Rukmi Wisnu Wardani
http://www.kompas.com/
Dua buku kumpulan puisi, Aku Mengunyah Cahaya Bulan (AMCB) (2004) dan Jejak Sajak (JS) (2008), yang dikirimkan oleh penulisnya sendiri, Dharmadi, saya terima, setelah kami bertemu kembali beberapa bulan yang lalu, di acara bulanan Pasar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam), salah satu komunitas pecinta sastra yang ada di Jakarta, yang awal berdirinya digagas antara lain oleh Johanes, Jonathan, Budhi Setiawan, Zai Lawanglangit, Ileng, yang menggelar acara rutinnya tiap Rabu malam akhir bulan, di Wapres (warung apresiasi) di kompleks Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.
Saya melihat warna-warni frekuensi pada kumpulan puisi Dharmadi. Sebagai manusia yang tak lepas dari kehidupan dunia (entah pengalaman pribadi atau orang lain), saya melihat, penulis cenderung menuangkan jejak perjalanan, keprihatinan, suka duka, ke dalam puisi-puisinya dengan cara yang lembut, hati-hati dan penuh barikade privasi.
Tapi jika dicermati, kecenderungan puisi-puisinya jauh lebih condong kepada Sang Khalik. Mungkin ini berhubungan dengan jejak penulis sendiri, dengan segala pergulatan batin dan perenungannya dalam upaya menjangkau, berjalan dan menuntaskan jalur peleburan dengan-Nya.
Kecenderungan arah puisinya yang lebih kental di jalur ini, mungkin dilatar-belakangi oleh laku prihatin, tetapa dan mungkin juga dipicu oleh teriakan batinnya dalam melihat perkembangan pola hidup, pola pikir manusia (Indonesia) belakangan ini yang cenderung terkontaminasi, kaku, majal.
Coba simak puisi-puisinya di bawah ini:
sehabis hujan dideraskan badai/tinggal engahan daun-daun/urat pohon meregang dalam dingin/tinggal riwis di teritis//sungai wajahnya dalam muram//langit masih diam/aku dalam diam/ada yang memandangku/diam-diam// ( Sehabis Hujan, AMCB, hal 50).
dalam kediaman batu/menyangga langit/setia mengakarkan kehidupannya/ke bumi//(Candi Cetho,AMCB, hal 51).
batu dalam basah embun/di dasar kali di musim kemarau/ sambil mencucup cahaya pagi/bergumam sendiri; engkau beri/aku energi//(Sajak Batu, AMCB,hal 55)
demi hujan langit setia menjerat awan yang digiring angin/sambil mengingat bumi//(Dalam Kemarau,AMCB,hal 59).
embun membasuh malam/dari debu pengkhianatan/
dalam tatapan rembulan// (Penyucian,AMCB,hal 61)
sebiji beringin/lepas dari mulut kelelawar/jatuh di ceruk batu/tumbuh dalam mainan cuaca (Sebiji Beringin, AMCB, hal 62).
selembar daun mengapung/pada sungai yang mengalir/di sela-sela retak batu/mencari samudera//( Selembar Daun, AMCB, hal 64).
angin merasa bersalah/mengembuskan debu/menempel di jendela-pintu/sanubari//bening kacanya jadi kelabu//angin merasa semakin berdosa/meniup-niup mengobarkan api/membakar yang hidup/bersama matahari//angin menyesali diri/embusannya berhenti//matahari tak peduli/tetap membakar hari//(Musim Kering, Jejak Sajak, hal 21).
kau kosongkan pikir-rasa/dari mimpi-mimpi imitasi;/Kuisikan sejatiKu/sejatimu menjadi (Kesejatian, Jejak Sajak, hal 28).
embun dalam kabut dengan langkah lembut/diam-diam setia mengirim hidup pada awal hari/yang beranjak berangkat menyusuri/jalan waktu//selalu ada yang tak dapat lagi/ikut menyambut//lebih dulu telah Kau jemput// (Embun, Jejak Sajak, hal 38).
setia kau kirim subuh-mu/di kabut pagi membasuh/debu kalbu//aku dalam selimut// (Langit, Jejak Sajak, hal 39).
bulan pucat;/dengan hati kecut/sesaat mencangkung di bibir/jendela langit, menatap bumi//tak didengarnya lagi tetabuhan dan bunyi-bunyi/untuk mengusir sepi dan menakut-nakuti/sang waktu agar tak membuntutui//orang-orang tak lagi peduli/telah jatuh cinta pada cahaya imitasi//sebatang kara bulan berjalan sendiri/dalam remang meraba-raba hari/bumi menabir jalan cahaya matahari/waktu terus membuntuti//bulan menerima kodrat;/mati perlahan, disayat-sayat sang waktu//kau raba lukaku// (Gerhana Bulan, Jejak Sajak, hal 44).
Di tengah-tengah saya sedang menikmati puisi Dharmadi, suatu ketika, saya menerima pesan pendeknya,”Mbak Rukmi, ketika buku saya dibicarakan di salah satu acara apresiasi di salah satu kota, ada yang mengatakan, beberapa puisi saya porno”.
Coba kita nikmati bersama salah satu puisinya, yang dikesankan porno itu:
ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku kadang iseng atau tak sengaja menatap payudara/di dada pernumpang perempuan yang mengintip lewat model pakaiannya,/
ah, betapa subur dan indahnya;/lava gairahku mengalir begitu saja, ingat masa kecil ingin kembali/menetek susu ibu,/mencecap rasa nikmatnya sambil memainkan putingnya/kadang dengan jemari atau mulut lembutku dalam hangat dekapan di gendongan.//
ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku yang kadang iseng atau tak sengaja menatap pusar di perut penumpang perempuan yang nongol lewat model pakainnya,/ingat pada plasentaku yang dulu di dinding rahim ibu// dan pikiranku terus melayang, membayang lubang di bawah/pusar penumpang perempuan ketika menatap bagian celana dalamnya/yang sedikit nampak lewat pakaiannya;ingat lubang/di bawah pusar ibu yang terlindung sepasang pangkal tiang paha,/jalan awal kumemandang dunia.//(Ketika Naik Bus Transjakarta, Jejak sajak, hal 42).
Puisi tersebut, yang ditulis dengan bahasa tubuh, kalau dibaca dengan kacamata tekstual memang terkesan porno. Tetapi, benarkah puisi itu porno?
Puisi adalah bahasa multi persepsi, tergantung siapa yang membacanya. Seperti Serat Centhini, betapa absurd pornonya kalau dibaca dengan kacamata tekstual. Tapi menjadi beda kalau membacanya dengan kacamata hakikat.
Porno tidaknya sebuah puisi harus dikaji dari isinya secara keseluruhan. Belum tentu puisi yang ditulis dengan bahasa tubuh itu menyiratkan hal yang porno, begitu juga sebaliknya.
Membaca puisi Ketika Naik Bus Transjakarta, saya menangkap, Dharmadi sebagai laki-laki, sangat jujur dalam mengungkapkan kekagumannya terhadap lawan jenis dan tak segan-segan menyampaikan secara terbuka tentang keindahan obyek puisinya.
Tetapi, apakah hanya sebatas keterkaguman Dharmadi pada wanita, sehingga ia menulis Ketika Naik Bus Transjakarta?
Kenyataan, mode pakaian wanita berkembang sedemikian pesatnya, untuk mengekspresikan keindahan tubuh wanita, sampai ada yang memperlihatkan bagian-bagian tertentu pada tubuh wanita yang memakainya, dan dianggap bisa merangsang nafsu sahwat yang melihatnya.
Lalu, apakah mode pakaian seperti itu mesti dilarang, dianggap porno, karena dianggap bisa merangsang nafsu sahwat (laki-laki) yang melihatnya?
Dharmadi sebagai laki-laki, dengan jujur mengungkapkan apa yang dilihatnya. Tetapi dengan cerdas, Dharmadi mengalihkan fantasinya, dari fantasi tentang sahwat ke yang lebih bernilai.
Ia ingat masa kecilnya ketika menetek susu ibunya, ketika melihat payudara yang sedikit nongol; ia ingat plasentanya (sumber makanan) di dinding rahim ibunya, ketika melihat pusar; dan ketika ia melihat bagian celana dalam, khayalannya ke lubang di bawah pusar ibunya, lubang awal ia bisa melihat dunia.
Dari puisi tadi, Dharmadi sepertinya mengatakan, masalah porno atau tidaknya sesuatu, tergantung dari siapa yang melihatnya, dan pikiran apa yang terbangun dalam otaknya.
Memang, selain pembaca puisi dituntut untuk peka dalam menangkap makna terhadap puisi yang dibacanya, di lain hal, penulis juga punya tugas untuk memilih dan meracik kata, kemudian merangkainya dengan maksud tujuan menyampaikan apa yang menjadi perenungannya.
Jika apa yang dituangkan tidak tertangkap oleh pembaca, tidak sesuai dengan harapan penulis, maka bisa saja puisi itu dinilai gelap, buruk. Jauh dari maksud yang sebenarnya, yang ingin disampaikan olrh penulisnya. Di sini peran penulis memang sangat besar.
Bukan maksud saya untuk menurunkan nilai puisi Dharmadi, kalau saya membuat beberapa catatan, setelah membacanya.
Pertama, penggunaan kata yang sama, atau diulang-ulang. Dharmadi sering menggunakan satu kata yang telah dipakai di salah satu puisi, dipakai lagi di puisi yang lain, atau malah dipakai dalam puisi yang sama.. Ini perlu dikaji kembali. Ini memang sering jadi problem penulis dalam menulis.
Kedua, mengacu pada perenungan, saya percaya, segala sesuatu-dalam semua yang ada-selalu mengandung daya. Untuk itu alangkah positifnya jika Dharmadi tidak menyederhanakan diri puisi.
Ada tali semesta yang menghubungkan saat kita (sebagai subyek), mengamati obyek pengamatan kita yang akan kita jadikan bahan untuk menulis puisi. Kasihan kalau obyek tersebut-di bawah alam alam sadar kita-kita vonis sederhana.
Karena bisa saja sebenarnya tidak.Tapi dengan adanya dampak psikologis-daya yang kita pancarkan-akan mempengaruhi obyek tersebut.
Dalam proses kreatif, lakon penulis (penyair) bertindak sebagai pencipta, tentunya dalam hal sebagai pencipta puisi, sekaligus sebagai manusia dan sebagai ciptaan Tuhan. Termasuk sebagai puisi dan sebagai khalayak pembaca.
Kegiatan menulis itu butuh dua mata cermin; sebagai pencipta puisi iya, sebagai puisi itu sendiri iya, dan sebagai pembaca juga iya. Subyek ya, obyek ya, keduanya perlu dalam kesemibangan.
Persepsi saya tentang dampak psikologis, yang memancar dari proses kreatif adalah, adakalanya puisi yang kita tulis ketika dicermati hasilnya bagus; tetapi ketika kita tidak PeDe-ragu-maka akan mempengaruhi puisi itu, begitu juga sebaliknya. Jadi, dampak psikologis bisa membuahkan negative atau positif.
Tetapi, bagaimanapun tak dapat dipungkiri, ketika saya menikmati AMCB dan JS, dua buku kumpulan puisi Dharmadi, dari halaman ke halaman, seakan memandang batu kali yang berada di dalam bening aliran sungai.
Puisi-puisinya tampak sederhana, tapi dengan kesederhanaannya itulah menjadi luar biasa. Jika ditanya, mengapa? Jawab saya, karena puisi-puisinya sarat dengan getar Illahi. Puisi-puisinya mengajak pembaca untuk masuk ke dalam diri-bukan ke luar diri
AMCB dan JS, dua buku kumpulan puisi Dharmadi, bagi saya semacam diary-kitab hidup- perjalanan penulisnya dari waktu ke waktu.
Baik sadar atau tidak, sebenarnya lewat puisinya, Dharmadi mengajak pembaca untuk kembali merenungkan rahasia hidup-sebagaimana keberadaan Tuhan yang ada di dalam diri kita. Dan ini yang paling saya suka : Dharmadi, lewat puisinya tidak memakai bahasa khotbah.
Kerendahan hati Dharmadi-seperti bumi-seperti filosofi mikul dhuwur mendem jero- agaknya yang justru mengajak pembaca untuk merenungkan tentang hakikat kehidupan, yang didasari oleh kesadaran diri yang dimiliki Dharmadi bahwa, hidup di dunia ini hanya sementara.
Pemakaian simbol/metafora yang sederhana yang dipakai dalam puisinya, namun mengena, saya rasa itulah ciri dan kekuatan puisi Dharmadi
***
*) Penyair, pembawa acara kegiatan sastra.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Rodhi Murtadho
A. Hana N.S
A. Kohar Ibrahim
A. Qorib Hidayatullah
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Laksana
Aa Aonillah
Aan Frimadona Roza
Aba Mardjani
Abd Rahman Mawazi
Abd. Rahman
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Lathief
Abdul Wahab
Abdullah Alawi
Abonk El ka’bah
Abu Amar Fauzi
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adhimas Prasetyo
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Aditya Ardi N
Ady Amar
Afrion
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agunghima
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus S. Riyanto
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Ahda Imran
Ahlul Hukmi
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad S Rumi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alfian Zainal
Ali Audah
Ali Syamsudin Arsi
Alunk Estohank
Alwi Shahab
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Amir Machmud NS
Anam Rahus
Anang Zakaria
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anita Dhewy
Anjrah Lelono Broto
Anton Kurniawan
Anwar Noeris
Anwar Siswadi
Aprinus Salam
Ardus M Sawega
Arida Fadrus
Arie MP Tamba
Aries Kurniawan
Arif Firmansyah
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Aris Kurniawan
Arman AZ
Arther Panther Olii
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
Arya Winanda
Asarpin
Asep Sambodja
Asrul Sani
Asrul Sani (1927-2004)
Awalludin GD Mualif
Ayi Jufridar
Ayu Purwaningsih
Azalleaislin
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bagus Fallensky
Balada
Bale Aksara
Bambang Kempling
Bandung Mawardi
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brillianto
Brunel University London
BS Mardiatmadja
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Bustan Basir Maras
Catatan
Cerpen
Chamim Kohari
Chrisna Chanis Cara
Cover Buku
Cunong N. Suraja
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Dana Gioia
Danang Harry Wibowo
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darma Putra
Darman Moenir
Dedy Tri Riyadi
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hardiana
Dian Hartati
Diani Savitri Yahyono
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Djasepudin
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Edeng Syamsul Ma’arif
Edi AH Iyubenu
Edi Sarjani
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eduardus Karel Dewanto
Edy A Effendi
Efri Ritonga
Efri Yoni Baikoen
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Endarmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Triono
Eko Tunas
El Sahra Mahendra
Elly Trisnawati
Elnisya Mahendra
Elzam
Emha Ainun Nadjib
Engkos Kosnadi
Esai
Esha Tegar Putra
Etik Widya
Evan Ys
Evi Idawati
Fadmin Prihatin Malau
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Faiz Manshur
Faradina Izdhihary
Faruk H.T.
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fitri Yani
Frans
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gabriel Garcia Marquez
Gandra Gupta
Gde Agung Lontar
Gerson Poyk
Gilang A Aziz
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gus TF Sakai
H Witdarmono
Haderi Idmukha
Hadi Napster
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hardjono WS
Hari B Kori’un
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hazwan Iskandar Jaya
Hendra Makmur
Hendri Nova
Hendri R.H
Hendriyo Widi
Heri Latief
Heri Maja Kelana
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Firyansyah
Herry Lamongan
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Husen Arifin
I Nyoman Suaka
I Wayan Artika
IBM Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ida Ahdiah
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ilham Q. Moehiddin
Ilham Yusardi
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indira Permanasari
Indra Intisa
Indra Tjahjadi
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan J Kurniawan
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Norman
Iskandar Saputra
Ismatillah A. Nu’ad
Ismi Wahid
Iswadi Pratama
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.J. Ras
J.S. Badudu
Jafar Fakhrurozi
Jamal D. Rahman
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jemie Simatupang
JILFest 2008
JJ Rizal
Joanito De Saojoao
Joko Pinurbo
Jual Buku Paket Hemat
Jumari HS
Junaedi
Juniarso Ridwan
Jusuf AN
Kafiyatun Hasya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Key
Khudori Husnan
Kiki Dian Sunarwati
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Korrie Layun Rampan
Kris Razianto Mada
Krisman Purwoko
Kritik Sastra
Kurniawan Junaedhie
Kuss Indarto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L.K. Ara
L.N. Idayanie
La Ode Balawa
Laili Rahmawati
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Leon Agusta
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayanie
Lukman Asya
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Raudah Jambak
M. Ady
M. Arman AZ
M. Fadjroel Rachman
M. Faizi
M. Shoim Anwar
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
Mahdi Idris
Mahmud Jauhari Ali
Makmur Dimila
Mala M.S
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Mariana Amiruddin
Marjohan
Martin Aleida
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Mathori A. Elwa
Media: Crayon on Paper
Medy Kurniawan
Mega Vristian
Melani Budianta
Mikael Johani
Mila Novita
Misbahus Surur
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohammad Cahya
Mohammad Eri Irawan
Mohammad Ikhwanuddin
Morina Octavia
Muhajir Arrosyid
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Multatuli
Munawir Aziz
Muntamah Cendani
Murparsaulian
Musa Ismail
Mustafa Ismail
N Mursidi
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nelson Alwi
Nezar Patria
NH Dini
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Ni’matus Shaumi
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nisa Ayu Amalia
Nisa Elvadiani
Nita Zakiyah
Nitis Sahpeni
Noor H. Dee
Noorca M Massardi
Nova Christina
Noval Jubbek
Novelet
Nur Hayati
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Nurul Anam
Nurul Hidayati
Obrolan
Oyos Saroso HN
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
PDS H.B. Jassin
Petak Pambelum
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Pringadi AS
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puji Santosa
Purnawan Basundoro
Purnimasari
Puspita Rose
PUstaka puJAngga
Putra Effendi
Putri Kemala
Putri Utami
Putu Wijaya
R. Fadjri
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R. Toto Sugiharto
R.N. Bayu Aji
Rabindranath Tagore
Raden Ngabehi Ranggawarsita
Radhar Panca Dahana
Ragdi F Daye
Ragdi F. Daye
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Renosta
Resensi
Restoe Prawironegoro
Restu Ashari Putra
Revolusi
RF. Dhonna
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Ridwan Rachid
Rifqi Muhammad
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Risa Umami
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rofiuddin
Romi Zarman
Rukmi Wisnu Wardani
Rusdy Nurdiansyah
S Yoga
S. Jai
S. Satya Dharma
Sabrank Suparno
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman Yoga S
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sariful Lazi
Saripuddin Lubis
Sartika Dian Nuraini
Sartika Sari
Sasti Gotama
Sastra Indonesia
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sides Sudyarto DS
Sidik Nugroho
Sidik Nugroho Wrekso Wikromo
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sita Planasari A
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slamet Widodo
Sobirin Zaini
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sreismitha Wungkul
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sugeng Satya Dharma
Sugiyanto
Suheri
Sujatmiko
Sulaiman Tripa
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Budiharto
Suwardi Endraswara
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
Syarif Hidayatullah
Syarifuddin Arifin
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajudin Noor Ganie
Tammalele
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tenni Purwanti
Tharie Rietha
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tito Sianipar
Tjahjono Widarmanto
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tosa Poetra
Tri Wahono
Trisna
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Indonesia
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Wahyu Prasetya
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Weni Suryandari
Widodo
Wijaya Hardiati
Wikipedia
Wildan Nugraha
Willem B Berybe
Winarta Adisubrata
Wisran Hadi
Wowok Hesti Prabowo
WS Rendra
X.J. Kennedy
Y. Thendra BP
Yanti Riswara
Yanto Le Honzo
Yanusa Nugroho
Yashinta Difa
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhis M. Burhanudin
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yusuf Assidiq
Zahrotun Nafila
Zakki Amali
Zawawi Se
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar