Langsung ke konten utama

40 Hari KEPERGIAN RAMADHAN KH

Ratna Sarumpaet Berkeluh Kesah
Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Empatpuluh hari sudah, tepatnya tanggal 15 Maret 2006 persis di hari ulang tahun ke-79, sastrawan, penulis biografi, wartawan, penyair dan seniman intelektual Ramadhan Karta Hadimadja meninggal di Cape Town, Afrika Selatan. Jasadnya dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, 18 Maret 2006. Namun jasa dan karyanya melekat dan tetap dikenang Dewan Kesenian Jakarta dalam acara “Mengenang Ramadhan KH” di Graha Bakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Selasa (25/4) malam lalu.

Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter ketika jasad almarhum disemayamkan di rumah duka hingga dimakamkan di Tanah Kusir. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa secara khusyuk oleh Jamal D Rahman hingga rangkaian pentas-pentas seni mengenang almarhum.

Trisutji Djulianti Kamal dengan tuts piano mengalunkan lagu-lagu yang syahdu. Lalu tampil aktris Jajang C Noer membacakan dengan penuh intens puisi almarhun yang diambil dari kumpulan puisi “Periangan Si Jelita”. Tak ketinggalan, Sitor Situmorang (81 tahun) juga membacakan puisi karya sahabatnya itu setelah bertutur tentang percakapan terakhir melalui telepon jarak jauh dengan almarhum.

Sebelum pementasan musik bambu di bawah pimpinan Sugeng Pratikmo, penuturan sastra oleh Sofyan Zaid, diputar film dokumenter Ramadhan KH “Maestro” yang pernah ditayangkan di Metro TV, Sabtu, 25 September 2004. Rangkaian acara yang dihadiri sejumlah seniman dan sastrawan itu ditutup oleh musikalisasi puisi Ramadhan KH oleh Deavis Sanggar Matahari.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang tak dapat hadir diwakili dengan pemutaran audio visual mengenai kesan-kesannya terhadap almarhum. Diakui Ali Sadikin, almarhum termasuk salah seorang seniman yang mampu menggugah pemikirannya untuk membangun Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (1968) di lahan bekas kebun binatang. Kemudian dari almarhum dan beberapa seniman lainnya terungkap pula gagasan perlunya pembentukan Dewan Kesenian Jakarta (1969).

Tak heran, almarhum termasuk orang yang beberapa periode duduk di pengurusan DKJ, baik sebagai sekretaris maupun direktur pelaksana harian. Jabatan ini mempererat relasinya dengan seniman. Di antaranya Ramadhan pernah memberikan katabelece usulan keringanan atau dispensasi untuk menginap di Wisma Seni (sekarang sudah dibongkar) di Kompleks TIM.

Di lobi digelar beberapa buku, termasuk di antaranya 40 buku yang ditulis almarhum. Di samping itu, dipampangkan pula sejumlah kliping pers tulisan dan laporan jurnalistik almarhum. Dokumen yang sangat berharga itu, kini tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

* * *

Meski sudah menetap di luar negeri, batin Ramadhan KH tetap terpatri pada TIM dan DKJ. Bahkan, almarhum menyarankan agar buku tentang DKJ perlu segera diterbitkan. Gagasan itu telah terwujud dalam bentuk buku bertajuk “Kebijakan dan Kontroversi DKJ 2003-2006″, yang diluncurkan bertepatan dengan 40 hari kepergian almarhum. Peluncuran buku berukuran 19 x 25,5 cm setebal 392 halaman itu ditandai dengan penyerahanbuku tersebut oleh Ketua Bidang Umum Dewan Pekerja Harian (DPH) Ratna Sarumpaet kepada Wakil Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Agung Widodo mewakili Gubernur DKI Sutiyoso.

Buku yang “Dipersembahkan kepada Ramadhan KH” ini sebagai laporan kinerja DKJ periode 2003-2006 yang sebentar lagi berakhir. Namun yang banyak menyita halaman (116 halaman) adalah “uneg-uneg” Ratna Sarumpaet yang memaparkan pengalaman pahit-manisnya sebagai pejabat DKJ dan kemelut dalam tubuh DPH dan DKJ.

Ibarat api dalam sekam, pimpinan teater “Satu Merah Panggung” yang pernah mementaskan monolog “Marsinah Menggugat” dan pernah dicekal di Bandung dan di Jakarta itu, sepertinya merasa disudutkan oleh “orang dalam” di tubuh DKJ.

Layaknya sebuah “novel”, Ratna bercerita blak-blakan adanya pro dan kontra selama kepemimpinannya. Bahkan Ratna merasa, sejak awal pihak birokrat sepertinya tidak berkenan ia duduk di DKJ karena protes-protesnya terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Selama masa kepemimpinan Ratna, DKJ sering diterjang badai. Banyak kalangan menentang kebijakan, bahkan menjalar sampai ke pribadinya. Sebagai contoh, soal kebijakan Ratna memindahkan sekitar 400 lukisan DKJ ke sanggarnya dengan dalih sebagai langkah penyelamatan, menuai reaksi keras.

Penentang kebijakan itu tidak hanya datang dari anggota DKJ, tetapi juga dari kalangan seniman. Padahal, konon, awalnya telah disepakati mencari tempat penyimpanan lukisan yang lebih murah sambil menunggu tempat yang permanen. Poster-poster yang bernada kecaman, makian, hujatan dan pemaksaan agar Ratna mundur dari jabatannya membanjiri Kantor DKJ. Untung Ratna tanggap atas rekasi keras itu hingga cepat-cepat mengembalikan koleksi lukisan itu ke TIM.

Buku DKJ yang dibagikan secara gratis memuat gambaran kronologis kemelut di DKJ periode 2003-2006. Ada praktik pemaksaan kehendak untuk memasukkan rekannya dalam kepengurusan DKJ. Terungkap pula bahwa ada sejumlah seniman yang tidak mau diatur oleh ketentuan DKJ hingga membentuk komunitas sendiri. Demikian juga ada kelompok etnis di Jakarta merasa punya hak mendominasi DKJ.

DKJ periode kepemimpinan Ratna Sarumpaet pernah dihujani makian dari berbagai pihak dan provokator atas kasus-kasus yang menerpa lembaga ini. Tak pelak, pribadi Ratna Sarumpaet sebagai pimpinan puncak DKJ, tak luput pula dari berbagai kritikan tajam, termasuk dari media cetak dan elektronik. Puncak kemarahan sejumlah seniman atas kebijakan Ratna dimuntahkan lewat aksi corat-coret dan orasi usai pembukaan Kongres Kesenian Indonesia II (26-30 September 2005) di Padepokan Pencak Silat, Jakarta Timur.

Program DKJ 2003-2006 berjalan stagnan. Kegiatan masing-masing komite, baik sastra, teater, seni rupa, tari, musik maupun film terekam dalam buku DKJ, meski tidak segencar manakala TIM berdiri. Di lain pihak, tercatat beberapa program belum dilaksanakan.

Yang menarik, dalam buku DKJ terkandung tulisan berjudul “Menolak Pornografi, Tanpa RUU Anti Pornografi dan Porno Aksi”. Buku ini menguraikan panjang lebar mengapa RUU APP harus ditolak.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo