Senin, 01 Desember 2008

"Pornografi" Dalam Puisi Dharmadi

Rukmi Wisnu Wardani
http://www.kompas.com/

Dua buku kumpulan puisi, Aku Mengunyah Cahaya Bulan (AMCB) (2004) dan Jejak Sajak (JS) (2008), yang dikirimkan oleh penulisnya sendiri, Dharmadi, saya terima, setelah kami bertemu kembali beberapa bulan yang lalu, di acara bulanan Pasar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam), salah satu komunitas pecinta sastra yang ada di Jakarta, yang awal berdirinya digagas antara lain oleh Johanes, Jonathan, Budhi Setiawan, Zai Lawanglangit, Ileng, yang menggelar acara rutinnya tiap Rabu malam akhir bulan, di Wapres (warung apresiasi) di kompleks Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan.

Saya melihat warna-warni frekuensi pada kumpulan puisi Dharmadi. Sebagai manusia yang tak lepas dari kehidupan dunia (entah pengalaman pribadi atau orang lain), saya melihat, penulis cenderung menuangkan jejak perjalanan, keprihatinan, suka duka, ke dalam puisi-puisinya dengan cara yang lembut, hati-hati dan penuh barikade privasi.

Tapi jika dicermati, kecenderungan puisi-puisinya jauh lebih condong kepada Sang Khalik. Mungkin ini berhubungan dengan jejak penulis sendiri, dengan segala pergulatan batin dan perenungannya dalam upaya menjangkau, berjalan dan menuntaskan jalur peleburan dengan-Nya.

Kecenderungan arah puisinya yang lebih kental di jalur ini, mungkin dilatar-belakangi oleh laku prihatin, tetapa dan mungkin juga dipicu oleh teriakan batinnya dalam melihat perkembangan pola hidup, pola pikir manusia (Indonesia) belakangan ini yang cenderung terkontaminasi, kaku, majal.

Coba simak puisi-puisinya di bawah ini:
sehabis hujan dideraskan badai/tinggal engahan daun-daun/urat pohon meregang dalam dingin/tinggal riwis di teritis//sungai wajahnya dalam muram//langit masih diam/aku dalam diam/ada yang memandangku/diam-diam// ( Sehabis Hujan, AMCB, hal 50).

dalam kediaman batu/menyangga langit/setia mengakarkan kehidupannya/ke bumi//(Candi Cetho,AMCB, hal 51).

batu dalam basah embun/di dasar kali di musim kemarau/ sambil mencucup cahaya pagi/bergumam sendiri; engkau beri/aku energi//(Sajak Batu, AMCB,hal 55)

demi hujan langit setia menjerat awan yang digiring angin/sambil mengingat bumi//(Dalam Kemarau,AMCB,hal 59).

embun membasuh malam/dari debu pengkhianatan/
dalam tatapan rembulan// (Penyucian,AMCB,hal 61)

sebiji beringin/lepas dari mulut kelelawar/jatuh di ceruk batu/tumbuh dalam mainan cuaca (Sebiji Beringin, AMCB, hal 62).

selembar daun mengapung/pada sungai yang mengalir/di sela-sela retak batu/mencari samudera//( Selembar Daun, AMCB, hal 64).

angin merasa bersalah/mengembuskan debu/menempel di jendela-pintu/sanubari//bening kacanya jadi kelabu//angin merasa semakin berdosa/meniup-niup mengobarkan api/membakar yang hidup/bersama matahari//angin menyesali diri/embusannya berhenti//matahari tak peduli/tetap membakar hari//(Musim Kering, Jejak Sajak, hal 21).

kau kosongkan pikir-rasa/dari mimpi-mimpi imitasi;/Kuisikan sejatiKu/sejatimu menjadi (Kesejatian, Jejak Sajak, hal 28).

embun dalam kabut dengan langkah lembut/diam-diam setia mengirim hidup pada awal hari/yang beranjak berangkat menyusuri/jalan waktu//selalu ada yang tak dapat lagi/ikut menyambut//lebih dulu telah Kau jemput// (Embun, Jejak Sajak, hal 38).

setia kau kirim subuh-mu/di kabut pagi membasuh/debu kalbu//aku dalam selimut// (Langit, Jejak Sajak, hal 39).

bulan pucat;/dengan hati kecut/sesaat mencangkung di bibir/jendela langit, menatap bumi//tak didengarnya lagi tetabuhan dan bunyi-bunyi/untuk mengusir sepi dan menakut-nakuti/sang waktu agar tak membuntutui//orang-orang tak lagi peduli/telah jatuh cinta pada cahaya imitasi//sebatang kara bulan berjalan sendiri/dalam remang meraba-raba hari/bumi menabir jalan cahaya matahari/waktu terus membuntuti//bulan menerima kodrat;/mati perlahan, disayat-sayat sang waktu//kau raba lukaku// (Gerhana Bulan, Jejak Sajak, hal 44).

Di tengah-tengah saya sedang menikmati puisi Dharmadi, suatu ketika, saya menerima pesan pendeknya,”Mbak Rukmi, ketika buku saya dibicarakan di salah satu acara apresiasi di salah satu kota, ada yang mengatakan, beberapa puisi saya porno”.
Coba kita nikmati bersama salah satu puisinya, yang dikesankan porno itu:

ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku kadang iseng atau tak sengaja menatap payudara/di dada pernumpang perempuan yang mengintip lewat model pakaiannya,/
ah, betapa subur dan indahnya;/lava gairahku mengalir begitu saja, ingat masa kecil ingin kembali/menetek susu ibu,/mencecap rasa nikmatnya sambil memainkan putingnya/kadang dengan jemari atau mulut lembutku dalam hangat dekapan di gendongan.//
ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku yang kadang iseng atau tak sengaja menatap pusar di perut penumpang perempuan yang nongol lewat model pakainnya,/ingat pada plasentaku yang dulu di dinding rahim ibu// dan pikiranku terus melayang, membayang lubang di bawah/pusar penumpang perempuan ketika menatap bagian celana dalamnya/yang sedikit nampak lewat pakaiannya;ingat lubang/di bawah pusar ibu yang terlindung sepasang pangkal tiang paha,/jalan awal kumemandang dunia.//(Ketika Naik Bus Transjakarta, Jejak sajak, hal 42).

Puisi tersebut, yang ditulis dengan bahasa tubuh, kalau dibaca dengan kacamata tekstual memang terkesan porno. Tetapi, benarkah puisi itu porno?

Puisi adalah bahasa multi persepsi, tergantung siapa yang membacanya. Seperti Serat Centhini, betapa absurd pornonya kalau dibaca dengan kacamata tekstual. Tapi menjadi beda kalau membacanya dengan kacamata hakikat.

Porno tidaknya sebuah puisi harus dikaji dari isinya secara keseluruhan. Belum tentu puisi yang ditulis dengan bahasa tubuh itu menyiratkan hal yang porno, begitu juga sebaliknya.

Membaca puisi Ketika Naik Bus Transjakarta, saya menangkap, Dharmadi sebagai laki-laki, sangat jujur dalam mengungkapkan kekagumannya terhadap lawan jenis dan tak segan-segan menyampaikan secara terbuka tentang keindahan obyek puisinya.
Tetapi, apakah hanya sebatas keterkaguman Dharmadi pada wanita, sehingga ia menulis Ketika Naik Bus Transjakarta?

Kenyataan, mode pakaian wanita berkembang sedemikian pesatnya, untuk mengekspresikan keindahan tubuh wanita, sampai ada yang memperlihatkan bagian-bagian tertentu pada tubuh wanita yang memakainya, dan dianggap bisa merangsang nafsu sahwat yang melihatnya.

Lalu, apakah mode pakaian seperti itu mesti dilarang, dianggap porno, karena dianggap bisa merangsang nafsu sahwat (laki-laki) yang melihatnya?

Dharmadi sebagai laki-laki, dengan jujur mengungkapkan apa yang dilihatnya. Tetapi dengan cerdas, Dharmadi mengalihkan fantasinya, dari fantasi tentang sahwat ke yang lebih bernilai.

Ia ingat masa kecilnya ketika menetek susu ibunya, ketika melihat payudara yang sedikit nongol; ia ingat plasentanya (sumber makanan) di dinding rahim ibunya, ketika melihat pusar; dan ketika ia melihat bagian celana dalam, khayalannya ke lubang di bawah pusar ibunya, lubang awal ia bisa melihat dunia.

Dari puisi tadi, Dharmadi sepertinya mengatakan, masalah porno atau tidaknya sesuatu, tergantung dari siapa yang melihatnya, dan pikiran apa yang terbangun dalam otaknya.

Memang, selain pembaca puisi dituntut untuk peka dalam menangkap makna terhadap puisi yang dibacanya, di lain hal, penulis juga punya tugas untuk memilih dan meracik kata, kemudian merangkainya dengan maksud tujuan menyampaikan apa yang menjadi perenungannya.

Jika apa yang dituangkan tidak tertangkap oleh pembaca, tidak sesuai dengan harapan penulis, maka bisa saja puisi itu dinilai gelap, buruk. Jauh dari maksud yang sebenarnya, yang ingin disampaikan olrh penulisnya. Di sini peran penulis memang sangat besar.

Bukan maksud saya untuk menurunkan nilai puisi Dharmadi, kalau saya membuat beberapa catatan, setelah membacanya.

Pertama, penggunaan kata yang sama, atau diulang-ulang. Dharmadi sering menggunakan satu kata yang telah dipakai di salah satu puisi, dipakai lagi di puisi yang lain, atau malah dipakai dalam puisi yang sama.. Ini perlu dikaji kembali. Ini memang sering jadi problem penulis dalam menulis.

Kedua, mengacu pada perenungan, saya percaya, segala sesuatu-dalam semua yang ada-selalu mengandung daya. Untuk itu alangkah positifnya jika Dharmadi tidak menyederhanakan diri puisi.

Ada tali semesta yang menghubungkan saat kita (sebagai subyek), mengamati obyek pengamatan kita yang akan kita jadikan bahan untuk menulis puisi. Kasihan kalau obyek tersebut-di bawah alam alam sadar kita-kita vonis sederhana.

Karena bisa saja sebenarnya tidak.Tapi dengan adanya dampak psikologis-daya yang kita pancarkan-akan mempengaruhi obyek tersebut.

Dalam proses kreatif, lakon penulis (penyair) bertindak sebagai pencipta, tentunya dalam hal sebagai pencipta puisi, sekaligus sebagai manusia dan sebagai ciptaan Tuhan. Termasuk sebagai puisi dan sebagai khalayak pembaca.

Kegiatan menulis itu butuh dua mata cermin; sebagai pencipta puisi iya, sebagai puisi itu sendiri iya, dan sebagai pembaca juga iya. Subyek ya, obyek ya, keduanya perlu dalam kesemibangan.

Persepsi saya tentang dampak psikologis, yang memancar dari proses kreatif adalah, adakalanya puisi yang kita tulis ketika dicermati hasilnya bagus; tetapi ketika kita tidak PeDe-ragu-maka akan mempengaruhi puisi itu, begitu juga sebaliknya. Jadi, dampak psikologis bisa membuahkan negative atau positif.

Tetapi, bagaimanapun tak dapat dipungkiri, ketika saya menikmati AMCB dan JS, dua buku kumpulan puisi Dharmadi, dari halaman ke halaman, seakan memandang batu kali yang berada di dalam bening aliran sungai.

Puisi-puisinya tampak sederhana, tapi dengan kesederhanaannya itulah menjadi luar biasa. Jika ditanya, mengapa? Jawab saya, karena puisi-puisinya sarat dengan getar Illahi. Puisi-puisinya mengajak pembaca untuk masuk ke dalam diri-bukan ke luar diri
AMCB dan JS, dua buku kumpulan puisi Dharmadi, bagi saya semacam diary-kitab hidup- perjalanan penulisnya dari waktu ke waktu.

Baik sadar atau tidak, sebenarnya lewat puisinya, Dharmadi mengajak pembaca untuk kembali merenungkan rahasia hidup-sebagaimana keberadaan Tuhan yang ada di dalam diri kita. Dan ini yang paling saya suka : Dharmadi, lewat puisinya tidak memakai bahasa khotbah.

Kerendahan hati Dharmadi-seperti bumi-seperti filosofi mikul dhuwur mendem jero- agaknya yang justru mengajak pembaca untuk merenungkan tentang hakikat kehidupan, yang didasari oleh kesadaran diri yang dimiliki Dharmadi bahwa, hidup di dunia ini hanya sementara.

Pemakaian simbol/metafora yang sederhana yang dipakai dalam puisinya, namun mengena, saya rasa itulah ciri dan kekuatan puisi Dharmadi
***

*) Penyair, pembawa acara kegiatan sastra.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati