Langsung ke konten utama

Membina Keakraban Balai Bahasa Banjarmasin dan Sastrawan Kalsel

Mahmud Jauhari Ali
www.radarbanjarmasin.co.id/

Beberapa kali saya membaca sejumlah tulisan yang dimuat di salah satu surat kabar lokal di Kalimantan Selatan tentang sastra dan kehidupannya. Tulisan-tulisan tersebut membuat hati saya terenyuh dan otak saya mulai berpikir soal kehidupan sastra di Kalimantan Selatan. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, apalagi menyudutkan pihak tertentu. Dalam tulisan ini saya hanya mencoba mengakrabkan jiwa para sastrawan Kalsel dengan Balai Bahasa Banjarmasin. Sebenarnya tulisan ini tidak perlu muncul jika rekan-rekan saya di Balai Bahasa Banjarmasin bersedia menulis sepatah dua patah kata mengenai masalah kehidupan sastra di provinsi ini yang sedang diusung oleh para sastrawan Kalimantan Selatan saat ini. Saya sudah menunggu beberapa waktu munculnya tulisan mereka menanggapi unek-unek sebagian sastrawan Kalsel dalam tulisan mereka tersebut. Akan tetapi, sampai detik ini belum juga ada tulisan yang muncul. Entah saya yang kurang membaca media masa ataukah memang benar kata-kata saya dalam kalimat terakhir tadi. Hal itu terjadi mungkin mereka tidak sempat menulis karena pekerjaan mereka sangat banyak di Balai Bahasa Banjarmasin berkenaan dengan bahasa dan sastra. Semoga tulisan saya ini tidak salah isi dan semoga pula rekan-rekan di Balai Bahasa Banjarmasin tidak merasa dilangkahi oleh saya.

Baiklah saya mulai saja mengungkapkan pikiran saya seputar masalah sastra dan kehidupannya di Kalimanatan Selatan yang kita cintai ini. Tidak kurang dan tidak lebih isi tulisan yang saya baca beberapa waktu yang lalu berkaitan dengan sastra di Kalimantan Selatan. Tentunya dalam hal ini selalu melibatkan sastrawan sebagai pelaku aktif dunia sastra. Hidup matinya sastra salah satunya bergantung pada mereka. Oleh karena itu, wajar saja mereka “berteriak” dengan lantangnya mengenai hal yang menjadi bagian penting hidup mereka, yakni hidupkan sastra! Kehidupan sastra selain bergantung pada sastrawan, juga memerlukan apresiasi bahkan lebih daripada itu dari berbagai pihak, salah satunya adalah lembaga yang berkecimpung di dunia sastra. Sebut saja Balai Bahasa Banjarmasin yang memiliki tugas pokok mengadakan pembinaan dan penelitian di bidang bahasa dan sastra, khususnya bahasa dan sastra di Kalimantan Selatan. Sudah cukup banyak pembinaan-pembinaan dan penelitia-penelitan di bidang bahasa dan sastra yang telah diselesaikan oleh pihak Balai Bahasa Banjarmasin. Misalnya saja penyuluhan bahasa dan bengkel sastra, keduanya merupakan tindakan nyata pembinaan di bidang bahasa dan sastra yang diperuntukkan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Hasil-hasil penelitian seperti penelitian Pemetaan dan Kekerabatan Bahasa-Bahasa di Kalimantan Selatan dan penelitian Mantra Banjar juga merupakan wujud nyata kerja pihak Balai Bahasa Banjarmasin di bidang kebahasaan dan kesastraan. Intinya, pihak Balai Bahasa Banjarmasin telah banyak memberikan kontribusi bagi Provinsi Kalimantan Selatan, baik di bidang kebahasaan maupun kesastraan.

Sayangnya, pihak luar kurang mengetahui hal itu sehingga Balai Bahasa Banjarmasin dianggap oleh beberapa sastrawan tidak memiliki kepedulian terhadap kehidupan sastra di provinsi ini. Hal ini ternyata merembet pada masalah honorium untuk sastrawan yang cipta sastranya dimuat di surat kabar. Menutrut saya sastarwan dalam hal ini tidak salah. Wajar saja jika sebuah tulisan dihargai karena sebuah tulisan tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan dengan jerih payah penulisnya.

Menurut saya, masalah ini harus segera dijernihkan melalui diskusi antara pihak sastrawan Kalimantan Selatan dan pihak Balai Bahasa Bajarmasin. Harus ada pembicaraaan langsung antara kedua belah pihak, misalnya para sastrawan dan pihak Balai Bahasa Banjarmasin berinisiatif membicarakannya dengan baik di Aula Balai Bahasa Banjarmasin yang luas itu. Di sana harus dibicarakan secara tuntas masalah kehidupan sastra di Kalimatan Selatan, termasuk masalah honorium sastrawan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan saat ini. Dengan pembicaraan dalam diskusi tersebut diharapkan hubungan sastrawan dan pihak Balai Bahasa Banjarmasin semakin akrab dan membuahkan kerja sama yang baik demi kehidupan sastra di banua kita.

Komentar

Sofiatul Mualimah mengatakan…
nice :-) setuju. kunjungan balik ya. semoga mnjd silaturahim yg baik. follow jk sudi :-)

Sastra-Indonesia.com

Media Ponorogo