh, walau sempurna itu apa(?).
Inilah jalan lain pena tempuh, usah risau diakhir kalimah,
masuk ke ruang gila, kembali beku langkah-langkah neraca;
mengurangi beban waktu ringan bathin, istirahlah
bumi membentangkan cakrawala, kau awan luka.
(XIII) Ibarat menyapu lantai tak selesai, sampah berserak
namun terus beranjak perbuatan lain; lautan gelisah,
menumpahkan butiran garam tak jelas berakhirnya.
Memasuki keranjang berulang tiada perlu resah;
selesaikan menjualnya ke pasar kembang
dan bebaskan keliaranmu menerka walau tak sama,
menjangkau harap penuh sayap rentangan sesama,
kala pandangan semesta di dahan tak terhingga.
Ini sejarah di bawah nyata,
keluar daya tarik bumi merayapi punggung bengi,
perhitungan gemintang ke mana di mana,
terjawab pahit lidah, sembuh itu luka.
(XIV) Kala membungkuk seolah-olah gemunung tertunduk,
rumpun bebambu menjulang suling pada angin menelusup
ke sela-sela berderit;
rintihan tangis lembah ke dasar jurang kenangan,
dan ia kembali mabuk atas serangkaian kembang.
(XV) Satu kali pun pula,
kelopak-kelopak ia cabuti disebar melingkar,
para penari melewati garis awal ekstasi, begitu ia berkarya;
sejarah tak terhingga ditarik darinya semagnit menarik,
pasir-pasir besi segumpal kenang menjadi ingatan.
Menyala mendung hangat bersahaja,
kala tak mengucurkan sehelaian gerimis,
siang terik diayun asap putih melompong.
(XVI) Dan terus membumbung asap dihasilkan
harum cendana, kemenyan menjelma bunga-bunga
terkumpul menjelma merpati terbang;
terlepas meninggalkan semua jejak dilewatkan,
mengunjungi abad semilam nan jauh
sebelum otak menjangkau malam-siang.
(XVII) Merangsek hembusan angin, daya terang nyata terus
tiada menghirau bentuk serta warna, sempurna gila tanpa rasa;
getir atau manis dilupa, cahaya rasa mengendap di pundak setia.
(XVIII) Begini lupa hilang gelak tawa
melesat ke gurun gemuruh,
yang lamban bukan apa, ada ritme ia jalankan;
yang tahu lagi mengerti, singgahlah sebentar,
rasakan kegamangan ruh pada diri seorang,
gila yang lembut tak seperti terbayangkan.
(XIX) Kemarin, hilang kemarinnya,
sekarang sama kosong menuju hampa,
indera tak lagi indera, camkan sebelum telat.
Jauh melangkah tiada bakal mendapati apa-apa,
kata-kata tidak berujung, putaran itu di titik ulang;
selembut perasaan menebalkan niatan pemikiran.
(XX) Jatuhkan debu disapu angin lalu,
ke hadapanmu mereka anggap biasa; resapilah
seekor semut di kertas putih, kau tenggelam di sana.
(XXI) Sejak ia menjelma kembang, tinggal di taman srowang,
hanya dirinya bunga lain tiada. Taman ganjil tercipta agung,
kau renung keberadaan gunung tak juntrung.
(XXII) Ia sampaikan salam, kala kau tak enak membaca,
esok bakal membuka alam sama namun lain dikau terima;
bukan cara itu memetik dawai dengan amarah, dengarkan
lantunan tembang pengajaran yang mengajakmu ke sana.
(XXIII) Salamnya membahana, awan merata di rimba raya,
puncak-pucuk renung mengapung di ketinggian gunung
dan setiap ayunan ganjil terjawab bertambah genap,
berjalan angka menuju gila; ia berkendara kereta malam
kisahkan aksara hadir pada kerajaan tuhan ia kabarkan
dalam mimbar kemanusiaan.
(XXIV) Tancapkan mimpi di tlatah ketaksadaran,
gerakan ganjil penghuni tropis berlapis kabut,
di mana temukan kelembutan, nyawa kegilaan,
terlahir bersama tamatnya riwayat surat-surat ini.
Gegaslah melangkah menjelajahi rimba hening,
kelelawar menelusup ke daun-daun sunyi
menjelma bayu terikat malam takdirmu.
(XXV) Kala bayangan hadir memanggilmu mendekat,
salamnya untukmu, ia juga mereka;
menggerakkan pena tajam menghilir pesisir,
menggulung rindu ke muara akhir,
terhempas memukul karang merangsek ladang membujur cair,
kuserahkan sedenyut air hadir demi terbebas kemarau panjang.
(XXVI) Kegilaan melewati jalan tiada sadar sebelumnya,
menggenggam dendam, mekar meliar bunga di tangkai
atas harum tubuh perawan.
Di mana tak terhingga merindu gelepar mata,
lembut nan tebal menutup gardu pandangan.
(XXVII) Sampai juga kegilaan ke ujung-ujungnya,
selayang jiwa-jiwa petapa selembut selendang para penari;
rumput suci menemani kekupu mengepak terjatuh terkulai,
tangisan lunglai berakhir pada keikhlasan penyerahan tunggal.
(XXVIII) Si gila teringat pandangan ayu di hadapan,
sesosok wanita dalam mimpi seperti kembang kaca;
ia mengunjungi lalu berjumpa cerlangnya,
tiada kurang bertambah merekam waktu mengapung
dari benua satu ke lainnya, dari kepulauan terus menjelajah,
tak puas dewasa mentah, kan matang oleh beban menempa.
(XXIX) Yang lalu dibiarkan, jangan ungkit terkubur,
terus berhamburan sejumlah orang-orangan ladang,
burung-burung nanti ketakutan benang,
sementara belum sebiji persembahkan
bagi anak-anaknya telah jauh menerbangkan angan;
sampailah salam kepadamu wahai temanten temaram.
(XXX) Sepucuk surat bagimu pengisi lorong penuh cahaya,
meruang gelegak tawa warna tetap nging hening dalam telinga,
setelah itu kesal atau karunia, hanya yang bergerak tanda dinaya
dari seluruh sedang dialirkan ke sana
kepada satu titik serupa tercurah, terbuai lamunan seenaknya,
selayaknya bocah ceria bermain, sedia menjelajahi teruskanlah.
(XXXI) Langkah terlalui, warna tersendiri di muka air jernih,
lihatlah bayang wajahmu menghadap serupa itu terus sampai;
daun-daun kering berguguran membuyarkan cermin telaga,
dikau marah sungguh dengan membawa parang telanjang.
(XXXII) Ia terkantuk juga malu meminta-minta,
baik waktu menjalankan dari sebelumnya,
lentur teratur, timbal-balik terasa damai serasi dalam,
seharum kekuncup mekar bunga senyuman perawan.
(XXXIII) Lain begitu,
bocoran awan memetik dawai bersuara parau
mengisi ruang suci membahana ke lembah jurang,
tertuntun senandung bayangan berkabut kematian.
Pohon asam tak berbuah, tambah musim menegak,
tangisan dedaun memercikan embun selalu pada kita,
dunia lain tertelan angin bisu selepas nafas lupa bertemu.
(XXXIV) Tetembangan ini menembusi sunyi,
siapa mendengarkan di balik kekhusyukan,
gubahan laguan si gila tengah berkumandang;
nyanyian gelombang berpendar-putar busanya
pada pantai kelegaan mengukuhkan anak jaman.
(XXXV) Mentari terbit dari lekuk selimut laut,
tiada lain pantas dipandang kesedihan bumi dikau terima,
merasakan waktu tak bertempat,
terjemahkan tempat tanpa masa
atau bukan keduanya,
hilang perasaan kosong tergugah kentir, laksana
ombak menghanyutkanmu dekat pesonanya,
kau lagi faham sebenarnya.
(XXXVI) Sejauh alunan resah,
detak lonceng tengah malam;
menaiki bulan bergelantungan belum pasti tujuan,
rutinitas membelenggu jiwa, segumpal awan menyungkup
di atas kepalamu payung tentram, daun-daun hijau bercahaya.
(XXXVII) Kegilaan membimbing ke satu kubangan,
tiada tampak namun terasakan,
menggali kubur sendiri digali tanah,
membongkar nenek moyang; tulang belulang patah tak wajar,
berserakan, tumbang ditindih perang. Di mana tak berubah,
menjadi penggali bagi sanak-saudara.
(XXXVIII) Kelahiran kembar berdarah,
bayangan kematian sekejap kilatan pedang
menebas kabel senada seruling terputus;
sekuat jemari mencekik menumbangkan harapan
atas hembusan badai melengking mengigau-balau.
(XXXIX) Semenjak hilang malam bengong,
hening pergi jauh ingatan terbang ke dusun terpencil,
tentram sebelum tumpah prahara berebut sumber mataair
bagi ladang-ladang kerontang
oleh cahaya matahari selalu dahaga.
(XL) Berlembar-lembar kertas kesaksian
atas tumpahan lahar ribuan tahun silam;
gunung lebat pohon, bukit mengepung
api suci melingkari upacara adat, dan
tari-tarian nyawa digerakkan sukma.
Gemuruh gendang bertalu-talu bersahutan memburu,
derap kaki tentara bagaikan kicau burung di belantara,
nafasnya di lempengan sejarah oleh kesaksian mengalir.
Seluruh kegilaan tak datang tiba-tiba,
telah diatur yang menguasai malam-malam gemintang
yang merawat teratai di telaga hening memagut makna,
sebagaimana ladang-ladang hijau esok hari.
(XLI) Tanpa batas bukan musnah, usah kau terka;
tiada selain kesamaan hayati
itu gerak bathin tak dimengerti,
dalam genggaman kuasa sir Ilahi.
(XLII) Tunggulah sebentar,
kasihmu kan datang membawa setangkai senyuman;
mawar penggubah sunyi menyembuhkan luka hati
dan kembang-kembang teratai penggubah seni.
(XLIII) Kau mengerti baris-baris dijalankan,
menterjemahkan alam bergerak lembut,
pelita menyala, kluwung menerangi jalan
tiada lupa disekejapan, teguklah awan mengembarai jaman;
yang menunggumu bertemu, yang ragu mendapati batu-batu.
Tidakkah harmoni tercipta atas nilai-nilai kasih?
Kau lagi percaya, genderang cinta ditabuh bertalu-talu menjauh
menghampirimu atas ketukan nada-nada sembilu; salam baginya
wahai pengantin waktu,
kau selalu dikenang dalam ketakhadiranmu.
(XLIV) Setialah hingga maut menjemput,
bersenyum purnama, bunga-bunga sepanjang sejarah
yang mengangkat jiwa sejati menatap matahari abadi.
(XLV) Kekurangan demi penglihatanmu dangkal,
bergegaslah keluar di pagi suci mengembalikan semua;
orang-orang berduyun mengisi tawar-menawar ke tengah jalan
tak pernah usai kekal tiada dalam nalar, bukan di hati kesadaran,
namun di pedalaman tertempuh atas pantulan cermin kejujuran.
(XLVI) Kadang gerak sejajar kau kira kebenaran,
pandangan menyatakan belum kau resapi artian
lalu masuk ke dalam; apa ini maha karya?
Segala terpikir-terasa,
puncak kegilaan bukan imaji tanpa jelantra,
setiap renung terimalah sebelum hilang ingatan tentang semua;
gunung salju mengapung di lautan lebih banyak jasad bawahnya
dari atas meleleh yang berlimpah-ruah di bawa sadar penciptaan.
(XLVII) Di gurun pasir bunga mekar meliar
tanpa perhatian juga rencana,
sepadan mitos perawan menjelma tanya;
selagi kau buka gembok hatimu nan terkatup,
angin menelusupi percakapan ricik-gemulai.
Air turun memenuhi ruang kosong gelas terlelap,
di balik tembok ada menggelepar bengong bersuara.
Siapa berkata cukup atau luber?
Bagimu tahu diri, matahari hampir tenggelam,
cahayanya ke lembah-lembah jiwa
di hamparan padi berisi pengajaran.
(XLVIII) Seiring lagu suci petikan dawai,
mengalung mengisi ruang wengi perjalanan kereta;
ia serahkan sekuntum harum lekuk setia,
tiada pantas dikisah kecuali bagimu
yang sedang tenggelam dibuaian kasih mesrah.
(XLIX) Serupa tembang dilagukan serangga,
tersiar mimpi-mimpi secercah burung kelana
mengisyaratkan kerahasiaan tak kunjung dikayuh
bagai ayunan lekang; mereka merawat kesadaran bayang gelisah,
kalau bukan malam purnama takkan mengepak ke padalaman,
dan kehadiranmu dihitung menggelegar tiada kunjung padam.
(L) Waktu sunyi memberi tempat,
laju serempak menyerang kantuk; hening saling bicara,
malam-malam belum menetes di gapaian puncak.
Kebebasan dirinya bagi terhanyut mengikuti rasa,
sedikit demi sedikit menerima halusnya, tanpa batas
terus menyetubuhi waktu berat menjelang turun gunung,
daun kabut pagutan berbeda lalu menjelma penerimaan nyata.
(LI) Majulah terus, gegap mendengarkan petang,
beratnya batu rindu penutup pintu gua pertemuan;
kembara tersesat tiada lain langkah tak bertanya,
berdegupan pagi terlempar dari punggung realita.
Kesakitan bukan terpikir belati namun nikmat terberi;
rentangan kelejatan tanpa peduli sampai kepastian muncul.
(LII) Panjang seluruh lorong suwung mencari artian,
tersirat gemuruh hati sekarat antara dengungan serangga;
tiada bosan menghibur bagi insan mengemban jamannya.
Ia tumpahkan seluruh kata menggerakkan malam berat,
pohon klampis menanti terkumpulnya kabut berlapis,
menyempurnanya embun di mata daun berbaris.
(LIII) Menyembahkan malam berat demi ringan siang,
mahatari setia melintasi tiada letih memenuhi janji manis,
merawat perhatian penduduk itu rantai besar kemanusiaan.
Gelak-tawa memberi makna, tenggelam dalam seribu diam.
(LIV) Gugusan malam gemintang tertutup awan,
langit gugurkan kelopakan warna bau kembang
mempesonakan niatan mencipta kidungan;
dari lorong pekat engkau sebut kegilaan,
dalam kalimah menghilir meninggalkan mataair
ke muara persembahan, ke seluruh rindu pujian.
(LV) Malam selanjutnya begitu ringan,
kereta cepat secahaya berpijar melesat,
kala kelopakan terlepas mata air;
ia seungkap daun bersiram kenangan,
mensucikan salam damai persaudaraan.
Sulit teraba dari gugurnya daun di tengah malam,
usianya sematang musim bersilam fajar mendenting,
dentuman keras menyadari disergap waktu serempak;
kidungan digubah para pujangga menjaga malam setia,
demi sayap-sayapnya lembut semerbak sajak, bagaikan
selongsong mayang teruntuk persembahan kebijakan.
(LVI) Sabarlah, cahaya datang kepadamu
kalau kau khusuk mencipta rasa;
tiada kata selain penantian malam melarut
dan daya kekuatan melebihkan nilainya
demi tercapainya tujuan rindu purnama.
Ia menunggu sedari balik tirai keheningan.
(LVII) Ia rendam tubuh di tengah rawa-rawa,
bertenggelam dalam dingin malam merasakan
resapan pori-pori atas bunga teratai bermekaran;
di sanakah kebahagiaan sejati?
Malam mematangkan laku bersegala dayadianya
menembusi batas jaman membebaskan nyawa,
bagi endapan jasad-kalbu mengingatkan ia
masih terus berjuang demi seteguk air
menyembuh racun pemahaman masa silam.
(LVIII) Inikah jelmaan ratapan,
terhempas menyendiri menembusi tubuh
dengan tenagamu mengoyak batas sungguh,
pada pasir nadi kemanusiaanmu.
Tertebus hutang moyang keyakinan menguat,
terpegang wengi menjadikan pewarisnya;
pagutan menggantung bertanya tanpa jawab,
yang menuju ke sana ia dekap, dan tiada lagi
semua terhimpun di dalam dada pengampun.
(LIX) Hembusan nafas memacu semangat
meninggalkan jauh tubuh-tubuh lemah,
lalu terbiasa menemukan limpahan berkah.
Saudaraku, datanglah bersenyum gaibmu
sembari membawa cawan berisi madu
agar diri ini sembuh dari senyap nan rapuh.
Lalu kau menggerakkan tangan ini begitu lincah,
menari-nari di dedaun merdu oleh bayu perindu;
segenggam tangan sebelumnya,
malam mengajarkan anaknya mengawali malam
dengan kesungguhan kasih sayang ia sampaikan.
Lewat sepucuk surat kegundahan mendentang,
tangan halusmu uluran menyentuh
akan kemudahan merengkuh.
(LX) Bila musim berkumandang segerak jiwa gelombang,
sapaan langit bayu ringan menyelindap pada ceruk tak wajar;
mulanya akhir lalu berteguh hati, gesit memeluk dada gelisah
berkumambang tiada lain kecipak berkah sebadan bertujuan.
Itulah air memercik dari bibir pasir-putih hening kenangan.
(LXI) Dasarnya membekukan tulang,
kabar leluhur menampakkan kisah nyata,
sejenis ikan diasinkan; di sinikah kegilaan ajal?
Angin dingin menjilati punggung belati,
kapas terlayang menjelma awan putih,
tanpa watas juga penuh perwatasan
berhembus bersama alam kesyukuran.
(LXII) Prosesi adam-hawa selalu berulang di pentas dunia,
nurani insani menggemerincing langkah hayat-menghayati;
menggemakan seluruh jagad kepompong menjelma kekupu
atau kan hangus diterik bisu, teluk empedu pada janji sembilu.
(LXIII) Beginikah kisahnya? Suatu panggung kegilaan;
cahaya hadir menyongsong tarian si gila
mengumbar nyala merah, suara langit terus menggema,
tulang belulang remuk redam sebelum bumi berpamitan.
