Membengkaknya Sastra Facebook

Yesi Devisa Putri*
http://www.surya.co.id/

Media cetak memberi porsi untuk sastra dalam tempat terbatas. Itu yang membuat pegiat sastra menjadi gerah karena kurangnya lahan untuk memublikasikan karyanya. Hingga pada akhirnya mereka beralih media. Facebook menjadi salah satu alternatif media untuk menjadi ‘ruang pamer’ sekaligus tempat mendokumentasian hasil cipta, rasa, dan karsa mereka.

Sejak munculnya istilah sastra cyber, lahir pula ‘penulis-penulis cyber’ di dunia maya. Setelah menyulap website dan blog menjadi ruang pamer karya, kini ganti Facebook yang menjadi alternatif ‘ruang pajang karya’ selanjutnya. Fenomena ini lebih booming dengan istilah ‘sastra Facebook’. Dalam situs jejaring sosial ini, tidak hanya penulis cyber yang ikut nampang. Penulis-penulis senior yang sudah memegang predikat penulis best seller pun tidak sungkan untuk memamerkan karya mereka.

Sebagian orang menganggap fenomena sastra Facebook ini adalah masalah dalam dunia sastra. Keresahan ini muncul lantaran adanya kekhawatiran akan lahirnya karya sastra dengan kualitas kurang. Selain itu, ditakutkan pula adanya kapitalisme dalam dunia sastra.

Namun, bagai dua sisi mata uang, selain sisi negatif tentu sastra Facebook juga memiliki kelebihan. Secara tidak langsung, kehadiran penulis senior dalam Facebook akan memberikan ilmunya kepada penulis pemula. Lewat tulisan, komentar-komentar, serta komunikasi antardinding yang mereka lakukan akan memberikan manfaat. Bagi penulis pemula akan mendapatkan ilmu cara berkarya yang baik. Sedangkan untuk penulis senior, selain bisa promosi karya secara gratis, juga mendapat koreksi langsung melalui komentar, baik dari rekan-rekan penulis pengguna Facebook ataupun juga dari pembaca lainnya.

Buku-buku sastra yang lahir dari para Facebooker juga banyak. Ini bukti kredibilitas sastra Facebook. Satu poin lagi untuk sastra Facebook untuk turut andilnya meramaikan pangsa pasar buku sastra yang tengah sepi.

Keuntungan lainnya dari sastra Facebook adalah, secara tidak langsung akan lahir para kritikus sastra yang akan mengasah, menyeleksi secara terus menerus sastra Facebook agar kualitasnya mampu bersaing dengan karya sastra-karya sastra pilihan dalam media massa. Tentu ini tidak bisa lepas dari tangan-tangan dingin para sesepuh dunia sastra.

Jadi, berdebat masalah untung rugi, semua hal pasti akan mengandung dua medan tersebut. Begitu juga dengan Facebook. Facebook hanyalah salah satu bentuk kemajuan teknologi. Kurang bijak rasanya bila Facebook dihindari karena citra miring yang menghinggapinya belakangan ini. Bila disikapi dengan baik, Facebook bisa dimanfaatkan untuk dijadikan media pembelajaran dan pengembangan sastra.

*) Jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Malang.

Komentar