Buku Sastra di Negeri tanpa Pembaca

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Sebut saja kalau negeri kita sudah terbebas dari buta huruf. Saya tak percaya kalau ada penyair yang menulis puisi tanpa pernah membaca buku puisi. Saya juga tak yakin ada penyair yang menulis prosa yang bagus tanpa bergaul dengan buku-buku prosa yang juga bagus. Sebuah karya lahir dari persentuhan dengan karya lain. dan persentuhan itu kadang intim tapi juga kadang renggang.

Ada perbedaan yang mencolok antara puisi yang ditulis penyair yang hanya sedikit membaca dengan puisi yang ditulis penyair yang banyak membaca. Wawasan puisi yang dilahirkannya akan dengan mudah dikenal karena beragam persoalan yang pernah dibacanya.

Di Lampung hanya ada dua penyair: penyair yang banyak membaca dan penyair yang sedikit membaca, atau penyair yang pernah banyak membaca tapi kini berhenti membaca dan tak lagi membeli buku. Kalau ada seorang teman memberikan buku, buku itu tak lagi sempat dibaca. Dan mereka terus melahirkan puisi tanpa pembaca juga.

Dari puluhan penyair yang ada di Lampung ini, hanya satu dua penyair yang masih rajin mengunjungi toko buku. Semoga saya salah ketika mengatakan sebagian besar hanya berkarya saja, atau hanya sesekali membeli buku dan merasa kalau karya mereka sudah hebat. Buku-buku puisi yang mereka terbitkan tidak dibaca. Bagaimana mereka mengharapkan agar karya mereka dibaca banyak orang sedangkan mereka sendiri tidak membaca karya orang lain.

Sebagian besar penyair Lampung telah memiliki buku kumpulan puisi tunggal, tapi saya tak yakin kalau buku-buku puisi mereka memiliki pembaca. Selain alasan tidak ada uang, atau harga buku mahal, memang tak memiliki tradisi membaca. Apalagi membaca pemahaman, sudah jelas tak banyak. Sedangkan mereka yang suka membaca pun harus berpikir puluhan kali untuk membeli buku puisi. Mereka lebih tertarik dengan buku prosa atau novel.

Banyak kita yang punya uang, tapi karena tidak suka membaca dan malas membaca, maka tak pernah membeli buku. Apalagi jika buku puisi di jual dengan harga di atas Rp. 30 ribu. Buku kumpulan puisi Inggit Putria Marga yang di jual Rp.40 ribu, sejak awal di pajang di tokoh buku smpai sekarang tetap utuh. Kita semua berharap setiap tahun makin banyak buku yang disubsidi, hingga harganya bisa terjangkau, seperti buku Sadur : Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia yang disunting Henri Chambert-Loir yang diterbitkan KPG setebal 1160 hard cover hanya di jual 125 ribu (buku sangat bagus dan sangat murah tapi tetap tidak dibeli juga).

Buku kumpulan puisi termahal yang saya miliki adalah karya Goenawan Mohamad, Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (Rp. 42.000 pada tahun 2002). Sementara yang termurah saya lupa, tapi ada buku puisi seharga Rp.3000 dan masih didiskon 15%. Ketika saya berkunjung ke toko buku Gramedia bersama seorang teman, saya tunjukkan buku puisi Inggit, dan teman itu geleng-geleng kepala sambil berkata: “lebih baik beli buku novel kalau sudah seharga Rp. 40 ribu”.

Di Lampung ini memang banyak hal yang lucu. Negeri ini begitu banyak melahirkan puisi, yang oleh Nirwan Dewanto disebut “negeri penyair”, tapi puisi penyair Lampung tak pernah dibaca lebih dari lima puluh orang. Aneh kedengarannya kalau ada sebuah tempat yang banyak melahirkan buku puisi tapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun jumlah buku mereka di toko buku tetap utuh. Jangan-jangan penyair kita memang tak menjadikan buku sebagai kebutuhan yang wajib dibeli. Atau memang kita semua ingin membaca buku kalau diberi gratis oleh teman.

Kalau sampai usia 35 tahun masih juga tidak senang membaca buku, berarti orang tersebut tidak ada harapan untuk mencintai buku. Kalau dia penyair, maka dia sudah terlambat untuk mengerti dunia perbukuan. Saya termasuk orang yang kagum jika ada orang yang baru berusia 30 tahun tapi sudah mengoleksi seribu judul buku. Dan saya teramat sedih jika menemukan penyair yang telah berusia di atas lima puluh tahun tapi buku di perpustakaan pribadinya hanya seratus, atau malah kurang dari itu.

Saya mengenal bacaan sastra sangat terlambat, sekitar tahun 1998. Saya baru bisa menulis ketika sudah selesai kuliah, saat usia sudah 29 tahun. Kalau ada orang yang mempengaruhi saya untuk banyak membaca dan menulis, orang itu adalah Damanhuri.

Sekarang sudah dua belas tahun dari 1998 dan usia saya sudah 35 tahun, dan buku yang saya miliki baru tujuh ratus lima puluh buku (tidak termasuk yang sudah hilang). Walau saya sering menulis dengan menyebut diri sebagai pembaca sastra, tapi saya tidak tahu apakah dengan memiliki 750 buku dengan berbagai macam tema itu sudah cukup untuk mengklaim sebagai pembaca sastra. Kalau mau jujur, saya belum sebagai pembaca sastra.

Saya percaya bahwa penyair-penyair yang sudah mantap di dunia masih terus membaca, dan tak pernah berhenti membeli buku. Seandainya tak ada uang, saya yakin orang yang sudah kecanduan buku akan tetap memiliki buku dengan cara mencuri, atau meminjam buku teman yang tak lagi dikembalikan (hal ini jauh lebih baik ketimbang mengaku pengarang tapi tak suka membaca buku).

Tak perlu saya sebutkan siapa saja penyair Lampung yang banyak membaca, yang di rumahnya ada koleksi sebanyak seribu lebih buku, dan mana yang tak membaca dan hanya punya sepuluh buku. Saya belum pernah berkunjung ke rumah mereka, tapi saya hanya mengintip dari omongan dan tulisan mereka. Puisi yang mereka tulis memang sering menipu. Kalau saja mereka menulis esai atau prosa, akan ketahuan betapa sesungguhnya mereka bukan pengarang hebat (ini pernah diucapkan Goenawan Mohamad dan Nirwan Dewanto pada suatu kesempatan).

Di Lampung masih ada dua orang yang sangat rajin mengunjungi toko buku dan membeli: Ahmad Yulden Erwin dan Damanhuri. Sekalipun tak lagi menerbitkan puisi dan sibuk di dunia sosial-politik, Ahmad Yulden Erwin masih sering mengunjungi toko buku Gramedia Lampung dan membeli buku. Damanhuri, walau bukan penyair, tapi esais dan peninjau buku yang sering memprovokasi kita lewat kutipan-kutipan dari berbagai buku, dan tiada hari tanpa membeli buku.

Beberapa waktu lalu saya membeli sebuah buku “baru” berjudul Trilogi Insiden seharga Rp.74 ribu. Saya sebut buku “baru” dalam tanda petik karena sesungguhnya buku karangan Seno Gumira Ajidarma itu adalah buku terbitan lama yang diterbitkan lagi, hanya saja bedanya kalau dulu diterbitkan dalam tiga buku, sekarang diterbitkan menjadi satu buku.

Dalam salah satu esai dalam buku itu, Seno tak pernah percaya kalau tulisannya selama ini dibaca orang. Sebab ia berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, tapi yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar—yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya. Masyarakat kami, kata Seno, adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-titel opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.

Semoga kita semua dijauhkan dari niat membaca yang tidak memperkaya khazanah semacam itu.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Komentar