Sejarah Silam dan Romantisme Pesagi

Anton Kurniawan *
http://www.lampungpost.com/

Sebagai muasal, masa silam adalah ibu kandung yang telah melahirkan apa yang kita jalani saat ini. Tak perlu diperdebatkan. Bahkan sang orator, Putra Sang Fajar, Soekarno berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Namun, agaknya derasnya arus zaman serta kuatnya hempasan gelombang modernisasi saat ini memaksa kita lupa sejarah masa silam. Dan bila kita lalai, peristiwa masa lalu yang penuh nilai dan mengajarkan kearifan itu akan ber-balin rupa serupa debu yang lantak di bawah lesat hujan. Tak ada yang mengenangnya.

Kelahiran novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni yang diluncurkan 15 Januari 2011 patut kita sambut dan mendapat apresiasi. Novel yang mengangkat kisah seorang ratu penguasa Sekala Bgha ini dicetak pada Januari 2011 dan terbitkan BE Press, Lampung. Novel mitologi ini setidaknya menjadi sebuah oasis di mana kita bisa membaca masa silam dan sejarah muasal ulun Lampung. Buku setebal 501 halaman ini menjadi semacam sumber air di hamparan gurun yang memang sangat dinantikan kehadirannya. Membaca buku ini, kita seperti menyelam di kedalaman perigi yang memberikan kesegaran usai menempuh perjalanan, sekaligus menyimpan jawaban dari sekian pertanyaan yang menggelayut di benak masyarakat Lampung.

Hadirnya buku ini telah menyelamatkan sebagian peradaban yang terserak, serta memberikan pemahaman tentang sejarah. Novel yang memadukan fakta sejarah dan imajinasi ini merupakan novel pertama yang lahir di bumi Lampung meskipun novel sejenis telah banyak terbit di belahan lain tanah ini, sebut saja Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Para Priyayi karya Umar Khayam. Lahirnya buku ini, sekaligus membuktikan bahwa Lampung memang sangat pantas diperhitungkan dalam dunia sastra Indonesia. Setidaknya, Negeri Para Penyair kini melahirkan seorang novelis.

Melalui novel Perempuan Penunggang Harimau ini, Ramdhoni berupaya menggali nilai-nilai kearifan lokal guna menyelamatkan masa silam dan menyajikannya secara sederhana. Novel ini mengisahkan budaya masyarakat Lampung Saibatin sebelum masuknya agama Islam, serta bagaimana agama Islam memengaruhi kehidupan masyarakat kemudian. Dalam buku ini Ramdhoni mampu menghidangkan cerita serta berupaya menggambarkan suasana dan berusaha mengajak pembaca untuk bisa berbaur dan lebur dalam masa silam yang sentimental, heroik, dan romantisme.

Lihat saja pada halaman 1: “Suara tangis memecah hening tengah malam. Merobek langit gelap malam itu. Seorang bayi perempuan lahir di Lamban Dalom Sekala Bgha. Kehadirannya telah dinanti melewati puluhan purnama…. ” Dalam novel ini Ramdhoni mampu menghadirkan kepada pembaca tentang nilai-nilai dan norma-norma lokal yang patut diteladani, salah satunya memegang penuh keyakinan dengan risiko apa pun. Bahkan kematian sekalipun. “Takkan kurelakan tanah ini sejengkal pun kau curi. Selama Dewata belum mencabut nyawaku, tidak seorang pun berhak memaksaku menyera. Perangi dulu diriku, sudahi dulu riwayatku, maka setelah itu kau boleh bersorak girang di atas bangkaiku dan bangkai negeriku. Tidak perlu kau perabukan aku dengan kehormatan. Aku tak butuh kau muliakan…tanah keramat ini akan memamah jasadku hingga tandas.” (Hlm. 403)

Fakta sejarah dalam ini cukup valid dan (barangkali) dapat dipertanggungjawabkan, mengingat sang penulis yang merupakan penduduk asli adalah mahasiswa program Ph.D Sains Politik di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Malaysia .

***

Membaca buku ini terlihat kepiawaian M. Harya Ramdhoni dalam menggali kata-kata kemudian menjalinnya menjadi sebuah bahasa sastra yang memikat dan tak membosankan. Dengan fakta-fakta yang disajikan, novel ini mampu membuka cakrawala berpikir, sekaligus menghadirkan masa silam yang niscaya memendam kekayaan ide, impian serta, kekuatan manusia pada suatu zaman.

Selalu ada yang pantas dikenang dari masa lalu yang kerap alpa kita ingat, atau belum kita ketahui, dan buku ini serupa seorang sahabat yang mengingatkan kita bahwa kita memiliki sejarah sebagai cermin meraih masa depan.

Yang menarik dalam buku ini adalah ide dan keyakinan penulis tentang sebuah takdir, garis nasib seseorang. Melalui tokoh Sekeghumong, sang perempuan penunggang harimau, Ramdhoni mengatakan bahwa takdir adalah sebuah ketentuan yang tak bisa ditolak. Ia adalah semacam dunia lain yang pantang dipertanyakan. Namun, sebagai manusia sangat tidak pantas jika kita berdiam diri menunggu datangnya sang takdir, karena itulah kita wajib berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi.

Namun, ada beberapa hal yang menurut saya perlu perhatian. Bahkan sebagai pembaca saya beranggapan kesalahan-kesalahan (yang mungkin dianggap sepele) itu merupakan sebuah kesalahan yang cukup fatal. Di antaranya dalam penggunaan imbuhan. “Bertahanlah saudaraku.” Layang Taji mengkuatkan sahabatnya (hlm. 460). Serta masih ada beberapa kata yang juga butuh perhatian dari editor dan pemeriksa aksara, di antaranya “mengkisahkan”, “dipohonkan”.

Lalu, dalam upayanya mengahadirkan sebuah novel yang mengangkat tema asal-usul, mitologi, dan sebagainya, penulis harus mampu mengawinkan sisi penceritaan dan data. Penulis sangat berhasil menggambarkan suasana dan menghadirkan fakta sejarah terkait dengan masyarakat Lampung. Namun, penulis kurang maksimal dalam menghadirkan ketegangan-ketegangan dari setiap peristiwa, mungkin karena jangkauan peristiwa yang sangat luas sehingga detail-detail setiap peristiwa kurang maksimal dihadirkan. Akibatnya setiap permasalahan selalu selesai terlalu cepat nyaris di setiap bagian sehingga emosi pembaca tak pernah mencapai puncak. Beruntung, pada bagian terakhir, yakni Bagian 24, Pangeran Terakhir, (hlm. 483) Ramdhoni berhasil membuat pusaran yang mampu menenggelamkan pembaca dalam arus cerita.

Kelebihan Ramdhoni dalam buku ini adalah ia mampu memadukan teori keilmuwan dan daya imajinasi yang menghasilkan bahasa dan tutur yang memesona.

*) Guru SMAN 1 Abungsemuli, berdarma di Sanggar Teater Komunitas Akasia, Lampung Utara.

Komentar