Sastra Indonesia Tersendat Masalah Bahasa

Tenni Purwanti, Tri Wahono
http://oase.kompas.com/

Banyak penulis Indonesia yang terkenal di negara sendiri, sudah bangga dengan karyanya. Padahal, ketika dibawa ke negara lain, belum tentu dikenal oleh pecinta sastra di negara tersebut. Banyak penulis Indonesia yang bersombong-sombong padahal jago kandang.

Andrea Hirata tak ingin menjadi penulis yang seperti itu. Penulis buku Tetralogi Laskar Pelangi ini mengisahkan kepada Kompas.com tentang pengalamannya saat mengikuti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2010 lalu. Saat itu, bukunya mulai dikenal di Indonesia dan film Laskar Pelangi pun sedang dalam proses produksi. Namun, dia yang sudah merasa karyanya dikenal, ternyata mengalami kesulitan sewaktu memperkenalkan Laskar Pelangi kepada penulis lain dari berbagai negara yang hadir dalam UWRF.

"Saya mengatakan ada film yang diadaptasi dari novel saya, tapi filmnya belum jadi. Ketika saya memperkenalkan buku saya pun, ternyata mereka belum tahu seperti apa Buku Laskar Pelangi. Saya ingin mereka membacanya saat itu, tapi bahasanya masih Bahasa Indonesia dan mereka tidak mengerti," kenang Andrea di Jakarta, Rabu (28/9/2011).

Dari pengalaman tersebut Andrea semakin bersemangat untuk menerjemahkan karyanya dalam beberapa bahasa sekaligus. Saat ini, buku Laskar pelangi telah terbit dalam 26 bahasa dan siap diedarkan ke seluruh dunia. "Saya beruntung bertemu dengan agen buku dari Amerika Kathleen Anderson Literary Management yang akan membantu mendistribusikan karya saya ke berbagai negara di dunia," ujar Andrea.

Menurut Andrea, untuk bisa mempromosikan buku-buku karyanya di negara lain, sangat berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia, penulis hanya bergantung kepada penerbit, maka di negara lain, penulis harus bekerja sama dengan agency buku untuk melakukan distribusi. Maka, penulis Indonesia juga harus mencari agensi buku jika ingin bukunya go internasional.

Tahun ini Andrea akan kembali menghadiri UWRF 2011 dan ia berharap bisa merepresentasikan Laskar Pelangi kepada penulis-penulis lain yang menghadiri event tahunan tersebut. "Penulis akan merasa lebih nyambung berbicara dengan komunitas penulisnya dalam kancah intrenasional jika bukunya telah dibuat dalam platform internasional," jelas Andrea.

Ia pernah merasakan sendiri bagaimana sulitnya mengomunikasikan karya kepada bangsa lain yang memiliki bahasa yang berbeda dan pemahaman akan sastra yang juga berbeda. Dari pengalamannya mendapat beasiswa di Amerika dan mengikuti berbagai festival sastra di luar negeri, ia bisa menganalisis di mana posisi dirinya dan di mana posisi sastra Indonesia.

"Saya tidak mau jadi kodok dalam tempurung. Saya akui bahwa saya, dan Indonesia masih harus banyak belajar. Dari event-event internasional kita bisa tahu posisi kita di mana. Saya pribadi melihat China, India, dan Filipina berkembang sangat pesat dalam sastra. Event-event Internasional seperti ini bisa membantu kita menjalin jaringan dengan penulis dari negara lain sekaligus banyak belajar dari pengalaman mereka," jelas Andrea.

Ia menambahkan, dalam ajang UWRF, setiap tahunnya, akan dihadiri kritikus sastra, reviewer, penerbit, juga agensi buku dari berbagai negara. Ini kesempatan yang sangat besar bagi penulis Indonesia untuk mengomunikasikan karyanya. UWRF 2011 yang disponsori oleh ANZ, akan dihadiri 130 penulis dari 25 negara, dengan 137 event, dan diadakan di 57 tempat.

"Mulai sekarang, biasakan menulis dalam bahasa Inggris, sejak awal menulis. Jangan berharap diterjemahkan orang lain, karena masalah translate itu masih jadi masalah yang cukup rumit saat ini. Buku Laskar pelangi diterjemahkan dalam bahasa Inggris selama satu tahun, lalu ke dalam bahasa Korea selama 2 tahun. Kalau penulisnya bisa menulis dalam berbagai bahasa, tentu distribusi ke negara lain akan lebih cepat," tambah Andrea.

Andrea mengaku, selain menulis, ia juga mulai membiasakan diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris meskipun masih banyak kesalahan di sana-sini. "Coba saja, beranikan diri untuk bicara," tutupnya.

28 September 2011

Komentar