Langsung ke konten utama

Apresiasi Sastra di Indonesia Rendah

http://www.kr.co.id/

INDONESIANIS asal Australia Max Lane menyayangkan di Indonesia sastra tidak termasuk ke dalam salah satu pelajaran utama dalam pendidikan menengah. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang tidak memasukkan sastra ke dalam kurikulum pendidikan dan keberadaannya hanya diselipkan pada pelajaran bahasa Indonesia, bukan menjadi pelajaran pokok.

Hal ini dikumukakan Max Lane dalam seminar ‘Pramoedya di Asia Tenggara’, Selasa (19/5) di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM dalam acara yang diselenggarakan Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Politik Hak Asasi Manusia dan Demokrasi di Asia Tenggara. Dr Max Lane didampingi pembicara lainnya Dr Nicolaas Warauw.

Max Lane mengatakan, banyak karya-karya sastra, tulisan para tokoh seperti Soekarno, Syahrir dan lainnya tidak diajarkan di sekolah. Hanya diajarkan sebatas siapa penulisnya dan judul, tidak dibedah dan didiskusikan secara mendalam. Dengan tidak dimasukkannya pelajaran sastra di sekolah mengakibatkan rendahnya apresiasi dan pemahaman kebangsaan Indonesia di benak siswa generasi penerus bangsa. Hal ini tentunya akan berimbas pada stabilitas nasional bangsa.

Karya Pramoedya Ananta Toer menurut Max merupakan salah satu contoh yang kurang mendapatkan apresiasi di negaranya sendiri. “Meski namanya cukup menggema di tanah air, hanya sekitar 1 persen masyarakat Indonesia yang pernah membaca karya Pram,” ujar Max Lane.

Menurutnya, kemungkinan hal ini terjadi karena berkait dengan kebijakan politik di masa itu yaitu Orde Baru sangat otoriter dan bertentangan dengan pemikiran-pemikiran Pramoedya yang sangat revolusioner dan humanis, cenderung mengancam status quo. Namun, di luar Indonesia, seperti di Filipina, Malaysia dan Singapura, karya Pramoedya begitu diapresiasi.

Karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris begitu digemari dan laris terjual di ketiga negara tersebut. Pada kesempatan itu, Max juga mengungkapkan Pramoedya bukan saja sebagai novelis namun merupakan sejarawan yang paling radikal serta pelopor pembaharuan yang menganalisa sejarah Indonesia. Karya-karya Pram, mulai dari Bumi Manusia sampai Rumah Kaca, memperlihatkan kebangkitan Indonesia.

Karya-karyanya merespons sebuah realitas ciptaan anti kolonial dan membentuk sebuah negara. Indonesia merupakan sebuah makhluk baru, bukan sebuah perpanjangan yang dipelopori Majapahit. Namun merupakan hasil dari proses kreasi baru di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kebenaran/sejarah Indonesia bukanlah berasal dari masa lalu, tetapi dari hasil ciptaan atau perjuangan rakyat Indonesia sendiri.

Bukan berasal dari warisan masa lampau ataupun penjajah. Jadi pandangan Indonesia dipersatukan oleh Belanda tidak benar. Justru kaum kolonial yang menghambat proses penyatuan negara Indonesia. Indonesia terbentuk dari proses anti kolonialisme serta revolusi demokratis. Indonesia merupakan kreasi baru yang prosesnya belum tuntas dan tidak akan tuntas hingga adanya demokrasi sepenuhnya. (Asp)-k

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com