Ketika kehilangan dialog, terbunuh penilaian tiada kepuasan.
(LXIV) Sungguh gila bergerak tanpa ruh,
sebiji jagung basah bercendawan; mayat-mayat
bergelimpangan disadap burung-burung bangkai.
Bukankah peti mati terbuka mengangah?
Bayang kelelawar mengambili bebuah jambu,
sayapnya gosong persembahkan wengi penciptaan;
namun di wajah siapa luka berserah lelehan darah?
Duka nestapa ia rangkai menjelma reronceng bunga,
teruntuk perkawinan timur dan barat.
(LXV) Bergerak aroma edan terus membangkit,
dari sini getarannya; ganjil-gunjing, gunem-ucap,
kegaiban takkan mengacuhkan lemparan batu,
melengking sejauh tidak mereka persembahkan.
Menjelma batuan magnit di hamparan kerikil,
sepadan gendul terhempas di pasir pesisir.
Inilah sayap-sayap masa lalu menembusi kepala
menjumpaimu di waktu-waktu tak kau duga meliar
sebagaimana degupan jantung dalam tubuh isyaratnya.
(LXVI) Mereka tahu penjaga waktu
menciptakan tempat di batas perasaan,
dan siapa pun sanggup ke sana.
Di atas ketinggian jangkauan membakar cerutu,
perlunya aturan nafas merancang pola ramalan,
lantas di sisanya terisi kegilangan.
Menyembulkan asap memekatkan burung di langit,
terbentur awan kebodohan, darah segar mengucur
dari tubuh disengaja teruntuk dahaga kembara;
cawan-cawan ganjil terisi minyak menyalakan lampu,
sebelum padam kepenuhan sunyi, ramai terwarnai.
Kau beruntung teresapi renungan jejak di jalan agung,
nantinya bertemu kefahaman ulung.
(LXVII) Takkan terdamba sebab engkau bukan ia;
itu pertanda kesintingan lain sedari keedanan tunggal.
Bersamaan ini kutitipkan salam lewat tangan bergetaran,
yang ia cari dalam larut menanjaki tubuh malam-malam.
(LXVIII) Ada hilang setelah itu,
ingatanmu terlepas di ladang keramaian;
alpamu kutunggu sampai tersadar kembali,
kebenaranmu kau yakini bukan aku atau ia.
Gesekan nada-nada biola memanjati tebing curam,
menemukanmu dekat awan; hadirlah mendung segumpal,
curahan hujan bagimu tak terduga menandatangani prahara.
(LXIX) Keedanan ditentukan menuruni lembah sulit,
lebih gila menggali ke dalam inti menerawangi bebiji;
di mana pohon tertanam antara nalar dan keedanan.
Kedunguan itu di bawah sadar kejadaban.
(LXX) Gunung salju meleleh mendinginkan lekuk tubuh,
hujan menutup pintu, ciptakan perapian hangatkan nalarmu;
lantaran api, reranting bambu butuhkan itu.
Aliran sungai leluhur, kesegarannya tenggelamkan kata-kata
dan pada gilirannya kau tak percaya dirimu juga. Setelah itu
tuhan mencabut keraguan mereka, lantas kesetiaan melanda.
(LXXI) Bengawan mengalir terjelma samudra biru;
anak-anak menanti di pesisir, ia datang kepadamu
membagi-bagikan roti mengekalkan kebahagiaan
dengan memberikan tuwong berisi air zam-zam.
Carilah ia, yang turun penyelamat prahara
menyembuhkan orang-orang gila,
nilai penuh ia percik-percikan di kening insan,
sebelum mendapati kecupan mesrah perpisahan.
(LXXII) Dalam kelana,
baju compang-acak tak berbekal selain kasih sayang,
setiap ucapannya menjelma harum bunga di bibirnya;
kecupannya sewangi kesturi, sedang ayunan kaki-kaki
seringan lebah madu yang tak robohkan rerumputan,
telapak tangan bersinar oleh penjagaan lelaku.
Ia seimbangkan gerak nasib lewat musim menerpanya;
merawat gerbang jaman menyetiai amanah,
malaikat patuh kemurnian pekertinya dan
angin memanjakan di kala terik menyengat,
menerobos keringat melampaui awan bercelah.
Apakah si gila orang mulia?
Atau ia berlari dari kenyataan takdir?
Atau keluar membawa nasibnya ke alam kentir?
*)Pengenalan, 11 Oktober 2000 (setahunan penggarapannya,
di atas plafon Teater Eska), UIN Yogyakarta.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar