Langsung ke konten utama

Tadarus Sastra, Cara Seniman Geliatkan Sastra di Bojonegoro

Bacakan Puisi, Macapat, dan Geguritan saat Pentas
Nitis Sahpeni
http://www.jawapos.co.id/

Seniman Bojonegoro dari berbagai komunitas terus menunjukkan eksistensinya. Antara lain menampilkan berbagai pentas sastra, baik sastra Indonesia maupun Jawa.

Suasana gelap menyelimuti pendapa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Sabtu (28/8) malam. Beberapa lilin yang diletakkan di botol mineral dan digantung di seutas tali. Di pendapa terpampang tirai hitam yang biasa dipakai komunitas seni untuk menggelar pentas. Tiga kursi diletakkan di bagian sudut dan tengah panggung, dilengkapi dengan pencahayaan dari beberapa lampu.

Puluhan warga memadati pendapa dengan posisi duduk di karpet. Ada pelajar, namun tak ketinggalan pula penonton yang tak lagi muda. “Mari kita mulai tadarus sastra ini dengan menampilkan seniman sastra Jawa,” kata sang pembawa acara di tengah suasana gelap.

Atur sugeng para rawuh, Ing pahargyan puniki. Hamba atur sekar macapat. Kaleresan amengati. Ari agung kamardikan. Miwah romadan kang suci.

Seorang perempuan setengah tua, mendendangkan tembang macapat dengan judul sekar kinanthi. Dengan bahasa Jawa, perempuan yang bernama Sri Mulyani itu melantunkan dengan suara lantang. Selesai menampilkan tembang yang merupakan karya sastra Jawa ini, aplaus bergema dari penonton. “Ini untuk melestarikan sastra Jawa, karena semakin lama kian punah. Saat ini generasi muda bahkan kian tak memahami. Paling-paling yang intens adalah kaum tua,” katanya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu ada tindakan guna menyelamatkan karya-karya sastra Jawa. Perlu ada berbagai acara pertunjukan karya sastra, khususnya berbahasa Jawa di kalangan remaja. “Juga harus ada perhatian dari pemerintah untuk melestarikannya,” urai Sri Mulyani.

Selain Sri Mulyani, juga tampil Maklum yang membacakan puisi berbahasa Jawa, serta seniman lain yang ikut menampilkan karya dengan berbagai tema. “Ada 25 penampilan yang bergantian menyajikan karya dalam tadarus sastra, baik karya sendiri maupun karya orang lain. Baik puisi, geguritan (puisi dalam bahasa Jawa), dan cerpen,” kata Masnun, pelaksana tadarus sastra.

Guru seni dan budaya SMKN 2 Bojonegoro ini mengaku, semakin bergairahnya pelaku seni di Bojonegoro membangkitkan komunitas lainnya untuk tampil bersama, dimana momentumnya bertepatan dengan Ramadan 1431 Hijriah. “Biar ada regenerasi sastra.

Sebab, disadari atau tidak, sastra masih kalah dengan budaya populer yang digemari anak muda saat ini,” ujarnya. (*/fiq)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Sufi dalam Syair Perahu

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

SASTRA menurut Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan atau kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Dalam bahasa Arab, sastra disebut Al-Adab, yang berarti perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr atau prosa.

Fungsi Sosial Karya Sastra

Dr Junaidi
http://www.riaupos.com/

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

Kasus korupsi dan penyelewengan lainnya merupakan akibat dari kekuasaan yang terlepas dari kontrolnya. Disebabkan adanya potensi penyeleuangan itulah kekuasaan itu perlu dikontrol oleh masyarakat dengan cara menyampaikan kritikan kepada pihak penguasa. Meskipun peran kontrol terhadap kekuasaan telah diberikan kepada lembaga-lembaga tertentu yang ditetapkan melalui undang-undang, peran k…

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
http://www.gatra.com/

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).