9 dari Leila

9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2009
Tebal: 282 halaman
Peresensi: Budi Darma
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ketika pada akhir tahun 1990-an Anwar Ridhwan, sastrawan Malaysia, menerbitkan Naratif Ogonshoto, publik sastra bertanya-tanya, apakah buku ini sebuah kumpulan cerpen atau novel. Kalau buku ini dianggap sebagai sebuah kumpulan cerpen pasti tidak keliru, sebab dalam buku ini ada 10 cerpen. Tapi, karena ternyata semua cerpen diikat oleh benang merah yang sangat mencolok, tidak keliru manakala buku ini dianggap sebagai novel.

Selaku pengarang, Leila S. Chudori pun boleh-boleh saja menganggap buku ini sebagai kumpulan 9 cerpen, namun pembaca mempunyai hak untuk menganggap buku ini sebuah novel. Dianggap sebagai kumpulan cerpen, karena masing-masing bagian dalam 9 dari Nadira seolah-olah berdiri sendiri. Jeda antara penulisan satu cerpen dan cerpen lainnya pun makan waktu panjang. Ada bagian yang ditulis pada 1999, ada pula bagian yang ditulis pada 2009. Tapi ingat, seluruh isi buku, mulai bab 1 sampai bab 9, tidak lain mengenai Nadira dan lingkungannya, dan karena itu, anggapan bahwa buku ini novel tidak perlu dianggap salah.

Narator dalam buku ini, sementara itu, bukan hanya satu, tapi akhirnya, narasi masing-masing narator menuju pada Nadira sebagai titik sentral. Pada waktu ibu Nadira bercerita mengenai awal perkawinannya di Belanda, misalnya, sasaran tembak narasi adalah Nadira, demikian pula ketika naratornya orang ketiga tanpa nama. Dan tentu saja, kalau Nadira bertindak sebagai narator, tokoh sentralnya tidak lain adalah dirinya sendiri.

Kalau direntang jauh ke belakang, novel ini menyangkut kehidupan tiga generasi: kakek-nenek Nadira, orang tua Nadira, dan generasi Nadira sendiri. Tapi, kalau mau difokuskan lebih tajam, novel ini menyangkut dua generasi, yaitu generasi orang tua Nadira dan generasi Nadira sebagai satu anak di antara tiga anak. Jalan hidup Nadira, lengkap dengan berbagai aspeknya, tidak lepas dari jalan hidup orang tuanya. Ibu Nadira tidak suka orang kulit putih karena baunya, misalnya, demikian pula Nadira.

Anggapan umum bahwa sebuah fiksi tidak mungkin lepas dari biografi pengarangnya, dalam novel ini, juga tidak bisa disangkal. Ayah Nadira adalah wartawan, demikian pula ayah Leila S. Chudori. Asal-usul keluarga Leila S. Chudori adalah Cirebon, dan novel ini pun mengandung simpul-simpul Cirebon, misalnya kain batik Cirebon dan logat Sunda Cirebon. Orang tua Leila S. Chudori pernah tinggal di Barat, demikian pula orang tua Nadira. Leila S. Chudori mempunyai saudara yang lebih suka tinggal di luar negeri, demikian pula Nadira. Dan ingat, Leila S. Chudori pernah belajar di luar negeri kemudian menjadi wartawan, demikian pula Nadira, meskipun, tentu saja, secara harfiah Nadira bukanlah Leila S. Chudori.

Dalam kehidupan sehari-hari ada tabiat turunan, ada cacat turunan, dan ada juga penderitaan turunan, demikian pula dalam novel ini. Kalau kehidupan Nadira dan saudara-saudaranya bisa dianggap tidak wajar, asal-usulnya tidak lain adalah ibu Nadira sendiri. Sebagai perempuan Indonesia, tentu saja seharusnya ibu Nadira suka melati, tapi ternyata tidak. Ketika kawin di Belanda, kalau mau, dengan mudah dia bisa mengumpulkan banyak bunga melati untuk upacara perkawinannya. Eh, tahunya dia ngotot mencari bunga seruni putih, sesuatu yang tidak lazim dalam upacara perkawinan, apalagi seruni putih sangat langka. Ketika dia meninggal pun, ketegangan terjadi, karena wasiat yang tidak terucapkan dan tidak tertuliskan juga janggal: harus seruni putih, jangan melati. Ingat, ibu Nadira juga tidak meninggal secara wajar, tapi bunuh diri dengan minum racun.

Kehidupan Nadira, langsung atau tidak, dituntun oleh kejanggalan ibunya, dan juga, dengan sendirinya, oleh perubahan zaman. Dengan tuduhan mencuri uang, Nina, kakak Nadira, menyiksa Nadira habis-habisan. Itu uang Nadira, tapi anehnya, sampai kapan pun Nadira tidak mau mengatakan dari mana dia memperoleh uang yang tidak lain adalah hasil kerjanya sendiri. Kendati akhirnya menyadari kesalahannya, Nina tidak mau mengakuinya, dan karena itu, hubungannya dengan Nadira tidak pernah serasi. Nadira, sementara itu, menentang perkawinan Nina dengan seorang koreografer, eh, tahunya Nadira berselingkuh dengan koreografer ini. Lalu, petualangan cinta pun, meskipun tidak seru-seru amat, masuk ke kehidupan Nadira, antara lain dengan seorang laki-laki yang ternyata pernah bercintaan dengan sesama laki-laki. Bukan hanya itu. Ada laki-laki mencintai Nadira setengah mati dan Nadira juga tahu, eh, tahunya dengan sangat mendadak Nadira kawin dengan laki-laki lain yang belum dikenalnya betul.

Apabila Nadira dipandang sebagai sebuah pribadi tunggal yang berdiri sendiri, tentunya pembaca mempunyai hak penuh untuk menaruh kebencian kepada Nadira. Tapi, apabila Nadira dipandang sebagai korban orang tua dan korban perubahan zaman, mungkin pembaca akan menaruh simpati kepadanya. Sikap pembaca yang benar tentunya berawal dari pertanyaan: sejauh mana Nadira diciptakan oleh lingkungannya, dan sejauh mana Nadira sanggup mengkondisikan lingkungannya.

Budi Darma, sastrawan
30 November 2009

Komentar