Estetika Skizofrenia Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Puisi Indonesia tidak pernah selesai mencari bentuk-bentuk operasional bahasa yang baru. Setelah sukses dengan kemendayuan Pujangga Baru, ketajaman dan efektifitas Chairil Anwar—diteruskan oleh Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Muhammad—kini muncul fenomena baru yang belum pernah ditemukan dalam bahasa puisi sebelumnya. Fenemona tersebut adalah konstruksi bahasa skizofrenia. Apakah telah tercipta bahasa estetik puisi skizofrenia? Bagaimanakah operasional estetik teks puisi skizofrenia?

1

Istilah skizofrenia berasal dari psikoanalisa Freud. Istilah ini digunakan untuk menyebut penyakit yang ditandai dengan terpecahnya identitas kepribadian, tampak antara lain dalam ketidaksesuaian antara fungsi-fungsi intelektual dan fungsi-fungsi afektif. Penderita skizofrenia yang belum parah, dalam batasan tertentu, masih dapat berinteraksi dengan masyarakat. Tentu saja, masyarakat mesti sedikit sabar dalam memahami ucapan-ucapan yang seringkali tidak logis, tidak sesuai dengan logika umum masyarakat. Tata bahasa yang digunakan mungkin benar tetapi kategori pengisinya, seringkali, kacau, atau sebaliknya.

Adalah Roman Jakobson (1895-1982), seorang ahli bahasa kelahiran Rusia, menerapkan model bahasa Saussure terhadap pengidap skizofrenia. Hasilnya ada dua model kesalahan bahasa yaitu, pertama kekurangan dalam substitusi (paradigmatik) akan mengambil jalan menuju ekspresi metonimis, kedua kekurangan dalam kombinasi (sintagmatik) yang akan menjajarkan kata-kata khusus atau metafora. Pada kasus pertama, penderita masih menggunakan tata bahasa yang benar hanya saja kategorinya acak. Misalnya, ketika untuk mengidentifikasikan “hitam”, akan dijawab dengan “kematian”. Sedangkan pada kasus kedua, penderita sudah kesulitan dalam membina tata bahasa. Yang dilakukan, penderita menjajarkan beberapa kata yang berbeda-beda untuk tujuan yang sulit dimengerti. Misalnya, untuk menggambarkan orang yang sedang sakit, penderita akan bilang “sapi, kursi dorong, suster, lantai, suntik, aduh!”

Model-model pengucapan penderita skizofrenia diadopsi oleh para pemikir postmodernisme dalam mencari alternatif logika berbahasa. Jacques Lacan (1901-1981), seorang ahli psikoanalisa postmodernisme, mendefinisikan skizofrenia sebagai putusnya rantai penandaan, yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna. Seseorang telah menggunakan bahasa di dalam bawah sadarnya. Artinya, di dalam proses otak telah terjadi proses berbahasa, atau ada sebuah struktur yang mirip bahasa. Pemikiran-pemikiran tentang skizofrenia ini menandai kritik—mungkin keruntuhan—model oposisi biner bahasa dari Saussure. Lebih jauh lagi, skizofrenia menandai bangkrutnya logika pemikiran strukturalisme, berganti dengan post-strukturalisme.

2

Puisi-puisi Indonesia terkini mempunyai kecenderungan mempergunakan konstruksi bahasa skizofrenia dalam dalam menyajikan bahasa estetik, sekaligus dalam mengungkapkan makna. Sebagai contoh dapat diperiksa puisi Afrizal berjudul “Dalam Gereja Munster” bait ketiga berikut: Kereta telah disalibkan dalam gereja tua itu / berderak lagi / membawa remaja-remaja bercumbu / dan hari esok putih menggumpal / Aku tersedu / Lonceng-lonceng gereja berdentangan lagi memanggilmu.

Penyebutan larik /kereta telah disalibkan/ dalam puisi di atas menegaskan dua kesalahan berbahasa. Pertama, diksi “kereta” hadir menggantikan diksi “manusia”, sebab praktek penyaliban hanya dilakukan pada manusia. Ataukah secara konsep, diksi “kereta” adalah manusia. Kedua, diksi “disalibkan” hadir menggantikan diksi “dijalankan”, sebab kereta sebagai kendaraan hanya bisa dikendarai atau dijalankan. Ataukah secara konsep, diksi “disalibkan” adalah dijalankan. Sangat sulit diketahui duduk persoalannya.

Mendasarkan kajian pada model oposisi biner Saussure, larik /kereta telah disalibkan/ adalah suatu kejanggalan paradigmatik yang akut. Diksi “kereta” berposisi sebagai subyek dan “telah disalibkan” berposisi sebagai kata kerja. Berarti, secara sintagmatik (kombinasi) berhubungan. Tetapi secara paradigmatik, diksi “kereta” dengan diksi “salib” bila dilekatkan bersama-sama tidak dapat menghasilkan pemahaman. Kedua diksi tersebut pada akhirnya diposisikan sebagai metafor, diksi yang mewakili diksi-diksi lain -bahkan lebih dari pada diksi.

Puisi-puisi Beni Setia antologinya Harendong juga memiliki kecenderungan skizofrenia yang berhasil. Seperti dalam puisi berjudul “Ikan”: anakku menjadi bendera dan naik ke puncak / lewat tali dan orang-orang tengadah / : aku menenggak wiski dan nyanyi lantang / “sudah bebas negeri kita” bagi yang di puncak.

Bait pada puisi di atas disusun melalui larik-larik dengan hubungan pengisahan dan komunikasi yang patah-patah. Ada diskontinuitas atau keterputusan—ciri ucapan-ucapan penderita skizofrenia—pada tiap penggalan larik. Ibarat seorang petutur/ pendongeng kisah dipenggal-penggal sehingga tidak mencipta alur yang linier. Dan sebagai sebuah teks puisi jadi, tentu saja, operasional bahasa estetik tersebut adalah sebuah kesengajaan. Perlu dicari dampak operasionalnya.

Pola diskontinuitas, kembali dalam sebuah kesengajaan teks, berarti usaha menolak pengisahan yang linier. Teks puisi yang utuh. Nirwan Dewanto pernah menulis tentang penyusunan teks sejarah, yaitu: kita akan menyadari bahwa setiap masyarakat, setiap sistem, menempuh jalan sejarah secara partikular. Tidak harus jalan lurus (linier), tetapi dapat berbelok tak terduga-duga. Dapat juga jalan melingkar, menemukan titik awal dalam keseimbangan baru, seperti daur ulang. Seperti dikatakan Levi-Strauss; kebudayaan adalah permainan seluruh sistem, seluruh paradigma, sehingga, dalam ruang kebudayaan kita akan melihat tidak hanya satu sejarah, tetapi sejarah-sejarah, “awan debu sejarah-sejarah”.

Kiranya, puisi-puisi berciri estetik skizofrenia sedang memberi pelajaran tentang penyusunan sejarah. Nirwan Dewanto telah memberi konsep penulisan teks atau pembahasaan realitas. Lebih dari itu, puisi tidak hanya memberi konsep tetapi bentuk penyusunan. Bahwa kisah atau sejarah tidak mesti linier. Kisah bisa juga berbentuk diskontinuitas. Dampak bagus dari penyusunan kisah atau sejarah yang diskontinuitas adalah tiadanya pusat penceritaan. Yang ada, kisah-kisah kecil yang saling berdiri sejajar dan akhirnya membentuk satu kisah besar yang plural, saling melengkapi, saling menghubungi, dan saling menolak. Kisah diskontinuitas. Seperti, puisi-puisi di atas atau seperti yang sudah dicoba oleh Milan Kundera dalam novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa.

3

Teks puisi skizofrenia menyajikan narasi yang terpenggal-penggal. Hasilnya, tercipta lobang-lobang kosong yang mesti diproduksi sendiri oleh pembaca. Proses pembacaan teks puisi menjadi kegiatan mengisi lobang-lobang kosong—diskontinuitas—sehingga menjadi teks utuh sebagai kisah. Sebagai syarat komunikasi. Seperti soal-soal ujian anak SD yang berupa kalimat tidak lengkap, dan siswa disuruh mengisi kekosongannya. Hanya saja, pada sebuah soal ujian, kebenaran pengisian ditentukan oleh penguji. Telah ada jawaban spesifik sebagai kriteria tunggal. Pada puisi, kebenaran pengisian tergantung kepada pembaca. Pengarang sudah melepas teks puisi kepada publik dan kepada publik pula nasib teks puisi ditentukan. Pertaruhan hanya terjadi pada cara publik membangun paradigma agar pengisian bersifat universal, dapat dipahami orang lain.

Kebebasan merakit dan mengisi kekosongan teks puisi adalah kebebasan personal yang, tentu saja, tidak terbebas dari jebak-polemik. Seperti seorang anak muda yang bermain playstation, sejauh-jauh mempermainkan perilaku tokoh-tokoh dan kualitas ketangkasan ide serta geraknya, masih dibatasi dengan fasilitas-fasilitas dan titik jenuh mesin. Anak muda tersebut bebas menggerakkan kaki tokoh game tetapi tidak bisa menambah jumlah kaki, bebas menyerang musuh tetapi tidak untuk mengajaknya bercinta, boleh mendiamkan tokoh tetapi mesti mau menerima kekalahan, boleh maju dan terus maju ke level lebih tinggi tetapi ada level terakhir di mana playstation tidak punya operasional lanjutan. Toh, tidak ada larangan untuk tidak peduli kepada playstation, sama dengan tidak ada keharusan mengurusi playstation. Hanya saja, ketika seseorang memasuki dunia playstation, tawaran kekebasan bertukar rusuh dengan rambu-rambu dan tanda seru.

Setiap diksi dalam puisi telah terkutuk untuk menyandang makna literal. Makna yang ada berkat kesepakatan diam masyarakat, atau kadangkala, kreasi para pemegang kebijaksanaan linguistik. Dalam masyarakat, diksi-diksi dirakit untuk komunikasi dengan pola operasional yang fleksibel—asal ada saling pemahaman—, operasional yang baku ada pada tata bahasa resmi (EYD). Diksi-diksi puisi dibentuk sebagai teks jadi dengan pola operasional yang menyimpang dari rakitan masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya berbeda.

Diksi pada teks puisi dilekatkan pada operasional baru. Pembacaan akan gagal meraih makna dan kenikmatan apabila menggunakan pola operasional yang beredar atau dipakai dalam masyarakat. Pemaknaan hanya bisa diperoleh dengan cara membaca diksi-diksi secara terpisah. Diksi dibaca sebagai metafor. Setelah pemaknaan secara parsial, terpisah, dicari operasional utuh yang menghasilkan pemaknaan teks. Lagi-lagi, pembaca yang ditekankan untuk memproduksi wacana.

Seorang pembaca mungkin, dari rekayasa sistem operasional bahasa, sudah menemukan makna. Merasa sudah menemukan makna sebenarnya dari sebuah puisi. Tetapi memang ada orang-orang tertentu, merasa tidak puas dengan hasil pembacaan pertama. Pembacaan dilanjutkan berulang-ulang untuk memperoleh variasi-variasi pola operasional bahasa, variasi-variasi makna. Pada “puisi cerdas”—meminjam istilah S. Yoga—pembaca dimungkinkan memperoleh tumpah ruah ragam bahasa dan menikmati macam-macam pusaran makna. Pembacaan dengan pola operasional bahasa yang berlainan, bisa jadi, menghasilkan makna yang berbeda. Makna yang saling mendukung pada sublimasi makna atau makna yang bertentangan sehingga tidak ada kepastian orientasi tunggal, atau deretan makna yang tidak berhubungan sama sekali.

Model bahasa skizofrenia dalam bahasa estetik puisi berarti melegalkan bahasa tersebut sebagai model pembahasaan tersendiri. Bersanding-jajar dengan—atau menggantikan—model oposisi biner Saussure yang hanya melegalkan penafsiran tunggal.

Mengakhiri bahasan tentang bahasa estetik skizofrenia, penulis ingat bahwa sebuah karya sastra senantiasa mencipta sebuah realitas, sebuah masyarakat. Pada kasus tersebut, tercipta sebuah masyarakat skizofrenia. Masyarakat pengguna ragam bahasa skizofrenia. Pada masyarakat tersebut, mungkin, seorang guru bebas bertugas di kelas sekolah dengan memakai pakaian preman. Seorang pelajar teladan, sesaat sesudah penerimaan penghargaan oleh kepala sekolah, akan mengambil minuman bersoda tinggi, mengocoknya keras, dan menyemprotkannya ke seluruh hadirin, seperti yang biasa dilakukan Kenny Robert sehabis menjuarai GP 500.

______, Waru Kabupaten Sidoarjo
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/14/

Komentar