Langsung ke konten utama

MINGGU PAGI Melahirkan Sastrawan Indonesia

Masdharmadji
http://www.kr.co.id/

TANYAKAN kepada sastrawan-sastrawan besar Indonesia saat ini (terutama yang masih sugeng), dari “rahim” siapakah mereka dilahirkan sebagai sastrawan? Jawaban agaknya akan segera diteriakkan: MINGGU PAGI.

Minggu Pagi? Ya, Minggu Pagi, majalah lokal asal Yogyakarta yang eksistensinya hingga kini tetap diperhitungkan oleh, tidak hanya orang awam, namun juga para intelektual.

Sangat mungkin, para begawan sastra Indonesia sejak Prof. Umar Kayam, Prof. Kuntowijoyo, Prof. Subagio Sastrowardoyo, Moch. Diponegoro, Arifin C. Noer, Motinggo Busye, Kirjomulyo, Nasyah Djamin, Adham Adjib Hamzah, Satyagraha Hoerip, Gerson Poyk, Idrus Ismail, Linus Suryadi, Ir. Eny Sumargo dll, dari alam awang-uwung sana akan mengadakan pesta kecil-kecilan dan serempak meniup lilin sebanyak 58 guna merayakan ulang tahun Minggu Pagi. Dari suara-suara “sunyi”, mereka pun akan bergumam: Happy Birthday to MP. Dari suara-suara senyap itu mereka berbisik lirih: Selamat ultah MP, kau adalah seorang Ibu yang telah melahirkanku ke bumi ini sebagai sastrawan.

Itu belum. Bagi para pengarang yang kini masih segar-bugar seperti Prof. Bakdi Soemanto, Prof. Rachmad Djoko Pradopo, Prof. Suminto A. Sayuti, Prof. Rahayu Prihatmi, Rendra, Prof. Sapardi Djoko Damono, DR. Darmanto Jatman, DR. Abdul Hadi WM. Putu Wijaya, Iman Sutrisno, Arswendo Atmowiloto, Prof. Hardjana MA, Djadjak MD, Hadjid Hamzah, Emha Ainun Najib dan juga penyusun sahibul hikayat ini, akan mengulurkan tangan dengan hangat sambil berkata: Selamat Ulang Tahun IBU (Minggu Pagi), karena kau telah melahirkan aku, membelaiku dengan penuh kasih sayang. Lebih dari itu, kau telah memberiku ASI sehingga kami bisa hidup sampai saat ini.” Dari para pengarang yang kini bergelar Profesor, Doktor, Insinyur, Sarjana Hukum dll, (dan banyak di antaranya telah mengarang buku-buku bermutu), di masa remajanya dulu “diasuh” Minggu Pagi.

MINGGU PAGI adalah sebuah fenomena. Dilahirkan 58 tahun yang lalu oleh Dwitunggal (alm) Bp. Samawi dan Bp. Wonohito, majalah ini bisa hidup hingga kini dengan mengarungi berbagai taufan, gempa, puting beliung, bahkan “tsunami”. Di tengah gempuran berbagai masalah al. pergolakan sosial politik, konflik budaya, krisis moneter, persaingan bisnis (terutama persaingan bisnis media massa), Minggu Pagi ternyata tetap “mendeles” dan mencorong seperti batu mulia. Di saat majalah-majalah lain telah tewas (Siasat, Pesat Skets Masa, Ultra, Terang Bulan, Starnews, Star Weekly dlsb), MP tetap berjaya dan bergaya. MP agaknya memang tak bisa dikalahkan oleh Batara Kala (Kala = Waktu). Apakah ia memiliki Aji Poncosona, ajiannya Resi Subali?

Seseorang (atau apapun namanya) memang tak bisa mati. Asal ia masih bisa menyentuh bumi, ia akan hidup lagi. Pengertian “bumi” di sini adalah pengertian simbolik. Bumi atau tanah (yang letaknya paling bawah) tak lain dan tak bukan adalah “rakyat”. Jadi siapa pun yang masih bisa menyentuh tanah (baca: rakyat), ia akan bisa tetap hidup. Agaknya MP cukup mengerti, memahami, dan senantiasa konsern serta “bersahabat” dengan rakyat. Itulah sebabnya MP tetap survived hingga detik ini.

Dalam hal ini MP memang selalu bersahabat dengan Rakyat dan tahu persis apa yang diinginkan. Rakyat ingin mengenal dunia Pesantren, Budaya, Filsafat, Entertainment, Olahraga, Fashion, bahkan lika-liku skandal (he-he-he), biografi tokoh, Minggu Pagi senantiasa bersedia melayani. Sekalipun MP ber-motto “enteng berisi”, tapi ternyata MP juga sanggup menyajikan apa saja yang diinginkan masyarakat.

Maka tak heran jika di MP kerap terpampang nama-nama dari berbagai aspek kehidupan. Tak perlu heran jika MP kerap kali membeber nama-nama terkenal: Albert Camus, Nietzchez, Malraux, Andre Gide, Kierkegard, Heideger, Descartes. Juga tertulis tokoh-tokoh seperti Beethoven, Chaikovsky, Mozart, bahkan Madona dan Elvis Presley. Dari dunia sepakbola muncul nama: Pele, Maradona, Ronaldo, Ronaldinho, Zidane, Beckham, Figo. Dari dunia tinju tampil biografi Moh. Ali, Sonny Liston, Rocky Marciano, Mike Tyson, Lennox Lewis, Evander Holyfield. Dunia tennis tak ketinggalan, tokoh-tokoh semisal Agassi, Michael Chang, Navratilova, Arankta Sanchez, Serena Williams, Staffi Graf dll.

Tak ketinggalan, nama-nama besar dunia sastra bermunculan: Hemingway, Dostoyevsky, Pasternak, Iqbal, Solzhenitsyn, Pablo Neruda hingga Agatha Christie. Sudah pasti tak ketinggalan tokoh dunia perfilman: Marilyn Monroe, Sharon Stone, Nicole Kidman, Demi Moore, Dolly Parton (ini pasti obsesi Bung daktur, he he he). Dari dunia model tampil rancangan Dior, Armani, Itang Yunas, Poppy Dharsono, dll. Diibaratkan sebagai toko, MP adalah mall, toko serba ada. Pendeknya tersedia apa saja, komplet-plet. Itulah salah satu kelihaian para Redaktur dan Wartawan Minggu Pagi. Mereka sanggup mengolah topik apa saja secara populer, smart, dan tentu saja enak dibaca. Dengan demikian MP akan selalu bisa memuaskan semua fihak, dari kanak-kanak, hingga kaum budayawan dan cendikiawan.

Alhasil, jika saat ini MP bertahan 58 tahun (semoga 1000 tahun), karena pengelolanya selalu bersahabat (mengerti, memahami kehendak dan aspirasi pembaca). Lebih-lebih bagi para budayawan, agaknya cukup dimanjakan di Minggu Pagi. Dengan demikian dari rahim MP lahir budayawan-budayawan andal. HB Jassin pernah berkata: Majalah yang tak menyediakan rubrik budaya, adalah majalah barbar. Terakhir : selamat ultah. Kini MP “oversek”, (di atas 50 tahun) semoga semakin bergairah dan bergelora!

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo